Mentoring 06 – Integritas Diri

Kata ‘integritas’ tidak ditemukan dalam Alkitab bahasa Indoneisia. Kata ini ditemukan dalam beberapa ayat dalam Alkitab bahasa Inggris sebagai terjemahan dari kata ‘tom’ dalam bahasa Ibrani, seperti yang terdapat dalam Amsal 10:9. Penulis Amsal itu berkata, “Siapa bersih kelakuannya aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui”. Kata-kata “bersih kelakuannya” dalam bahasa Ibrani adalah ‘tom’, yang diterjemahkan sebagai integrity dalam bahasa Inggris. Namun karena pengertian kata ‘integritas’ kurang lengkap jika diartikan sebatas “bersih kelakuan”, maka dirasa perlu untuk membahas lebih jelas makna kata itu dalam pembahasan ini.

Dari hasil penelitian beberapa kamus, maka kata “integritas” dapat dikemukakan sebagai berikut:

  • Kualitas pribadi seseorang yang menunjukkan keseluruhan dirinya dan akhirnya memancarkan wibawanya.
  • Kejujuran.
  • Dalam kamus Webster diartikan sebagai, unbroken state. Dalam hal ini dapat diterjemahkan sebagai “keadaan tak terpisah” (utuh).

Sebagai rangkuman dari seluruh penjelasan tentang kata ini maka dapat disimpulkan bahwa istilah ‘integritas’ hendak menunjukkan: “Suatu kepribadian yang kokoh, yang tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal buruk, tidak ikut-ikutan dan dapat dipercaya”.

Agar lebih jelas dapat melihat makna dari kesimpulan tersebut, maka kita dapat mengangkat kisah nyata dari pengertian kata itu melalui hidup seseorang dalam Alkitab Perjanjian Lama (PL) yang bernama Yusuf. Tidak berlebihan apabila beberapa tokoh Kristen telah menjulukinya sebagai “The Men Of Integrity”. Pribadi Yusuf yang adalah merupakan salah satu dari 12 putera Yakub, cucu Abraham ini memiliki kisah hidup yang tertulis secara lengkap sebagai sebuah sejarah yang dapat dilihat sebagai bukti memiliki integritas yang teruji. Melalui kisah Yusuf, kita bisa melihat bahwa integritas itu teruji kualitasnya melalui dua cara:

Sama seperti Yusuf, integritas dapat diuji melalui masalah-masalah hidup. Pada dasarnya ketika suatu masalah terjadi, maka hal-hal seperti kesulitan, kecemasan hingga ketakutan bisa menjadi bagian dari masalah tersebut. Sikap dan reaksi seseorang terhadap perasaan-perasaan yang ditimbulkan oleh masalah tersebut sebenarnya telah menunjukkan kualitas imannya. Misalnya: kemarahan yang tidak wajar, putus asa, curiga yang berlebihan, dendam dan lain-lain.

Integritas juga diuji melalui godaan atau hal-hal yang bersifat menggiurkan bagi seseorang. Keadaan ini lebih kepada ujian karakter seseorang ketimbang imannya. Karena ketika godaan ada, seseorang bisa saja tidak berniat meninggalkan keyakinannya, namun dengan menuruti dorongan hasrat menikmati kesenangan, maka ia bisa terjatuh pada mengabaikan nilai-nilai kepribadian yang luhur. Ketidaksanggupan mempertahankan kejujuran sebenarnya telah menunjukkan kualitas karakter yang rendah.

Beberapa simpul yang dapat kita tarik dari kehidupan Yusuf untuk kita formulasikan menjadi pernyataan-pernyataan kuat tentang integritas adalah sebagai berikut:

  • Integritas itu adalah, “Melakukan yang benar meskipun di saat sulit”. Pernyataan ini terkait dengan ujian integritas Yusuf dalam hal iman. Menurut laporan Kejadian 39:1-6, kondisi atau kualitas iman Yusuf tidak berubah dari keadaan saat dirinya sebagi seorang anak yang dimanjakan dengan keadaan dirinya sebagai seorang budak di negri orang. Keberhasilannya dalam pekerjaannya pada laporan nats itu selalu dikaitkan dengan kualitas imannya kepada Tuhan.
  • Integritas itu adalah, “Melakukan yang benar meskipun tanpa diawasi”. Pernyataan ini terkait dengan ujian integritas dalam hal karakter. Menurut Kejadian 39:8,9, sebagai budak, Yusuf diberi kepercayaan sama seperti kepada orang merdeka menjadi kuasa atas milik tuannya Potifar. Ini berarti Yusuf telah lulus dari tingkat pengawasan dalam bekerja. Dia terbukti dapat dipercaya melakukan tugas dengan benar meskipun tanpa diawasi.
  • Integritas itu adalah, “Memilih untuk bertindak berdasarkan nilai daripada keuntungan pribadi”. Pernyataan ini juga terkait dengan ujian integritas dalam hal karakter. Dalam Kejadian 39:10-20 dikisahkan bagaimana istri Potifar secara berulang kali menggoda Yusuf untuk tidur dengannya. Secara logika, istri pembesar seperti Potifar sangat mungkin berpenampilan menarik. Di sisi lain, Yusuf adalah seorang lelaki normal yang tertarik dengan godaan sexual. Bagi Yusuf sangat jelas ada dua kesenangan yang dia bisa dapatkan jika memenuhi permintaan istri tuannya: menikmati hangatnya cinta dan keuntungan-keuntungan lahiriah lainnya karena telah menyukakan istri tuannya. Sedangkan apabila ia menolak godaan tersebut maka petaka sudah tidak mungkin terelakkan. Tetapi Yusuf lebih memilih mempertahankan nilai kepribadiannya yang luhur dari pada keuntungan lahiriah. Dan oleh karenannya ia harus menerima hukuman penjara.

Sekarang mari kita perhatikan bagaimana kemungkinan bisa terjadinya degradasi (kemerosotan) integritas dalam diri seseorang meskipun sudah memahami dan memutuskan untuk hidup dengan nilai-nilai integritas. Dalam 2 Timotius 3:1-5, rasul Paulus telah memberi peringatan tentang kondisi akhir zaman, dimana integritas itu akan menjadi sesuatu yang semakin langka ditemukan. Dari rangkuman tulisan Paulus tersebut, maka kelangkaan itu dapat disebabkan oleh dua hal berikut:

Kesukaran Hidup Yang Bermuara Pada Cinta Uang

Kita tidak bisa pungkiri bahwa selama di dunia ini kita memerlukan uang untuk biaya hidup. Ajaran kekristenan juga tidak melarang untuk mendapatkan uang sebanyak mungkin. Yang menjadi masalah adalah mental kepribadian yang memiliki mental “Cinta Akan Uang”. Itu sebabnya kekristenan yang sehat itu sangat terdidik dalam hal cinta Allah atau agape lebih dari segalanya, dengan demikian niat memperoleh uang tidak lagi oleh dorongan pemuasan hawa nafsu, melainkan demi kelangsungan hidup benar dan niat menolong sesama yang bermuara pada menghormati Tuhan dalam hidup ini.

Mental mencintai Tuhan lebih daripada uang juga akan membuat hidup kita memiliki ketahanan hidup benar meskipun saat dalam kesukaran. Sebagai bahan evaluasi diri, cobalah renungkan pertanyaan ini: Seberapa banyak Anda telah berdoa untuk keinginan Anda kepada Tuhan, dibanding dengan meminta kepada Tuhan atas kenginan-Nya untuk Anda kerjakan? Karena Yakobus berkata, “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya” (Yakobus 1:14).

Untuk bisa melihat kualitas kemampuan kita dalam menguasai keingian, maka cobalah mengamati secara saksama ke tiga tingkat kualitas keinginan berikut. Tetapi sebelumnya harus dipahami bahwa keinginan bukanlah sesuatu yang salah. Namun kemampuan untuk mengendalikan keinginan itulah yang menjadi masalah. Ke tiga tingkat kualitas keinginan itu adalah sebagai berikut:

  1. Keinginan Kecil: Bisa berupa misalnya, ingin memiliki sebuah kendaraan atau ingin pergi bertamasya ke luar negeri.
  2. Keinginan Besar: Bisa berupa misalnya, ingin menjadi seorang presiden atau memiliki sebuah perusahaan dengan omset miliaran. Meskipun kedua keinginan sebelumnya tidak salah sejauh hal tersebut diraih dengan cara yang benar dan dengan motif yang baik pula, namun keinginan pada tingkat yang ketiga sangat jauh berbeda.
  3. Keinginan Tuhan: Keinginan yang ketiga ini biasanya bisa dihidupi oleh orang yang sudah mengalami hubungan yang akrab dengan Tuhan, dimana seseorang telah mampu menyerahkan hak hidupnya kepada Tuhan dengan selalu ingin melakukan apa saja yang Tuhan inginkan atas dirinya.

Kalau kedua keinginan sebelumnya hanya terhubung dengan hal-hal yang ada di dunia ini, maka keinginan pada tingkat yang ketiga itu terhubung dengan Tuhan, meskipun hal itu dilaksanakan untuk kepentingan selama di dunia ini.

Merosotnya Standar Nilai Ibadah Kekristenan

Pada 2 Timotius 3:5 Paulus menegaskan bahwa akan ada orang yang beribadah tapi memungkiri hakikatnya. Maksud dari ungkapan ini adalah adanya semangat beribadah namun tanpa mempertahankan nilai-nilai kebenaran dalam kehidupan nyata. Persaingan dalam hal kuantitas antar sinode gereja dan gereja lokal dewasa ini telah memaksa untuk memilih, apakah gereja harus bergerak untuk tunduk pada kepuasan Allah, atau menyerah kepada keinginan jemaat? Sebagai bahan evaluasi diri, cobalah renungkan pertanyaan ini: Apa sesungguhnya yang telah memotivasi Anda untuk pergi ke gereja setiap minggu: Apakah karena tradisi, penghiburan dan keberuntungan, atau terutama karena kerinduan menyembah Tuhan dan ingin dididik melalui pengajaran-Nya? Paulus berkata, “Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya” (2 Timotius 4:3).

Integritas bukanlah sebuah nilai yang mudah direalisasikan dan dipertahankan. Dunia dengan nilai-nilainya yang akan semakin kotor akan memberi efek menyulitkan bagi anak-anak Tuhan dalam mempertahankan integritasnya. Sadar akan situasi yang akan menimpa dunia di akhir zaman seperti yang telah dibeberkan di atas, maka tidak ada jalan lain untuk dapat mempertahankan integritas kecuali melatih diri agar keinginan kita dapat tunduk atau dikuasai sepenuhnya oleh Tuhan. Dalam tulisannya kepada jemaat Roma yang merupakan pusat kekaisaran waktu itu, Paulus berkata, “Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya” (Roma 13:14). Kemampuan kita untuk bisa hidup berintegritas dan menang atas gejolak keinginan kita sangat tergantung pada kualitas hubungan kita dengan Tuhan.

Lawan kata “integritas” adalah “kemunafikan” atau “kepalsuan” yang dikemas dalam berbagai bentuk dan penampilan hidup. Secara kasat mata atau secara langsung tentu saja kemunafikan atau kepalsuan tidak mudah terlihat. Oleh karena itu kita memerlukan contoh dan teladan hidup yang memberi gambaran secara konkrit tentang integritas dan kemunafikan itu. Kalau dalam PL kita menemukan figur Yusuf sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, maka dalam Perjanjian Baru (PB) yang merupakan gambaran sempurna adalah Tuhan sendiri yang berpraktek sebagai manusia 2000 tahun lalu di Timur Tengah, yakni Tuhan Yesus Kristus yang menghampakan statusnya ke-Allah-an-Nya, agar bisa menjadi model untuk kita ikuti. Sedangkan contoh yang menampilkan nilai hidup yang sebaliknya, yakni penuh kemunafikan adalah para Ahli Taurat dan orang-orang Farisi yang menunjukkan kehidupan palsu (berbicara seakan benar tapi perbuatan sebaliknya). Kita bisa menyimak kontras dua jenis kehidupan yang menggambarkan integritas dan kemunafikan ini dalam seluruh kitab Injil.

Faktor lain yang bisa menyebabkan lemahnya integritas dan suburnya kemunafikan sebenarnya terletak pada ketidakseimbangan antara perkataan dengan keyakinan dan perbuatan. Ketika perkataan dan wacana-wacana lebih menonjol dan melambung tinggi dibandingkan dengan praktek pembinaan keyakinan dan tindakan-tindakan perjuangan hidup yang semakin melemah, maka integritas tidak bisa dipertahankan lagi. Maka latihlah diri Anda untuk memiliki budaya tidak berbicara sebelum melakukannya. Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Matius 5:37).

MR. Theo Light

” Untuk Mendownload/Unduh Materi Power Point diatas bisa diklik unduh/download di bawah ini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *