Mentoring 07 – Nilai Hubungan

Hubungan dengan sesama bisa didasari oleh berbagai motivasi; mulai dari yang bersifat luhur, juga bisa karena adanya kepentingan, hingga yang bertujuan buruk. Dasar dari hubungan yang paling baik adalah cinta. Kualitas dari cinta inipun dapat dilihat dalam beberapa tingkatan. Hal yang mendasar perlu disadari adalah bahwa salah satu kodrat ilahi yang diwariskan kepada manusia adalah cinta. Oleh karena itu maka semua orang memiliki perasaan yang disebut cinta. Ada tiga hal penting yang harus dipahami sebelum lebih jauh mendalami tentang cinta:

Manusia dilengkapi dengan kodrat mencintai.

Cinta adalah salah satu unsur yang merupakan luapan perasaan yang sangat erat hubungannya dengan perilaku manusia, termasuk hubungannya dengan objek-objek disekelilingnya. Perbedaannya dengan hewan adalah, bahwa perilaku hewan tidak dipengaruhi oleh cinta, melainkan oleh insting. Dalam kekristenan diyakini bahwa cinta itu adalah bagian dari kodrat ilahi yang diwarisi dari Sang Penciptanya, yakni Allah (Filipi 2:13).

Cinta adalah sesuatu yang baik dan netral.

Pada mulanya Tuhan melengkapi manusia dengan perasaan cinta adalah untuk tujuan baik. Pengaruh iblislah yang membuat cinta menjadi salah kaprah sehingga bisa menjadi pendorong niat-niat merusak. Sejak kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka baik-tidaknya dampak cinta sangat tergantung pada kualitas kerohanian, karakter dan motivasi seseorang.

Kualitas cinta bisa berkembang dan merosot.

Kekuatan cinta bisa berkembang hingga tingkat yang mengagumkan, namun juga bisa merosot sehingga bisa beralih objek yang dicintai. Itu sebabnya ada orang yang bisa berkorban hingga mempertaruhkan nyawa karena mencintai seseorang atau sesuatu, namun juga bisa berubah setia hingga tingkat mengkhianati. Harus diakui bahwa pemahaman mengenai cinta sebagaimana direncanakan oleh Allah sejak semula, menjadi terlihat kembali dengan kehadiran Yesus Kristus di bumi ini. Buku yang memuat kisah tentang Dia, yakni Alkitab Perjanjian Baru (PB), menjadi sumber utama yang paling baik mengenai kisah cinta-Nya.

Terkait dengan arti cinta, sangat menarik bahwa PB itu pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani yang kaya dengan perbendaharaan kata maupun arti-artinya yang spesifik. Itu sebabnya penting bagi kita menelusuri ragam kata yang dipakai untuk mengungkapkan rasa cinta dalam bahasa tersebut. Karena dalam bahasa Indonesia, kita hanya mengenal dua ungkapan, yaitu “cinta” dan “kasih” yang memiliki pengertian yang sama. Sedangkan dalam bahasa Yunani kata cinta diungkapkan dengan empat ucapan dan dengan pengertian yang berbeda-beda seperti yang dijabarkan berikut ini:

EROS

Kita bisa menyebutnya sebagai cinta asmara. Kita tidak menemukan kata ini dalam PB. Alasan yang paling logis adalah karena di dalam PB tidak ada tulisan yang membutuhkan kata ini harus dipakai. Tetapi dari sumber luar kita mengetahui bahwa ketika orang Yunani mengungkapkan rasa cinta antara pria dan wanita, maka mereka memakai kata ‘eros’. Cinta ini biasanya terpicu oleh selera, termasuk berahi yang dipengaruhi faktor-faktor terkait asmara. Itu sebabnya ketika faktor-faktor pemicu itu telah terpuaskan atau merosot, maka sikap dan perilaku seseorang bisa juga berubah dan menimbulkan putusnya hubungan yang didorong oleh cinta eros ini.

Perselingkuhan atau poligami juga bisa ditimbulkan oleh ketidakmampuan mengendalikan eros ini. Tetapi kita juga harus bersyukur karena Tuhan telah melengkapi kita dengan eros, sehingga kita bisa menikah dan melanjutkan keturunan sebagaimana yang Tuhan kehendaki, akan tetapi kekuatan cinta ini terbatas hanya pada asmara saja atau bersifat tidak sempurna. Karena ‘eros’ mengandung nafsu berahi yang bisa berdampak negatif maka harus ada kekuatan untuk mengendalikannya.

STORGE

Kata ini juga tidak kita temukan dalam PB. Kata ini dipakai untuk menggambarkan cinta oleh adanya ikatan darah dalam keluarga. Kualitas cinta seperti ini terutama dipengaruhi oleh kedekatan hubungan keluarga. Oleh karena itu rasa cinta akan semakin jauh kualitasnya ketika hubungan kekeluargaannyapun semakin jauh. Rasa cinta sedarah ini juga bisa luntur akibat kepentingan-kepentingan. Itu sebabnya banyak peristiwa saudara kandung bisa saling membunuh dan menciderai. Kita juga harus mensyukuri bahwa Tuhan melengkapi kita dengan perasaan storge ini, akan tetapi kekuatan cinta ini hanya sebatas pada ikatan darah saja atau tidak sempurna. Oleh karena itu sama halnya dengan eros, maka storge juga harus dikontrol dengan kekuatan yang bisa mengendalikan.

PILEA

Kita bisa menyebutnya sebagai kasih persahabatan. Kata ini banyak kita temukan dalam PB. Kata ini dipakai untuk menggambarkan kedekatan seseorang dalam hubungan persahabatan. Terjalin karena kecocokan atau banyaknya kesamaan nilai antara sesama. Sama seperti kedua bentuk kasih sebelumnya, ‘pilea’ juga memiliki arti yang terbatas dan oleh karenanya juga tidak sempurna. Pilea sering menjadi renggang dan menjadi terbatas karena:

  • Perubahan nilai-nilai hidup atau kepentingan yang timbul dalam diri seseorang. Saling mencurigai akan menjadi penyebab renggangnya hubungan.
  • Berkurangnya intesitas komunikasi yang disebabkan oleh jarak tinggal. Karena harus diakui bahwa kualitas komunikasi langsung, jauh lebih baik daripada melalui fasilitas media lainnya.

Untuk memahami arti ‘pilea’ secara lebih dalam, maka kita akan membahasnya bersamaan dengan arti kasih yang keempat, karena kedua kata ini sama-sama digunakan dalam Perjanjian Baru, baik secara bersamaan maupun terpisah.

AGAPE

Kata ‘agape’ adalah bahasa Yunani klasik yang jarang dipakai oleh masyarakat waktu itu. Arti kata ini semula tidak dimaksudkan untuk menunjuk kasih Allah, karena masyarakat Yunani tidak mengenal Allah seperti yang dikenal oleh orang Kristen. Namun ketika para penulis PB hendak menterjemahkan kasih Allah yang dijelaskan dalam Perjanjian Lama (PL) ke dalam bahasa Yunani yang sangat kaya pengertian (setidaknya ada empat kata yang dipakai untuk mengartikan ‘kasih’), maka kata ‘agape’ sebagai yang mengandung pengertian kasih paling tinggi nilainya, dipakai untuk menunjuk kasih Allah sebagaimana dimaksud dalam PL itu!

Bagian Alkitab dalam PB yang paling tepat untuk mempelajari perbandingan arti kata ‘pilea’ dan ‘agape’ adalah, Injil Yohanes 21:15-17. Dalam konteks pembicaraan antara Yesus dengan Simon Petrus, terdapat tiga kali pertanyaan apakah Petrus mengasihi Yesus. Dua pertanyaan pertama, Yesus menggunakan kata ‘agape’, untuk mempertanyakan sifat atau kualitas kasih Petrus kepada Yesus. Artinya Yesus sedang mengharapkan kasih dalam tingkat yang paling tinggi, yakni kasih yang setara dengan kasih Allah dari Petrus terhadap Yesus. Tetapi Petrus dengan spontan menjawab dengan jawaban memakai kata ‘pilea’. Artinya Petrus mengakui kasihnya kepada Yesus hanya sebatas kasih persahabatan saja. Tentu saja ini merupakan ungkapan jujur.

Akhirnya pada pertanyaan ketiga Yesus menurunkan standar tuntutan itu dengan memakai kata ‘pilea’. Artinya Yesus memaklumi Petrus dengan hanya sebatas kasih persahabatan. Respon Petrus menjadi sedih karena dia sadar bahwa dia hanya mampu mengasihi Yesus sebatas ‘pilea’. Hal ini memang terbukti ketika Yesus tertangkap oleh musuh mereka dan Petrus menyangkal Yesus sebagai temannya karena tidak rela mengalami kesulitan karena pengakuan itu. Karena memang hanya kasih agape lah yang memiliki kualitas hingga rela berkorban sepenuhnya demi yang dikasihi.

Beberapa kali Petrus ditemukan gagal dalam menerapkan kasih ‘agape’ secara sempurna dalam hidupnya. Dari tradisi sejarah di luar Alkitab, diceritakan bahwa suatu saat Petrus terancam dihukum mati. Lalu atas saran para muridnya ia melarikan diri dari Roma. Menurut cerita, di tengah jalan ia sekonyong-konyong bertemu dengan Tuhan Yesus. Dalam pertemuan itu Petrus bertanya, “Guru mau kemana?” Lalu Tuhan Yesus menjawab, “Mau ke Roma untuk disalibkan kembali!” Menurut kisah tersebut, Petrus akhirnya kembali ke Roma untuk menyongsong kematiannya. Saat dieksekusi mati disalibkan, Petrus memohon agar disalibkan secara terbalik karena merasa tidak layak disalibkan seperti Gurunya. Jika kisah ini benar, maka Petrus telah menggenapi agape bekerja dalam dirinya secara sempurna.

Dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, Paulus menulis: “Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebar dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus, dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan. Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi dalam seluruh kepenuhan Allah.” (Efesus 3:18,19).

Pertanyaannya, mengapa gerangan Paulus perlu berdoa agar jemaat dapat memahami agape Kristus? Setelah membaca penjabaran sebelumnya, tentu saja kita mengerti karena memang tidak mudah mengenal agape itu. Kata yang digunakan oleh Paulus untuk ‘memahami’ dalam ayat tersebut adalah ginosko. Perlu diketahui bahwa ada dua kata yang sering dipakai dalam bahasa Yunani untuk arti ‘memahami’ atau ‘mengetahui’: Yang pertama adalah ‘eido’. Kata ini memiliki pengertian mengetahui sesuatu dengan cara yang lebih mudah, yakni dengan melihat fakta-fakta yang nyata. Sedangkan yang kedua adalah ginosko. Kata ini memiliki pengertian mengetahui sesuatu yang lebih sulit dan membutuhkan upaya serius. Kata ‘ginosko’ memiliki pengertian mengenal dengan cara melibatkan rasio serta pertimbangan perasaan, ibarat proses pengenalan yang terjadi secara bertahap antara pasangan suami istri. Jadi arti gidosko adalah mengenal sesuatu dengan cara proses belajar dan penelitian atau dengan proses hubungan yang akrab.

Itu sebabnya dalam Perjanjian Baru, untuk kalimat “… Allah atau Yesus mengetahui …”, selalu memakai kata ‘eido’ (misalnya dalam Matius 6:8; 9:4), karena Allah dalam kemahatahuan-Nya, tidak membutuhkan belajar atau upaya untuk mengetahui sesuatu. Jadi dalam ucapan Paulus, ia menggunakan kata ‘ginosko’, karena memang untuk mengenal agape (kasih Allah) itu kita harus dengan upaya maksimal dan dengan hubungan yang akrab dengan-Nya.

Dari semua pembahasan di atas, sekarang kita temukan beberapa kesimpulan penting tentang Agape:

  • Agape adalah kasih tingkat tertinggi yang memiliki kekuatan tak terbatas.
  • Kasih Eros, Storge dan Pilea hanya dapat dikendalikan dan menjadi sempurna dengan Agape.
  • Agape adalah kasih Allah yang bisa dipahami dan bekerja dalam diri manusia dengan cara belajar dan bergaul secara akrab dengan Allah.

Jika ingin mengembangkan nilai hubungan yang berkualitas, maka tingkatkanlah nilai keyakinan Anda dan latihlah diri Anda untuk menerapkan agape. Dengan agape Anda akan memiliki lebih banyak relasi yang memudahkan setiap usaha-usaha pencapaian Anda.

MR. Theo Light

” Untuk Mendownload/Unduh Materi Power Point diatas bisa diklik unduh/download di bawah ini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *