Mentoring 08 – Tanggung Jawab

Ada banyak orang yang akhirnya mengalami depresi dan tinggal dalam persungutan mempersalahkan orang lain, situasi dan termasuk Tuhan, ketika mengalami masalah dalam meraih visinya. Orang seperti ini dipastikan belum sampai pada pemahaman yang utuh tentang sebuah keputusan dan “Tanggung Jawab”. Memahami arti keputusan dan tanggung jawab yang alkitabiah akan sangat menentukan proses tercapainya sebuah visi.

Benar bahwa Alkitab memuat begitu banyak janji penyertaan Tuhan dan campur tangan-Nya dalam pencapaian hasrat atau tujuan seseorang. Tetapi kita harus berusaha melakukan eksegesis yang tepat untuk menggali maksud yang sesungguhnya dari janji-janji tersebut. Karena presepsi yang salah terhadap janji tersebut akan menimbulkan sikap dan tindakan seseorang menjadi salah. Sedangkan sikap dan tindakan yang salah tidak mungkin menggerakkan Tuhan untuk berperan memberkatinya.

Harus dipahami bahwa sifat penulisan kitab-kitab yang tergabung dalam Alkitab itu memiliki bentuk yang berbeda-beda sesuai latar belakang waktu, situasi, gaya dan tujuan penulisan masing-masing yang mempengaruhi artinya. Misalnya tentang doa Yabes yang termuat dalam 1 Tawarikh 4:9,10. Sebenarnya kalau melihat konteks, maksud penulis waktu itu hanya ingin melaporkan daftar nama-nama keturunan Yehuda dari cabang lain. Tetapi pada kesempatan itu dia seperti ingin mengungkap sedikit tentang Yabes yang memiliki kisah yang unik, lalu menuliskannya seperti sekilas informasi. Untuk mereka yang hidup pada zaman itu, pasti dapat memahami secara utuh apa sesungguhnya yang telah terjadi pada Yabes. Namun kepada kita tidak dikisahkan secara lengkap, sehingga apabila ini diajarkan dan diterapkan menjadi suatu formula doa instan yang bisa berlaku bagi semua orang untuk saat ini, tentu sangat menyesatkan dan sudah terbukti banyak mengecewakan orang-orang yang mengklaimnya sebagai suatu doa ajaib.

Kita harus selalu sadar bahwa Allah selalu ingin bekerjasama dengan manusia dalam mewujudkan segala sesuatu yang menjadi kehendak-Nya dan yang sudah terencana sejak semula. Dalam mewujudkan kerjasama yang baik, tentu saja ada peran masing-masing yang harus dipahami sehingga dapat membangun suatu sinergi yang harmonis. Bagi orang percaya seharusnya tidak boleh ragu bahwa yang pertama dan di atas segalanya adalah peran Allah. Peran Allah itu terutama mencakup tiga hal penting yang bisa disimpulkan sebagai berikut:

  1. Skenario

Harus diingat bahwa tujuan utama Tuhan dalam segala hal di alam semesta ini adalah kekekalan. Hidup yang kita hidupi saat ini hanya bersifat sementara. Akan tetapi dalam mewujudkan kekekalan itu, Allah mengerjakannya dalam masa hidup ini melalui orang-orang yang percaya kepada-Nya. Dalam rencana-Nya yang sempurna, tentu saja Allah memiliki skenario yang tidak mudah dipahami. Skenario itulah yang akan menjadi kisah hidup seseorang, yang harus ditangkap sebagai wahyu atau visi dan yang harus ditemukan melalui persekutuan yang intim dengan Tuhan. Untuk menggali Visi Tuhan ini, selain Alkitab sebagai Firman Allah yang tertulis, kita juga harus hidup dalam doa sebagai sarana berkomunikasi dengan Dia.

  1. Tuntunan

Allah tidak hanya berkenan memberi visi, akan tetapi dia bertanggung jawab menuntun orang percaya untuk sampai kepada visi tersebut. Karena selain tujuan (visi) benar, cara dan perencanaan dalam meraih tujuan itu juga harus benar. Oleh karena itu kita membutuhkan tuntunan-Nya dalam garis koridor Firman Allah yang berlangsung setiap hari. Jadi kita tidak hanya membutuhkan Tuhan dalam hal menemukan visi saja, tetapi juga untuk tuntunan-Nya setiap hari dalam mencapai visi itu. Karena Allah tidak mungkin mau bekerja sama dengan cara-cara yang tidak sesuai kehendak-Nya.

  1. Pertolongan

Ingat, Allah tidak ingin bekerja sendiri! Dia ingin kerja sama. Artinya Dia ingin berperan dan dia ingin kita berperan juga. Terkait dengan peran Allah maka harus dipahami terlebih dahulu bahwa Allah bekerja dengan tatanan yang sudah Dia tetapkan. Tatanan tersebut tersaji dalam dua bentuk: Yang pertama dan terutama adalah bahwa Allah bekerja dengan cara alamiah. Secara sistemik Allah telah menetapkan dan membiarkan banyak hal di alam semesta ini berlangsung dengan sendirinya. Juga dalam hal yang lebih banyak, Allah juga mengharapkan banyak hal dilakukan dengan upaya alamiah. Bentuk tatanan ini bisa kita sebut sebagai “Hukum Alamiah”. Kita harus sadar bahwa Allah lebih senang dan lebih banyak bekerja dengan bentuk tatanan alamiah ini dibandingkan dengan bentuk tatanan yang kedua.

Bentuk tatanan yang kedua adalah, bahwa Allah juga bisa bertindak pada kondisi tertentu (tidak lazim) melakukan interfensi langsung. Bentuk tatanan ini bisa kita sebut sebagai “Hukum Supranatural” atau yang sering disebut sebagai ‘mujizat’. Harus dipahami bahwa Allah tidak selalu dan tidak menginginkan agar kehidupan ini selalu berlangsung dengan cara ini. Itu sebabnya kita juga seharusnya tidak boleh sembarangan berharap agar Allah selalu melakukan mujizat. Sesungguhnya Allah lebih menginginkan agar hdiup ini berlangsung dengan tatanan yang pertama, yakni secara alamiah. Kondisi tertentulah yang mendorong Allah melakukan mujizat. Pengetahuan tentang hal ini terpapar di sepanjang Alkitab.

Pemilahan kedua hukum inilah yang penting diketahui manusia dengan jelas, sehingga tahu mengambil peran yang tepat untuk dikerjakan dan juga tahu hal-hal apa yang seharusnya diharapkan untuk Tuhan kerjakan. Karena mengharapkan Tuhan untuk mengerjakan apa yang seharusnya peran kita adalah sebuah kesalahan. Juga sebaliknya mengerjakan apa yang seharusnya yang menjadi peran Tuhan akan merugikan kita. Dengan penjelasan ini diharapkan kita bisa belajar mengenal cara Tuhan menolong kita.

Sekarang mari kita melihat secara seksama peran manusia yang sangat diharapkan oleh Tuhan agar terlaksana sebagaimana mestinya:

  1. Pilihan Dan Keputusan

Dari Alkitab kita tahu ada dua kekuatan pengaruh terbesar di alam semesta ini. Yang pertama tentu saja adalah kekuatan pengaruh Tuhan sebagai pencipta semesta dan yang berdaulat atas segala yang ada. Sedangkan kekuatan pengaruh yang kedua adalah pengaruh kekuatan Iblis yang dibiarkan oleh Allah bekerja sampai batas waktu yang telah ditetapkan oleh-Nya. Sejak awal Allah telah memperhadapkan manusia pada pilihan dan keputusan untuk memilih di antara kedua pengaruh ini (Kejadian 1:27-2:17): Berpihak kepada Allah atau terpengaruh oleh godaan Iblis. Hingga saat ini juga kita diperhadapkan kepada dua pilihan tersebut. Tidak bisa dipungkiri bahwa Allah juga telah menetapkan suatu tatanan bahwa manusia diberi kebebasan memilih (freewill). Hidup ini memang adalah suatu pilihan. Kitalah yang diberi hak untuk menentukan pilihan itu. Allah tentu saja berharap agar Anda memilih untuk bersekutu dengan-Nya, akan tetapi keputusan ada di tangan Anda.

Allah tidak hanya mengizinkan kita untuk memilih antara Dia dengan Iblis. Allah juga mengizinkan kita untuk memilih banyak hal untuk dilakukan selama di dunia ini. Setiap pilihan dan keputusan memang pasti memiliki akibat atau konsekwensi. Hal itu bisa menjadi positif, tetapi juga bisa berakibat negatif. Namun konsekuensi itu tidak boleh mengurungkan niat kita untuk mengambil pilihan dan keputusan dalam hidup ini. Karena berdiam diri karena takut resiko juga sudah terjebak dalam satu resiko, yakni tidak menghasilkan sesuatu yang berarti dan pada akhirnya akan hancur juga. Jadi memilih dan memutuskan sesuatu untuk dikerjakan adalah sudah merupakan kewajiban bagi kita sebagai manusia.

  1. Tanggung Jawab

Sangat sah apabila kita berharap bantuan dari orang lain atau lingkungan dalam proses pencapaian sebuah visi. Akan tetapi mengharapkan hal seperti itu akan terkabul dan berjalan mulus adalah sebuah kesalahan awal. Karena Anda tidak selalu tahu perubahan yang mungkin terjadi pada orang lain atau lingkungan. Oleh karena itu Anda sudah harus berpegang pada satu prinsip bahwa tanggung jawab 100% ada di tangan Anda, sambil selalu terbuka atas pertolongan orang lain. Artinya tanggung jawab untuk mewujudkan visi itu sepenuhnya ada pada diri Anda, bukan pada orang lain termasuk orang-orang yang sudah berjanji untuk menolong Anda. Karena harus disadari bahwa semakin besar sebuah visi, maka semakin besar pula rintangannya! Ketika hal itu terjadi, jangan pernah menyesali orang dan situasi penyebabnya. Yang Anda lakukan adalah mencari jalan keluarnya!

Anda juga tidak bisa berharap akan mujizat pertolongan Tuhan untuk mengerjakan hal-hal alami yang menjadi tugas dan tanggung jawab Anda. Sadarilah bahwa Allah bisa saja dalam sekejap menyediakan bahtera bagi Nuh, tetapi Tuhan menyuruhnya untuk mengerjakan dengan petunjuk pelaksanaan dari Tuhan. Allah tidak perlu membelah laut Kolsom bagi Israel yang keluar dari Mesir, kalau membuat bahtera untuk kepentingan sebanyak bangsa itu dimungkinkan untuk dikerjakan oleh bangsa itu pada waktu itu. Allah juga telah menghentikan manna untuk dimakan setelah bangsa Israel masuk ke tanah perjanjian yang telah siap memberi makanan alami bagi mereka.

Demikianlah Allah juga tidak perlu melakukan mujizat kesembuhan atas penyakit flu Anda kalau hal itu bisa dihentikan dengan istirahat dan mengkonsumsi obat yang bisa diperoleh dengan mudah. Ketahui jugalah bahwa Allah tidak akan menopang kesehatan Anda dengan mujizat jika Anda memilih tidak hidup sehat secara alami. Jadi ingatlah, bahwa peran Allah menolong umat-Nya dengan mujizat hanya berlaku pada hal-hal di luar kemampuan kita secara alami dan pada alasan-alasan yang terbaik menurut Allah.

Itulah sebabnya tidak semua permohonan doa meminta mujizat terkabul, bukan karena kualitas doanya yang kurang baik, melainkan karena hal itu sangat tergantung pada alasan Tuhan yang tidak selalu langsung kita ketahui. Adakalanya justru Tuhan membiarkan suatu kelemahan, bahkan cacat sekalipun bertengger dalam hidup seseorang untuk tujuan-tujuan luhur dan mulia yang akan Tuhan kerjakan melalui diri seseorang. Kita harus berani memegang suatu prinsip bahwa jika memang kita memerlukan mujizat, maka Tuhan pasti mengerjakannya pada waktu yang tepat setelah kita mengambil peran tanggung jawab kita semaksimal mungkin.

Sekali lagi penting untuk dicamkan bahwa Allah tidak mungkin efektif bekerja melakukan peran-Nya ketika manusia tidak mengerjakan perannya dengan benar. Artinya Allah tidak mungkin melakukan mujizat tanpa alasan yang tepat sesuai hukum-hukum dan rencana-Nya atas seseorang bahkan atas dunia ini. Mengerti tanggung jawab kita sebagai orang percaya dan bertindak dengan cara yang benar akan menjadi penentu bekerjanya peran Allah untuk menolong kita, yakni pertolongan mujizat-Nya.

Itu sebabnya adalah baik untuk merekayasa dan menulis segala kemungkinan hambatan, atau potensi hambatan penghalang visi Anda demi membuat rencana-rencana jalan keluarnya. Hal ini tidak dimaksud untuk berpikir negatif, melainkan berpikir antisipatif. Jadi, cari tahulah apa yang menjadi tugas atau visi Tuhan atas Anda selama di dunia ini, lalu kerjakanlah dengan penuh tanggung jawab.

MR. Theo Light

” Untuk Mendownload/Unduh Materi Power Point diatas bisa diklik unduh/download di bawah ini”

Satu Komentar pada “Mentoring 08 – Tanggung Jawab”

  1. Mantap.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *