Mentoring 09 – Rencana Kerja

Melakukan rencana kerja adalah suatu proses yang membutuhkan pengetahuan atau pemahaman, kematangan berpikir, pelatihan dan kebiasaan. Oleh karena itu jangan memaksakan diri untuk dapat mengerjakannya secara sempurna dalam satu waktu. Yang penting adalah upaya untuk selalu membenahinya setiap saat, serta pola pikir yang selalu ditanamkan bahwa untuk mencapai Sukses Sejati perlu menguasai kemampuan merencanakan hidup dengan baik.

Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya pengetahuan, wawasan Anda akan semakin berkembang dalam mendisain suatu sasaran dan perencanaan yang baik. Tidak mudah, bukan berarti tidak bisa, dan sesuatu yang berharga dan besar, tidak ada yang mudah. Oleh karena itu kemauan untuk selalu mencoba terus dan terbiasa adalah kunci menyelesaikan kasus ini. Karena perencanaan adalah suatu budaya, maka hal itu sangat terkait dengan kebiasaan. Dalam hal ini faktor usia dan pola hidup dasar sebelumnya, sangat mempengaruhi sukses seseorang dalam membuat dan menjalani perencanaan.

Perencanaan adalah strategi awal dalam meraih sukses. Oleh karena itu sangat mungkin berubah sesuai perkembangan keadaan. Dalam kitab Amsal tertulis: “Orang yang tak berpengalaman percaya kepada setiap perkataan, tetapi orang bijak memperhatikan langkahnya” (Amsal 24:10). Tentu saja orang yang berpengalaman tidak mudah terpengaruh dengan sembarangan informasi yang didengar. Orang berpengalaman umumnya lebih mampu melihat langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan jika dibandingkan dengan orang-orang yang belum berpengalaman.

Tetapi orang yang memiliki visi, meskipun masih kurang pengalaman, akan terlihat dan tertolong seperti orang yang sudah berpengalaman. Karena dengan adanya visi, otak mereka akan distimulasi untuk berupaya melihat hal-hal yang mungkin terjadi di masa depan, sehingga juga bisa lebih mudah untuk menentukan langkah-langkah yang harus diambil dalam upaya mencapai visi tersebut. Itu sebabnya, salah satu ciri orang yang memiliki visi besar, kuat dan benar adalah, hidupnya tidak mudah dipengaruhi oleh perkataan sembarang orang, karena pada hakikatnya mereka sudah memiliki nilai-nilai hidup dan langkah-langkah yang pasti untuk dilakukan. Justru orang yang berpengalaman tanpa visi, pada kehidupan selanjutnya akan terkalahkan oleh orang yang tidak berpengalaman yang memiliki visi dalam dampak kehidupan.

Jadi visi adalah bahan dasar dan utama dalam menyusun sebuah perencanaan. Karena tanpa visi, tidak ada yang perlu direncanakan. Itu sebabnya kemudahan membuat perencanaan adalah barometer pengukur kualitas dan kejelasan sebuah visi, sekaligus menjadi petunjuk hidupnya sebuah visi dalam diri seseorang. Artinya, ketika membuat perencanaan menjadi sangat sulit dan membingungkan, maka hal itu pertanda bahwa visi belum jelas, atau yang ditetapkan sebagai visi, sebenarnya belumlah merupakan sebuah visi. Camkanlah ini: Semakin jelas sebuah Visi, maka semakin mudah membuat perencanaan dan semakin besar sebuah visi, maka akan semakin diperlukan pula perencanaan yang baik untuk mewujudkannya. Itu sebabnya kemampuan membuat sebuah perencanaan itu menjadi sangat penting, agar kegiatan-kegiatan yang dilakukan menjadi: jelas, efektif dan efisien.

Dalam ilmu manajemen, dikenal sebuah rumusan yang disebut ‘POAK’ (Planning, Organiting, Actuating dan Contorling). Dalam rumusan tersebut, perencanaan adalah landasan utamanya. John C. Maxwell berkata, “Ketika Anda gagal membuat rencana, maka Anda sebenarnya sedang merencanakan kegagalan”. Orang-orang yang produktif seperti Maxwell, menyadari bahwa membuat perencanaan itu memiliki hukum atau aturan sehingga perlu dipelajari. Oleh karena itu siapapun yang ingin hidup produktif dan sukses, perlu membangun gaya hidup berpikir yang berorientasi ke masa depan. Berikut adalah langkah-langkah membangun gaya berpikir orientasi masa depan:

Miliki Gaya Hidup Dengan Adanya Visi

Tetapkan visi yang jelas, maka otak Anda akan distimulasi untuk berpikir bagaimana mencapainya!Orang-orang yang memiliki visi yang jelas dan kuat, pasti selalu terangsang untuk bergerak dan melakukan apapun demi pencapaian visi mereka. Terlebih mereka-mereka yang yakin bahwa visi mereka sesungguhnya adalah merupakan tugas yang Tuhan berikan kepada mereka selama di dunia ini. Salah satu visi-misi yang sedang dikerjakan oleh penulis adalah, terciptanya suatu generasi, khususnya generasi muda gereja, yang memiliki budaya melakukan apa saja, termasuk hal-hal kecil dengan dorongan sebuah visi yang jelas. Kita sedang berperang dengan budaya hedonisme (budaya memenuhi kebutuhan kenikmatan daging) yang sedang ditebarkan oleh si jahat dalam dunia modern dewasa ini.

Biasakan Merumuskan Manfaat Visi dalam Rangkaian Misi

Tuliskan cara-cara mencapai visi dan hasil atau manfaat yang ingin Anda wujudkan dalam meraih visi itu, lalu tuangkan dalam beberapa kalimat, itulah Misi Anda! Umumnya orang menganggap misi itu adalah langkah-langkah atau cara-cara mewujudkan visi. Meskipun hal itu tidak salah, tetapi sesungguhnya cara-cara pencapaian telah terakomodir pada program. Misi lebih kepada perumusan manfaat dari pencapaian visi itu bagi kehidupan, sedangkan program fokus kepada langkah-langkah nyata dalam tindakan setiap hari untuk mencapai visi tersebut. Pemilahan ini sangat berguna agar bisa mempertahankan nilai-nilai mulia yang dicita-citakan, sehingga tidak terjerumus hanya pada pencapaian hal-hal lahiriah semata.

Tetapkan Sasaran-Sasaran Dalam Kurun Waktu

Rencanakan agenda pencapaian visi itu dalam tahapan waktu. Sasaran-sasaran itu sebenarnya berfungsi sebagai titik-titik (patokan-patokan) pada peta jalan yang akan kita lalui, untuk merinci bagaimana mencapai sukses dalam urutan yang logis atau masuk akal. Ingat, hal ini tidak boleh kaku. Penyesuaian sangat mungkin terjadi seiring berjalannya proses dan waktu pencapaian. Hasil survey yang dilakukan oleh Mark McCormarc Kepada MBA Harvard Business School pada tahun 1979-1989 mengungkap faktor-faktor kegagalan dalam meraih visi adalah sebagai berikut:

  • 84% Tidak punya gol (sasaran) sama sekali.
  • 13% Memiliki gol dalam pikiran tapi tidak menulisnya.
  • 3% Tertulis dan mempunyai spesifik gol dan memiliki standar yang tetap.
  • Yang 13% Memiliki penghasilan rata-rata 2 kali lipat dari mereka yang tidak memiliki gol sama sekali.
  • Yang 3% Memiliki penghasilan 10 kali lipat dari yang 97%.

Sasaran atau Gol umumnya dibagi dalam 3 tahap (Panjang, menengah dan pendek). Namun hal itu relatif bagi setiap orang dan tergantung besar visinya. Evaluasi secara berkala bisa mempengaruhi maju-mundurnya waktu pencapaian sasaran.

Menentuan Program

Buatlah langkah-langkah konkrit berupa kegiatan atau aktifitas Anda yang mengacu pada pencapaian visi Anda setiap hari, di luar kegiatan rutinitas Anda. Karena sejak Anda memiliki visi yang besar, maka itu berarti kegiatan Anda menjadi bertambah pula. Anda harus sadar bahwa hidup Anda tidak lagi sekedar menjalani hidup rutinitas wajib harian. Anda sudah memiliki agenda baru yang harus digarap setiap hari demi pencapaian visi Anda. Mustahil Anda mencapai sebuah visi besar tanpa penambahan kegiatan baru.

Untuk membantu dalam menyusun dan mengevaluasi perencanaan program Anda, ada baiknya berkaca pada petunjuk teori SMART. SMART itu adalah singkatan dari:

  • SPECIFIC: Perencanaan itu dapat disebut dan dituliskan secara jelas dan terperinci.
  • MEASURABLE: Perencanaan itu terukur dalam batas-batas tertentu.
  • ATTAINABLE: Perencanaan itu dapat dicapai selaras dengan ukuran dan waktu yang ditetapkan.
  • REALISTIC: Perencanaan itu masuk akal, sehingga bisa diwujudkan.
  • TIMELY: Perencanaan itu terikat dengan batas waktu pencapaian.

Menurut Denis Waitley, “Alasan sebagian besar orang tidak mencapai sasaran-sasaran mereka adalah karena mereka tidak mendefinisikannya, tidak mempelajarinya atau tidak pernah secara serius merenungkannya sebagai sesuatu yang layak diyakini atau mungkin dicapai”. Jadi membuat perencanaan itu sangat mungkin tidak dilakukan hanya sekali langsung permanen. Setelah didefinisikan, perlu direnungkan dan dipelajari secara terus-menerus sehingga bisa melakukan penyesuaian agar lebih efektif. Tetapi perlu diingat bahwa tujuan penyesuaian adalah demi efektifitas, sehingga tidak melakukan perubahan-perubahan yang berulang-ulang sehingga malah tidak efektif. Apabila Anda sulit membuat perencanaan, penyebab yang paling mendasar adalah, Anda Belum Mempunyai “Visi Yang Kuat Dan Jelas”. Sebaiknya beri waktu Anda dan minta waktu mentor Anda untuk menuntaskan kejelasan visi dan misi Anda.

Hasil survey tentang pekerja yang dilakukan oleh Mark McCormarc Kepada MBA Harvard Business School pada tahun 1979-1989 menunjukkan bahwa orang mau bekerja:

  • 8 Jam untuk gaji yang baik.
  • 10 Jam untuk atasan yang baik.
  • 24 Jam untuk suatu tujuan (visi) yang baik.

Oleh karena itu perjelaslah visi Anda maka Anda akan digerakkan oleh Visi itu menjadi seorang yang bergairah untuk bekerja. Ingat, karena kehidupan ini bersifat dinamis, maka perencanaan tidak dibuat sekali untuk waktu selamanya. Itu sebabnya perlu kontrol, evaluasi dan penyesuaian atau pembaharuan, supaya tetap relevan dan mampu menjawab perubahan zaman.

MR. Theo Light

” Untuk Mendownload/Unduh Materi Power Point diatas bisa diklik unduh/download di bawah ini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *