Mentoring 10 – Prioritas Kerja

Dari Mentoring 01 kita pahami bahwa usia rata-rata manusia sekarang di bawah 100 tahun. Sedangkan kalau dihitung sejak usia mandiri hingga usia rentan, maka kita hanya memiliki kurang lebih 50 tahun masa produktif kerja. Itu adalah masa untuk kita melakukan tanggung jawab menjalani kewajaran hidup dan menyelesaikan tugas ilahi (visi Tuhan) bagi yang menyadarinya, seperti yang sudah dijabarkan pada Mentoring 02. Dari Mentoring 05 kita pahami bahwa rencana Tuhan pada masa singkat hidup kita itu adalah suatu kesempatan untuk melakukan perubahan, baik bagi diri sendiri maupun bagi lingkungan kita ke arah yang semakin baik.

Sangat jelas bahwa melakukan kebaikan bukanlah sesuatu yang mudah. Selain karena hal itu membutuhkan daya eksplorasi pada potensi yang ada, juga karena adanya kontra perlawanan dari kekuatan jahat. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma Paulus berkata: “Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan” (Roma 12:21). Benar, bahwa cara terbaik untuk mengalahkan kejahatan adalah dengan perbuatan baik yang berwujud berbagai karya nyata yang berguna bagi kehidupan. Musa juga sangat menyadari arti atau dampak dari perbuatan-perbuatan nyata, oleh karena itu ia berdoa, “… dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu” (Mazmur 90:17). Oleh karena itu, pastikan Anda mengisi waktu Anda dengan Karya Nyata!

Melalui pemahaman di atas, maka sebagai insan tebusan Kristus yang karenanya kita disebut sebagai anak-anak Allah, seharusnya sudah menyadari bahwa tidak ada lagi waktu yang kita rencanakan dan gunakan kecuali untuk melakukan peran kita dalam menyelesaikan tugas ilahi yang dipercayakan kepada kita. Hal ini mengacu pada dua pertanyaan penting untuk diresponi:

  1. Bagaimana sesungguhnya Anda telah mengisi waktu-waktu yang Anda miliki setiap hari?
  2. Dari semua rencana dan perbuatan Anda, apakah hal itu sudah bersesuaian dan menjawab tuntutan untuk apa sebenarnya Anda diciptakan?

Memahami pertanyaan-pertanyaan tersebut seharusnya telah menggiring Anda kepada kebutuhan untuk merencanakan semua kegiatan Anda, dan yang oleh karenanya Anda akan terdesak untuk menyusun skala prioritas kegiatan Anda dalam masa hidup ini!

Sekarang mari kita berbicara tentang prioritas. Tuhan telah menggelar perputaran waktu (kronos) bagi kita untuk dapat menyusun rencana. Tentu saja hal ini relatif sesuai waktu sadar Anda saat membaca tulisan ini? Juga oleh berbagai faktor kendala seperti faktor kesehatan sehingga tidak mencapai rata-rata 70 an Anda, atau faktor buruk lainnya yang mungkin mengganggu kelancaran rencana Anda. Yang jelas Anda dapat menghitung waktu yang tersisa. Kira-kira apa yang akan Anda lakukan jika hidup Anda tinggal 1 Minggu dari sekarang? Lalu kalau ternyata sisa hidup Anda masih ada 10 tahun dari sekarang?Apalagi kalau masih di luar 50 an masa produktivitas Anda?

Respon terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas akan membawa kita pada kesadaran bahwa:

  • Ternyata kita membutuhkan waktu yang lebih banyak agar bisa hidup lebih berarti, dan oleh karena itu kita tidak pantas menyia-nyiakan waktu yang kita miliki.
  • Juga memperlihatkan kepada kita apa sesungguhnya kebutuhan kita yang paling mendesak selama hidup ini dan siapa kita yang sesungguhnya saat ini.

Sadar akan berharganya waktu, pemazmur berkata: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati bijaksana” (Mazmur 90:12). Kata “sedemikian” hendak menekankan bahwa waktu harus diisi dengan perencanaan yang matang. Apabila kita melihat konteks ayat ini dari ayat-ayat sebelumnya, maka kita akan menemukan bahwa ucapan Musa ini terkait dengan masa hidup manusia yang singkat dan murka Allah. Jadi hal ini sesungguhnya terkait dengan Tuhan, bukan tentang kebutuhan kita. Artinya bagaimana sesungguhnya kita memaknai atau mengisi waktu hidup kita bagi kepentingan Sang pemberi waktu dan hidup itu? Pernahkah Anda berpikir, untuk apa sebenarnya Allah membiarkan Anda hidup sejauh ini? Apa yang menjadi tugas Anda bagi kepentingan Tuhan?

Dalam perenungan perjalanan hidup rohaninya, Daud telah melihat posisi waktu dari sudut pandang Tuhan. Ia menulis, “Adapun manusia, hari-harinya seperti rumput. …” (Mazmur 103:15-17). Pengkhotbah berkata, “untuk segala sesuatu ada masanya”. Kata ‘masa’ dalam bahasa Ibraninya memiliki pengertian sebagai, “kesempatan yang ditetapkan”. Ini berarti kesempatan bukanlah suatu kebetulan, melainkan sesuatu yang ditetapkan, oleh karena itu harus digunakan sebaik mungkin. Agar kita bisa memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin, maka penting sekali memahami karakteristik waktu (kronos) itu sedemikian rupa. Kita harus selalu sadar akan fakta yang tidak bisa diubah bahwa:

  • Waktu itu bergerak secara konstan atau teratur. Ini adalah berita menggembirakan karena dengan karakteristik waktu seperti itu kita bisa membuat perencanaan dengan baik.
  • Namun harus juga disadari bahwa waktu itu terbatas. Artinya kita tidak bisa menambahnya sesuka hati kita, sehingga kita harus menggunakannya sebaik mungkin.
  • Waktu itu juga tidak dapat diulang. Ia bergerak tanpa dapat dihentikan. Oleh karena itu, kita yang harus mengendalikan diri agar bisa memanfaatkannya.

Menyadari karakteristik waktu tersebut, maka tidak ada yang bisa kita perbuat untuk mempengaruhi waktu. Kita tidak bisa mengendalikan waktu, melainkan mengendalikan pikiran, sikap dan tindakan kita terhadap waktu itu. Untuk membantu kita bisa hidup secara maksimal dalam kurun waktu yang Tuhan sediakan bagi kita, maka seseorang telah memberikan rumusan yang menjadi gambaran agar dapat memotifasi kita dalam memanfaatkan waktu dengan baik, Rumusan itu disebut sebagai “Hukum Pendapatan” atau hukum produktivitas. Rumusan itu adalah:

“Pendapatan kita” sama dengan “Nilai Diri kita” dikali dengan “Waktu yang kita miliki”.

Maksudnya, pendapatan atau produktifitas pribadi kita itu, adalah hasil dari kualitas diri atau keahlian yang kita miliki, dikalikan dengan waktu yang kita miliki. Rumusan ini memberi pengertian bahwa:

  • Semakin tinggi nilai diri atau keahlian seseorang, maka akan semakin besar pula arti atau manfaat waktu untuk menghasilkan sesuatu.
  • Semakin cepat Anda mengisi diri dengan nilai atau keahlian, maka akan semakin banyak waktu luang yang Anda miliki untuk menghasilkan sesuatu.

Inilah keuntungan dari orang-orang yang sejak dini telah menemukan visi dan mengisi diri lebih awal untuk pencapaian-pencapaian visinya. Ini jugalah pentingnya kemampuan untuk menguasai diri dalam hal menentukan dan memilih prioritas-prioritas kerja.

Kita sadar bahwa salah satu konsekwensi memiliki visi besar dan kuat adalah memiliki banyak agenda kegiatan penting. Orang seperti ini bisa hidup stress dan kacau apabila tidak bisa meihat dan terbiasa dalam menempatkan prioritas. Satu hal yang penting Anda camkan adalah bahwa, ketika Anda memiliki visi besar, maka urusan Anda seharusnya tidak lagi pada tingkat memilah urusan penting dengan yang tidak penting, melainkan sudah seharusnya naik pada tingkat memilah dari sekian banyak urusan penting untuk disusun dalam skala prioritas. Itu sebabnya, penguasaan diri adalah kunci sukses mengerjakan prioritas dan mengesampingkan hal-hal penting lainnya”. Bukan lagi menyingkirkan hal yang tidak penting. Berikut adalah aturan prioritas sesuai tingkatannya:

  • Tingkat teratas adalah kegiatan yang penting dan mendesak
  • Tingkat menengah adalah penting tetapi tidak mendesak
  • Tingkat terendah adalah tidak penting dan tidak mendesak.

Pertanyaannya, kira-kira sebaiknya Anda selalu berada di posisi yang mana? Orang-orang mungkin akan cendrung menjawab tingkat teratas. Tetapi sadarilah bahwa orang yang selalu melakukan kegiatan pada tingkat tersebut adalah orang yang belum merencanakan hidupnya dengan baik. Orang yang merencanakan hidup dengan baik, seharusnya berada di tingkat menengah (penting tapi tidak mendesak), karena dengan visi yang jelas, seseorang seharusnya sudah mengerjakan hal-hal yang penting sebelum hal itu diperlukan.

Terbiasa dengan menjaga prioritas-prioritas, akan membuat Anda menjalani hidup secara selektif, efektif dan produktif. Oleh karena itu belajarlah untuk mengendalikan keinginan Anda, jika Anda tidak ingin selalu dikendalikan oleh keinginan Anda. Artinya Anda harus berlatih sejak dini untuk menundukkan keinginan Anda di bawah jadwal yang sudah Anda tetapkan. Itu sebabnya Petrus berkata: “Justru karena itu kamu harus dengan sungguh-sungguh berusaha untuk menambahkan kepada imanmu, kebajikan, dan kepada kebajikan pengetahuan, dan kepeada pengetahuan penguasaan diri, …” (2Petrus 1:5,6). Penguasaan dirilah yang membuat seseorang dapat melakukan priorotas dengan baik. Paulus juga berkata bahwa salah satu buah Roh adalah “penguasan diri” (Galatia 5:22,23).

Sebagai bahan evaluasi, cobalah mengingat kegiatan Anda secara terurut satu bulan yang lalu, berapa persenkah yang bermanfaat? Kemudian mulailah melatih diri Anda bekerja dengan kartu prioritas. Memang dipastikan pada awalanya hal itu bisa berantakan. Tapi Anda harus memulainya dan membiasakannya. Buatlah jadwal kegiatan program pencapaian visi Anda sebagai berikut:

  • Tuliskan rencana kerja (pencapaian visi) dengan urutan prioritas.
  • Buat batasan waktu.
  • Selesaikan urutan pertama.
  • Kemudian evaluasilah urutan berikutnya menjadi urutan 1 untuk dikerjakan selanjutnya.
  • Kemudian gabungkanlah itu dalam skala kegiatan rutinitas harian Anda pada waktu luang atau waktu yang sengaja Anda luangkan.

Ingat, Mengerjakan prioritas sebenarnya mudah dan akan membuat hidup lebih mudah. Tetapi karena tidak terbiasa, menjadi sulit. Pepatah mengatakan, “Ala bisa karena biasa”. Kata Kuncinya adalah “habit” atau kebiasaan!

MR. Theo Light

” Untuk Mendownload/Unduh Materi Power Point diatas bisa diklik unduh/download di bawah ini”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *