Mentoring 11 – Kecerdasan Manusia

Salah satu bekal yang Tuhan berikan kepada manusia untuk menjalani hidup dan meraih tujuan hidupnya diciptakan adalah kecerdasan. Dalam kamus bahasa Indonesia kata ‘kecerdasan’ yang memiliki kata dasar ‘cerdas’ diartikan sebagai: “sempurna perkembangan akal budinya (untuk berpikir, mengerti, dan sebagainya)”. Dari pengertian tersebut akhirnya kita dapat memahami bahwa kecerdasan itu tidak terjadi secara spontan, melainkan berkembang secara progresif dan melalui proses menuju sempurna. Akan tetapi arti kata yang disepakati dalam kamus tersebut, belumlah memberi pengertian yang memadai. Oleh karena itu berbagai pihak telah mengembangkan arti kata tersebut dalam bentuk-bentuk definisi yang berbeda-beda sesuai kebutuhan.

Dari sekian definisi yang ada, maka penulis merangkum suatu rumusan bahwa kecerdasan itu adalah “potensi dalam diri manusia untuk dapat menganalisa dan akhirnya memahami dengan baik suatu objek, guna menemukan cara menanganinya dalam situasi konkrit”. Dengan demikian manusia dapat berkarya secara inovatif untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya, dan juga dapat menemukan solusi atau pemecahan masalah-masalah yang sedang dan akan dihadapi.

Secara progresif akhirnya para ahli di bidang psikologi telah menemukan dan menyimpulkan bentuk-bentuk kecerdasan manusia itu dalam dua belas bentuk kecerdasan yang dinamai dan disingkat dalam bahasa Inggris sebagai berikut:

  1. Spiritual Quotient (SQ) atau Kecerdasan Spiritual yang bertalian dengan dunia rohani atau berhubungan dengan Tuhan.
  2. Inteligence Quotient (IQ) atau Kecerdasan Intelektual yang bertalian dengan dunia nalar atau berpikir.
  3. Adversity Quotient (AQ) atau Kecerdasan Menghadapi Masalah yang bertalian dengan berbagai masalah hidup.
  4. Emotional Quotient (EQ) atau Kecerdasan Emosional yang bertalian dengan perasaan atau penguasaan diri.
  5. Character Quotient (CQ) atau Kecerdasan Karakter yang bertalian dengan mental atau kemampuan sifat-sifat diri.
  6. Leadership Quotient (LQ) atau Kecerdasan Kepemimpinan yang bertalian dengan kemampuan memimpin.
  7. Organitation Quotient (OQ) atau Kecerdasan Berorganisasi yang bertalian dengan kemampuan berorganisasi.
  8. Financial Quotient (FQ) atau Kecerdasan Mengelola Keuangan yang bertalian dengan kemampuan menggunakan uang dengan baik.
  9. Managemen Quotient (MQ) atau Kecerdasan Manajement yang bertalian dengan kemampuan menangani orang pada tugasnya.
  10. Body Quotient (BQ) atau Kecerdasan Membentuk Raga yang bertalian dengan kemampuan merawat tubuh manusia.
  11. Cretaivity Quotien (CRQ) atau Kecerdasan Kreativitas yang bertalian dengan kemampuan mencipta atau atau menemukan cara-cara yang lebih efektif.
  12. Self Development Quotient (SDQ) atau Kecerdasan Pengembangan Diri yang bertalian dengan kemampuan mengembangkan potensi diri secara signifikan.

Ditinjau dari perspektif Alkitab, maka semua kecerdasan ini dapat dipandang sebagai yang bersumber dari Kecerdasan Rohani atau yang pertama. Hal ini dapat ditelusuri dari proses penciptaan manusia itu dalam Alkitab. Ada empat naskah Alkitab yang sangat berkaitan erat terkait proses penciptaan ini. Kita akan mulai dari ayat eksekusi penciptaan itu. Dalam kitab Kejadian tertulis:

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2:7).

Dalam ayat ini kita temukan dua elemen mendasar yang menjadi bahan dasar manusia, yakni “debu tanah” yang dalam bahasa Ibrani adalah aphar, dan ‘nafas’ yang dalam bahasa Ibrani adalah neshamah. Debu tanah tentu saja dibentuk untuk menjadi ‘tubuh’ yang merupakan wadah bagi nafas (neshamah) yang menjadi ‘roh’ manusia itu. Akan tetapi selanjutnya dari Paulus akhirnya kita ketahui ada bagian yang ketiga dari manusia itu yakni, ‘jiwa’. Dia mengutarakan ini kepada jemaat di Tesalonika:

Semoga Allah damai sejahtera menguduskan kamu seluruhnya dan semoga roh, jiwa dan tubuhmu terpelihara sempurna dengan tak bercacat pada kedatangan Yesus Kristus, Tuhan kita (1 Tesalonika 5:23).

Dalam dunia psikologi modern justru dimensi ‘jiwa’ inilah yang paling dapat didentifikasi dari pada dimensi ‘roh’. Fakta adanya dimensi jiwa ini di samping tubuh dan roh, mendorong kita untuk memahami bahwa jiwa itu adalah dimensi yang timbul dari hasil perpaduan antara neshamah (roh) dan aphar (tubuh). Hal ini akan semakin dapat kita mengerti dengan menyingkap apa sesuangguhnya yang terdapat dalam neshamah yang dihembuskan Allah itu. Rahasia tersebut terdapat dalam naskah berikut:

Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.” Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kejadian 1:26,27).

Meskipun arti kata ‘gambar’ (tselem) dan ‘rupa’ (demuth) dalam naskah Ibraninya hampir memiliki pengertian yang sama, yakni keserupaan, tetapi sesungguhnya terdapat perbedaan yang cukup signifikan: Kata ‘gambar’ merujuk pada pola atau model dari keserupaan itu, sedangkan kata ‘rupa’ merujuk pada kadar keserupaan yang berbeda-beda pada diri setiap orang sesuai perkembangan mentalnya. Artinya tidak semua orang memiliki kadar keserupaan yang sama dengan Allah. Pertanyaannya adalah, sebearnya keserupaan dalam hal apa sebenarnya yang dimaksud antara Allah dengan manusia itu? Yang jelas hal itu tidak mungkin dalam hal fisik. Karena Allah adalah ‘Roh’ adanya (tidak dalam bentuk fisik). Kalau demikian kesamaan tersebut pastilah dalam hal batiniah. Misteri ini dapat telihat dari ucapan Paulus kepada jemaat di Filipi:

Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus (Filipi 2:5).

Manusia itu hanya bisa disamakan dengan Allah dalam hal pikiran dan perasaan. Inilah fakta yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara teologis maupun secara psikologis sebagai potensi manusia yang terdapat dalam dirinya dan yang disebut sebagai jiwa itu. Melalui pikiran dan perasaan inilah manusia didorong untuk berkehendak dan bertindak mewujudkan karyanya. Dengan sendirinya kita telah menemukan tiga bentuk kecerdasan melalui uraian di atas, yakni: Kecerdasan Spiritual yang merupakan sumber dari semua kecerdasan, karena hal itu berasal dari Allah, yaitu neshamah, kemudian Kecerdasan Intelektual yang adalah kemampuan berpikir manusia, dan Kecerdasan Emosional yang adalah kemampuan berperasaan. Dari perspektif teologis, ketiga kecerdasan inilah yang menjadi dasar untuk terbentuknya kecerdasan lainnya.

Agar lebih mudah mempelajarinya, maka keduabelas kecerdasan manusia itu dapat dibagi dalam tiga kelompok: Kelompok pertama adalah Kecerdasan Spiritual sebagai pusat dari mana sebelas kecerdasan lainnya berasal. Kelompok kedua adalah empat kecerdasan berikutnya, menjadi lima kecerdasan ditambah Kecerdasan Spiritual, yang digolongkan sebagai kecerdasan mendasar atau bersifat internal. Sedangkan tujuh kecerdasan lainnya digolongkan sebagai kecerdasan eksternal karena dapat lebih mudah terlihat dalam dunia nyata saat berinteraksi dengan orang lain.

Sebaiknya setiap kita bisa mengembangkan lima kecerdasan mendasar dengan baik. Karena dengan kelima kecerdasan tersebut kita dapat lebih mudah mengembangkan kecerdasan lainnya dengan baik. Tetapi juga harus disadari bahwa tidak ada orang yang dapat mengusai atau unggul dalam semua kecerdasan tersebut. Oleh karena itu setiap kita sebaiknya dapat melihat kecerdasan mana yang menjadi tendensi kecerdasan unggul kita untuk dikembangkan. Kesadaran ini juga mendorong kita untuk memiliki kemampuan bersinergi dalam mengerjakan hal-hal besar sebagaimana akan diajarkan pada mentoring selanjutnya.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *