Mentoring 12 – Kekuatan Sinergi

Jika Anda adalah seorang yang merasa mampu mengerjakan sesuatu dengan kemampuan sendiri, maka alangkah hebatnya apabila Anda bisa bekerja sama dengan orang lain. Karena dengan cara kerja sama, maka Anda akan sanggup melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih besar. Akan tetapi penting disadari bahwa bekerja sama itu tidak semudah yang sering dipikirkan orang. Ada banyak masalah yang bisa ditimbulkan oleh perbedaan-perbedaan antar pribadi hingga kepentingan-kepentingan terselubung yang bisa mempengaruhi jalannya kerja sama. Meskipun demikian tidak perlu cemas, karena sesungguhnya ada cara-cara untuk menanggulangi masalah-masalah tersebut. Hal inilah yang akan diungkap pada materi mentoring ini.

Pengertian lain dari ‘sinergi’ adalah “kerja-sama”. Namun harus dicermati agar pengertian ini tidak hanya dipahami dalam pengertian yang sempit sebatas “bekerja bersama-sama” atau “bekerja secara kompak”. Penjelasan arti dalam kamus bahasa Indonesia untuk kata ini, yang diartikan dengan “kegiatan atau operasi gabungan”, rasanya belum cukup memadai untuk bisa memberi arti yang kuat agar dapat diterapkan dalam dunia nyata secara luas. Secara lebih luas, sinergi itu boleh dikatakan adalah suatu kemampuan dan kesediaan untuk memberi peran yang berbeda, namun tepat dan dibutuhkan untuk mencapai tujuan bersama. Dengan demikian berarti, di dalam suatu sinergi terdapat perbedaan-perbedaan yang dicocokkan untuk saling mengisi dalam mencapai tujuan bersama atau tujuan yang menguntungkan.

Gambaran alkitabiah yang paling baik untuk menjelaskan sinergi dapat diambil dari paparan rasul Paulus dalam 1 Korintus 12:12-26. Dalam tulisan tersebut diutarakan fungsi anggota tubuh yang pada dasarnya berbeda-beda tetapi selalu bekerja sama untuk kepentingan seluruh tubuh. Itulah intinya! Adanya perbedaan yang dihubungkan satu dengan yang lain, bekerja sama dan kompak untuk kepentingan bersama. Itulah sinergi! Jadi tanpa adanya perbedaan, suatu kerja sama tidak disebut sebagai sinergi.

Untuk bekerja sama dalam kesamaan mungkin saja mudah, tetapi untuk kerja sama dalam perbedaan bisa menjadi sesuatu yang sulit. Di sinilah letak kelebihan kemampuan membangun sinergi. Karena dalam sinergi, kelemahan pihak-pihak lain yang tergabung dalam sinergi harus diketahui dan diterima. Justru sinergi diperlukan untuk mengantisipasi segala kelemahan yang ada, bukan untuk mempersoalkannya.

Demikianlah manusia diciptakan Tuhan dengan ragam perbedaan agar saling membutuhkan. Sehingga tidak ada sukses besar tanpa peran orang lain. Untuk tujuan-tujuan kecil mungkin saja dapat dicapai dengan kekuatan sendiri, atau hanya dengan melibatkan kekuatan-kekuatan lain yang tidak membutuhkan koordinasi. Tetapi untuk suatu tujuan besar dan dalam kebersamaan dibutuhkan kemampuan bersinergi.

Sekarang kita masuk pada uraian tentang prinsip-prinsip mendasar dalam membangun atau mengupayakan agar sinergi dapat berlangsung dengan baik dan harmonis. Hal ini sangat penting karena sadar bahwa tidak mudah untuk memadukan perbedaan-perbedaan yang ada. Dua dari prinsip mendasar tersebut adalah:

  1. Memiliki Kesadaran

Suatu sinergi diperlukan dan bisa terbangun paling tidak harus menyadari tiga kesadaran mendasar:

  • Sadar Diri.

Setiap orang pertama-tama harus bisa melihat, memahami dan menerima kekuatan-kekuatan maupun kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya. Ketiga hal (melihat, memahami, dan menerima) itu harus dicermati secara benar. Karena ada orang yang bisa melihat kekuatan dan kelemahan dalam dirinya, namun tidak bisa memahami dan menerimanya sehingga dia selalu menjadi pribadi yang bukan dirinya sendiri. Perbedaan antara melihat dan memahami adalah, jika melihat itu hanya sebatas kesadaran, sedangkan memahami itu adalah bisa mengerti alasan-alasan mengapa kekuatan dan kelemahan itu terjadi dan ada dalam hidupnya.

Selanjutanya ada orang yang bisa melihat dan memahami kekuatan dan kelemahan dirinya, namun tidak bisa menerimanya sehingga dia menjadi pribadi yang tidak bergairah untuk mengerjakan perannya. Perbedaan antara memahami dan menerima adalah, jika memahami adalah merupakan hanya sebatas kesadaran ke tingkat rasional, sedangkan penerimaan adalah merupakan keputusan untuk tidak lagi mempersoalkannya, namun memanfaatkannya untuk kebaikan.

  • Sadar Perbedaan.

Kesadaran yang kedua ini adalah kemampuan untuk melihat,  memahami dan menerima kekuatan dan kelemahan yang ada pada diri orang lain, khususnya orang-orang yang akan menjadi partner kita bersinergi. Biasanya kemampuan ini sangat tertolong ketika seseorang bisa melihat, memahami dan menerima kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Ketika dua pihak atau lebih bisa sama-sama melihat, memahami dan menerima keadaan masing-masing, maka terjadilah keadaan saling membutuhkan.

  • Sadar Kerja Sama.

Kesadaran yang ketiga adalah keadaan saling membutuhkan sehingga menyepakati sebuah kerja sama. Pada tingkat kesadaran yang ke tiga, yang terjadi adalah pembagian peran masing-masing yang berbeda, namun dapat terjalin dengan harmonis. Itulah sinergi! Jadi sinergi itu juga bisa dikatakan adalah suatu kemampuan untuk memadukan potensi yang tidak sama, tetapi bekerja sama untuk kepentingan bersama.

  • Memahami Kepribadian

Kita bersyukur karena para pakar psikologi telah dapat mengidentifikasi dan menemukan cara mengetahui berbagai bentuk kepribadian manusia. Dapat saling mengetahui kepribadian anggota-anggota tim kerja sama tentu saja sangat menolong proses berlangsungnya sinergi. Menurut para ahli manusia itu terdiri dari 1332 patron kepribadian yang merupakan hasil kombinasi dari 4 patron besar, yakni:

  • D (Dominan) = 3%

Orang-orang dengan kepribadian Dominan banyak menggunakan pikiran dan gerak, tetapi lemah dalam perasaan.

  • I (Intim) = 17%

Orang-orang dengan kepribadian Intim banyak menggunakan perasaan dan gerak tetapi lemah dalam penggunaan logika.

  • S (Sabar) = 69%

Orang-orang dengan kepribadian Sabar banyak menggunakan perasaan dan pikiran tetapi lemah dalam gerak.

  • C (Cermat) = 11%

Orang-orang dengan kepribadian Cermat banyak menggunakan pikiran dan perasaan tetapi lemah dalam gerak.

Kemudian keempat golongan besar kepribadian ini dapat dipilah dalam empat kutub. Setiap kutub terdapat dua kepribadian yang memiliki kesamaan:

  • Orang-orang berprofil D dan I dikenal sebagai orang-orang yang aktif (bergerak cepat), berorientasi pada hasil, terbuka, suka tantangan dan cocok sebagai motivator.
  • Sebaliknya orang-orang berprofil C dan S dikenal sebagai orang-orang yang agak pasif (bergerak lambat), bersifat menerima, menyukai proses, tidak telalu suka tantangan, status quo dan cocok sebagai penasehat atau konsultan.
  • Orang-orang berprofil D dan C dikenal sebagi orang-orang yang berorientasi kepada tugas, agak mandiri, suka implementasi, disiplin, suka protes dan kurang akrab.
  • Sebaliknya orang-orang profil I dan S dikenal sebagai orang-orang yang berorientasi kepada orang, suka bergaul (bersosialisasi), memiliki kemampuan berkomunikasi dan berempati, cocok bekerja dalam tim, informal tetapi kurang disiplin.

Dengan menguasai pengetahuan tentang kesadaran dan kepribadian ini, maka diharapkan proses berlangsungnya sinergi dalam mencapai tujuan-tujuan besar bersama akan dapat terlaksana dengan lebih baik.

Begitulah orang bijak telah mengatakan bahwa manusia akan semakin dipertajam dengan cara berinteraksi dengan sesamanya: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 37:17).

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *