Mentoring 13 – Tim Kerja

Pada mentoring sebelumnya telah dikemukakan bahwa untuk mengerjakan atau mencapai hal-hal besar maka kita harus memiliki kemampuan bersinergi. Artinya kita bekerja dalam satu tim dengan orang-orang lain. Oleh karena itu juga telah disinggung bahwa dalam kerja sama tersebut tidak mungkin bisa dihindari timbulnya konflik sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan antar pribadi dan kepentingan-kepentingan terselubung yang mungkin belum disadari atau belum terlihat pada awal pembentukan.

Untuk mengantisipasi atau setidaknya meminimalis akibat timbulnya konflik dalam sebuah tim kerja, maka setidaknya ada dua prinsip mendasar dalam membangun tim kerja yang harus dipahami:

  1. Memahami Siklus Perkembangan Tim Kerja

Ketika sebuah kerjasama telah diputuskan, atau setelah melewati tiga fase kesadaran sebagaimana telah dijelaskan pada mentoring sebelumnya, maka untuk meminimalis adanya konflik-konflik yang tidak mungkin dihindari dalam sebuah proses kerjasama, berikut ini akan dijelaskan langkah-langkah berupa tahapan yang terjalin dalam suatu siklus dan yang tidak mungkin bisa dihindari:

  • Forming (pembentukan)

Fase ini adalah saat cinta bersemi. Timbulnya harapan dan gairah untuk mencapai hal-hal besar. Semua terlihat baik dan mengesankan satu dengan yang lain.

  • Storming (kemelut)

Tetapi segera setelah proses pembentukan kerjasama, mulailah muncul pertanyaan-pertanyaan karena faktor perbedaan. Apalagi ketika suatu motivasi tersembunyi mulai mempengaruhi sikap dalam kerjasama. Pada fase ini penting mencatat semua konflik-konflik yang terjadi atau mungkin terjadi untuk dijadikan sebagai bahan dasar materi aturan main atau ketentuan-ketentuan cara kerja yang disepakati bersama.

  • Norming (aturan atau ketentuan)

Catanan-catatan dari kemelut yang terjadi sebelumnya harus dirumuskan menjadi satu aturan main dalam kerjasama. Hal ini penting mengingat kelemahan semua manusia dalam hal lupa dan lalai dalam mempertahankan sebuah kualitas.

  • Performing (aksi nyata dalam harmonisasi)

Dengan adanya aturan main yang aplikatif, karena merupakan hasil dari kemelut alamiah, maka aksi dalam dunia nyata dapat berlangsung dengan baik.

Ke empat tahapan yang terjalin dalam satu siklus ini bisa dilakukan untuk menjalankan sebuah keputusan kerjasama, namun harus tetap disadari bahwa hal itu terus berlangsung menuju penyempurnaan dalam proses berlangsungnya tindakan kerjasama.

  • Kemampuan Mendiagnosa Sebuah Konflik

Karena konflik tidak mungkin tidak terjadi dalam sebuah kerja sama, maka sebaiknya jangan pernah antipati terhadap yang namanya konflik. Akan tetapi milikilah mental dan kemampuan untuk menangani konflik. Yang paling utama tentu saja kemampuan untuk mendiagnosa perbedaan-perbedaan konflik. Cobalah melihat kemungkinan-kemungkinan berikut untuk bisa mencari jalan keluar dari konflik tersebut:

  • Konflik Data:

Konflik yang disebabkan oleh data-data atau informasi yang tidak jelas atau lengkap. Untuk menangani kasus seperti ini diperlukan penyelarasan informasi atau melihat data-data yang ada. Dengan melihat data yang sesungguhnya dan informasi yang benar, maka diharapkan akhirnya semua pihak menjadi lega dan tahu mengambil kebijakan bersama.

  • Konflik Nilai:

Konflik nilai berhubungan dengan faham-faham atau ideogi. Konflik yang ditimbulkan masalah ini harus diselesaikan dengan penyatuan nilai bersama dalam bekerja. Sebaiknya nilai-nilai yang sudah disepakati itu dituliskan, sehingga apabila ada pihak yang melanggar kelak, bisa dilihat kembali untuk diingatkan.

  • Konflik Kepentingan:

Konflik kepentingan biasanya timbul karena kebutuhan sepihak. Meskipun jenis konflik ini agak sulit untuk diselesaikan, tetapi harus tetap diupayakan dengan pendekatan yang baik dalam bentuk nasehat-menasehati. Diperlukan pendekatan bijak.

  • Konfik Struktur:

Konflik struktur biasanya berhubungan dengan budaya kerja atau kemampuan bekerja secara profesional sehingga bisa menimbulkan bentrok kebijakan. Konflik ini dapat diselesaikan dengan memperjelas ulang tata kerja dan pelatihan-pelatihan melihat sistem.

  • Konflik Hubungan:

Konflik hubungan sering terjadi karena faktor-faktor emosional. Saling memaklumi dan upaya nasehat-menasehati harus dibudayakan untuk menangani konflik ini.

Tingkat kemampuan menganalisa jenis-jenis konflik ini dan kedewasaan setiap pihak akan menentukan mudah-tidaknya menyelesaikan setiap konflik.

Untuk bisa bekerjasama dalam suatu tim, maka setiap pribadi harus belajar mengendalikan point-point tersebut. Jika terjadi konflik belajarlah dan biasakanlah untuk memberi respon yang benar sebagai berikut:

  • Tidak menghindar. Usahakan pertemuan, setidaknya komunikasi.
  • Kemudian jangan terburu-buru menghakimi, tetapi mencoba berpikir positif terlebih dahulu.
  • Lalu berupaya menyelesaikan hingga tuntas.      

Begitulah orang bijak telah mengatakan bahwa manusia akan semakin dipertajam dengan cara berinteraksi dengan sesamanya: “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya” (Amsal 37:17). Artinya tidak semua konflik berakibat negatif kalau tahu cara memanfaatkannya. Berikut ini adalah kiat memanfaatkan konflik untuk meningkatkan kualitas diri:

  • Tidak menyerah. Jangan berpegang pada slogan ‘kapok’ sehingga tidak mau mencoba kembali. Karena kita tidak mungkin bisa terhindar dari berhubungan dengan manusia.
  • Belajar dari kesalahan. Kesalahan bisa menjadi pelajaran berharga kalau diresponi dengan benar.
  • Ambil hikmat untuk antisipasi. Sedapat mungkin usahakan antisipasi-antisipasi akibat dari segala kesalahan yang terjadi.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *