Mentoring 15 – Otak Anda

Istilah atau kata ‘otak’ dan padanannya dalam bahasa lainnya tidak terdapat dalam Alkitab. Tetapi tidak berarti bahwa pemikiran atau gagasan yang mengacu kepada otak tidak terdapat dalam Alkitab. Tidak adanya kata ‘otak’ secara eksplisit ditulis dalam Alkitab dapat dimaklumi karena memang tidak ada topik yang membutuhkan nama organ tubuh manusia bagian dalam itu disebut, kecuali fungsinya yang berkaitan dengan pemikiran. Gagasan mengenai otak terkandung sangat kuat dan banyak di dalam Alkitab. Kita bersyukur bahwa perkembangan ilmu pengetahuan di segala bidang seperti yang pernah dinyatakan Allah kepada Daniel (Daniel 12:4), termasuk di bidang teologia dengan hadirnya metode penafsiran Alkitab yang disebut hermeneutika, telah semakin meruntuhkan tembok kesenjangan Alkitab dengan ilmu pengetahuan. Artinya, semakin terbukti bahwa apapun yang berhasil diungkap oleh ilmu pengetahuan ternyata tidak bertentangan dengan apapun yang telah digariskan dalam Alkitab jika ditafsirkan dengan cara yang benar.

Keajaiban otak manusia jika dibandingkan dengan otak makhluk-makhluk lainnya hingga kini masih sebagian besar merupakan misteri. Para neurosains sepertinya yakin bahwa manusia yang dikenal paling jenius dalam sejarah (Albert Eintain) masih menggunakan kapasitas kemampuan otaknya di bawah 10%. Apa sesungguhnya yang membedakan manusia dari makhluk lainnya sehingga memiliki potensi otak yang sedemikan besar?

Pada dasarnya ada dua fungsi otak manusia yang paling utama: Yang pertama adalah sebagai pusat saraf yang mengendalikan seluruh gerak tubuh. Sedangkan fungsi mendasar kedua adalah sebagai bank penampung dan pengelola data informasi yang tidak terbatas, untuk selanjutnya menjadi pendorong aktivitas berpikir dan menghasilkan pemikiran-pemikiran yang luar biasa. Tujuan dari materi mentoring ini tidaklah untuk membahas seluk-beluk tentang otak secara terperinci. Jika para mentee ingin memahaminya lebih mendalam, maka informasi tentang otak telah tersedia dalam bentuk buku-buku bacaan dan oleh para provider di internet yang dapat diakses dengan mudah. Tujuan dari materi ini adalah untuk mengungkap sedikit fungsi mendasar otak yang kedua dalam kaitannya dengan Tuhan yang menciptakannya.

Mengingat salah satu fungsi otak adalah pengelola data atau informasi yang menghasilkan dan mendorong proses berpikir, maka pintu utama untuk masuk menggali keberadaan otak ini dapat kita telusuri melalui kata-kata terkait ‘pikiran’ dalam Alkitab. Ada banyak kata dalam bahasa Yunani yang terkait dengan pikiran, tetapi yang paling dekat untuk menunjukkan proses kerja otak itu adalah ‘nous’. Dalam satu laporannya Lukas menggambarkan kondisi ‘pikiran’ murid-murid yang tertutup sehingga tidak dapat mengenali Yesus setelah kebangkitan-Nya:

“Lalu Ia membuka pikiran (nous) mereka, sehingga mereka mengerti Kitab Suci” (Lukas 24:45).

Kata ‘pikiran’ pada naskah ini dalam bahasa Yunani adalah ‘nous’ yang berarti ‘pikiran’ atau suatu kemampuan untuk mengerti. Perhatikanlah bahwa apa yang membuka pikiran mereka sehingga dapat mengenali Yesus dan memahami arti penderitan dan kematian-Nya adalah, adanya stimulasi berupa aksi memberi tanda-tanda pada tubuh-Nya serta cara Dia mengkonsumsi makanan untuk menggugah data atau informasi yang sudah terekam dalam otak mereka sebelumnya (ayat 38-44). Kebangkitan Yesus tentu saja merupakan mujizat, akan tetapi proses kerja otak mereka untuk dapat memahami kebenaran, itu berlangsung secara alami melalui proses penerimaan dan pengelolaan informasi dan data yang ada. Proses inilah yang akrab kita kenal dengan istilah ‘belajar’.

Apabila kita jujur terhadap kegiatan Yesus dan para rasul yang diutarakan dalam Alkitab, maka kita akan temukan bahwa proses belajar-mengajar jauh lebih besar dari pada aksi-aksi melakukan mujizat. Kekaguman terhadap peristiwa spektakular para pembacalah yang menutupi fokus terhadap aktivitas mengajar Yesus dan para rasul yang jauh lebih banyak itu. Kepentingan mengajar untuk membenahi pola pikir umat Tuhan sangat terlihat dari kiprah dan prinsip-prinsip Paulus. Kepada jemaat di Korintus ia berkata:

Kami mematahkan setiap siasat orang dan merubuhkan setiap kubu yang dibangun oleh keangkuhan manusia untuk menentang pengenalan akan Allah. Kami menawan segala pikiran (noema) dan menaklukkannya kepada Kristus, (2 Korintus 10:5).

Kata ‘noema’ yang berarti ‘presepsi’ yang berkaitan dengan muatan intelektual seseorang, adalah berasal dari kata ‘nous’ yang berarti ‘pikiran’. Secara lebih tegas kepada jemaat di roma Paulus menjelaskan bahwa perubahan hidup (transformasi) yang sesungguhnya itu akan terjadi melalui pembenahan pola pikir:

Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu (nous), sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2).

Itu sebabnya amanat agung Tuhan Yesus yang terkenal sebelum Ia naik ke sorga adalah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Kata kunci dari amanat agung tersebut adalah ‘belajar’!

Secara ilmiah memang telah dapat diungkap kapasitas otak manusia yang jauh melebihi kapsitas otak makhluk-makhluk lainnya. Akan tetapi informasi ilmuan yang sangat baik itu tidak memberi jawaban tuntas bagaimana hal itu bisa terjadi kecuali kita memahaminya dari sudut pandang Alkitab. Alkitab sangat jelas mengungkap bahwa manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26,27), yang pada proses pelaksanaannya dilakukan oleh Allah dengan meniupkan nasfas-Nya yang disebut sebagai ‘neshamah’:

ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup (neshamah) ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2:7).

Kata ‘neshamah’ yang artinya ‘nafas’ dan ‘roh’, dalam penjelasan definisi arti-artinya juga dikaitkan dengan jiwa atau intelektual. Artinya bahwa neshamah inilah yang membedakan kualitas otak manusia dari otak makhluk-makhluk lainnya. Itu sebabnya manusia tidak hanya memiliki kemampuan intelektual, melainkan juga kemampuan memahami hal-hal supra natural atau pengenalan akan Allah Penciptanya.

Para ahli (neurosains) berkata bahwa manusia pada umumnya masih menggunakan fungsi otaknya sekitar 4-5%. Orang-orang jenius telah menggunakannya hingga di bawah 10%. Mereka menyebut potensi 90% yang tersisa itu sebagai “a sleeping giant” (raksasa yang tidur). Para futurology yang berpikir tentang peradaban masa depan berkata bahwa “kita sedang bergerak dari era informasi dan komunikasi ke era konseptual”. Artinya bahwa kemampuan melihat ke masa depan (visi) dan mengelola informasi (belajar) menjadi kunci sukses bagi siapapun yang ingin eksis di abad-abad yang akan datang. Membaca dan memiliki para mentor yang bersedia mengarahkan Anda meraih masa depan Anda di dalam Tuhan sudah merupakan standar gaya hidup.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *