Alkitab

Buku Ajaib Yang Alamiah

Mengetahui secara benar proses terjadinya Alkitab akan membentuk sikap dan perlakuan yang benar terhadap Alkitab itu. Fakta bahwa Alkitab tidak turun langsung dari langit, menjadi senjata utama dari luar gereja untuk menyerang dan melecehkan Alkitab sebagai karangan-karangan manusia mistis semata. Meskipun demikian, tujuan memahami proses pengilhaman dan penulisan Alkitab secara benar, bukanlah untuk menghadapi serangan-serangan yang tidak akan pernah surut itu, melainkan untuk menyingkap rahasia agung proses tersebut, sehingga orang percaya dapat menerima Alkitab dengan cara yang benar, sekaligus mengaguminya dengan cara yang logis, bahwa Alkitab memang benar-benar adalah Firman Allah. Tulisan ini dibuat untuk kepentingan tersebut.

Tulisan ini khusus mengemukakan gambaran besar perihal Alkitab. Karena selain merupakan dasar dan sumber pengajaran yang dijadikan pedoman kehidupan beriman bagi umat kristiani, juga karena cara pandang yang benar tentang Alkitab akan memudahkan para pembaca dalam memahami semua pokok-pokok ajaran kekristenan, sekaligus menolong para pembaca untuk memahami bentuk redaksi-redaksi Alkitab yang kompleks dan tidak selalu mudah untuk dipahami itu.

Ketidakpahaman tentang seluk-beluk Alkitab secara memadai adalah sumber konflik dalam upaya penafsiran yang dialami para teolog dewasa ini. Ketergantungan kepada ayat-ayat dan judul-judul perikop yang sebenarnya tidak ada pada nakskah asli Alkitab, telah menambah kerumitan karena dapat menghalangi pandangan untuk melihat arti yang paling esensi jika melihat konteks satu kitab secara menyeluruh. Kefanatikan terhadap beberapa ayat tertentu yang dijadikan pedoman berteologia dan menjadi haluan dari kelompok kekristenan tertentu, tanpa dapat melihat garis besar Alkitab secara menyeluruh, telah menjadi faktor penyesatan, atau paling tidak pelemahan beberapa kelompok gereja dalam menunaikan amanat Kristus yang sejati.

Kita harus benar-benar menyadari suatu fakta bahwa Alkitab ada seperti yang ada sekarang ini, adalah melalui proses panjang yang terjadi secara lambat-laun. Bagian-bagian dari Alkitab itu ditulis oleh manusia dengan proses alamiah, namun sesungguhnya oleh dorongan atau pewahyuan Roh Kudus (2 Timotius 3:15,16). Artinya, Alkitab tidak diturunkan oleh Tuhan dari langit secara mistis, dan juga tidak terjadi dengan cara yang instan. Tanpa menerima dan selalu berpegang pada fakta dan prinsip ini, maka siapapun akan mengalami benturan dalam memahami pengertian isi Alkitab secara murni. Terutama Perjanjian Baru (PB) yang di dalamnya termuat ayat-ayat yang menjelaskan secara utuh tentang maksud ‘keselamatan’ di dalam Kristus diselenggarakan.

Setelah berbagai perubahan yang terjadi oleh kemajuan zaman yang di dalamnya terjadi perkembangan budaya termasuk bahasa, maka sangat wajar jika dalam memahami tulisan-tulisan kuno tersebut menjadi lebih sulit bagi orang-orang yang hidup saat ini jika dibandingkan dengan mereka yang hidup pada zaman kitab-kitab (Alkitab) itu ditulis. Oleh karena itu tulisan-tulisan Alkitab menjadi sesuatu yang rentan multi tafsir bagi kita yang hidup di zaman yang sudah banyak mengalami perubahan ini. Terlebih kitab Wahyu yang sarat dengan lambang-lambang, karena memang ditulis dengan maksud agar tidak mudah dimengerti oleh masyarkat umum pada waktu itu. Namun dapat dipastikan bahwa orang-orang Kristen penerima kitab tersebut pertama kali, bisa memahami arti lambang-lambang yang ada sebagai kode rahasia, mengingat aniaya yang hebat bagi kekristenan saat itu.

Kesenjangan latar belakang budaya, sastra, pribadi penulis, dan lain-lain, dengan kita yang hidup saat ini tidak bisa dipungkiri akan banyak mempengruhi kemampuan memahami semua redaksi Alkitab. Bayangkan, setelah 15 abad kemudian, topik tentang ‘keselamatan’ di dalam Kristus mencuat ke permukaan menjadi perdebatan panas di kalangan pemuka gereja, yang pengaruhnya belum kunjung habis hingga saat ini. Padahal sebelumnya tidaklah demikian, karena pembaca mula-mula sangat memahami maksud tulisan para rasul yang ditulis dengan bahasa dan kondisi budaya yang mereka pakai saat itu.

Sadar akan hal-hal yang diutarakan di atas, maka kebutuhan ‘berteologia’ (yang olehnya kita dapat memahami sejarah, budaya, sastra penulisan Alkitab, dan lain-lain) dalam upaya memahami isi Alkitab, terlebih lagi dalam kebutuhan mengajarkannya, sudah merupakan tuntutan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi untuk saat ini. Akan tetapi sangat disayangkan, kesadaran akan hal-hal ‘teologis’, akhirnya serta-merta juga mendorong maraknya pengadaan sarana pendidikan telogia praktis, yang tidak secara sungguh-sungguh berorientasi pada kualitas pengetahuan, melainkan hanya ingin meraup keuntungan dari peminat yang membutuhkan gelar akademis teologia semata. Salah satu tujuan dari tulisan ini adalah dalam rangka turut mengantisipasi kelemahan tersebut.

Sebelum kita lebih jauh membahas dan menemukan alasan mengapa kita bisa menerima Alkitab sebagai benar-benar Firman Allah, maka sebaiknya kita terlebih dahulu mengisi pikiran dengan fakta-fakta proses penulisan Alkitab itu. Kita akan memulai dengan pengetahuan tentang bentuk tulisan dan media tulis Alkitab.

Tulisan dan Media Tulis Alkitab

  1. Tulisan

Sistem tulisan sebagai alat komunikasi yang dimiliki manusia telah memadai sejak 3000 tahun SM. Proses dan progres perkembangan sistem tulisan dapat dideteksi sebagai berikut:

  • Piktogram

Piktogram adalah gambar-gambar yang melambangkan objek material yang sama. Misalnya gambar kepala manusia untuk mengatakan manusia. Sistem ini telah dibuktikan dengan temuan situs masyarakat kuno di Mesir dan Mesopotamia.

  • Ideogram

Ideogram adalah gambar-gambar yang melambangkan ide-ide. Bentuk ini adalah merupakan penambahan atau perkembangan pada bentuk piktogram atau memperkaya yang sudah ada pada sistem piktogram.

  • Logogram

Logogram adalah semacam steno atau tulisan cepat berupa kata dan suku kata. Pada tahap ini berkomunikasi dengan tulisan semakin bisa lebih luas dan sudah mendekati pada sistem abjad.

  • Abjad (aksara)

Abjad adalah sistem tulisan seperti yang kita kenal saat ini, dimana satu simbol melambangkan satu huruf (tidak lagi melambangkan benda).

Para ahli memperkirakan sistim tulisan paku telah dikembangkan oleh orang-orang Sumeria di Mesopotamia (sekarang Irak) sebagai peradaban paling kuno. Sedangkan teks tertulis bertarikh 4000 SM telah ditemukan di Mesir. Ketika kitab-kitab dalam Alkitab mulai ditulis dengan bahasa Ibrani maupun bahasa Aram yang merupakan bahasa Perjanjian Lama (PL), kitab-kitab itu telah ditulis dalam bentuk abjad yang tergolong abjad bahasa Semit Barat Laut, yakni bahasa orang-orang yang hidup di tanah Kanaan (Yesaya 19:18).

Jika benar bahwa kitab tertua yang ditulis dalam bentuk kitab adalah kitab Ayub, maka tentu saja tarikh penulisannya tidak terlalu jauh dari tahun-tahun itu. Sedangkan para ahli Alkitab memperkirakan masa hidup Ayub sejajar dengan masa hidup Abraham yang bertarikh 1900 – 1600 SM. Buku tentang Ayub tentu saja ditulis setelah tahun atau setidaknya pada tahun-tahun hidupnya. Jika mengacu pada tahun hidup ini, maka kurang logis mempercayai Ayub sebagai kitab paling tua di dunia, tetapi sangat mungkin sebagai kitab tertua dalam Alkitab. Jadi kita bisa membayangkan durasi penulisan Alkitab dari tahun 1900 SM hinga tahun 100 M (sekitar 2000 tahun masa penulisan). Tidak ada buku (satu buku) yang pernah ditulis dengan durasi waktu sepanjang itu. Oleh karena itu kita pantas bertanya, kekuatan apa sesungguhnya yang ada dibalik terbentuknya Alkitab ini?

  1. Media Tulis

Berbagai macam bahan telah digunakan orang untuk menulis sejak zaman dahulu. Beberapa bukti dari Timur Dekat kuno memperlihatkan beberapa bahan untuk menulis adalah:

  • Lempengan Batu

Khususnya untuk menulis tulisan-tulisan terpenting atau tulisan pada monumen-monumen, hingga sekarang tradisi ini masih dipertahankan. Dalam PL kita temukan bahwa Dekalog (10 Hukum Taurat) telah diukir di permukaan lempengan batu (Keluaran 32:15,16). Juga Yosua telah membuat salinannya pada bahan yang sama (Yosua 8:32).

  • Tablet (Batu, Tanah Liat dan Besi)

Pada perkembangan selanjutnya orang-orang mulai mengembangkan variasi media tulis dengan membentuk tablet-tablet, baik dari batu, tanah liat maupun besi seperti yang tertulis dalam Yesaya 30:8; Habakuk 2:2.

  • Gulungan Dari Papirus

Papirus adalah tumbuhan di daerah lembab berair. Orang Mesir sudah menggunakan bahan ini sebagai tikar dan media tulis sejak 3500 SM, karena sangat mudah menemukannya sebagai tumbuhan yang tumbuh di tepian sungai Nil. Diketahui bahwa pada zaman kuno ada satu pelabuhan di Fenesia bernama ‘Byblus’ (biblos adalah bahasa Yunani untuk papirus), di kota pelabuhan ini Papirus diimpor dari Mesir. Media tulis ini tentu saja lebih murah dan lebih mudah memperlakukannya (bisa digulung), meskipun tentu saja lebih mudah rusak. Salinan-salinan PL dan PB telah banyak ditulis dalam bahan ini. Kumpulan kitab yang dibaca oleh Daniel sudah dalam bentuk Papirus (Daniel 9:1,2).

  • Perkamen

Perkamen adalah bahan dari kulit binatang yang disamak. Biasanya dari kulit sapi, kambing, biri-biri, domba dan keledai. Sama seperti papirus, bahan ini bisa digulung. Yang disebut dalam Yeremia 36:2 kemungkinan dari bahan ini.

  • Logam

Media tulis dari logam yang bisa digulung juga telah ditemukan bersama-sama dalam gua-gua peninggalan masyarakat Qumran.

Tentang alat tulis, materialnya bisa berbentuk alat ukir untuk bahan-bahan keras, tetapi juga ada kuas dan tinta untuk bahan-bahan seperti Papirus dan Perkamen. Mengingat media tulis yang paling banyak digunakan dalam menulis Alkitab, yakni perkamen yang rentan atau lebih mudah rusak jika dibandingkan dengan kertas, serta tingkat keamanan dalam sistem penyimpanan, maka sangat ajaib bahwa isi seluruh kitab-kitab dalam Alkitab itu dapat terjaga hingga saat ini. Ini juga satu bukti adanya kekuatan ajaib yang menjaganya. Siapa lagi kalau bukan Tuhan.

Satu hal yang penting kita simak dari paparan di atas adalah, bahwa cara Tuhan berfirman selalu disesuaikan dengan perkembangan zaman atau progresif. Maka tidak heran kalau intensitas cara Tuhan berfirman secara langsung saat ini semakin berkurang dibandingkan dengan masa purba sebelum Alkitab terbentuk atau terkanonisasi. Karena pada zaman dahulu media tulis-menulis belum menjadi alat komunikasi yang efektif. Tentu saja hingga saat ini Allah masih memakai cara berfirman secara langsung, akan tetapi tidak lagi seintensif zaman purba ketika kebenaran Allah belum direkam dalam Alkitab untuk digali oleh masyarakat modern. Jadi tidak berlebihan kalau menyimpulkan bahwa Allah tidak mungkin berbicara lagi secara langsung tentang perkara-perkara yang sudah diwahyukan di dalam Alkitab, dan Allah tidak lagi mewahyukan Firman yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang telah ditetapkan di dalam Alkitab.

Dari mengetahui proses perkembangan tulisan dan media tulis yang juga merupakan proses perkembangan penulisan Alkitab, maka selanjutnya kita akan menggali jejak pemakaian Alkitab sebagai buku penuntun iman umat Tuhan dari sumber internal atau Alkitab itu sendiri. Hal ini penting untuk semakin menyadarkan kita bahwa Alkitab benar-benar dipakai dan terbentuk dengan cara yang sangat alamiah tahap demi tahap.

Jejak Alkitabiah Tahapan Pemakaian Kitab-Kitab Dalam Alkitab

Bukti progres tahapan pemakaian kitab-kitab dalam Alkitab sebagai landasan berpikir yang dianggap sebagai Firman Allah oleh umat Tuhan dari waktu ke waktu, hingga terbentuknya kumpulan Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB) menjadi suatu kanon yang disebut Alkitab, yang diakui oleh orang Kristen adalah sebagai berikut:

  • Dalam kitab Daniel 9:1,2 dikatakan bahwa Daniel menyelidiki ‘kumpulan Kitab’ (bahasa Ibrani: sepher = kitab-kitab). Jadi bangsa Israel sejak awal menamai kumpulan kitab-kitab sucinya yang kemudian dikenal orang Kristen sebagai Alkitab PL adalah, SEPHER. Salah satu isinya yang disebut oleh Daniel adalah kitab Yeremia. Ini menunjukkan bahwa sudah ada kumpulan kitab-kitab yang telah menjadi pedoman iman bagi umat pada zaman Daniel (masa pembuangan di Babel). Ketika PL diterjemakan ke dalam bahasa Yunani (Septuaginta), kumpulan tulisan-tulisan yang disebut Daniel SEPHER ini diterjemahkan menjadi BIBLIA = kitab-kitab. Bentuk tunggalnya adalah biblion = kitab. Kata biblion ini kemungkinan terbentuk dari nama satu kota pelabuhan di Fenesia, yakni ‘Byblus’.
  • Fenesia yang sekarang adalah Lebanon dan Suriah, dahulu merupakan pusat perdagangan internasional yang memperkenalkan produk-produk ke berbagai Negara termasuk media tulis Papirus yang diimpor dari Mesir. Mungkin karena pada waktu itu penggunaan Papirus sebagai media tulis sangat populer termasuk sebagai media tulis kitab suci PL, maka orang Yunani akhirnya menyebut kumpulan kitab-kitab itu sebagai byblos. Kata ini juga kemudian dipakai oleh orang Romawi yang memakai bahasa Latin, dan seterusnya menjadi bible dalam bahasa Inggris. Tetapi ketika Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tidak memakai turunan dari kata ini, melainkan dari bahasa Arab, yakni Al-Kitab. Al itu semacam kata sandang seperti the dalam bahasa Inggris.
  • Pada zaman PB Tuhan Yesus mengutip Mazmur 118:22-23 dengan menyebutnya sebagai ‘Kitab Suci’, yang dalam terjemahan Yunani ditulis GRAPHE = tulisan-tulisan (Matius 21:42). Kata ini sering dipakai dalam PB untuk menunjuk seluruh atau sebagian dokumen-dokumen PL. Jadi Yesus tidak memakai kata Yunani biblia yang merupakan hasil efolusi dari nama kota itu, melainkan kata Yunani yang memang memiliki arti “kumpulan dari tulisan-tulisan”.
  • Dalam 2 Timotius 3:15,16 Paulus juga memakai kata Yunani gramma (ay 15) = yang menujuk suatu kitab yang merupakan kumpulan tulisan-tulisan. Kemudaian dalam (ay 16) ia memakai kata graphe untuk mengatakan “segala tulisan”. Hal ini menunjuk pada dokumen PL.
  • Tidak lama setelah itu (masih pada masa hidup para rasul), dalam 2 Petrus 3:16 Petrus juga memakai kata graphe untuk menunjuk tulisan-tulisan rasul Paulus yang juga telah dipakai sebagai pedoman iman umat Kristen mula-mula. Jadi kelihatannya orang-orang Yahudi (Israel) yang sudah memakai bahasa Yunani sebagai bahasa internasional pada waktu itu, lebih senang memakai kata Yunani graphe ketimbang kata Yunani biblia sebagai pengganti bahasa Ibrani sepher. Sedangkan masyarakat Romawi yang kemudian mempopulerkan bahasa Latin di Barat lebih senang mengadopsi kata biblia, yang selanjutnya menjadi kata bible dalam bahasa Inggris.

Jika kita melihat progres tahapan pemakaian kitab-kitab sebagaimana diuraikan di atas, maka akhirnya kita bisa sampai pada suatu kesimpulan bahwa ketika satu kitab ditulis dan beredar, maka kitab itu sudah dipakai sebagai satu petunjuk atau pedoman hidup orang beriman waktu itu. Sementara yang lainnya sedang ditulis untuk kemudian juga dipakai oleh umat berikutnya. Pada tahap ini terjadi penambahan demi penambahan jumlah kitab. Harus diketahui juga bahwa ketika kitab-kitab yang ada dalam Alkitab sedang ditulis, ada banyak kitab-kitab rohani lainnya yang ditulis dan beredar waktu itu. Sebagian dari kitab-kitab itu telah diakomodir dalam kanon (Alkitab) umat Katolik saat ini. Sedangkan yang lainnya tersimpan dalam berbagai perpustakaan sebagai bahan penelitian yang berharga terkait sejarah. Para teolog biasanya menyebut kitab-kitab tersebut sebagai sumber ‘eksternal’, yang artinya di luar kanon.

Pertanyaannya, mengapa terdapat perbedaan kanon-kanon tersebut dan bagaimana terjadinya proses penyortiran untuk memisahkan kitab-kitab yang layak dipakai sebagai kanon dan yang tidak layak? Untuk menemukan jawaban ini maka kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana sesungguhnya cara Allah memberi wahyu atau ilham kepada para penulis kitab-kitab yang terkumpul dalam Alkitab.

Proses Pewahyuan/Pengilhaman Alkitab

Ada dua bentuk proses pengilhaman/pewahyuan yang paling umum yang dianut oleh kaum agamis dewasa ini:

Yang pertama adalah keyakinan bahwa Allah mengilhamkan secara langsung. Pada proses ini akal atau nalar penerima ilham tidak berfungsi. Dalam hal ini si penerima ilham dianggap telah diperlakukan oleh Tuhan ibarat seperti robot. Bahkan ada yang berasumsi bahwa Allah telah menurunkan gulungan kitab langsung dari langit. Alkitab tidak terjadi dengan proses pengilhaman seperti ini.

Yang kedua adalah pandangan bahwa Allah mengilhamkan melalui pemakaian hati, pikiran dan kemampuan lahiriah penulis. Dalam hal ini penerima wahyu dalam keadaan sadar dan menggunakan kemampuan alaminya untuk menuangkan ilham oleh dorongan Roh Kudus pada bentuk tulisan. Dengan cara inilah Alkitab diilhamkan.

Yang penting dipahami di sini adalah, bahwa tujuan Allah mengilhami para penulis Alkitab adalah untuk membukukan suatu pengajaran yang berorientasi kepada pendidikan umat (2 Timotius 3:16), yang akhirnya bermuara kepada keselamatan manusia dari belenggu dosa. Jadi harus dimengerti bahwa penulisan Alkitab bukan bertujuan untuk pembuatan buku data yang akurat. Oleh karena itu adanya perbedaan data-data minor atau yang tidak bersifat esensi untuk kepentingan pengajaran, seperti misalnya jumlah kuda salomo, dan lain-lain, sangat mungkin terjadi oleh karena keterbatasan manusiawai para penulis Alkitab.

Adanya perbedaan dalam data-data minor tidak perlu membuat kita gusar dan merasa bahwa Alkitab kurang berwibawa sebagai tulisan yang diilhamkan oleh Allah. Justru hal tersebut akan memberi bukti bahwa Alkitab itu tidak ditulis dengan proses persepakatan antar penulis agar telihat saling mendukung. Dengan demikian sangat jelas bahwa cara kerja sama Allah dengan manusia dalam hal penulisan kitab-kitab dalam Alkitab, tidak mengesampingkan keterbatasan manusiawi para penulis tersebut. Hal ini terbukti dari gaya bahasa atau bobot intelektual dari tiap-tiap penulis yang berbeda-beda.

Jadi dalam hal ini kita bisa menalar satu prinsip, bahwa untuk mewujudkan suatu kanon (tolok ukur beriman) yang akan dipakai oleh manusia, maka Allah juga akan memakai peran dan gaya manusia dengan segala keterbatasannya. Tetapi tentu saja dalam proses alamiah ini, Allah pasti menjaga sehingga hal-hal yang bersifat prinsip atau data-data mayor, tidak akan salah dan bertentangan antara satu penulis dengan penulis lainnya. Beranjak dari pemahaman ini, maka kita akan melihat bagaimana proses terkumpulnya kitab-kitab dalam Alkitab itu menjadi satu, dalam hal ini dikenal dengan istilah proses ‘kanonisasi’ yang berlangsung secara unik.

Kanonisasi Alkitab

Sesungguhnya agak sulit menjawab pertanyaan, “bagaimana terjadinya proses penyortiran untuk memisahkan kitab-kitab yang layak dipakai sebagai ‘kanon’ (patokan/pedoman kehidupan dalam berhubungan dengan Tuhan dan sesama) dengan yang tidak layak?” Karena sesungguhnya tidak ada suatu panitia resmi dan mekanisme baku yang ditetapkan untuk melakukan penyortiran tersebut. Hal itu berlangsung saja secara alamiah. Dengan pengetahuan yang memadai akhirnya kita akan sadar bahwa Allah sendirilah yang sesungguhnya telah melakukan penyortiran lewat proses alam. Karena pada awalnya kitab-kitab yang tergabung dalam Alkitab saat ini telah beredar secara terpisah.

Dari penelitian para ahli, diperkirakan semua kitab yang tergabung dalam Alkitab itu telah ditulis dalam kurun waktu sekitar 1500 hingga 2000 tahun; yang dimulai kira-kira pertengahan milenium kedua SM hingga abad pertama Masehi. Kitab-kitab dalam Alkitab itu telah ditulis oleh sekitar 40 orang dari latar belakang waktu dan budaya yang berbeda-beda. Kemudian tanpa diperintahkan oleh pihak tertentu, beberapa orang telah tergerak dalam upaya pengumpulan dan penyortiran kitab-kitab yang beredar itu menjadi satu koleksi pribadi, yang secara tidak resmi semakin diakui secara lebih luas. Selanjutnya koleksi pribadi ini dimusawarahkan oleh para bapa-bapa gereja untuk disepakati secara bersama. Proses inilah yang disebut dengan istilah ‘kanonisasi’.

Istilah ‘kanonisasi’ berasal dari kata dasar Yunani, ‘kanon’. Kata ini sebenarnya menunjuk pada suatu benda (semacam ilalang) yang dipakai menjadi alat untuk mengukur seperti mistar atau meteran yang umum dipakai waktu itu. Kata ini kemudian digunakan oleh para ahli Alkitab terdahulu untuk menunjuk Alkitab, dalam pengertian bahwa Alkitab adalah kitab yang akan menjadi alat pengukur atau patokan/pedoman kehidupan umat Tuhan. Jadi istilah ‘kanonisasi’ dapat diartikan sebagai proses penyortiran kitab-kitab yang sedang beredar, yang dianggap layak sebagai ‘kanon’ (tolok ukur) supaya menjadi suatu patokan/pedoman kehidupan umat Tuhan, dan dijadikan menjadi satu buku, yakni Alkitab. Berikut ini dijelaskan bagaimana proses kanonisasi itu terjadi:

  1. Kanonisasi PL

Waktu dan proses berlangsungnya kanonisasi PL telah terjadi secara bertahap dan alamiah. Secara alami orang-orang Yahudi bisa melihat kitab-kitab yang lebih sering dipakai sebagai acuan mengajar dan sebagai pendoman dalam menangani masalah-masalah kehidupan. Kemudian pada tahun 90 para guru Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan sidang Zamnia, dan pada waktu itu ditetapkan 39 kitab yang ada sekarang sebagai kanon Alkitab orang Yahudi. Adapun kriteria yang digunakan untuk kanonisasi PL adalah sebagai berikut:

  • Jika kitab tersebut ditulis oleh seorang nabi yang ditandai dengan memiliki karunia khusus.
  • Jika kitab itu juga sering dibaca pada upacara-upacara keagamaan Yahudi.
  • Bagi Kristen di kemudian hari, sebagai ukuran kelayakan kitab-kitab PL itu dianggap layak sebagai kanon bagi kekristenan adalah, terbukti bahwa Tuhan Yesus juga mengutipnya dalam pengajaran-Nya.
  1. Kanonisasi PB

Sedangkan proses kanonisasi PB dapat ditelusuri sebagai berikut:

  • Selama kurun waktu awal abad pertama Masehi, orang Kristen selalu memakai Alkitab PL sebagai dasar untuk mengajar. Dalam hal ini para rasul memakainya sebagai petunjuk penggenapan keselamatan yang digenapi dalam Yesus Kristus. Jadi tidak lagi sebagi petunjuk tata cara beribadah.
  • Kemudian karena desakan kebutuhan, para rasul kemudian mulai menulis surat-surat edaran untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sedang terjadi, yang di dalamnya termuat pemikiran para rasul tentang padangan dan sikap mereka terhadap PL. Selain itu juga mulai dirasa perlu untuk membukukan kisah hidup dan ajaran Tuhan Yesus Kristus yang disebut sebagai Injil. Dengan sendirinya surat-surat dan kitab-kitab itu dijadikan sebagai pengajaran dan petunjuk hidup beriman orang Kristen selanjutnya.
  • Diakui sebagai penyebutan tertua, pada kira-kira tahun 150, untuk menunjuk Alkitab (PL & PB) sebagai suatu kitab yang merupakan kumpulan dari banyak kitab, dalam bahasa Yunani: ta biblia = buku-buku, ditemukan pada tulisan Clement (2 Clement 14:2). Clement atau Klemens adalah seorang bapa gereja Timur kelahiran Aleksandria.
  • Namun karena banyaknya surat-surat dan kitab-kitab lain yang bersifat rohani yang juga beredar waktu itu, mendorong munculnya pertanyaan, “kitab-kitab dan tulisan mana saja yang bisa dianggap sebagai panduan dan pegangan hidup dan kerohanian. Akhirnya Uskup Athanasius dari Alexandria untuk pertama kalinya mengeluarkan daftar-daftar kitab yang dipakainya sebaga kanon, dan hal itu menjadi acuan pada konsili Kartago tahun 397.
  • Ketika reformasi gereja terjadi, kaum Protestan menetapkan 66 kitab (39 PL dan 27 PB) menjadi kanon Protestan. Sedangkan Katolik memasukkan 15 kitab yang disebut sebagai Apokripha (deuterokanonika) sebagai kanon dan ditetapkan pada konsili Trente tahun 1546. Adapun kriteria kanonisasi PB adalah sebagai berikut:
  1. Jika kitab tersebut ditulis oleh para Rasul yang menjadi saksi mata kehidupan Tuhan Yesus.
  2. Juga tidak bertentangan dengan PL.
  3. Dan yang paling penting, kitab itu berpusat kepada Kristus.
  1. Pemakaian Istilah ‘Perjanjian Lama’ dan ‘Perjanjian Baru’

Penganut agama Yahudi tidak menyebut bagian pertama dari Alkitab orang Kristen dengan nama Perjanjian Lama. Hal ini wajar karena mereka tidak meyakini kebenaran Perjanjian Baru dan juga karena mereka memiliki pemahaman yang berbeda tentang terminologi atau istilah ‘perjanjian baru’ yang terdapat dalam Perjanjian Lama degan pemahaman orang Kristen.

Adanya istilah ‘perjanjian lama’ adalah konsekuensi dari adanya istilah ‘perjanjian baru’ yang pertama kali muncul dalam Yeremia 31:31. Umat PL dan Kristen mula-mula tentu saja tidak pernah terpikir bahwa dengan adanya Firman ini akan mengacu atau mendasari penamaan dua bagian Alkitab. Sesungguhnya maksud dari perjanjian itu dijelaskan pada ayat 32 dan 33, yakni “Taurat yang ditaruh dalam batin dan ditulis dalam hati” sebagai pendalaman dan kegenapan perjanjian Allah dengan orang Israel saat di Padang Gurun (Keluaran 24:7-8).

Orang Kristen mula-mula, terutama Paulus, akhirnya menangkap kegenapan dari janji itu dalam ucapan Tuhan Yesus Kristus saat perjamuan terakhir (Lukas 22:20; 1 Korintus 11:25; 2 Korintus 3:6; Ibrani 8:8,13). Inilah dasar mengapa kumpulan dari dokumen-dokumen pengajaran Tuhan Yesus dan surat-surat para rasul serta pengikut-Nya yang mula-mula itu, akhirnya disebut oleh umat Kristen di kemudian hari dengan nama ‘Perjanjian Baru’, dan kitab orang Ibrani akhirnya disebut dengan istilah ‘Perjanjian Lama’. Hal ini diperkirakan telah dimulai oleh Clement pada sekitar akhir abad ke-2 dan kemudian semakin dikokohkan pada masa reformasi protestan (abad 16).

  1. Kecukupan Alkitab

Ada dua hal yang perlu dijelaskan mengenai kecukupan Alkitab: Yang pertama adalah maksud dari Alkitab disebut ‘cukup’. Sebutan ini teristimewa berlaku bagi kaum protestan yang sepakat bahwa konon Alkitab yang terdiri dari 66 kitab itu dianggap sudah cukup atau tidak boleh ditambah dan tidak boleh juga dikurangi lagi. Keputusan ini dipicu oleh adanya kelompok yang menambah pada kanonnya kitab-kitab lain selain dari yang 66 kitab tersebut. Selain itu juga adalah efek samping perdebatan tentang predestinasi pada paska abad pertengahan yang telah mendorong beberapa orang menganggap rendah kitab Yakbus yang dianggap bagaikan jerami kering. Hal ini dikarenakan kitab Yakobus secara gamblang meyebut bahwa iman harus bekerja sama dengan perbuatan. Sementara kelompok kalvinis mengajarkan bahwa keselamatan terjadi cukup hanya dengan iman semata.

Yangkedua adalah standar penentuan cukupnya Alkitab. Sesungguhnya sangatlah sulit untuk menjelaskan hal ini secara logis. Karena tidak ada ukuran, baik secara ilmiah maupun secara alkitabiah yang bisa dijadikan acuan untuk menetapkan bahwa ke 66 kitab tersebut sudah cukup lengkap menjadi pembentuk Alkitab sebagai kanon. Melalui hal ini jugalah kita bisa melihat salah satu sisi keajaiban Alkitab. Sebab tanpa halangan yang terlalu berat pada akhirnya orang percaya secara alamiah telah menerima ke 66 kitab itu sebagai satu kesatuan yang disebut sebagai Alkitab. Meskipun demikian para teolog protestan akhirnya bisa memberi alasan yang bisa diterima akal. Ke 66 kitab tersebut dinilai cukup dengan alasan bahwa dengan ke 66 kitab itu seluruh maksud Allah yang harus diketahui manusia untuk keperluan pertumbuhan imannya menuju keselamatan, sudah cukup!

Para Penulis Alkitab

  1. Juru Tulis

Di Timur Dekat Kuno telah dikenal pekerjaan sebagai juru tulis profesional. Mereka adalah biasanya orang-orang yang menguasai beberapa bahasa dan sastra. Hal ini juga tentu saja berlaku bagi masyarakat Ibrani pada kurun waktu penulisan PL. Daud sendiri telah menata pemerintahannya dengan kelengkapan para sekretaris atau para panitera sebagai jabatan penting untuk kepentingan kenegaraan maupun keagamaan (2 Samuel 8:17; 20:5). Jadi sangat mungkin orang-orang yang dicantumkan sebagai penulis kitab-kitab dalam Alkitab memakai jasa para juru tulis sebagai penulis atau sebagai pembantu dalam menulis kitab mereka.

  1. Penulis, Alamat, dan Tujuan Penulisan

Tentu saja semua kitab dalam Alkitab itu ditulis dengan tujuan atau maksud yang jelas, yang secara singkat akan dipaparkan di bawah ini. Penting juga diketahui bahwa umumnya PB ditulis, selain sebagai surat edaran, namun ada juga dengan alamat kepada siapa tulisan itu ditujukan. Biasanya kepada orang-orang penting, dengan maksud agar dokumen itu dapat terpelihara dengan baik. Dan orang kepada siapa tulisan itu dialamatkan, biasanya sangat merasa senang. Selain merasa terhormat, juga karena tulisan-tulisan dalam bentuk kitab itu adalah barang langka yang sangat tinggi nilainya waktu itu. Sedikit berbeda dengan PL yang memang ditulis demi kebutuhan satu bangsa (Israel) saja yang berpusat di Bait Allah. Berikut ini adalah uraian singkat terstruktur tentang tujuan penulisan kitab-kitab dalam Alkitab:

  • Pentateuch (ke-5 kitab Musa)

Ke lima kitab pertama dalam PL akhirnya disebut oleh masyarakat Yahudi helenis dengan sebutan kata Yunani, ‘pentateuch’ = lima gulungan. Dalam bahasa Ibrani disebut ‘torah’ yang berarti ‘hukum’. Ini memberi petunjuk bahwa orang Israel sejak awal sangat memandang istimewa kitab-kitab ini di atas yang lainnya. Tujuan penulisan kitab-kitab ini adalah terutama sebagai dokumen bukti ikatan perjanjian antara Allah dengan Israel yang berpusat pada Kejadian 12:1-3. Selain itu kitab-kitab tersebut sangat diperlukan sebagai petunjuk dasar hidup beriman dan beribadah orang-orang Israel yang telah keluar dari perbudakan di Mesir dan menjadi bangsa yang berdaulat.

  • Sejarah PL

Kitab-kitab sejarah PL dalam kanon Protestan meliputi: Yosua, Hakim-Hakim, Rut, 1-2 Samuel, 1-2 Raja-Raja, 1-2 Tawarikh, Ezra, Nehemia dan Ester. Banyak alasan mengapa sejarah ditulis. Diantaranya membukukan informasi untuk menjadi sumber data yang berguna dikemudian hari. Diketahui bahwa banyak juga sejarah ditulis untuk tujuan propaganda dari pihak yang mengusahakan sejarah tersebut ditulis. Akan tetapi sifat penulisan kitab-kitab sejarah dalam PL tidak sekedar sebagai pembukuan informasi dan bukan juga sebagai propaganda. Hal ini terlihat dari keterbukaan secara menyeluruh akan hal-hal buruk maupun baik dari tokoh-tokoh dan peristiwa yang dicatat di dalamnya. Oleh karena itu sifat dan tujuan penulisan kitab-kitab sejarah dalam PL adalah lebih ke arah mencatat kesinambungan tindakan-tindakan Allah untuk melanjutkan proses perjanjian-Nya. Dalam hal ini juga berarti bersifat didaktik (pengajaran) atau agar berbagai bahan pelajaran yang dapat ditarik dari peristiwa-persitiwa atau pengalaman orang-orang Israel bagi generasi berikutnya.

  • Syair dan Hikmat

Kitab-kitab Syair dan Hikmat PL dalam kanon Protestan meliputi: Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Ada banyak aspek yang harus digali dan diketahui untuk bisa memahami kitab-kitab Syair dan Himat yang ada di PL. Artinya untuk memahami kitab-kitab Syair dan Hikmat PL tidaklah mudah. Beberapa faktor penyebabnya adalah karena keragaman penulis, bentuk sastra, penggabungan tulisan dari sumber-sumber terdahulu, bahkan melampaui tradisi Israel. Itu sebabnya Syair dan Hikmat PL harus dipahami dalam konteks internasional, karena telah menyerap tradisi hikmat orang Mesir, Edom, Arab dan Babel.

Mengetahui hal ini membuat kita sadar akan dua hal: Yang pertama kita melihat kekayaan nilai-nilai sejarah dan budaya purba dalam Alkitab yang tidada tara. Yang kedua membuat kita wajib peka dan kritis dalam menyimak maksud yang sesungguhnya dari berbagai syair dan hikmat terebut. Syair umumnya ditulis dalam kata-kata indah untuk dilantunkan. Bisa berbentuk tegas atau bisa juga berbentuk sindiran yang berguna sebagai nasihat. Sedangkan Hikmat ditulis untuk mendorong pemaksimalan akal manusia dalam mencapai prestasi hidup. Dalam hal ini landasan dari Hikmat yang diakomodir dalam PL adalah ‘takut akan Tuhan”.

  • Nabi-Nabi

Dalam PL kanon Protestan, semua kitab yang bersifat nubuat paska Hakim-Hakim dikumpulkan menjadi satu kelompok. Kitab-kitab itu adalah: Yesaya, Yeremia, Ratapan, Yehezkiel, Daniel, Hosea, Yoel, Amos, Obaja, Yunus, Mikha, Nahum, Habakuk, Zefanya, Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Fungsi Nabi adalah sebagai perantara Allah untuk berbicara kepada umat. Biasanya terjadi saat-saat situasi genting. Oleh karena sifat nubuat adalah ramalan dan penggenapan yang memiliki jarak waktu relatif, maka tujuan kitab para nabi dituliskan tentu saja lebih kepada menunggu kegenapan ramalan itu terjadi. Dalam hal ini kitab para nabi akan sangat berguna untuk memprediksi atau mengantisipasi hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari.

  • Injil

Ada empat kitab Injil yang diinfentaris pada Alkitab PB (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Ke-tiga Injil pertama memiliki kesamaan struktur jika dibandingkan dengan Injil Yohanes. Itu sebabnya ke-tiga Injil tersebut dipandang para peneliti sebagai Injil Sinoptik, yang artinya “melihat bersama”, karena memiliki kesamaan struktur dan banyak teks yang sama, sehingga dapat dilihat secara paralel. Para ahli menduga bahwa Injil Markus adalah Injil yang paling tua yang dijadikan pedoman dalam menulis dua Injil sinoptik lainnya.

Meskipun kitab-kitab Injil ditempatkan pada bagian awal PB, tetapi tidak berarti kitab-kitab itulah yang terlebih dahulu ditulis dari kitab-kitab yang lainnya. Banyak surat-surat yang ada dalam PB telah ditulis mendahului kitab-kitab Injil. Nama kitab-kitab Injil ditulis sesuai nama para penulisnya. Dua di antaranya adalah rekan sekerja Paulus, yakni Markus dan Lukas. Sedangkan Matius dan Yohanes adalah dua dari murid Tuhan Yesus.

Tujuan utama dari penulisan Injil adalah untuk mencatat pengajaran dan semua yang dilakukan Tuhan Yesus. Injil Matius, Markus, dan Yohanes tidak menuliskan alamat tujuan buku. Sedangkan Injil Lukas dialamatkan kepada seorang terpandang bernama Teofilus (Lukas 1:1). Mungkin perbedaan yang menonjol antara Injil Sinoptik dengan Injil Yohanes adalah, kalau Injil Sinoptik lebih menekankan pada peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh Yesus Kristus serta hubungan-Nya dengan masyarakat umum, sedangkan Injil Yohanes lebih menekankan pada pengajaran-Nya sehingga sarat dengan nuansa teologis, juga lebih menekankan tentang siapa Yesus ketimbang hubungan-Nya dengan masyarakat umum. Hal ini dapat terlihat dari pengakuan Yohanes sendiri pada pasal 20:30, bahwa masih banyak tanda lain yang belum dicatat oleh Yohanes dalam kitabnya.

  • Sejarah PB

Yang dianggap sebagi kitab sejarah dalam PB hanyalah kitab “Kisah Para Rasul”. Kitab ini ditulis oleh penulis Injil Lukas, yakni Lukas. Kitab ini ditujukan kepada alamat yang sama, yakni Teofilus (Lukas 1:1; Kisah 1:1). Itu sebabnya para ahli umumnya menganggap kitab ini adalah merupakan rangkaian atau kelanjutan dari Injil Lukas. Tujuan dari penulisan ini sangat jelas dari judul yang diberikan, yakni untuk menuliskan kegiatan-kegiatan para rasul paska kenaikan Tuhan Yesus.

Karena kitab ini sarat dengan pemberitaan tentang Roh Kudus, maka kitab ini juga telah dijuluki sebagi kitab perbuatan Roh Kudus. Sepertinya memang Lukas sangat ingin sekali mengungkap fakta karya Roh Kudus dalam kitabnya ini. Selain bahwa ia telah memulai tulisanya dengan janji Yesus akan pencurahan Roh Kudus dan yang memang digenapi pada pasal dua, juga melaporkan pandangan orang yang mengagumi perubahan fantastis yang dialami murid-murid Yesus sebagai orang-orang yang sebelumnya tidak terpelajar dan penakut, namun berubah menjadi bijak dan berani (Kisah 4:13). Dengan demikian Lukas telah memaparkan bagaimana gereja lahir dan berdampak menjadi kekuatan perubahan peradaban dunia Barat pada abad-abad awal tahun masehi.

  • Surat-Surat

Dinamika pergerakan gereja mula-mula itu akan terlihat dalam surat-surat yang ditulis oleh para rasul untuk membahas atau menyelesaikan masalah-masalah yang sedang dihadapi oleh jemaat-jemaat Kristen mula-mula. Gereja yang baru lahir dan semakin terpisah dari Yudaisme itu membutuhkan sistem kepemimpinan yang tepat seperti yang terlihat pada surat-surat penggembalaan kepada Timotius, Titus, dan Filemon. Juga dalam upaya menjelaskan posisi Taurat setelah hadirnya wawasan baru pengajaran Kristus, serta dalam upaya menghadapi pengajaran sesat yang mulai bermunculan, sangat sarat dalam surat-surat lainnya.

Surat-surat tulisan Paulus bernuansa teologis seperti kitab Roma, Korintus, Galatia, Efesus, Kolose, Ibrani dan yang lainnya diakui Petrus sebagai yang sulit dipahami, sehingga berpotensi untuk dipelintir oleh orang-orang yang tidak tulus (2 Petrus 3:15,16), dan dapat dimaklumi kalau akhirnya hingga saat ini menjadi perdebatan teologia dan menjadi landasan doktrin gereja yang variatif. Umumnya penulis dan alamat tujuan surat itu mudah dikenali dari pendahuluan surat. Tetapi para ahli menganggap bahwa satu surat bisa saja diedarkan untuk dibaca juga oleh jemaat di tempat lain (Kolese 4:16). Dalam kanon PB surat-surat itu ditempatkan secara berurut mulai dari tulisan-tulisan Paulus, Yakobus, Petrus, Yohanes, kemudian Yudas saudara Yakobus dan saudara tiri Yesus Kristus (Markus 6:3), lalu diakhiri dengan kitab yang merupakan catatan wahyu yang diterima oleh Yohanes.

Yang penting disadari perihal surat-surat PB adalah bahwa setiap surat itu memiliki ciri khas masing-masing sesuai kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi jemaat ke mana surat itu ditujukan. Kekhasan ini penting selalu diingat saat membaca bagian dari Alkitab guna memagari para pembaca dari pembiasan arti utamanya. Hal ini akan semakin diperjelas pada topik tentang ‘hermeneutika’ selanjutnya.

  • Wahyu

Keunikan kitab Wahyu yang sarat dengan lambang dan ramalan telah dianggap oleh banyak peneliti sebagai tulisan yang sepenuhnya bersifat nubuat atau berbicara perihal hal-hal yang akan terjadi pada akhir zaman. Padahal sebenarnya tidaklah demikian. Beberapa peneliti saat ini sudah bisa melihat beberapa hal yang memang sedang terjadi pada saat kitab itu ditulis, seperti misalnya angka 666 yang merujuk kepada kaisar Nero. Kita memang wajib membaca dan berusaha memahami arti-arti lambang-lambang yang tertera di dalamnya, tetapi hendaknya tidak terlalu melakukan pemaksaan arti dan menjadi perdebatan, karena kitab ini memang sarat dengan ramalan tentang hal yang akan terjadi pada akhir zaman, sehingga sangat mungkin terjadi perubahan arti di kemudian hari ketika hal itu digenapi.

Seperti ucapan tentang kedatangan Yesus yang segera akan terjadi pada pasal terakhir, telah menjadi sangat relatif ketika hingga saat ini Tuhan Yesus belum datang juga. Para penerima surat ini di abad pertama mungkin ada yang berpikir bahwa Yesus akan datang pada masa hidup mereka. Karena di abad-abad yang lalupun pernah ditafsirkan arti kesegeraan ini akan terjadi pada tahun 2000. Sekarang kita sudah memasuki tahun 2020, dan akhirnya tafsiran dengan gambar peta zamannya semakin menghilang dari peredaran saat ini.

Perlu disadari bahwa salah satu maksud kitab ini ditulis adalah sebagai usaha menghibur dan menguatkan orang-orang percaya yang saat itu sedang menghadapi aniaya hebat. Dengan demikian janji kedatangan Tuhan yang segera, akan sangat efektif menguatkan iman orang Kristen saat itu. Kitab ini ditujukan kepada tujuh gereja yang pernah sangat berpengaruh di provinsi Asia Kecil. Sifat dari nasihat yang berbeda-beda kepada tiap jemaat itu telah menunjukkan kualitas yang pernah mereka miliki dan sangat baik untuk dijadikan menjadi bahan evaluasi bagi kondisi iman kita saat ini.

Paparan di atas hanya menyinggung sekilas perihal karakteristik dari setiap kitab-kitab yang ada dalam Alkitab untuk sekedar memberi kepada pembaca kesadaran mendasar bahwa setiap kitab tersebut memiliki latar belakang sejarah, bentuk sastra, dan tujuan penulisan yang khas, sehingga dengan pemahaman tersebut para pembaca Alkitab dipicu untuk berpikir kritis dan lebih berhati-hati dalam mengambil kesimpulan dari setiap kalimat dan kata-kata yang tertera dalam Alkitab untuk dijadikan materi pengajaran (khotbah). Itu sebabnya buku-buku referensi termasuk tafsir yang bersifat lebih neteral sangat diperlukan bagi para pengajar Alkitab. Untuk zaman kita yang sudah begitu jauh jaraknya dari zaman Alkitab itu di tulis, sangat tidak pantas mengajarkan isi Alkitab dengan hanya bermodalkan mengutip ayat dan menghubungkan ayat demi ayat secara sembarangan, apalagi hanya memilih dan menekankan sebagian naskah secara tidak seimbang hanya untuk mendukung pandangan pribadi. Hal itu sama dengan perbuatan keji yang memperkosa nilai luhur Alkitab, terlebih setelah kita menyadari semua fakta-fakta yang telah diutarakan di atas.

Satu lagi yang penting terkait latar belakang dan tujuan penulisan kitab-kitab dalam Alkitab. Sering terjadi kesalahan yang menimbulkan kebingungan umat saat ini ketika para pengajar Alkitab secara tidak stabil dan seragam dalam hal menekankan bentuk dan orientasi pengajarannya. Kerancuan ini menimbulkan efek seakan ingin menghidupkan kembali ritual-ritual atau perintah-perintah yang ada dalam PL sebagai sesuatu yang harus tetap dilaksanakan hingga saat ini. Misalnya seperti ketetapan-ketetapan yang berlaku ketika Bait Allah di Yerusalem masih berfungsi, diantaranya berbagai jenis persembahan seperti perpuluhan, buah sulung, perayaan-perayaan termasuk sabat, dan lain-lain. Hal ini terjadi karena tidak memahami progres kerja Allah yang bertolak dari PL dan berorientasi kepada PB.

Memang tidak semua hal secara tegas telah dinyatakan dalam PB berbagai ketetapan dalam PL yang tidak perlu lagi dilakukan oleh umat PB, seperti pengorbanan hewan, sunat, dan lain-lain yang telah diajarkan sebagai hal-hal yang telah digenapi dalam pengorbanan Kristus. Tetapi tidak adanya kejelasan untuk hal-hal lainnya tidak boleh dijadikan patokan bahwa ketetapan-ketetapan lainnya masih harus dilakukan. Justru menyingkap hal-hal yang masih tersamar harus menjadi tugas para teolog masa kini.

Orientasi kebijakan Tuhan adalah umat PB yang memiliki Firman yang tertanam dalam batin (Yeremia 31:31-34), sehingga yang dituntut dari umat PB perihal memberi bukan lagi oleh dorong peraturan, melainkan kesadaran yang tergerak dari kerelaan karena mengasihi Tuhan. Perpuluhan bisa saja diterapkan dalam rangka melatih umat yang masih baru untuk memberi, tetapi selanjutnya harus dilatih memberi tanpa desakan aturan dan batasan angka. Umat Tuhan harus sampai pada kesedian memberi lebih dari perluluhan apabila memiliki kemampuan yang besar, dan juga tidak mengintimidasi umat yang belum mampu memberi di bawah angka perpuluhan.

Timbul pertanyaan, apakah dengan adanya PB maka kita tidak memerlukan PL lagi? Sebenarnya tidaklah demikian! Tetapi kita harus tegas dalam memahami fungsi kedua perjanjian tersebut. Tentu saja masih banyak prinsip-prinsip yang ada dalam PL yang tetap harus diamalkan hingga saat ini. Tetapi hal itu seharusnya tidak lagi sesuatu yang bertentangan dengan prinsip-prinsip yang ada dalam PB. Karena PB adalah merupakan kegenapan dari PL, bukan sebaliknya. Jadi yang selalu perlu diingat adalah bahwa PL lah yang berorientasi kepada PB, bukan sebaliknya. Salah satu cara terbaik untuk melihat prinsip-prinsip Alkitab yang masih harus di terapkan dalam kehidupan hingga saat ini, baik dalam PL maupun dalam PB, adalah dengan cara melihatnya dalam terang tujuan Allah menyelamatkan manusia. Karena keselamatan adalah inti atau pusat dari pengajaran yang dimuat dalam Alkitab.

Hermeneutika

Karena Alkitab adalah merupakan kumpulan dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang-orang yang berbeda-beda; dari latar belakang zaman, budaya, bahasa dan tempat yang berbeda-beda, maka tentu saja hal ini berdampak pada sulitnya memahami maksud-maksud orisinil dari tulisan itu bagi manusia saat ini. Ditambah lagi dengan masalah terjemahan Alkitab ke dalam bahasa-bahasa lain yang tidak selalu memiliki padanan kata yang identik dengan bahasa aslinya, sehingga bisa berpotensi menimbulkan pengertian yang berbeda dari yang semestinya. Sebagai konsekuensi dari berbagai latar belakang yang disebut di atas, maka bagi manusia zaman sekarang, Alkitab menjadi seperti belantara yang luas, sehingga orang awam tidak mudah untuk memahami maksud sejatinya.

Itu sebabnya, baik secara sadar maupun secara tidak sadar, banyak orang telah memakai dan mengkhotbahkan Alkitab untuk tujuan-tujuan yang tidak sehat atau tidak benar. Oleh karena itu, sebagai antisipasi terhadap berbagai rintangan seperti yang dijelaskan di atas, maka mau tidak mau para pembaca zaman sekarang dituntut untuk, selain memiliki ketulusan dan doa memohon tuntunan dari Roh Kudus, juga harus memiliki kemampuan memahami maksud naskah-naskah Alkitab dengan metode ‘hermeneutika’ (suatu ilmu metode penafsiran Alkitab), khususnya bagi mereka-mereka yang bertanggung jawab dalam pelayanan berkhotbah.

Pada dasarnya ‘hermeneutika’ adalah salah satu jenis dari ilmu filsafat yang mempelajari tentang interpretasi makna. Istilah ini berasal dari kata kerja Yunani ‘hermeneuein’ yang berarti: menafsirkan, memberi pemahaman atau menterjemahkan. Menurut para ahli sejarah, kata itu ada kaitannya dengan Hermes, dewa pengetahuan dalam mitologi Yunani. Dewa ini diyakini bertugas dalam memberi pemahaman terhadap pesan-pesan yang disampaikan para dewa di Olympus. Pentingnya peran dewa Hermes ini adalah untuk mengantisipasi kesalahpahaman manusia terhadap amanat para dewa yang bisa berakibat fatal. Dalam fungsi yang sama, demikianlah ilmu metode penelitian ‘hermeunetika’ bertujuan sebagai suatu bidang ilmu untuk memahami maksud-maksud yang sulit dipahami dalam satu naskah tertulis, khususnya naskah-naskah kuno. Ketika memasuki abad modern, metode ini dibawa ke dalam ilmu agama, terutama teologia kristen. Tentu saja hal ini sangat berguna mengingat Alkitab adalah buku yang isinya sulit dipahami karena latar belakang yang sudah dijelaskan di atas.

Saat ini ‘Hermeneutika’ sebagai suatu metode penafsiran Alkitab sudah menjadi salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah teologia. Juga telah tersedia buku-buku penuntun sehingga kaum awam pun dapat mempelajarinya dengan mudah. Pada prinsipnya hermeneutika Alkitab mengajari kita agar tidak secara gegabah mengartikan setiap teks yang tertera di dalam Alkitab. Ada banyak aspek yang dikemukakan dalam metode hermeneutis, namun sebagai kebutuhan mendasar setidaknya ada empat hal yang perlu selalu diperhatikan atau ditinjau dalam menafsir Alkitab:

  1. Tinjauan Etimologis

Kita tahu bahwa PL pada awalnya ditulis dalam bahasa Ibrani, dan PB dalam bahasa Yunani. Kemudian Alkitab telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Terjemahan Indonesia saja setidaknya sudah ada dalam tiga bentuk: terjemahan lama, terjemahan baru dan terjemahan bahasa sehari-hari. Hal itu belum termasuk bahasa-bahasa daerah.

Masalah terjemaham mungkin tidak terutama pada kesalahan dalam menterjemahkan, tetapi pada padanan kata yang belum tentu memiliki arti yang persis sama. Kekayaan perbendaharaan kata dari tiap-tiap bahasa itu berbeda-beda. Misalnya kata ‘cinta’ dan ‘kasih’, dalam bahasa Indonesia memiliki pengertian yang sama. Artinya dapat diterapkan secara bergantian untuk maksud yang sama. Sedangkan dalam bahasa Yunani, kata itu memiliki empat kata dengan arti yang berbeda-beda (agape, pilea, storge dan eros). Agape adalah kata yang menunjukkan kasih dalam kualitas yang tertinggi, yakni kasih yang rela berkorban untuk kepentingan orang lain, atau kasih yang tidak menuntut. Pilea adalah kasih yang menunjukkan hubungan persaudaraan atau persahabatan. Storge adalah kasih yang menunjukkan hubungan keluarga, sedangkan eros adalah kasih yang menunjukkan hubungan asmara antara laki-laki dan wanita. Itu sebabnya ketika kita membaca naskah dialog antara Yesus dan Petrus dalam Yohanes 21:15-17 tentang bagaimana Petrus mengasihi Yesus, maka akan kita temukan pengertian yang jauh berbeda dari arti kata ‘kasih’ dalam teks bahasa Indonesia jika dibandingkan dengan teks bahasa Yunaninya.

Dalam bahasa Indonesia kita akan menemukan kesan bahwa Petrus tidak jujur atau tidak sungguh-sungguh dalam mengasihi Yesus, sehingga Yesus mempertanyakannya secara berulang kali. Tetapi dalam bahasa Yunani akan kita temukan bahwa Petrus tidak berdusta. Secara jujur ia memang mengatakan bahwa dia hanya mencintai Yesus sebatas pilea (persahabatan) saja. Sementara yang dituntut oleh Yesus adalah agape yang merupakan kasih pengorbanan. Jadi Petrus secara jujur menyatakan bahwa dia tidak sanggup memenuhi tingkat agape seperti yang Yesus harapkan. Dalam kasus arti kata ‘kasih’ ini, maka bahasa Yunani lebih kaya dalam pengertian dibandingkan dengan bahasa Indonesia.

Akan tetapi harus diingat bahwa kita tidak boleh terlalu fanatik dalam menyimpulkan arti suatu kalimat hanya dengan melakukan tinjauan arti kata menurut bahasa aslinya. Selain karena tidak semua kata dalam Alkitab terjemahan pasti memiliki arti yang berbeda dari bahasa aslinya, juga karena satu kata bisa memiliki lebih dari satu arti yang berbeda, juga bisa saja dipakai bukan untuk mengartikan arti sesuai arti baku atau yang termuat dalam kamus, melainkan bisa bersifat kiasan saja atau bahkan keluar dari arti sesungguhnya. Pemakaian ekstrim seperti ini misalnya terlihat pada pengertian arti kata ‘satu’ dalam Kejadian 2:24 dan Efesus 5:31. Tulisan Musa yang dikutip oleh Paulus berkata bahwa laki-laki dan perempuan yang telah menjadi suami dan isteri itu telah menjadi “satu daging”. Pada kenyataanya suami dan isteri tidak pernah melebur menjadi satu sosok tubuh. Mereka tetaplah dua pribadi yang memiliki tubuh yang terpisah secara fakta. Jadi sesungguhnya arti kata ‘satu’ yang dimaksud oleh Paulus pada ayat tersebut adalah bahwa pernikahan kekristenan tidak boleh dipisahkan kecuali oleh kematian. Hal ini menjadi jelas dengan melihat konteksnya.

Hal yang sama juga berlaku atas pengakuan Yesus dalam Yohanes 10:30 bahwa Dia dengan Bapa adalah ‘satu’. Banyak teolog Kristen terseret pada paham sabelianisme (pemahaman sesat) yang menganggap bahwa Bapa, Yesus Kristus, dan Roh Kudus bukanlah tiga pribadi melainkan hanya tiga perwujudan Allah saja, dikarenakan telah memahami ayat ini secara sempit. Arti kata ‘satu’ dalam ayat tersebut sesungguhnya bukan dalam arti bilangan angka, melainkan kesatuan nilai atau hakikat. Karena pada kenyataannya Yesus pernah berinteraksi (berdialog) dengan Bapa sebagai sosok yang berbeda (Matius 26:36-44), dan Roh Kudus turun atas orang percaya sebagai pengganti peran Yesus dalam menyertai mereka (Yohanes 7:39; Yohanes 15:26). Pada kasus ini arti kata ‘satu’ sudah keluar dari pengertian baku dalam kamus, khususnya kamus bahasa Indonesia. Maksud kata satu di sini adalah “sehakikat’, bukan satu pribadi. Karena Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab itu adalah Allah dalam wujud “tiga pribadi tetapi satu hakikat” yang kemudian dirumuskan menjadi ‘tritunggal’.

Banyak orang fanatik dalam melakukan penggalian arti kata sesuai bahasa asli Alkitab sehingga tersandung dalam kesalahan yang fatal. Oleh karena itu penggalian arti kata harus selalu dikaitkan dengan konteks dan melihat kemungkinan arti lain dari kata tersebut. Untuk itu kita perlu melatih diri agar terbiasa melihat konteks dari satu kalimat sebagaimana dijelaskan berikut ini.

  1. Tinjauan Konteks

Pada hakikatnya semua tutur kata, baik ucapan-ucapan yang diutarakan secara lisan maupun dalam bentuk tulisan, selalu memiliki konteks. Konteks itu bisa terlihat atau mudah terlihat secara langsung, tetapi bisa juga tidak terlihat atau sulit melihatnya. Kondisi inilah yang bisa memberi resiko bagi para pendengar ataupun pembaca bisa terjebak pada salah tanggap atau salah tafsir. Dalam upaya mengantisipasi kelemahan seperti ini jugalah maka para pengutip ayat-ayat Alkitab disarankan tidak hanya meninjau arti etimologisnya saja ketika melakukan penggalian makna isinya. Karena berpegang hanya pada arti kata ternyata berpotensi pada penyesatan atau setidaknya disorientasi dari maksud penulis.

Para pembaca Alkitab seharusnya terbiasa bertanya dalam pikiran, apa sesungguhnya yang dimaksud oleh penulis ketika menuliskan kata-kata tersebut? Hal ini dapat ditelusuri dari konteks penulisan dengan cara melihat ayat-ayat atau paragraf sebelumnya, dan bila diperlukan hingga pasal-pasal sebelumnya. Misalnya kata ‘terhitung’ dalam Matius 10:30: Yesus berkata bahwa rambut di kepala kita dihitung oleh Tuhan. Kata ‘terhitung’ dalam bahasa Yunani adalah arithemo yang artinya memang adalah ‘menghitung’ dengan cara teliti atau seperti menomori. Kalu hal ini diartikan secara harafiah baik menurut bahasa aslinya, bisa menimbulkan salah pengertian. Apa urusannya dan manfaatnya Tuhan menghitung dan menomori setiap rambut di kepala kita?

Kalau ayat seperti ini diartikan fanatik secara harafiah, maka bisa berakibat pada misalnya, tidak boleh memotong rambut. Atau rambut yang rontok harus dipungut dan di simpan karena hal itu didata oleh Tuhan. Jadi untuk memahami arti kata ini kita harus melihat konteksnya. Jika melihat konteks, ternyata Tuhan hanya ingin menekankan kepedulian-Nya atas masalah-masalah hidup ini. Yang dimaksud dengan kata ‘terhitung’ di sini adalah agar kita tidak mencemaskan segala yang terjadi dalam hidup kita, karena apapun yang terjadi sesungguhnya ada dalam kontrol atau sepengetahuan Allah. Hal-hal burukpun diluaskan terjadi untuk kebaikan orang percaya. Dalam kasus ini upaya mencari pengertian kata secara etimologis kurang bermanfaat, tetapi dapat digali melalui tinjauan konteksnya.

  1. Tinjauan Latar Belakang

Karena keterbatasan penggalian etimologis dan konteks, maka kita kadang-kadang masih perlu untuk menggali latar belakang tulisan. Latar belakang tulisan itu mencakup: sejarah, bentuk sastra, tujuan penulisan dan sebagainya. Para penafsir Alkitab harus mencoba mengetahui sejarah yang mungkin mempengaruhi sifat tulisan pada masa kitab itu ditulis. Kemudian juga memperhatikan tujuan penulisan yang tidak selalu tercantum pada kitab tersebut. Terlebih dalam kitab-kitab yang ditulis pada masa-masa aniaya sehingga memuat banyak simbol-simbol seperti kitab Wahyu, yang memang sengaja ditulis sarat dengan lambang-lambang agar tidak dapat dipahami oleh masyarakat umum, kecuali oleh orang-orang kepada siapa tulisan itu ditujukan, yakni orang-orang Kristen yang hidup pada waktu itu.

Seperti misalnya angka 666 yang disebut dalam kitab Wahyu 13:18. Cukup lama para teolog modern tidak memahami maksud angka tersebut. Ada sekelompok Kristen yang berani menafsir hal tersebut sebagai benar-benar menjadi tanda yang tertera di dahi dan tangan para pendukung antikristus. Padahal setelah diselidiki secara saksama, angka itu adalah angka nama kasiar Nero yang menjadi musuh dan penganiaya Kristen pada masa kitab Wahyu ditulis. Ini adalah contoh kasus konteks yang tidak mungkin bisa dilihat, bukan saja dari kitab Wahyu itu sendiri, bahkan dari seluruh Alkitab pun tidak ada petunjuk yang relevan yang bisa dijadikan petunjuk untuk menjelaskan arti angka tersebut. Dalam hal ini arti angka 666 hanya bisa dilihat dari latar belakang sejarah kitab yang dapat ditelusuri dari sumber di luar Alkitab. Untuk kebutuhan ini, saat ini telah tersedia buku-buku referesi seperti: Ensiklopedia Alkitab yang didisain seperti kamus, kemudian buku-buku Survey, dan buku-buku Pengantar Kepada PL dan PB yang disediakan untuk memberi pengetahuan menyangkut latar belakang setiap kitab dalam Alkitab.

  1. Makna Tersurat dan Tersirat

Juga bisa terjadi bahwa di dalam Alkitab tidak ditemukan satu kata atau istilah yang sebenarnya bisa disimpulkan oleh para penafsir untuk mewakili fakta-fakta yang tersirat dalam Alkitab. Misalnya seperti istilah ‘tritunggal’. Tidak adanya istilah ini tertulis dalam Alkitab, tidak boleh disimpulkan bahwa tritunggal itu sesuatu yang tidak alkitabiah. Karena kenyataannya Alkitab menyajikan adanya fakta tentang Bapa, Anak (Yesus Krsitus), dan Roh Kudus sebagai pribadi-pribadi terpisah satu dengan yang lainnya dan disembah sebagai Tuhan, namun dua pribadi yang lainnya bersumber dari Bapa, sehingga mereka sesungguhnya merupakan satu hakikat. Jadi istilah ‘tritunggal’ itu dibuat untuk merumuskan atau menyimpulkan sifat kesatuan dari tiga Pribadi tersebut.

Kebenaran yang ditemukan seperti yang terlihat pada kasus ini dapat kita sebut sebagai kebenaran makna ‘tersirat’. Tersirat artinya implisit atau terkandung. Hal ini dimaksudkan untuk menyatakan arti-arti yang tidak tertulis secara langsung dalam suatu tulisan, tetapi sesungguhnya ada dalam pemahaman. Lawan kata dari tersirat adalah ‘tersurat’ yang berarti eksplisit atau dinyatakan/dituliskan secara harafiah atau langsung dalam Alkitab.

Dengan demikian ada dua cara melihat arti dalam suatu kalimat atau tulisan, yakni arti tersurat (eksplisit) dan arti tersirat (implisit). Dalam menggali makna isi Alkitab, kedua cara ini memiliki andil yang sama besarnya, karena memang Alkitab ditulis dengan cara atau gaya yang demikian. Oleh karena itu kita tidak boleh menganggap bahwa melihat arti harafiah jauh lebih penting dan aman dari pada melihat arti tersirat. Karena telah terbukti di atas bahwa pemakaian satu kata belum tentu mewakili pengertian bakunya yang tertera dalam kamus. Artinya ada resiko kesalahan dari kekakuan mempertahankan arti harafiah. Juga telah terbukti bahwa adanya kebenaran yang terkandung dalam suatu tulisan meskipun tidak tertulis secara harafiah. Artinya ada resiko juga dari mengabaikan makna terkandung dari satu tulisan, yang oleh karenanya kita juga wajib berusaha melihat makna-makna tersirat dalam Alkitab.

Dari ke-empat bentuk tinjauan di atas akhirnya dapat kita pahami betapa pentingnya melakukan pendekatan hermeneutis dalam usaha menggali maksud-maksud orisinil isi Alkitab, khususnya bagi para penasfsir atau pengkhotbah, sehingga tidak salah dalam mengajar.

Pentingnya pendekatan hermeneutis sebagai metode penafsiran Alkitab tidak hanya untuk menggali makna-makna orisinilnya, melainkan juga akan sangat membantu para penafsir untuk memilah kebijakan-kebijakan Allah yang masih harus dipertahankan dengan yang sudah harus diabaikan sebagai perintah yang sudah digenapi. Hal ini terutama untuk dapat membedakan kebijakan-kebijaka Allah dalam PL dan PB. Para pengkhotbah praktis (non theology) dewasa ini cenderung meyikapi secara sama seluruh naskah Alkitab karena tidak adanya pengetahuan hermeneutika. Sehingga tidak jarang kita temukan dalam beberapa gereja upaya menghidupkan kembali sebagian kebijakan-kebijakan Allah dalam PL, juga dalam PB yang seharusnya tidak perlu dikerjakan lagi untuk saat ini.

Misalanya Yesaya 60:5 yang memuat janji tentang “kekayaan bangsa-bangsa yang akan datang”. Firman ini sering diklaim bisa terjadi bagi umat Kristen saat ini. Padahal kalau ditinjau secara saksama, Firman ini adalah untuk bangsa Israel pada masa kerajaan Ahas dan anaknya Hizkia. Karena sepeninggalan Daud dan Salomo, kerajaan Israel boleh dibilang dalam keadaan makmur. Akan tetapi secara kerohanian kerajaan yang terpecah menjadi dua itu telah merosot tahap demi tahap. Ketidaksetiaan mereka menimbulkan amarah Tuhan yang ditandai dengan bangkitnya kerajaan-kerajaan adikuasa seperti Asyur untuk memerangi mereka, yang pada akhirnya berakhir dengan penawanan bangsa itu sebagai buangan ke Babel. Yesaya adalah nabi yang melayani pada masa-masa itu. Jadi janji ini adalah untuk Israel yang akhirnya juga tidak digenapi karena pembangkangan Israel.

Oleh karena itu, jangankan untuk Kristen, untuk bangsa Israel pun janji tersebut tidak menjadi kenyataan. Lalu apa alasan janji ini tidak tepat diterapkan bagi kekristenan? Yang pertama karena nubuat itu ditujukan kepada satu bangsa yang berkerajaan, bukan kepada individu-individu, apalagi untuk orang-orang Kristen saat ini, dan yang kedua karena kebijakan Tuhan untuk orang Israel pada zaman dahulu, sebenarnya telah beranjak meningkat pada kebijakan Tuhan untuk orang Kristen saat ini. Tujuan kekristenan bukan lagi untuk mempertahankan kedaulatan suatu bangsa, melainkan untuk hidup sebagai garam dan terang melalui karakter Kristus di tengah masyarakat dunia. Urusan Tuhan dengan orang-orang Kristen bukan lagi soal kerajaan duniawi melainkan kerajaan Allah di dunia ini hingga kekekalan nanti. Fokus Tuhan bagi orang-orang Kristen bukan lagi soal harta duniawi melainkan soal pembentukan manusia ilahi berkarakter Kristus. Adapun hal-hal yang menyangkut kebangsaan dan harta duniawi hanyalah merupakan sarana, bukan lagi menjadi tujuan kekristenan.

Jadi sangat salah dan mengalami kemunduran kalau janji Tuhan dalam kitab Yesaya itu menjadi suatu yang harus dikejar atau didambakan dalam kekristenan saat ini. Kesalahan pengajaran seperti ini terjadi karena ketidakmampuan melihat konteks dan latar belakang penulisan Alkitab secara tepat. Dampak kelemahan menafsir seperti ini adalah, bahwa tanpa disadari telah bermuara pada pelemahan tujuan kekristenan diadakan, yakni bukan lagi sebagai yang berorientasi pada pembangunan manusia lahiriah, melainkan membangun manusia yang serupa dengan karakter Kristus. Penjelasan ini tidak hendak mengatakan bahwa Tuhan tidak lagi berurusan dengan berkat lahiriah dan kita tidak boleh lagi berdoa memohon berkat, melainkan untuk mememberi pengertian yang tepat atau proprsional terhadap ayat tersebut sehingga tidak salah menerapkannya.

Oleh karena itu kita tidak boleh secara gegabah mengutip satu ayat Alkitab untuk dikenakan pada semua situasi. Karena banyak kebijakan Allah yang tertulis dalam PL maupun PB yang tidak lagi merupakan kebijakan yang harus diterapkan dalam kekristenan masa kini. Hal ini tidak berarti Allah telah berubah. Allah tidak pernah berubah (Maleakhi 3:6), namun yang terjadi adalah Allah bergerak menggenapi rencana-Nya tahap demi tahap menuju kesempurnaan. Harus dipahami bahwa cara Tuhan bekerja tidak berlaku surut tetapi meningkat secara progresif menuju kesempurnaan rencana-Nya. Itu sebabnya kita harus mampu melihat secara benar perbedaan cara kerja dan kebijakan Tuhan dalam PL dengan cara kerja dan kebijakan Tuhan dalam PB.

Dalam PB sendiri sangat terlihat dengan jelas proses peralihan cara kerja Allah dalam kekristenan mula-mula, yakni peralihan penggunaan Bait Allah dan Sinagoge-Sinagoge sebagai tempat ibadah ke komunitas-komunitas di rumah-rumah; dari ritual Yudais dengan segala korban persembahannya ke liturgi alamiah Kristen. Apakah dengan perubahan ketetapan liturgi yang ketat di PL dengan liturgi yang relatif dan variatif di PB dapat disimpulkan bahwa Allah telah berubah? Tentu saja tidak! Maka Maleakhi 3:6 harus diartikan dalam terang pengertian ini, dan tolong jangan menggunakan ayat ini untuk membela kepicikan dalam berteologia dan dalam upaya memanipulasi ayat-ayat PL untuk kepentingan-kepentingan terselubung.

Demikianlah seharusnya cara kita menyimak arti-arti semua tulisaan yang ada dalam Alkitab, sehingga kita tidak terjebak pada sikap fanatisme terhadap beberapa ayat saja, apalagi beberapa kata, dalam upaya menyimpulkan suatu maksud atau ajaran dari Alkitab. Karena apabila kita yakin bahwa Alkitab itu diilhami oleh Allah, yang berarti bahwa sumbernya adalah satu saja, yakni Allah itu sendiri, maka tidak mungkin ayat-ayat atau kalimat-kalimat yang ada dalam Alkitab itu bertentangan satu dengan yang lainnya. Jadi apabila ditemukan ada ayat-ayat yang terlihat seperti bertentangan, maka sikap yang benar seharusnya adalah menganggap hal tersebut masih berada di luar jangkauan pengetahuan kita. Bukan mengorbankan yang satu lalu memutlakkan yang lainnya sesuai selera kita. Apabila suatu hal dalam Alkitab masih belum bisa dipahami, maka lebih baik secara jujur menyatakan bahwa hal itu masih di luar kemampuan kita untuk memahaminya.

Otoritas atau Wibawa Alkitab

Banyak orang percaya lebih menyukai dan berharap jika seandainya Alkitab terjadi secara misterius atau diturunkan secara ajaib oleh Allah. Atau setidaknya berharap jika para penulisnya telah dikendalikan secara mistis atau otomatis oleh Tuhan saat menulisnya. Dengan teori tersebut seakan telah memberi rasa nyaman dalam memandang Alkitab sebagai sesuatu yang ajaib dan sakral. Tetapi kita harus sadar dan jujur bahwa letak keagungan dan keajaiban Alkitab tidalah pada teori mistis seperti itu. Justru kita akan menjadi bersalah apabila meletakkan dasar penerimaan terhadap Alkitab di atas teori kebohongan yang demikian. Lalu di mana sesungguhnya letak keagungan dan keajaiban Alkitab sehingga kita bisa menerimanya sebagai benar-benar dan sepenuhnya Firman Allah?

Kita harus terbuka menyatakan bahwa Alkitab telah ditulis melalui proses alamiah oleh manusia yang sudah pasti tidak luput dari kelemahan. Hal itu adalah fakta yang tidak terbantahkan. Oleh karenanya menjadi wajar juga apabila terdapat perbedaan data yang bersifat minor di dalam Alkitab, yang tidak mengganggu atau mengubah prinsip-prinsip mendasar dari penulis yang satu dengan penulis yang lainya. Kenyataan ini telah membuat sebagian teolog dan orang Kristen menganggap Alkitab bukanlah sepenuhnya Firman Allah, melainkan hanya berisikan sebagian (mengandung) Firman Allah saja. Padahal wibawa Alkitab menuntut suatu prinsip bahwa Alkitab itu benar-benar atau sepenuhnya Firman Allah, atau memang sama sekali bukan Firman Allah. Karena memandang sebagian saja yang merupakan Firman Allah akan menempatkan kita terjebak pada polemik memilah mana yang merupakan Firman Allah dan mana yang bukan. Polemik tersebut pada akhirnya akan menggiring setiap peneliti Alkitab berujung pada keyakinan bahwa Alkitab memang bukan Firman Allah.

Oleh karena itu kita harus tegas meyakini bahwa “Alkitab adalah Firman Allah”, bukan sekedar mengandung Firman Allah. Namun keyakinan ini harus dipahami dan dapat dijelaskan dengan benar sehingga tidak terjerumus pada fanatisme yang kaku dan yang dapat menimbulkan berbagai penafsiran yang salah. Karena kalau kita terjebak dengan fanatisme sedemikian, maka kita akan bermasalah dengan misalnya Kejadian 3:1-5. Naskah dalam ayat-ayat tersebut adalah upaya iblis memperdaya Hawa agar terjerumus ke dalam pelanggaran atau dosa. Jelas sekali bahwa itu bukan Firman Allah. Jadi kita harus memahami bahwa yang dimaksud dengan “Alkitab adalah Firman Allah” bukanlah huruf, kata-kata, ataupun susunan kalimatnya, melainkan ‘maksud’ Allah yang ada dalam keseluruhan naskah Alkitab itu. Dalam hal ini, redaksi seperti Kejadian 3:1-5 harus dilihat sebagai penuturan Allah melalui para penulis Alkitab untuk menjelaskan perihal tindakan dan ucapan Iblis.

Itu sebabnya upaya untuk menemukan ‘maksud’ Tuhan dalam kalimat-kalimat yang ada dalam Alkitab tidak boleh sembarangan dan tentu saja menjadi tidak mudah. Hal itu memerlukan kerja keras dengan metode penafsiran Alkitab (hermeneutika) dan terutama dengan tuntunan Roh Kudus. Oleh karena itu para pembaca Alkitab, khususnya para pengajar harus selalu bersikap rendah hati memohon petunjuk dari Roh Kudus dan rela meluangkan waktu untuk menggali informasi dari sumber-sumber eksternal (buku-buku petunjuk di luar Alkitab) terkait latar belakang penulisan yang mungkin dapat mempengaruhi arti suatu redaksi.

Dalam PL saja kita bisa menemukan dua ribu kali ungkapan ‘Allah berfirman’ atau ‘berfirmanlah Allah’. Namun dapat kita maklumi, bagi para pengguna rasio skeptis, ungkapan seperti itu tidak bisa diterima sebagai suatu bukti bahwa Alkitab adalah Firman Allah. Oleh karena itulah wibawa dan kesejatian Alkitab sebagai Firman Allah tidak boleh kita letakkan di atas dasar kisah-kisah pengadaan Alkitab secara mistis seperti yang diharapkan oleh kelompok Kristen pecinta fenomena ajaib. Karena letak keajaiban pengadaan Alkitab tidak terletak pada peristiwa-peristiwa spontan dan misterius, melainkan justru pada proses alamiahnya, yang meskipun alamiah, namun tak seorang manusiapun dapat mengerjakannya. Untuk melengkapi pengetahuan dan keyakian pada teori ini, berikut ini disajikan beberapa fakta tak terbantahkan yang membuat kita kagum tentang bagaimana Allah secara alamiah telah benar-benar menuntun hingga tebentuknya suatu kanon yang disebut Alkitab:

  1. Tergenapinya Nubuat

Ada lebih dari dua ribu nubuat dalam PL yang sudah digenapi. Apa namanya itu kalau bukan keajaiban? Mereka menulis dan telah mati, tetapi kita percaya bahwa mereka telah menyaksikan kegenapan dari tulisan mereka dari keabadian. Buku apa gerangan yang pernah ditulis dan digenapi seperti kitab-kitab dalam Alkitab itu?

Daniel telah mengabadikan mimpi Nebukadnezar tentang sebuah patung besar dalam tulisannya (Daniel 2) yang melambangkan perjalanan sejarah dunia yang akan datang:

  • Kepala terbuat dari emas melambangkan kerajaan Babel tahun 606 SM.
  • Dada dan lengan dari perak menggambarkan kerajaan Persia tahun 539 SM.
  • Perut dan pinggang dari tembaga menggambarkan kerajaan Yunani tahun 331 SM.
  • Paha dari besi menggambarkan Romawi Barat dan Timur tahun 64 SM.
  • Kaki dan jari-jari dari campuran besi dan tanah liat menggambarkan negara-negara di dunia selanjutnya hingga saat ini dengan keberadaan; ada yang kuat dan ada yang lemah.

Adakah kitab yang menuliskan nubuat seakurat ini dalam penggenapannya?

Dari ribuan nubuat dalam PL, terdapat 333 yang bernubuat tentang kedatangan Sang Mesias. Semua nubuat itu memberi petunjuk tentang kapan Ia datang, di mana tempatnya, dari siapa Ia akan lahir, bagaimana pelayanan dan kepribadian-Nya, penderitaan-Nya, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya. Seseorang pernah berkata bahwa PL itu bagaikan sidik jari dari Yesus Kristus. Bagaimana kita tidak mengatakan bahwa sesungguhnya Alkitab, bukan saja telah diwahyukan oleh Allah, melainkan Dia sendiri yang sesungguhnya telah menjadi penulisnya, namun melalui kerja sama-Nya dengan orang-orang yang Dia percayai.

  1. Upaya Pemunahan

Selama kurun waktu 2600 tahun, selalu ada upaya untuk memunahkan Alkitab, namun hal itu tidak pernah terjadi.

  • Dalam 2 Raja-raja dikisahkan riwayat raja Yehuda, Yosia yang menemukan kembali kitab Taurat. Hal ini terjadi karena Kakeknya, Manasye adalah seorang yang tidak mengindahkan agama dan menelantarkan Bait Allah, sehingga kitab Taurat sempat hilang.
  • Antiokus Epifanes, tiran dari Suriah yang kejam, menyerbu Israel dan berusaha melenyapkan Alkitab dengan membunuh semua yang memiliki salinannya. Tapi justru setelah kematiannya, terjadi kebangkitan untuk memperbanyak salinan Kitab Suci.
  • Tahun 303 Masehi, Deocletianus, kaisar Romawi yang terakhir menjadi anti Kristen, menganiaya orang-orang Kristen dan berusaha membakar salinan-salinan Kitab Suci, namun sepeninggalannya, Kitab Suci akhirnya menjadi kegemaran di bawah pemerintahan kaisar Konstantinus. Bahkan setelah era Kristen, ada saja tokoh-tokoh yang berupaya menyingkirkan Alkitab. Misalnya Mary, ratu Inggris atau yang dijuluki sebagai Bloody Mary, mengancam bahwa siapa saja yang memiliki Alkitab akan dibakar. Justru setelah ia meninggal, Ratu Elizabeth I penggantinya justru memerintahkan penerbitan sekitar 130 edisi Alkitab.
  1. Temuan Terbesar

Sebelum abad XX para musuh kekristenan dengan lantang menyuarakan bahwa Alkitab yang dimiliki oleh orang Kristen sebenarnya sudah merupakan salinan yang dipalsukan atau setidaknya sudah banyak yang diubah. Akan tetapi setelah sekitar tahun 1900-an, tuduhan-tuduhan itu sudah terbungkamkan. Hal itu terjadi setelah para gembala Badawi yang sedang berteduh atau mencari domba-domba mereka yang hilang di gua-gua Qumran dekat Laut Mati, secara tidak sengaja telah menemukan guci-guci berisikan gulungan-gulungan naskah tua sebanyak 981 buah, yang diantaranya adalah salinan-salinan PL yang sudah berusia sekitar 2000 tahun.

Selain itu ditemukan lagi naskah yang berbeda di 11 gua lainnya. Diperkirakan naskah-sakah itu adalah milik kaum Eseni Yudaisme yang hidup memisahkan diri dari masyarakat umum, yang kemudian dibunuh atau melarikan diri oleh serbuan tentara Romawi. Perkiraan itu diperkuat karena di antara naskah-naskah tersebut terdapat juga naskah yang memuat aturan-aturan komunitas Eseni. Tetapi ada juga yang menduga bahwa benda-benda tersebut adalah milik masyarakat Israel yang melarikan diri ke tempat tersebut ketika Yerusalem dimusnahkan pada tahun 70 oleh tentara Romawi. Temuan ini sangat penting karena telah membuktikan bahwa isi dari salinan PL yang dimiliki oleh orang Kristen, sama dengan salinan-salinan naskah Qumran tersebut.

  1. Thema Sentral

Adalah lazim kalau penyelenggaraan sebuah seminar dilakukan dengan menetapkan themanya terlebih dahulu. Dengan demikian seminar bisa terorientasi dengan baik. Semua buku ditulis atas dorongan suatu tema yang mengarah kepada sebuah judul terlebih dahulu. Seharusnya memang demikian! Akan tetapi tidak demikian dengan Alkitab. Tidak ada seorangpun dari para penulis yang pernah berpikir bahwa tulisan mereka kelak akan dimasukkan ke dalam bagian yang disebut dengan judul “Alkitab”. Bahkan mereka banyak yang tidak saling mengenal satu dengan yang lainnya, sehingga tidak ada kesepakatan mengenai thema dan isinya. Tetapi kenyataannya tulisan mereka semua mengacu kepada nilai dan tujuan yang sama.

Wibawa Alkitab juga terlihat dari kesatuannya. Alkitab telah ditulis dalam kurun waktu sekitar 1500 sampai 2000 tahun oleh orang-orang dari latar belakang budaya, bahasa dan situasi yang berbeda, tapi mengacu kepada suatu pesan utama yang terlihat sudah direncanakan sejak semula dan dirangkai dalam satu rangkaian pasti, yakni: penciptaan, kejatuhan dalam dosa, penebusan dan akhirnya pemulihan ciptaan. Pesan utamanya adalah “keselamatan dalam Yesus Kristus”! Dan jika disimpulkan dalam satu ayat maka kita menemukan hal itu dalam Yohanes 3:16. Adakah keajaiban yang melampaui keajaiban yang sedemikian? Alkitab memiliki satu thema pusat tanpa direncanakan oleh para penulisnya. Siapa yang merancang semua ini kalau bukan Allah?

Alkitab ditulis oleh sekitar 40 orang dari latar belakang yang berbeda tetapi tidak berbenturan nilai dan pengertian maksud satu dengan yang lainnya. Kecuali perbedaan pada data-data minor seperti angka-angka yang justru memperlihatkan sisi lemah manusia dan membuktikan bahwa proses penulisan Alkitab itu benar-benar alamiah. Namun pengertian-pengertian dan maksud-maksud mereka mengacu pada satu kesatuan nilai, yakni upaya Allah menyelamatkan manusia dari kutuk dosa.

Di atas kita telah menyinggung dua pandangan tentang pengilhaman Kitab Suci. Salah satunya adalah pengilhaman secara langsung atau seperti turun dari langit. Meskipun tidak ada saksi atau bukti-bukti untuk pernyataan seperti ini, namun banyak orang telah lebih suka mendengar kisah ajaib seperti ini daripada kisah ajaib yang dapat dibuktikan secara logis, yakni keajaiban terbentuknya Alkitab secara natural. Mengetahui berbagai argumen terbentuknya Alkitab, seharusnya membuat kita ragu terhadap klaim-klaim pengilhaman mistis atas suatu kitab yang diyakini terjadi pada kitab kepercayaan agama lain. Tetapi akhirnya kita harus sepakat bahwa sesungguhnya Alkitab tidak terjadi secara kebetulan. Sesungguhnya ada satu tangan yang mengerjakan dan telah menetapkan themanya jauh sebelum segala sesuatu ada. Dialah Allah! Allah adalah penulis Alkitab yang sesungguhnya. Jadi Alkitab adalah benar-benar Firman Allah!

  1. Tujuan Atau Manfaat Utama Alkitab

Adalah baik apabila kita berpikir untuk menggali maksud terdalam dari nasihat Paulus kepada anak binaannya Timotius. Dalam surat penggembalaannya yang kedua kepada Timotius dikatakan:

Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (2 Timotius 3:16).

Sangat tegas dan jelas dalam perkataan tersebut dinyatakan sepenuhnya bahwa tujuan dan manfaat Alkitab adalah untuk kepentingan pendidikan, bukan untuk tujuan mistis. Tujuan pendidikan ini tentu saja sangat selaras dengan tujuan keselamatan yang adalah merupakan upaya Allah untuk memulihkan manusia pada kodrat ilahinya yang telah dirusak oleh dosa. Jadi pemulihan karakter manusia adalah tujuan utama Allah mengilhamkan Alkitab, bukan pengejaran hal-hal spektakuler yang terekam di dalamnya.

Kiranya tulisan ini dapat menambah wawasan pembaca sehingga mendorong rasa penasaran yang lebih besar dalam minat membaca Alkitab sebagai kebutuhan utama dalam hidup ini. Karena langit dan bumi akan berlalu, tetapi Firman Allah tidak akan berlalu (Matius 24:35).

MR. Theo Light

2 Komentar pada “Alkitab”

  1. Sya ingin memiliki tulisan yg sdh sy bc di atas secr pribadi utk sy bc berulang kali

    1. Boleh bu, akan kami kirimkan format PDF-nya ke email ibu, apakah emailnya yang tertera di web kami ?
      kalo boleh tahu, darimana ibu dapat informasi tulisan di web kami ?.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *