Antikristus

Suatu Evaluasi Terhadap Perspektif Lama

Tidak bisa dipungkiri bahwa doktrin eskatologis (perihal akhir zaman) selalu menarik perhatian kaum agamis, khususnya agama-agama samawi. Keingintahuan akan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi menjelang masa akhir dunia ini telah mendorong semangat banyak orang untuk mendalami dan membicarakannya. Salah satu topik yang dianggap oleh sebagian orang sebagai doktrin eskatologi adalah tentang ‘antikristus’. Terminologi ini memang disebut secara eksplisit dalam salah satu kitab yang tergabung dalam Perjanjian Baru (PB), yakni surat serial Yohanes. Apakah memang posisi doktrin tentang antikristus ini bisa digolongkan sebagai doktrin eskatologis, hal ini akan terlihat secara lebih jelas pada tulisan ini.

Sebenarnya istilah ‘antikristus’ terdapat hanya lima kali dalam PB. Itupun hanya dalam dua kitab serial rasul Yohanes (1 Yohanes 2:18,22; 4:3; 2 Yohanes 1:7). Tetapi karena salah satu penggunaan istilah ini memberi indikasi akan adanya sosok pribadi yang akan memimpin perlawanan kepada kekristenan di kemudian hari, maka para penafsir tergoda untuk mengaitkan naskah-naskah ini dengan naskah-naskah yang terdapat dalam kitab-kitab yang terlihat membicarakan hal yang sama, seperti kitab Daniel 7, Matius 24, 2 Tesalonika 2 dan Wahyu 12-13. Redaksi PB yang sering menyatakan kesegeraan kedatangan Tuhan Yesus kembali, turut mendorong khususnya kaum kharismatis berusaha untuk memahami doktrin ini sebaik mungkin. Namun karena penyajian redaksi terkait hal ini sarat dengan simbol-simbol, khususnya dalam kitab Wahyu, maka tidak bisa dihindari terjadinya multi tafsir atau ragam pandangan yang sedikit-banyak mempengaruhi sikap hidup beberapa orang hingga adanya pertentangan relatif antar golongan maupun pribadi.

Seiring kemajuan zaman dan perkembangan ilmu teologia, pandangan-pandangan yang telah ada terkait akhir zaman dan topik tentang antikristus ini mulai dikaji ulang. Bagi pencinta doktrin eskatologis, peristiwa-peristiwa fenomenal biasanya langsung dikatikan dengan pemahaman yang sudah ada, meskipun lebih sering terbukti tidak tepat, namun sering dibiarkan berlalu ditelan waktu tanpa pernah dievaluasi kesalahannya. Jika kita sadar akan kelemahan pemahaman yang bisa dimanfaatkan oleh Iblis sebagai sarana penyesatan, maka seharusnya selalu ada upaya mengkritisi ulang pemahaman yang sudah ada. Untuk tujuan inilah tulisan ini dibuat.

Oleh karena itu sebagai nasihat pendahulu, sebaiknya setiap pembaca tulisan ini dan siapapun yang tertarik mendalami perihal eskatologi, bisa berpikiran terbuka dan besikap dewasa, dengan berpegang pada prinsip bahwa hal ini hanyalah perkara prediktif yang tidak secara langsung berakibat pada keselamatan kekal seseorang. Dengan demikian maka kita dapat dengan tenang menjadikan tulisan ini sebagai penambah wawasan yang berharga dan sebagai bahan evaluasi bagi pemahaman yang sedang dianut.

Menyadari bahwa istilah ‘antikristus’ sebenarnya hanya kita temukan dalam dua kitab serial Yohanes, maka penggalian seluk-beluk antikristus itu harus pertama dilakukan terhadap surat tersebut secara maksimal sebagai landasan utama, barulah kemudian kita dapat secara proporsional mengaitkannya dengan naskah-naskah Alkitab lainnya sebagai yang bersifat dukungan. Tidak boleh sebaliknya; yakni melakukan penafsiran bertolak dari naskah yang tidak ada terminologi ‘antikristus’-nya, lalu menghubungkannya dengan surat Yohanes sebagai dukungan. Penafsiran terbalik ini bisa tanpa disadari berakibat pada kesalahan memberi kesimpulan. Oleh karena itu tulisan inipun dimulai dari upaya mendalami surat Yohanes terlebih dahulu.

Mengamati secara dekat dua kitab serial Yohanes yang menyebut istilah antikristus ini, maka kita bisa melihat bagaimana Yohanes menampilkan eksistensi realita ini dalam tiga bentuk: Bentuk futuristis atau yang bersifat nubuat, bentuk sekarang atau yang sedang terjadi, dan bentuk terselubung dalam semangat pengajaran.

Bentuk Futuristis (Nubuat) dan Bentuk Sekarang

Dalam 1 Yohanes 2:18 disebutkan dua bentuk antikristus itu sekaligus. Yohanes memulai dengan kalimat, “… waktu ini adalah waktu yang terakhir”. Ingat, Yohanes tidak berkata “akhir zaman”. Meskipun demikian pernyatan ini boleh saja diartikan sebagai akhir zaman. Di sinilah letak kesulitan menentukan batas awal sejak kapan sesungguhnya akhir zaman itu dimulai. Karena maksud Yohanes dengan perkataan “waktu yang terakhir” bisa saja merupakan akhir dari suatu masa tertentu. Bagi pembaca pada waktu itu tentu saja hal ini sangat jelas maksudnya, namun bagi kita pembaca saat ini menjadi sesuatu yang sulit untuk dipahami. Namun apabila kita mengacu pada nubuat Yoel yang digenapi pada hari Pentakosta sebagai hari-hari terakhir (Yoel 2:28-32; Kisah 2:16 dan seterusnya), maka kita bisa menyimpulkan bahwa akhir zaman itu telah dimulai sejak pencurahan Roh Kudus, dan dengan demikian juga ucapan Yohanes ini bisa dimaksudkan sebagai akhir zaman.

Ketika Yohanes berkata “… dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, …”, ucapan ini menunjukkan bahwa perihal akan munculnya seorang (pribadi) antikristus tidak lagi asing bagi jemaat yang mula-mula. Artinya mereka sudah terbiasa membicarakan hal itu. Tetapi dengan adanya kata ‘akan’, bisa memberi pengertian bahwa bentuk sosok pribadi yang menonjol ini belum digenapi, atau masih bersifat nubuatan saat Yohanes menulis suratnya. Tetapi kita juga tidak boleh memastikan bahwa hal ini belum digenapi hingga saat ini. Karena sejak abad satu terdapat rentang waktu hampir 2000 tahun hingga saat ini. Jadi untuk sementara, ketika kita bertolak dari tulisan ini, maka kita bisa berasumsi bahwa nubuat ini belum digenapi, atau bisa juga berarti telah digenapi. Kita harus berpuas diri dulu dengan kesimpulan ini untuk sementara. Hal ini akan lebih diperjelas pada pendalaman bagian akhir. Hal yang pasti kita temukan pada ucapan ini hanyalah akan tampilnya atau akan adanya seorang manusia yang berperan sebagai antikristus. Soal kapan hal itu akan terjadi, inilah yang menjadi pokok penelitian dalam tulisan ini.

Selanjutnya Yohanes berkata, “… sekarang telah bangkit banyak antikristus”. Dengan perkataan ini Yohanes menyatakan adanya antikristus dalam jumlah yang banyak. Anggapan bahwa jumlah banyak ini adalah merupakan antek-antek atau pengikut dari seorang antikristus yang disebut dalam ayat tersebut adalah hal yang keliru. Perbedaan ini sangat jelas terlihat dari penuturan Yohanes, yakni bahwa “seorang antikristus” itu dinyatakan sebagai sesuatu yang masih akan terjadi atau belum terjadi, sedangkan “banyak antikristus” sudah merupakan hal yang terjadi sejak Yohanes menulis ayat tersebut. Jadi kita dapat memandang kedua hal ini sebagai yang berbeda. Yang disebut “seorang antikristus” adalah bentuk pertama atau yang belum terjadi, sedangkan ucapan “banyak antikristus” adalah bentuk kedua, yakni bentuk sekarang atau sejak gereja mula-mula hingga Tuhan Yesus datang kembali kelak.

Antikristus dalam bentuk kini dan seterusnya mudah dipahami karena tentu saja semua orang yang menentang Kristus atau kekristenan, adalah antikristus. Selama dunia ini masih berlangsung tentu akan selalu ada yang tidak setuju dengan kekristenan dan menentang Kristus. Inilah yang dimaksud dengan antikritus dalam bentuk kedua atau bentuk kini. Dengan demikian kita telah memahami dan bisa sedikit mengidentifikasi dua bentuk penampilan antikritus, yakni bentuk pribadi yang dinubuatkan pada saat tulisan surat Yohanes dibuat, dan bentuk banyak orang, yang terjadi sejak gereja mula-mula hingga kedatangan Yesus kembali kelak. Sebelum kita masuk pada bentuk antikristus yang ketiga, maka kita perlu terlebih dahulu mencermati ciri-ciri utama yang disebut antikristus itu.

Pada ayat 19 Yohanes berkata, “Memang mereka berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita …”. Ucapan ini bisa mengacu pada dua kemungkinan: Kemungkinan pertama adalah orang-orang Yahudi yang tidak mau percaya kepada Yesus, bahkan telah menyalibkan Yesus, dan yang pada akhirnya menjadi musuh kekristenan pertama. Kita tahu bahwa memang pada dasarnya Injil itu pertama-tama diperuntukkan adalah bagi orang Yahudi, kemudian selanjutnya bagi bangsa-bangsa lain (Kisah 3:26; Roma 1:16). Namun akhirnya kita bisa melihat bahwa grafik kekristenan Yahudi itu memang berangsur menurun sejak abad pertama, bahkan hampir lenyap pada saat ini. Melihat fakta ini, maka jelas mereka adalah antikristus juga.

Yohanes selanjutnya menegaskan bahwa antikristus itu adalah mereka yang menyangkal Yesus adalah Kristus, yang menyangkal Anak, dan yang berarti juga menyangkal Bapa (ayat 22-23). Perkataan ini lebih tepat diarahkan kepada orang Yahudi karena menganut teologia yang menyebut Allah sebagai Bapa (adonai). Karena orang-orang di luar Yahudi tidak memahami teologia tentang Allah yang dipanggil sebagai Bapa. Jadi sangat mungkin yang dimaksud oleh Yohanes dalam tulisannya ini adalah saudara sebangsanya, yakni orang-orang Yahudi.

Kemungkinan yang kedua adalah orang-orang yang sempat menjadi Kristen namun murtad kembali. Peristiwa murtad pada abad-abad awal kekristenan sangat lumrah terjadi mengingat aniaya yang begitu dahsyat, baik dari pihak Yahudi maupun dari pihak penguasa kekaisaran Romawi waktu itu. Tuhan Yesus telah bernubuat perihal murtad ini ketika Dia berkata, “dan banyak orang akan murtad dan mereka akan saling menyerahkan dan saling membenci” (Matius 24:10). Sangat jelas bahwa kemurtadan bisa berdampak pada pengkhianatan dan kebencian yang menimbulkan perlawanan. Paulus juga menegaskan hal ini kepada Timotius (1 Timotius 4:1; 5:8). Lebih jauh Paulus menjelaskan bahwa kondisi orang yang murtad itu agak sulit diperbaiki moralnya kembali (Ibrani 6:6). Peristiwa kemurtadan dan kebencian kepada Kristus dan kekristenan akan mewarnai jalan hidup hingga akhir zaman. Inilah bentuk antikristus yang kedua sebagaimana telah dijelskan sebelumnya.

Hal lain yang perlu kita simak dari uraian di atas adalah bahwa antikristus itu bisa bersumber dari dua golongan manusia. Golongan yang pertama adalah dari kalangan orang-orang yang bukan Kristen, dan golongan yang kedua adalah orang-orang yang pernah menjadi Kristen, bahkan sangat mungkin juga mereka yang sudah pernah dipakai Tuhan dalam pelayanan gereja. Hal ini tersirat dari perkataan Paulus yang mengatakan bahwa ada orang yang pernah diterangi hatinya namun murtad dan tidak mungkin dibaharui lagi (Ibrani 6:4-6). Kini kita beralih pada bentuk antikristus yang ketiga.

Bentuk Terselubung

Selanjutnya Yohanes mengungkap yang bisa dikatakan sebagai bentuk yang agak berbeda dari sebelumnya tentang penampilan antikristus itu. Yohanes memulai 1 Yohanes 4 dengan kalimat:

… janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia. Demikianlah kita mengenal Roh Allah: setiap roh yang mengaku Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengakui Yesus, tidak berasal dari Allah. Roh itu adalah roh antikristus dan tentang dia telah kamu dengar, bahwa ia akan datang dan sekarang ini ia sudah ada di dalam dunia” (1 Yohanes 4:1-3).

Di sini dinyatakan antikristus itu dalam bentuk roh. Pengertian ‘roh’ di sini tentu saja tidak melulu harus diartikan sebagai wujud roh atau makhluk halus. Jika melihat konteks dekat di ayat yang sama dan ayat-ayat selanjutnya, maka arti dari ucapan ini adalah suatu semangat atau penularan pemahaman. Itu sebabnya penulis memberi kesimpulan tentang wujud antikristus yang ketiga ini sebagai “bentuk terselubung”, karena tidak terlihat secara fisik, namun dalam dalam bentuk pengajaran. Jika dikaitkan dengan ayat 1, maka justru bentuk inilah yang lebih berbahaya dari bentuk pertama dan kedua, karena sesungguhnya telah berkolaborasi dengan para nabi-nabi palsu. Perhatikan bahwa pada tiga ayat tersebut Yohanes menghubungkannya dengan nabi palsu.

Kita tahu bahwa yang dinamakan nabi-nabi palsu itu bukanlah gerakan yang anti secara transparan terhadap Kristus, melainkan yang secara sadar maupun tidak sadar akan memberitakan Injil atau ajaran kekristenan dalam bentuk yang palsu. Jadi mereka akan menyatakan diri sebagai Kristen dan mengajar orang atas dasar Alkitab, bahkan dapat melakukan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat (Matius 24:24), namun bukan dalam arti dan tujuan yang murni. Karena prinsip kepalsuan adalah ketika sesuatu yang disajikan itu sebenarnya merupakan sebagian dari yang asli (seperti yang asli). Demikian juga bahwa para nabi palsu pun akan mengajar kebenaran tetapi tidak secara utuh. Pada bentuk yang ketiga ini, sebagian antikristus itu akan tampil secara terselubung menunggangi para nabi palsu untuk tujuan merongrong gereja dari dalam melalui pengajaran yang tidak utuh atau tidak sehat.

Ciri dari ajaran palsu yang akan digerakkan oleh antikristus itu diungkap oleh Yohanes pada ayat 5, “mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka”. Kita bisa melihat hal ini dalam penampilan gereja yang paling nyata saat ini, khususnya gereja-gereja aliran kharismatis yang tanpa disadari telah tertunggangi oleh teologia kemakmuran atau yang akrab disebut sebagai hypergrace. Teologia ini menyemangati para pendengar di gereja dengan janji-janji berkat lahiriah semata, seakan mengikut Kristus tidak perlu lagi penderitaan. Tuhan disembah hanya sebagai penyedia berkat materialis untuk dinikmati sepuas-puasnya dalam hidup ini. Ini adalah penyelewengan ajaran terfatal di gereja masa kini. Geraja bernafaskan ajaran seperti ini sangat digemari orang saat ini. Inilah yang dimaksud oleh Yohanes dengan kalimat “dunia mendengar mereka”. Karena sesungguhnya orang-orang Kristen yang menyukai pengajaran ini adalah orang-orang yang masih duniawi, atau yang ingin menikmati dunia ini sepuas-puasnya, bahkan tanpa sadar berharap bahwa dunia ini akan semakin baik atau menjadi sorga bagi mereka.

Lebih jauh Yohanes mengatakan dalam 2 Yohanes 7, bahwa ciri atau spirit yang akan ditularkan oleh antikristus bentuk yang ketiga ini melalui para penyesat atau nabi palsu adalah “tidak mengaku bahwa Yesus Kristus datang sebagi manusia”. Ucapan ini harus dicermati secara saksama bagaikan mengungkap suatu kode rahasia. Yohanes tidak berkata bahwa mereka “tidak akan mengaku bahwa Kristus adalah Tuhan”, melainkan “tidak mengaku Kristus telah datang sebagai manusia”. Kalimat ini mungkin ada kaitannya dengan paham sinkritis gnostisisme abad pertama yang menganggap tubuh lahiriah adalah sebagai sesuatu yang jahat, sehingga mengurangi keyakinan bahwa Yesus benar-benar telah datang sebagai manusia. Tetapi yang jauh lebih penting di sini adalah kewaspadaan kita terhadap tipuan pengajaran. Mereka akan tetap mengajarkan bahwa Yesus telah menjelma menjadi manusia, tetapi akan mengurangi artinya bagi kehidupan sebatas untuk menebus dosa manusia saja. Lalu dengan pemahaman ini dikembangkan suatu keyakinan bahwa kita tinggal menikmati hidup ini dengan berkat Tuhan tanpa perlu menderita lagi seperti Yesus.

Padahal Yesus telah mewariskan ajaran yang tegas dan jelas terkait penjelmaan-Nya kepada mudrid-murid-Nya. Esensi utama dari inkarnasi itu adalah perihal salib atau penderitaan, dan ajaran tentang tujuan keselamatan di dalam Kristus diadakan. Nilai-nilai inilah yang akan disamarkan oleh para nabi palsu. Karena arti yang paling hakiki dari kedatangan Yesus sebagai manusia adalah kesediaan-Nya menderita hingga mati di kayu salib, agar untuk selanjutnya diresponi oleh orang percaya dengan kesediaan menderita sama seperti Dia dan untuk Dia (2 Timotius 3:12; 1 Yohanes 2:6).

Salah satu bentuk pengajaran yang beredar di sebagian gereja dewasa ini adalah mengaburkan tujuan keselamatan hanya sebatas meluputkan orang dari neraka lalu diperkenankan masuk sorga. Banyak pendeta tidak sadar bahwa perkara masuk sorga itu adalah akibat dari terlaksananya proses keselamatan terlebih dahulu. Sorga bukanlah tujuan keselamatan melainkan akibat atau hasil akhir dari keselamatan itu. Tujuan keselamatan atau mengapa manusia perlu diselamatkan adalah merupakan suatu tindakan Allah, mulai dari proses penebusan, hingga proses mengembalikan manusia itu pada tujuan untuk apa mereka diciptakan.

Bukankah untuk mengetahui alasan mengapa suatu benda dianggap berharga dan diamankan, adalah dengan cara mengetahui fungsi atau tujuannya diadakan? Demikian jugalah cara yang tepat untuk mengetahui alasan mengapa manusia diselamatkan, yakni dengan cara mengetahui tujuannya diciptakan. Tujuan ini tentu harus kita telusuri dan temukan dari naskah-naskah Alkitab yang mengisahkan penciptaan manusia.

Tujuan penciptaan manusia secara gamblang dapat kita temukan dalam Kejadian 1:25,27. Allah berkata bahwa manusia diciptakan agar menjadi gambar dan rupa Allah di muka bumi ini. Proses penyempurnaan gambar dan rupa inilah yang sempat terkendala oleh kerusakan yang dilakukan oleh Iblis saat manusia jatuh ke dalam dosa. Untuk memahami konsep kesalamatan yang disinggung di sini memang memerlukan bahasan tersendiri. Hal ini disinggung sedikit di sini hanya untuk sekedar menyadarkan kita, bahwa ciri pengajaran sesat atau palsu yang akan ditularkan oleh antikristus ini melalui nabi palsu adalah, mengurangi nilai kebenaran tentang arti keselamatan yang sesungguhnya.

Sempitnya pemahaman tentang proses keselamatan ini memang disebabkan oleh penekanan atau manipulasi ayat-ayat Alkitab yang dikesankan, seakan dengan hanya percaya kepada Kristus saja maka manusia secara otomatis akan masuk sorga. Tetapi memang demikianlah antikristus akan berhasil menunggangi banyak nabi palsu untuk mencapai tujuannya. Gereja dengan nafas pengajaran janji-janji Tuhan tentang perlindungan, mujizat dan berkat lahiriah tak terbatas, saat ini paling banyak digandrungi oleh pencinta gereja.

Meskipun tentu saja tidak salah mengharapkan pertolongan Allah terkait berkat-berkat lahiriah melalui mujizat, tetapi mengajarkan pengharapan yang demikian secara tidak proporsional akan berakibat pada kerentanan menjadi korban penyesatan mesias palsu. Dengan penekanan ajaran yang tidak proporsional, orang-orang Kristen sedang dibius oleh nabi palsu agar meninggalkan esensi hakiki keristenan yang adalah membentuk karakter orang-orang percaya menjadi sempurna seperti Bapa (Matius 4:48). Karena terwujudnya kesempurnaan karakter ini, tidak mungkin tanpa melalui jalan salib atau penderitaan. Petrus berkata bahwa dengan memiliki pola pikir menderita seperti Kristus akan mendorong kita berhenti berbuat dosa (1 Petrus 4:1).

Sekarang menjadi jelas bahwa pengajaran mengenai ‘antikristus’ sebagaimana hal itu dinyatakan dengan istilah tersebut dalam dua kitab serial Yohanes, memiliki tiga bentuk:

  • Bentuk yang pertama adalah berupa nubuatan (futuristis) akan tampilnya satu pribadi, namun tidak dinyatakan secara jelas, apakah hal itu sudah digenapi atau belum saat Yohanes menullis suratnya.
  • Sedangkan bentuk yang kedua adalah banyak orang dan sedang terjadi. Mereka bisa merupakan orang Yahudi yang menolak Kristus, atau penganut Kristen yang murtad. Hal ini telah terjadi sejak abad pertama hingga kedatangan Yesus yang kedua kali nanti.
  • Bentu yang ketiga adalah bentuk terselubung yang terbonceng oleh para nabi palsu. Bentuk ini adalah bentuk roh atau pemahaman untuk merusak pengajaran alkitabiah yang murni, yakni tujuan keselamatan esensial dalam gereja akhir zaman.

Sejauh itulah yang dapat kita artikan secara sah perihal antikristus dari surat Yohanes. Kita tidak boleh menambahi dan tidak boleh mengurangi. Memang demikianlah disiplin penafsiran yang sehat. Tugas kita selanjutnya adalah melacak untuk memperjelas siapakah gerangan pribadi antikristus futuristis yang dinubuatkan dalam surat Yohanes itu? Untuk kepentingan ini maka kita bisa membuka diri melihat kemungkinannya dari sumber lainnya dalam Alkitab. Akan tetapi hal ini harus merupakan upaya pencocokan terhadap pengajaran Yohanes di atas. Artinya tidak boleh bertentangan dengan apa yang sudah di ajarkan Yohanes, karena bagian-bagian Alkitab lainnya tidak satupun yang menyebut istilah ‘antikristus’ dalam tulisan mereka.

Ada empat kitab dalam Alkitab yang dianggap terkait dengan pengajaran Yohanes perihal antikristus: Kitab Daniel, Injil Matius, Surat Paulus kepada jemaat di Tesalonika, dan Wahyu kepada Yohanes. Kita akan menyimak uraian ini sesuai urutan yang dianggap lebih dekat dengan surat Yohanes.

Wahyu 12 Dan 13

Kitab Wahyu adalah kitab yang paling dekat dengan kitab serial Yohanes karena telah ditulis oleh orang yang sama, yakni rasul Yohanes. Meskipun dalam kitab ini tidak tertera istilah ‘antikristus’, namun dua pasal dalam kitab ini telah secara nyata menjadi suatu keyakinan saat ini bahwa hal itu menyangkut antikristus. Salah satu pasal yang banyak ditafsir terkait topik ini adalah pasal 12.

Wahyu 12

Yang pertama perlu disadari dalam membaca kitab Wahyu adalah, bahwa kitab ini adalah kitab yang paling sulit dipahami dari semua kitab yang ada dalam Alkitab. Latar belakang aniaya besar yang dialami gereja mula-mula menjadi alasan mengapa kitab ini ditulis sarat dengan lambang-lambang. Tujuannya adalah untuk menyamarkan maksud yang ditulis sehingga tidak mudah dipahami masyarakat umum, namun pasti dapat dipahami jemaat mula-mula yang menjadi alamat atau tujuan surat ini. Itu sebabnya, pengetahuan latar belakang sejarah terkait kitab ini sangat dibutuhkan untuk dapat memahaminya secara maksimal. Hal lainnya yang juga perlu dipahami adalah bahwa gaya penulisan kitab ini tidak disusun secara berurutan menurut kronolgi waktu pasal demi pasal, sehingga sangat mungkin hal-hal yang terjadi diposisikan pada pasal-pasal yang tidak berurutan.

Meskipun ditemukan banyak kejanggalan, tetapi pada umumnya kitab Injil Yohanes, Surat 1-3 Yohanes, dan kitab Wahyu dianggap ditulis oleh orang yang sama, yakni rasul Yohanes, anak Zebedeus. Salah satu kejanggalan itu adalah, jika benar bahwa Yohanes yang menulis kitab Wahyu, dan jika pribadi yang dikaitkan dengan angka 666 dalam wahyu 13 ini adalah antikristus sebagaimana ditafsirkan oleh banyak orang saat ini, maka seharusnya Yohanes menyebutkan juga istilah ‘antikristus’ pada kitab wahyunya ini. Tetapi kejanggalan ini justru dapat dijadikan menjadi salah satu bukti logis terkait usaha merahasiakan berbagai petunjuk yang ada di dalam kitab ini.

Yang paling sulit dipahami dalam Wahyu 12 adalah penampakan perempuan hamil tua yang berselubungkan matahari, dengan bulan dibawah kaki, dan bermahkotakan dua belas bintang. Setidaknya ada tiga tafsiran yang beredar terkait sosok ini: Yang pertama ditafsirakan sebagai Maria yang mengandung Yesus, yang kedua adalah gambaran gereja Tuhan, dan yang ketiga adalah menggambarkan Allah Bapa. Setiap tafsiran tentu saja dengan argumen-argumen yang kokoh dan berlandaskan dukungan-dukungan naskah-naskah lainnya dari Alkitab. Memang setiap kita yang pada posisi sebagai pembaca masa kini, tidak bisa dihindari dari upaya menafsir dan berusaha menyajikan pendapat yang lebih logis. Tulisan inipun dibuat menjadi salah satu alternatif dalam cara pendekatan yang lebih logis. Dalam melakukan pendekatan, penulis berusaha memulai dari bagian yang mudah dimengerti, yakni sosok naga merah padam.

Pada ayat 9 sangat jelas dinyatakan bahwa naga itu adalah Iblis atau Setan. Dengan menggali segala yang dikisahkan perihal naga pada pasal ini, maka kita dapat melacak posisi dan waktu peristiwa yang dimaksud pada pasal ini. Naga ini dikatakan hendak menelan anak yang akan dilahirkan perempuan berselubung matahari itu. Oleh karenanya timbul peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang mengalahkan naga dan malaikat-malaikatnya (ayat 7). Jadi kita tahu bahwa persitiwa ini terjadi di sorga. Lalu naga dan para malikatnya dilemparkan ke bumi. Dari pernyataan ini kita dapat melacak kapan sesungguhnya peristiwa ini terjadi. Jawabannya dapat kita telusuri dari ayat-ayat selanjutnya.

Pada ayat 10-12 dikatakan ada suara nyaring di sorga yang menyatakan hasil dari peperangan tersebut, yakni saat keselamatan, kuasa dan pemerintahan Allah, dikuasakan kepada yang diurapi-Nya. Kemenangan itu dikatakan terjadi oleh darah Anak Domba dan oleh kesaksian orang-orang percaya yang mati karena Tuhan. Pernyataan ini memiliki keselarasan dengan Lukas 10:18 saat Yesus “melihat Iblis jatuh seperti kilat dari langit”. Kita juga bisa temukan kemiripan peristiwa ini dalam kitab Yesaya dan Yehezkiel. Bahwa sebelumnya kedua nabi ini telah menubuatkan hal ini dengan memakai raja Babel dan raja Tirus sebagai representasi Iblis (Yesaya 14:12-19; Yehezkiel 28:12-19). Sebenarnya hal ini merupakan hasil penafsiran dalam bentuk alegoris untuk mengungkap jati diri Lucifer yang adalah Iblis.

Jadi momentum kejatuhan Iblis dari sorga bisa kita katakan adalah pada saat pernyataan Yesus tersebut, atau paling tidak saat itu merupakan penglihatan profetis Yesus yang puncaknya terjadi pada peyaliban sebagai puncak kemenangan-Nya. Kebenaran ini didukung oleh naskah kitab Ayub 1:6; 2:1, yang memberi petunjuk bahwa sebelum kemenangan Yesus di Kalfari, Iblis masih leluasa berada di sorga. Kemenangan Yesus di Kalfarilah yang menjadi alasan penghakiman bagi dia untuk secara sah dilemparkan ke bumi. Dengan pemahaman ini berarti kita bisa menarik kesimpulan bahwa Wahyu pasal 12 ini telah tergenapi hingga pada tahap kejatuhan Iblis ke bumi, atau hingga ayat 12.

Selanjutnya pada ayat 13-17 dikatakan bahwa setelah naga itu terlempar ke bumi, maka ia marah dan memburu perempuan yang sudah melahirkan. Namun karena tidak berhasil maka akhirnya “pergi memerangi keturunannya yang lain, yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus”. Sepertinya kita tidak terlalu sulit untuk menafsirkan siapa yang dimaksud “keturunan yang lain” ini, karena siapa lagi yang menuruti hukum-hukum Allah dan memiliki kesaksian Yesus kalau bukan orang-orang percaya atau kekristenan (gereja Tuhan). Sekarang yang menjadi pertanyaan kita adalah, siapa gerangan keturunan perempuan yang lahir dari perempuan dan dibawa lari ke tahta Allah untuk diselamatkan dari naga itu (ayat 4,5)?

Untuk melacak siapakah sesungguhnya sosok Anak ini maka kita harus melihat peran-Nya yang disebutkan pada ayat 5, yakni “yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi”. Istilah ‘gada besi’ dalam naskah aslinya adalah rabdo sidera. Benda ini adalah tongkat yang biasa digunakan oleh seorang gembala dalam mengarahkan dombanya. Pemazmur mengungkap tentang Tuhan yang menghibur umat gembalaan-Nya dengan gada dan tongkat (Mazmur 23:1-4). Penambahan kata ‘besi’ pada istilah tersebut bukanlah menujukkan suatu kekejaman, melainkan kekokohan atau ketegasan dalam mendidik domba gembalaan dan dalam menghadapi usaha si jahat. Justru hal itu memberi rasa aman bagi domba yang dilindungi. Siapa lagi sosok yang bisa diartikan sebagai pribadi yang akan memerintah kelak dengan cara yang demikian kalau bukan Yesus Kristus. Jadi Anak yang dilahirkan itu adalah Yesus Kristus. Pesoalannya adalah mengapa Ia dirampas dan dibawa lari ke tahta Allah? Di sinilah dibutuhkan kecerdasan oleh pemahaman yang telah memadai tentang Alkitab.

Kita harus memahami bahwa keputusan Allah Bapa ketika hendak melepas Putera Tunggal-Nya untuk menjelama menjadi manusia adalah ancaman utama bagi Iblis. Karena misi penjelmaan Allah Anak menjadi manusia adalah misi penyelamatan manusia yang mengancam masa depan kerajaan Iblis. Bagi Anda yang memahami arti keselamatan yang sejati, maka Anda akan paham bagaimana Iblis akan selau berusaha menggagalkan rencana tersebut. Jadi dia akan berusaha menggagalkan rencana itu sedini mungkin. Berlandaskan penyingkapan ini maka kita akhirnya bisa memprediksi bahwa peristiwa pada Wahyu 12 ini terjadi dalam lima fase:

Fase pertama adalah keputusan Allah Bapa untuk mengutus Anak-Nya menjadi manusia dalam rangka misi penyelamatan manusia (ayat 1,2).

Fase kedua adalah masa Iblis berdiri di hadapan perempuan (ayat 3,4). Iblis yang telah memberontak sejak waktu yang tidak kita ketahui, akhirnya bereaksi dengan cara “berdiri (boleh dikatakan seperti mengincar) di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu untuk menelan Anaknya”. Masa mengincar ini adalah masa usaha menggagalkan rencana Allah Bapa melalui Allah Anak. Selama masa ini Iblis berulangkali berusaha mengganggu Yesus agar kematian-Nya di kayu salib tidak terealisasi sebagaimana mestinya.

Kita bisa mengetahui dari Injil bagaimana genting-Nya masa-masa perjuangan Yusuf dan Maria melindungi bayi Yesus dari usaha pembunuhan Herodes sebelum saatnya harus dibunuh di kayu salib (Matius 2). Usaha penggagalan rencana Allah itu juga dilakukan Iblis saat mencoba membujuk Yesus agar tidak meneruskan misi-Nya ketika berpuasa 40 hari (Matius 4:1-11). Berlanjut dalam upaya bujukan Petrus yang sudah ditunggangi Iblis agar tidak menyerahkan diri pada orang-orang yang akan menyalibkan-Nya (Matius 8:31-33). Masih berlanjut pada usaha perlawanan Petrus pada peristiwa penangkapan Yesus (Matius 26:47-54). Dan pada puncaknya adalah detik-detik eksekusi salib ketika seorang penjahat yang ikut disalibkan membujuk Dia untuk melepaskan mereka dari kematian (Lukas 23:39).

Jadi durasi waktu Iblis berdiri (mengincar) ini terhitung sejak Yesus dikandung sebagai manusia hingga kenaikan-Nya ke Sorga. Peristiwa yang diutarakan dalam ayat 4 dan 5 bukanlah peristiwa seketika. Ingat bahwa kalimat-kalimat dalam ayat ini adalah merupakan penggambaran.

Fase ketiga adalah peristiwa penyelamatan Anak serta ibunya ke arah yang berbeda: Anakanya dibawa lari ke sorga, sedang ibunya lari ke padang gurun (ayat 5,6). Tentang pernyataan “dibawa lari kepada Allah (sorga)” sudah jelas bahwa tidak ada seorangpun yang pernah naik ke sorga dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa kecuali Yesus Kristus (Kisah 1;10-11; Markus 16:19). Peristiwa ini adalah saat kenaikan Yesus ke sorga. Arti kata “tiba-tiba” pada ayat wahyu ini tidak menujukkan peristiwa seketika Yesus lahir, melainkan hendak memperlihatkan reaksi Iblis yang tidak menyangka akan kemenangan Yesus dan sahnya Yesus sebagai pemegang mandat kuasa Allah Bapa.

Jadi peristiwa Anak dibawa lari kepada Allah (sorga) tidak harus diartikan sebagai dalam kondisi bayi. Karena tidak ada sedikitpun penjelasan logis alkitabiah yang mendukung adanya kenaikan Yesus saat bayi ke sorga, juga tidak akan logis apabila ayat inipun dianggap sebagai gereja Tuhan. Karena gereja Tuhan tidak akan di bawa ke sorga sebelum masa penghakiman. Jadi masa Iblis berdiri itu adalah rentang waktu Yesus dalam kandungan hingga kenaikan-Nya ke sorga. Oleh karenannya Iblis marah dan pergi berperang ke sorga.

Sedangkan ibunya diselamatkan dengan cara yang berbeda, yakni berlari ke padang gurun selama “seribu dua ratus enam puluh hari” (ayat 6), yang sama dengan “satu masa dan dua masa dan setengah masa” (ayat 14). Kita harus jujur karena memang sulit memahami maksud pernyataan penuturan waktu ini. Meskipun demikian, sebagai kemungkinan yang menjadi artinya akan dijelaskan pada fase kelima.

Yang bisa kita tafsirkan sejauh ini adalah mengenai padang gurun. Istilah padang gurun tidak pernah menggambarkan suatu tempat kenyamanan atau kesenangan dalam seluruh nafas Alkitab. Kita teringat dengan bangsa Israel yang diselamatkan oleh Tuhan dari Firaun dengan membawa mereka ke padang gurun. Di sana mereka dipelihara dengan cara dididik dengan berbagai masalah. Yesus juga dicobai Iblis selama 40 hari di padang gurun. Jadi pemeliharaan perempuan itu di padang gurun hanyalah dalam rangka penyelamatan dari jangkauan Iblis, bukan untuk suatu kenyamanan. Jadi tafsiran yang mengaggap bahwa ibu maupun Anak itu adalah gereja Tuhan yang akan dilindungi dari antikristus di padang gurun selama tiga setengah tahun, harus dikoreksi ulang.

Fase keempat adalah peperangan di sorga dan momentum penghukuman tahap pertama untuk Iblis (ayat 7-9). Momentum inilah yang dilihat oleh Yesus secara profetis pada Lukas 10:18. Sorga dibersihkan dari Iblis serta malaikat-malaikatnya. Kita bisa mengerti bahwa sebelum peperangan tersebut, atau sebelum kemenagan Yesus di Golgata, sebelumnya Iblis masih bebas masuk ke sorga. Hal ini terkonfirmasi dalam kitab Ayub. Bahwa ketika anak-anak Allah (para malaikat) datang menghadap Allah, maka Iblis juga ikut serta (Ayub 1:6; 2:1).

Fase kelima adalah kemarahan naga karena kekalahannya, sehingga pergi memerangi orang-orang percaya atau kekristenan (ayat 17). Itulah masa aniaya terhadap orang percaya yang berlangsung hingga akhir zaman. Tetapi puncak aniaya itu tercatat oleh sejarah sejak kenaikan Tuhan Yesus hingga masa pemerintahan sebelum kasiar Romawai, Konstantinus Agung (324-337). Ungkapan ‘masa’ pada zaman Alitab, bisa saja diartikan dalam tiga pengertian: Yang pertama sebagai tahun, yang kedua sebagai abad, dan yang ketiga sebagai waktu tertentu yang tidak terikat dengan durasi. Jadi “satu masa dan dua masa dan setengah masa” juga bisa diartikan sebagai tiga setengah abad. Jika demikian maka tafsiran ini cocok dengan kurun waktu kenaikan Yesus hingga pemerintahan Konstantinus Agung yang hampir memakan waktu tiga setengah abad. Inilah aniaya terbesar bagi kekristenan sepanajang sejarah.

Memang aniaya terhadap kekristenan akan tetap berlanjut hingga akhir zaman, namun akan bersifat sporadis di tempat-tempat tertentu. Tidak lagi berskala besar atau menyeluruh. Bahkan besar kemungkinan bentuk aniaya fisik bagi kekristenan akan semakin berkurang seiring kemajuan berpikir manusia yang dikawal oleh HAM (Hak-Hak Azasi Manusia). Indikasi yang menujukkan teori ini dari Alkitab diucapkan oleh Yesus sendiri pada Matius 24:37-39, bahwa menjelang kedatangan Tuhan keadaan dunia akan seperti pada zaman Nuh, ketika orang melanjutkan kehidupan normal dan damai sehingga sibuk dengan makan dan minum serta kawin dan mengawinkan. Paulus juga mengatakan bahwa hari Tuhan datang seperti pencuri, saat semua orang merasa damai dan aman (1 Tesalonika 5:1-3).

Jadi sejauh ini tentang sosok perempuan itu masih menjadi misteri. Maria bukanlah sosok yang cocok dengan penyingkiran ke padang gurun. Tidak ada kisah yang mengatkan bahwa Maria berada di padang gurun selama tiga setengah tahun. Apabila diterapkan sebagai gereja Tuhan, maka akan bermasalah dengan perannya yang melahirkan Yesus. Karena gereja tidak melahirkan Yesus, melainkan Yesuslah yang melahirkan gereja. Hal itu juga bertentangan dengan istilah “keturunanya yang lain” yang diperangi oleh Iblis selanjutnya, yang justru adalah gereja Tuhan. Jadi penafsiran penyingkiran gereja Tuhan ke padang gurun adalah tidak beralasan dan dengan demikian hal itu tidak akan ada. Juga sangat janggal kalau diterapkan sebagai Allah Bapa, karena tidak mungkin Allah Bapa berlari ke padang gurun untuk menyelamatkan diri dari kejaran Iblis.

Menyimak paparan di atas maka kita bisa mengambil dua kesimpulan: Yang pertama adalah bahwa dalam Wahyu 12 ini tidak ditemukan adanya eksistensi antikristus. Yang kedua adalah bahwa teori pengangkatan gereja Tuhan pada masa aniaya antikristus selama tiga setengah tahun, sama sekali tidak terbukti melalui pasal ini. Juga tidak ditemukan isu akan adanya pemerintahan antikristus sebagai penguasa tunggal atas dunia dalam pasal ini. Kini kita beralih ke Wahu 13.

Wahyu 13

Pada ayat 1a dikatakan bahwa naga itu akhirnya tinggal berdiri di pantai. Ini adalah posisi mengatur strategi untuk melakukan serangan kepada keturunan perempuan yang lain seperti yang sudah dijelaskan pada pasal 12. Pantai menggambarkan suatu pangkalan sebagai basis untuk menyusun strategi dan kekuatan yang bersumber dari dua potensi terbesar dunia kita, yakni laut dan darat. Dari sana Iblis akan menghadirkan dua kekatuan besar yang akan diungkap dalam pasal 13 ini. Pada pasal ini ditampilkan dua sosok binatang yang muncul dari laut dan dari bumi:

Binatang yang pertama muncul dari laut (ayat 1b-10). Bentuknya seperti macan tutul, kakinya sepeti kaki beruang, mulut seperti mulut singa, berkepala tujuh yang bertuliskan nama-nama hujat, dan bertanduk sepuluh yang dilengkapi dengan mahkota. Kepada binatang ini naga mengimpartasikan kuasa dan memberi tahtanya. Tetapi binatang ini memiliki kelemahan, yakni luka berbahaya di salah satu kepalanya, namun akhirnya dapat sembuh. Kesembuhan luka tersebut menimbulkan kekaguman sehingga seluruh dunia mengikutinya untuk menyembah naga dan juga binatang itu. Dengan mulut sombongnya menghujat Allah dan berperang melawan orang-orang kudus serta menguasai setiap suku, umat, bahasa dan bangsa. Orang-oang yang bukan umat pilihan akan tunduk menyembahnya, Bagi yang tidak menyembah akan mengalami resiko siksaan atau dibunuh. Kuasa ini diberikan kepada binatang itu selama empat puluh dua bulan lamanya (tiga setengah tahun), yang bisa diacu pada tiga setengah abad masa aniaya besar sebelum Konstantinus naik tahta.

Melihat ciri binatang yang digambarkan pada pasal ini juga memiliki mulut sombong untuk menghujat Allah dan memerangi orang-orang kudus, maka kita bisa menafsirkan bahwa sosok ini adalah kontra Allah, dan oleh karenanya bisa disebut antikristus. Binatang ini dikatakan memperoleh kesembuhan luka dikepalanya dan memperoleh kuasa dari Iblis. Kepala adalah tempat otak, yang bisa melambangkan pikiran atau kejiwaan. Demikianlah naga itu telah menguasai pikiran atau jiwa bianatang ini sehingga menjadi alat yang efektif untuk dikendalikan. Jadi dalang dari antikristus untuk mengadakan aniaya besar terhadap kekristenan adalah Iblis.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapa sosok pribadi dan kapan aksi antikristus ini terjadi? Untuk menjawab pertanyaan ini sebaiknya kita langsung melangkah pada uraian ayat-ayat selanjutnya, yang adalah kemunculan sosok binatang yang kedua. Karena sosok ini memiliki peran menaikkan tingkat peran binatang pertama (antikristus) itu, sekaligus memunculkan sosok pribadi antikristus yang dinubuatkan Yohanes dalam 1 Yohanes 2:18.

Binatang yang kedua keluar dari bumi dalam bentuk seperti anak domba, namun bertanduk dua dan berbicara seperti singa. Dalam Alkitab domba selalu menggambarkan Yesus atau umat Allah. Tetapi domba yang dilihat Yohanes ini bertanduk dan berbicara seperti singa. Hal ini sesungguhnya menujukkan jati diri yang tidak utuh dan perannya dalam melakukan pemalsuan. Pada Matius 7:15 Tuhan Yesus pernah memperingatkan agar waspada terhadap “nabi-nabi palsu yang akan datang … menyamar seperti domba”.

Kemudian pada ayat 13 dan 14 dikatakan bahwa tugas binatang ini adalah menyesatkan orang dengan tanda-tanda ajaib. Yesus juga telah memberi petunjuk tentang salah satu ciri dari nabi-nabi palsu adalah mengadakan tanda-tanda dahsyat dan mujizat-mujizat (Matius 24:24).

Kita tahu bahwa nabi palsu telah tampil sejak zaman Perjanjian Lama (PL). Semua hadir untuk tujuan menyesatkan umat dari penyembahan yang benar. Semua memiliki keunikan dan kelebihan yang dipakai untuk menarik perhatian dalam rangka upaya penyesatan. Nabi palsu tidak akan pernah lenyap dan akan tetap ada hingga zaman yang paling akhir. Akan tetapi peran nabi palsu yang ada dalam Wahyu 13 ini memiliki misi khusus untuk meningkatkan kualitas eksistensi binatang yang pertama (antikristus), yakni mengerahkan orang untuk mendirikan patungnya. Dari sejarah bisa kita amati bahwa patung sangat identik dengan pemujaan. Sosok pemeran antikristus pada Wahyu 13 ini akan tampil sebagai sosok yang populer dan dipuja dengan segala prestasinya. Prestasi ini tidak luput dari peran tampilnya nabi-nabi palsu saat itu.

Terus terang kita sangat kekurangan informasi untuk bisa menyingkap sosok pribadi nabi palsu yang dimaksud pada pasal ini dan sejauh apa perannya dalam mendukung sosok pribadi antikristus (binatang pertama). Maraknya pengajar-pengajar palsu pada era rasul sudah sangat terlihat pada tulisan Paulus (2 Tesalonikan 2:1,2), namun tidak mengungkap adanya satu sosok yang dapat dikaitkan secara langsung dalam perannya medukung prestasi si antikristus yang dimaksud. Yang pasti pengkhiantan seperti yang dilakukan oleh Yudas Iskariot terhadap Yesus adalah sesuatu yang lazim pada masa aniaya.

Praktek demonstrasi tanda-tanda ajaib atau mujizat oleh para nabi palsu tidak selalu harus diartikan melakukan kesembuhan atau kebangkitan orang mati seperti yang dilakukan Yesus. Pengaruh oleh prestasi mengagumkan sehingga diikuti oleh banyak orang adalah hal yang lazim hingga kapanpun, termasuk pada zaman yang dilukiskan pada pasal ini. Oleh karena itu sangat mungkin ada tokoh nabi palsu yang berpengaruh, namun tidak tercatat dalam Alkitab, yang memberi dukungan secara langsung pada tampilnya sang antikristus pada pasal ini.

Pada ayat 14 akhirnya Yohanes menjelaskan siapa sesungguhnya sosok “seorang antikristus” yang dapat kita hubungkan dengan suratnya (1 Yohanes 2:18). Maksud mendirikan patung antikristus untuk disembah pada ayat-ayat tersebut tentu saja bukan patung secara fisik, melainkan figur yang sangat dikagumi dan yang menjadi personifikasi antikristus pada waktu itu. Dikatakan bahwa binatang yang kedua (nabi palsu) itu memberi nyawa kepada patung binatang yang prtama (antikristus) itu sehingga bisa berbicara dan bertindak untuk membunuh setiap orang yang tidak tunduk menyembahnya (ayat 15). Ini menggambarkan pengkhianatan para nabi palsu dan orang-orang yang murtad kepada saudara-saudara Kristen pada saat peristiwa ini terjadi.

Kebijakan binatang yang pertama (antikristus) ini setelah diberikan nyawa adalah, pemberian tanda pada dahi atau lengan pada para pengikutnya (ayat 16,17). Pemberin tanda inipun tidak boleh diartikan dalam pengertian harafiah, melainkan dalam pengertian tanda loyalitas dan pengabdian untuk tujuan mendapatkan hak-hak keuntungan ekonomi yang disebut sebagai hak menjual dan membeli. Ayat ini sering ditafsirkan keliru oleh penafsir modern sebagai penyematan micro chip di dahi atau lengan pada pemerintahan antikiristus di akhir zaman. Teknologi micro chip yang ada saat ini tidak ada kaitannya dengan peristiwa ini. Lalu kapan sesungguhnya hal ini terjadi? Jawabnya adalah pada dua ayat terakhir.

Pada ayat 17,18 dikatakan bahwa binatang yang pertama (pribadi antikristus) itu dapat diidentifikasi dengan cara “menghitung (menjumlah) bilangan nama binatang itu”, yang akhirnya menghasilkan jumlah “enam ratus enam puluh enam”. Jadi yang dimaksud di sini bukanlah wujud simbol angka yang terlihat dalam bentuk tulisan ‘666’, melainkan jumlah aksara nama dari pribadi penyandang nama tersebut. Apabila aksara yang menyusun nama itu dijumlah, maka hasilnya menjadi enam ratus enam puluh enam.

Kita harus selalu sadar bahwa kitab Wahyu ini telah ditulis dengan banyak sandi sebagai suatu cara agar sedapat mungkin merahasiakannya bagi masyarakat umum. Namun juga harus disadari bahwa para pernerima pertama surat ini, yakni pemimpin Kristen mula-mula pasti dengan mudah memahami maksudnya. Sebab kalau yang dimaksud adalah suatu lambang yang tertulis dengan angka 666, maka hal itu tidak lagi merupakan rahasia, dan tidak diperlukan hikmat untuk menghitungnya. Makanya Yohanes tidak berkata, “lihat, lambangnya adalah 666”, tidak demikian, melainkan menyuruh pembaca agar “menghitung bilangan binatang itu” (bilangan namanya).

Kita bersyukur bahwa para ahli masa kini telah dapat mengukap rahasia yang telah terlupakan selama ribuan tahun tersebut. Menurut para ahli, meskipun kitab Wahyu ditulis dalam bahasa Yunani, namun penghitungan bilangan nama yang dimaksud dalam Wahyu 13 ini adalah dalam aksara Ibrani. Hal itu dapat diterima mengingat upaya merahasiakan maksud tulisan ini. Juga karena penulis maupun penerima surat ini adalah orang-orang Kristen perdana yang masih banyak merupakan orang-orang Yahudi, sehingga mereka pasti dengan mudah menangkap maksudnya.

Setiap huruf Ibrani itu memiliki nilai angka. Dengan saran menghitung bilangan nama binatang itu, maka para penerima surat ini dengan mudah dapat menebak pribadi yang dimaksud adalah KAISAR NERO, yang kalau ditulis dalam bahasa Ibrani maka susunannya menjadi NERON QESAR. Bahasa Ibrani kuno tidak memliki huruf hidup atau vokal, jadi yang dihitung adalah huruf mati atau konsonannya. Dalam hal ini adalah: N=50, R=200, V=6, N=50, Q=100. S=60, R=200, jumlah totalnya adalah 666. Jadi orang Kriten mula-mula langsung paham bahwa yang dimaksud Yohanes bukanlah lambang 666, melainkan NERON QESAR (kaisar Nero).

Nero adalah anak dari seorang administrator Negara yang korup dan sering membunuh orang lain demi menutupi kesalahanya. Ibunya adalah seorang wanita cantik berambisi kekuasaan dan menggunakan kecantikannya untuk mendapatkan suami-suami demi mencapai keinginannya, hingga pada akhinya menjadi permaisuri bagi kaisar Claudius. Demi ambisinya untuk menjadi penguasa, akhinya meracuni Claudius untuk memberi tahta kepada Nero yang masih muda. Lingkungan keluarga yang rusak ini telah membentuk pendidikan buruk yang mempengaruhi jiwa Nero. Hal ini cocok dengan yang digambarkan pada ayat 3 sebagai luka yang terjadi pada kepala yang membahayakan hidupnya, namun yang untuk sementara dinyatakan sembuh.

Nero adalah kaisar yang sangat fokus dalam usaha perdagangan untuk meningkatkan kualitas ekonomi Negara disamping usaha lainnya seperti seni dan sport. Menurut sejarawan Tacitus, Nero berambisi mendirikan kota Roma baru sehingga membakar kota Roma yang ada. Untuk menutupi muslihatnya, ia mengkambinghitamkan orang-orang Kristen sebagai penyebabnya, dengan alasan bahwa orang Kristen meyakini dunia ini akan terbakar oleh api (neraka) agar bisa masuk pada dunia yang baru (sorga). Tuduhan ini menjadi alasan bagi dia memabantai begitu banyak orang Kristen dengan cara biadab. Ada yang dipertontonkan di arena untuk diadu dengan biantang buas dan dijadikan tiang api di sekeliling stadion untuk pertunjukan di malam hari. Diduga Paulus dan Petrus juga meninggal pada aniaya besar ini. Karena kegilaannya, ia juga akhirnya membunuh ibu, adik dan isteri-isterinya. Pada akhirnya setiap orang yang dia curigai dibunuh dengan cara-cara biadab.

Untuk memenuhi selera liarnya, kas Negara yang diwarisi dari pemerintah sebelumnya dan yang didapatkan dari usahanya sendiri segera ludes. Jadi untuk memenuhi kebutuhan ambisi-ambisi selanjutnya, maka ia tidak segan-segan lagi melakukan usaha-usaha yang menyengsarakan rakyat. Hal ini cocok dengan pernyataan ayat 16 dan 17 tentang hak jual-beli dengan tanda dirinya. Artinya kebijakan ekonomi akan sangat tergantung pada kepentingan dan keputusannya, dan yang sudah tentu sangat berdampak menyengsarakan rakyat pada waktu itu. Penderitaan rakyat serta penumpahan darah yang semena-mena menimbulkan rasa muak dari berbagai pihak, termasuk lembaga-lembaga Negara yang memicu pemberontakan dan akhirnya keputusan hukuman mati atas dirinya. Ahirnya ia melarikan diri dan bunuh diri.

Jadi sosok pribadi dalam sejarah yang pernah dikaitkan dengan angka atau bilangan “enam ratus enam puluh enam” (bukan simbol “666), adalah kasiar Nero, dengan nama lengkap Nero Claudius Caesar Agustus Germanicus, yang memerintah tahun 54-68. Kiprahnya yang bersimbah darah orang-orang Kristen memang cocok jika dihubungkan dengan nubuat Yohanes dalam suratnya 1 Yohanes 2:18 sebagai sosok antikristus dalam bentuk tunggal dan sebagai penguasa dunia.

Dengan demikian sejauh ini kita bisa simpulkan bahwa nubuat Yohanes tentang pribadi tunggal antikristus, baik dalam suratnya, maupun ketika dirujuk pada kitab Wahyu 13, sudah tergenapi atau terjadi. Akan tetapi agar tidak menjadi penasaran dan untuk menambah wawasan tentang naskah-naskah lain yang sering dikaitkan penafsir modern dengan sosok antikristus yang akan datang, maka sebaiknya kita meninjau kitab-kitab tersebut. Salah satu di antaranya adalah kitab Daniel.

Daniel 7

Daniel pasal 7 adalah kitab terdahulu yang sering dikaitkan oleh para penafsir modern dengan figur utama yang dianggap menjadi pemimpin utama antikristus di akhir zaman. Tentu saja dalam kitab ini juga tidak ada terminologi ‘antikristus’, mengingat kitab ini ditulis jauh sebelum Yesus Kristus datang ke dunia. Justru kitab Daniel inilah yang menjadi salah satu inspirator munculnya pengharapan tokoh “yang diurapi” atau Mesias dalam bahasa Ibrani, dan Kristus dalam bahasa Yunani, pada paska pembuangan bangsa Israel ke Babel.

Adanya kemiripan penyebutan “satu masa, dua masa, dan setengah masa” dan lambang-lambang dalam kitab Daniel 7 dengan kitab Wahyu 12-13, mendorong para penafsir modern mengaitkan kedua naskah ini dengan isu antikristus. Meskipun sebenarnya kedua naskah ini tidak menyinggung sedikitpun istilah ‘antikristus’ sebagaimana diutarakan oleh Yohanes dalam kedua surat serialnya. Oleh karena itu, sama dengan pentingnya mengadakan pendekatan pada kitab Wahyu, maka juga sangat perlu untuk mendalami Daniel pasal 7 ini secara cermat, supaya dengan demikian kita dapat melihat sejauh mana keterkaitan antara naskah ini dengan isu antikristus.

Penglihatan Daniel pada pasal ini menampilkan empat jenis binatang yang muncul dari laut. Binatang-binatang ini dibeberkan mulai dari ayat 4-8, yang artinya dijelaskan pada ayat 17 dan seterusnya. Dari penjelasan yang diperoleh Daniel, ke-empat binatang yang menggambarkan raja-raja kuno yang pernah paling berkuasa di dunia ini dapat dibuktikan secara historis. Raja-raja itu adalah para penguasa dari Babel, Media, Pesia, dan Makedonia (Yunani).

Binatang keempat dinyatakan sebagai yang berbeda dari binatang-binatang sebelumnya. Arti perbedaan di sini dapat dibuktikan dari kegenapannya, karena sesungguhnya Alexander Agung adalah raja pertama dari Makedonia yang berkuasa dengan sistem dominasi dunia dalam bentuk kekasiaran. Raja-raja (10 raja) yang mau diajak bekerja sama dibiarkan tetap berdiri di bawah otoritas pemerintahannya. Sukses dari kekaisaran pertama ini adalah penyebaran budaya helenis yang berpengaruh hingga ke kaisaran Romawi selanjutnya. Warisan yang kita peroleh dari budaya tersebut adalah bahasa Yunani yang merupakan bahasa yang dipakai menulis Alkitab Perjanjian Baru.

Alexander meninggal tanpa pewaris sehingga kekaisaran dipimpin oleh para Diadokh. Karena persaingan antara para jenderalnya, akhirnya kekasiaran ini terbagi menjadi empat kekasiaran yang tetap membawa helenisasai ke seluruh dunia, yakni: Makedonia, Petlomaik, Pergamon, dan Seleukuia. Dari dinasti Seleukuia inilah kemudian muncul seorang raja yang tangkas dan kejam bernama Antiokhos IV Epifanes (175-164 SM), putera dari Antiokhos III. Dialah si tanduk kecil yang menyebabkan robohnya tiga tanduk atau kekasisaran lainya pada ayat 8, 20,21,24,25.

Sejarah mencatat bahwa dalam upaya menyebar helenisasi, Anthiokos Efipanes telah memaksa semua orang mempersembahkan korban bagi dewa-dewa Yunani, yang memicu kemarahan dan pemberontakan orang Yahudi. Dalam kemarahan terhadap pemberontakan Yahudi, ia akhirnya menempatkan altar dewa Zeus Olympus di atas altar Bait Allah dan meletakkan daging babi sebagai sesajen pada tanggal 25 Kislew 168 SM. Masa peperangan dan aniaya terhadap orang Yahudi oleh Anthiokos Efipanes diperkirakan sekitar tiga setengah tahun (satu masa + dua masa + setengah masa). Dengan demikian Anthiokos Efipanes sebenarnya telah menggenapi nubuat Daniel dalam hal “berperang melawan orang-orang kudus” dan “menentang Yang Mahatinggi”. Jadi Anthiokos Efipanes bukanlah antikristus yang disebut oleh Yohanes dalam suratnya. Oleh karena itu kaitan masa-masa ini dengan masa-masa yang disebut dalam kitab Wahyu harus dikaji ulang. Karena kesamaan penyebutan tidak selalu harus memiliki kaitan dan oleh karenanya tidak boleh dipaksakan sebagai sesuatu yang memiliki kaitan.

Dengan pemberontakan orang Yahudi, perlawanan kepada Anthiokos Efipanes semakin menjalar ke mana-mana. Tentaranya mengalami banyak kekalahan dan menjadi awal keruntuhan penguasaan wangsa Yunani atas dunia. Beredar rumor bahwa penyebab kehancuran dan kematian Anthiokos Efipanes diyakini sebagai akibat kejahatannya dalam menjarah dan memperlakukan Bait Allah secara semena-mena. Akhir dari dominasi Yunani adalah merupakan masa-masa persiapan dominasi Romawi yang pada awal kejayaannya, Yesus Kristus turun ke dunia sebagai manusia, dan yang pada masa kejayaan itu pula kekristenan berkembang pesat walau dalam aniaya besar. Menjadi suatu kerajaan yang terselubung, kekristenan menyebar luas dan yang pengaruhnya jauh melebihi pengaruh kekaisaran yang sedang berkuasa.

Terbukti bahwa pemaparan di atas selaras dengan ayat 9-14 dan penjelasannya pada ayat 18,22,26,27 kitab Wahyu ini. Pada ayat-ayat tersebut dinyatakan bahwa Yang Lanjut Usianya, dalam hal ini adalah gambaran Allah Bapa, membunuh si tanduk kecil itu. Dalam waktu itu kekuasaan Allah Bapa juga diberikan kepada seorang seperti anak manusia yang adalah gambaran Allah Anak (Yesus Kristus) yang akan memerintah bersama dengan orang-orang kudus selama-lamanya, yang sebenarnya adalah pemerintahan Kerajaan Allah. Untuk bisa melihat bahwa ayat-ayat inipun sudah digenapi maka kita harus mengerti yang dimaksud dengan ungkapan “Kerajaan Allah”.

Kerajaan Allah yang adalah pemerintahan Yesus Kristus bersama orang-orang kudus sesungguhnya ada dalam dua dimensi atau yang berlangsung dalam dua fase:

  1. Dimensi pertama adalah kerajaan Allah yang turun ke bumi. Konsep ini tertuang dalam “Doa Bapa Kami” yang diajarkan oleh Yesus (Matius 6:10). Momentumnya terjadi sejak Yesus berkata bahwa “Kerajaan Allah telah datang” (Matius 12:28), yakni Kerajaan Allah dalam bentuk kuasa (Markus 9:1). Kerjaan Allah pada dimensi ini adalah masa persiapan atau pembentukan pribadi-pribadi orang percaya selama di dunia agar layak memerintah bersama Yesus pada Kerjaan Allah pada dimensi yang kedua di sorga kelak. Dalam sejarah dunia, tidak ada satu kepercayaan agamis selain kekristenan yang mengejawantahkan dalam kehidupan bersama maupun personal, bersedia mempersembahkan seluruh hidup bagi seorang Raja Abadi, yakni Yesus Kriatus, itulah kekristenan, dan itulah Kerajaan Allah dalam dimensi pertama.
  2. Dimensi yang kedua adalah kelanjutan dari dimensi pertama, yakni Kerajaan Allah di sorga yang bersifat kekal nanti, setelah Tuhan Yesus datang kembali ke dunia ini.

Dengan penjelasan di atas, maka nubuat Daniel ini sebenarnya telah digenapi dan tidak ada kaitanya dengan antikristus yang dikemukakan oleh Yohanes dalam kedua suratnya. Apabila ayat-ayat ini hendak dikaitkan dengan sosok pribadi yang akan datang, maka yang bisa dilakukan hanyalah sebatas penafsiran alegoris. Dalam hal ini ayat 7-8 dan 23-27 dilepaskan dari konteks historisnya untuk diambil makna simbolisnya. Dalam hal ini Anthiokos Efipanes dijadikan model pribadi yang akan muncul lagi di akhir zaman. Apabila ini bisa diterima, maka kita bisa melacak kaitan nubuat Daniel ini dengan kitab lain dengan cara menghubungkannya dengan kitab yang memiliki kesamaan dalam penuturan. Dalam hal ini adalah Injil Matius, ketika Yesus mengutip secara langsung kitab Daniel ini.

Matius 24

Naskah Perjanjian Baru yang langsung dikaitkan dengan nubuat Daniel di atas adalah perkataan Yesus dalam Matius 24:15. Dalam ayat tersebut Yesus bernubuat tentang akan munculnya sosok “Pembinasa keji yang berdiri di tempat kudus, menurut firman yang disampaikan oleh nabi Daniel”. Dari uraian Daniel pasal 7 di atas kita telah mengetahui bahwa figur yang melecehkan Bait Allah pertama kali sejak masa pembuangan adalah Anthiokos Efipanes. Jika dikaitkan dengan ucapan Yesus ini, maka figur seperti Anthiokos Efipanes akan muncul kembali di akhir zaman. Dalam hal ini Anthiokos Efipanes hanya merupakan personifikasi untuk menggambarkan karakteristik figur yang dinubuatkan oleh Yesus ini.

Jika kita periksa naskah awal Matius 24:1,2, maka sebenarnya Yesus sedang bernubuat tentang kehancuran Bait Allah. Sejarah mencatat bahwa setelah kehancuran Bait Allah pertama kali yang dilakukan oleh Nebukadnezar pada tahun 586 SM, maka tokoh yang menghancurkan Bait Allah kedua sehingga tidak pernah berdiri lagi hingga saat ini adalah pasukan jenderal Titus Dari Roma pada tahun 70. Jadi kaitan penggambaran figur Anthiokos Efipanes dengan Titus bukanlah dalam hal penghancuran Bait Allah, melainkan pada karakter kekejaman dan pelecehan Bait Allah. Banyak sumber luar yang mengisahkan peristiwa itu sebagai petaka paling berdarah yang cocok dengan istilah “Pembinasa keji” seperti yang dikatakan Yesus. Gambaran kengerian ini dilukiskan oleh Yesus pada ayat 15-26. Ada sumber luar yang dijadikan bahan tafsir bahwa banyak orang Kristen yang luput dari pembantaian berdarah ini karena telah diperingatkan oleh nubuat Yesus ini sebelumnya.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa peristiwa tersebut juga masih terkait dengan kekristenan mula-mula, mengingat pada awalnya kekristenan hanyalah sebagai salah satu sekte Yudaisme yang masih menggunakan fasilitas-fasilitas ibadah seperti sinagoge-sinagoge dan Bait Allah sebagai sarana peribadatan pada awalnya. Justru kehancuran Bait Allah inilah yang semakin mendorong pemisahan antara Yudaisme dengan kekristenan di kemudian hari.

Jadi dalam Injil Matius 24 ini, Tuhan Yesus telah berbicara tentang suatu realita sejarah dalam nubuat-Nya, yakni kehancuran dan pelecehan Bait Allah. Ini bukan kiasan. Bait Allah yang dihancurkan oleh pasukan jenderal Titus hingga kini terbukti tidak dapat dibangun kembali, dan sangat sedikit kemungkinan untuk dibangun kembali. Terlebih bagi kita yang telah memahami progresifitas kerja Allah, yang salah satunya adalah peralihan pusat penyembahan di Bait Allah ke penyembahan dalam Roh dan Kebenaran (Yohanes 4:21-24). Pemahaman Firman Allah yang benar akan membawa orang mengerti bahwa Bait Allah tidak penting dibangun kembali dalam kaitannya dengan kebutuhan iman orang percaya. Maka sebenarnya kita bisa menyimpulkan bahwa perkataan Yesus tentang “tak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain” dalam Matius 24:1-2, adalah sebagai ucapan yang akan berlaku permanen dan hal itu sudah digenapi pada tahun 70.

Jadi setelah kasiar Nero, maka kaisar Titus adalah pribadi yang paling berdarah dalam penganiayaan terkait umat Tuhan: Kaisar Nero lebih bertanggung jawab atas penganiayaan orang Kristen pada sekitar tahun 60 an, dan kaisar Titus Flafius Vespasianus, yang memerintah tahun 69-96 bertanggung jawab atas serbuan ke Yerusalem untuk memerangi pemberontakan orang-orang Yahudi pada tahun 70. Dengan demikian maka dapat kita simpulkan bahwa jenderal Titus pada hakikatnya bukanlah sosok pribadi antikristus yang dimaksud oleh Yohanes dalam suratnya. Karena serangan Titus pada dasarnya tidak diarahkan kepada kekristenan, melainkan kepada pemberontak Yahudi. Dengan demikian juga bahwa nubuat Yesus pada Matius 24 tentang Pembinasa keji bukanlah tentang antikristus, melainkan tentang pembantaian orang-orang Yahudi dan penghancuran Bait Allah.

Kemudian hal yang senada dengan nubuat Yesus tentang sosok yang menyombongkan diri di atas Bait Allah terdapat dalam naskah surat Paulus terhadap jemaat di Tesalonika. Apakah surat Paulus ini ada kaitanya dengan nubuat Yesus pada Matius 24 dan surat Yohanes?

2 Tesalonika 2

Sebenarnya harus jujur diakui bahwa agak sulit menafsirkan siapa sesungguhnya pribadi “manusia durhaka” yang dimaksud oleh Paulus dalam tuisannya ini. Pada ayat 1-3 Paulus memberi indikasi telah adanya upaya penyesatan dengan mengatasnamakan para rasul pada gereja mula-mula. Sepertinya upaya itu datang dari pihak orang-orang yang mau mengambil keuntungan dari kepanikan akan berita kedatangan Tuhan (parouisa = kedatangan Yesus kembali dari sorga) yang segera akan terjadi. Oleh karena itu Paulus terdorong untuk menguraikan hal-hal yang akan terjadi sebelum kedatangan Tuhan demi menenangkan hati jemaat.

Tanda utama yang dikemukakan Paulus sebagai tanda kedatangan Tuhan Yesus kembali adalah “harus datang dahulu murtad dan haruslah dinyatakan dahulu manusia durhaka, yang harus binasa” (ayat 3). Tetapi sosok durhaka ini dikatakan akan meninggikan diri di atas segala sembahan, bahkan duduk di Bait Allah dan mau menyatakan diri sebagai Allah (ayat 4). Nubuat ini terkesan sama dengan nubuat Yesus pada Matius 24:15 tentang “pembinasa keji yang berdiri di tempat kudus”. Oleh karenanya beberapa penafsir juga telah menganggapnya demikian.

Tetapi masalahnya adalah bahwa nubuat Paulus dalam surat Tesalonika ini mengatakan bahwa si pendurhaka tersebut akan dibunuh oleh Tuhan Yesus saat kedatangan-Nya kembali (ayat 8). Sementara pada ulasan Matius 24 sebelumnya, telah disimpulkan bahwa nubuat Yesus terkait status Bait Allah, telah digenapi kehancurannya oleh jenderal Titus pada tahun 70. Dan sesuai perkataan Yesus, maka bisa diyakini bahwa Bait Allah ini tidak akan ada lagi hingga kedatangan-Nya yang kedua kali. Inilah faktor kesulitan dalam memahami pernyataan Paulus ini kalau dipaksakan sebagai yang sama dengan pernyataan Yesus pada Matius 24.

Jemaat mula-mula sebagai tangan pertama penerima surat ini tentu saja dengan mudah memahami semua yang dimaksud di dalamnya (ayat 5). Akan tetapi bagi kita pembaca modern yang sudah berada hampir 2000 tahun kemudian, sangat wajar jika tulisan ini menjadi sesuatu yang misterius dan berakibat multi tafsir. Itu sebabnya adalah bijak apabila kita tidak terlalu memaksakan diri untuk memastikan nubuat Paulus ini sebagai yang sama dengan nubuat Yesus pada Matius 24. Yang sebaiknya kita lakukan adalah mencoba melihat beberapa kemungkinan logis sebagai pembuka wawasan usaha penelitian lanjutan.

Menurut Paulus dalam suratnya ini, akan ada suatu peristiwa kritis yang dilakukan oleh satu sosok penyebab murtad dalam kekristenan. Jadi fokus penekanan Pulus adalah gelombang murtad besar serta kaitannya dengan sosok durhaka pada saat menjelang kedatangan Tuhan. Sosok ini deisebut sebagai “manusia durhaka yang harus binasa”. Dalam terjemahan King James Version ditulis “the man of sin”. Dalam naskah Yunaninya adalah “anthropos ho hamartia” yang kalau diterjemahkan langsung bisa menjadi, “seorang yang menyimpang”. Artinya sosok ini pada awalnya ada pada jalur yang benar, namun kemudian menyimpang atau membangkang, oleh karena itu dalam Alkitab ITB disebut sebagai “manusia durhaka”. Ciri-ciri kedurhakaan ini mengingatkan kita pada uraian surat Yohanes sebelumnya terkait sosok antikristus.

Dari pendalaman surat Yohanes sebelumnya kita telah melihat bahwa sebagian antikristus itu memang adalah “berasal dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita” (1 Yohanes 2:19). Artinya mereka memang pernah menjadi Kristen, namun karena satu dan lain hal (yang disebut sebagai “tidak sungguh-sungguh”) akhirnya murtad. Jadi bisa dimengerti jika sosok pribadi antikristus yang dimaksud oleh Paulus adalah dari antara orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh memperagakan nilai-nilai sejati kekristenan. Jadi gambaran sosok ini tidak bisa disamakan dengan sosok pribadi antikristus (kaisar Nero) yang sudah digenapi, karena Nero adalah sosok antikristus yang muncul dari golongan non Kristen.

Jadi sangat mungkin kalau sosok antikristus dalam bentuk pribadi akan muncul lagi menjelang kedatangan Yesus Kristus, namun dia bukanlah pribadi yang disebut dalam kitab Wahyu 13:18 yang adalah kaisar Nero sang pemakai nama dengan jumlah bilangan enam ratus enam puluh enam. Sosok pribadi antikristus yang pertama adalah Nero sebagai yang berasal dari golongan non Kristen, sedangkan sosok pribadi antikristus yang kedua ini adalah sang durhaka yang berasal dari dunia Kristen dan yang tidak ada kaitanya dengan bilangan 666.

Menurut Paulus sosok pribadi durhaka ini belum menyatakan diri karena ada yang menahan. Pada saat Paulus menulis surat ini, yang sudah terjadi adalah, “secara rahsia kedurhakaan (bukan pribadi melainkan semangat atau karyanya) telah mulai bekerja” (ayat 7), yang tentu saja bekerja hingga saat ini. Paulus kemudian mengatakan bahwa sosok ini akan dibunuh dan dimusnahkan pada waktu kedatangan Yesus kemabali (ayat 8). Pertanyaan yang penting kita jawab adalah, apa gerangan yang membedakan gerakan pribadi antikristus yang pertama dengan gerakan pribadi antikirstus yang dinubuatkan oleh Paulus ini?

Pada ayat 9-12 Paulus membeberkan cara dan peran yang akan dilakoni oleh pribadi antikristus ini, yakni melakukan tanda-tanda dan mujizat-mujizat palsu untuk menyesatkan orang-orang yang tidak mengasihi kebenaran. Kita tahu bahwa Nero tidak tampil dengan mujizat untuk tujuan penyesatan. Aksinya adalah aksi kekerasan berdarah. Adanya orang yang murtad adalah akibat kekejamannya, bukan karena penipuan. Sedangkan aksi pribadi antikristus yang terakhir ini sudah berkolaborasi dengan para nabi palsu. Cara-cara dan tujuan berkolaborasi telah dijelaskan pada uraian Wahyu 13 sebelumnya, yakni mempesona dengan tanda-tanda ajaib dan mujizat dalam rangka perubahan strategi Iblis untuk menipu umat Tuhan. Jadi kemurtadan umat yang akan terjadi tidak lagi kemurtadan secara frontal, namun secara semu sebagai akibat dari mengejar hal-hal ajaib dalam gereja demi kesenangan duniawi.

Lebih jauh dijelaskan peran lainnya dari figur antikristus yang terakhir ini adalah menjalankan penghukuman pada orang-orang yang tidak suka dan tidak mencintai kebenaran. Proses penghukuman di sini tidak berlangsung dengan aniaya, melainkan dengan cara penyesatan. Artinya Tuhan telah mengizinkan antikristus yang berkolaborasi dengan para nabi palsu itu untuk melakukan demonstrasi-demonstrasi mujizat, agar dengan demikian terjadi pemilahan antara orang-orang yang sungguh-sungguh di dalam Tuhan (mereka yang tidak meletakkan dasar kesetiaan atau imannya atas mujizat dan berkat), dengan mereka yang menggandrungi mujizat demi kesenangan hidup.

Jadi aksi antikristus yang terakhir ini jauh lebih berdampak mengerikan dari aksi antikristus sebelumnya bagi gereja. Karena situasi dan kondisi yang terlihat cenderung kondusif dengan tawaran mujizat dan janji-janji berkat, maka banyak yang terlena merasa dirinya sedang berada di jalur yang benar, padahal ternyata sedang menuju kebinasaan. Hal ini selaras dengan peringatan Tuhan Yesus tentang suasana menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali dalam Matius 24:37-44. Bahwa sama seperti zaman Nuh, keadaan seperti terkendali, tetapi sesungguhnya telah terjadi pemisahan antara orang yang sungguh-sungguh dengan yang tidak, lalu tiba-tiba Tuhan Yesus datang. Pertanyan selanjutnya adalah siapa sesungguhnya pribadi yang menahan pernyataan sosok antikristus yang terakhir ini sehingga belum menyatakan diri?

Kita kembali pada ayat 6-8. Paulus berkata bahwa sosok antikristus itu belum menyatakan diri sepenuhnya karena masih ada yang menahan. Memang banyak tafsiran tentang hal ini. Tetapi kita harus berpegang pada satu prinsip bahwa tidak ada yang mampu menahan kekuatan Iblis kecuali Allah. Dari Yohanes 16:7-11 kita dapatkan peran Roh Kudus datang ke dunia ini dalam hal menginsafkan dosa, kebenaran dan penghakiman. Juga kita temukan alasan pemberian waktu kepada manusia sebelum masa penghakiman adalah “sebagai kesempatan untuk beroleh selamat” (2 Petrus 3:15). Jadi dapat kita simpulkan bahwa yang menahan puncak penyataan antikristus itu adalah pribadi Roh Kudus dalam rangka memberi kesempatan bagi semua orang agar memperoleh keselamatan.

Kemudian pada ayat 7 dikatakan saat penyataan puncak antikristus itu adalah “kalau yang menahnnya itu telah disingkirkan”. Kata ‘disingkirkan’ dalam naskah Yunani ditulis dalam beberapa kata, yakni “heos ek mesos ginomai”. Kalu diterjemahkan langsung maka artinya adalah “until he should be out of the midst”. Artinya “hingga dia harus dikeluarkan dari antara”. Jika kata ‘disingkirkan’ agak berkonotasi negatif, maka kata ‘dikeluarkan’ lebih positif. Artinya Roh Kudus itu memang sudah direncanakan akan diangkat kembali sebelum Yesus datang kembali. Hal ini selaras dengan ketika Tuhan Yesus harus pergi agar Roh kudus (Penghibur) datang (Yohanes 16:7). Ini adalah menyangkut masa tugas yang ditetapkan oleh Bapa. Ketika masa anugerah yang dikawal oleh Roh Kudus telah selesai, maka Tuhan Yesus datang untuk menghukum Iblis, antikristus, nabi-nabi palsu, dan orang-orang yang mengikutinya.

Sejauh ini kita telah menguraikan lima narasumber Alkitab yang dikaitkan dengan topik antikristus. Yang jelas Daniel 7 hanya terhubung dengan Matius 24 perihal pembinasa keji dalam arti personifikasi tokoh penista Bait Allah yang akan terulang kembali untuk menggenapi nubuat Yesus. Dalam hal ini Anthiokos Efipanes sebagai figur penggenap nubuat Daniel dan jenderal Titus sebagai penggenap nubuat Yesus. Sedangakan Matius 24, 1 Yohanes 2, 2 Tesalonika 2, dan Wahyu 13, meskipun memiliki kesamaan dalam hal membicarakan antikristus, namun memiliki perbedaan dalam wujudnya. Yesus hanya mengungkap akan semakin banyaknya kedurhakaan yang bisa diartikan sebagai orang-orang yang anti terhadap kekristenan atau Kristus dan hancurnya Bait Allah oleh pasukan jenderal Titus, sedangkan Yohanes menunjuk pada pribadi antikristus yang adalah kaisar Nero, dan Paulus bernubuat tentang figur antikristus yang akan tampil pada saat kedatangan Yesus yang kedua (parouisa).

Tulisan ini menghasilkan kesimpulan logis bahwa ke depan gereja akan menghadapi gerakan antikristus yang paling berbahaya, yang menunggangi atau terselubung dalam penyesatan nabi-nabi palsu dalam tubuh gereja. Tidak lagi dalam bentuk aniaya fisik, melainkan dalam bentuk godaan materialisme duniawi yang begitu mengalihkan minat banyak orang Kristen dari esensi kekritenan yang sesungguhnya. Adapun penyataan pribadi antikristus yang terakhir tidak ada kaitannya dengan micro chip berlambang angka 666, melainkan merupakan puncak perlawanan Iblis yang terakhir terhadap Tuhan Yesus yang akan datang membawa penghakiman. Oleh karena itu, apabila ada isu atau bahkan kenyataan tentang adanya micro chip dengan lambang 666, justru harus dicurigai sebagai intrik penipuan Iblis untuk mengalihkan perhatian umat manusia, sehingga tidak lagi memperhatikan upaya penyesatan nabi palsu dan perlawanan antikristus yang paling licik di zaman yang paling akhir.

Dalam penggalian perihal antikristus ini masih tersisa satu pertanyaan yang belum terpecahkan, yakni tentang perempuan berselubung matahari yang lari ke padang gurun. Sejauh ini kita hanya bisa menyimpulkan sosok tersebut sebagai suatu realita yang tidak kelihatan. Hal itu tentu menjadi suatu sarana yang dipakai oleh Allah Bapa dalam proses pengutusan Allah Anak menjadi manusia. Mungkin merupakan peran pengganti benih Yusuf untuk menjelmakan Allah Anak menjadi daging (manusia sepenuhnya) dalam kandungan Maria hingga kebangkitan-Nya di dunia ini. Mengingat Yesus lahir bukan dari benih seorang laki-laki, melainkan oleh Roh Kudus (Matius 1:18-25), dan tentu saja benih Maria pun tidak mengambil peran di sini. Yesus benar-benar benih ilahi yang menjadi daging. Itulah kemungkinan perempuan berselubung matahari tersebut. Tetapi ini hanya sebatas tafsiran yang belum memiliki dasar alkitabiah yang akurat. Tetap terbuka menjadi bahan penelitian orang-orang saleh di kemudian hari. Demikianlah memang sebaiknya kita tidak memaksakan suatu penafsiran apabila hal itu belum disingkapkan. Salah satu kelemahan penafsir modern adalah ketika berusaha menjawab semua hal atau misteri yang terkandung dalam Alkitab secara tuntas dalam satu waktu.

Banyak tafsiran gegabah karena dipaksakan terbukti di kemudian hari menjadi sesuatu yang salah. Misalnya seperti perhitungan akhir zaman yang digambarkan pada sebuah peta zaman yang mengacu pada prediksi kesudahan zaman yang diperkirakan akan jatuh pada sekitar tahun 2000 melalui penafsiran 2 Petrus 3:6. Prediksi itu menjadi tenggelam sekarang oleh berlalunya tahun 2000 tanpa terjadi seperti yang diprediksi. Dengan demikian juga bahwa tafsiran adanya tujuh tahun atau tiga setengah tahun penyingkiran gereja Tuhan ke padang gurun untuk melindunginya dari masa aniaya pemerintahan antikristus (tribulasi) yang diajarkan pada peta zaman tersebut sudah harus dikoreksi.

Alasan lain yang perlu diperhatikan juga terkait teori penyingkiran ke padang gurun ini adalah, bahwa dengan adanya penetapan masa tribulasi, hal itu akan bertentangan dengan prinsip kedatangan Tuhan Yesus seperti pencuri (1 Tesalonika 5:2-4; 2 Petrus 3:10; Wahyu 3:3; 16;15) dan yang tidak seorangpun akan tahu (Matius 24:39,42). Karena adanya peristiwa spektakuler pengangkatan yang tentu akan menarik perhatian dunia, akan serta-merta menarik perhatian semua orang tentang ajaran ini. Mengetahui adanya tribulasi dan pengangkatan dalam kurun waktu tiga setengah tahun tentu akan dengan sendirinya dapat menghitung secara pasti waktu kedatangan Tuhan Yesus untuk kedua kalinya. Hal ini tidak selaras lagi dengan prinsip-prinsip kedatangan Yesus yang tidak seorangpun akan mengetahuinya.

Teori penyingkiran gereja Tuhan dari masa pengangkatan juga telah dikembangkan dari ucapan Yesus pada Matius 24:40-42 dan Lukas 17:34-36, yang mengatakan “yang seorang akan dibawa dan yang lain akan ditinggalkan”. Ada dua pendekatan yang harus diperhatikan terkait ucapan ini sehingga tidak menjadi salah dalam menafsirkannya:

Yang pertamaadalah bahwa jika dilihat dari konteksnya, maka ayat-ayat ini sudah berbicara tentang detik-detik kedatangan Tuhan Yesus. Ada kalimat “seperti kilat memancar dari langit … demikian pulalah kelak kedatangan Anak Manusia” pada ayat sebelumnya (Matius 24:27; Lukas 17:24). Jadi peristiwa ini sangat tidak relevan apabila dihubungkan dengan teori pengangkatan gereja Tuhan ke padang gurun pada masa yang lebih lama.

Yang kedua adalah analisa terhadap kata yang dipakai. Yang dipakai adalah kata ‘dibawa’, bukan ‘diangkat’. Kata ‘dibawa’ dalam ayat-ayat tersebut dalam teks aslinya adalah paralambano yang arti-artinya tidak ada sama sekali yang bernafaskan pengangkatan, melainkan mengajak seseorang, atau keikutsertaan, atau diajak untuk bergabung. Dengan demikian terjadi pemisahan dari posisi sebelum diajak bergabung. Jadi pengertian kata ‘dibawa’ pada ayat ini mengarah kepada terjadinya pemisahan antara orang benar dengan orang yang tidak benar secara lebih tegas.

Memang demikianlah yang akan terjadi pada hari penghakiman ketika Tuhan Yesus datang kedua kalinya. Sedangkan kata ‘diangkat’ atau ‘terangkat’ seperti yang dialami oleh Tuhan Yesus ketika naik ke sorga pada Markus 16:19 adalah analambano, yang artinya memang terangkat. Oleh karena itu ayat-ayat tersebut tidak boleh diartikan sebagai peristiwa pengangkatan ke padang gurun. Dengan demikian juga tidak ada peristiwa pengangkatan gereja Tuhan ke padang gurun dalam rangka menghindari aniaya antikristus.

Jadi sangat bijak apabila kita tidak memaksakan diri menafsirkan seuatu apabila Allah belum bermaksud menyingkapkannya, atau jika pengetahuan kita akan hal itu belum memadai. Allah sendiri telah menyatakan bahwa penyingkapan rahasaia Firman Allah itu akan berlangsung secara progresif di litasan zaman seiring bertambahnya pengetahuan manusia (Daniel 12:4).

Demikianlah tulisan ini dibuat agar menjadi penambah wawasan dan bahan evaluasi terhadap pemahaman yang pernah ada terkait antikristus. Bahwa antikristus itu akan tetap eksis dalam wujud yang berevolusi sepanjang masa hingga kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali.  Sangat besar kemungkinan akan tampil kembali sosok pribadi antikristus yang didasarkan pada nubuat Paulus pada 2 Tesalonika 2:1-12, sebagai yang berbeda dengan yang Yohanes katakan dalam 1 Yohanes 2:18 dan Wahyu 13 yang sudah digenapi dalam diri Kaisar Nero. Tuhan Yesus memberkati.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *