BAHASA LIDAH DAN KEPENUHAN ROH KUDUS

Tinjauan Kritis Terhadap Salah Satu Fenomena Lawatan Roh Kudus Pada Gereja Mula-Mula

Sebenarnya jika ditinjau secara lebih kritis atau melalui pendekatan etimologis, maka istilah “bahasa roh” dalam Alkitab Terjemahan Baru Indonesia (TBI) adalah sesuatu yang kurang tepat jika diperiksa menurut naskah aslinya atau dalam Alkitab bahasa Yunani. Karena fenomena atau pengalaman berbicara dalam cara yang khas pada gereja mula-mula itu, dalam naskah Yunani tidak sekali pun menyebut kosakata pnemuma yang harus diartikan sebagai ‘roh’ dalam bahasa Indonesia.

Adapun kosakata khas yang dipakai dalam bahasa Yunani dalam semua catatan Alkitab terkait pengalaman rohani orang percaya mula-mula ini adalah, glossa, yang memiliki arti ‘lidah’ dan ‘bahasa’ (Kisah Para Rasul 2:4; 10:45,46; 19;6; 1 Korintus 12-10). Jadi pengalihbahasaan atau pengistilahan yang lebih tepat ke dalam bahasa Indonesia seharusnya menjadi “bahasa lidah”, bukan “bahasa roh”! Itu sebabnya judul tulisan ini memakai istilah penyesuaian tersebut. Tetapi untuk sampai pada pemahaman ini secara memadai, maka kita harus melakukan telaah secara lebih komprehensif, yakni dengan melakukan pendekatan etimologis maupun kontekstual terhadap peristiwa-peristiwa tersebut, sejauh hal itu dituturkan dalam Alkitab, seperti yang tertera pada ayat-ayat di atas. Pemeriksaan akan kita lakukan menurut urutan kronologisnya:

Naskah pertama yang kita periksa adalah Kisah Para Rasul 2:4 yang berbunyi:

Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

Ayat ini adalah sebagian dari naskah laporan peristiwa pencurahan Roh Kudus yang Tuhan Yesus janjikan sebelum Ia naik ke sorga, dan yang akhirnya terjadi pada hari Pentakosta di salah satu rumah berloteng, di Yerusalem. Ada tiga kosakata terkait yang perlu diamati dalam ayat ini, yang sering dianggap sebagai “bahasa roh” oleh golongan Kristen tertentu sejak terjadinya gerakan Pentakosta pada awal Abad-20 di Amerika. Dalam naskah Yunani tersusun sebagai “laleo heteros glossa”. Jika diartikan secara harafiah, maka: laleo artinya ‘berbicara’, heteros adalah kata keterangan yang berarti “yang lain”, sedangkan glossa memiliki arti ‘lidah’ dan juga ‘bahasa’. Jadi ketiga kata penyusun kalimat ini sama sekali tidak tepat diterjemahkan sebagai “bahasa roh”. Dan memang TBI sudah tepat menterjemahkannya dengan kalimat “berkata-kata dalam bahasa lain”. Tetapi cukup aneh bahwa justru ayat inilah yang lebih sering digunakan sebagai dasar mengajarkan dan meneguhkan pentingnya berbahasa lidah dengan lafal yang justru tidak bisa dipahami, yang diajarkan oleh golongan gereja tertentu yang cukup populer dewasa ini. Hal ini nanti akan semakin jelas dalam uraian selanjutnya. Namun sebelum ke sana, sebaiknya kita memperkarakan terlebih dahulu, mengapa fenomena ini sebaiknya disebut dengan istilah “bahasa lidah”?

Kosakata Yunani yang utama digunakan dalam ayat ini adalah glossa, yang berarti ‘lidah’ atau ‘bahasa’. Ya, tentu saja lidah adalah alat fital dalam berbicara, dan bahasa adalah rangkaian kata-kata yang dapat diucapkan dengan melibatkan lidah sebagai salah satu alat untuk berbicara, dan juga untuk dapat dimengerti oleh para pendengarnya. Memang demikianlah yang terjadi pada waktu itu. Pada ayat selanjutnya (5-11) sangat jelas dilaporkan bahwa orang-orang Galilea (bangsa Israel) yang adalah pengguna bahasa Ibrani, atau paling bisa berbahasa Yunani sebagai bahasa Internasional pada waktu itu, namun masing-masing mereka dapat berbicara dengan bahasa yang lain dari bahasa harian mereka. Justru di sini kita menemukan jawaban atas pertanyaan mengapa disebut “bahasa lidah”?

Kosakata glossa yang berarti ‘bahasa’ dipakai secara khusus untuk melaporkan fenomena ini. Berbeda dengan kosakata Yunani yang dipakai untuk menunjuk ‘bahasa’ dalam pengertian pada umumnya, yakni dialektos. Bandingkan dengan Kisah 1:19; 2:6,8 yang memakai kata dialektos untuk menunjuk  bahasa yang dipakai secara normal atau umum. Maksudnya di sini adalah, bahwa meskipun arti kata glossa dan kata dialektos sama-sama berarti ‘bahasa’, namun proses terjadinya kedua bahasa tersebut berbeda. Jika dialektos adalah merupakan bahasa yang terjadi secara normal sebagai hasil dorongan dari buah pikiran seseorang, maka glossa terjadi sebagai dorongan hasil interaksi dari Roh Kudus dengan orang percaya yang dilawat-Nya. Dalam hal ini meskipun yang dilawat tetap dalam keadaan sadar, namun lidahnya berbicara bukan atas dorongan pikiran atau merupakan hasil kerja rasionya, melainkan oleh dorongan Roh Kudus semata-mata. Inilah alasan yang paling logis mengapa lebih tepat disebut sebagai “bahasa lidah”. Karena meskipun bisa menghasilkan bahasa-bahasa yang dimiliki pejiarah yang datang saat itu, yang dilaporkan pada ayat 9-11, namun kemampuan mengucapkan bahasa itu hanya merupakan hasil dari pengucapan lidah yang dikendalikan oleh Roh Kudus.

Jadi harus kita sadari bahwa kemampuan berbahasa seperti itu tidak direncanakan untuk terjadi secara terus-menerus. Karena kalau demikian maka gereja-gereja saat ini sudah menjadi sekolah-sekolah bahasa terlaris. Ini hanya merupakan fenomena ajaib yang bersifat insidental untuk tujuan khusus. Dengan penjelasan ini kita berlanjut pada pertanyaan berikutnya yakni, untuk apa sesungguhnya Allah melakukan peristiwa ajaib tersebut? Dengan demikian kita juga akan menjawab pertanyaan yang dilontarkan para pejiarah pada ayat 12: “Apa arti semua ini?”

Untuk menjawab pertanyaan itu maka Petrus bangkit menjelaskannya (ayat 14-40). Bahwa hal itu adalah kegenapan janji yang telah dinubuatkan oleh nabi Yoel dan diucapkan Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya, yakni dicurahkan atau diutusnya Roh Kudus untuk tinggal di antara manusia yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus memerintahkan agar murid-murid-Nya menunggu momentum pencurahan ini sebelum pergi melakukan misi (Kisah 1:4,5). Oleh karena itu Tuhan perlu memberi suatu ‘tanda’ agar murid-murid paham bahwa Roh Kudus sudah dicurahkan, sehingga tahu bahwa saatnya telah tiba bagi mereka untuk pergi melakukan misi penginjilan ke seluruh dunia. Alasan mengapa tanda ajaib yang digunakan adalah kemampuan berbahasa bangsa-bangsa lain adalah, agar Petrus atau murid-murid lainnya bisa lebih mudah memberi pengertian kepada orang-orang Yahudi di perantauan maupun para penganut Yudaisme dari bangsa lain yang datang berjiarah untuk merayakan hari Pentakosta itu, bahwa Roh Kudus seperti yang dinubuatkan nabi Yoel telah dicurahkan.

Jadi sebagai kesimpulan atas telaah etimologis dan kontekstual pada peristiwa hari Pentakosta dalam Kisah 2 ini adalah, bahwa bertepatan pada hari Pentakosta, pada Abad-1 Masehi, di sebuah rumah berloteng di Yerusalem, Allah telah mencurahkan Roh Kudus ke dunia untuk seterusnya tinggal di dalam diri orang-orang percaya. Hal itu ditandai dengan salah satu fenomena, selain dengan penampakan lidah-lidah api, juga berbicara dalam bahasa lidah. Fenomena ini hanyalah merupakan tanda momentum agar dimengerti oleh orang-orang percaya bahwa Roh Kudus sudah dicurahkan. Tanda seperti itu tidak perlu terulang kembali bagi orang yang sudah percaya dan mengetahui bahwa Roh Kudus sudah dicurahkan. Dan memang terbukti tidak ada lagi catatan terjadinya peristiwa yang sama, baik dalam Alkitab, maupun dalam sejarah gereja selanjutnya bagi orang yang sudah memahami hal itu.

Sekarang kita beranjak pada fenomena kedua yang direkam dalam Kisah Rasul 10:45,46 yang berbunyi demikian:

Dan semua orang percaya dari golongan bersunat yang menyertai Petrus, tercengang-cengang, karena melihat, bahwa karunia Roh Kudus dicurahkan ke atas bangsa-bangsa lain juga, sebab mereka mendengar orang-orang itu berkata-kata dalam bahasa roh dan memuliakan Allah.

Naskah ini juga menggunakan kosakata-kosakata Yunani yang sama dengan naskah Kisah pasal dua, yakni “laleo glossa”. Perbedaannya hanya terletak pada tidak adanya kata kerterangan heteros, yang memberi arti bahwa bahasa itu merupakan bahasa bangsa lain yang dapat dimengerti para penggunanya. Namun pada saat Petrus mempertanggungjawabkan peristiwa ini kepada rekan-rekan Yahudinya pada pasal selanjutnya, ia berkata bahwa “turunlah Roh Kudus ke atas mereka, sama seperti dahulu ke atas kita” (Kisah 11:15). Jadi kita bisa menduga bahwa peristiwa pada pasal 10 ini memiliki kesamaan dengan peristiwa pada pasal 2.

Perhatikan bahwa redaksi bahasa Yunaninya tetap mempertahankan dua kosakata “laleo dan glossa” yang seharusnya diterjemahkan “bahasa lidah”. Dalam hal ini perlu dicatat, bahwa penterjemah Alkitab TBI tidak konsisten menterjemahkannya menurut penuturan naskah aslinya, karena telah menyebutnya sebagai “bahasa roh” yang seharusnya tidak demikian. Sementara dalam Terjemahan Lama Indonesia (TLI) diterjemahakan sebagai “berbagai-bagai bahasa”, sebagai yang mirip dengan peristiwa pertama pada Kisah Rasul pasal 2. Yang lebih konsisten menterjemahkannya adalah Terjemahan Inggris versi King James, dengan redaksi “speak with tongues” (berbicara dengan lidah atau berbahasa lidah). Jadi tidak disertakannya kosakata heteros pada naskah ini dapat dimengerti karena tidak adanya pendengar dari bangsa-bangsa lain seperti pada peristiwa pasal 2 yang membutuhkan dukungan kata keterangan tersebut pada peristiwa ini.

Untuk mendukung teori kesamaan dan melihat sisi perbedaan kedua peristiwa lawatan Roh Kudus sebagaimana telah dijelaskan di atas, maka kita harus menggali jawaban pertanyaan, untuk apa sesungguhnya Tuhan melakukan tanda ajaib tersebut? Dan untuk menjawab pertanyaan ini kita tidak bisa menghindar dari menyisir seluruh konteks pada pasal 10 dan sekitarnya.

Dari berbagai sumber di Alkitab maupun sumber luar, kita bisa memahami bahwa umumnya penganut Yudaisme, menganut pemahaman bahwa semua janji Allah, termasuk janji tentang keselamatan dalam Perjanjian Lama (PL), secara eksklusif hanya diperuntukkan bagi bangsa Israel. Jadi ketika para murid-murid Kristus percaya bahwa kegenapan janji keselamatan itu telah sampai melalui pribadi Yesus Kristus, juga masih pada pemahaman yang sama pada awalnya, bahwa keselamatan itu hanya bagi kaum Israel yang percaya kepada Yesus Kristus. Hal ini masih sangat jelas terlihat dalam kisah pertemuan Kornelius dan Petrus pada ayat 1-28 sebelumnya. Justru pada peristiwa inilah mitos paham keselamatan eksklusif Petrus dipatahkan oleh Tuhan. Kesadaran ini akhirya meluas kepada murid-murid lainnya (Kisah 11:1-18). Bayangkan, mungkinkah Petrus dan kawan-kawannya bisa merombak paham dan tradisi Yudaisme tanpa adanya tanda bahasa lidah ini kepada Kornelius (Kisah 11:15-18)?

Dalam kasus ini Tuhan membuat fenomena yang sama (bahasa lidah), namun untuk tujuan yang berbeda. Jika pada hari Pentakosta Tuhan melakukannya untuk tujuan memberi tanda bahwa janji pencurahan Roh Kudus sudah digenapi, maka dalam peristiwa Kornelius ini dilakukan sebagai tanda bahwa keselamatan dari Yesus Itu juga berlaku bagi bangsa-bangsa lain. Jadi sejauh ini kita menemukan bahwa tujuan utama Allah menyelenggarakan fenomena bahasa lidah adalah sebagai tanda petunjuk atas rencana Allah.

Ada dua temuan baru yang kita peroleh dari naskah fenomena peristiwa kedua ini:

  • Yang pertama adalah dari pernyataan “sama seperti dahulu” (Kisah 11:15) yang menunjukkan bahwa pengalaman berbahasa lidah pada hari Pentakosta dan saat pertemuan dengan Kornelius ini tidak menjadi kegiatan yang rutin dilakukan setiap saat atau setiap kali mereka berdoa. Karena Petrus tidak berkata “sama seperti yang selalu kita alami atau kita lakukan”, melainkan “sama seperti dahulu” hal itu pernah terjadi, bukan selalu terjadi.
  • Yang kedua bahwa pada peristiwa ini Petrus baru akhirnya menyadari lawatan Roh Kudus ini merupakan “baptisan Roh Kudus” yang pernah dijanjikan Tuhan Yesus, sebagai yang berbeda dari baptisan air yang dilakukan oleh Yohanes (Kisah 1:5;  11:16). Tidak bisa dipungkiri bahwa laporan Petrus ini memberi kesan bahwa kesadaran seperti ini belum diperoleh saat peristiwa pencurahan roh Kudus pada hari Pentakosta. Petrus baru mengingat pesan tersebut dan menyebut bahwa fenomena ini adalah baptisan Roh Kudus setelah pertemuannya dengan Kornelius. Dengan pernyataan ini, timbul pertanyaan lain, baptisan apakah yang dilakukan Petrus dan kawan-kawannya, yang disebut sebagai “dibaptis dalam nama Yesus Kristus” pada hari Pentakosta dalam Kisah 2:38 dan 41? Karena jika yang dimaksud adalah baptisan Roh Kudus, seharusnya Petrus sudah menyadari hal tersebut sejak saat itu. Kita akan melihat hubungan temuan ini dengan pengalaman Paulus pada naskah berikut.

Fenomena ketiga yang bisa kita periksa terkait fenomena bahasa lidah ini adalah catatan Kisah Rasul 19:1-6 yang berbunyi:

Ketika Apolos masih di Korintus, Paulus sudah menjelajah daerah-daerah pedalaman dan tiba di Efesus. Di situ didapatinya beberapa orang murid. Katanya kepada mereka: “Sudahkah kamu menerima Roh Kudus, ketika kamu menjadi percaya?” Akan tetapi mereka menjawab dia: “Belum, bahkan kami belum pernah mendengar, bahwa ada Roh Kudus.” Lalu kata Paulus kepada mereka: “Kalau begitu dengan baptisan manakah kamu telah dibaptis?” Jawab mereka: “Dengan baptisan Yohanes.” Kata Paulus: “Baptisan Yohanes adalah pembaptisan orang yang telah bertobat, dan ia berkata kepada orang banyak, bahwa mereka harus percaya kepada Dia yang datang kemudian dari padanya, yaitu Yesus.” Ketika mereka mendengar hal itu, mereka memberi diri mereka dibaptis dalam nama Tuhan Yesus. Dan ketika Paulus menumpangkan tangan di atas mereka, turunlah Roh Kudus ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa roh dan bernubuat.

Kekeliruan yang sama terulang pada Alkitab TBI ini. Karena redaksi naskah Yunani tidak juga menyebut kosakata ‘roh’ (peneuma) dalam teks ini. Susunan redaksinya adalah, “laleo te glossa kai propeteuo”. Yang jika diterjemahkan secara proporsional, maka hasilnya kira-kira menjadi, “berbahasa lidah tetapi juga bernubuat”. Jadi bukan “berbahasa roh”!

Pembaca harus cermat melihat bahwa dalam naskah ini ada tiga jenis baptisan sedang dikemukakan. Hal ini bisa terlihat kalau menyimak konteks latar belakang pasal sebelumnya (Kisah 18:24-28). Di Efesus itu ternyata telah terbentuk satu komunitas orang-orang percaya kepada Tuhan Yesus, yang merupakan hasil penginjilan seorang bernama Apolos, dan yang telah dibaptis dengan baptisan seperti yang telah diajarkan Yohanes Pembaptis. Namun mereka belum memahami bahkan mendengar tentang Roh Kudus. Jadi dapat dipastikan bahwa Apolos tidak termasuk di antara orang percaya yang hadir pada hari Pentakosta di Yerusalem, namun pasti pernah menerima pengajaran dari Yesus sebelumnya. Mungkinkah dia salah satu dari 70 orang murid yang pernah di utus Yesus (Lukas 10:1-20)? Kita tidak tahu!

Ketika Paulus tiba di Efesus, ia mengatakan bahwa mereka harus dibaptis “dalam nama Tuhan Yesus” yang datang setelah Yohanes Pembaptis itu. Para pembaca yang tidak teliti bisa menganggap bahwa yang dimaksud Paulus adalah baptisan Roh Kudus. Hal ini bisa terjadi karena cepatnya peralihan penjelasan tentang baptisan air yang merupakan pembaruan atas baptisan Yohanes itu pada ayat 5, ke tindakan selanjutnya, yakni penumpangan tangan yang akhirnya membuat mereka dilawat Roh Kudus pada ayat 6. Dengan demikian, pembaptisan air di sini selaras dengan pembaptisan 3000 orang pada hari Pentakosta yang juga disebut sebagai baptisan “dalam nama Yesus Kristus” (Kisah 2:38), dan juga baptisan air terhadap Kornelius dan kawan-kawannya sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya (Kisah 10:47,48).

Perbedaan dari peristiwa pengalaman Paulus ini dengan pengalaman Petrus yang kedua setelah hari Pentakosta adalah, bahwa Petrus tidak perlu mengoreksi perihal baptisan air pada Kornelius, karena mereka memang belum menjadi orang percaya dan belum dibaptis dengan cara apapun sehingga langsung dibaptis dengan baptisan air dalam nama Tuhan Yesus. Sedangkan komunitas di Efesus ini telah dibabtis dengan baptisan ala Yohanes sebelumnya, sehingga perlu dilengkapi dengan baptisan air dalam nama Yesus Kristus (Kisah 10:46-48; 19:3-5). Lalu persamaan dari ketiga peristiwa lawatan Roh Kudus di kitab Kisah Para Rasul ini adalah, sama-sama telah dibaptis juga dengan Roh Kudus, yang ditandai dengan fenomena berkata-kata dalam bahasa lidah. Dalam Kisah 2 dan Kisah 10, orang percaya mengalami baptisan Roh Kudus terlebih dahulu, lalu selanjutnya Petrus membaptis mereka dengan baptisan air. Sedangkan dalam Kisah 19 ini, orang percaya itu dibaptis air terlebih dahulu, baru kemudian mengalami baptisan Roh Kudus.

Sejauh ini kita telah menggali tiga sumber dari kitab Kisah Para Rasul terkait fenomena bahasa lidah. Tetapi pada peristiwa ketiga yang dialami oleh Paulus, terdapat pertambahan satu tanda, yakni bernubuat. Seperti apa bentuk nubuat di sini tidak dijelaskan. Kosakata Yunani propheteuo di sini memiliki arti, “berbicara menyampaikan inspirasi ilahi”, atau ‘memprediksi’. Fakta ini mendorong kita untuk menjawab pertanyaan, apakah dibaptis dengan Roh Kudus selalu harus disertai dengan suatu ‘tanda’ lahiriah, dan apakah berbahasa lidah adalah tanda mutlak yang menyertai orang yang dibaptis dengan Roh Kudus?

Meskipun agak sulit menjawab pertanyaan tersebut, karena tidak adanya pernyataan eksplisit untuk hal ini dalam Alkitab, namun melalui pendekatan logis atas redaksi peristiwa-peristiwa yang sudah dibahas, dan juga fakta sejarah kelanjutan kekristenan di kemudian hari, hal ini dapat dimungkinkan. Setidaknya melalui penjelasan terhadap perkataan Petrus sebelumnya terkait “sama seperti dahulu ke atas kita” (Kisah 11:15, 17), kita sudah dapat memastikan bahwa pengalaman berbahasa lidah bukanlah merupakan pengalaman yang harus berulang-ulang terjadi setiap kali beribadah atau berdoa. Yang menjadi pertanyaan adalah apakah setiap orang percaya seharusnya mengalaminya setidaknya sekali dalam hidupnya?

Dengan pendekatan logis berdasarkan tujuan fenomena itu diadakan adalah sebagai suatu ‘tanda’, maka seharusnya pengalaman dengan tanda lairiah seperti itu (bahasa lidah) tidak harus selalu menyertai baptisan Roh Kudus. Karena sudah sangat jelas tujuan dari tanda itu dilakukan untuk pertama kali pada hari Pentakosta adalah agar orang percaya mengetahui bahwa Roh Kudus sudah dicurahkan; tujuan dari tanda itu dialami oleh Kornelius adalah agar Petrus dan rasul-rasul tahu bahwa keselamatan juga berlaku atas bangsa-bangsa lain; tujuan dari tanda itu terjadi atas komunitas orang percaya di Efesus adalah agar mereka yakin bahwa Roh Kudus ada. Jadi bagi dunia zaman sekarang, apalagi orang Kristen yang sudah tahu bahwa Roh Kudus ada, sebenarnya tinggal membuka hati untuk menerima-Nya tanpa memerlukan tanda-tanda lahiriah seperti bahasa lidah. Itu sebabnya fenomena seperti ini sudah sangat jarang terjadi, bahkan sejak gereja mula-mula. Justru Paulus akhirnya harus menulis tiga pasal berturut-turut untuk membenahi praktek berbahasa lidah yang kurang tepat di Jemaat Korintus sebagaimana diurai berikut ini.

Kini kita tiba pada pemeriksaan naskah keempat yang dikaitkan dengan istilah atau fenomena bahasa lidah ini, yang paling sulit dipahami, dan yang karenanya paling sering disalahartikan dan salah dipraktekkan. Naskah tersebut tertera di sepanjang tiga pasal surat Paulus yang pertama kepada Jemaat di Korintus (1 Korintus 12-14). Naskah pertama yang menyebut istilah “bahasa lidah” dalam ketiga pasal ini adalah pada 1 Korintus 12:10 yang berbunyi demikian:

Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu.

TBI juga tidak konsisten menterjemahkan naskah ini. Karena dalam naskah Yunani redaksinya adalah “de genos glossa”. Pada naskah ini tidak kita temukan kata laleo (berkata-kata) tetapi ada kosakata keterangan genos yang artinya: jenis, keturunan, keluarga, bangsa, generasi, bervariasi, dan lain-lain. Pengertian intinya adalah “bermacam-macam jenis. Dalam hal ini yang dimaksud adalah, adanya bermacam-macam jenis bahasa lidah. Prinsipnya tetap sama, bahwa Paulus hendak berbicara perihal “bahasa lidah”, namun dalam suratnya ini telah terdeteksi, ternyata ada perbedaan bentuk dan tujuan dari pengalaman dan fenomena bahasa lidah itu. Untuk melihat kebenaran ini secara akurat, maka kita tidak bisa menemukannya melalui pendalaman etimologis, melainkan harus melihat secara cermat konteks dan nafas penuturan Paulus ini secara menyeluruh.

Dalam semua naskah PB terkait topik “bahasa lidah”, semuanya menggunakan kosakata Yunani glossa (baik secara mandiri yang sudah dipahami dengan arti “bahasa lidah”, maupun dengan dukungan kata-kata lain yang menerangkannya). Namun tidak ada penggunaan kosakata lain yang bisa menghasilkan pengertian atau bentuk bahasa lidah yang berbeda. Jadi penemuan adanya bentuk-bentuk bahasa lidah yang berbeda tidak kita temukan dari penggalian arti etimologis, melainkan dari pendekatan kontekstual muatan naskah-naskahnya. Dalam kitab Korintus Istilah ini tersebar dalam tiga pasal, setelah ayat di atas, juga pada 13:8; 14:2,4,5,6,9,13,14,18,19,22,23,27 dan 39.

Untuk membantu kita dapat memahami bentuk dan tujuan bahasa lidah dalam ketiga pasal ini secara akurat, maka penulis akan membantu pembaca melihat alunan garis besar atau inti penekanan Paulus secara kronologis. Menyimak irama penuturan Paulus ini sangat penting untuk menjadi pagar pengaman agar pembaca tidak salah dalam memberi tekanan-tekanan yang tidak proporsional seperti yang marak terjadi dewasa ini pada kelompok gereja tertentu. Rangkaian garis besar penuturan Paulus sepanjang tiga pasal ini (12-13) dapat dibagi sebagai berikut:

  • Sebagai mukadimah atau pembuka, dalam pasal 12 Paulus menyuguhkan suatu daftar karunia-karunia Roh Kudus yang bisa bekerja dalam diri setiap orang percaya secara berbeda-beda. Karunia bahasa lidah ditemukan pada urutan ke-8. Tetapi sebaiknya kita tidak berpikir bahwa karunia-karunia Roh Kudus itu hanya terdiri dari 9 jenis saja. Karena selain tulisan Paulus inipun tidak menegaskan bahwa karunia-karunia Roh Kudus hanya ada 9 jenis, juga kita harus berpikir bahwa tidak ada yang bisa membatasi Roh Kudus dalam hal pemberian-pemberian-Nya. Inti penekanan penting Paulus dalam mukadimah ini adalah, bahwa semua pemberian itu diberikan oleh Roh Kudus untuk kepentingan bersama. Bukan untuk kepentingan pribadi!

Tidak lupa pada akhir pasal 12, Paulus menekankan agar berusaha memperoleh karunia yang paling utama. Dengan penjelasan ini, apabila kita menyimak dengan jeli, maka kita bisa melihat indikasi adanya semangat dalam Jemaat di Korintus untuk bisa eksis dalam pertemuan ibadah dengan cara memperoleh dan mempraktekkan karunia-karunia Roh Kudus, namun ternyata tidak dengan pemahaman dan praktek yang sehat atau proporsional. Oleh karenanya Paulus ingin membenahi kesalahan tersebut. Hal ini akan semakin terbukti pada pasal selanjutnya.

  • Selanjutnya pada pasal 13 Paulus menekankan pentingnya kasih di atas semua karunia-karunia itu. Bahkan menekankan tanpa kasih semua karunia-karunia itu tidak berarti. Hal ini memberi indikasi adanya persaingan tidak sehat dengan penonjolan kemampuan dalam memperlihatkan karunia Roh Kudus, khususnya bahasa lidah, dalam sidang Jemaat di Korintus, sehingga berdampak pada merosotnya kualitas hubungan saling mengasihi dalam jemaat tersebut. Fakta ini menjadi bahan evaluasi bagi kita terhadap kemurnian suatu karunia, dan juga sebagai dasar memberi kesimpulan, bahwa karunia-karunia Roh Kudus tidak dapat menjadi bukti kualitas kerohanian seseorang, apalagi menjadi bukti perkenanan Tuhan. Perkenanan Tuhan atas diri seseorang harus selalu didasarkan atas bukti buah kehidupan nyata (Matius 7:15-23).
  • Pada pasal 14 selanjutnya Paulus kembali pada pokok masalah yang ingin dibereskan, yakni “bahasa lidah”. Dengan membandingkan kemampuan bernubuat sebagai yang lebih utama dari berbahasa lidah, menunjukkan bahwa adanya praktek bahasa lidah yang berlebihan dalam jemaat. Inilah yang dimasud Paulus dengan mengutamakan “karunia yang paling utama” pada ayat terakhir pasal 12. Tetapi kita harus jujur dan konsisten dalam memahami maksud pembandingan Paulus di sini atas dua karunia (bahasa lidah dan nubuat), bukan untuk mengatakan bahwa nubuat lebih istimewa dari bahasa lidah maupun karunia lainnya, melainkan dalam konteks ketika saat melakukan pertemuan bersama (1 Korintus 14:19); karena nubuat dapat dimengerti oleh pendengar jemaat lainnya yang hadir, sedangkan bahasa lidah tidak bisa dipahami tanpa adanya karunia menafsirkannya.

Penjelasan Paulus di atas akhirnya memberi dua pengetahuan baru kepada kita; yang pertama adalah, bahwa bentuk dan tujuan bahasa lidah yang dipraktekkan dalam Jemaat Korintus ini berbeda dengan bentuk dan tujuan bahasa lidah pada peristwia-peristiwa sebelumnya yang telah dijelaskan dalam tulisan ini. Bentuk dan tujuan bahasa lidah sebelumnya adalah dalam bentuk bahasa manusia yang lain dari bahasa yang biasa dipakai oleh pribadi yang dilawat Roh Kudus, dan hal itu terjadi untuk menjadi tanda baptisan Roh Kudus. Sedangkan bentuk bahasa lidah yang dipraktekkan dalam Jemaat di Korintus ini tidak dapat dimengerti kecuali ada karunia mengartikannya, dan tujuannya adalah untuk membangun diri sendiri, atau sebagai bahasa komunikasi pribadi diri sendiri dengan Tuhan. Hal ini akan lebih dijelaskan pada uraian selanjutnya.

  • Dalam tulisan penutup, Paulus akhirnya menyarankan agar berusaha bernubuat dan tidak melarang pemakaian bahasa lidah, namun harus berlangsung dengan tertib. Mengapa ?. pembaca harus peka atas fokus utama Paulus dalam 3 pasal uraiannya terkait karunia-karunia roh ini. Pada mukadimah pasal 12 Paulus membeberkan sebanyak 9 daftar karunia-karunia Roh Kudus. Namun terdapat suatu kejanggalan, karena Paulus hanya menjelaskan secara detail dua karunia saja, yakni Bahasa lidah dan nubuat yang dijadikan sebagai perbandingan yang lebih utama. Jadi fokus Paulus berbicara Panjang-lebar dalam tiga pasal, sebenarnya adalah untuk membahas pokok persoalan terkait “Bahasa lidah”. Ketidakpekaan melihat esensi fokus ini telah berdampak pada kesalahan respon banyak pembaca, khususnya para kaum kharismatik dewasa ini.

Himbauan Paulus agar tidak melarang yang berbahasa lidah dan berusaha bernubuat, tidak boleh diartikan secara sempit, sehingga menganggap bahwa dalam pertemuan jemaat justru wajib ada Bahasa lidah dan nubuat. Harus selalu disadari bahwa Paulus dalam tulisan ini dalam rangka ingin membenahi carut-marut praktek karunia-karunia Roh Kudus yang berlangsung di Jemaat Korintus, khususnya pemakaian bahasa lidah. Dia hanya ingin membandingkan bahwa karunia bernubuat jauh lebih bermanfaat dalam pertemuan jemaat karena dapat dimengerti yang lain, ketimbang bahasa lidah yang hanya berguna bagi diri sendiri. Jika Paulus tidak melarang orang berbahasa lidah, jangan juga malah diartikan sebagai menganjurkan agar wajib berbahasa lidah. Kesalahan menyimak konteks inilah yang menjadi biang kerok usaha pemaksaan penggunaan bahasa lidah dalam gereja tertentu dewasa ini.

Sekarang kita akan berbicara tentang “Kepenuhan Roh Kudus” yang sering dikaitkan dengan fenomena bahasa lidah. Adanya ayat-ayat dalam Alkitab yang langsung menghubungkan bahasa lidah dengan kepenuhan Roh Kudus seperti pada Kisah Rasul 2:4, telah menahan banyak orang sehingga tidak lagi mau memikirkan atau memeriksa seluruh Alkitab terkait hal tersebut demi melihat pengertian yang lebih akurat. Padahal tidak ada satupun redaksi dalam Alkitab yang mengemukakan bahwa setiap orang yang dipenuhi Roh Kudus pasti selalu disertai dengan tanda berbahasa lidah.

Tidak banyak orang yang bersedia berpikir luas bahwa kepenuhan Roh Kudus tidak selalu harus disertai dengant tanda bahasa lidah, bahkan tidak harus selalu disertai dengan tanda lahiriah apapun. Padahal secara rasional prinsip ini dapat dijelaskan. Karena manfaat suatu tanda diadakan sebenarnya adalah hanya sebagai suatu petunjuk. Jika sasaran atau tujuan yang ditunjuk telah ditemukan atau dicapai, maka seyogianya tanda tersebut tidak diperlukan lagi. Hanya orang bodoh atau orang yang pada kondisi bermasalah khusus yang selalu berurusan dan tinggal dalam area tanda tanpa bergerak pada tujuan yang hendak dicapai melalui tanda tersebut. Prinsip yang sama juga berlaku atas kepenuhan Roh Kudus. Pada awalnya tanda berbahasa lidah diperlukan pada hari Pentakosta, pada pertemuan dengan Kornelius, dan pada orang-orang percaya di Efesus, adalah untuk menunjukkan eksistensi Roh Kudus untuk pertama kali sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Selanjutnya setiap orang percaya tinggal membuka dirinya setiap hari agar selalu dipenuhi atau dikuasai oleh roh Kudus. Hal ini akan terlihat lebih jelas dalam telaah terhadap laporan terkait kepenuhan Roh di sepanjang Alkitab berikut ini:

Dalam kitab Kejadian 41, Firaun sang penguasa Mesir kuno dapat mengidentifikasi bahwa Yusuf putera Yakub adalah “seorang yang penuh dengan Roh Allah” (ayat 38). Hal ini sama sekali tidak dikatakan karena melihat tanda-tanda aneh dalam penampilan lahiriah maupun aksi-aksi unik Yusuf. Semua ciri kepenuhan Roh pada Yusuf ini dibuktikan oleh hikmat atau kemampuannya dalam menafsirkan mimpi. Andaikata kita tetap memaksakan bahwa kemampuan ini merupakan karunia Roh Kudus secara khusus kepada Yusuf, maka hal ini semakin memperjelas bahwa memperoleh karunia Roh Kudus tidak harus selalu disertai dengan bahasa lidah maupun tanda-tanda aneh lainnya.

Dalam Keluaran 31:1-5, Allah berkata kepada Musa bahwa Dia telah memenuhi Bezaleel dengan Roh Allah agar memiliki hikmat untuk dapat mengerjakan segala keperluan terkait Kemah Suci. Tidak ada sedikitpun keterangan yang memberi kesan bahwa Bezaleel sebelum dan setelahnya mengalami peristiwa aneh saat dipenuhi Roh Allah. Mengapa? Karena kepenuhan Roh Allah atas Bezaleel tidak memerlukan tanda! Musa pada waktu itu tidak memerlukan suatu tanda untuk membuat dia percaya bahwa Allah telah memenuhinya dengan Roh Allah. Allah melihat bahwa Musa sudah bisa langsung percaya akan hal tersebut.

Dalam Bilangan 11 dikisahkan suatu peristiwa murka Allah dalam membinasakan para bajingan yang dikuasai nafsu rakus di antara bangsa Israel ketika mereka berada di Padang Gurun. Karena keluhan Musa kepada Tuhan oleh beratnya beban memimpin bangsa itu seorang diri, maka Tuhan mengangkat 70 tua-tua untuk membantu Musa. Proses pelantikan tua-tua itu dilakukan dengan cara mengambil sebagian dari Roh yang hinggap pada Musa kepada ketujuhpuluh tua-tua itu, lalu “kepenuhanlah mereka seperti nabi, tetapi setelah itu tidak lagi” (ayat 25).

Dalam naskah ini tidak disebut Roh seperti apa yang menghinggapi mereka, meskipun sangat jelas bahwa hal itu berasal dari Tuhan. Juga tidak disebut fenomena yang menandai kepenuhan Roh itu. Naskah ini hanya menjelaskan bahwa aksinya adalah “seperti nabi”. Jadi yang pasti adalah, ada fenomena yang menandai saat mereka kepenuhan Roh itu. Tetapi perlu diperhatikan bahwa peristiwa itu hanya sesaat, setelah itu tidak lagi. Apa sesungguhnya maksud dari pernyataan ini?

Pada ayat 26 dan 27 dilaporkan bahwa ada 2 orang tua-tua yang tidak ikut berkumpul  atau tinggal di perkemahan, namun mengalami kepenuhan juga seperti yang lainnya. Laporan ini sebenarnya cukup bagi kita untuk memberi arti dari kepenuhan ini adalah merupakan suatu ‘tanda’ untuk menunjukkan secara sah mereka yang dipilih Tuhan untuk membantu Musa. Jadi kepenuhan roh di sini disertai dengan tanda seperti nabi, dan tujuannya adalah sebagai tanda pengesahan mereka yang dipilih membantu Musa. Dengan demikian maksud dari tanda kepenuhan di sini sama dengan tanda kepenuhan Roh Kudus pada tiga peristiwa di Kisah Rasul yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Dalam Bilangan 27 dilaporkan proses pergantian kepemimpinan dari Musa ke Yosua. Tuhan berkata bahwa “Yosua bin Nun, seorang yang penuh roh” (ayat 18). Kemudian dalam Ulangan 34:9 dikatakan bahwa Yosua “penuh dengan roh kebijaksanaan” yang merupakan hasil penumpangan tangan Musa saat peralihan kepemimpinan tersebut. Apakah roh kebijaksanaan ini merujuk pada roh pada Bilangan 27, ataukah memang pada dasarnya Yosua sudah merupakan seorang yang penuh roh di mata Tuhan, lalu kemudian dilengkapi dengan roh kebijaksanaan, hal ini tidak penting dipersoalkan. Yang jelas bahwa kepenuhan Yosua dengan roh sama sekali tidak disertai dengan tanda-tanda lahiriah. Hal itu berlangsung secara alamiah dan terbukti dari kemampuannya memimpin untuk selanjutnya, sama seperti Musa.

Dalam 1 Samuel 10 dijelaskan bagaimana proses pengurapan Saul menjadi raja atas Israel dengan pertanda kepenuhan Roh seperti nabi dan bersama-sama dengan nabi-nabi lainnya (ayat 6 dan 10). Kepenuhan ini disertai dengan tanda seperti pada kisah tua-tua pembantu Musa, juga memiliki tujuan pemberian tanda pengesahanya sebagai raja atas Israel. Tetapi yang unik pada catatan kitab Samuel ini adalah adanya kepenuhan Roh bukan untuk kepentingan atau tanda perkenanan atas orang yang dipenuhi. Karena dalam 1 Samuel 19:20,23,24 Saul kepenuhan seperti nabi tidak lagi untuk tujuan mengokohkan kerajaannya, melainkan untuk mencegah dia membunuh Daud. Fakta ini membuat kita sadar bahwa bentuk fenomena dan tujuan dari kepenuhan roh begitu sangat fariatif. Jadi kita tidak bisa mematok bahwa bukti kepenuhan Roh hanya dalam satu bentuk dan satu tujuan saja. Hal lain yang kita temukan dalam 1 Samuel 19:24 ini adalah, bahwa kepenuhan Saul ini dipertanyakan sebagai bukti yang menandakan seseorang sebagai golongan nabi. Hal ini seperti memberi petunjuk bahwa pada era PL kepenuhan dengan tanda tertentu dijadikan sebagai petunjuk bahwa seseorang sebagai kelompok nabi.

Dalam Daniel 4 dan 5, Nebukadnezar dan para punggawanya menjuluki Daniel sebagi orang yang “penuh dengan roh para dewa”. Julukan ini tentu harus dilihat dari perspektif Nebukadnezar sebagai penyembah para dewa Babel. Hal ini dilakukan bukan merupakan hasil pengamatan tanda-tanda fisik yang ada pada Danial, melainkan oleh kemampuan Daniel dalam berbagai keahlian atau kebijaksanaan. Jadi tentu saja kita yakin bahwa yang ada pada diri Daniel bukanlah roh para dewa, melainkan Roh Allah. Kepenuhan Roh atas Daniel inipun tidak terindikasi disertai dengan tanda-tanda lahiriah atau fenomena unik.

Dalam Injil Lukas 1 diceritakan bagaimana Yohanes Pembabtis telah dipenuhi Roh Kudus sejak dalam kandungan Elizabeth, ibunya (ayat 15). Hal ini tidak disertai dengan suatu tanda. Kemudian dalam pertemuan Maria dan Elizabeth saat mereka telah sama-sama mengandung, maka Elizabet juga penuh dengan Roh Kudus saat mendengar ucapan salam dari Maria (41). Hal ini ditandai dengan lonjakan bayi dalam kandungannya. Selanjutnya Zakharia, ayah Yohanes pun penuh dengan Roh Kudus tanpa suatu tanda (ayat 67). Yang paling unik adalah bahwa Yesus juga disebut penuh Roh Kudus justru setelah dewasa, sebelum memulai pelayanan-Nya, juga tanpa suatu tanda (Lukas 4:1). Peristiwa ini lebih menegaskan kepada kita bahwa cara kepenuhan Roh Kudus sangat variatif dan tidak dimulai sejak hari Pentakosta. Semua penjelasan ini semakin meneguhkan bahwa peristiwa hari Pentakosta hanyalah merupakan momentum dicurahkannya Roh Kudus ke dunia untuk menjadi bagian dari hidup orang percaya setiap hari, bukan momentum pertama kali orang bisa dipenuhi Roh Kudus.

Dalam Kisah Para Rasul 13 disinggung tentang pribadi Paulus (ayat 9), mapun murid-murid Tuhan di Antiokhia (ayat 52) sebagai orang-orang yang dipenuhi Roh Kudus. Ucapan “penuh dengan Roh Kudus” di sini tidak hendak melaporkan adanya suatu fenomena tanda-tanda khas seperti bahasa lidah yang menyertai kepenuhan tersebut, melainkan untuk menjelaskan kualitas diri mereka sebagai pribadi-pribadi maupun komunitas yang hidupnya dikuasai oleh Roh Kudus dalam melakukan kegiatan apapun. Penjelasan ini menghantar kita pada penggalian terakhir terkait kepenuhan Roh.

Naskah Alkitab yang terakhir dan yang paling tepat untuk mengakhiri bedah kritis kita tentang kepenuhan Roh adalah dalam surat Paulus kepada Jemaat di Efesus yang pernah dilayaninya dalam pembaptisan Roh Kudus. Catatan itu berbunyi demikian:

Dan janganlah kamu mabuk oleh anggur, karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, (Efesus 5:18).

Anjuran penuh dengan Roh di sini adalah pengganti dari larangan agar tidak mabuk anggur. Maka jika kita teliti secara cerdas seluruh konteks pasal ini, kita akan temukan bahwa kepenuhan Roh disini bukan sebagai anjuran untuk berbahasa lidah mapun tanda aksi-aksi lahiriah lainnya. Yang Paulus tekankan pada nasihat penggembalaan ini adalah agar jemaat mengganti kebiasaan-kebiasaan buruk yang bisa begitu mudah terjadi sebagai rangsangan dari minuman memabukkan, dengan kebiasaan untuk tunduk pada penguasaan Roh Kudus. Karena memang tidak bisa dipungkiri bahwa fakta pada geliat hidup banyak orang-orang yang mengaku penuh Roh dewasa ini dengan praktek berbahasa lidah, namaun yang gaya hidupnya tidak ubahnya dengan manusia-manusia duniawi lainnya dalam berperilaku buruk. Hal ini membuktikan bahwa “berbahasa lidah” tidak identik dengan “penuh dengan Roh Kudus”. Kalau demikian, seperti apa sesungguhnya praktek bahasa lidah yang sehat dan wajar itu?

Tulisan ini dibuat bukan untuk membela maupun menyerang praktek berbahasa lidah yang marak dalam gereja kharismatis dewasa ini, melainkan untuk menempatkan maksud bahasa lidah itu secara proporsional melalui penggalian kritis terhadap Alkitab. Karena jika kita memliki rasa takut dan sikap hormat yang kuat kepada Tuhan pemberi karunia-karunia itu, seharusnya kita juga dapat memperlakukan karunia-Nya dengan rasa hormat dan takut.

Memang tidak bisa dibantah bahwa “bahasa lidah” dan karunia-karunia Roh Kudus lainnya adalah suatu realita yang dialami dan dibicarakan oleh jemaat mula-mula. Pengalaman tersebut akhirnya meredup bahkan sempat menghilang sepeninggalan para rasul, tetapi usaha menghidupkan pengalaman itu muncul kembali dalam gerakan pentakosta sejak awal abad-20, dan semakin digandrungi oleh gereja bernafas kharismatis dewasa ini. Namun yang menjadi masalah bukanlah soal keyakinan akan fakta sejarah tersebut. Yang menjadi masalah pada gereja dewasa ini adalah berbagai kejanggalan dalam hal praktek dan dampak-dampak tidak sehat yang ditimbulkan. Apakah pengalaman buruk pada Jemaat di Korintus sedang terulang kembali?

Untuk menjawab pertanyaan ini, adalah baik jika penulis bersaksi atas pengalaman pribadi terkait berbahasa lidah. Sejak lulus Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), penulis telah dikirim orangtua untuk mengikuti Sekolah Alkitab berciri karunia-karunia Roh di Jawa Barat. Berbahasa lidah sudah merupakan kewajiban bagi setiap murid yang dipersiapkan untuk menjadi hamba Tuhan (pelayan gereja) di kemudian hari. Penulis menemukan bawa semua murid telah berbahasa lidah dengan penuturuan bunyi yang hampir seragam, kecuali tinggal dua orang yang belum berbahasa lidah, yakni penulis dan seorang teman yang datang bersama-sama ke sana.

Cukup lama kami berdua bertahan tidak berbahasa lidah karena menganggap bahwa pengalaman tersebut tidak bisa dibuat-buat. Padahal sudah melalui penumpangan tangan dan doa teman-teman yang lain. Timbul rasa rendah diri dan malu karena menganggap tidak berkenan kepada Tuhan. Sampai akhirnya ada saran dari seorang teman agar berani mengucapkan saja apa yang terasa digerakan di mulut. Dan ketika suatu saat seorang guru utama memaksa agar semua berbahasa lidah dan turun dari mimbar untuk memeriksa, timbul doroangan disertai rasa takut untuk mengikuti lafal teman-teman yang lain. Dan ketika hal itu dilakukan, tidak ada keberatan dari guru bahwa hal itu palsu. Padahal jika jujur, hal itu penulis lakukan sebagai tindakan meniru karena terpaksa. Demikianlah riwayat bahasa lidah penulis yang berlangsung hingga puluhan tahun setiap kali berdoa, bahkan di saat melakukan dosa paling memalukan sekalipun.

Hidup dalam kecemaran namun dibungkus dengan bahasa lidah, dan setelah mendengar pengakuan jujur rekan-rekan yang mengalami hal yang sama, serta keberanian mempermainkan bahasa lidah ketika di luar pantauan jemaat, menjadi faktor pendorong kegelisahan dalam batin tentang kesejatian karunia ini. Sampai akhirnya penulis memutuskan untuk bertobat dan memasuki pendidikan Teologia, agar bisa memahami semua fenomena ini secara jujur. Akhirnya penulis berani menghentikan kepalsuan ini. Pada kenyataannya kini penulis masih berbahasa lidah saat-saat tertentu dalam doa pribadi, namun tidak lagi dengan cara yang sama. Bukan sebagai tanda baptisan Roh Kudus, juga bukan sebagai kebiasaan latah oleh dorongan kewajiban, melainkan sudah merupakan dorongan roh yang timbul karena keinginan berdialog dengan Tuhan secara pribadi, seperti yang diajarkan Paulus kepada jemaat di Korintus.

Kepada jemaat di Korintus Paulus berkata bahwa, “jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka rohkulah yang berdoa” (1 Korintus 14:14). Hal ini selaras dengan ucapannya pada ayat 2 sebelumnya. Selanjutnya ia berkata, “dalam pertemuan jemaat aku lebih suka mengucapkan lima kata yang dapat dimengerti untuk mengajar orang lain juga, dari pada beribu-ribu kata dengan bahasa lidah” (14:19). Kemudain pada ayat 27 dikatakan, “jika tidak ada orang yang dapat menafsirkan, hendaklah berdiam diri dalam pertemuan jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah”. Penulis pada akhirnya sampai pada pemahaman, bahwa bahasa lidah jenis yang dikemukakan di surat Korintus, bisa diperoleh dan dipraktekkan oleh siapa saja jika dibutuhkan, tetapi tidak merupakan kewajiban atau keharusan. Kepada Jemaaat di Roma Paulus berkata bahwa Roh Kudus bisa membantu kita berdoa untuk hal-hal yang melampaui kemampuan akal kita untuk mengeluhkannya (Roma 8:26). Dengan pemahaman ini maka penulis sampai pada kesadaran bahwa bahasa lidah justru bukan menjadi suatu kebanggaan. Melainkan menjadi suatu alat bantu dari Roh Kudus bagi mereka-mereka yang lemah imannya seperti penulis.

Bukankah menjadi aneh jika dewasa ini bahasa lidah menjadi suatu kebanggaan kelompok tertentu karena dianggap sebagai bukti bekerjanya dan berkenannya Roh Kudus atas diri seseorang? Para pengkhotbah kalangan kharismatis pun berlomba menonjolkan bahasa lidah di mimbar-mimbar gereja karena sudah merupakan tanda agar layak diundang menjadi pengkhotbah bayaran di gereja-gereja aliran kemakmuran yang menekankan pentingnya berbahasa lidah. Itu sebabnya dampak positif yang membedakan kelompok orang yang berbahasa lidah saat ini dengan manusia pada umumnya hampir tidak ditemukan. Kecuali menjadi euforia dan pelampiasan emosianal semata saat beribadah. Praktek yang salah seperti ini semakin marak karena memang sangat sulit mengidentivikasi kemurnian bahasa lidah secara langsung, kecuali keberanian pribadi untuk jujur dan berubah seperti penulis. Kita pribadilah yang harus memeriksa secara jujur, apakah bahasa lidah yang kita ucapkan murni atau tidak. Makanya Paulus berkata, “jangan melarang orang yang berkata-kata dengan bahasa lidah” (1 Korintus 14:39). Hal ini dikatakan karena memang agak sulit mengidentivikasi kemurnian berbahasa lidah secara langsung.

Jadi, demi menjaga kemurnian pengalaman terkait berbahasa lidah ini, dan demi mengantisipasi semakin maraknya praktek manipulasi terhadap fenomena yang khas ini, maka sebaiknya kita tidak perlu berusaha agar bisa berbahasa lidah. Karena toh tidak ada anjuran dalam Alkitab agar kita berusaha mengalaminya, juga tidak ada satupun petunjuk dalam Alkitab yang mengatakan bahwa bisa berbahasa lidah menjadi suatu petunjuk perkenanan Tuhan atas seseorang maupun menjadi tolok ukur kualitas iman dan kerohanian seseorang. Justru jika mengacu pada uraian di atas, jika bukan merupakan suatu tanda, maka berbahasa lidah malahan menjadi pertanda kondisi kurang sempurnanya diri seseorang, sehingga membutuhkan topangan pelengkap bahasa lidah. Jadi apabilah hal itu terjadi, biarlah itu merupakan pengalaman yang tidak dipaksakan dan diusahakan, melainkan merupakan gerakan dari Roh Kudus bagi mereka-mereka yang dianggap Tuhan membutuhkannya. Dan jika seseorang bisa membangun kerohanian yang baik tanpa harus berbahasa lidah, maka hal tersebut jauh lebih baik.

Kesimpulan

  1. Bahasa lidah dalam naskah Yunani menggunakan kosakata glossa, untuk menunjuk tindakan berbahasa atau mengucapkan kata-kata yang memiliki makna dan dapat dimengerti, namun tidak merupakan hasil pemikiran pembicara, melainan oleh dorongan Roh Kudus yang menggerakkan lidahnya. Berbeda dengan dialektos yang merupakan bahasa atau kata-kata yang didorong oleh gagasan yang timbul dalam pemikiran pembicara.
  2. Bahasa lidah yang diperkenalkan dalam Alkitab terdiri dari dua jenis: Jenis pertama adalah kemampuan mengucapkan bahasa bangsa lain (bukan bahasa bangsa yang biasa digunakan pembicara) yang diucapkan secara spontan oleh dorongan Roh Kudus. Hal ini bertujuan untuk memberi tanda: Pertama kali sebagai tanda bahwa Roh Kudus telah dicurahkan ke dunia (Kisah Rasul 2), Yang kedua sebagai tanda bahwa keselamatan dalam Yesus juga berlaku atas bangsa-bangsa lain (Kisah 10), dan yang ketiga sebagai tanda bahwa Roh Kudus ada (Kisah 19). Jenis yang kedua adalah bahasa lidah bukan dalam bentuk bahasa manusia pada umumnya, oleh karenanya tidak bisa langsung dimengerti oleh pendengar, karena harus ditafsirkan oleh orang yang memiliki karunia menafsirkan bahasa lidah (1 Korintus 12:10 dan lain-lain), yang bertujuan sebagai bahasa pribadi dengan Tuhan, untuk menyampaikan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan (Roma 8:26).
  3. Baptisan maupun kepenuhan Roh Kudus tidak harus selalu disertai tanda-tanda lahiriah, seperti bahasa lidah dan tanda-tanda lainnya. Artinya, menerima Roh Kudus adalah wajib bagi setiap orang percaya, tetapi tidak harus ditandai dengan tanda-tanda lahiriah yang khas.
  4. Bahasa lidah dan karunia-karunia Roh Kudus lainnya tidak boleh dianggap dan dijadikan sebagai bukti kualitas kerohanian atau perkenanan Tuhan atas diri seseorang, melainkan oleh buah kehidupan atau perbuatannya (Matius 7:15-23).
  5. Adalah sulit untuk mengidentivikasi bahasa lidah yang murni maupun yang palsu. Hal itu berpulang pada kejujuran pribadi seseorang. Kita hanya bisa menegaskan tindakan-tindakan yang salah dalam mengarahkan orang seperti:
  6. Memaksa orang agar bisa berbahasa lidah.
  7. Mengajarkan orang cara (dengan cara apapun) mengucapkan bahasa lidah.
  8. Mengatakan bahwa umat Tuhan harus banyak atau sering berbahasa lidah.
  9. Mengajarkan atau memberi kesan bahwa bahasa lidah memiiliki kekuatan gaib.

Bawalah umat Tuhan pada kesalehan hidup. Bukan pada fenomena-fenomena yang bersifat sementara. Karena bahasa lidah dan karunia-karunia Roh lainnya akan berakhir (1 Korintus 13:8), tetapi semua orang kelak akan dihakimi menurut perbuatannya masing-masing (Wahyu 20:12,13). Kelak Tuhan tidak akan bertanya seberapa sering dan seberapa bagus bahasa lidah kita. Justru adalah kejijikan di mata Tuhan apabila seseorang mengumbar bahasa lidah yang memberi kesan hidup rohani, padahal secara terselubung hidupnya bergelimang kejahatan.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *