Keselamatan

Program Terencana Sejak Sedia Kala

Arti ‘keselamatan’ di dalam Yesus Kristus atau dalam teologia kekristenan memiliki pengertian yang jauh berbeda dari pengertian umum dan agama lainnya. Hal ini akan jelas terlihat dari studi etimologis yang akan diuraikan pada awal tulisan ini. Tetapi yang jauh lebih penting dari pengertian etimologinya adalah, bahwa perbedaan konsep keselamatan ini telah semakin beragam dalam gereja dewasa ini. Timbulnya ragam konsep ini tentu saja dapat dimaklumi sebagai akibat dari tingkat kemampuan yang berbeda-beda dalam menafsirkan atau menanggapi redaksi tulisan-tulisan para rasul yang tertuang dalam Alkitab. Namun maklum terhadap sisi lemah ini tidak boleh membuat kita pasrah dan menerima begitu saja semua pandangan yang ditimbulkan, karena doktrin tentang keselamatan adalah merupakan sentral ajaran Alkitab yang akan bermuara pada pembentukan sikap dan praktek hidup kekristenan seseorang, dan yang pada akhirnya menentukan arah hidup kekalnya. Oleh karena itu sangat penting untuk selalu bersedia meninjau ulang konsep yang sudah ada sebagai upaya mengikuti irama penyingkapan rahasia kebenaran alkitabiah hari demi hari.

  1. Tinjauan Etimologis

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata ‘selamat’ diartikan:

  • Terbebas atau terhindar dari bahaya, malapetaka, bencana; tidak kurang suatu apa; tidak mendapat gangguan, kerusakan, dsb.
  • Sehat.
  • Tercapai maksud atau tidak gagal.
  • Doa yang mengandung harapan supaya sejahtera.
  • Pemberian salam mudah-mudahan dalam keadaan baik.

Dalam bahasa Ibrani kata yesyua yang digunakan Perjanjian Lama (PL), dan bahasa Yunani soteria yang digunakan Perjanjian Baru (PB), juga memiliki arti yang selaras dengan arti bahasa Indonesia, yakni: mencakup keselamatan, tindakan atau hasil dari pembebasan, pemeliharaan dari bahaya dan penyakit, dan kemakmuran.

Jelas sekali bahwa tinjauan secara etimologis hanya membawa kita pada pengertian yang terhubung dengan hal-hal lahiriah atau fisik. Padahal arti keselamatan yang diselenggarakan Allah Bapa melalui Anak-Nya Yesus Kristus sangat jauh lebih agung dan mulia dari tujuan-tujuan lahiriah tersebut. Dengan demikian, menyimak arti-arti kata ‘selamat’ menurut kamus bahasa tidak akan membawa kita pada arti keselamatan sejati yang dikerjakan oleh Yesus Kristus. Maka untuk bisa sampai pada pengertian keselamatan tersebut, kita harus bersedia menelusuri maksud keselamatan itu diadakan dari penelitian Alkitab secara utuh atau menyeluruh. Sebagai alat bantu, penulis akan terlebih dahulu menyajikan beberapa tinjauan konsep atau pengertian yang sudah terbangun sejak dahulu, kemudian akan mengakhirinya dengan konsep alkitabiah menurut hasil penggalian penulis.

  • Tinjauan Konsep

Untuk dapat memahami arti keselamatan yang direncanakan Allah melalui Putera-Nya Yesus Kristus itu secara benar, maka kita harus bisa memilah arti keselamatan yang sudah terbangun dalam pemikiran masyarakat pada umumnya dengan arti keselamatan dalam pikiran umat Kristen sepanjang masa. Agar pembaca lebih mudah melihat gambaran perbedaan tersebut, maka berikut ini disajikan tiga konsep pengertian yang sebenarnya bisa juga dikategorikan sebagai tiga tingkat konsep keselamatan:

  1. Keselamatan Dalam Pengertian Umum

Keselamatan dalam pengertian umum ini sangat dekat dengan pengertian etimologinya. Kata ‘keselamatan’ yang memiliki kata dasar ‘selamat’ pada pengertian umum adalah keluputan dari hal-hal yang membahayakan secara lahiriah dan pemenuhan kebutuhan-kebutuhan yang menunjang kelangsungan hidup lahiriah di dunia ini. Memang secara alamiah, Tuhan telah melengkapi semua makhluk hidup dengan kemampuan dan kecerdasan untuk melindungi diri dari mara bahaya dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kenyataan ini telah mendorong sebagian ilmuan dan masyarakat modern tidak lagi percaya akan eksistensi Tuhan. Berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi pendukung kenyamanan hidup semakin menambah jumlah penganut paham ateis, khususnya di negara-negara maju dan makmur saat ini. Demikianlah kaum ateis telah memandang perihal keselamatan itu sesungguhnya bisa diupayakan hanya dengan tindakan alamiah yang tidak ada hubungannya dengan keyakinan mistis atau agamis. Lalu bagaimana kaum agamis menyikapi fenomena ini?

Umumnya agama-agama, termasuk kekristenan, meyakini adanya dua kekuatan supra alami yang saling bertentangan. Yang pertama bersifat positif atau berniat baik. Kekuatan ini umumnya dijuluki sebagai ‘tuhan’ atau ‘dewa-dewi’ penolong manusia. Sedangkan yang kedua bersifat negatif atau jahat. Kekuatan ini umumnya dijuluki sebagai Iblis atau setan. Di sisi lain ada manusia sebagai salah satu jenis makhluk di antara makhluk-makhluk lainnya, yang menyadari diri dalam posisi yang berada pada batas-batas kemampuan untuk menghadapi tantangan dan masalah yang bisa timbul di sekitarnya, dalam hal ini termasuk ancaman dari kekuatan jahat tersebut. Pada kondisi sadar akan keterbatasan inilah kaum agamis yakin dan berharap akan campur tangan pertolongan dari yang dianggap sebagai oknum ‘tuhan’.

Tidak bisa dipungkiri bahwa Alkitab juga dipenuhi kisah-kisah perihal campur tangan Tuhan secara ajaib untuk menolong umat-Nya dari bahaya dan dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Misalnya saat meluputkan bangsa Israel dari penindasan bangsa Mesir yang dikisahkan pada kitab Keluaran. Juga ketika Yesus memberi makan lima ribu orang yang dikisahkan dalam kitab-kitab Injil. Jadi tidak bisa diragukan, Alkitab juga mengajarkan bahwa pada situasi dan alasan tertentu, Allah bisa saja campur tangan seturut kehendak-Nya untuk menolong orang-orang yang berseru kepada-Nya. Jadi perihal ditolong oleh Tuhan dalam bentuk penyelamatan fisik, harus diakui juga sebagai suatu fakta alkitabiah.

Namun sangat disayangkan ketika pesona kisah-kisah pertolongan Tuhan seperti itu telah menyeret para pembaca bahkan pengajar Alkitab pada kesimpulan bahwa hal-hal itulah yang merupakan tujuan keselamatan di dalam Kristus diadakan. Khotbah-khotbah yang bermuatan konsep keselamatan seperti itu, terbukti secara tidak sadar namun pasti, telah membentuk motivasi bergereja hanya untuk mendapatkan perlindungan dan pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam hal ini, tujuan beribadah tidak lagi terutama untuk suatu pengabdian mutlak kepada Tuhan.

Padahal kita seharusnya selalu menyadari, bahwa sehebat apapun kisah-kisah pertolongan Tuhan yang tertulis dalam Alkitab, hal itu tidak bisa disejajarkan dengan karya keselamatan yang dikerjakan Allah melalui pengorbanan Kristus. Pertolongan Tuhan untuk memenuhi kebutuhan lahiriah pada masa hidup ini, harus dibedakan dengan keselamatan yang direncanakan Tuhan sejak sedia kala. Bahkan ketika diteliti secara saksama (yang akan dijelaskan pada uraian bagian terakhir), keselamatan dalam Kristus itu sama sekali tidak berurusan dengan kepentingan lahiriah atau keselamatan dalam pengertian umum ini. Tuhan Yesus juga memang telah dan akan bertindak melakukan pertolongan untuk memenuhi kebutuhan lahiriah orang percaya, namun tujuan kematian-Nya tidak terhubung dengan hal-hal tersebut. Sebab kalau hanya untuk memenuhi kebutuhan lahiriah, maka Yesus tidak perlu mati di kayu salib.

Tentu saja kita akan membatasi pembahasan arti keselamatan dalam bentuk umum ini, mengingat fokus kita adalah melihat secara spesifik pengertian keselamatan yang dikerjakan di dalam Yesus Kristus. Namun sebelum masuk pada pengertian tersebut, kita perlu melihat konsep lain dari pengertian keselamatan yang juga telah terbangun dalam kekristenan saat ini.

  • Keselamatan Dalam Pengertian Kristen Yang Dangkal

Selain dari kisah-kisah pertolongan Tuhan dari ancaman bahaya dan pemenuhan kebutuhan hidup, Alkitab juga memuat ajaran tentang dunia lain yang ada di luar bumi yang kita diami ini. Sorga sebagai tempat kediaman Allah sangat jelas dalam PL. Bahwa manusia dapat di bawa ke sorga, sudah diyakini dalam PL (2 Raja-raja 2:1,11). Gambaran tentang sorga semakin jelas dalam PB sebagai tujuan akhir bagi orang-orang yang diselamatkan setelah hari penghakiman pada akhir zaman nanti.

Tetapi ajaran mengenai neraka dan kebangkitan dari kematian tidak ditemukan dalam PL. Bahkan ada beberapa naskah PL yang memberi kesan tidak adanya kebangkitan dari kematian, seperti dalam Ayub 14:10-12 dan Mazmur 88:10-12. Maka tidak heran apabila secara umum orang-orang Israel tidak meyakini adanya kebangkitan dari kematian. Hal ini dapat terlihat dengan jelas pada perdebatan orang-orang Saduki dengan Yesus (Matius 22:23). Ajaran yang disertai dengan bukti kebangkitan dan kenaikan Yesuslah yang kemudian membuat ajaran mengenai sorga dan neraka semakin jelas dan marak dalam PB.

Tentu saja sangat banyak ayat-ayat di dalam PB yang menyatakan tentang adanya sorga dan neraka sebagai tempat terakhir dan yang bersifat kekal bagi manusia kelak. Ketika para teolog Kristen mulai lebih kritis dapat melihat bahwa masuk ke sorga lebih penting ketimbang sekedar perlindungan dari bahaya dan pemenuhan kebutuhan jasmaniah, maka arti keselamatan di dalam Kristus itu mengalami kenaikan makna menjadi “keluputan dari neraka dan diperkenanan masuk sorga”. Di sini perlu ditegaskan bahwa, meskipun pengertian keselamatan pada tahap ini mengandung kebenaran dan bersifat alkitabiah juga, namun pengertian ini sangat dangkal.

Sorga memang adalah merupakan hasil akhir dari keselamatan, namun tujuan dari keselamatan dalam Yesus Kristus itu jauh melebihi hal tersebut. Karena kalau keselamatan dalam Kristus hanya bertujuan untuk meluputkan orang dari neraka, maka seyogyanya orang-orang yang telah percaya kepada Kristus sudah seharusnya langsung di bawa masuk ke sorga saat mereka menyatakan percayanya. Untuk apa Allah harus menanggung risiko menunggu lebih lama sehingga orang yang sudah percaya berpotensi murtad kembali? Atau tidak sanggupkah Tuhan menciptakan makhluk baru yang Dia sukai untuk mengisi sorga, ketimbang memperbaiki manusia yang sudah rusak oleh dosa?

Yang lebih celaka lagi adalah bahwa keselamatan dalam pengertian yang sempit ini menjadi sangat terbatas manfaatnya hanya kepada mereka yang mempunyai kesempatan untuk mengenal Injil. Lalu bagaimana dengan orang-orang saleh Tuhan yang hidup di luar (sebelum) Kristus? Dengan teori keselamatan seperti ini kita akhirnya menempatkan Tuhan sebagai pribadi yang tidak adil. Jadi pada hakikatnya arti keselamatan di dalam Kristus itu tidak terutama agar orang percaya diperkenankan masuk sorga. Orang yang diselamatkan sudah pasti masuk sorga, akan tetapi orang yang sekedar menyatakan percaya saja belum tentu diperkenankan masuk sorga. Misteri ini akan terjawab apabila kita memahami secara utuh arti atau maksud dari keselamatan di dalam Kristus yang sesungguhnya pada uraian selanjutnya.

Apabila kita sepakat bahwa keselamatan adalah merupakan pokok sentral rencana Allah bagi kehidupan manusia, maka seharusnya kita juga sadar bahwa Iblispun akan berupaya sedapatmungkin mengaburkan pengetahuan tentang keselamatan ini dalam pikiran manusia, termasuk orang Kristen. Bertolak dari kesadaran ini maka penulis melihat bagaimana kekristenan dikondisikan oleh Iblis agar berada pada keadaan hanya sekedar setuju pada karya penyelamatan dalam Kristus di seputar keluputan dari bahaya, pemenuhan kebutuhan hidup, dan untuk diperkenankan masuk sorga saja. Dari sisi logisnya, penyebab terjebaknya orang Kristen hanya pada dua konsep keselamatan yang sudah dijelaskan adalah karena keterbatasan kemampuan dalam menggali arti keselamatan di dalam Kristus, yang sesungguhnya tidak hanya tertulis secara langsung atau definitif, melainkan dimuat secara tersirat secara berkesinambungan di sepanjang Alkitab.

Memang harus diakui bahwa dua pengertian keselamatan yang sudah dijelaskan di atas (keamanan dan kebutuhan hidup serta diperkenankan masuk sorga) jauh lebih mudah disimak dan akan selalu lebih menggoda selera ketimbang pengertian keselamatan yang akan diuraikan selanjutnya, sehingga kedua teori ini akan selalu lebih dominan mempengaruhi para pembaca dan pengajar Alkitab sepanjang masa. Namun keadaan tersebut tidak boleh mengendorkan semangat kita untuk menggali dan menyatakan kebenaran. Karena Roh Kudus akan selalu bekerja untuk menggerakkan hati orang-orang “yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani” (1 Petrus 2:2). Kerinduan ini mengantar kita pada pengertian keselamatan yang ketiga.

  • Keselamatan Dalam Kristus Seutuhnya Menurut Alkitab

Untuk bisa memahami arti atau tujuan keselamatan yang dikerjakan Allah di dalam pribadi Yesus Kristus secara utuh, maka yang pertama perlu disadari adalah bahwa arti keselamatan tersebut tidak mungkin bisa dipahami dengan hanya berdasarkan pengertian-pengertian arti kata ‘selamat’ yang tertera dalam kamus bahasa saja, dan juga tidak bisa disimpulkan dengan hanya berpatokan pada beberapa nas Alkitab saja. Prinsip ini harus diterima jika ingin memahami arti keselamatan yang sejati.

Upaya melihat kebenaran paling sentral dalam kekristenan ini menuntut pengenalan isi Alkitab secara utuh atau menyeluruh. Oleh karena itulah pentingnya mengenal Alkitab secara benar, dengan pertolongan Roh Kudus dan metode penelitian Alkitab (hermeneutika). Karena setiap ayat-ayat yang berbicara tentang keselamatan dalam Alkitab, harus dilihat dalam terang keseluruhan rencana Allah yang tertulis di sepanjang Alkitab. Tentu saja melihat hal ini tidak mudah, karena setidaknya harus memiliki kemampuan telaah teologis untuk melihat konteks yang meliputi: sejarah atau latar belakang dan tujuan penulisan setiap kitab dalam Alkitab itu, hingga kemampuan menganalisa teks dan konteks. Tulisan ini dibuat untuk maksud membantu mengatasi akibat keterbatasan dalam kemampuan tersebut, khususnya menyangkut topik tentang keselamatan.

Dengan prinsip telaah teologis, maka para pembaca akan dituntun untuk masuk pada pemahaman konsep keselamatan yang ketiga, yakni konsep keselamatan pada standar seutuhnya menurut Alkitab (alkitabiah). Langkah pertama yang akan kita lakukan adalah, menggali sejarah pandangan tentang keselamatan yang pernah terbangun dalam pikiran orang-orang yang hidup pada zaman Alkitab. Hal ini dapat kita telusuri jejaknya, pertama-tama dari Alkitab PL, kemudian dari PB, dan yang akhirnya akan bermuara pada kemampuan memahami keselamatan itu dalam arti yang sesungguhnya, serta dapat diterima secara lebih masuk akal dari sebelumnya. Inilah yang merupakan tujuan dari tulisan ini dibuat.

Pandangan Keselamatan Pada Zaman Alkitab Dan Paska Rasul

Sebelum kita lebih jauh mendalami arti keselamatan di dalam Yesus Kristus, maka sebagai landasan berpikir mendasar, kita harus setuju bahwa arti keselamatan dalam Kristus itu telah tertera di sepanjang Alkitab, mulai dari PL hingga PB; mulai kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Maksudnya, arti keselamatan dalam Kristus haruslah merupakan kesimpulan dari memahami Alkitab secara utuh (tidak secara parsial). Kedua bagian besar Alkitab ini harus dipandang sebagai satu kesatuan yang terjalin saling melengkapi dalam memberi arti keselamatan yang sejati. Ibarat sebuah pentas pertunjukan cerita, Alkitab adalah satu kisah yang terpisah dalam dua babak: Babak pertama (PL) tidak mudah dipahami tanpa dipentaskannya babak kedua (PB), dan sebaliknya babak kedua juga tidak bisa dipahami tanpa mengikuti babak pertama. Demikianlah alasan mengapa melihat arti keselamatan dalam Alkitab itu menjadi tidak sesederhana yang dipikirkan banyak orang. Sekarang kita akan mulai menelusuri pandangan tentang keselamatan yang pernah terbangun dalam pikiran orang-orang yang hidup pada zaman Alkitab.

  1. Pandangan Keselamatan Dalam PL

Salah satu faktor penyebab sulitnya melihat arti keselamatan dalam Kristus itu di dalam Alkitab PL adalah, karena kisah-kisah di dalamnya sangat sarat atau dominan menonjolkan kisah-kisah penyelamatan secara fisik atas kelangsungan hidup umat Tuhan. Kisah-kisah keselamatan itu terlihat memiliki pola yang sama, yakni terancamnya umat dari serangan musuh hingga ketertawanan menjadi budak, dan dari bahaya kelaparan karena kekeringan, yang mana hal tersebut dianggap sebagai akibat dari dosa umat yang telah meninggalkan Allah atau melanggar ketatapan Allah. Kondisi seperti itu menyadarkan umat untuk berbalik dan berseru memohon pertolongan dan keselamatan dari Allah, dan hal itu dikabulkan. Alat-alat atau perantara keselamatan yang diyakini dalam PL, disediakan berupa para Bapa Leluhur, para Hakim, Imam, Raja, Nabi, dan juga faktor ketaatan mereka pada hukum-hukum ritual agama.

Namun ternyata sering kali ditemukan bahwa para perantara keselamatan tersebut terjebak dalam kelemahan-kelemahan manusiawi yang menyebabkan kemerosotan kualitas iman dan moral umat. Misalnya dalam penyalahgunaan hukum yang menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi umat. Konsep penyelamatan seperti ini berlangsung sangat lama. Bisa diperkirakan semenjak bangsa Israel berada di Mesir sebagai budak hingga masa-masa kembalinya bangsa itu dari pembuangan di Babel. Sampai pada tahap ini, konsep keselamatan yang ada pada pemikiran bangsa Israel pada dasarnya sama dengan pengertian umum seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, yakni keluputan dari masalah-masalah lahiriah.

Siklus berulangnya pola terjadinya masalah dan tindakan penyelamatan dari masalah, tentu saja menimbulkan efek jenuh dan ternyata telah memicu timbulnya pemikiran akan keselamatan yang ideal. Kondisi ini akhirnya mendorong ke arah pengharapan akan keselamatan yang sempurna, hingga akhirnya pada konsep keselamatan yang abadi. Fenomena ini dapat terlihat dari maraknya nubuat-nubuat dalam PL tentang akan datangnya keselamatan yang ideal, yang mengacu kepada sosok yang disebut dengan istilah mesias dalam bahasa Ibrani, dan istilah kristus dalam bahasa Yunani.

Untuk membantu pikiran kita tergabung pada suasana pengharapan kemesiasan yang ada pada masyarakat Yahudi waktu itu, maka berikut ini disajikan beberapa ayat yang dijadikan landasan berpikir:

  • Yesaya 44:21-28

Nubuat Yesaya tentang janji Tuhan akan membangun kembali kerajaan Israel dan kota-kotanya, termasuk bait Allah yang menjadi pusat kerohanian mereka. Nubuat ini membentuk pola pikir tentang keselamatan abadi bernuansa lahiriah yang bercokol dalam benak orang Israel setiap kali tekanan hidup berbangsa mereka alami.

  • Daniel 7

Penglihatan Daniel tentang penguasa-penguasa dunia yang dilambangkan seperti binatang dan yang kemudian takluk dengan datangnya penguasa baru yang digambarkan seperti Anak Manusia. Orang Israel tentu saja akan menafsirkan hal ini sebagai akan tampilnya raja ideal yang akan memerintah Israel dan disegani dunia.

  • Yesaya 52 dan 53

Mungkin orang-orang Israel agak bingung dengan nubuatan Yesaya di pasal-pasal ini. Sosok gambaran penyelamat yang lemah ditampilkan. Di kemudian hari nubuat ini tetap menjadi sesuatu yang misterius bagi umat yang menutup diri pada keselamatan sejati, namun yang telah menjadi rambu-rambu petunjuk arah bagi yang membuka diri kepada keselamatan dalam Yesus Kristus di kemudian hari.

  • Mikha 5:2

Bagi para pengikut Yesus tentu saja ayat yang menyebut tempat kelahiran mesias ini (Betlehem) menjadi petunjuk yang kuat.

Sebagai kesimpulan sementara, ayat-ayat di atas memang merupakan nubuat-nubuat yang menyatakan akan datangnya seorang mesias bagi Israel. Akan tetapi ayat-ayat tersebut akhirnya menimbulkan multi tafsir karena tidak menjelaskan prosedur kerja penyelamatan itu secara terperinci, sehingga dengan demikian juga menjadi sulit mengungkap arti keselamatan itu secara esensial. Bahkan hingga saat ini pemahaman yudaisme tidak kunjung sampai pada pemahaman kristiani, karena mereka lebih memilih untuk beranggapan bahwa nubuat-nubuat PL tentang Mesias adalah sesuatu yang belum digenapi hingga saat ini, terlebih karena Bait Allah sebagai sarana utama untuk menegakkan sistem keagamaan mereka belum kunjung bisa dibangun kembali.

Bentuk pengharapan yang paling menonjol dari gejolak pemikiran atas nubuat-nubuat tersebut adalah hadirnya seorang raja sakti yang akan memerintah Israel. Terlebih ketika dunia Timur Tengah berada pada tekanan penguasaan imperium Romawi, maka pengharapan raja ideal ini semakin memuncak dalam diri masyarakat Israel (Yahudi). Itu sebabnya ketika Yesus tampil dengan kuasa mujizat-mujizat spektakuler-Nya, maka pengharapan yang demikian semakin bergelora hingga ke titik puncak yang terlihat pada skenario rencana membawa paksa Yesus menjadi raja untuk memerintah Israel (Yohanes 6:15). Namun pengharapan itu seketika sirna setelah kematian-Nya. Kebangkitan-Nya pun tidak memenuhi harapan pada konsep kemesiasan yang ada, karena akhirnya Yesus naik ke sorga meninggalkan mereka.

Ketidaksesuaian pengharapan dengan peran Yesus, telah mendorong para murid-murid-Nya menggali ulang arti kemesiasan atau penyelamatan dalam Kristus itu. Pemahaman baru mereka tentang konsep kemesiasan Kristus itulah yang akhirnya dituangkan dalam tulisan-tulisan mereka yang menjadi kanon Alkitab PB saat ini. Namun seiring kematian para rasul dan oleh perkembangan dalam dunia sastra, hal ini berdampak pada kesulitan memahami redaksi Alkitab yang telah menjadi buku unik bagi masyarakat modern saat ini. Upaya memahami arti yang sesungguhnya dari redaksi-redaksi inilah yang mendorong diselenggarakannya jenjang pendidikan kesarjanaan di bidang teologia masa kini. Selanjutnya kita beralih pada konsep keselamatan yang terbangun pada era PB.

  • Pandangan Keselamatan Pada Era PB

Tampilnya Yesus sebagai pribadi yang dapat menjawab kebutuhan hidup dengan kuasa-kuasa supra alami (mujizat) telah membangkitkan kembali pengharapan akan keselamatan dengan konsep lahiriah yang sudah tertanam sejak lama, sebagaimana telah dijelaskan di atas. Namun agar pemandangan itu dapat terlihat secara lebih jelas, maka kita dapat menyimaknya secara saksama dalam rangkaian penuturan Yohanes pada kitab Injilnya. Penuturan ini adalah kisah yang menceritakan dua hari puncak popularitas Yesus, namun sekaligus yang merupakan titik balik sikap orang banyak yang semula sangat mengagumi, lalu berbalik menjadi membenci dan bermuara pada rencana pembunuhan. Untuk dapat menyimak yang dimaksud secara lebih jelas, berikut adalah gelombang aliran progres Yohanes pasal 6 tersebut:

  • Ayat 1-2

Menjelaskan ketertarikan orang banyak kepada Yesus karena mujizat-mujizat kesembuhan yang Dia lakukan. Pada ayat 10 dilaporkan jumlah peserta waktu itu mencapai 5000 orang, hanya laki-laki saja (belum termasuk wanita). Untuk melakukan kegiatan dalam jumlah sebesar ini, pada saat ini saja bukanlah sesuatu yang mudah. Intinya, Yesus sangat populer dan dikagumi, sekaligus dipercayai saat itu, sehingga orang-orang rela datang tanpa takut resiko apapun.

  • Ayat 5-13

Ayat-ayat ini mengungkap proses terjadinya mujizat yang sifatnya berbeda dari mujizat-mujizat sebelumnya. Menggandakan 5 roti dan 2 ikan untuk dinikmati 5000 orang lebih, dalam seketika.

  • Ayat 14-15

Orang-orang yang melihat langsung mujizat itu dari dekat (sangat mungkin adalah tokoh-tokoh penting karena memahami seluk-beluk nubuat mesianis dalam PL), menyimpulkan bahwa Yesus adalah “nabi yang akan datang ke dunia”. Nabi yang dimaksud adalah, pribadi penyelamat yang akan memerintah bangsa Israel untuk menghadapi penguasa-penguasa dunia saat itu. Lalu mereka sepakat membawa Yesus secara paksa untuk dinobatkan menjadi raja. Masalahnya Yesus tidak bersedia dan malahan menyingkir dari hadapan mereka.

  • Ayat 22-26

Kisah ini berlanjut hingga keesokan harinya. Gelombang orang besar berusaha menemukan Yesus untuk pengharapan yang sama, yakni mujizat makanan dan sedapat mungkin bersedia dinobatkan menjadi raja politis.

  • Ayat 27-66

Tetapi anehnya, Yesus justru merespon pengharapan orang-orang yang telah menjadi percaya itu dengan tidak melakukan mujizat apapun saat itu. Sebagai gantinya Ia malah memancing perdebatan alot soal tubuh-Nya yang Ia nyatakan sebagai roti (makanan). Perdebatan itu bermuara pada kekecewaan dan akhirnya berdampak pada sebagian besar murid-Nya mengundurkan diri.

  • Ayat 67-71

Yesus mengakhiri pertemuan hari itu dengan nubuat tentang akhir hidup-Nya sebagai manusia yang akan berakhir dengan cara pengkhianatan dan kematian. Hal ini menjadi titik balik dari konsep keselamatan khayalan orang Israel ke konsep keselamatan hakiki dalam Kristus yang begitu sulit dipahami, bahkan oleh murid-murid-Nya yang tetap setia saat itu.

Pemahaman yang benar tentang keselamatan itu akhirnya bisa dipahami oleh murid-murid, justru setelah Yesus Kristus naik ke sorga dan setelah Roh Kudus dicurahkan atas orang-orang percaya. Bukti kesadaran ini terlihat dalam doa Petrus dalam Kisah 4:23-28, bahwa Yesus memang telah ditentukan untuk melaksanakan segala sesuatu dari semula, dalam hal ini termasuk ‘keselamatan’ oleh kuasa dan kehendak Allah Bapa. Penjabaran arti keselamatan yang ditetapkan sejak semula ini (dalam pemahaman yang baru ini) akhirnya mereka ajarkan, baik secara lisan tetapi juga disinggung secara terpisah-pisah dalam tulisan-tulisan mereka yang tertampung dalam Alkitab PB saat ini.

Tetapi seiring berlalunya waktu dan terjadinya perkembangan situasi, tulisan-tulisan mereka itu menjadi sesuatu yang tidak mudah dipahami oleh pembaca atau orang-orang Kristen yang tidak lagi bersentuhan secara langsung dengan para Rasul dan Kristen mula-mula. Hal ini memang dapat dimaklumi karena ketika para rasul menulis surat-surat tersebut, tidak ada satu suratpun yang secara khusus ditulis untuk menjelaskan perihal keselamatan secara komprehensif. Hal ini mungkin karena perihal keselamatan bukanlah sesuatu yang sulit dipahami Kristen mula-mula, sehingga tidak ada persoalan yang terlalu serius menyangkut konsep keselamatan pada waktu itu yang menuntut agar hal itu didefinisikan secara gamblang dalam tulisan. Jadi bisa disimpulkan bahwa konsep keselamatan sejati telah bulat dipahami oleh orang-orang Kristen perdana tanpa didefinisikan secara khusus. Hal itu sudah tersimpul dalam pemahaman, pembicaraan, dan penghayatan mereka. Bukan dalam uraian definitif secara tertulis dan khusus.

Demikianlah arti keselamatan di dalam Kristus akhirnya menjadi perdebatan dan bermuara kepada berbagai konsep sejak paska rasul hingga saat ini. Menggali ulang konsep keselamatan yang dipahami para rasul paska kenaikan Tuhan Yesus (konsep yang sejati) adalah tujuan dari tulisan ini. Namun agar lebih mudah memahaminya, kita harus terlebih dahulu menyingkap dinamika degradasi konsep keselamatan tersebut yang menimbulkan terciptanya berbagai pandangan keselamatan pada paska rasul.

  • Pandangan Keselamatan Paska Rasul

Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam PB terdapat beberapa naskah tentang topik keselamatan yang terkesan bertentangan satu dengan yang lainnya. Perkembangan pemikiran kritis terhadap arti keselamatan di dalam Kristus akhirnya mengemuka oleh terjadinya masalah Indulgensi (surat pengampunan dosa) pada gereja yang masih katolik (am) pada abad ke-16. Penyalahgunaan Indulgensi dengan cara memungut imbalan uang untuk mendapatkannya sebagai salah satu sumber upaya merenovasi basilica Santo Petrus oleh Paus Leo X, semakin meningkatkan suhu keinginan banyak orang untuk mereformasi gereja pada waktu itu.

Tugas penjualan Indulgensi ini semakin gencar di tangan seorang pengkhotbah handal bernama Johann Tedzel yang bertugas sebagai komisaris Indulgensi di Jerman. Kalimatnya yang terkenal, “Begitu mata uang bergemerincing di dalam kotak, maka jiwa yang sedang menanti di purgatorium pun akan terlepas”, telah mendorong rahib Jerman, Martin Luther, untuk mengibarkan bendera reformasi gereja yang diidamkan saat itu. Oleh karena itu dia secara terbuka menentang penggunaan Indulgensi yang ditulisnya dalam salah satu dari 95 tesisnya yang terkenal. Tesis inilah yang kemudian menjadi tulang punggung kekuatan terjadinya reformasi protestan.

Praktek penjualan Indulgensi yang telah memberi dampak pemikiran bahwa pengampunan dosa dapat dibeli atau diperoleh dengan uang, mendorong Luther untuk menegaskan bahwa pengampunan dan keselamatan itu diperoleh hanya sebagai anugerah oleh iman orang-orang percaya (Efesus 2:8-10). Bahwa orang benar akan hidup oleh iman (Roma 1:17), dibenarkan dengan cuma-cuma (Roma 3:24), karena sesunguhnya Yesus Kristus telah memikul dosa dunia (Yohanes 1:29).

Tetapi semangat mengkritisi paham gereja yang melenceng saat itu telah membuka pintu gerakan tendensius mengabaikan peran manusia dalam meresponi anugerah keselamatan yang Allah tawarkan secara proporsional. Gerakan reformasi juga pada akhirnya membawa gereja bergeser dari warisan pemahaman gereja mula-mula ke sisi lain. Kaum protestan itu segera beralih meninggalkan konsep keselamatan yang terwujud oleh peran kerja sama antara Allah dengan manusia. Hal itu ibarat ayunan bandul yang ketika ditarik jauh ke satu sisi, maka setelah dilepas akan mengayun jauh pula ke sisi yang lainnya. Paus Leo dan Tedzel telah menarik bandul kekeliruan gereja terlalu jauh ke satu sisi, dan sebagai imbasnya kaum protestan telah mengayun jauh dalam usaha mengkritisi, bahkan ayunan itu telah disambut dan diteruskan lebih jauh lagi oleh para reformator lainnya yang tidak selalu sejalan dengan Luther. Yang paling terkemuka dalam hal ini adalah seorang teolog berbakat bernama Yohanes Calvin dari Prancis.

Jadi pada dasarnya tidak semua semangat reformasi dipengaruhi dan mengikuti ideologi Luther secara utuh. Hal ini jelas terlihat dari kiprah Calvin yang telah meresponi reformasi protestan hingga ke teologia predestinasi. Para pengikutnya yang kemudian dijuluki sebagai kalvinisme, telah merumuskan teologianya dalam lima point yang disingkat dengan singkatan rumusan berbahasa Inggris, yakni ‘TULIP’: Total depravity (kerusakan total), Unconditional election (pemilihan tanpa syarat), Limited atonement (penebusan terbatas), Irresistible grace (anugerah yang tidak dapat ditolak), dan Perseverance of the saints (ketekuan orang-orang kudus). Ciri atau tekanan utama dari teologia ini adalah pemilihan dan penetapan orang yang diselamatkan oleh Allah sejak sedia kala. Maksudnya bahwa sesungguhnya Allah telah memilih dan menetapkan orang-orang yang nanti akan selamat dan masuk sorga, dengan demikian juga telah tertetapkan orang-orang yang akan binasa dan masuk neraka. Pemahaman ini didasarkan pada naskah Efesus 1:4,5; Roma 8:29 dan banyak lagi ayat-ayat yang mendukung keyakinan tersebut. Teori ini tentu saja bukan tanpa argumen yang kuat.

Tindakan predestinasi ini, oleh Calvin tidak dipandang sebagai tindakan semena-mena atau merupakan diskriminasi atau ketidakadilan Allah. Karena menurut dia keadaan manusia sejak jatuh dalam dosa memang sudah tidak layak lagi bagi Allah dan sudah dalam status binasa. Hal ini didukung naskah Alkitab yang mengatakan, “upah dosa ialah maut” (Roma 6:23). Bagi kaum kalvinis status kejatuhan manusia itu dipandang sebagai kerusakan total, sehingga tidak memiliki kemampuan lagi untuk mencari Allah. Beberapa kalvinis telah memakai peristiwa Allah mencari Adam pada Kejadian 3:8,9 untuk dijadikan sebagai bukti ketidaksanggupan manusia lagi untuk datang kepada Allah, sehingga Allahlah yang mencari manusia.

Bagi kaum kalvinis letak keadilan Allah itu hanya sampai pada, bahwa seluruh umat manusia telah binasa saat Adam jatuh dalam dosa. Konsekuensi dari berdosa adalah binasa atau masuk neraka. Dengan hukum tersebut maka Allah telah berlaku adil. Oleh karenanya ketika Allah memilih dan menetapkan sebagian manusia yang sudah seharusnya binasa itu untuk dijadikan anak-anak-Nya dan dibawa masuk ke dalam sorga, itu sudah merupakan hak atau kedaulatan mutlak Allah. Menurut kalvinis kebijakan memilih sebagian untuk diselamatkan itu tidak bisa dipandang lagi sebagai ketidakadilan. Karena keadilan-Nya telah selesai ketika menghukum manusia dengan kebinasaan saat jatuh dalam dosa. Jadi memilih sebagian orang yang seharusnya binasa itu, sudah merupakan kasih karunia atau anugerah-Nya yang diberikan secara cuma-cuma (Roma 3:24). Oleh karena itu orang yang tidak dipilih untuk masuk sorga tidak berhak menuntut keadilan. Demikianlah orang-orang kalvinis menganut paham konsep keselamatan di dalam Kristus itu sebagai “kejatuhan total manusia”, dan oleh karenanya “pemilihan Allah tanpa syarat”, “penebusan manusia terbatas” juga, “anugerah tidak bisa ditolak” oleh manusia yang terpilih, dan “kepastian ketekuan (kesetiaan) orang-orang kudus” pasti terjadi dengan sendirinya.

Selain ayat-ayat yang telah dikemukakan di atas, banyak ayat-ayat yang biasanya dipakai dalam mendukung teori kalvinis tentang keselamatan, seperti naskah yang mengatakan bahwa Dia telah menyelamatkan kita bukan karena perbuatan baik yang kita lakukan (Titus 3:5), juga perihal pembenaran bukan oleh melakukan hukum Taurat melainkan oleh iman (Galatia 2:16; Roma 4), dan lain-lain. Teori keselamatan ala kalvinis yang bagaikan bandul yang melambung jauh ini akhirnya mendapat reaksi dari teolog Belanda bernama Yacobus Arminius.

Meskipun Arminius adalah murid dari seorang penerus Kalvin, namun ia menolak dengan tegas tiga konsep keselamatan ala kalvinis. Dan oleh karenanya ia dikutuk dalam Sinode kalvinis. Bagi Arminius, meskipun kejatuhan manusia membuat manusia tidak layak lagi bagi Allah dan oleh karenanya seharusnya binasa, namun masih ada kemampuan untuk merespon, sehingga dapat menanggapi anugerah Allah. Anugerah Allah itu cukup sebagai pendahuluan untuk meresponi keselamatan yang Allah tawarkan. Kenyataannya memang Adam dapat menjawab ketika Allah mencarinya.

Oleh karenanya bagi Arminius, penebusan dan pemilihan tidak terbatas bagi semua manusia, namun penebusan yang Allah tawarkan itu akan terwujud sesuai kehendak bebas manusia dalam menerima atau menolak (Yohanes 1:12; 3:16). Menurut Arminius, yang dimaksud dengan orang-orang yang terpilih dan ditetapkan pada naskah Efesus 1:4,5 dan Roma 8:29 adalah dalam pra-pengetahuan Allah saja. Artinya bahwa Allah sudah mengetahui sebelumnya orang-orang yang akan menerima maupun menolak tawaran keselamatan itu, namun Allah tidak menetapkannya secara individu. Reaksi kontra Arminius terhadap teologia predestinasi kalvinis ini akhirnya bermuara pada terbentuknya aliran atau pengikut pahamnya yang disebut sebagai ‘armenian’.

Selain dari ayat-ayat yang diutarakan di atas, kita juga dapat menemukan naskah-naskah Alkitab yang terlihat jelas bertentangan dengan teologia predestinasi mutlak (pemilihan dan penetapan orang-orang yang akan diselamatkan). Ayat-ayat tersebut secara gamblang telah mengatakan bahwa: Anak domba Allah itu datang untuk menghapus dosa dunia (Yohanes 1:29), bahwa Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan menyerahkan Yesus sebagai tebusan bagi semua manusia (1 Timotius 2:4,6), bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat semua manusia, terutama orang percaya (2 Timotius 4:10), bahwa agar jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat (2 Petrus 3:9), bahwa Yesus adalah pendamaian untuk dosa seluruh dunia (1 Yohanes 2:2), bahwa darah Yesus telah membeli manusia dari tiap-tiap suku, bahasa, kaum dan bangsa (Wahyu 5:9), dan bahwa iman kepada Allah yang menyelamatkan itu akan terlihat dari perbuatan-perbuatan manusia (Yakobus 2:14-26), dan lain-lain.

Fakta data-data alkitabiah di atas, yang terkesan bertolak belakang dengan ayat-ayat yang dipakai untuk mendukung teologia predestinasi mutlak, membuat banyak orang percaya bingung dan tidak hentinya menjadi perdebatan para teolog hingga saat ini. Padahal sebagai orang yang percaya bahwa Alkitab itu telah diwahyukan oleh Allah, seharusnya kita menganut prinsip bahwa naskah-naskah Alkitab tidak mungkin bertentangan satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu kita harus berpikir bahwa kitalah yang salah mengerti terhadap naskah-naskah tersebut atau belum sampai pada pemahaman yang sebenarnya. Karena memang harus jujur diakui bahwa Alkitab bukanlah kitab yang mudah dimengerti. Selain membutuhkan tuntunan dari Roh Kudus, juga karena Allah memang bekerja secara progresif dalam menyingkap kebenaran-Nya seiring bertambahnya pengetahuan (Daniel 12:4).

Warisan pewahyuan Daniel tentang progresivitas penyingkapan kebenaran, seharusnya mendorong kita sehingga tidak tinggal terpaku pada penemuan para pendahulu kita sebagai kebenaran yang mutlak. Marthin Luther, Yohanes Calvin, Yacobus Arminius, dan lain-lain, adalah orang-orang yang dipakai Tuhan sesuai kebutuhan pada zamannya. Kita patut berterimakasih untuk usaha-usaha mereka dalam menggali kebenaran. Tetapi kita harus sadar bahwa Tuhan akan semakin mengungkap kebenaran secara progresif dari waktu ke waktu. Dan kita yang hidup pada zaman ini, harus mengambil peran dalam penyingkapan selanjutnya. Lalu bagaimana sebaiknya menjawab perbedaan pandangan di atas?

Adanya naskah-naskah Alkitab yang memberi kesimpulan secara gamblang bahwa Allah berkehendak agar semua manusia tanpa kecuali beroleh selamat, harus mendorong kita untuk berusaha mencari arti yang sesungguhnya dari ayat-ayat yang terkesan kontroversial. Kemajuan berteologia saat ini telah didukung oleh satu bidang ilmu dalam bentuk metode penelitian yang disebut ‘hermeneutika’. Salah satu disiplin yang diterapkan dalam metode ini untuk menghindari kesalahan dalam melihat arti harafiah dan ketergesa-gesaan menyimpulkan arti satu kalimat hanya dari mengutip satu ayat, adalah pendekatan terhadap konteks, mulai dari konteks ayat-ayat terdekat, konteks perikop, konteks tujuan penulisan kitab, hingga konteks budaya dan sejarah yang melatarbelakangi kitab tersebut ditulis. Melalui cara ini, meskipun agak rumit, ditambah dengan perluasan wawasan tentang pengertian keselamatan sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, maka kita akhirnya dengan mudah dapat melihat arti yang sesungguhnya dari ayat-ayat tersebut. Sekarang kita memasuki pembahasan konsep keselamatan alkitabiah yang lebih rasional sejauh yang dapat diteliti hingga saat ini.

Konsep Keselamatan Rasuli

Menggali makna keselamatan yang alkitabiah itu memang tidak mudah. Karena hal itu menuntut kemampuan memahami jalan pikiran Allah yang tertuang dalam Alkitab secara menyeluruh. Tetapi upah yang akan kita peroleh dari upaya yang sungguh untuk memahami arti sejati dari keselamatan di dalam Kristus itu adalah, kekaguman yang tiada tara pada tersingkapnya misteri rencana agung Allah yang maha segalanya itu. Secara lambat-laun kita akan semakin merasakan kebaikan-Nya yang memberi Diri-Nya untuk bisa dikenal melalui goresan-goresan pena orang-orang yang bergaul akrab dengan-Nya, yang tertuang dalam Alkitab.

Setelah melalui penelusuran tentang berbagai konsep keselamatan yang terbentuk dalam sejarah pergumulan gereja sebagaimana telah dipaparkan sebelumnya, maka ada tiga hal lagi yang perlu kita pahami agar dengan sendirinya kita dapat memberi definisi dari keselamatan di dalam Kristus itu: Yang pertama adalah pengenalan pihak-pihak terkait di sepanjang perjalanan proses keselamatan itu dikerjakan oleh Allah, kemudian yang kedua adalah pengertian ‘anugerah’ yang merupakan kata kunci disediakannya keselamatan itu, dan yang ketiga adalah bagaimana Allah mengerjakan keselamatan itu melalui proses yang berlangsung secara bertahap atau progresif.

  1. Pihak-Pihak Terkait Program Keselamatan

Pengenalan peran dari setiap pihak-pihak atau pribadi-pribadi yang terlibat di sepanjang kisah penyelamatan yang diselenggarakan Allah ini akan membantu kita melihat jalan pikiran-Nya terkait penetapan program keselamatan itu sejak sedia kala. Masalah penyebab banyak teolog terjebak dalam penafsiran yang kaku terhadap ayat-ayat tertentu dalam menyimpulkan arti keselamatan adalah, karena tidak mengerti alur cerita keterkaitan peran dari masing-masing pihak utama tersebut. Karena untuk menggali suatu misteri dalam suatu perkara, kita harus terlebih dahulu menyusun perkara tersebut dalam satu cerita yang terjalin secara harmonis. Hal ini menjadi suatu keharusan mengingat Alkitab tidak menyajikannya dalam bentuk cerita, melainkan dalam bentuk terpisah-pisah yang diutarakan dalam banyak ayat-ayat. Pribadi-pribadi terkait kisah tersebut adalah: Allah, Lucifer, Manusia, dan Yesus Kristus. Berikut adalah penjelasan tentang tokoh-tokoh tersebut sejauh kaitannya dengan keselamatan:

  1. Allah

Allah adalah pihak pertama dan utama yang berperan dalam rencana ‘keselamatan’. Dialah perancang skenario jalan cerita dari awal hingga akhir kisah segala yang ada dan yang merupakan milik-Nya itu. Kita tidak mungkin sampai pada arti keselamatan yang sesungguhnya tanpa mengetahui seperti apa karakteristik Allah ini, bagaimana sesungguhnya jalan pikiran-Nya, dan apa yang sudah, sedang, dan yang akan Dia kerjakan.

Memang benar bahwa sampai kapanpun kita tidak akan bisa memahami Allah secara mutlak atau sepenuhnya. Kebesaran kemuliaan-Nya terlalu sulit dijangkau oleh kemampuan berpikir kita yang hanya merupakan insan ciptaan. Tetapi kita juga harus berpegang pada suatu prinsip bahwa Allah itu ada bukan untuk sama sekali tidak dapat dipahami. Pemberian dimensi roh kepada manusia, yang olehnya kita dapat berpikir hingga ke tingkat supra natural adalah agar dapat mengenal Dia sejauh yang kita perlukan untuk diketahui. Batasan yang dapat kita kenal tentang Dia itu telah dinyatakan secara progresif melalui pewahyuan Alkitab dan melalui pengalaman dalam proses kehidupan ini. Kita yang hidup di penghujung zaman ini bisa bersyukur setelah akhirnya memperoleh Kanon (kitab-kitab PL dan PB) sebagai sarana menggali kebenaran tentang Dia.

Melalui ketekunan mencari kehendak-Nya dan kesetiaan mengiring Dia, kita akan semakin mengalami Dia dan memperoleh penambahan pengetahuan tentang Dia hari demi hari. Terkait dengan keselamatan, kita perlu mengetahui beberapa hal yang merupakan karakteristik yang melekat pada Allah itu. Dari Alkitab kita mengetahui bahwa Allah itu:

Mahatahu (1 Samuel 2:3)

Kita seharusnya sudah berpikir bahwa dalam kemahatahuan-Nya, Allah telah merencanakan secara sempurna segala sesuatu sebelum mengadakannya. Dia bukanlah makhluk ciptaan yang hanya bisa menduga-duga apa yang mungkin terjadi. Dan bagi Dia, tidak ada kekuatan yang mungkin bisa menghambat apapun yang Dia ingin lakukan. Jadi apabila ada perkara-perkara yang terjadi di luar kehendak-Nya, maka semua hal itu sudah atas sepengetahuan dan seizin-Nya. Jadi ketika Ia meluaskan sesuatu di luar kehendak-Nya terjadi, hal itu bukan karena ketidaktahuan dan ketidakmampuan-Nya, melainkan karena suatu tatanan (hukum) yang telah Ia tetapkan, yang oleh karenanya Ia juga memutuskan untuk taat pada tatanan tersebut. Ini adalah prinsip mutlak dalam kemahatahuan Allah.

Salah satu tatanan yang Allah tetapkan terkait pihak-pihak lain yang berperan dalam alur cerita keselamatan ini adalah kehendak bebas. Allah telah memberikan kepada makhluk ciptaan yang segambar dengan Diri-Nya suatu kebebasan berpikir, berperasaan, dan berkehendak seperti diri-Nya. Kehendak bebas inilah yang memberi peluang bagi terjadinya pelanggaran atas kehendak-Nya. Sementara Allah itu tentulah pribadi berintegritas yang pasti akan berpegang teguh pada tatanan yang telah Dia tetapkan tersebut, sehingga tidak mungkin bertindak semena-mena dalam menangani suatu perkara. Dengan demikian maka Allahpun akan menanganinya dengan suatu tatanan. Jika ingin memahami maksud keselamatan diadakan secara jelas, maka tatanan Allah ini harus jelas dalam pikiran kita. Hal ini akan tersingkap melalui penelusuran alur cerita keterkaitan setiap peran pihak-pihak dalam rencana keselamatan ini.

Jadi bagi Allah dengan kemahatahuan-Nya sesungguhnya semua sudah selesai sejak sebelum segalanya ada. Perencanaan-Nya tidak mungkin salah dan semua sudah terantisipasi sebelumnya dengan baik. Itu sebabnya perihal pemberontakan Iblis dan kejatuhan manusia ke dalam dosa, meskipun hal itu bukan merupakan kehendak-Nya, namun hal itu harus kita pandang sebagai sesuatu yang sudah dalam pengetahuan Allah sebelumnya. Dengan demikian juga berarti bahwa antisipasi terhadap kerusakan yang ditimbulkan oleh dosa itu, dalam hal ini program keselamatan, sudah merupakan perencanaan matang-Nya jauh sebelum dosa ada. Oleh karena itu kita tidak boleh berpikir bahawa perihal kejatuhan ke dalam dosa seolah-olah merupakan suatu hal yang di luar dugaan Allah sebelumnya.

Dengan pemahaman di atas maka kita juga harus berpikir bahwa program penyelamatan manusia sudah merupakan perencanaan matang Allah sejak semula. Mungkin Petruslah yang pertama menyadari hal itu setelah peristiwa kematian, kebangkitan, dan kenaikan Tuhan Yesus (Kisah 4:27,28). Pemahaman ini penting dan mendasar. Karena hanya dengan menerima pemahaman bahwa Allah pada hakikatnya telah mengetahui sebelumnya kejatuhan manusia ke dalam dosa, maka kita akan dapat juga memahami arti keselamatan yang paling esensi, yang akan dijelaskan selanjutnya.

Maha Kudus (Yesaya 5:16)

Allah itu maha kudus, oleh karena itu Ia tidak mungkin kompromi dengan dosa sedikitpun. Itu sebabnya sekecil apapun dosa, pada hakikatnya akan langsung berakibat pada maut atau kebinasaan (Roma 3:23; 5:12: 6:23). Pada point ini yang penting disadari adalah, “dosa berakibat langsung pada maut”! Ini adalah hukum atau tatanan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan, sehingga Tuhan sendiripun tidak mungkin melanggarnya. Kejatuhan dalam dosa telah menempatkan seluruh manusia (bukan hanya Adam) pada posisi harus binasa atau masuk neraka. Lalu mengapa masih ada harapan bagi manusia untuk luput dari hukuman kekal itu? Alasannya adalah uraian berikut!

Maha Kasih (1 Yohanes 4:8,16)

Sebenarnya tidak ada ungkapan “Allah maha kasih” dalam Alkitab. Ungkapan ini hanya lahir dari reaksi manusia modern untuk menempatkan bahwa kualitas kasih Allah itu berada di atas kasih yang bisa diekspresikan siapapun. Yohanes berkata bahwa “Allah adalah kasih” (1 Yohanes 4:8,16). Itu saja! Artinya bahwa Allah itu sendirilah yang merupakan kasih yang sesungguhnya! Sifat inilah yang membuat Allah telah merencanakan jalan keluar, yakni keselamatan itu, jauh sebelum manusia akan jatuh ke dalam dosa (Kisah 4:28). Allah telah merencanakan atau mempredestinasikan keselamatan bagi umat manusia ketika nanti akan jatuh ke dalam dosa. Hal itulah yang dikerjakan-Nya dalam diri pribadi Allah yang kedua, Putera tunggal-Nya yang akan menjelma menjadi manusia dan yang diberi nama Yesus (Yohanes 3:16: Roma 3:24). 

Namun sangat disayangkan bahwa para penafsir dangkal telah mengajarkan ayat-ayat tersebut langsung sebagai tujuan keselamatan. Keyakinan ini kemudian menular dan diucapkan kebanyakan orang percaya secara latah. Juga telah mengartikan kata ‘percaya’ yang ada di dalamnya sebagai satu-satunya syarat untuk beroleh keselamatan, dan kata ‘cuma-cuma’ diartikan sebagai tidak perlunya upaya dari pihak manusia dalam meraih keselamatan. Kasih memang bisa dikatakan sebagai alasan utama mengapa Allah menyelamatkan. Lebih tepatnya, alasan mengapa Allah merencanakan keselamatan. Namun untuk menggali arti atau tujuan keselamatan diselenggarakan tidak dapat ditemukan hanya dari ayat-ayat tersebut. Hal ini akan dijelaskan pada bagian selanjutnya.

Maha Adil (Wahyu 15:3)

Mungkin sifat ini yang paling sulit kita pahami tentang Allah. Kebijakan-Nya dalam menangani masalah-masalah hidup sering di luar kemampuan kita berpikir. Banyak orang-orang percaya terjebak dalam kebingungan, seperti misalnya Asaf yang mengaku hampir salah menilai Allah (Mazmur 73:1-14). Memang tak terselami pikiran Tuhan itu. Kita hanya diminta dan diajar untuk percaya bahwa Dia adil. Tetapi setidaknya melalui Alkitab kita tahu bahwa keadilan-Nya itu kelak akan terungkap secara jelas saat Tuhan Yesus datang untuk kedua kalinya, saat kitab-kitab dan kitab kehidupan yang merupakan catatan perbuatan setiap orang dibuka (Wahyu 16:7; 20:11-13). Sifat keadilan Tuhan tidak mungkin bertentangan dengan segala kebijakan-Nya, termasuk kedaulatan-Nya. Itu sebabnya kita juga tidak boleh menuduh Allah sebagai oknum yang telah menetapkan sebagian orang untuk selamat dan sebagian lagi untuk binasa. Kita tidak boleh menganggap bahwa keadilan Allah itu sudah tuntas ketika seharusnya menghukum sumua manusia karena dosa, lalu memilih dan menetapkan sebagian untuk diampuni sebagai anugerah. 

Dalam nurani kita sebagai manusia saja keadilan seperti yang disebut di atas dapat dirasakan sebagai keadilan yang berkualitas rendah, apalagi bagi Allah. Kita harus percaya bahwa keadilan Allah itu bernilai sempurna dan tetap demikian hingga selamanya. Memang benar bahwa Allah berhak sepenuhnya untuk melakukan apa saja, bahkan ketidakadilan sekalipun. Namun apakah nurani kita bisa menerima kualitas karakter Allah yang serendah itu? Nurani kita akan bersaksi bahwa oleh keagungan sifat dan kekudusan Allah, tidak mungkin akan melakukan tindakan keadilan serendah itu. 

Kita sepatutnya hanya bisa berpikir bahwa program keselamatan dan tentang orang-orang yang terpilih memang sudah dalam pra-pengetahuan Allah sebagaimana diyakini oleh Arminius, sehingga telah dipredestinasikan sejak purba kala (sebelum penciptaan) sesuai Kisah 4:27,28, akan tetapi tidak seharusnya berpikir bahwa Allah telah menetapkan siapa-siapa yang akan diselamatkan. Tuhan tidak mempredestinasikan orang-orang yang akan selamat maupun binasa. Efektifnya program keselamatan itu sangat tergantung pada respon dan perbuatan seseorang selama hidupnya.

Perihal predestinasi akan semakin jelas jika pemahaman arti keselamatan dapat dipahami secara utuh. Di sini kita sudah bisa mulai melirik, bahwa keselamatan yang direncanakan Allah dalam Kristus itu tidak bekerja dari satu pihak saja. Keselamatan itu membutuhkan respon aktif (bukan sekedar pengakuan akali dan pengakuan percaya) dari pihak manusia. Oleh karena alasan inilah Yakobus bisa berkata bahwa “iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati” (Yakobus 2:17,26). Jadi sifat keadilan Allah pasti akan menempatkan keselamatan itu bukan sebagai sesuatu yang pasif, apalagi sepihak. Hal itu harus dicapai oleh setiap individu dengan peran aktif, menuju finalnya dalam penentuan masuk sorga atau tidak, di pengadilan kelak!

Mencipta (Kejadian 1:1)

Satu lagi yang penting diketahui tentang Allah itu terkait dengan keselamatan, yakni Allah itu mencipta. Hal yang penting kita ketahui di sini adalah bahwa Allah Bapa mencipta melalui Firman, yakni Allah Anak (Yesus Kristus). Sorga dan alam semesta serta segala makhluk yang ada di dalamnya telah diciptakan di dalam Yesus Kristus. Tidak ada yang telah dijadikan tanpa Dia (Yohanes 1:1-3; Kolose 1:16). Hal ini penting untuk menyadari bahwa pribadi Lucifer yang akan dibahas selanjutnya, juga adalah makhluk surgawi yang diciptakan di dalam Yesus, namun menjadi Iblis karena pemberontakannya.

Tentu saja Allah berkehendak agar semua ciptaan yang disebut baik dalam kitab Kejadian, terjaga sebagaimana mestinya. Namun atas sepengetahuan Allah, telah terjadi kerusakan yang disebabkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa. Oleh karena itulah Allah juga sesungguhnya telah melakukan perencanaan antisipatif untuk menanggulangi masalah tersebut. Allah bukanlah pribadi yang tidak bertanggung jawab terhadap apa yang Dia perbuat. Dan Allah tidak pernah menciptakan sesuatu yang tidak baik. Oleh karena itulah maka Allah telah merencanakan langkah-langkah atisipatif untuk membenahi sesuai tatanan yang telah Dia tetapkan, yang disebut sebagai program ‘keselamatan’.

  • Lucifer (Iblis)

Tidak adanya informasi secara terang-benderang tentang pribadi ciptaan Tuhan yang memberontak dan yang dikenal dengan sebutan Iblis ini, memang rentan menimbulkan perdebatan. Oleh karena itu sebagian orang mengambil sikap pasif jika berurusan dengan topik ini. Akan tetapi adanya oknum ini disebut dalam Alkitab pasti memiliki maksud untuk diketahui, meskipun harus dengan cara yang ekstra berhati-hati. Dalam upaya penelitian, kita dipaksa untuk bisa menafsir secara alegoris (salah satu cara yang dianggap paling rentan berakibat salah dalam menafsir Alkitab dari cara-cara menafsir lainnya) terhadap ayat-ayat yang bisa merupakan petunjuk eksistensi pribadi yang dijuluki sebagai ‘penghulu setan’ ini. Namun karena hal ini berkaitan erat dengan rencana keselamatan diadakan, maka mau tidak mau kita harus berupaya menemukan jejaknya dalam Alkitab.

Kata ‘iblis’, dan ‘setan’ memang tidak sedikit kita temukan dalam Alkitab. Untuk memahami bahwa oknum ini adalah jahat dan merupakan pribadi yang menjadi oposisi Allah, tidaklah sulit. Akan tetapi untuk melacak nama, asal-muasalnya dan mengapa ia menjadi oknum yang memberontak terhadap Allah, bukanlah seseuatu yang mudah. Sebagian penafsir Alkitab (penafsiran tipologis dan alegoris) telah sepakat dan melacak asal mula dan jati diri oknum ini dari kitab Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Disebut alegoris karena kita hanya bisa mengambil beberapa ayat lepas dari konteksnya untuk dihubungkan dengan oknum yang disebut Iblis atau Setan ini. Dalam hal ini, dari kitab Yesaya 14, yang diambil hanya sebatas ayat 12-19. Demikian juga kitab Yehezkiel 28 hanya sebatas ayat 12-19 saja.

Dalam penafsiran alegoris tipologis ini, para penafsir menganggap bahwa baik Yesaya maupun Yehezkiel hanya ingin memakai sebagian dari ciri-ciri raja negeri Babel dan raja negeri Tirus pada konteks pasal-pasal tersebut sebagai tipologi atau personifikasi dari oknum Iblis yang disebut Lucifer itu. Hal ini dilakukan karena ingin mengambil sedikit kemiripan karakteristik kedua raja tersebut untuk menjadi ilustrasi dalam hal mandat yang diberikan, yakni kekuasan atau tahta. Dalam hal ini sebagaimana kedua raja tersebut dianugerahi mandat dan kuasa untuk memerintah, demikian juga Lucifer telah dianugerahi oleh Allah dengan mandat dan kuasa untuk tugas yang penting dan indah. Jadi kita hanya bisa mengambil sebagian kecil ayat saja dari seluruh perikop yang mengkisahkan tentang raja negeri Babel dan raja negeri Tirus itu.

Lalu mengapa ayat-ayat itu bisa dianggap mengacu kepada oknum Iblis atau tidak sepenuhnya mengenai raja negeri Babel dan raja negeri Tirus? Sedangkan nubuat kepada raja-raja lainnya yang terdapat dalam kitab-kitab itu tidak ditafsirkan sebagai personifikasi Iblis? Jawabannya adalah, karena hanya pada laporan tentang kedua tokoh itulah yang ditemukan suatu kejanggalan yang unik, yakni bahwa ayat-ayat tersebut pun tidak juga sepenuhnya cocok apabila diterapkan hanya kepada kedua raja yang bersangkutan, namun ayat-ayat tersebut memenuhi syarat untuk mewakili karakteristik dan sejarah Lucifer secara memadai. Untuk memahami yang dimaksud, berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai kejanggalan-kejanggalan yang bisa dijadikan mengacu kepada oknum Lucifer:

Dalam kitab Yesaya 14:12-19

Oknum itu disebut dalam bahasa Ibrani “helel ben sakhar” yang artinya “Bintang Timur Putera Fajar”. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Latin (Vulgata) pada abad keempat, Jerome memakai kata ‘lousifur’ yang artinya ‘pembawa cahaya’. Dari kata inilah Alkitab KJV (bahasa Inggris) mengambil bentuk ‘Lucifer’ yang menjadi bentuk terkenal secara umum. Sedangkan dalam bahasa Yunani “ho heosphoros” yang artinya “pembawa Fajar”. Bagi para ilmuan istilah ini mengacu pada planet Venus, yakni bintang yang muncul di pagi hari saat matahari terbit. Jadi bisa dikatakan bahwa Lucifer sebenarnya bukan nama, melainkan gelar yang menggambarkan status atau kualitas dari oknum tersebut.

Tingginya kualitas diri dari oknum yang dimaksud, menjadi kurang cocok atau berlebihan apabila gambaran ini sepenuhnya diarahkan hanya kepada raja negeri Babel (Nebukadnezar II, tahun 605-562 SM), apalagi kepada raja negeri Tirus (sulit menentukan raja yang mana yang dimaksud), yang sebenarnya lebih kecil kemegahannya dari kerajaan Babel. Maka dapat disimpulkan bahwa nabi Yesaya dan Yehezkiel hanya mengambil kedua kerajaan ini dan rajanya sebagai tipologi atau personifikasi yang tidak sempurna saja untuk menggambarkan keadaan Lucifer.

Pada ayat 12 yang dapat disejajarkan dengan perkataan Yesus (Lukas 10:18), oknum itu dikatakan jatuh dari langit ke bumi. Hal itu menjelaskan bahwa ia tidak berasal dari bumi, melainkan sosok makhluk sorgawi. Ilustrasi seperti ini tidak ditemukan pada raja-raja lain dalam tulisan Yesaya maupun Yehezkiel. Tetapi tidak mungkin juga bahwa yang dimaksud adalah pribadi raja Babel dan raja Tirus pada naskah tersebut. Karena kedua orang tersebut bukanlah pribadi yang berasal dari langit. melainkan oknum Iblis atau Lucifer lah yang pantas disebut seperti itu. 

Pada ayat 13,14 dikatakan bahwa makhluk ini hendak naik menyamai ‘Yang Maha Tinggi’. Dari sejarah tidak ditemukan bahwa ada raja-raja Babel dan raja-raja Tirus yang identik dengan karakter seperti ini. Raja-raja ini memiliki dewa yang mereka sembah sebagai Tuhan. Karakter yang paling mungkin adalah mereka bisa menganggap diri mereka sebagai jelmaan dari dewa, namun bukanlah dewa itu sendiri. Ungkapan ‘ingin menyamai’ pada ayat-ayat tersebut memberi petunjuk yang jelas bahwa oknum ini mengakui dan kenal dengan pribadi “Yang Maha Tinggi”, lalu ingin bersaing dengan-Nya. Hanya Iblis lah sosok yang mungkin melakukan hal itu. Sedangkan raja-raja Babel dan raja-raja Tirus adalah raja kafir yang tidak mengenal istilah “Yang Maha Tinggi”.  

Dalam kitab Yehezkiel 28:12-19

Dalam ayat 12 sang nabi disuruh untuk mengucapkan ratapan. Ratapan dalam tradisi Yahudi biasanya berbentuk syair-syair yang disenandungkan dalam suatu upacara kemalangan bagi sesuatu yang disayangi. Diperkirakan waktu itu kerajaan Tirus sedang menuju kehancuran. Dalam hal ini raja negri Tirus merupakan tipologi dari oknum yang  dijuluki sebagai Lucifer itu. Jadi yang dimaksud bukanlah raja negeri Tirus itu sendiri. Karena secara historis tidak ada kepentingan Allah kepada raja negeri Tirus sebagai sosok yang disayangi sehingga perlu diratapi. Tetapi kepada Lucifer Allah memiliki kepentingan sebagai ciptaan yang direncanakan untuk tugas mulia pada mulanya, namun akhirnya memberontak. Hal ini terlihat dari ungkapan “gambar kesempurnaan, penuh hikmat dan maha indah”.

Raja negeri Tirus ini juga tidak bisa disamakan dengan para malaikat. Karena malaikat diciptakan sebagai pesuruh Allah. Mengingat Eden itu merupakan suatu tempat yang berbentuk fisik, maka sangat besar kemungkinan Lucifer itu juga adalah ciptaan yang berbentuk fisik pula. Ini jelas ditujukan pada oknum yang diciptakan secara khusus. Keadaannya yang akhirnya tidak lagi seperti yang diharapkan, menjadi suatu hal yang disesali, dan oleh karena itu perlu diratapi.

Dalam ayat 13-14 dituliskan bahwa oknum tersebut ada di Eden dengan segala ornamennya dan yang paling istimewa adalah berada di antara kerub yang berjaga di gunung kudus Allah. Sudah pasti ini tidak di bumi dan bukan merupakan kiasan semata. Karena tidak ada tempat di bumi yang layak disebut sebagai Eden dan menjadi gunung kudus Allah. Kita tidak tahu Eden itu di mana dan kita juga tidak tahu sejauh mana maksud Tuhan tentang arti kata Eden di sini. Yang jelas bahwa Tuhan juga pernah membuat tempat yang disebut Eden untuk Adam dan Hawa, dan kemudian itu disembunyikan Tuhan ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Jadi Eden sebagai tempat bagi Lucifer di sini sebaiknya tidak disamakan dengan Eden tempat Adam dan Hawa.

Ayat 14 dalam bahasa aslinya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah ‘diurapi seperti kerubium’. Hal ini menunjukkan bahwa oknum yang disebut di sini bukanlah raja Tirus yang kafir, karena Allah tidak mengurapi raja kafir. Jadi jelas sekali bahwa ayat ini mengacu kepada Lucifer.

Dalam ayat 15 dikatakan bahwa oknum ini ‘tidak bercacat dalam tingkah laku’. Hal ini semakin menunjukkan bahwa oknum ini bukan makhluk ciptaan biasa dan bukan juga manusia yang telah berdosa. Dia adalah Lucifer yang tidak bercacat sebelum kejatuhannya ke dalam dosa.

Dalam ayat 17 dikatakan bahwa oknum ini dilemparkan ke bumi. Momentum yang paling tepat untuk peristiwa ini dijelaskan dalam kitab Wahyu 12,  dan yang telah diungkap oleh Yesus secara propetis sebelumnya dalam Lukas 10:18, yang digenapi saat penyaliban-Nya di Golgota. Dalam hal ini tidak mungkin yang dimaksud pada kitab Yehezkiel ini adalah raja Tirus, karena raja Tirus berasal dari bumi dan selalu berada di bumi. Jadi oknum ini memang adalah makhluk sorgawi yang akhirnya dibuang, yakni Lucifer atau Iblis.

Lalu kapan Ibis diciptakan? Memang tidak ada ayat yang menjelaskan hal ini dalam Alkitab. Tetapi kita bisa memprediksi bahwa hal itu terjadi sebelum penciptaan alam semesta. Memang sebaiknya kita memprediksi bahwa Lucifer dan makhluk sorgawi lainya, yakni para malaikat, telah ada sebelum Kejadian 1. Karena bila hal itu terjadi setelah penciptaan alam semesta, maka sewajarnya kisah tentang dia tertulis secara jelas di antara kisah-kisah yang ada dalam Alkitab.

Salah satu yang penting kita ingat perihal Iblis ini dalam kaitannya dengan keselamatan adalah, kiprahnya dalam merusak ciptaan melalui penghasutan manusia agar juga memberontak kepada Allah (Kejadian 3). Dalam hal ini Iblis berhasil dan sejak saat itulah ciptaan berada pada pengaruh si jahat, sehingga mengalami kemerosotan dalam kualitas. Berkat penelitian para ilmuan, kita diberi tahu bahwa kualitas bumi tempat kita berpijak ini telah semakin merosot dan menuju kehancuran. Dari Alkitab juga kita mendapat informasi bahwa bumi kita ini “disimpan untuk hari penghakiman dan kebinasaan orang-orang fasik” kelak (2 Petrus 3:7). Akan tetapi kebijakan Allah untuk ‘manusia’ berbeda. Allah merancangkan keselamatan bagi manusia. Mengapa? Pertanyaan ini membawa kita pada penelitian alkitabiah tentang ciptaan istimewa ini, serta maksud terdalam dari program keselamatan yang direncanakan untuknya.

  • Manusia

Pada umumnya para pengkhotbah masa kini menggali alasan atau tujuan Allah menyelamatkan manusia adalah dari ayat populer, yakni Yohanes 3:16. Meskipun hal ini tidak salah, namun untuk menemukan maksud atau tujuan penyelamatan yang diselenggarakan Allah melalui putera tunggal-Nya Yesus Kristus, tidak cukup hanya melalui ayat tersebut. Sebelumnya telah disinggung bahwa ayat tersebut lebih menekankan pada alasan mengapa Allah rela menyelamatkan manusia, yakni karena besar kasih-Nya. Sedangkan yang ingin kita gali adalah tujuan atau rencana agung atau yang ingin dikerjakan dalam penyelamatan itu.

Sebagai landasan berpikir untuk menemukan tujuan penyelamatan manusia ini, maka kita harus setuju pada suatu rumusan, bahwa tidak ada cara terbaik untuk mengetahui tujuan mengapa sesuatu dianggap berharga dan dilindungi sedemikian rupa, kecuali dengan cara menemukan manfaat sesuatu itu dibuat atau diadakan. Demikian juga halnya dengan manusia. Tidak ada cara terbaik untuk mengetahui mengapa Allah menyelamatkan manusia, kecuali dengan cara bertanya, “mengapa dan untuk apa sesugguhnya Allah menciptakan manusia”. Jadi tujuan keselamatan itu diadakan seharusnya digali dari mengetahui alasan untuk apa manusia itu diciptakan.

Apabila alasan atau tujuan penciptaan manusia yang seharusnya kita gali, maka sangat jelas Yohanes 3:16 dan ayat-ayat yang senada, sama sekali tidak memadai sebagai sumber informasi. Oleh karena itu seyogyanya kita mencari kitab yang menjelaskan perihal penciptaan manusia itu, yakni kitab Kejadian. Penggalian ini akan mengungkap alasan utama penciptaan manusia, sekaligus menemukan alasan mengapa manusia itu diselamatkan.

Catatan pertama perihal penciptaan manusia dilaporkan dalam Kejadian 1:26-28. Dari ayat-ayat ini sebenarnya secara gamblang kita dapat menangkap tujuan penciptaan manusia itu, yakni sebagai representasi Allah dalam menjalankan kuasa-Nya di atas bumi dan atas segala makhluk yang ada di dalamnya (ayat 26). Tentu saja tugas ini tidak mudah, karena membutuhkan kemampuan yang sebanding dengan Penciptanya. Maka untuk memenuhi kualifikasi itu Allah menciptakan manusia itu menurut ‘gambar’ dan ‘rupa’-Nya (ayat 26). Dengan kata lain, Allah memberi potensi diri-Nya ada pada manusia. Ayat inilah yang seharusnya menjadi dasar penggalian arti dan maksud keselamatan dalam Kristus itu diselenggarakan. Menggali maksud dari kata ‘gambar’ dan ‘rupa’ ini adalah kunci untuk dapat memahami maksud penciptaan manusia secara tepat, dan untuk selanjutnya dapat merumuskan tujuan keselamatan di dalam Kristus diadakan.

Dalam bahasa Ibrani kata ‘gambar’ adalah ‘tselem’, sedangkan kata ‘rupa’ adalah ‘demuth’. Penjelasan arti kedua kata ini dalam kamus Ibrani, sepintas lalu hampir sama. Arti kedua kata itu semua mengacu pada arti, “memiliki kesamaan”. Namun jika diteliti secara cermat, sesungguhnya kedua kata itu memiliki perbedaan yang signifikan. Kata ‘tselem’ itu sebenarnya ingin mengungkap kesamaan Allah dengan manusia dalam bentuknya (model). Artinya bahwa hal-hal yang ada pada Allah, diberikan atau terdapat juga pada manusia. Kesamaan ini tentu saja bukan dalam bentuk fisik atau lahiriah, melainkan dalam bagian internalnya atau batiniahnya. Karena Allah itu Roh adanya. Jadi manusia tidak bisa disamakan dengan Allah dalam hal fisik.

Sebagai ayat pendukung pada teori di atas, kepada kita juga telah diberitahu bahwa manusia itu telah dibekali oleh Allah dengan ‘roh’ (ruach) yang berasal dari nafas Allah, yang dalam bahasa Ibrani disebut ‘neshamah’ (Kejadian 2:7; Ayub 32:8). Tidak adanya petunjuk secara langsung tentang apa sesungguhnya yang dihasilkan oleh terjadinya pertemuan ‘tubuh’ (aphar) dengan ‘roh’ (ruach dari neshamah) itu dalam Alkitab, mendorong kita untuk bisa menafsir dengan melakukan pendekatan yang paling mungkin. Dalam hal ini kita menemukan antropologi Paulus tentang adanya ‘jiwa’ di antara roh dan tubuh tersebut (1 Tesalonika 5:23). Meskipun ada beberap teori yang telah diajukan tentang hal ini, tetapi penulis lebih setuju bahwa jiwa adalah merupakan hasil perpaduan dari tubuh dan roh. Karena penggalian tentang isi dari jiwa itu, yang akan kita lakukan selanjutnya, harus bisa dikaitkan dan saling mendukung dengan komponen-komponen lainnya dari manusia yang telah disebutkan sebelumnya.

Penjelasan tentang isi atau apa sesungguhnya yang ada dalam jiwa manusia pun tidak tertera secara langsung dalam Alkitab, yang karenanya juga kita harus mengadakan pendekatan yang paling mungkin. Dari tulisan Paulus pada Filipi 2:5 kita mendapat petunjuk bahwa manusia bisa memiliki atau “menaruh ‘pikiran’ dan ‘perasaan’ seperti yang terdapat dalam Kristus”. Adanya pikiran dan perasaan tentu saja akan menghasilkan potensi ‘berkehendak’ atau kemauan seperti yang disebut pada ayat 13 nya. Dengan temuan ini akhirnya kita bisa memahami adanya “kehendak bebas” atau “freewill” yang memberi hak memilih kepada manusia untuk taat atau tidak kepada Allah. Jika kita merenungkan secara seksama, maka kita dapat menyimpulkan bahwa dalam ketiga komponen inilah (pikiran, perasaan, dan kehendak) terdapat kesamaan manusia dengan Allah, yakni dalam tselem atau jiwanya.

Jadi arti keserupaan dalam kata ‘tselem’ adalah, terdapatnya kesamaan komponen-komponen potensial, yakni pikiran, perasaan, dan kehendak, yang ada pada Allah, juga diberikan kepada manusia. Dalam hal inilah terdapat perbedaan esensial manusia dari makhluk ciptaan lainnya yang ada di bumi. Dengan kesamaan potensi ini jugalah maka manusia dimungkinkan “menjadi representasi Allah dalam menjalankan kuasa-Nya di atas bumi dan atas segala makhluk yang ada di dalamnya”.

Kata kedua dalam Kejadian 1:26 adalah ‘demuth’. Kata ini lebih menunjuk pada tingkat kesamaan kualitas dari komponen-komponen (pikiran, perasaan, dan kehendak) tersebut, yang pada saat diberikan belum mencapai kesamaan dengan Allah. Sesungguhnya inilah yang menjadi target Allah agar mencapai kesempurnaan melalui proses dan progres waktu demi waktu, namun yang kemudian mendapat gangguan dari Iblis. Melalui penyingkapan ini kita akhirnya bisa memahami mengapa Yesus berkata “Karena itu hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di surga adalah sempurna” (Matius 5:48). Bahwa target penyempurnaan yang dimaksud oleh Yesus adalah dalam hal bobot demuth atau kualitas pemilikan pikiran, perasaan, dan kehendak seperti yang terdapat juga di dalam Bapa, yang telah diteladankan dalam praktek hidup Putera Tunggal-Nya Yesus Kristus selama menjadi manusia.

Berbicara tentang target pencapaian kualitas demuth yang harus melalui prosedur bersifat proses dan progresif, bukanlah tanpa alasan alkitabiah. Untuk menggali kebenaran ini kita dapat membandingkan Kejadian 1 ayat 26 dengan ayat 27. Pada ayat 26 kata ‘tselem’ dan ‘demuth’ disebutkan secara bersama-sama, namun pada ayat 27 kata demuth tidak disertakan lagi. Memang kita tidak akan menemukan penjelasan tentang hal ini dalam Alkitab secara eksplisit. Tetapi kita dapat menafsir dengan cara pendekatan logis. Dalam hal ini kita harus melihat ayat 26 itu sebagai ayat perencanaan. Artinya Allah masih menyatakan rencana-Nya pada ayat tersebut (belum dilakukan). Sedangkan ayat 27 adalah merupakan ayat eksekusi yang melaporkan apa yang telah diberikan pada saat penciptaan itu, yakni hanya ‘tselem’ dalam bentuk potensi yang belum bertumbuh.

Artinya bahwa pikiran, perasaan dan kehendak itu hanya diberikan dalam format potensi. Potensi inilah yang direncanakan akan bertumbuh waktu demi waktu menjadi ‘demuth’ yang menunjukkan kadar kualitas dari ‘tselem’ itu. Itu sebabnya pada saat eksekusi penciptaan (ayat 27), ‘demuth’ tidak disebutkan. Karena hal itu akan ada dan bertumbuh melalui proses dan progres waktu demi waktu sampai mencapai standar yang Tuhan kehendaki. Pertumbuhan demuth ini akan bergerak, meningkat selaras dengan intensitas berlangsungnya pergaulan manusia itu dengan Allah hari demi hari. Karena hanya dengan cara berhubungan dengan Allah sebagai modelnyalah hal itu dapat bertumbuh. Itu sebabnya dengan cara pergaulan jugalah Iblis mengganggu dan merusak pertumbuhan karakter itu ketika berada di taman Eden. Paulus juga berkata, “pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik” (1 Korintus 15:33).

Tujuan utama dari penciptaan manusia, yakni menjadi pemegang otoritas atas ciptaan, tidak lagi sepenuhnya berlangsung sebagaimana mestinya. Bumi terbawa imbas dari kutuk akibat kesalahan manusia (Kejadian 3:17). Iblis memiliki akses campur tangan atas berlangsungnya kehidupan di dunia ini. Bagaimana otoritas ini dapat dipulihkan? Jawabnya adalah, Yesus Kristus!

  • Yesus Kristus

Penebusan adalah salah satu bagian dari program keselamatan yang direncanakan Allah sejak sedia kala dan pertama kali diproklamasikan di Taman Eden dengan pengorbanan binatang untuk menutupi aurat Adam dan Hawa karena dosa mereka (Kejadian 3:21). Pengorbanan binatang ini adalah tindakan profetik yang akan digenapi pada pengorbanan Yesus Kritus di Golgota kelak. Tindakan Allah ini tentu saja sangat mengejutkan Iblis, sekaligus menjadi momok menakutkan yang merupakan bom waktu penghukuman atasnya. Sejak rencana ini dinyatakan, maka konsentrasi Iblis adalah upaya penggagalannya yang dapat disimak dari wahyu yang diterima oleh Yohanes pada uraian Wahyu 12:1-12.

Penting disadari bahwa kitab Wahyu adalah kitab yang sulit dipahami karena redaksinya yang sarat dengan lambang-lambang. Latar belakang aniaya besar yang dialami gereja mula-mula menjadi alasan untuk menyamarkan maksud yang ditulis sehingga tidak mudah dipahami masyarakat umum, namun dapat dipahami jemaat mula-mula yang menjadi alamat atau tujuan surat itu. Dengan demikian kita harus jeli dalam membedakan redaksi yang memang bisa ditanggapi secara harafiah dengan yang harus digali maksudnya sebagai lambang atau gambaran.

Dapat dimaklumi jika banyak penafsir melihat naskah Wahyu 12 ini sebagai sesuatu yang belum digenapi. Tetapi kita juga harus membuka pikiran akan kemungkinan bahwa hal ini sudah digenapi. Melalui penelitian saksama, akhirnya penulis mengambil kesimpulan bahwa pasal ini sesungguhnya berbicara tentang masa penjelmaan Allah Anak sebagai manusia, mulai sejak dalam kandungan Maria hingga kenaikan-Nya ke sorga. Proses yang dituangkan oleh Yohanes dalam gambaran ini dapat dijabarkan sebagai berikut:

(1-2) “Maka tampaklah suatu tanda besar di langit: Seorang perempuan berselubungkan matahari, dengan bulan di bawah kakinya dan sebuah mahkota dari dua belas bintang di atas kepalanya. Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.”

(5,6) “Maka ia melahirkan seorang Anak laki-laki, yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi; tiba-tiba Anaknya itu dirampas dan dibawa lari kepada Allah dan ke tahta-Nya.”

Banyak tafsiran yang telah diajukan terkait sosok perempuan berselubung matahari dan bermahkotakan bintang ini. Dua di antaranya menafsirkan sosok ini adalah; yang satu sebagai Maria dan yang lain sebagai gereja Tuhan. Tetapi karena pandangan ini sangat rentan berbenturan dengan konteks-konteks sekitarnya, maka penulis akhirnya mengambil sikap tidak setuju, dan dengan demikian mengambil sikap untuk tidak memaksakan penafsiran yang bersifat memastikan. Sebagai jalan keluarnya penulis tetap mengajukan pandangan alternatif untuk sekedar membuka wawasan pembaca.

Setelah melalui berbagai pendekatan, maka penulis akhirnya sampai pada suatu solusi bahwa sosok perempuan ini hanya dapat disimpulkan sebagai suatu realita yang tidak kelihatan. Hal itu adalah suatu fakta yang tak terlihat oleh mata. Penulis hanya bisa menafsir bahwa hal itu menjadi suatu sarana yang dipakai oleh Allah Bapa dalam proses pengutusan Allah Anak menjadi manusia. Mungkin saja merupakan peran pengganti benih Yusuf untuk menjelmakan Allah Anak menjadi daging (manusia sepenuhnya) dalam kandungan Maria hingga saat kebangkitan-Nya. Teori ini bisa diterima mengingat Yesus lahir bukan dari benih seorang laki-laki, melainkan oleh Roh Kudus (Matius 1:18-25), dan tentu saja benih Maria pun tidak mengambil peran di sini. Yesus benar-benar adalah benih ilahi yang menjadi daging. Tetapi ini hanya sebatas tafsiran yang belum memiliki dasar alkitabiah yang akurat, namun merupakan alasan yang lebih logis untuk menghindari benturan dengan konteks ayat-ayat sekitarnya.

Untuk melacak siapakah sesungguhnya sosok Anak yang dikandung perempuan ini, maka kita harus melihat peran-Nya yang disebutkan pada ayat 5, yakni “yang akan menggembalakan semua bangsa dengan gada besi”. Istilah ‘gada besi’ dalam naskah aslinya adalah rabdo sidera. Benda ini adalah tongkat yang biasa digunakan oleh seorang gembala dalam mengarahkan dombanya. Pemazmur mengungkap tentang Tuhan yang menghibur umat gembalaan-Nya dengan gada dan tongkat (Mazmur 23:1-4).

Penambahan kata ‘besi’ pada istilah tersebut bukanlah menujukkan suatu kekejaman, melainkan kekokohan atau ketegasan dalam mendidik domba gembalaan dan dalam menghadapi gangguan dari pemangsa domba. Justru hal itu memberi rasa aman bagi domba yang dilindungi. Siapa lagi sosok yang bisa diartikan sebagai pribadi yang akan memerintah kelak dengan cara yang demikian kalau bukan Yesus Kristus. Jadi Anak yang dilahirkan itu adalah Yesus Kristus. Pesoalannya adalah mengapa Ia dirampas dan dibawa lari ke tahta Allah? Di sinilah dibutuhkan kecerdasan oleh pemahaman yang telah memadai tentang Alkitab.

Kita harus memahami bahwa keputusan Allah Bapa ketika hendak melepas Putera Tunggal-Nya untuk menjelma menjadi manusia adalah ancaman utama bagi Iblis. Karena misi penjelmaan Allah Anak menjadi manusia adalah misi penyelamatan manusia yang mengancam masa depan kerajaan Iblis, sekaligus merupakan ancaman terwujudnya penghukuman bagi Iblis. Dalam hal ini tentu saja Iblis akan berusaha menggagalkan rencana yang bertalian dengan penghukumannya itu sedini mungkin. Hal ini digambarkan pada ayat selanjutnya.

(3,4) “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.”

Pada ayat 9 sangat jelas yang dimaksud dengan ‘naga’ di sini adalah Iblis. Aksinya yang menyeret sepertiga bintang di langit (sangat besar kemungkinan artinya adalah para malaikat yang berada di bawah otoritasnya dan yang berpihak padanya), didorong oleh kemarahannya pada keputusan Allah Bapa untuk menjelmakan Allah Anak menjadi manusia di bumi. Lalu ia turun ke bumi untuk berdiri mengincar saat penjelmaan Allah Anak sebagai manusia yang sangat tidak diinginkannya.

Jadi kita sebaiknya tidak melihat masa berdiri Iblis di hadapan perempuan itu hanya dalam kurun waktu seketika. Saat melahirkan pada ayat ini bukanlah saat Maria melahirkan bayi Yesus, melainkan justru saat matinya Yesus di Golgata sebagai puncak tugas dan kemenangan-Nya. Masa waktu perempuan itu mengandung harus dilihat sebagai masa selama kurun waktu penjelmaan Allah Anak sebagai manusia, yang sama dengan masa Iblis mengintai kesempatan untuk menggagalkan rencana penyelamatan Allah melalui Yesus Kritus. Dengan demikian masa mengandung harus dihitung mulai dari saat Yesus dalam kandungan hingga kenaikan-Nya ke sorga. Masa berdiri Iblis itu adalah masa mengincar kesempatan menggagalkan proses dan progres penyelamatan yang puncaknya adalah pengorbanan Yesus di Golgata. Kita bisa menyimak fakta usaha Iblis mengganggu pribadi Yesus di dalam Alkitab mulai sejak dalam kandungan.

Matinya Yesus di Golgota adalah puncak sukses yang mengejutkan sekaligus menjadi petaka bagi Iblis. Sampai saat terakhir melalui penjahat yang ikut disalib di sebelah-Nya, Iblis masih menggoda Yesus agar tidak menyerah pada proses mati disalibkan (Lukas 23:39). Itu sebabnya Iblis akhirnya memburu Yesus yang telah menang hingga kenaikan-Nya ke sorga, yang digambarkan pada ayat berikut.

(7) “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,” …

Ayat ini melaporkan bahwa Iblis yang dijuluki naga itu (ayat 9) berhadapan dan dikalahkan oleh Mikhael (salah satu pemimpin malaikat Tuhan). Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa bukan Allah yang berperang, melainkan para malaikat yang tetap loyal kepada Allah. Sebelumnya Daniel juga sudah mendapat pewahyuan tentang peran Mikhael ini dalam menghadapi usaha-usaha Iblis yang dilambangkan sebagai pemimpin orang Persia (Daniel 10:13,21; 12:1). Kemudian Yudas juga menyinggung tentang Mikhael yang bertengkar perihal mayat Musa (Yudas 1:9). Dari ucapan Mikhael yang berkata, “Kiranya Tuhan menghardik engkau” dalam tulisan Yudas tersebut, menunjukkan adanya otoritas yang hebat pada diri Iblis (Lucifer) yang berada di luar wewenang Mikhael. Sungguh, Tuhan telah memberi suatu kualitas yang tidak kecil dan tidak bisa dianggap remah kepada Iblis.

(8) … “tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.”

Ayat ini melaporkan kekalahan Iblis dan para pengikutnya. Sebagai akibatnya adalah mereka tidak lagi memperoleh tempat di sorga. Ayat ini memberi gambaran sengitnya peperangan dan sulitnya melumpuhkan kekuatan Iblis, sehingga mereka tidak takluk, melainkan hanya terhalau dari sorga. Tentu saja proses peperangan ini tidak biasa dianggap ringan. Mengingat kemampuan istimewa yang telah Tuhan berikan kepada Iblis, maka sangat mungkin peperangan ini berlangsung sengit sehingga Mikhael dan para malaikatnya pun tidak sanggup. Kekalahan Iblis akhirnya bisa dimungkinkan oleh penjelasan berikut.

(9) “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Setan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”

Pada ayat ini dikatakan bahwa iblis dan para pengikutnya itu dilemparkan ke ‘bumi’. Banyak penafsir menganggap peristiwa ini terjadi setelah penciptaan langit dan bumi (Kejadian 1:2). Tafsiran ini agak logis karena keadaan bumi yang dinyatakan pada ayat ini sebagai ‘tidak berbentuk’ (tohu), kosong (bohu), dan keadaannya ‘gelap’ atau ‘tak terkenali’ (chosek), diawali dengan preposisi ‘hayah’ yang artinya ‘to be’ atau ‘become’. Dalam hal ini artinya lebih tepat ‘menjadi’ dari pada ‘belum’ dalam terjemahan Indonesianya. Jadi keadaan bumi waktu itu “menjadi tak bebentuk dan kosong”. Artinya tidak dikenali lagi sebagaimana mestinya”. Kira-kira demikian, namun ini hanya salah satu dari bentuk tafsir saja. Sedangkan tafsiran lainnya yang dianut juga oleh penulis akan dijelaskan pada uraian ayat berikutnya.

(10,11) “Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapinya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.””

Kemudian pada kedua ayat ini dinyatakan kemenangan mutlak atas Iblis. Mikhael dan para malaikatnya serta semua orang yang taat kepada Tuhan, akhirnya mengalahkan Iblis dengan kuasa “darah Anak Domba” (ayat 11) yang adalah pengorbanan Yesus Kristus di Golgota. Dalam ayat 10 nya telah dijelaskan bahwa itulah ‘keselamatan’ dari kuasa yang diurapi-Nya. Ayat-ayat ini menjelaskan akhir dari usaha-usaha kejahatan Iblis yang mendakwa orang-orang saleh siang dan malam. Artinya fonis secara sah menyatakan bahwa Iblis bersalah baru dapat dinyatakan setelah pengorbanan Yesus.

Jadi peristiwa dijatuhkannya Iblis dari sorga bukanlah pada masa penciptaan, tetapi pada saat kemenangan Yesus pada kematian-Nya di Golgota, dan yang telah dilihat oleh-Nya secara profetis pada Lukas 10:18 ketika Ia memberi kuasa kepada murid-murid-Nya untuk menghadapi kekuatan musuh (Iblis).

Sekarang kita bisa berandai-andai. Andaikata manusia tidak jatuh ke dalam dosa, perlukah Allah menjalankan program penyelamatan? Jawabnya tidak! Anak Allah tidak perlu turun ke bumi. Roh Kudus tidak perlu dicurahkan. Tuhan Yesus tidak perlu menyediakan tempat bagi orang benar di sorga (Yohanes 14:2,3), karena bumi ini akan semakin tertata dengan baik seiring dengan peningkatan kualitas ‘demuth’ manusia itu. Manusia akan menjadi pribadi-pribadi yang semakin mampu mengalahkan Iblis dan para malaikat yang memberontak bersamanya. Tetapi faktanya manusia jatuh ke dalam dosa. Oleh karena itu program antisipasi, yakni keselamatan di dalam Kristus harus dijalankan.

Jadi sangat jelas setidaknya ada dua tujuan utama diturunkannya Putera Allah menjadi manusia:

Yang pertama adalah untuk menebus manusia dari kuasa Iblis. Paulus menerangkan bahwa posisi manusia sejak jatuh ke dalam dosa adalah dalam keadaan terjual (Roma 7:14). Dengan tunduknya Adam dan Hawa pada perintah Iblis, sama dengan menolak tunduk kepada Allah dan berada di bawah kuasa Iblis. Kondisi tersebut disamakan dengan status terjual kepada Iblis. Tetapi karena besar kasih-Nya kepada manusia, maka Allah tidak melepas manusia itu secara mutlak menjadi milik Iblis. Oleh karena itu Allah merencanakan penebusan manusia itu dengan pengorbanan Putera tunggal-Nya Yesus Kristus (1 Petrus 1:18-19), yang telah dilakukan secara profetis saat membuat cawat dari kulit binatang untuk menutupi ketelanjangan Adam dan Hawa (Kejadian 3:21).

Tindakan profetis ini juga dilanjutkan pada upacara korban-korban hewan sebagai korban keselamatan pada ibadah bangsa Israel dalam PL. Dengan tindakan penebusan ini maka ada peluang atau kesempatan bagi manusia yang meresponi-Nya untuk diselamatkan. Karena tanpa penebusan, secara langsung manusia seharusnya sudah binasa. Karena konsekuensi atau upah dosa, sekecil apapun itu, adalah maut atau kebinasaan (Roma 6:23). Penebusanlah yang memberi kesempatan atau peluang bagi manusia untuk bisa kembali menjadi milik Allah atau memperoleh keselamatan. Jadi harus dipahami bahwa penebusan tidak secara otomatis menjadikan orang selamat dan masuk sorga, melainkan hanya merupakan peluang bagi seluruh umat manusia untuk meresponi program keselamatan yang disediakan oleh Allah.

Yang kedua adalah untuk menjadi model atau teladan hidup bagi manusia. Pengaruh buruk dari dosa itu begitu hebat, sehingga hari demi hari manusia itu mengalami degradasi moral yang semakin menjauhkannya dari Tuhan. Karena tatanan yang telah Allah tetapkan bagi manusia, yakni kebebasan memilih (berusaha taat dan tunduk kepada Allah, atau semakin terjerumus pada penguasaan Iblis), maka Allah tidak bisa memaksa manusia itu untuk taat kepada-Nya. Jadi perihal ketaatan kepada Allah bukanlah sesuatu yang otomatis terjadi. Hal itu merupakan respon terhadap panggilan Allah dan kerelaan berjuang untuk menolak pengaruh Iblis hari demi hari selama kehidupan seseorang berlangsung.

Tetapi karena sedemikan rusaknya gambar Allah dalam diri manusia, dan karena standar keserupaan gambar manusia itu (tselem dan demuth) adalah Allah sendiri (Matius 5:48), maka Allah mengutus Putera tunggal-Nya untuk berpraktek menjadi manusia, dengan cara mengosongkan Diri atau ke-Allahan-Nya (Filipi 2:7). Itu sebabnya Petrus mengatakan bahwa Kristus telah meninggalkan teladan agar orang-orang percaya bisa mengikuti jejak-Nya (1 Pertrus 2:21). Paulus secara terbuka berani membuktikan bahwa dia patut diikuti sama seperti dia telah menjadi pengikut Kristus (1 Korintus 11:1). Jika melihat konteks sebelumnya, maka kita bisa memahami bahwa yang dimaksud Paulus adalah teladan hidupnya.

Demikianlah rangkaian kisah hubungan antar pihak-pihak terkait rencana keselamatan yang telah membuka pikiran kita sehingga dapat memahami bahwa keselamatan telah direncanakan sejak sedia kala bahkan sebelum penciptaan pada masa kekekalan, dan bahwa keselamatan adalah poros utama kegiatan Allah selama berlangsungnya masa kefanaan ini. Masa kefanaan adalah masa Allah menunggu pertobatan siapa saja yang bersedia diselamatkan (2 Petrus 3:9). Jadi keselamatan di dalam Kristus itu adalah suatu program yang direncanakan Allah untuk menanggulangi gangguan Iblis terhadap rencana agung-Nya, yakni melanjutkan tujuan manusia diciptakan sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yakni sebagai representasi atau pemegang mandat kuasa-Nya atas bumi, seperti yang ditetapkan pada Kejadian 1:26-28. Akan tetapi setelah kejatuhan, rencana itu tidak lagi terwujud atas semua manusia, melainkan hanya atas orang-orang yang meresponi program keselamatan yang dijalankan melalui Yesus Kristus. Kejatuhan ke dalam dosa juga menyebabkan rencana penguasaan sepenuh atas bumi itu tidak lagi berlangsung di dunia yang kita diami saat ini. Karena Tuhan Yesus telah menyediakan tempat di “langit yang baru dan bumi yang baru” (2 Petrus 3:13) di kekekalan nati.

Jadi sejauh ini kita sudah dapat menyimpulkan bahwa keselamatan yang dikerjakan oleh Allah melalui Putera tunggal-Nya Yesus Kristus itu adalah merupakan program Allah untuk melanjutkan rencana-Nya yang semula terhadap manusia, yakni pemulihan mandat menjadi representasi Allah, dan yang karenanya juga adalah kelanjutan pencapaian standar rupa (demuth) Allah atau menjadi serupa dengan Kristus. Dengan kesimpulan ini akhirnya kita bisa melihat benang merah hubungan Kejadian 1:26-28; 2:7 dengan Kisah 4:28; Matius 5:48 dan Roma 8:29. Dengan demikian akhirnya kita juga menyadari bahwa target pencapaian standar demuth seperti Bapa tidak lagi diharapkan dari semua orang, termasuk orang percaya. Dengan demikian juga kita memahami bahwa tidak semua orang percaya yang akan mencapai standar tertinggi keselamatan yang dicanangkan di dalam Kristus. Karena tentu saja target kesempurnaan seperti itu tidak mungkin diharapkan dari umat PL atau orang-orang yang tidak mengenal Injil secara benar.

Jadi kita sudah harus bisa membedakan arti keselamatan dalam pengertian yang sesungguhnya, yakni pencapaian standar kualitas demuth manusia menjadi seperti Kristus, dengan keselamatan dalam arti diperkenankannya orang memasuki langit baru dan bumi baru (sorga) sebagai hasil seleksi penghakiman menurut perbuatan selama di dunia ini (1 Petrus 1:17; Wahyu 20:12,13). Itu sebabnya sorga itu dinyatakan sebagai “langit baru dan bumi baru” (Yesaya 65:17; 66:22; 2 Petrus 3:13; Wahyu 21:1). Artinya sorga itu adalah alam fisik yang akan dihuni oleh makhluk dalam bentuk fisik, yakni manusia yang telah bangkit dalam tubuh kebangkitan. Dengan demikian di sana juga akan ada tingkat atau lapisan sosial masyarakat yang akan diatur dalam pemerintahan berkerajaan yang diperintah oleh Yesus Kristus bersama orang-orang kudus (Daniel 7:13,14,27; 2 Petrus 1:11). Itulah sebabnya penulis telah membagi arti ‘keselamatan’ itu dalam tiga tingkatan sebelumnya: Pengertian umum, pengertian Kristen secara sempit, dan pengertian sejati, yakni pemulihan kodrat manusia secara total.

Di sinilah pentingnya kita memahami batasan-batasan arti terminologi-terminologi terkait keselamatan di dalam Krisutus secara proporsional, seperti: ‘anugerah’, ‘pemilihan’, ‘penetapan’, ‘penghakiman’, dan ‘kekekalan’ (sorga dan neraka). Semua istilah-istilah tersebut memiliki cakupan yang berbeda-beda sehingga harus diteliti secara cermat. Kelemahan para pembicara Kristen modern adalah mencampuradukkan semua istilah tersebut tanpa batasan yang jelas. Hal ini akan semakin jelas pada uraian berikutnya.

Tetapi sejauh ini kita sudah bisa menyimpulkan bahwa keselamatan di dalam Kristus itu sesungguhnya tidak bisa dipandang hanya sekedar untuk meluputkan orang dari neraka dan langsung masuk sorga. Keselamatan di dalam Kristus juga tidak berkaitan dengan kepentingan hal-hal lahiriah. Tentu saja Allah tetap berurusan memelihara manusia (bukan hanya orang Kristen saja) dalam pemenuhan kebutuhan lahiriah, namun orientasi keselamatan di dalam Kristus itu murni terkait dengan penyelamatan manusia secara batiniah. Hal ini sebenarnya sudah sangat tegas dan jelas dinyatakan Petrus dalam suratnya 1 Petrus 1:9: “karena kamu telah mencapai tujuan imanmu, yaitu keselamatan jiwamu”. Pemulihan jiwa yang adalah gambar dan rupa Allah adalah sasaran program keselamatan di dalam Kristus.

Kelemahan para pengkhotbah modern adalah terlalu sibuk dengan pengajaran peruntukan iman bagi kepentingan lahiriah, sehingga lalai mengajarkan peruntukan iman bagi keselamatan jiwa yang sesungguhnya paling diharapkan oleh Allah. Keselamatan jiwa ini menjadi sangat penting karena jiwa adalah hasil perpaduan dari roh yang dihembuskan oleh Allah ke dalam tubuh manusia (Kejadian 2:7; 1 Tesalonika 5:23), yang menjadi wadah pikiran, perasaan, dan kehendak (Filipi 2:5,13), yang adalah gambar dan rupa Allah dalam diri manusia (Kejadian 1:26). Kedewasaan hidup kekristenan seharusnya diukur dari apabila iman percayanya kepada Tuhan lebih diperuntukkan untuk membenahi kualitas jiwanya ketimbang untuk pemenuhan kebutuhan lahiriahnya. Kualitas kedewasaan seperti ini juga telah dipengaruhi oleh pemahaman tentang anugerah Tuhan yang salah diajarkan dan marak dewasa ini. Itu sebabnya pemahaman tentang anugerah yang alkitabiah menjadi keharusan jika ingin memahami arti keselamatan di dalam Kristus secara tepat. Kini kita berlanjut pada bagaimana memberi definisi yang tepat pada istilah ‘anugerah’.

  • Pengertian Anugerah

Perlu ditegaskan bahwa keselamatan itu adalah merupakan anugerah (kasih karunia) Allah. Hal itu tidak bisa diragukan. Tetapi yang menjadi kelemahan banyak teolog masa kini adalah ketidakmampuan memahami makna dan proses kerja anugerah Allah itu sehingga tidak dapat menempatkan arti kata ‘anugerah’ itu secara proporsional. Memang tidak ada naskah yang secara definitif menjelaskan makna dan proses kerja anugerah Allah itu di dalam Alkitab. Hal itu hanya bisa dipahami melalui pendekatan secara menyeluruh dan seimbang terhadap naskah-naskah yang terkait dengan keselamatan. Apabila kita melihat secara cermat, maka kita akan melihat anugerah itu dalam dua bentuk terkait dengan rencana keselamatan, yakni anugerah penyelamatan dan anugerah pemilihan sebagaimana dijelaskan berikut ini:

  • Anugerah Penyelamatan

Kita sudah memahami bahwa anugerah keselamatan tidak dikerjakan Allah secara mendadak. Hal itu sudah direncanakan Allah sejak purba kala melalui Putera tunggal-Nya Yesus Kristus. Dalam pra-pengetahuan-Nya, Allah telah mengetahui akan terjadinya pemberontakan Iblis dan kejatuhan manusia ke dalam dosa kelak. Oleh karena itu Allah telah merencanakan program penyelamatan bagi manusia sebelum hal itu terjadi (Kisah 4:27,28). Jadi keselamatan itu telah direncanakan dan ditetapkan sebelum manusia berbuat apa-apa, bahkan sebelum diciptakan. Tetapi terwujudnya keselamatan itu secara total dan sempurna akan digenapi pada saat kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali nanti.

Jadi keselamatan di dalam Kristus itu harus dilihat dari dua dimensi atau dua sisi. Hal itu ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan: Dimensi yang pertama adalah dari pihak Allah berupa penebusan manusia dari akibat dosa, yakni kebinasaan total dan kekal (Roma 3:23,24; 6:23). Pada sisi inilah keselamatan disebut sebagai anugerah dan yang hanya diperoleh dengan iman (Efesus 2:8,9; Titus 3:5). Sedangkan dimensi yang kedua adalah dari pihak manusia berupa respon atau usaha dan kerja keras untuk taat pada kehendak Allah hingga mencapai kesempurnaan menjadi serupa dengan Dia (Filipi 2:12; Yakobus 2:14-26; 1 Yohanes 2:6), yang tidak lagi disebut sebagai anugerah. Demikianlah bahwa tanpa penebusan tidak ada fasilitas atau kesempatan untuk beroleh keselamatan, dan tanpa usaha manusia keselamatan kekal tidak akan terwujud.

Kelemahan sebagian teolog masa kini adalah menjadikan paham teolog terdahulu yang masih lemah dalam metode penelitian Alkitab secara hermeneutis (karena belum tersedia secara baik sebagai salah satu bidang ilmu penafsiran Alkitab) menjadi patokan, sehingga tergoda untuk terpaku pada beberapa ayat yang terkesan definitif seperti Efesus 2:8,9; Titus 3:5; dan ayat-ayat senada lainnya yang menyatakan bahwa keselamatan hanya oleh iman dan bukan karena perbuatan. Padahal kalau jujur diamati secara seksama dalam keseluruhan konteks ayat-ayat tersebut, maka kita akan menemukan bahwa perbuatan yang dimaksud oleh Paulus dalam ayat-ayat tersebut selalu terkait dengan Taurat. Dalam hal ini Paulus sedang berusaha menyadarkan orang-orang Kristen yang masih terpengaruh dengan praktek-praktek syariat Taurat dalam PL untuk diterapkan sebagai bagian dari iman Kristen.

Contoh yang paling jelas untuk kasus ini adalah dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia. Banyak pembaca Alkitab terpaku hanya menangkap pesan pembenaran bukan karena perbuatan, padahal sudah jelas bahwa perbuatan yang dimaksud di situ adalah syariat-syariat Taurat. Kesadaran akan maksud spesipik arti ‘perbuatan’ dalam kitab ini akan jelas apabila kita bersedia melihat konteks surat Galatia secara menyeluruh. Pada pasal 1:6-9 akan kita temukan latar belakang atau alasan penulisan surat ini, yakni untuk mengantisipasi pemberita Injil dengan nilai-nilai yang berbeda dari yang telah diajarkan Paulus. Pada ayat 13 dan 14 kita bisa mulai mendeteksi bahwa Palus mempersoalkan perihal adat istiadat Yahudi yang sebenarnya merupakan syariat Taurat. Nafas keengganan orang-orang Kristen Yahudi untuk melepas adat istiadat itu terlihat lagi dalam kemunafikan Petrus yang dijelaskan pada pasal 2:11-14. Demikianlah selanjutnya hingga pasal-pasal berikutnya semakin terlihat bahwa yang menjadi persoalan adalah syariat, yang salah satunya dalam kasus ini adalah perkara sunat (Galatia 5-6). Maka salah besar kalau kita menyamakan arti ‘perbuatan’ dalam konteks surat Paulus ini dengan “perbuatan-perbuatan” baik yang harus dilakukan oleh orang percaya agar layak mendapatkan keselamatannya secara penuh (Wahyu 14:12,13).

Kitab Roma adalah kitab yang sarat dengan ajaran Paulus perihal hubungan keselamatan dengan iman. Hal itu terlihat secara jelas mulai pasal 1:17; 5:1,2; 9:30; 10:17 dan sebagainya. Padahal apabila pembaca bersedia mendalami dan meneliti konteks kitab ini secara jujur, maka akan terlihat dengan jelas bahwa Paulus sedang memperkarakan syariat Taurat terkait sunat yang hendak dipaksakan dalam iman Kristen saat itu (2:17-29; 3:1,30; 4:9-12; 15:8). Jadi kalau jujur melihat konteks dalam semua surat Paulus terkait “keselamatan bukan karena perbuatan”, maka hal itu sesungguhnya sangat terkait dengan perbuatan-perbuatan yang berusaha melegalkan syariat Taurat kembali dalam iman Kristen, bukan perbuatan baik yang menjadi kehendak Allah yang mutlak bagi kekristenan. Kebiasaan menyimpulkan doktrin hanya dari melihat redaksi beberapa ayat tanpa melihat konteksnyalah yang menjadi biang kerok kebodohan salah tafsir ini.

Ucapan Paulus dalam Titus 3:5 yang mengatakan: “Dia telah menyelamatkan kita, bukan karena perbuatan baik yang telah kita lakukan, tetapi karena rahmat-Nya (anugerah) oleh permandian kelahiran kembali dan oleh pembaruan yang dikerjakan oleh Roh Kudus”, tidak boleh kita lepaskan dari konteks pasal 3 secara keseluruhan. Yang pertama harus diperhatikan adalah konteks dekatnya pada ayat 4 dan 6 yang menunjukkan anugerah itu adalah pengorbanan Yesus Kristus yang telah terjadi di Golgota. Di sini Paulus hendak menunjukkan keselamatan itu pada dimensi yang sudah digenapi, yakni transaksi penebusan oleh darah Yesus sebagai tindakan ‘pembenaran’ manusia (bukan karena benar). Itu sebabnya ada kalimat “bukan karena perbuatan baik”. Jadi maksud kalimat tersebut adalah bahwa dasar Allah menyediakan fasilitas keselamatan, bukan berdasarkan kebaikan manusia, karena memang hal itu telah direncanakan sebelum manusia ada dan bahwa tanpa fasilitas keselamatan pada hakikatnya Adam dan semua keturunanyan sudah langsung binasa (Roma 6:23). Inilah keselamatan pada dimensi yang sudah digenapi, yakni dimensi dari pihak Allah.

Sedangkan dimensi keselamatan yang akan datang, yang akan terwujud setelah masa penghakiman, yakni terkumpulnya orang-orang saleh untuk dipindahkan ke dalam kerajaan kekal Allah adalah merupakan hasil kerja manusia selama di dunia ini. Hal ini sangat jelas terlihat pada konteks ayat-ayat selanjutnya (Titus 3:8) yang menekankan kewajiban orang-orang yang sudah percaya untuk berbuat baik. (Hal yang sama juga ditekankan pada Efesus 2:10). Justru konsep adanya penghakiman di akhir zaman adalah karena adanya peran kebaikan dalam penentuan keselamatan (Matius 16:27; Roma 2:5-11; 1 Petrus 1:17; Wahyu 20:12-13; 22:12). Karena apabila kita menganggap peran kebaikan tidak diperlukan dan hanya cukup pengakuan percaya atau iman saja, maka naskah-naskah tentang penghakiman tersebut sudah seharusnya dibuang dari Alkitab. Adalah suatu kebodohan yang fatal jika kita membungkam atau menganggap sepi kebenaran tentang peran perbuatan dalam keselamatan seperti yang tertera di atas, hanya karena tidak mampu memahami arti kontekstual “keselamatan hanya oleh anugerah dan iman”.

Jadi selain harus bisa melihat perbedaan dimensi antara “penyediaan fasilitas keselamatan” dengan “perwujudan keselamatan”, kita juga harus membedakan arti ‘perbuatan’ dalam konteks melakukan syariat Taurat dengan “perbuatan-perbuatan” baik dalam kehidupan yang sesuai kehendak Allah sebagai syarat mutlak untuk memperoleh keselamatan. Penyediaan fasilitas keselamatan adalah perbuatan Allah yang didasarkan hanya oleh anugerah, sedangkan perwujudan keselamatan itu adalah respon dan tanggung jawab manusia yang dibuktikan dengan perbuatannya selama hidup di dunia ini. Dengan teori ini maka kita bisa mengerti bahwa anugerah Allah itu tidak hanya berlaku bagi orang-orang percaya (Kristen), melainkan bagi semua manusia tanpa kecuali. Ada banyak naskah Alkitab yang mendukung kebenaran ini. Di antaranya, Yohanes 1:29; 3:16; 1 Timotius 2:4-6; 4:10; Wahyu 5:9, dan lain-lain. Maksud ayat-ayat ini adalah keselamatan dalam dimensi pertama, yakni berupa fasilitas untuk diresponi dengan perbuatan (dimensi kedua).

Kebijakan lain yang ditetapkan Allah agar anugerah penyelamatan ini terselenggara dengan baik adalah, memutuskan untuk melakukan penugasan kepada orang-orang tertentu. Oleh karenanya Allah juga melakukan pemilihan untuk mengemban tugas-tugas tersebut, baik berupa pribadi-pribadi maupun kelompok. Hal inipun bersifat anugerah sebagaimana dijelaskan berikut ini.

  • Anugerah Pemilihan

Alkitab dengan jelas mengungkap adanya dua fase perjanjian Allah atas umat-Nya, yakni perjanjian lama dan perjanjian baru. Hal ini telah dinubuatkan oleh nabi Yeremia dalam kitabnya pada pasal 31:31-33. Dalam nubuat itu dijelaskan perbedaan penerapan hukum yang telah diberikan Tuhan kepada umat-Nya Israel saat di padang gurun, sebagai hukum yang diterapkan secara ritual, namun kemudian hukum itu akan diterapkan dengan cara yang baru kelak, yakni sebagai hukum yang tertanam dalam batin. Nubuat ini kemudian dapat dimengerti oleh Paulus sebagai hukum yang “tidak terdiri dari hukum yang tertulis, tetapi dari Roh” (2 Korintus 3:6). Paulus juga mengutip nubuat tersebut untuk menegaskan kegenapannya di dalam diri Yesus Kristus sebagai pengantara dari perjanjian yang lama ke perjanjian yang baru.

Dua fase perjanjian ini tentu saja telah menujukkan adanya dua umat perjanjian, yakni umat perjanjian lama dan umat perjanjian baru yang terbentuk secara progresif. Umat perjanjian lama terbentuk melalui pemilihan Allah atas Abraham sebagai nenek moyang bagi satu bangsa yang diproses menjadi wadah lahirnya Yesus Kristus sebagai Juruselamat dunia (Kejadian 22:18; 26:4). Pada saat pelayanan Yesus Kristus di bumi, Ia memilih 12 murid (Yohanes 6:70; 15:16), menyusul setelah kenaikan-Nya memanggil Paulus juga menjadi rasul untuk menjangkau seluruh umat manusia dari segala bangsa menjadi umat perjanjian baru.

Jadi Yohanes 15:16 tidak boleh dipakai atau diartikan sebagai pemilihan orang-orang yang ditetapkan untuk diselamatkan atau masuk sorga. Karena apabila diperhatikan konteksnya, saat hal itu diucapkan adalah ketika Yesus berbicara secara tersendiri kepada murid-murid-Nya saja saat menjelang kematian-Nya. Jadi pemilihan murid-murid ini dilakukan juga dalam rangka penugasan untuk pembentukan suatu umat perjanjian baru yang akhirnya disebut sebagai Kristen. Dengan demikian orang-orang Kristen juga dapat disebut sebagai umat pilihan. Jadi sifat pemilihan dalam hal ini adalah dalam rangka penugasan kerja, bukan pemilihan untuk diselamatkan.

Perhatikanlah bahwa pemilihan untuk tujuan penugasan ini juga bersifat anugerah, karena tidak ada satupun dari antara mereka yang dipilih karena faktor kelayakan. Abraham berasal dari keluarga penyembah berhala. Murid-murid Yesus umumnya berasal dari masyarakat kelas menengah ke bawah. Meskipun Paulus seorang terpelajar dan terpandang, namun ia telah menganiaya pengikut jalan Tuhan. Orang-orang yang menjadi percaya dan akhirnya memeluk kekristenan juga berasal dari berbagai latar belakang yang tak satupun memiliki kelayakan bagi Tuhan. Jadi arti terminologi ‘pemilihan’ dalam Alkitab harus diperiksa menurut konteksnya.

Sekarang semakin jelas dapat terlihat bahwa terminologi ‘pemilihan’ dan ‘penetapan’ ternyata bermuara ke arah dua pengertian: Yang pertama adalah pemilihan yang bersifat penugasan seperti yang dijelaskan di atas, dan yang kedua adalah pemilihan yang berkaitan dengan keselamatan dalam pengertian orang-orang yang akan mencapai kesempurnaan seperti Yesus. Pengertian pemilihan yang kedua inipun bukan dalam arti predestinasi mutlak, melainkan bersifat pra-pengetahuan Allah seperti yang dipahami oleh Arminius. Jadi arti pemilihan dalam bentuk apapun bukanlah merupakan diskriminasi penetapan orang yang akan masuk sorga dan masuk neraka.

Kelemahan para teolog penganut paham predestinasi mutlak adalah karena secara langsung mengartikan kata-kata ‘pemilihan’ dan ‘penetapan’ yang ada pada Efesus 1:4,5 dan Roma 8:28,29 sebagai penentuan orang-orang untuk masuk sorga tanpa memperdulikan naskah-naskah yang menekankan keselamatan yang terbuka bagi semua orang. Padahal dengan pemahaman arti keselamatan yang sesungguhnya, maksud kata pemilihan dalam ayat-ayat tersebut dapat dimengerti sebagai dipilih atau ditargetkan untuk menjadi sempurna seperti Yesus melalui proses atau prosedur tatanan yang ditetapkan oleh Allah, yakni kesempatan mendengar Injil dan respon orang-orang yang mendengarnya. Bukan tindakan sepihak dan diskriminatif Allah!

Sesungguhnya apabila kita bersedia memeriksa secara saksama di dalam Alkitab, maka urusan diperkenankannya manusia masuk sorga atau kehidupan kekal, hal itu selalu terkait dengan pertimbangan perbuatan-perbuatan manusia yang tercatat dalam kitab kehidupan (Wahyu 20:12,13). Bahkan terdapat naskah yang memberi indikasi adanya orang-orang percaya (Kristen) yang tidak akan masuk sorga (Matius 7:21-23; Yakobus 2:19). Hal ini menegaskan, selain bahwa pengakuan percaya atau iman saja tidak cukup menjadi persyaratan bagi siapapun untuk bisa selamat maupun masuk sorga, juga bahwa ayat-ayat yang bernada pemilihan dan penetapan orang-orang yang selamat harus ditinjau ulang pengertiannya. Memahami hal ini akan membuat kita dapat melihat bahwa sesungguhnya tidak ada ayat-ayat yang kontradiktif di dalam Alkitab, melainkan para penafsirlah yang belum sampai pada pengertian yang sesungguhnya. 

Dengan demikian kita dapat memahami arti keselamatan oleh iman dalam Efesus 2:8,9 dan Titus 3:1-7, bukan hendak mengatakan bahwa keselamatan itu cukup hanya oleh iman atau pengakuan percaya semata, melainkan untuk mengatakan bahwa, alasan Allah menyediakan program keselamatan memang bukan karena jasa manusia, melainkan hanya karena niat baik-Nya (anugerah) semata-mata. Dalam hal ini perbuatan memang tidak menjadi dasar Allah merencanakan keselamatan. Selain karena rencana penyelamatan itu telah ditetapkan sebelum manusia berbuat apa-apa bahkan belum diciptakan, juga karena tidak ada kebaikan manusia yang layak untuk membayar anugerah Tuhan (Yesaya 64:6), dan karena upah dosa adalah maut atau neraka (Roma 6:23). Tetapi untuk mewujudkan keselamatan itu agar menjadi hak sepenuhnya (Efesus 1:13,14), seseorang harus meresponinya dengan perbuatan-perbuatan baik (Titus 2:14; Yakobos 2:17,26) dan dikerjakan dengan takut dan gentar (Filipi 2:12).

Jadi letak pengertian kata-kata “kasih karunia” dan ‘rahmat’ yang dapat disimpulkan sebagai ‘anugerah’ pada ayat-ayat Efesus 2:8-9; Titus 3:1-7 dan yang lainnya adalah pada posisi sebagai fasilitas yang sudah disediakan atau direncanakan Allah jauh sebelum dosa dilakukan manusia, bahkan sebelum manusia itu ada, yakni sejak masa kekekalan atau sejak sedia kala (Mazmur 25:6; Mikha 5:2; Kisah 4:27,28). Jelaslah bahwa keselamatan diadakan bukan untuk meniadakan tanggung jawab kita sebagai manusia. Keselamatan yang disediakan tanpa tanggung jawab dari yang diselamatkan, akan menempatkan keselamatan di dalam Kristus itu sebagai keselamatan yang tidak berharga (murahan).

  • Progres Keselamatan

Melalui penjabaran di atas akhirnya kita dapat melihat bahwa memang terdapat peningkatan yang menjadi perbedaan tuntutan Allah dari dua umat perjanjian (bangsa Israel dan orang Kristen) yang dinyatakan dalam Alkitab. Dengan demikian akhirnya kita juga menyadari bahwa keselamatan yang direncanakan Allah di dalam Kristus itu berlangsung secara progresif. Karena dari bangsa Israel yang hidup pada era PL, Allah hanya mengharapkan kualitas iman dan pertobatan mereka sebatas mencapai perilaku yang berstandar moral umum yang diatur dalam Taurat, sedangkan dari umat PB yang telah mengenal Injil Kristus, Allah mengharapkan untuk berupaya mencapai standar sempurna seperti Bapa (Matius 5:48) yang diteladankan melalui cara hidup Yesus Kristus selama di dunia.

Memang ada beberapa pribadi-pribadi yang bisa kita anggap sebagai orang-orang yang memiliki kualitas hidup yang mengagumkan seperti Kristus pada zaman PL, misalnya: Henokh, Ayub, Daniel, Sadrak, Mesakh, Abednego, namun standar kualitas hidup seperti itu belumlah merupakan tuntutan Allah secara menyeluruh dari umat PL. Dari umat PB yang kemudian menjadi Kristenlah Allah mengharapkan kualitas manusia yang sama seperti Putera Tunggal-Nya. Progres peningkatan tuntutan kualitas ini dapat kita simak melalui pengajaran Yesus dalam Matius 5. Agar dapat melihat secara lebih jelas, maka kita dapat membagi Matius 5 dalam 4 bagian:

Bagian pertama adalah ayat 1-12. Pengajaran tentang standar kualitas tuntutan hidup bagi orang percaya ini dimulai dengan ajaran tentang sumber atau pemicu kebahagiaan yang bertolak belakang dengan sumber kebahagiaan yang didambakan manusia pada umumnya, termasuk umat PL. Sumber-sumber kebahagiaan bagi orang percaya itu adalah: “miskin di hadapan Allah”, “berdukacita”, “lemah lembut”, “lapar dan haus akan kebenaran”, “murah hati”, “suci”, “membawa damai”, “dianiaya oleh sebab kebenaran”. Jika direnungkan secara mendalam, maka hanya orang-orang yang hatinya berpusat kepada Allahlah yang sumber kebahagiaannya dapat dipenuhi dari keadaan-keadaan tersebut. Mungkin pada situasi tertentu bisa saja seorang Kristen bisa mempertahankan perasaan yang demikian, tetapi sampai berapa lama hal itu bisa bertahan? Yang pasti, ajaran ini bukan suatu janji yang lazim kita temukan dalam kitab PL. Hal yang lazim kita temui sebagai pendorong semangat atau kebahagiaan umat perjanjian lama adalah janji berkat dan sukses karir seperti yang tertera pada Ulangan 28.

Bagian kedua adalah ayat 13-16 yang merupakan tuntutan kesediaan atau kerelaan mengorbankan diri demi kepentingan orang lain yang diibaratkan seperti garam dan pelita. Garam selalu akan luruh apabila digunakan dan pelita akan kehabisan minyak apabila dinyalakan. Ajaran untuk rela mengalami kerugian demi kepentingan orang lain seperti ini tidak pernah dituntut dari umat perjanjian lama. Berperang menaklukkan musuh dan mengambil rampasan perang menjadi sumber penghasilan, masih merupakan tindakan yang sah sejauh hal itu merupakan amanat langsung dari Allah kepada umat PL.

Bagian ketiga adalah ayat 17-47. Pada bagian ini Yesus sudah sangat jelas menujukkan peningkatan tuntutan kualitas kerohanian itu terhadap uamat PB dengan cara menyatakan fungsi taurat sebagai hukum yang seharusnya sudah tidak lagi menjadi patokan standar kualitas moral bagi orang percaya. Kita tahu bahwa setelah masa pembuangan, umumnya masyarakat Yahudi dan khususnya ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi tidak lagi takluk kepada berbagai berhala, namun justru sebaliknya sangat ketat dalam melakukan tuntutan-tuntutan Taurat. Namun yang menjadi masalah adalah bahwa ketaatan itu tidak lagi dilakukan atas dasar ketulusan hati dan rasa hormat kepada Tuhan, melainkan sebagai legalitas yang menjadi kebanggaan dan kehormatan atau sebagai cap orang saleh semata. Oleh karena itu Yesus langsung menohok pada point-point Taurat yang sering menjadi kebanggan itu dan memberi penjelasan tentang standar pencapaian yang diharapkan oleh Allah pada poin-poin berikut:

  • Tuntutan tidak boleh membunuh (Ulangan 5:17) tidak lagi sekedar tidak menghilangkan nyawa, tetapi sudah naik tingkat menjadi tidak boleh bermusuhan (Matius 5:21-26).
  • Tuntutan tidak boleh berzinah tetapi boleh bercerai (Ulangan 5:18), artinya tidak lagi sekedar melakukan praktek selingkuh, tetapi sudah naik tingkat menjadi tidak boleh tertarik meskipun hanya dalam pikiran kepada yang bukan isteri sendiri, dan tidak boleh lagi bercerai (Matius 5:27-32).
  • Tuntutan tidak boleh bersumpah palsu (Imamat 19:12) tidak lagi diperlukan apabila seseorang menjaga diri agar tetap jujur (Matius 5:33-37).
  • Tuntutan hukum pembalasan dan membenci musuh (Keluaran 21:24) justru diganti menjadi memberkati orang yang merugikan kita dan mengasihi musuh (Matius 5:38-47).

Bagian yang terakhir adalah ayat 48 yang bermuara pada kesempurnaan hidup seperti Bapa surgawi. Inilah yang menjadi standar kerohanian yang diharapkan dari umat PB (Kristen).

Melalui penjabaran ini akhirnya kita bisa memahami arti tuntutan kesempurnaan hidup yang diucapkan Tuhan Yesus pada Matius 5:48. Hal itu bukan sekedar kiasan atau sebagai pendorong agar manusia berusaha hidup lebih baik, tetapi karena Allah memang sedang mengumpulkan manusia-manusia yang hidup berkualitas seperti putera-Nya Yesus Kristus. Bukti kualitas hidup seperti ini telah terbukti di sepanjang Alkitab, bukan hanya dalam PB seperti para rasul dan jemaat mula-mula yang rela mengorbankan hidupnya untuk disiksa dan mati syahid (Ibrani 11:36-39), tetapi juga dalam PL seperti yang di sebutkan sebelumnya. Kehidupan “sempurna seperi Bapa” itu sangat dimungkinkan dan diharapkan oleh Allah. Jadi salah besar apabila orang beranggapan bahwa dengan anugerah pengorbanan Kristus maka kehidupan rohani akan semain mudah. Bahkan celakanya ada kelompok Kristen yang mengajarkan bahwa setelah pengorbanan Kristus maka orang percaya bisa berbuat dosa sesuka hati, karena semua telah ditanggung oleh Kristus. Ajaran seperti ini adalah bentuk kepalsuan yang sudah berhasil disuntikan Iblis ke dalam gereja untuk menghancurkan kekristenan. Yang benar adalah bahwa kepada orang percaya (Kristen) Allah menuntut kehidupan yang saleh sama seperti Yesus. Yohanes berkata:

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6).

Pertanyaannya, apakah orang-orang yang masuk sorga itu hanya orang-orang yang sempurna seperti Bapa? Tentu saja tidak! Kebijakan Allah dalam menimbang orang-orang yang diberikan kesempatan masuk dunia yang akan datang sebagai anggota masyarakat, akan ditinjau dari catatan perbuatannya (Matius 16:27; Roma 2:6; 1 Petrus 1:17; Wahyu 2:23; 20:12,13). Sedangkan orang-orang yang mencapai kesempurnaan seperti Kristus diperlukan untuk memerintah bersama Kristus dan akan menjadi warga Kerajaan Allah di kekekalan nanti (2 Tesalonika 1:3-7).

Jadi kita sudah harus memilah antara kebijakan Allah dalam urusan keselamatan untuk tujuan kesempurnaan manusia, dengan kebijakan Allah dalam hal memperkenankan orang-orang untuk masuk sorga atau langit baru dan bumi baru. Kebijakan Allah dalam urusan keselamatan untuk tujuan kesempurnaan adalah pembentukan orang-orang percaya melalui proses kehidupan untuk mencapai kulaitas manusia yang sesuai dengan standar gambar Kristus (Matius 5:48; Efesus 1:4,5; Roma 8:28,29), sedangkan kebijakan Allah untuk memperkenankan orang-orang untuk masuk sorga ditentukan oleh catatan pada kitab kehidupan yang akan dibuka pada masa penghakiman nanti (Matius 16:27; Roma 2:5-11; 1 Petrus 1:17; Wahyu 20:12-13; 22:12). Alkitab juga memberi indikasi yang jelas akan adanya tingkat kehidupan di sorga (Matius 20:20-23), juga tentang tingkatan sorga (2 Korintus 12:2). Jadi sangat jelas juga bahwa adanya perbedaan posisi di sana, yang memberi alasan logis perihal tatanan dan keadilan Allah yang bukan sekedar kiasan.

Oleh karena itu kita sudah harus tegas menyatakan pengertian keselamatan yang merupakan “kasih karunia” (anugerah) seperti yang disebutkan pada Kisah 15:11; Efesus 2:8 dan Titus 3:5, juga keselamatan yang dikaitkan dengan pengakuan percaya pada Markus 16:16; Kisah 16:31 dan Roma 10:9,10 tidak boleh diartikan sebagai sesuatu yang langsung terjadi seketika seseorang mengakui iman percayanya dan akan tetap menjadi miliknya secara permanen tanpa usaha memperjuangkannya. Karena Yudas Iskariot sendiri yang sudah secara langsung dipilih oleh Yesus sebagai murid-Nya dan yang sangat dekat sehingga dipercayakan sebagai bendahara, ternyata bisa berakhir binasa oleh ketidaksetiaan dan ketidakrelaan untuk bertobat serta tidak berjuang untuk hidup benar (Lukas 6:16; Markus 14:18; Yohanes 12:4-6; Matius 27:3-5).

KESIMPULAN

  1. Arti atau definisi ‘keselamatan’ di dalam Kristus tidak bisa disimpulkan hanya melalui telaah etimologis kata ‘selamat’ maupun melalui beberapa pernyataan ayat-ayat yang terlihat definitif dalam Alkitab, melainkan harus melalui penemuan maksud keselamatan itu diadakan dengan cara menjelajahi konteks Alkitab secara lengkap atau menyeluruh.
  2. Keselamatan di dalam Kristus tidak diadakan untuk kepentingan kebutuhan lahiriah dan juga bukan sekedar meluputkan orang dari neraka serta membawanya masuk sorga, melainkan untuk melanjutkan rencana Allah semula dalam rangka mewujudkan manusia yang memiliki kualitas segambar dan serupa denggan Allah seperti yang terlihat secara nyata dalam praktek hidup Tuhan Yesus Kristus.
  3. Keselamatan di dalam Kristus itu harus dilihat dari dua dimensi atau dua sisi: Dimensi yang pertama adalah dari pihak Allah berupa penebusan manusia dari akibat dosa (kebinasaan). Pada sisi ini keselamatan disebut sebagai anugerah berupa penebusan dan yang hanya diperoleh dengan iman. Sedangkan dimensi yang kedua adalah dari pihak manusia berupa respon atau usaha dan kerja keras untuk taat pada kehendak Allah hingga mencapai kesempurnaan menjadi serupa dengan Dia. Tanpa anugerah penebusan tidak akan ada fasilitas dan harapan untuk selamat, sedangkan tanpa usaha untuk taat pada kehendak Allah maka keselamatan tidak akan terwujud.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *