Lahir Baru

Melihat Arti Dan Posisi Momentum Terjadinya

Kesulitan memahami perihal “kelahiran kembali” yang lebih akrab dikenal dengan sebutan “lahir baru” itu sangat jelas tergambar dalam dinamika percakapan Yesus dengan Nikodemus pada Yohanes pasal tiga. Maka sebaiknya kitapun tidak menganggap bahwa hal itu mudah disimpulkan dengan hanya sekadar membangun asumsi yang dihasilkan dari membaca sekilas naskah tentang hal itu dari Alkitab. Ketidaksediaan menggali pengertian topik ini secara mendalam telah menimbulkan asumsi gegabah yang menganggap bahwa lahir baru adalah suatu pengalaman yang terjadi hanya sekali saja saat pertama kali seseorang mulai merasa tersentuh oleh Roh Kudus untuk membuka hati secara serius bagi Tuhan. Dengan sendirinya anggapan ini telah menggiring terbentuknya pandangan yang mengajarkan bahwa kelahiran baru terjadi hanya oleh tindakan Tuhan semata, atau tidak memerlukan peran dari pihak manusia. Hal ini bisa saja terjadi karena tergoda secara cepat menangkap ucapan Yohanes 1:12,13 yang menyebut faktor percaya sebagai dasar orang diperanakkan dari Allah, atau kesalahpahaman arti sejati dari kalimat “siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru” yang ada pada 2 Korintus 5:17.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa mengalami kelahiran baru memiliki aspek adikodrati yang oleh karenanya memiliki sisi misterius sebagaimana digambarkan oleh Yesus bagaikan angin yang bertiup tanpa dapat diketahui dari mana datangnya dan kemana perginya (Yohanes 3:8). Akan tetapi tidaklah sepenuhnya demikian. Karena terbukti ada aspek logis yang bisa dipahami oleh nalar. Sebab sama seperti angin, hal itu memang tidak dapat diamati secara kasat mata, namun dapat dirasakan dan diukur dampaknya oleh orang yang mengalaminya. Jika tidak demikian, niscaya Yesus mengatakannya kepada Nikodemus, dan hal inilah yang akan diurai secara lebih benderang dalam tulisan ini.

Naskah mendasar sebagai pijakan utama untuk menggali arti kelahiran baru yang alkitabiah, tentu saja harus dimulai dari sumbernya, yakni pengajaran Yesus Kristus yang tertera dalam Yohanes 3. Kemudian penggalian selanjutnya harus dikaitkan dengan naskah-naskah para rasul, agar kita dapat melihat bagaimana mereka memahami maksud ajaran Sang Guru secara lebih tepat.

Para pembaca Yohanes 3 yang cermat akan dapat melihat bahwa dasar dan tujuan Yesus membicarakan perihal kelahiran baru kepada Nikodemus adalah sedang mengutarakan perihal syarat untuk dapat ‘melihat’ dan ‘masuk’ ke dalam “Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3,5). Justru inilah yang sering diabaikan para penafsir sehingga sulit sampai pada pengertian kelahiran baru secara esensial. Dari memahami intisari arti Kerajaan Allah inilah maka kita akan lebih mudah memahami, bukan saja arti dari kelahiran baru, melainkan juga mekanisme terjadinya kelahiran baru itu dalam diri seseorang.

Kerajaan Allah

Untuk dapat memahami maksud “Kerajaan Allah” secara memadai seharusnya membutuhkan penjabaran tersendiri. Namun dalam tulisan ini akan disuguhkan secara ringkas dalam batas memenuhi kebutuhan terkait kelahiran baru. Secara sederhana dalam konteks upaya memahami topik lahir baru, maka Kerajaan Allah itu dapat diartikan sebagai “sebuah kerajaan di mana Allah didaulat sebagai Raja dan ketetapan-ketetapan atau kehendak-Nya ditaati secara sepenuhnya”. Dari menyimak Alkitab secara menyeluruh, dalam cara memandang panorama kisahnya secara berkesinambungan, baik dalam ungkapan yang diutarakan secara eksplisit maupun secara implisit, maka pada akhirnya kita akan dapat membagi bentuk Kerajaan Allah itu dalam tiga dimensi atau pun tahapan:

Dimensi atau pada tahap yang pertama, Kerajaan Allah itu pernah diwujudkan oleh Allah pada umat pilihan-Nya bangsa Israel di bumi ini. Hal ini terjadi pada masa Hakim-Hakim dan dengan sistem keimaman di Bait Allah. Sejak pembebasan dari Mesir hingga memasuki Tanah Perjanjian, Allah tidak mengangkat seorang raja atas mereka, melainkan langsung memerintah bangsa itu melalui pembangkitan pribadi-pribadi yang berfungsi sebagai Hakim atas mereka. Dengan cara demikian Allah ingin mendidik umat-Nya agar bergantung langsung kepada-Nya dalam keseharian hidup mereka. Tetapi hal itu tidak berlangsung lama dan tidak sempat berdampak menjadi saksi bagi bangsa-bangsa lainnya di muka bumi, karena bani Israel akhirnya menuntut agar seorang raja berwujud manusia diangkat dari tengah-tengah mereka. Artinya bahwa mereka lebih memilih sama dengan dunia ini ketimbang menjadi bangsa yang khas dan unggul dari bangsa-bangsa lainnya. Bagi Allah hal ini adalah reaksi penolakan umat terhadap Diri-Nya sebagai Raja atas mereka (1 Samuel 8:6,7). Namun meskipun hal itu sepertinya dibiarkan, Allah tetap melanjutkan rencana agung konsep Kerajaan Allah itu pada tahap atau dimensi selanjutnya.

Dimensi atau tahap yang kedua tidak lagi sama dengan bentuk yang pertama (dalam bentuk satu bangsa yang berdaulat) seperti di atas, melainkan terjadi dalam diri pribadi lepas pribadi orang-orang percaya tanpa batas kebangsaan, dalam bentuk kesediaan setiap orang tunduk pada pemerintahan Allah yang tidak terlihat. Hal ini juga tetap diwujudkan selama di bumi ini, yang dimulai sejak pelayanan Yesus sebagai manusia hingga kedatangan-Nya yang kedua kalinya nanti. Dimensi ini dinyatakan sejak pernyataan otoritas kuasa pelayanan-Nya atas setan (Matius 12:28). Perbedaan atau progres perubahan dari dimensi pertama ke dimensi kedua inilah yang tidak kunjung dipahami oleh bangsa Israel hingga saat ini. Konsep raja dalam bentuk kerajaan manusiawi telah menjadi teologia mendasar dalam ajaran Yudaisme dan mengakar dalam benak orang Israel. Suhu pengharapan bangkitnya kerajaan Israel oleh seorang tokoh sakti pembebas (mesias) dari antara orang Israel, selalu mencuat sepanjang sejarah, setiap kali situasi tekanan penjajahan bangsa lain dirasakan oleh Israel. Itu sebabnya tidak heran ketika harapan konsep kerajaan manusiawi seperti itu pernah diinginkan dari Yesus pada masa popularitas-Nya sebagai manusia (Yohanes 6:14,15).

Kokohnya benteng teologia pengharapan mesias yang keliru ini tak terentaskan hingga akhir pelayanan Yesus di muka bumi. Karena penjelasan idiologi dan bentuk kerajaan-Nya yang berbeda dari kerajaan duniawi pada saat sidang pengadilan terhadap diri-Nya dilakukan, ternyata tidak membuahkan hasil apa-apa untuk bisa meringankan hukuman mati atas Diri-Nya (Yohanes 18:33-37). Itu sebabnya dapat kita mengerti mengapa tentang datangnya Kerajaan Allah pada dimensi kedua ini menjadi salah satu pokok doa teratas yang diajarkan Tuhan Yesus kepada orang percaya (Matius 6:10). Artinya bahwa dimensi Kerajaan Allah pada tahap ini harus diusahakan kehadirannya melalui praktek hidup orang-orang percaya selama di dunia ini.

Memang tentu saja tidak mudah berada dan tunduk pada pemerintahan Raja yang tidak hadir secara fisik. Tetapi justru kondisi inilah yang ditetapkan oleh Allah untuk melihat bukti nyata kemurnian ketaatan orang-orang yang percaya kepada-Nya. Apakah orang percaya bersedia taat kepada-Nya walau tanpa kehadiran-Nya sebagai penguasa yang langsung hadir secara fisik dan dengan peraturan yang langsung memberi konsekuensi apabila dilanggar? Karena sesungguhnya Tuhan merindukan ketaatan pengikut-Nya tanpa kontrol polisi dan lembaga peradilan manusiawi. Prinsip ini sebenarnya adalah kelanjutan dari rencana Allah yang terkendala pada tahap pertama atas Israel sebagai satu bangsa yang berdaulat pada masa Hakim-Hakim.

Konsep Kerajaan Allah ala duniawi yang merupakan teologia yudaismelah yang dimiliki Nikodemus ketika datang bertemu Yesus. Maka Yesus langsung menohok pada inti permasalahan, mengingat Nikodemus adalah seorang pemimpin dan pengajar Israel yang tingkat pemikirannya tidak lagi sama dengan masyarakat jelata dalam pemahaman teologia (Yohanes 3:1,10). Yesus sendiri seperti kesulitan dalam upaya membuat Nikodemus mengerti dalam kisah ini. Yohanes pun tidak memberi laporan hasil akhir pembicaraan tersebut, yang menimbulkan kesan bahwa Nikodemus pada akhirnya tidak kunjung mengerti perihal lahir baru tersebut. Karena kalau akhirnya Nikodemus paham, niscaya Yohanes melaporkannya. Tetapi sebelum lebih jauh kita membahas penjelasan Yesus terhadap Nikodemus yang menjadi kunci pada pengertian kelahiran baru ini, sebaiknya kita tuntaskan terlebih dahulu dimensi ketiga Kerajaan Allah ini.

Dimensi Kerajaan Allah yang ketiga akan terwujud pada masa kekekalan nanti. Tahapan ini tidak lagi terjadi di bumi yang akan menjadi lautan api atau neraka nanti (2 Petrus 3:7), melainkan di sorga. Dan ini berlaku bagi mereka yang memperjuangkan kelahiranbarunya selama di dunia ini. Orang-orang yang mencapai kelahiran baru di dunia ini akan ikut memerintah bersama Tuhan Yesus di Kerajaan Kekal nanti (Matius 19:28; 2 Timotius 2:12).

Untuk bisa memahami perbedaan esensi mendalam bentuk Kerajaan Allah dari dimensi kedua dengan dimensi ketiga, maka pembaca harus jeli melihat naskah Injil Yohanes 3. Yohanes melaporkan bahwa Yesus menggunakan dua kata yang berbeda saat menunjuk dimensi kedua dengan dimensi ketiga, yakini kata ‘melihat’ (eido) pada ayat 3. Kata ini dalam arti kiasan berarti ‘memahami’ atau ‘mengerti’. Kemudian pada ayat 5 dipakai kata ‘masuk’ (eiserchomai). Maksud Yesus dalam penggunaan dua kata yang berbeda itu adalah untuk memberi pengertian bahwa Kerajaan Allah pada dimensi kedua adalah sesuatu yang harus dipahami (dilihat) agar bisa dijalani dalam praktek hidup sehari-hari selama di dunia ini, sedangkan Kerajaan Allah pada dimensi yang ketiga adalah suatu dunia baru yang akan dimasuki kelak oleh orang-orang yang telah lahir baru. Itu sebabnya memahami arti lahir baru dalam pengertian yang tepat adalah sangat penting.

Kelahiran Kembali

Sebenarnya tidak ada ungkapan “lahir baru” dalam Alkitab. Yang ada adalah “dilahiran kembali”, yang merupakan terjemahan dari perpaduan kata ‘gennao’ dan ‘anothen’ yang tertera dalam Yohanes 3:3,5. Kata gennao biasa dipakai untuk pengertian secara harafiah ketika seorang laki-laki menjadi ayah karena isterinya melahirkan sorang anak. Akan tetapi kata ini juga digunakan secara kiasan untuk memberi arti ‘menimbulkan’, ‘menyebabkan’, dan ‘menghasilkan’ sesuatu. Dalam paham yudaisme ditemukan penggunaan kata ini dalam arti seseorang yang telah mempengaruhi orang lain sehingga mengikuti cara hidupnya (pindah agama). Paduan kata kedua yang menjadi penjelasan bagi kata pertama (gennao) adalah ‘anothen’. Kata ini memiliki arti-arti: “datang dari atas”, “datang dari tempat yang tinggi” (oleh karenannya dianggap datang dari Allah), “dari pertama”, “sekali lagi”, dan “dari semula”.

Jadi kalau disimak secara saksama, maka terjemahan “gennao anothen” kurang tepat kalau disebut “lahir baru”. Meskipun tentu saja ungkapan “lahir baru” tidak sepenuhnya salah, namun istilah “dilahirkan kembali” lah yang memberi pengertian yang mendasar sesuai tujuannya, yakni adanya nilai pengulangan yang nanti mengacu pada pembenahan pada apa yang telah direncanakan sebelumnya. Karena kata ‘baru’ bisa memberi kesan seperti tidak ada sebelumnya. Makanya Alkitab Bahasa Indonesia terjemahan Baru telah dengan baik menuliskan “dilahirkan kembali”. Juga terjemahan King James Version yang menterjemahkan menjadi “born again”. Sedangkan terjemahan lain ada yang menterjemahkan “lahir dari atas” yang ingin memberi perbedaan dengan lahir dari bahwa atau dari dunia ini secara fisik.

Kata lain yang dipakai terkait dengan kelahiran kembali adalah ‘palingenesia’ (Titus 3:5). Kata ini dibangun dari dua kata dasar, yakni kata ‘palin’ dan ‘genesia’. Kata ‘palin’ memiliki arti yang selaras dengan kata anothen, yakni: “sekali lagi”, “dari semula”, “permulaan lagi”, “pengulangan aksi”, dan lain-lain. Sedangkan kata ‘genesia’ atau ‘genesis’ berarti ‘sumber’ dan ‘asali’ atau ‘asli’. Kalau arti-arti kata ini dijabarkan dalam kalimat, maka lahir kembali itu bisa dikatakan “kelahiran yang diulang sekali lagi (setelah atau selain kelahiran yang pertama secara fisik), yang berasal dari sumber yang asli”. Kata palingenesia juga dipakai untuk “penciptaan kembali” alam semesta (Matius 19:28) yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan ‘regeneration’.

Perhatikanlah bahwa pengertian “kelahiran kembali” ini ada kaitannya dengan pemahaman atau filosofi yang menjadi pola pikir atau konsep teologia tentang Kerajaan Allah sebagaimana telah di jelaskan sebelumnya di atas. Yang pertama Tuhan Yesus katakan kepada Nikodemus adalah, “jika seorang tidak dilahirkan kembali, sesungguhnya tidak dapat ‘melihat’ (dalam hal ini memahami arti atau maksud) Kerajaan Allah” (Yohanes 3:3). Dengan kata lain, Yesus hendak berkata kepada Nikodemus bahwa ia harus bersedia berpikir ulang tentang konsep kerajaan Allah yang dimilikinya. Nikodemus harus bersedia membuang konsep lama atau konsep Kerajaan Allah ala duniawi yang bercokol dalam teologia yudaisme. Pemikiran Nikodemus harus ditata ulang dengan cara harus berani memulai dari awal kembali (dari nol).

Melalui uraian di atas maka sangat jelas bahwa perkara “Kerajaan Allah” itu bukan hanya sesuatu yang bisa ‘dialami’, tetapi juga perlu ‘dinalar’ atau ‘dipahami’ secara logika dengan baik. Kalau tidak maka Tuhan Yesus tidak perlu bersusah payah memberi penjelasan kepada Nikodemus. Jika Kerajaan Allah tidak perlu dipahami atau hanya cukup dialami sebagai pengalaman adikodrati, maka seyogyanya Yesus hanya tumpang tangan saja kepada Nikodemus. Jadi dari sekarang kita sudah harus paham, bahwa kelahiran kembali tidak mendahului perubahan pola pikir, melainkan sebaliknya, adanya perubahan pola pikir mendasar terlebih dahulu, barulah seseorang bisa mengalami kelahiran kembali.

Ini adalah tantangan terhebat bagi seorang pemimpin dan pengajar agama Yahudi seperti Nikodemus. Karena tidak mudah bagi dia untuk merontokkan begitu saja apa yang sudah dia bangun dan yang telah mempengaruhi murid-muridnya sekian lama. Ini tidak hanya menyangkut dirinya sendiri, melainkan nasib wibawa teologia yudaisme yang sudah melembaga berabad-abad. Andaikan ia pada akhirnya bisa menerima ajaran Yesus pun, maka tidak mudah baginya untuk menyatakan perubahan pikirannya kepada orang lain, kecuali ia bersedia mati seperti Yesus karena akan dianggap sebagai pengkhianat idiologi bangsanya.

Selanjutnya Nikodemus menyanggah dengan perkataan, “Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua? Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?” (Yohanes 3:4). Ini adalah reaksi jujur dari seorang pemikir kritis seperti Nikodemus. Ia tidak sedang berspekulasi. Karena maksud kedatangannya bukan hendak menguji Yesus seperti ahli Taurat dan orang Farisi yang lain. Ia datang pada malam hari setelah melalui pertimbangan matang atas semua yang sudah Yesus lakukan, lalu memberi kesimpulan bahwa Yesus pastilah utusan Allah (Yohanes 3:2). Oleh karena sikap tulus itulah maka Yesus bersedia memberi Nikodemus penjelasan yang lebih luas. Bahwa “seorang yang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah” (Yohanes 3:5). Jadi kelahiran kembali yang merupakan syarat untuk dapat melihat dan masuk ke dalam Kerajaan Allah itu adalah, lahir dari air dan Roh.

1. Lahir Dari Air

Di sini ditemukan perbedaan pendapat beberapa penafsir Alkitab soal pengertian kata ‘air’. Sebagian orang telah mengartikannya sebagai ‘Firman’ dan ada juga yang menganggapnya sebagai ‘’kelahiran dari rahim wanita secara fisik” sebagaimana dipertanyakan oleh Nikodemus. Meskipun tafsiran tersebut tidak berdampak buruk dan bahkan memiliki nilai-nilai yang sangat baik, tetapi telah menyebabkan kehilangan arti yang lebih prima sesuai tujuannya. Dari mempertimbangkan berbagai teori, maka penulis lebih setuju jika yang dimaksud oleh Yesus di sini adalah berhubungan dengan “baptisan air” yang sudah populer saat itu sejak tampilnya Yohanes pembaptis. Dan kata ‘Roh’ tentu saja maksudnya adalah Roh Kudus. Akan tetapi kita harus hati-hati dan bersikap kritis dalam hal ini, berhubung akibat keteledoran penafsir kaum non teologis yang telah menyimpulkan bahwa seseorang bisa disebut telah mengalami kelahiran kembali jika dia telah dibaptis dengan air secara ritual dan telah berbahasa roh yang dianggap sebagai bukti dipenuhi Roh Kudus. Ini tentu saja merupakan tafsiran bebas yang sangat keliru.

Ketika Yesus berkata “dilahirkan dari air” maka yang dimaksud tentulah esensi dari baptisan tersebut, bukan tindakan ritual atau sakramennya. Karena jika yang dimaksud adalah upacara ritualnya, maka tentu Yesus akan langsung berkata “dibaptis”! Tetapi dengan mengatakan “dilahirkan dari air”, Yesus sedang menggiring Nikodemus pada arti yang terkandung dari proses masuk dan keluarnya orang dari dalam air itu. Terkait hal ini ada dua sumber yang sangat akurat untuk mengungkap misteri ini, yakni: Petrus dan Paulus. Petrus menjelaskan bahwa baptisan itu ‘kiasan’ untuk menggambarkan tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Yesus melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Bagi orang yang memberi diri dibaptis dengan air, adalah merupakan aksi pengaminan dan pernyataan komitmen, bahwa hal itu diterima berlaku atas dirinya. Sedangkan realisasi nilai-nilai dari kiasan baptisan itu harus dikerjakan dalam kehidupan sehari-hari. Jika tidak, maka kiasan akan tinggal sebagai kiasan semata yang tidak bemanfaat apa-apa.

Kemudian secara lebih terperinci Paulus akhirnya menjelasan makna luar biasa dari baptisan itu. Hal itu merupakan tanda komitmen untuk bersedia meneladani Kristus dalam hal “mati atau dikuburkan bagi dosa dan hidup dalam hidup yang baru” (Roma 6:1-14; Kolose 2:12). Tetapi untuk menghindari kaum liberal yang menganggap hidup baru itu bisa terjadi secara otomatis ketika seseorang telah percaya kepada Kristus, maka sebaiknya kita melanjutkan pembacaan naskah tersebut pada Kolose 3:5-10 yang berbunyi:

Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan, yang sama dengan penyembahan berhala, semuanya itu mendatangkan murka Allah (atas orang-orang durhaka). Dahulu kamu juga melakukan hal-hal itu ketika kamu hidup di dalamnya. Tetapi sekarang, buanglah semuanya ini, yaitu marah, geram, kejahatan, fitnah dan kata-kata kotor yang keluar dari mulutmu. Jangan lagi kamu saling mendustai, karena kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.

Kata-kata: ‘matikanlah’, ‘buanglah’, dan ‘jangan’ adalah perintah untuk menjauhkan perbuatan-perbuatan dosa itu. Ini berarti bahwa dosa-dosa tersebut tidak terkubur secara otomatis ketika seseorang dibaptis atau menjadi orang percaya. Jadi upacara ritual baptisan itu hanyalah tanda komitmen untuk bersedia menguburkan semua perbuatan dosa dalam kehidupan sehari-hari. Karena kemudian Paulus melanjutkannya dengan kalimat “terus-menerus diperbaharui”, yang menunjukkan bahwa proses tersebut berlangsung progresif.

Prinsip yang diutarakan Paulus kepada jemaat Kolose itu selaras dengan suratnya kepada jemaat di Roma 6:1-14:

Jika demikian, apakah yang hendak kita katakan? Bolehkah kita bertekun dalam dosa, supaya semakin bertambah kasih karunia itu? Sekali-kali tidak! Bukankah kita telah mati bagi dosa, bagaimanakah kita masih dapat hidup di dalamnya? Atau tidak tahukah kamu, bahwa kita semua yang telah dibaptis dalam Kristus, telah dibaptis dalam kematian-Nya? Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru. Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya. Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa. Jadi jika kita telah mati dengan Kristus, kita percaya, bahwa kita akan hidup juga dengan Dia. Karena kita tahu, bahwa Kristus, sesudah Ia bangkit dari antara orang mati, tidak mati lagi: maut tidak berkuasa lagi atas Dia. Sebab kematian-Nya adalah kematian terhadap dosa, satu kali dan untuk selama-lamanya, dan kehidupan-Nya adalah kehidupan bagi Allah. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus (ayat 1-11).

Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya. Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran. Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia (ayat 12-14).

Ayat 1-11 adalah penjelasan arti baptisan air yang menjadi ilustrasi dari kematian dan kembangkitan Yesus Kristus. Sedangkan ayat 12-14 adalah sikap dan tindakan yang harus kita lakukan selama hidup untuk memberi arti yang nyata pada ilustrasi itu. Itulah maksud perkataan “dilahirkan dari air”; yakni kesediaan menguburkan atau meninggalkan gaya hidup yang berdosa dalam praktek hidup setiap hari. Jadi hal itu bukan sesuatu yang terjadi secara otomatis, melainkan dengan komitmen untuk berjuang mengerjakannya setiap hari. Jadi ketika seseorang dibaptis, bahkan berkomitmen untuk meninggalkan segala dosanya, hal itu belum bisa disebut sebagai kelahiran kembali. Hal itu baru merupakan komitmen untuk mencapai target kelahiran kembali. Inilah salah satu mekanisme mencapai kelahiran kembali yang dikemukakan oleh Yesus.

2. Lahir Dari Roh

Mekanisme kedua untuk mencapai kelahiran kembali yang diucapkan oleh Yesus adalah, “dilahirkan dari Roh”. Untuk menjelaskan maksud perkataan ini Tuhan Yesus melanjutkan dengan kalimat, “apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh adalah roh” (Yohanes 3:6). Di sini Yesus memberi pembanding yang berlawanan, yakni ‘lahir dari daging’. Tetapi agar kita semakin kokoh dalam pengertian bahwa yang  dimaksud dengan lahir dari daging di sini bukan lahir dari rahim wanita, maka kita harus tahu bahwa terdapat perbedaan nilai yang signifikan dalam terminologi ‘daging’ dengan ‘tubuh’.

Dalam bahasa Yunani kata ‘tubuh’ selalu menggunakan kata ‘soma’ untuk menujuk raga atau fisik sepenuhnya, seperti yang terdapat dalam Matius 6:25; 1 Tesalonika 5:23, dan lain-lain. Sedangkan kata ‘daging’ yang lebih menunjukkan substansi atau sifat tubuh yang lemah dan berdosa, dalam bahasa Yunani selalu memakai kata ‘sarx’.

Mengingat adanya pernyataan bahwa manusia terlahir dalam dosa (Mazmur 51:50 dan lain-lain), maka kita bisa mengerti bahwa yang dimaksud oleh Yesus “lahir dari daging” adalah karakter atau tabiat dosa yang diwarisi turun-temurun sejak Adam dan Hawa bagi semua keturunannya. Sedangkan “lahir dari Roh” adalah sesuatu yang berbeda. Hal itu adalah sesuatu yang baru, yang dikerjakan oleh Roh Kudus untuk “melahirkan kembali” atau membangkitkan, bukan tubuhnya, melainkan ‘roh’ manusia itu (Titus 3:5). Namun harus tetap diwaspadai agar ayat-ayat seperti ini tidak disalahartikan sebagai peristiwa yang terjadi secara langsung seperti telah dijelaskan di atas. Jadi “lahir dari Roh” terjadi ketika ‘roh’ seseorang telah benar-benar mengalami pembaruan. Bukan sekedar saat seseorang merasakan jamahan Roh Kudus atau meresponi panggilan Tuhan untuk pertama kalinya.

Sejauh ini kita sudah bisa melihat setidaknya ada tiga hal yang menjadi sarana pendukung proses terwujudnya kelahiran kembali yang dikemukakan oleh Yesus dalam Yohanes 3:

1. Pembenahan Pola Pikir

Meskipun hal ini tidak secara eksplisit dinyatakan, tetapi dari dinamika percakapan Yesus dan Nikodemus sangat terlihat bahwa masalah filosofi atau paham yang menjadi pola pikir lama mutlak harus disingkirkan dengan cara kesediaan kembali ke titik nol, sehingga pemahaman baru dapat diterima secara leluasa. Karena perkara kelahiran kembali itu juga menyangkut pola pikir, maka sangat tidak mungkin seseorang bisa mengalami kelahiran kembali tanpa terlebih dahulu melakukan pembenahan pola pikir.

2. Kelahiran Dari Air

Komitmen yang dinyatakan (diikrarkan) pertama kali melalui upacara baptisan air, yakni kesediaan menguburkan atau meninggalkan perilaku hidup yang berdosa, dan untuk selanjutnya hidup taat kepada kehendak Tuhan, harus ditindaklanjuti dalam praktek hidup setiap hari hingga mencapai kelahiran baru.

3. Kelahiran Dari Roh

Sangat jelas bahwa peran Roh Kudus dalam menginsafkan, memimpin, dan menolong orang dalam perjuangan melawan dosa adalah kunci sukses untuk mencapai kelahiran kembali (Yohanes 16:8,13: 14:16).

Dari semua uraian di atas, maka kita tidak bisa mengelak bahwa kelahiran kembali itu adalah merupakan suatu proses panjang yang harus diperjuangkan oleh orang yang bersedia meresponi jamahan Roh Kudus ketika seseorang mendengar panggilan Allah. Jadi kesimpulan yang mengatakan bahwa kelahiran kembali adalah suatu pengalaman yang terjadi hanya satu kali oleh tindakan Tuhan semata tanpa memerlukan peran dari pihak manusia, adalah asumsi gegabah yang terjadi oleh karena lemahnya pemahaman atas naskah Alkitab.

Ada banyak naskah-naskah pendukung Alkitab yang memberi ketegasan pada prinsip bahwa kelahiran kembali adalah suatu proses yang harus diperjuangkan dengan gigih sebagai mekanisme yang sudah ditetapkan oleh Allah. Dalam catatan Matius, Yesus berkata bahwa “roh memang penurut, tetapi daging lemah” (Matius 26:41). Paulus juga dengan gamblang telah memaparkan bagaimana hidup kekristenan yang harus menang atas keinginan daging dengan cara tunduk pada keinginan Roh, tertulis dalam Roma 8:1-13 dan Galatia 5:16-25. Bahwa proses pembaruan manusia batiniah itu terjadai hari demi hari (2 Korintus 4:16).

Jadi momentum ketika pertama kali seseorang merasa dan meresponi jamahan Tuhan (Roh Kudus) bukanlah kelahiran kembali. Karena saat itu belum ada pembaruan hidup. Yang ada hanyalah perasaan yang berbeda. Hal ini sebenarnya lebih tepat disebut sebagai momentum awal ‘pertobatan’ atau perubahan orientasi hidup dari duniawi kepada rohani. Di sinilah letak sisi misterius atau adikodrati dari proses kelahiran kembali yang digambarkan seperti angin (Yohanes 3:8).

Jika disejajarkan dengan proses terbentuknya manusia dalam rahim yang bisa dijadikan sebagai ilustrasi, maka sentuhan Roh Kudus yang menginsafkan orang akan dosa untuk menggerakkannya pada niat bertobat, hal itu sama dengan ketika sel sperma dari seorang laki-laki bertemu dengan indung telur dari seorang wanita. Proses pertemuan itu tidak selalu berhasil membentuk kehidupan dalam rahim. Karena sesungguhnya kehidupan itu adalah suatu misteri yang hanya dapat dikerjakan Allah. Selanjutnya embrio yang berkembang menjadi janin akan berjuang terus dalam kandungan untuk layak dilahirkan menjadi anak manusia. Terjadinya kehidupan dalam rahim itu sejajar atau sama dengan kesadaran seseorang akan Tuhan yang mendorong untuk bertobat pertama kalinya, yang hanya dapat dikerjakan oleh Roh Kudus. Proses misterius atau adikodrati inilah yang disebut oleh Paulus sebagai, “menghidupkan kita bersama-sama dengan Kristus” (Efesus 2:4,5; Kolose 2:13). Hal ini bukan kelahiran kembali. Karena untuk selanjutnya seseorang harus meresponinya dengan tindakan nyata hingga mencapai kelahiran kembali. Keadaan misterius ini menimbulkan pertanyaan, “kalau demikian, apakah ciri-ciri dan posisi batas yang bisa dilihat untuk membedakan seseorang yang belum dan sudah lahir kembali?”

Ciri Dan Posisi Batas Kelahiran Kembali

Roh Kudus akan menyentuh hati setiap orang melalui sarana pemberitaan Firman Allah maupun melalui berbagai peristiwa yang menyentuh nurani agar meresponi panggilan Tuhan. Hal ini berlaku bagi semua orang tanpa pandang bulu dan tanpa paksaan. Karena salah satu tatanan hidup yang telah ditetapkan Allah bagi manusia, yakni “kehendak bebas”, menjadi alasan bahwa Roh Kudus tidak mungkin dan tidak akan pernah memaksa siapapun untuk bertobat. Keputusan untuk bertobat dan kesediaan menjalani hidup menuju kelahiran baru adalah hak dan pilihan setiap orang.

Perkataan Paulus yang terkenal dalam 2 Korintus 5:17, yakni, “siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru” sering diartikan secara dangkal seakan orang yang telah menjadi Kristen telah dengan sendirinya dilahirkan kembali”. Padahal arti sesungguhnya dari perkataan ini sudah dapat dilihat hanya dari konteks dekatnya pada ayat 15, yakni orang-orang yang “tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia”. Perkataan ini menunjukan perubahan hidup radikal sebagaimana telah dijalani umat Kristen mula-mula yang bersedia melepaskan milik bahkan nyawanya sekalipun demi mempertahankan imannya. Memang tidak banyak yang bersedia menerima kesimpulan bahwa orang yang sudah menjadi Kristen belum tentu atau tidak dengan sendirinya menjadi orang yang “ada di dalam Kristus”. Kesediaan melepas hak dan kenikmatan duniawi demi cintanya kepada Kristus adalah salah satu indikasi orang yang telah mengalami kelahiran kembali.

Indikasi kuat lainya juga tertera pada naskah Yohanes yang menyatakan bahwa orang yang lahir dari Allah itu: “berbuat kebenaran” (1 Yohanes 2:29), “tidak berbuat dosa lagi” (3:9); “mengasihi” (4:7), “percaya bahwa Yesus adalah Kristus (Mesias)” (5:1), “mengalahkan dunia” (5:4), “tidak berbuat dosa” (5:18), dan ayat-ayat lain yang senafas dengan hal tersebut. Jika diteliti secara saksama, maka kalimat-kalimat tersebut memiliki tingkat yang berada di atas kehidupan dengan kualitas yang baik, atau yang telah berada pada tingkat di atas moral secara umum. Harus bisa diselami secara kritis bahwa kalimat “tidak berbuat dosa lagi” berada di atas kalimat “tidak ingin berbuat dosa lagi”. Posisi orang yang mengalami kelahiran kembali tidak hanya berada pada standar “tidak ingin” tetapi sudah “tidak lagi” berbuat dosa.

Jadi orang yang sudah lahir baru itu sudah pada posisi tidak berbuat dosa lagi. Bukan sekedar berhasrat tidak ini berbuat dosa. Sungguh hal ini seperti gejala angin (Yohanes 3:9) yang tidak bisa dilihat oleh orang pada umumnya selain oleh Tuhan dan pribadi yang mengalaminya. Karena hanya Tuhan dan pribadi orang yang bersangkutanlah yang bisa secara jujur melihat kondisi hatinya yang melakukan kebenaran sebagai upaya yang masih mungkin gagal (sebatas ingin saja), dengan hati yang memang sudah muak atau jijik dengan dosa (tidak lagi berdosa) dan selalu bergairah melakukan kebenaran dengan segala konsekuensinya. Ini ibarat posisi bayi yang lahir dan tidak mungkin kembali ke rahim ibu lagi. Orang yang dilahirkan kembali juga tidak mungkin berbuat dosa lagi. Baginya sudah lebih baik mati dari pada berbuat dosa.

Melalui uraian di atas, meskipun dengan berat hati, sesungguhnya sangat mungkin hanya sedikit dan sangat sedikit orang Kristen yang sudah mengalami kelahiran kembali. Bagian yang terbesar dari Kristen sebenarnya belum dilahiran kembali. Namun melalui tulisan ini, semoga semakin banyak yang berjuang untuk mengalami kelahiran kembali.

Dengan memahami arti sejati dari ajaran “kelahiran kembali” seharusnya kita sadar dan bisa membedakan tingkat kualitas kehidupan yang merupakan rencana kerja Allah yang bersifat progresif dari umat Perjanjian Lama (PL) yang masih berada pada tingkat kerohanian yang dangkal sehingga hanya dituntut hidup taat kepada hukum yang tertulis pada loh batu (Taurat) dan diberi janji-janji berkat lahiraih agar bisa hidup mandiri sebagai satu bangsa (Ulangan 28), dengan umat Perjanjian Baru (PB) yang sudah dituntut berada pada tingkat kerohanian yang dalam sehingga mampu mengikuti hukum yang tertulis dalam batin dan dapat meneladani atau mengikuti jejak hidup Kristus (Yeremia 31:31-33).

Kesadaran ini seharusnya membuat kita maklum terhadap gaya hidup umat PL yang masih berorientasi pada berkat-berkat lahiriah di dunia ini, tetapi sudah harus mengerti bahwa kita umat PB telah dipanggil atau direncanakan untuk berorientasi menggenapi rencana pembentukan Kerajaan Kekal di sorga. Itu sebabnya Tuhan Yesus menuntut agar orang-orang percaya hidup sempurna seperti Bapa (Matius 5:48), hal yang tidak pernah dituntut dari umat PL.

Sarana Kelahiran Kembali

Sarana kelahiran manusia secara fisik adalah rahim seorang wanita. Di sanalah proses terjadinya kehidupan dan pembentukan organ-organ tubuh secara progresif hingga menjadi bayi yang siap dilahirkan. Kelahiran kembali juga memiliki sarana yang selaras dengan gambaran kelahiran manusia secara fisik. Meskipun hal ini tidak dinyatakan secara definitif di dalam Alkitab, namun sangat jelas dalam keterkaitan seluruh ajaran PB. Sarana kelahiran baru itu dapat disimpulkan dalam tiga bentuk:

Sarana yang pertama dan terutama tentu saja adalah Roh Kudus yang memberi kesadaran pertama kepada setiap orang, seperti halnya memberi kehidupan pertama kepada janin dalam rahim seorang wanita. Selanjutnya Roh Kudus juga yang menuntun dan menguatkan orang yang yang mengalami kesadaran dan kerelaan dalam kebenaran (Firman Allah) hingga dalam keadaan siap dilahirkan (Yohanes 16:8,13; 14:16).

Sarana yang kedua adalah Kebenaran (Firman Allah) yang berfungsi untuk membentuk pola pikir baru. Karena tanpa pembenahan pola pikir maka tidak akan mungkin terjadi pembaruan hidup atau kelahiran baru.

Sarana yang ketiga adalah “segala sesuatu” (Roma 8:28,29) yang merupakan proses kehidupan di dunia ini. Karena tidak ada pembentukan hidup tanpa proses.

Sama seperti orang dalam kandungan yang bisa saja mengalami gangguan hingga tingkat keguguran sehingga tidak bisa dilahirkan, maka tidak heran jika banyak orang Kristen, meskipun sudah mengalami kesadaran akan pentingnya hidup dalam kebenaran (bertobat pertama kali) dan melakukan aktivitas kekristenannya secara rutin, tetapi tidak pernah kunjung sampai pada kelahiran kembali, bahkan sangat mungkin tidak sampai masuk ke dalam kehidupan kekal (mengalami keguguran pada masa kandungan). Hal ini tergantung pada pilihan dan usaha setiap orang percaya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *