Mujizat

Alat Pemikat Dan Pertolongan Dalam Situasi Darurat

Adalah wajar kalau mujizat diminati banyak orang terlebih orang-orang percaya dari golongan agamis mistis. Tidak bisa dipungkiri bahwa selain karena tekanan beratnya berbagai masalah hidup yang mendorong munculnya pengharapan solusi mudah dan cepat, juga karena fenomenanya yang bersifat menghibur, telah membuat banyak orang cendrung tertarik pada tawaran terjadinya mujizat. Karena pada prinsipnya tidak ada orang yang tidak suka dengan hiburan. Oleh karena itu jangankan mujizat yang adalah fakta aktual yang dampaknya dapat dinikmati dalam kehidupan nyata, praktek sulap yang sudah dipahami sebagai intrik tipuan saja tetap menarik perhatian orang untuk ditonton.

Laporan mengenai peristiwa terjadinya mujizat sangat sarat dalam Alkitab. Makanya aneh jika orang percaya atau Kristen tidak percaya pada mujizat. Mujizat itu ada dan masih ada, karena tidak ada yang bisa membatasi waktu Allah untuk melakukan mujizat. Tetapi yang menjadi masalah untuk orang Kristen bukanlah soal kepercayaan adanya mujizat, melainkan soal memahami maksud dan manfaat mujizat diadakan. Karena ketidakpahaman tentang seluk-beluk mujizat secara tepat, terbukti telah merusak nilai-nilai hidup kekristenan atau orang percaya di sepanjang masa dan akan berbahaya bagi kesejatian gereja di akhir zaman. Inilah yang menjadi tujuan tulisan ini diadakan, yakni memberi pemahaman yang benar kepada pembaca tentang mujizat, dan dengan demikian dapat memiliki sikap yang proporsional terhadapnya.

Perlu disadari bahwa Allah memang telah menciptakan alam semesta dengan kuasa ajaib atau dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh kekuatan apapun (Kejadian 1:1-27). Kita harus akui bahwa proses ini adalah suatu mujizat bagi kita. Akan tetapi kita juga harus tahu bahwa untuk selanjutnya sebenarnya Allah telah merencanakan atau mendisain sedemikian rupa agar semua ciptaan itu dapat berlangsung secara teratur dengan sistem atau tatanan yang bersifat alamiah atau normal. Jadi alam semesta ini tidak direncanakan untuk selanjutnya berlangsung dengan pengendalian ajaib dari Tuhan atau tindakan-tindakan yang bersifat supranatural. Alam semesta telah ditata untuk tidak lagi membutuhkan mujizat karena telah diciptakan “sungguh amat baik (sempurna). Hal ini dapat kita simak dari Kejadian 1:28-31, yang kemudian diteguhkan kembali pada Kejadian 8:22.

Alasan mujizat kembali diadakan oleh Allah sudah merupakan salah satu bentuk campur tangan Allah ketika dosa yang merusak telah memasuki dunia, yang olehnya hubungan antara Allah dengan manusia semakin mengalami degradasi hingga ke titik tidak sanggup mengenal Allah secara benar. Dalam hal inilah mujizat berperan sebagai salah satu alat pernyataan-Nya atau sebagai bukti keberadaan Diri-Nya dan bukti kesediaan-Nya menolong untuk membuktikan kasih-Nya secara langsung kepada manusia. Dengan bantuan mujizat maka diharapkan manusia itu disadarkan kembali tentang keberadaan Penciptanya. Dari sini sebenarnya kita sudah mulai menyadari bahwa mujizat sesungguhnya tidak direncanakan untuk menjadi lifestyle atau Gaya Hidup manusia secara berkelanjutan, melainkan hanya menjadi salah satu cara Allah berinteraksi pada situasi tertentu saja. Jadi sungguhlah merupakan suatu kebodohan apabila meyakini dan mengharapkan mujizat terjadi setiap hari atas kehidupan seseorang. Persoalan ini akan semakin jelas pada uraian selanjutnya.

Kesalahan para pengajar Kristen dewasa ini khususnya para pengkhotbah kharismatis yang tidak mendalami Alkitab secara memadai adalah, keadaan terjebak karena lebih terpesona pada fenomena persitiwa mujizat-mujizat yang diceritakan dalam Alkitab itu ketimbang menyimak arti dan tujuannya yang tersamar dalam kisah-kisah tersebut. Dengan kedangkalan berpikir yang demikian tentu saja mereka akan selalu tergoda menekankan peristiwa-peristiwa spektakuler tersebut sebagai seseuatu yang yang masih bahkan harus dialami oleh siapapun yang percaya saat ini. Meskipun sebenarnya hampir semua mujizat yang dilaporkan dalam Alkitab tidak pernah terulang secara persis sama, baik sepanjang sejarah Alkitab maupun hingga saat ini, tetapi kebodohan karena terbius oleh kekaguman atas fenomena ini telah merusak daya kritis yang sehat, sehingga keyakinan yang membabi-buta ini semakin marak dewasa ini. Bahkan banyak jemaat awam yang telah rela tenggelam dalam pengharapan janji mujizat yang tidak pernah kunjung terjadi hingga akhir hidupnya.

Kekaguman pada fenomena mujizat, secara tidak sadar telah menggiring orang pada kesimpulan bahwa kualitas iman diukur dari terjadinya suatu mujizat. Memang benar bahwa iman dapat menggerakan Allah untuk melakukan mujizat seperti yang terjadi pada seorang hamba perwira Romawi (Matius 8:5-13); orang buta yang dicelikan matanya (Matius 9:27-30) dan lain-lain. Oleh karena itu kita juga bisa meminta dan berharap agar mujizat terjadi dalam hidup kita. Tetapi iman seperti itu adalah kualitas iman pada tingkat yang paling rendah. Jangan dibalik! Iman pada kualitas yang tertinggi adalah kesediaan untuk tetap taat dan setia kepada Tuhan meskipun tanpa terjadinya mujizat atau pertolongan seperti yang ditegaskan oleh Sadarkh, Mesakh, dan Abednego (Daniel 3:16-18), serta tokoh-tokoh yang dilaporkan pada Ibrani 11 khususnya ayat 8-19. Ketaatan adalah esensi utama dari iman, bukan bukti-bukti lahiriah yang menyertai mujizat.

Fakta yang telah dan akan semakin merugikan kesejatian gereja Tuhan seperti yang telah diutarakan di atas, harus mendorong kita untuk memahami perkara mujizat ini secara benar. Keharusan memahami hal ini bukanlah perkara yang bisa dianggap remeh, mengingat bahwa mujizat telah secara tegas diperingatkan oleh Tuhan Yesus sebagai alat yang paling berbahaya dalam penyesatan gereja Tuhan di akhir zaman. Tuhan Yesus berkata:

Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga (Matius 24:24).

Ayat ini memberi petunjuk yang jelas bahwa aksi yang menggiurkan dari nabi-nabi palsu di akhir zaman adalah tanda-tanda dahsyat dan mujizat-mujizat. Ada banyak pertanyaan yang bisa muncul dari ayat ini. Di antaranya adalah, apakah nabi palsu bisa melakukan mujizat, dan apakah mujizat yang dilakukan nabi palsu itu benar-benar mujizat atau palsu?

Pernahkah Anda berpikir mengapa Tuhan tidak mengekang atau menghambat aksi para ahli sihir Mesir untuk melakukan sebagian mujizat yang sama dengan yang dilakukan oleh Musa (Keluaran 7:10-8:1-19)? Selain karena Allah memang ingin mengeraskan hati Firaun, tetapi lewat fakta ini kita tidak bisa pungkiri bahwa Allah memang telah memberi kuasa kepada Iblis untuk dapat melakukan mujizat. Yesus pun tidak membantah ketika Iblis mengakui pemberian kuasa itu kepadanya (Lukas 4:5-8). Jadi kita tidak perlu heran kalau para dukun bisa menyembuhkan berbagai jenis penyakit dengan kekuatan mistis. Kita juga tidak perlu heran mendengar kisah orang-orang yang menjadi kaya raya dan memperoleh jabatan penting berkat pengabdian pada kekuatan-kekuatan magis.

Oleh karena itu salah besar kalau orang Kristen beranggapan bahwa mujizat hanya menjadi milik orang benar saja. Justru pada tingkat tertentu, Allah lebih sering akan menjauhkan mujizat dari orang-orang yang dikasihi-Nya dalam rangka mendidik agar bisa hidup dalam kebenaran. Sebab pada kenyataannya kemudahan hidup oleh kekayaan material dan keadaan bebas masalah, tidak bisa membentuk mental dan karakter yang baik dalam diri seseorang. Terbukti bahwa berbagai mujizat spektakuler yang telah dialami oleh bangsa Israel sejak keluar dari Mesir hingga pada zaman Raja-Raja tidak membuat bangsa itu terbebas dari kebiasaan menyembah berhala. Justru pembuangan ke Babel lah sarana yang dipakai oleh Tuhan untuk mendidik bangsa itu secara total sehingga tidak lagi terikat dengan penyembahan berhala dan menghasilkan masyarakat yang fanatik pada Taurat di kemudian hari. Mujizat pelipatgandaan roti dan ikan yang dilakukan Yesus juga tidak membuat ribuan orang yang menikmatinya menjadi pengikut setia-Nya (Yohanes 6).

Perlu diketahui bahwa naskah asli Alkitab (baik Ibrani maupun Yunani) membedakan apa yang disebut sebagai Iblis atau Setan dengan roh-roh jahat yang ikut memberontak kepada Tuhan. Sayangnya istilah-istilah itu diterjemahkan secara tidak konsisten ke dalam Alkitab bahasa Indonesia. Menarik jika memperhatikan salah satu penjelasan arti “roh-roh jahat” yang terdapat seperti pada Lukas 8:28,29; Yakobus 2:19; Matius 7:22 yang disebut ‘daimonia’ itu adalah, “a spirit, a being inferior to Gad, superior to men”. Artinya “suatu roh, suatu yang lemah di hadapan Allah, tetapi lebih kuat dari manusia”. Jika roh-roh jahat yang lebih rendah dari Iblis saja sudah lebih kuat dari manusia, apalagi Iblis yang menjadi penghulunya itu. Tidak heran jika Iblislah yang berani datang dan menawarkan pemberiannya kepada Yesus (Matius 4). Mikhael salah satu pemimpin malaikat di sorga pun terbukti tidak mudah mengalahkannya (Yudas 9; Wahyu 12:7-11). Jadi bisa dipastikan bahwa perkara mujizat adalah hal kecil bagi Iblis.

Pertanyaan selanjutnya yang jauh lebih penting harus kita temukan jawabannya adalah, mungkinkah mujizat Tuhan dapat dilakukan atau dialami oleh orang yang hidupnya tidak berkenan kepada Tuhan? Karena banyak orang Kristen telah diberi pemahaman yang salah bahwa mujizat akan terjadi atas seseorang kalau hidupnya benar atau berkenan kepada Tuhan. Prinsip ini kedengarannya logis dan indah bagi mereka yang tidak memahami arti mujizat secara tepat. Jawaban untuk misteri ini sebenarnya sudah disiapkan jauh sebelumnya, tetapi jarang menjadi bahan khotbah para pendeta karena tidak menyenangkan hati dan telinga pendengar maupun pengkhotbah itu sendiri. Yesus berkata:

Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan! (Matius 7:21-23).

Ayat di atas secara jelas menyatakan adanya pemanggil (penyembah) Tuhan dan yang dapat melakukan mujizat dengan nama Tuhan, tetapi akan ditolak karena terbukti sebagai pelaku kejahatan atau tidak berkenan kepada Tuhan. Karena kalau terhadap Iblis yang telah menjadi musuh kebenaran secara abadi saja Allah tidak menarik kuasa yang telah diberikan kepadanya, apalagi kepada manusia yang meyakini dan menyembah-Nya sebagai Tuhan. Pernyataan-pernyataan seperti ini memang menjadi aneh dan misterius jika arti mujizat tidak dipahami secara benar.

Salah satu kelemahan umat Kristen modern adalah ketika membayangkan bahwa nabi-nabi palsu atau para pengajar sesat akan berpenampilan buruk dan muncul dari luar gereja. Harus dipahami bahwa nabi palsu bukanlah antikristus yang secara nyata melakukan konfrontasi melawan kekristenan. Nabi palsu akan senantiasa berada dengan posisi dan perilaku yang baik di dalam gereja. Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka justru adalah pribadi-pribadi yang berpenampilan menawan hingga ke tingkat mengagumkan karena memiliki karunia, temasuk karuania untuk melakukan mujizat, namun untuk tujuan atau maksud yang tidak berkenan kepada Tuhan.

Mengurai secara saksama ayat-ayat di atas akan menghasilkan pemikiran yang menyedihkan. Karena orang yang berseru kepada Tuhan, bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mujizat demi nama Tuhan, telah memberi kesan menunjukkan satu kegiatan positif dan prestasi yang berpihak kepada Tuhan, namun ternyata tidak berkenan kepada-Nya. Itu sebabnya kita harus bisa dengan jeli memilah antara ‘mujizat’ sebagai salah satu karunia (pemberian) Tuhan, dengan perkenanan Tuhan atas seseorang sebagai dua hal yang berbeda. Dalam hal ini perkenanan Tuhan atas diri seseorang tidak bisa diukur dari pemilikan karunia mujizat, melainkan dari ketaatannya melakukan kehendak Allah dalam masa hidup.

Dalam kitab Bilangan 20:2-13 terdapat satu catatan praktek mujizat yang dilakukan oleh Musa namun tidak berkenan kepada Tuhan. Sulit memahami cerita tersebut, namun sangat jelas dikatakan bahwa Musa dan Harun tidak menghormati Tuhan dengan praktek mujizat mengeluarkan air dari bukit batu itu. Oleh karenanya Musa dan Harun harus menerima ganjaran sebagai konsekuensi dari kesalahan itu, yakni tidak akan memasuki tanah Kanaan. Musa dan Harun dinyatakan bersalah dan tidak berkenan kepada Tuhan saat itu, namun mujizat tetap terjadi melalui tangan Musa. Melalui peristiwa ini kita mejadi paham secara jelas bahwa Tuhan bisa mengizinkan banyak orang melakukan mujizat dengan nama-Nya tanpa perkenanan-Nya, dan yang akhirnya akan ditolak untuk masuk sorga. Kita tahu bahwa Musa yang melakukan mujizat tanpa perkenanan Tuhan akhirnya bertobat meskipun harus tetap mengalami konsekuensi dari kesalahan tersebut, namun betapa menyedihkannya bahwa banyak pendeta saat ini mempromosikan atau memanipulasi mujizat secara terus-menerus dalam pelayanannya untuk tujuan yang tidak tulus tanpa pernah bertobat.

Peringatan Yesus di atas seharusnya menjadi tolok ukur bagi siapapun agar memiliki sikap yang proporsional pada fenomena mujizat yang sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur berkenannya Tuhan atas satu pelyanan atau pada diri seseorang. Apalagi hanya mujizat dalam bentuk janji-janji yang tidak jelas pembuktiannya tahun demi tahun dan mujizat-mujizat dengan efek plasebo (sugesti) yang marak dipraktekan dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani dewasa ini. Dampak sugesti (efek pasebo) sangat mungkin terjadi dalam pelayanan di gereja yang sebenarnya sama dengan praktek kesembuhan yang dilakukan oleh para motivator atau ahli kejiwaan pada umumnya. Tetapi hal ini tentu saja tidak terdeteksi oleh masyarakat pada umumnya.

Justru kadang-kadang praktek plasebo lebih jujur jika dibandingkan dengan pelayanan gereja yang diselenggarakan dalam Kebaktian-Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR). Misalnya, penyakit yang memang masih bisa sembuh secara alami didoakan, lalu dipublikasikan melalui berbagai bentuk media sebagai kesembuhan karena mujizat. Sementara jumlah terbesar yang berpenyakit parah tak tersembuhkan tidak pernah dilaporkan. Dalam suasana KKR yang tersugesti dengan motivasi kata-kata pembicara, bisa seketika melepas tongkat dan berdiri dari kursi roda, namun kembali ke tongkat dan kursi rodanya ketika pulang dari KKR. Tetapi yang tertangkap oleh kamera dan keluar sebagai informasi di media sosial bukanlah yang kembali ke tongkat dan ke kursi rodanya. Penjelasan ini hanya sebagian dari fakta pengalaman penulis sendiri dalam keterlibatan sebagai panitia-panitia KKR yang pernah ada.

Kesimpangsiuran penggunaan dan potensi dampak negatif dari propaganda mujizat ini mengharuskan kita untuk melakukan pendekatan kritis, setidaknya pendekatan dalam bentuk analisa etimologis istilah ‘mujizat’ itu, dan analisa kontekstual terhadap setiap naskah laporan tentang peristiwa mujizat itu dalam Alkitab. Secara teori umum, mujizat biasanya dikaitkan dengan keadaan mustahil yang tidak bisa dilakukan manusia atau segala peristiwa-peristiwa yang terjadi di luar tatanan alamiah. Sehebat apapun suatu peristiwa, sejauh sebab-sebabnya masih dapat diteliti secara ilmiah atau hukum-hukum alami, sewajarnya tidak disebut sebagai mujizat. Jadi harus ada pemilahan yang jelas dan tegas antara mujizat dengan yang bukan mujizat, sehingga tidak semua yang bersifat mengagumkan disebut mujizat.

Ada beberapa kata yang diterjemahkan sebgaai mujizat dalam Alkitab bahasa Indonesia. Dari PL (Ibrani) ada dua kata, yakni: oth yang berarti ‘tanda’ dan mopeth yang berarti ‘keajaiban’. Dari PB (Yunani) ada tiga kata, yakni: dunamis yang berarti “perbuatan dahsyat”, semeion yang berarti ‘tanda’ atau petunjuk arah, dan teras yang berarti ‘keajaiban’. Jika diperhatikan secara seksama maka kita bisa memilah dua sifat arti-arti tersebut yang berhubungan erat satu dengan yang lainnya: Arti-arti ‘keajaiban’ dan “perbuatan dahsyat” itu lebih bersifat fenomena atau dampaknya secara fisik, sedangkan arti ‘tanda’ atau sebagai petunjuk arah lebih bersifat fungsi atau tujuannya. Dari telah terminologi ini saja kita sudah bisa melirik maksud atau tujuan mujizat diadakan dari perspektif Alkitab, yakni sebagai ‘tanda’ atau petunjuk. Tetapi definisi maksud dan tujuan mujizat ini akan semakin terlihat secara memadai setelah kita melakukan telaah konteks peristiwa terjadinya setiap mujizat itu dalam Alkitab. Hal inilah yang akan kita bahas untuk selanjutnya.

Ada satu pertanyaan yang tidak mungkin bisa tuntas kita jawab terkait sikap Yesus terhadap mujizat yang dilakukan-Nya: Mengapa sebagian mujizat-Nya dibiarkan untuk diketahui orang banyak tetapi sebagian lagi dilarang untuk diberitahukan kepada orang lain? Di antara yang dilarang adalah: Saat Dia dimuliakan di atas gunung (Matius 17:19), saat menyembuhkan penderita kusta (Lukas 5:14), dan saat membangkitkan orang mati (Lukas 8:56). Sementara pada satu kesempatan kepada orang khusus, yakni Yohanes pembaptis, Yesus menyuruh untuk mlaporkan semua mujizat yang dilakukan-Nya (Matius 11:1-6). Jawaban atas pertanyaan ini juga sekaligus akan menjawab mengapa hampir tidak ada mujizat yang dilakukan oleh Allah di sepanjang Alkitab terulang dengan cara yang persis sama?

Memang untuk menggali kebenaran yang tertuang dalam Alkitab secara hakiki, termasuk kebenaran tentang mujizat, kita harus bersedia melihatnya dari konteks menyeluruh suatu naskah. Dari semua spekulasi yang pernah diajukan terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, maka jawaban yang paling bisa dipertanggungjawabkan adalah alasan yang menyertai setiap mujizat itu dilakukan. Hal itu kadang-kadang tidak dijelaskan secara eksplisit dalam naskah Alkitab, namun sebenarnya sangat mudah melihatnya melalui pendekatan konteks bagi orang yang bersedia melakukan penggalian kritis. Bahwa semua mujizat memiliki alasan yang pasti bertalian dengan kehendak dan rencana Allah, bukan keinginan manusia semata. Jadi cara yang paling tepat untuk menjawab pertanyaan di atas adalah melalui penggalian alasan atau tujuan mujizat itu di lakukan. Karena tidak ada satupun mujizat yang dilakukan oleh Allah tanpa tujuan yang tidak jelas. Apabila kita bersedia meneliti Alkitab secara saksama, maka kita akan temukan bahwa peruntukan mujizat itu sebenarnya bermuara kepada dua kepentingan utama:

Kepentingan pertama adalah sebagai solusi atas masalah yang ada atau pertolongan pada kondisi darurat atas keadaan atau situasi tertentu yang sedang dialami umat Tuhan. Tetapi harus selalu diingat bahwa masalah yang dimaksud di sini tentu saja tidak semua masalah yang ada atau yang sedang terjadi. Penentuan masalah yang diselesaikan oleh Allah dengan cara mujizat ini tidak berada dalam kontrol pengetahuan dan kehendak umat, melainkan pada kontrol dan rencana Allah. Jadi kita tidak selalu mengetahui alasan mengapa Allah melakukan mujizat-Nya pada saat hal itu terjadi, dan juga tidak selalu bisa dipahami mengapa satu masalah tidak diselesaikan Allah dengan mujizat meskipun sudah dengan doa yang benar. Mujizat untuk kepentingan solusi masalah ini dominan mewarnai Alkitab Perjanjian Lama (PL).

Kepentingan yang kedua adalah sebagai tanda untuk membangkitkan rasa percaya pada eksistensi Allah yang sudah jauh dari jangkauan pikiran dan keyakian manusia akibat dosa. Kasih-Nya yang tidak berkesudahan selalu mendorong Allah untuk menyetuh pikiran dan perasaan manusia akan keberadaan-Nya. Dalam kepentingan melegitimasi pelayanan Yesus sebagai Kristus dan para rasul, yang di dalamnya termasuk sebagai petunjuk dimulainya era Kerajaan Allah di muka bumi jugalah maka zaman PB bertabur dengan mujizat (Matius 12;28; Lukas 11:20). Karena tanpa mujizat maka akan sulit bagi bangsa Israel menerima Yesus sebagai Kristus (sosok yang akan datang) yang dijanjikan oleh Allah (Matius 11:1-6). Itu sebabnya mujizat untuk kepentingan ini umumnya mewarnai Alkitab PB.

Melalui penjelasan di atas, maka sebenarnya kita sudah dapat mengukur batasan peruntukan dan efektivitas mujizat yang diadakan oleh Allah itu sebagai yang bersifat insidental atau tidak permanen dan tidak untuk berkelanjutan. Dalam PL misalnya mujizat manna dan tiang api yang menyertai bangsa Israel di padang gurun, pada akhirnya berhenti juga ketika mereka sampai di tanah Kanaan. Ternyata selanjutnya mereka harus berjuang dengan kekuatan yang ada pada mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dari hasil bumi tanah Kanaan (Yosua 5:11,12). Mereka juga harus berjuang dengan keahlian berperang untuk mempertahankan eksistensi mereka sebagai satu bangsa yang berdaulat di tanah Kanaan.

Kita juga harus jujur mengakui bahwa semua orang yang disembuhkan dan dibangkitkan oleh Yesus pada masa pelayanan-Nya, pada akhirnya dan pada waktunya berakhir juga dengan kematian. Dan kita tahu umumnya orang mati selalu disebabkan oleh rentannya tubuh kita terhadap berbagai bentuk penyakit. Jadi Yesus juga melakukan mujizat dalam prinsip yang memiliki batasan. Dengan demikian maka mujizat Yesuspun tidaklah dimaksudkan untuk menjadi konsumsi orang percaya selama masa hidup, melainkan hanya merupakan pertolongan sementara saja yang di dalamnya termasuk sebagai tanda penyataan kuasa Allah agar orang menjadi percaya pada tugas penyelamatan-Nya. Selanjutnya, ketika tujuan pengadaan mujizat tercapai, maka orang percaya harus memaksimalkan potensi dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidiup dan merawat kesehatannya, sama seperti manusia pada umumnya. Jadi yang menjadi tujuan kepercayaan kepada Yesus Kristus bukanlah untuk memperoleh suplai mujizat secara terus-menerus, melainkan supaya kehidupan ini dikembalikan sepenuhnya untuk menjalani kehendak Allah, dan sebagai persiapan agar layak memasuki Kerajaan kekal-Nya kelak.

Sekarang kita bisa semakin memaklumi mengapa intensitas terjadinya mujizat itu semakin surut hari demi hari. Hal itu bukan karena ketiakpercayaan atau dosa-dosa umat yang sering didengungkan oleh orang-orang yang memiliki pemahaman Alkitab yang dangkal, melainkan karena progresivitas kerja Allah yang memang semakin meningkat menuju penyempurnaan gereja. Injil hampir tersebar ke seluruh dunia dan menjadi kesaksian bangsa-bangsa (Matius 24:14), terlebih dengan meningkatnya kualitas internet sebagai fasilitas sarana media sosial untuk pemberitaan Injil. Maka sekarang yang menjadi tugas berat gereja di akhir zaman tidak lagi terutama pada misi penginjilan, yang dengan demikian tentu saja selaras dengan berkurangnya kebutuhan akan mujizat sebagai penopang penginjilan. Yang menjadi tugas berat gereja saat ini adalah menuntun pemercaya atau orang-orang Kristen untuk menjadi semakin serupa dengan Kristus. Bukan semakin memanjakannya dengan mujizat untuk pemenuhan kebutuhan jasmani.

Akhirnya kita juga bisa menjawab mengapa pada umumnya mujizat tidak terulang kembali dengan cara yang persis sama dan mengapa Yesus tidak mempublikasikan semua mujizat-Nya adalah, karena setiap mujizat itu pasti terhubung dengan rencana dan kehendak Allah yang bersifat progresif dan tidak selalu bisa kita pahami saat hal itu terjadi. Pembaca Alkitab masa kini akhirnya bisa memahami semua alasan terjadinya mujizat yang dilakuan pada zaman Alkitab sebagaimana telah diungkap dalam tulisan ini. Seharusnya melalui penjelasan ini sikap kita terhadap mujizat tidak lagi bersifat memaksa dan fanatik berlebihan. Kita tidak boleh lagi lebih digairahkan oleh mujizat dari pada gairah persekutuan kita yang tanpa syarat kepada Allah. Sama seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang tetap mempertahankan imannya andaikan tanpa pertolongan (mujizat) dari Allah (Daniel 3).

Sebenarnya sikap yang benar terhadap mujizat dapat kita pelajari dari dialog antara Iblis dengan Yesus. Dua dari tiga tawaran Iblis kepada Yesus adalah pengadaan mujizat spektakuler: Yang pertama mengubah batu menjadi roti, dan yang kedua adalah ditangkap oleh malikat jika menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah (Matius 4). Yesus dengan tegas menolak pengadaan mujizat demi kepentingan diri-Nya sendiri. Tidak sedikit dari pendeta dewasa ini tergila-gila dengan menawarkan mujizat dalam pelayanannya hanya demi popularitas nama dan dalam upaya menarik para pengikut menjadi anggota gerejanya, meskipun pada umumnya mujizat yang ditawarkan itu terbukti hanya sebatas janji atau fiktif belaka.

Justru di sinilah letak perbedaan para nabi palsu dengan Yesus. Ketika para nabi palsu mengejar dan mengumbar mujizat dalam pelayanan demi kejayaan mereka, maka Yesus mengadakan mujizat demi menaati perintah Bapa di sorga. Karena pada prinsipnya semua yang dikerjakan oleh Yesus, dalam hal ini termasuk mujizat yang dilakukan-Nya telah melalui konfirmasi dari Allah Bapa terlebih dahulu (Yohanes 5:19). Itu sebabnya tidak ada satu mujizatpun yang gagal dan merupakan rekayasa pada pelayanan Yesus. Jika kita amati, Musapun pada hakikatnya selalu melakukan mujizat atas perintah Tuhan. Dengan prinsip yang sama, sebagai umat yang taat, maka seharusnya kita tidak perlu bersikeras menuntut agar Allah melakukan mujizat atas hidup kita. Karena Allah tahu persis apa yang dibutuhkan oleh umat yang dikasihi-Nya. Jika memang mujizat dibutuhkan, maka Allah akan melakukannya tanpa diminta. Umat yang dewasa akan lebih puas melakukan kehendak Bapa surgawinya, ketimbang memperjuangkan kehendak pribadinya.

Kebenaran paparan perihal mujizat di atas akan semakin jelas apabila kita bisa dengan hati terbuka dan jujur mengakui pengalaman setiap kita, bahwa memang tidak banyak mujizat yang terjadi dalam hidup ini (kecuali yang bersifat rekayasa), bahkan terlebih dalam hidup orang percaya. Terbukti bahwa Tuhan sesungguhnya lebih membiarkan kehidupan ini berlangsung secara alami. Penulis sadar bahwa banyak orang percaya, khususnya kaum kharismatis, tidak senang pada kebenaran yang diungkap dalam tulisan ini karena tidak memberi harapan yang muluk-muluk. Akan tetapi ini adalah kebenaran dan fakta. Silahkan memilih untuk tetap tinggal dalam pengharapan janji-janji tanpa dasar yang benar, atau memutuskan untuk mengubah pola pikir dengan kebenaran yang membangun fundasi iman kita di atas batu karang yang teguh dan tak tergoyahkan oleh badai persoalan hidup sebesar apapun. Sebab dengan pengharapan yang salah, selain tidak menjamin kepastian mujizat akan terjadi, juga akan menempatkan posisi Anda pada korban pembodohan nabi palsu. Sedangkan dengan cara hidup yang berkenan kepada Tuhan, tanpa berharappun mujizat bisa terjadi jika Tuhan menghendakinya seperti yang terjadi atas Sadrak, Mesakh, dan Abednego. Tetapi tanpa mujizatpun, pemeliharaan Allah tidak berkurang atas hidup Anda. Dan dengan cara hidup berkenan karena taat pada kehendak-Nya, keselamatan kekal akan menjadi milik Anda.

Kesimpulan:

  • Mujizat masih ada, tapi arti dan tujuannya harus dipahami secara benar agar tidak terjebak dalam sikap dan pengharapan yang salah serta penyalahgunaannya.
  • Mujizat bukan hanya milik orang benar, tetapi juga dapat dilakukan oleh Iblis dan orang yang membutuhkannya. Mujizat juga bukan ukuran perkenanan Tuhan atas pelayanan dan pribadi seseorang, karena mujizat tetap bisa terjadi pada orang percaya meskipun Tuhan tidak berkenan.
  • Mujizat tidak direncanakan atau diadakan untuk menjadi Gaya Hidup (lifestyle) manusia, termasuk orang-orang percaya. Mujizat diadakan hanya untuk penyelesaian masalah pada saat tertentu (insidental) dan sebagai petunjuk atau tanda pernyataan esksitensi Allah agar dipercaya, tetapi selanjutnya harus mengacu pada tatanan kehidupan normal. Allah lebih senang apabila orang percaya tetap beriman meskipun tanpa kehadiran mujizat.
  • Mujizat bukan tolok ukur kualitas iman, melainkan ketaatan dan kesetiaan kepada Tuhan tanpa syarat.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *