Nabi Palsu

Strategi Kreatif Iblis Merongrong Tujuan Utama Gereja

Dari pengertian asali atau menurut pemahaman umumnya agama samawi, nabi adalah pribadi khusus yang dipakai oleh Tuhan sebagai sarana penerima wahyu atau amanat untuk disampaikan kepada umat. Meskipun demikian beberapa nabi dikenal juga telah berfungsi sekaligus menjadi pemimpin dan menjadi hakim atas suatu umat. Hal ini dapat terlihat dalam Alkitab, khusnya pada awal pembentukan bangsa Israel.

Pada kekristenan perdana jelas masih terlihat fungsi nabi sebagai pengungkap suatu misteri atau memprediksi hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari. Seorang bernama Agabus dilaporkan dalam Kisah Para Rasul 11:28 yang berbicara tentang akan adanya bahaya kelaparan, dan pada Kisah 21:10 tentang hal yang akan dialami rasul Paulus. Surat Paulus kepada jemaat di Korintus pun memeberi indikasi bahwa fungsi nabi bekerja sebagai salah satu dari karunia-karunia Roh Kudus. Namun pada akhirnya, bahkan pada masa sebelum Perjanjian Baru (PB) seluruhnya selesai ditulispun, nampaknya peran nabi dalam kekristenan secara berangsur telah menghilang. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri, namun memerlukan penjabaran agar tidak salah dipahami.

Beberapa aliran gereja, umumnya aliran arus utama telah menganggap karunia-karunia Roh Kudus, khusunya dalam hal kenabian telah berakhir seiring terkanonnya Alkitab PB secara lengkap. Keyakinan ini didukung oleh salah satu teori kanonisasi yang menyatakan bahwa Alkitab itu cukup. Kecukupan Alkitab telah dianggap sebagai tanda berakhirnya kebutuhan fungsi nabi dalam gereja. Kelengkapan Alkitab telah dianggap cukup sebagai sumber untuk membangun iman dan hubungan kepada Tuhan. Jadi peringatan Yesus dan para rasul terkait akan munculnya nabi-nabi palsu di akhir zaman tidak lagi diartikan sebagai petunjuk legalitas fungsi kenabian yang harus tetap ada, melainkan sudah dipahami sebagai akan munculnya gerakan kepalsuan atau kesalahan pengajaran.

Akan tetapi fenomena kenabian kembali marak di geraja modern sejak munculnya gerakan kharismatis. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan kharismatis adalah merupakan kelanjutan dari gerakan pentakostal awal yang lahir dari reaksi terhadap semakin melemahnya kehausan pada hubungan konkrit dengan Tuhan pada gereja-gereja arus utama. Namun bagaikan bandul yang mengayun terlalu jauh, secara tidak disadari kegerakan tersebut telah memunculkan berbagai nilai yang sebenarnya tidak selalu sama dengan semangat pentakosta yang awal. Kita akan melihat secara jujur dalam tulisan ini nanti, apakah fenomena kenabian yang ada saat ini membawa manfaat positif bagi geraja, atau malah sebaliknya.

Pernyataan Yesus Kristus tentang nabi palsu seharusnya menjadi sesuatu yang mencengangkan dan sekaligus menimbulkan rasa cemas dan waspada bagi pendengar atau pembaca-Nya. Hal ini bisa disadari kalau topik tentang nabi palsu ini dapat dipahami dengan benar. Sebenarnya Yesus sudah dengan tegas berkata bahwa nabi palsu itu akan banyak dan akan berhasil dalam kiprahnya. Oleh karena itu juga menjadi jelas bahwa korban penyesatannya pun akan banyak pula. Bukti pernyataan ini tertera dalam kitab-kitab Injil. Yesus berkata:

Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang (Matius 24:11).

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah yang mengadakannya” (Lukas 17:1).

Dalam naskah Matius 18:7 justru ditegaskan bahwa memeng “penyesatan harus ada”. Lebih jauh dikatakan bahwa penyesatan ini akan menjadi petaka bagi dunia. Namun sangat disayangkan bahwa banyak gereja dewasa ini, khususnya yang berbasis kharismatis, justru lebih fokus pada penantian aksi antikristus dari pada usaha mengantisipasi gerakan penipuan para nabi palsu dalam gereja. Bukankah dengan beralihnya fokus perhatian ini, maka bisa dikatakan bahwa Iblis sebenarnya sudah sukses suatu langkah dalam melakukan penyesatan gereja?

Itu sebabnya jika kita mengamati secara saksama, baik Yesus maupun para rasul sesungguhnya tidak melakukan peringatan yang begitu getol terhadap akan adanya aksi antikristus, akan tetapi sangat serius dan berulang kali memperingatkan para pendengar dan pembaca-Nya agar waspada terhadap upaya-upaya penyesatan Iblis melalui gerakan nabi-nabi palsu. Bentuk gerakan penyesatan nabi-nabi palsu ini diungkap secara gamblang oleh Yesus dalam kitab Matius:

Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga (Matius 24:24).

Ayat ini memberi petunjuk yang jelas bahwa aksi yang menggiurkan dari nabi-nabi palsu itu sehingga memungkinkan menjangkau orang-orang pilihan juga untuk disesatkan adalah tanda-tanda dahsyat dan mujizat-mujizat. Kita menjadi heran dan bertanya, seperti apa sesungguhnya bentuk mujizat-mujizat yang ditampilkan oleh para penyesat ini sehingga dapat menyesatkan banyak orang?

Harus dipahami bahwa arti tanda-tanda dahsyat dan mujizat tidak selalu dalam wujud menyembuhkan orang sakit atau membangkitkan orang mati seperti yang telah dilakukan oleh Yesus selama pelayanan-Nya di muka bumi ini. Prestasi luar biasa yang mengagumkan sehingga dapat memikat orang untuk menjadi pengikut atau loyalis pun dapat dikategorikan sebagai perbuatan ajaib atau mujizat.

Apabila ada kegiatan untuk melakukan promosi mujizat, maka hasil yang ditampilkan oleh gerakan kepalsuan inipun sebenarnya palsu juga. Tetapi hal ini tentu saja tidak terdeteksi oleh masyarakat pada umumnya. Misalnya, penyakit yang memang masih bisa sembuh secara alami didoakan, lalu dipublikasikan melalui berbagai bentuk media sebagai kesembuhan karena mujizat. Sementara jumlah terbesar yang berpenyakit parah tak tersembuhkan tidak pernah dilaporkan. Dalam suasana Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR), yang tersugesti dengan motivasi kata-kata pembicara, bisa seketika melepas tongkat dan berdiri dari kursi roda, namun kembali ke tongkat dan kursi rodanya ketika pulang dari KKR. Namun yang tertangkap oleh kamera dan keluar sebagai informasi di sosial media bukanlah yang kembali ke tongkat dan ke kursi rodanya. Penjelasan ini hanya sebagian dari fakta pengalaman penulis sendiri dalam keterlibatan sebagai panitia-panitia KKR yang pernah ada.

Tentu saja mujizat adalah suatu realita yang diungkap dalam Alkitab, baik yang bersumber dari Allah, maupun yang bersumber dari setan seperti yang diperagakan oleh ahli sihir Firaun ketika berusaha menahan orang Israel agar tidak keluar dari Mesir. Oleh karena itu tidak ada alasan untuk tidak mempercayai adanya mujizat. Juga tidak ada dasar untuk membatasi akhir waktu peyelenggaraan mujizat dari Allah. Karena Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab itu memang adalah Allah yang melakukan berbagai mujizat. Tetapi masalahnya tidaklah terletak pada keyakinan akan adanya mujizat, melainkan pada tujuan atau alasan untuk apa sesungguhnya mujizat harus diadakan?

Pemercaya Tuhan dewasa ini banyak yang tanpa sadar telah digiring pada pemahaman yang sempit tentang mujizat. Mereka tidak memahami bahwa tujuan menjadi orang percaya dan tujuan bergereja bukanlah untuk melihat atau memperoleh mujizat, melainkan untuk memperoleh keselamatan yang menjadi sarana persiapan untuk memperoleh hidup kekal. Ketidakpahaman dan ketidaksetujuan pada konsep ini adalah akar dari rentannya orang terjebak dalam dinamika penyesatan oleh berbagai fenomena spektakuler.

Sebenarnya sikap yang benar terhadap mujizat dapat terlihat pada dialog antara Iblis dengan Yesus. Dua dari tiga tawaran Iblis kepada Yesus adalah pengadaan mujizat spektakuler: Yang pertama mengubah batu menjadi roti, dan yang kedua adalah ditangkap oleh malikat jika menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah (Matius 4). Yesus dengan tegas menolak pengadaan mujizat demi kepentingan diri-Nya sendiri. Tidak sedikit dari pendeta dewasa ini tergila-gila dengan menawarkan mujizat dalam pelayanannya hanya demi popularitas nama dan dalam upaya menarik para pengikut menjadi anggota gerejanya, meskipun pada umumnya mujizat yang ditawarkan itu terbukti hanya sebatas janji atau fiktif belaka.

Justru di sinilah letak perbedaan para nabi palsu dengan Yesus. Ketika para nabi palsu mengejar dan mengumbar mujizat dalam pelayanan demi kejayaan mereka, maka Yesus mengadakan mujizat demi menaati perintah Bapa di sorga. Karena pada prinsipnya semua yang dikerjakan oleh Yesus, dalam hal ini termasuk mujizat yang dilakukan-Nya telah melalui konfirmasi dari Allah Bapa (Yohanes 5:19). Itu sebabnya tidak ada satu mujizatpun yang gagal dan merupakan rekayasa pada pelayanan Yesus. Jika kita amati, Musapun pada hakikatnya selalu melakukan mujizat atas perintah Tuhan.

Apabila kita bersedia meneliti Alkitab secara saksama, maka kita akan temukan bahwa peruntukan mujizat itu sebenarnya bermuara kepada dua kepentingan utama: Kepentingan pertama adalah sebagai pertolongan pada kondisi darurat atas keadaan atau situasi tertentu yang sedang dialami umat Tuhan. Mujizat untuk kepentingan ini dominan mewarnai Alkitab Perjanjian Lama (PL). Kemudian kepentingan yang kedua adalah sebagai tanda untuk membangkitkan rasa percaya pada legitimasi pelayanan Yesus sebagai Kristus, yang di dalamnya termasuk sebagai petunjuk dimulainya era Kerajaan Allah di muka bumi. Mujizat untuk kepentingan ini umumnya mewarnai Alkitab PB.

Melalui penjelasan di atas, maka sebenarnya kita dapat mengidentifikasi batasan peruntukan dan efektivitas mujizat yang diadakan oleh Allah itu sebagai yang bersifat insidental (tidak permanen dan tidak untuk berkelanjutan). Dalam PL misalnya mujizat manna dan tiang api yang menyertai bangsa Israel di padang gurun, pada akhirnya berhenti juga ketika mereka sampai di tanah Kanaan. Ternyata selanjutnya mereka harus berjuang dengan kekuatan yang ada pada mereka untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka dari hasil bumi tanah Kanaan (Yosua 5:11,12). Mereka juga harus berjuang dengan keahlian berperang untuk mempertahankan eksistensi mereka sebagai satu bangsa yang berdaulat di tanah Kanaan.

Kita juga harus jujur mengakui bahwa semua orang yang disembuhkan dan dibangkitkan oleh Yesus pada masa pelayanan-Nya, pada akhirnya dan pada waktunya berakhir juga dengan kematian. Dan kita tahu umumnya orang mati selalu disebabkan oleh rentannya tubuh kita terhadap berbagai bentuk penyakit. Jadi Yesus juga melakukan mujizat dalam prinsip yang memiliki batasan. Dengan demikian maka mujizat Yesuspun tidaklah dimaksudkan untuk menjadi konsumsi orang percaya selama masa hidup, melainkan hanya merupakan pertolongan sementara saja yang di dalamnya termasuk sebagai tanda penyataan kuasa Allah agar orang menjadi percaya pada tugas penyelamatan-Nya. Selanjutnya, ketika tujuan pengadaan mujizat tercapai, maka orang percaya harus memaksimalkan potensi dirinya untuk memenuhi kebutuhan hidiup dan dan merawat kesehatannya, sama seperti manusia pada umumnya. Jadi yang menjadi tujuan kepercayaan kepada Yesus Kristus bukanlah untuk memperoleh suplai mujizat secara terus-menerus, melainkan supaya kehidupan ini dikembalikan sepenuhnya untuk menjalani kehendak Allah, dan sebagai persiapan agar layak memasuki Kerajaan kekal-Nya.

Memang akan selalu ada dilema yang akan menjadi momok dalam memahami peruntukan mujizat. Hal ini terjadi karena kodrat manusia yang memang bisa mengagumi hal-hal ajaib. Jangankan mujizat, menyaksikan aksi sulap yang sebenarnya hanya merupakan intrik permainan belaka, banyak orang rela membayar dan selalu terpukau. Terlebih lagi dengan mujizat yang sesungguhnya. Jadi dapat diterima akal apabila mujizat akan menjadi salah satu menu utama Iblis dalam upaya menyesatkan orang percaya di dalam gereja, dan oleh karena itu menjadi satu ciri oknum penyesat yang harus disiasati oleh orang percaya di sepanjang zaman.

Akhirnya bisa disimpulkan bahwa salah satu ciri sehatnya program suatu gereja dan motivasi para pengajarnya adalah, jika orientasinya tidak menitikberatkan terjadinya mujizat, tetapi justru akan melatih umat agar tidak tergantung kepada mujizat. Karena selain bahwa mujizat pada hakikatnya bersifat insidental, juga telah terbukti bahwa dengan promosi mujizat dan janji-janji Tuhan yang tidak proporsianal telah menggser teologia salib yang telah diajarkan oleh Tuhan Yesus dan para rasul, kini digantikan dengan teologia bernafaskan kemakmuran yang secara tidak langsung namun pasti akan mengganggu tercapainya kesempurnaan umat pilihan (Matius 5:48).

Anehnya, meskipun sering telah terbukti akan kepalsusan mujizatnya, para nabi palsu ini tetap saja bisa dikagumi dan senantiasa digandrungi. Sebenarnya hal ini bukan sesuatu yang aneh bagi mereka yang memahami psikologi massa. Itu sebabnya, secara ilmiah pun sebenarnya dapat dijelaskan perihal sukses para nabi palsu ini. Yesus telah mengatakannya pada Lukas 17:1. Kepastian sukses inilah yang mendorong Yesus lebih menekankan peringatan akan aksi nabi palsu ketimbang aksi antikristus di akhir zaman. Agar bisa melihat dan menimbang bobot fokus perhatian Tuhan Yesus ini, maka sebaiknya kita meninjau gambaran besar naskah Matius pasal 24 secara menyeluruh.

Bobot Fokus Perhatian Tuhan Yesus

Matius 24 boleh dikatakan adalah paparan paling lengkap perihal akhir zaman yang diuraikan secara sekaligus dan langsung dalam satu pasal. Karena dari uraian ini kita dapat melihat secara langsung setidaknya empat hal yang bisa dijadikan petunjuk yang terhubung erat satu dengan yang lainnya, yakni tentang keruntuhan Bait Allah kedua, tanda-tanda kedatangan Tuhan Yesus, cara kedatangan-Nya, dan saran untuk orang percaya agar dapat mengambil sikap yang tepat dalam menghadapi peristiwa-peristiwa tersebut. Namun yang paling menarik dan yang tidak boleh terabaikan dari dalam paparan tersebut adalah perihal peringatan akan aksi penyesatan yang dilakukan oleh nabi palsu.

Baik dari Alkitab secara menyeluruh maupun dari pasal ini, sebenarnya kita dapat mengidentifikasi adanya dua sifat kekuatan pergerakan yang diarahkan Ibllis untuk menghancurkan gereja Tuhan: Kekuatan pertama bersifat antipati dan menyerang secara frontal. Pergerakan ini diberi nama oleh rasul Yohanes dengan istilah ‘antikristus’ (1 Yohanes 2:18,22; 4:3; 2 Yohanes 1:7). Sedangakan kekuatan yang kedua adalah bersifat merongrong dari dalam gereja melalui pemalsuan pengajaran yang dikenal sebagai ‘nabi palsu’.

Jika kita mengamati secara cermat pasal 24 ini, maka kita akan temukan bahwa sesungguhnya Yesus lebih menekankan bobot fokus perhatian-Nya kepada aksi nabi palsu ketimbang aksi antikristus. Dalam pasal ini memang terdapat nubuat akan terjadinya aksi anti semitis (Yahudi) pada ayat 15-22 yang sudah digenapi pada peristiwa serbuan pasukan jenderal Titus terhadap pemberontakan Yahudi, dan yang berdampak pada kehancuran Bait Allah pada tahun 70. Jadi sebenaranya aksi ini tidak sepenuhnya bisa dikatakan sebagai aksi antikristus, karena fokus dari perang ini adalah untuk meredam pembangkangan orang-orang Yahudi terhadap kekasiaran Roma. Meskipun demikan tentu saja sedikit-banyak ada dampaknya pada kekristenan yang sedang berkembang waktu itu.

Jadi ucapan yang menyatakan aksi anti kekristenan atau antikristus kita temukan hanya sebanyak dua kali pemaparan pada Matius 24 ini, yakni ayat 9 dan 29. Sedangkan aksi penyesatan nabi palsu ditekankan sebanyak tiga kali, yakni pada ayat 4 dan 5, ayat 11, dan ayat 23-25. Namun yang jauh lebih penting pada temuan fokus ini adalah bobot penekanan Yesus pada kedua aksi tersebut. Dalam hal ini Yesus hanya memberi kabar akan adanya aksi siksaan antikristus sebagai berita saja, tetapi Dia memberi penegasan agar “waspada” terhadap aksi penyesatan nabi palsu itu (ayat 4) dan mengakhirinya dengan perkataan “camkanlah” (ayat 25).

Sebenarnya bobot fokus perhatian Yesus dan para rasul terhadap aksi penyesatan nabi palsu tidak hanya terdapat dalam pasal ini, tetapi juga dapat disimak di sepanjang Alkitab PB. Oleh karena itu sangat disayangkan apabila gereja-gereja dewasa ini, khususnya gereja-gereja kharismatis, ternyata lebih memberi fokus perhatian dan ajarannya pada sosok yang disebut sebagai antikristus ketimbang membuat agenda kerja agar mewaspadai aksi-aksi dan ajaran-ajaran nabi palsu. Tetapi memang demikianlah yang harus terjadi sebagaimana telah diperingatkan oleh Yesus sendiri, bahwa penyesatan itu memang harus terjadi dan akan berhasil (Matius 24:11; Lukas 17:1).

Temuan alasan pentingnya fokus perhatian Yesus pada aksi nabi palsu tidak hanya merupakan hasil tafsir pada naskah-naskah Alkitab, melainkan juga dari dampak nyata dalam fakta sejarah. Karena telah terbukti bahwa kekristenan telah bertumbuh pesat dalam kemurnian iman walau dalam serangan yang hebat dari pihak-pihak musuh kekristenan atau antikristus. Hal ini terhitung sejak kenaikan Tuhan Yesus hingga pemerintahan kaisar Konstantinus Agung. Berarti sejarah siksaan ini telah memakan waktu selama 327 tahun atau hampir tiga setengah abad masa aniaya hebat terhadap kekristenan. Fakta ini justru telah membuktikan bahwa aniaya ternyata tidak bisa memusnahkan kekristenan, melainkan semakin memurnikannya. Akan tetapi kualitas kekristenan di Eropa akhirnya berlaku surut, dan kini semakin banyak yang beralih ke ateis sejak kebebasan Kristen dari aniaya di sana.

Jadi alasan bobot fokus Tuhan Yesus lebih besar terhadap akasi nabi palsu ketimbang aksi antikristus sangat jelas. Hal itu merupakan hasil dari ketajaman visi sehingga dapat melihat perubahan strategi yang akan dilakukan oleh Iblis di kemudian hari. Dan tentang sukses perubahan strategi ini telah diakui oleh Yesus sendiri, yang karenanya Ia memberi tekanan peringatan agar ‘waspada’ dan agar ‘mencamkan’ peringatan tersebut.

Perubahan Strategi

Kekalahan Iblis oleh kematian Yesus di Golgata digambarkan melalui satu ilustrasi pada Wahyu 12:7-12. Kekalahan ini telah memicu kemarahanya untuk menghancurkan secara frontal gereja Tuhan seperti yang selanjutnya digambarkan pada ayat 13-17. Kemarahan itu dilampiaskan dengan membangkitkan banyak antikristus seperti telah dinubuatkan oleh Yohanes pada dua surat serialnya (1 dan 2 Yohanes), termasuk sosok pribadi antikristus penyandang nama dengan jumlah bilangan “enam ratus enam puluh enam” (Wahu 13:11-18), yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya. Namun pada kenyataannya, di tengah gelimang derita yang ditebar melalui aksi-aksi berdarah yang digencarkan oleh para antikristus ini, ternyata gereja Tuhan semakin bertumbuh pesat dengan iman yang murni selama lebih dari tiga abad pertama.

Seakan sadar akan cara yang kurang ampuh dengan konsep aniaya, maka Iblis mengubah strateginya dengan aksi penyesatan. Hal ini dikerjakan melalui peran para nabi-nabi palsu dalam gereja Tuhan sejak gereja mula-mula, namun yang semakin berkibar saat kasiar Konstantinus Agung (306-337) menyatakan kebebasan beragama di seluruh kekaisaran Romawi, dan selanjutnya oleh kebijakan kaisar Theodosius Agung (379-395) yang menjadikan kekristenan sebagai agama negara dan mewajibkan semua warga negara kekasiaran untuk memeluk agama Kristen.

Jika kita bersedia melihat lebih dekat, maka sebenarya pola penyesatan Iblis itu tidak pernah berubah sejak purba kala. Yang berubah adalah strateginya. Penyesatan pertama terjadi di taman Eden. Iblis hanya menyeret manusia pertama itu agar jatuh ke dalam dosa, yakni bergeser sedikit demi sedikit dari tujuan hidupnya. Tujuan hidup manusia itu dapat digali dan ditemukan dari Kejadian 1:26-28, yakni menjadi representasi gambar (tselem) dan rupa (demuth) Allah, supaya dengan keserupaan itu manusia dapat menjadi pemegang mandat Allah di muka bumi ini. Namun di tengah proses pertumbuhan pencapaian keserupaan (demuth) itu, manusia jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini yang dilakukan oleh Iblis sebenarnya adalah agar manusia itu lari dari rencana utama Allah atau tujuan mereka diciptakan. Itu sebabnya makna terminologi ‘dosa’ yang paling esensial adalah keadaan meleset dari sasaran.

Dalam kamus bahasa Ibrani, arti kata chata yang diterjemahkan sebagai ‘dosa’ dalam bahasa Indonesia adalah: selain, to sin (berdosa), juga miss (meleset), miss the way (salah jalan), go wrong (salah langkah), miss the goal or path of right and duty (meleset dari sasaran yang benar dan dari tanggung jawab), miss the mark (kehilangan jejak), cause to sin (menyebabkan berdosa), wonder from the way (menyimpang dari jalan), incur guilt (mengadakan kejahatan), forfeit (kehilangan), dan lain-lain.

Dalam bahasa Yunani kata ‘dosa’ adalah hamartia, dari kata hamartano yang juga memiliki arti-arti yang selaras dengan kata Ibrani, yakni: to be without a share in (tanpa bagian), to miss the mark (kehilangan jejak), to err (keliru), to miss or wander from the path of uprightness and honour (menyimpang dari jejak ketulusan dan kehormatan), to wander from the law of God (menyimpang dari hukum Allah), dan lain-lain.

Jadi dalam trik penyesatan, Iblis tidak perlu berkata kepada Hawa bahwa Allah itu jahat. Sekarang juga Iblis tidak berkata demikian kepada orang-orang Kristen. Iblis cukup hanya menyerongkan sedikit informasi tentang dampak dari makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu kepada Hawa. Tujuannya hanya untuk menanamkan rasa curiaga pada ketulusan Allah. Dalam pola yang sama, namun dengan peningkatan kualitas strategi, saat ini justru Iblis telah mendorong para antek-anteknya untuk meneriakkan bahwa Allah itu baik, tetapi dengan cara yang tidak proporsional. Para penyesat itu akan didorong untuk berkata “lihat Alkitab”, namun di luar kesadaran umat, sebenarnya mereka hanya dicekoki separoh saja dari kebenaran yang ada di dalam Alkitab untuk diketahui.

Banyak orang Kristen yang keliru membayangkan bahwa nabi pasu itu sebagai sosok yang berpenampilan tidak menyenangkan dan datang dari luar gereja. Terus terang, sosok seperti itu tidak akan berhasil melakukan penyesatan. Kadang-kadang kita juga terjebak menilai perbedaan doktrin antar golongan dalam gereja sebagai gejala kepalsuan. Padahal perbedaan doktrin bisa hanya merupakan akibat dari tingkat kemampuan dalam memahami naskah Alkitab. Mungkin juga ada pribadi-pribadi yang secara sengaja menyelewengkan arti-arti naskah Alkitab untuk kepentingan pribadi yang bisa kita kategorikan sebagai penyesatan, namun penyesatan seperti ini masih tergolong pada tingkat tidak berbahaya, karena masih mudah terdeteksi. Nabi palsu yang berbahaya adalah justru pribadi yang bisa diterima dengan baik kehadirannya di dalam gereja, bahkan bisa menjadi pemimpin gereja yang baik secara lahiriah, juga fasih dalam menggunakan naskah-naskah Alkitab secara menarik, namun bukan dalam pengertian yang murni. Fokus pengadaan tulisan ini adalah untuk membuktikan teori ini.

Jadi gerakan dari nabi-nabi palsu adalah hanya menekankan sebagian dari kebenaran yang ada dalam Alkitab, dan menyembunyikan sebagian yang paling esensi. Karena memang kepalsuan itu adalah sebagian dari yang asli. Kesesatan itu juga adalah sebagaian dari kebenaran. Justru disitulah sukses penyesatan yang berhasil memukau banyak orang. Celakanya, banyak orang secara sadar lebih memilih barang palsu dengan alasan, jauh lebih murah tetapi dapat berdaya guna seperti yang asli. Orang percaya juga ada yang secara sadar mengikuti ajaran sesat karena mudah mengikutnya lalu berharap Tuhan maklum. Dengan alasan bahwa Tuhan penuh anugerah dan tidak mungkin menuntut kita melakukan sesuatu di luar kemampuan kita.

Namun demikian harus tetap diingat bahwa adanya aksi nabi palsu tidak berarti bahwa aksi antikristus sudah berakhir. Kebencian terhadap kekristenan akan selalu ada di sepanjang zaman, namun hal itu akan berlangsung secara sporadis saja di beberapa belahan dunia. Tetapi fokus utama dan upaya terbesar yang akan dilakukan Iblis untuk selanjutnya adalah strategi menghancurkan gereja Tuhan secara masif melalui pola penyesatan umat Tuhan dari dalam gereja itu sendiri. Sekarang kita akan melihat bagaimana peralihan strategi Iblis ini berlangsung secara cerdas.

Peralihan Cerdas

Pernyataan yang menjadi peringatan paling jelas perihal peralihan strategi Iblis dari perlawanan frontal antikristus ke program penyesatan nabi-nabi palsu tertuang dalam kitab Wahyu 13. Tulisan Yohanes yang mengungkap dua sosok binatang yang muncul sebagai personifikasi antikristus dan nabi palsu ini diprediksi telah digenapi pada abad pertama.

Binatang yang pertama muncul dari laut (ayat 1b-10), bercirikan kesombongan, menghujat Allah dan memerangi orang-orang kudus. Dengan ciri perlawanan frontal seperti ini maka kita bisa mengidentifikasi bahwa sosok ini adalah anti terhadap Kristus (antikristus). Melalui penggalian arti bilangan ‘666’ yang disebut pada ayat terakhir pasal ini, para peneliti sejarah Alkitab umumnya mengacu kepada kaisar Nero sebagai yang dimaksud dalam tulisan ini.

Meskipun kitab Wahyu ditulis dalam bahasa Yunani, namun ungkapan bilangan nama tersebut sebenarnya merupakan sandi rahasia antara rasul Yohanes dengan para pembacanya yang memahami bahasa Ibrani, yakni orang Kristen Yahudi mula-mula. Pada ayat 17,18 Yohanes menyuruh pembacanya agar menghitung jumlah nama seorang manusia untuk menunjuk personifikasi binatang yang dia sebut dalam pasal tersebut. Para peneliti sejarah Alkitab akhirnya dapat menyingkap sandi ini dengan penjelasan sebagai berikut.

Apabila aksara KAISAR NERO ditulis dalam bahasa Ibrani, maka susunannya adalah NERON QESAR. Karena bahasa Ibrani kuno tidak memliki huruf hidup atau vokal, maka yang dihitung adalah huruf mati atau konsonannya saja. Dalam hal ini adalah: N=50, R=200, V=6, N=50, Q=100. S=60, R=200, maka jumlah total dari aksara itu adalah “enam ratus enam puluh enam” (666). Jadi orang Kriten mula-mula langsung paham bahwa yang dimaksud Yohanes ketika menyuruh menghitung bilangan nama seorang manusia, maka yang dimaksud adalah kaisar Nero yang memerintah pada tahun 54-68. Nero adalah figur antikristus yang bertanggung jawab atas pembantaian berdarah dan biadab terhadap orang-orang Kristen pada saat kitab Wahyu ini ditulis.

Binatang yang pertama ini dikatakan memperoleh kesembuhan luka di kepalanya dan memperoleh kuasa dari naga yang adalah Iblis. Demikianlah sesungguhnya bahwa Iblislah yang merupakan dalang dari antikristus untuk mengadakan aniaya besar terhadap kekristenan mula-mula itu.

Binatang yang kedua muncul dari bumi (ayat 11-15) yang bercirikan seperti anak domba, namun bertanduk dua dan berbicara seperti singa. Dalam Alkitab domba selalu menggambarkan Yesus atau umat Allah. Tetapi domba yang dilihat Yohanes ini bertanduk dan berbicara seperti singa. Tanduk berbicara tentang perlawanan atau serangan. Auman singa berarti wibawa atau pengaruh. Hal ini sesungguhnya menujukkan kepalsuan domba tersebut atau kualitas diri dan peran pribadi yang digambarkannya dalam melakukan pemalsuan sebagai bentuk serangan terhadap gereja. Sosok ini akan hadir dalam penampilan kekristenan, tetapi sesungguhnya bertujuan menyerang nilai-nilai kekristenan yang sejati, dan hal ini akan dilakukan dari dalam gereja. Gambaran ini selaras dengan yang dinubuatkan oleh Yesus pada Matius 7:15:

Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas.

Kemudian pada pasal 24:5 Ia berkata:

Sebab banyak orang akan datang memakai nama-Ku dan berkata: Akulah Mesias, dan mereka akan menyesatkan banyak orang.

Kisah pemakaian nama (dalam hal ini gelar) sebagai mesias sudah marak sejak paska pembuangan orang Israel ke Babel. Tekanan kekasiaran Yunani hingga Romawi telah memicu pengharapan kehadiran seorang tokoh pembebas Israel dalam berbagai versi sebagai penafsiran nubuat PL tentang sosok yang diurapi Allah. Jadi peringatan Yesus ini tentu saja pertama-tama kepada orang Yahudi yang kemudian menjadi Kristen perdana. Tokoh-tokoh yang mengaku dan dianggap sebagai mesias terindikasi dalam Kisah 5:26-39. Orang seperti Teudas ini tentu saja telah banyak bermunculan di sepanjang sejarah Israel. Oleh karena itu Yesus memperingatkan agar orang-orang percaya tidak lagi tergiur dengan penampilan mesias seperti itu.

Akan tetapi sejak kekristenan benar-benar terpisah dari Yudaisme, cara penyesatan dengan pemakaian nama Tuhan dan mengaku sebagai Mesias tidak lagi efektif. Tidak mungkin ada seorang Kristen yang akan percaya apabila ada figur yang mengaku sebagai Tuhan dan sebagai Mesias. Karena bagi orang Kristen sudah final bahwa Yesus adalah Mesias dan Tuhan yang sesungguhnya. Jadi kita harus berusaha mengerti apa sesungguhnya yang dimaksud dengan pemakaian nama Tuhan dan mengaku sebagai Mesias pada ucapan Yesus di atas.

Jika pemakaian nama secara langsung sangat tidak dimungkinkan, maka pemakaian atribut-atribut yang mengatasnamakan Yesus Kristus justru akan sangat efektif. Dua atribut yang paling populer dewasa ini adalah “pengakuan mendengar Tuhan berbicara” dan penggunaan “naskah Alkitab” yang langsung dikutip sebagai sesuatu yang tergenapi dalam diri pribadi orang tertentu. Bagi para kaum mistis yang dangkal pemahaman Alkitabnya, maka pengakuan seperti itu umumnya dipercaya dengan mudah. Sedangkan bagi kaum intelektual namun tanpa kedalaman teologia, akan terpedaya dengan pemakaian ayat-ayat Alkitab yang dimanipulasi. Tentu saja dengan catatan bahwa tidak semua pengakuan pengalaman ajaib dipastikan sebagai tindakan palsu.

Jadi kita sudah harus paham bahwa para nabi palsu saat ini tidak lagi akan mengakui diri secara langsung sebagai mesias atau nabi palsu. Sebab kalau demikian maka penyesatan tidak akan berhasil. Justru kesalahan yang terdapat pada umat Kristen yang berpikiran sempit karena tidak mendalami Firman Allah (Alkitab) secara memadai adalah, ketika dalam pikiran umat terbangun suatu bayangan bahwa nabi palsu itu akan terlihat berpenampilan buruk dan menakutkan. Banyak orang berpikir bahwa penyesat itu tampil dengan sosok yang tidak baik; berbicara dan berperilaku kasar; memiliki cacat hukum dan kehidupannya hancur. Jika sosoknya tampil secara demikian, lalu bagaimana mereka mungkin berhasil menyesatkan? Karena sudah pasti orang-orang tidak akan tertarik dengan sosok yang demikian. Justru pada opini yang salah inilah letak potensi suksesnya penyesatan itu.

Penampilan para nabi palsu itu justru akan terlihat sebaliknya, lebih menarik dan mengagumkan jika dibandingkan dengan penampilan atau gaya hidup hamba-hamba Tuhan yang benar. Bahkan akan sangat mungkin bahwa banyak dari pemeran nabi palsu itu melakukannya tanpa disadari, atau mungkin pada awalnya tidak disadari karena faktor pemahaman Alkitab yang tidak memadai, namun yang pada akhirnya memilih untuk tetap menjadi nabi palsu karena faktor-faktor yang menguntungkan secara materi. Ada banyak para praktisi gereja, yang walaupun dikemudian hari telah memahami kebenaran sejati, namun yang akhirnya memilih menyerah dan tetap berada di jalur ajaran yang salah hanya karena kebutuhan ekonomi, kemudahan-kemudahan dan popularitas diri.

Jadi oknum-oknum penyesat yang akan dan sebenarnya sudah marak saat ini justru akan tampil sebagai pilar-pilar populer gereja. Mereka adalah orang-orang yang sukses secara mengagumkan. Perbuatannya akan terlihat saleh dan ucapannya penuh janji menarik yang merupakan kebutuhan orang banyak. Akan tetapi penjelasan ini jangan disalahartikan bahwa orang yang berpenampilan buruk dan kasar sudah pasti bernar, dan tokoh-tokoh yang sukses dan baik dalam pelayanan gereja sudah pasti penyesat. Tidak demikian! Penjelasan ini hanya ingin menegaskan bahwa penyesat itu tidak datang dari luar gereja, melainkan justru dari kalangan aktivis gereja yang pernah terpanggil untuk hidup benar dan pernah dipakai untuk hal mulia, namun akhirnya berubah orientasi pelayanannya, dari mengasihi Tuhan ke mencintai dunia ini.

Para nabi palsu ini juga akan semakin berada dan berakar dalam kancah pelayanan gereja dan memakai gereja sebagai sarana untuk memuaskan ambisi-ambisi pribadi mereka tanpa dapat disadari umat pada umumnya. Mereka memiliki reputasi yang baik dan cakap dalam memakai ayat demi ayat yang ada dalam Alkitab, namun lebih bernuansa janji-janji berkat duniawi. Kesediaan berkorban dan memberi uang untuk kepentingan gereja biasanya mereka ajarkan menjadi salah satu ajaran pokok sebagai syarat untuk mendapatkan berkat-berkat Allah. Tanpa disadari umat telah digiring menjadi Kristen yang ber-Tuhan hanya untuk kepentingan pemenuhan kebutuhan jasmani. Tanpa disadari kerinduan mereka bergereja tidak lagi untuk memberi hidup mengabdi bagi kehendak Tuhan dan bagi kekekalan. Karena perihal kekekalan telah diajarkan akan didapatkan secara otomatis tanpa perlu perjuangan.

Memang rasanya tidak etis atau tidak pantas mengkritisi khotbah-khotbah para pendeta jika dilihat dari prospek uapaya penyatuan gereja. Apalagi dengan adanya lembaga-lembaga penyatuan sinode-sinode di hampir semua bangsa di dunia ini. Dalam upaya-upaya penyatuan seperti ini, menyatakan kebenaran sering dianggap bukan lagi sebagai tindakan kritis, namun sudah dianggap sebagai serangan yang akan menyakiti terhadap ajaran atau kelompok gereja tertentu. Tetapi jika sadar akan bahaya penyesatan seperti yang telah diuraikan di atas, maka lebih tidak pantas lagi kalau kita lebih memilih zona nyaman dan damai demi harmonisnya hubungan antar gereja, lalu mengorbankan lebih banyak orang terseret kepada kebinasaan oleh karena penyesatan. Memang tidak bisa dihindari bahwa musuh kebenaran itu akan sangat banyak. Dengan demikian pengikut kebenaran itu akan semakin sedikit menjelang berakhirnya zaman. Kebencian antar sesama bahkan antar keluarga karena faktor kebenaran memang sudah dinubuatkan (Markus 13:3-13).

Oleh karena itu kita harus selalu sadar bahwa urusan upaya penyesatan Iblis adalah urusan terhadap orang-orang Kristen yang justru tertarik pada Alkitab dan Gereja. Karena sudah barang tentu orang-orang yang tidak percaya atau di luar kekristenan tidak perlu disesatkan lagi. Mereka sudah pada posisi tidak percaya. Maka yang perlu disesatkan oleh Iblis tentu saja adalah orang-orang percaya atau yang disebut Kristen. Jadi dalam hal penyesatan, maka sasaran utama Iblis adalah Gereja. Itu sebabnya figur-figur penyesat yang ditampilkan Iblis adalah justru mereka yang berpenampilan baik dan berprestasi di dalam gereja; membangkitkan semangat dalam berbicara; tidak memiliki cacat hukum, dan memiliki reputasi kehidupan yang baik, bahkan sukses dalam hal finansial.

Jadi maksud ungkapan “mesias palsu” pada ucapan Yesus bukanah sebuah pengakuan langsung dari mulut para nabi palsu itu, melainkan merupakan wujud penampilan diri yang memberi kesan pada umat bahwa mereka memiliki hubungan yang khusus dengan Allah sehingga diyakini menjadi perantara Allah yang bisa memberi jalan keluar dari berbagai masalah melalui janji-janji mujizat. Mungkin ada juga yang mengaku sebagai nabi, karena profesi nabi masih dianggap lumrah dan sah bagi seorang manusia. Namun meskipun tidak mengaku, ciri-ciri penyesat ini akan memberi kesan bahwa mereka tahu apa yang akan terjadi kelak dan sering mengaku mendengar suara Tuhan, meskipun sebenarnya hal itu hanya merupakan prediksi alamiah atau sebagai hasil mengelola informasi yang ada sehingga dapat menebak yang mungkin terjadi kelak. Karena para nabi palsu ini tahu betul cara bernubuat di zona nyaman, sehingga akan terhindar dari resiko dituntut jika nubuatnya tidak terbukti kelak.

Dari 2 Tesalonika 2:1,2 kita tahu bahwa pengajar-pengajar palsu telah bermunculan sejak zaman rasul. Paulus juga menyatakan bahwa isu yang dijual oleh para pengajar palsu itu adalah kesegeraan kedatangan Tuhan yang mendesak. Demikianlah salah satu ciri dari nabi palsu adalah menggoreng isu sensasional untuk mengendalikan emosi pendengar atau pengikutnya. Itu sebabnya kegerakan yang paling berbahaya bagi kekristenan di akhir zaman sebenarnya adalah kegerakan nabi-nabi palsu, bukan lagi pribadi yang tampil sebagai antikristus. Bahaya besar bagi kekristenan di akhir zaman adalah terbentuknya umat yang lebih menggandurungi ajaran sesnsasional termasuk mujizat, dari pada terbentuknya suatu umat yang mengingini agar karakternya menjadi serupa dengan gambar Khaliknya (seperti Kristus).

Jadi semua ini sebenarnya adalah masalah pemahaman atau telogia yang diajarkan. Salah satu yang menjadi ciri dari oknum penyesat adalah ketika orientasi pengajarannya selalu bermuara pada pemenuhan kebutuhan duniawi. Tentu saja tidak salah mengajarkan bahwa Tuhan juga memberkati umat-Nya dengan berkat-berkat lahiriah. Tetapi para pengajar dan gereja yang selalu memikat jemaat dengan janji-janji berkat Tuhan sudah seharusnya dicurigai sebagai gereja yang terjebak dalam arus penyesatan. Karena sudah dipastikan bahwa motivasi jemaat untuk datang ke gereja yang demikian bukan lagi dalam rangka ingin bertemu Tuhan dan untuk membina diri agar menjadi serupa dengan gambar-Nya, melainkan hanya untuk berkat-berkat-Nya demi memuaskan keinginan daging. Mereka menjadi pencinta Tuhan yang tidak lagi menyukai kebenaran. Ciri dari gereja yang sudah terjebak dengan penyesatan ini adalah, tanpa sadar merasa mencintai Tuhan, padahal sesungguhnya hanya mencitai berkat-Nya.

Jadi sesungguhnya ada dua golongan manusia yang terseret dalam arus penyesatan: Golongan pertama adalah mereka yang sadar atau sengaja bergerak dalam penyesatan karena keuntungan-keuntungan yang diperoleh. Mereka adalah orang-orang yang memahami Alkitab, bahkan banyak yang menyandang gelar akademis sehinga mampu memanipulasi ayat-ayat Alkitab sedemikian rupa untuk kepentingan penyesatannya. Sedangkan golongan yang kedua adalah mereka yang tanpa sadar ikut terjebak dalam penyesatan karena tergiur dengan janji-janji keuntungan duniawi. Mereka adalah korban pembodohan karena tidak memahami Alkitab secara benar.

Oleh karena itu kita harus cerdas dalam menyimak Wahyu 13 ini. Karena pasal ini telah berbicara tentang peralihan secara semu dari peran antikristus ke peran nabi palsu. Ketika binatang yang kedua (nabi palsu) mengambil alih kuasa binatang yang pertama (pribadi antikristus), tetapi dengan cara kerja yang berbeda. Dalam hal ini Iblis tidak lagi memerangi orang percaya secara frontal, melainkan menyesatkan dengan cara melakukan tanda-tanda heran atau mujizat palsu sebagaimana telah diuraikan di atas.

Wahyu 13 memang telah digenapi pada abad pertama sejarah gereja. Akan tetapi siasat penyesatan nabi palsu akan bergerak terus, bahkan akan semakin marak menjelang kedatangan Tuhan Yesus Kristus. Itu adalah peringatan Yesus Kristus untuk diwaspadai, dan oleh karenanya harus sering dibicarakan, apapun taruhannya, termasuk resiko renggangnya kesatuan oragnisasi antar gereja. Karena memilih untuk menjaga perasaan demi menjaga keharmonisan hubungan, sehingga mengorbankan ketegasan akan bahaya penyesatan adalah pengkhianatan terhadap amanat Kristus.

Aksi puncak antikristus pada tiga setengah abad pertama tahun Masehi, yang di dalamnya termasuk tampilnya seorang antikristus yang kejam, yakni kasiar Nero, telah digenapi. Tentu saja tetap terbuka kemungkinan-kemungkinan tampilnya figur-figur serupa di waktu-waktu yang akan datang, namun tidak lagi dengan identitas “666”. Fokus Iblis selanjutnya adalah meningkatkan kegerakan dan kualitas aksi nabi palsu yang berjaya di dalam gereja. Gerakan kepalsuan ini tampil dengan kombinasi mujizat palsu seperti yang telah dipaparkan sebelumnya, dengan ajaran palsu. Selanjutnya kita akan menyingkap perihal kepalsuan ajaran yang dikemas dalam bentuk Injil.

Injil Lain

Kita bersyukur karena pada akhirnya oleh tuntunan Tangan ajaib Tuhan, Alkitab yang ada di tangan kita saat ini telah tersusun lengkap sebagai satu kanon (patokan) bagi kekristenan. Para bapa gereja telah menyatakan bahwa konon tersebut “cukup”, yang artinya cukup sebagai tolok ukur atau petunjuk mekanisme dalam mengembangkan iman dan hubungan kepada Tuhan. Tugas berat kita saat ini adalah bagaimana memahami maksud Tuhan yang tersusun di dalamnya secara benar, sehingga kita juga ikut mengambil bagian dalam memberitakannya kepada orang lain. Dengan demikian juga berarti menjadi tugas berat kita untuk menjaga integritas Alkitab tersebut dari upaya para nabi palsu untuk melecehkan nilai kecukupan Alkitab itu dengan menambah praktek-praktek mistis yang menggiring orang sehingga tidak merasa penting lagi mendalami Alkitab secara serius. Pengalihan kecintaan umat dari keingintahuan isi Alkitab ke kecintaan kepada figur pribadi yang dikesankan sebagai wakil Allah, harus disikapi sebagai satu bentuk penyesatan para nabi palsu.

Tentu saja tidak tertutup kemungkinan bahwa Allah masih berbicara langsung melalui manusia atau melalui jawatan kenabian. Akan tetapi hal itu tidak boleh keluar dari ketentuan-ketentuan yang ada dalam Alkitab, atau hal itu harus selalu berada di bawah otoritas Alkitab. Pesona kecintaan itu tidak boleh dibalik. Alkitab harus tampil sebagai lembaga yang lebih mempesona umat dari pada kesaksian atau pengalaman pribadi manusia. Apabila prinsip ini dilanggar, baik secara sengaja maupun tidak sengaja, maka fenomena seperti ini seharusnya sudah dapat dijadikan sebagai indikator terjadinya proses penyesatan.

Kepada dua jemaat mula-mula rasul Paulus menulis hal yang memberi indikasi pergerakan nabi-nabi palsu seperti yang ditegaskan pada uraian di atas. Kepada jemaat di Korintus ia berkata:

Tetapi aku takut, kalau-kalau pikiran kamu disesatkan dari kesetiaan kamu yang sejati kepada Kristus … Sebab kamu sabar saja, jika ada seorang datang memberitakan Yesus yang lain dari pada yang telah kami beritakan … atau injil yang lain dari pada yang telah kamu terima (2 Korintus 11:3,4).

Kepada jemaat di Galatia ia juga berkata:

Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti satu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus (Galatia 1:6,7).

Kita mungkin berpikir kalau jemaat yang hidup pada masa para rasul, ketika kitab-kitab PB belum ditulis sepenuhnya, maka wajar saja kalau mereka lebih mudah disesatkan dari pada kita yang telah menerima PB secara lengkap saat ini. Padahal kenyataannya tidak demikian. Karena selalu saja ada dasar bagi Iblis untuk menggerakkan para nabi palsu agar bisa bergerak di setiap zaman. Faktor kesulitan memahami naskah Alkitab yang telah ditulis pada jarak waktu hampir dua ribu tahun silam, tentu saja menimbulkan kesenjangan konteks budaya, sastra, pengetahuan, dan lain-lain, dengan kita pembaca modern saat ini. Hal ini tentu akan menjadi celah bagi Iblis untuk mengacaukan pikiran para pembaca masa kini. Itu sebabnya memahami Alkitab dengan cara metode pendekatan hermenutis sudah merupakan hal yang mutlak dewasa ini. Kemalasan belajar untuk menggali makna sejati isi Alkitab adalah sengat mematikan yang disuntikan oleh Iblis dalam tubuh gereja-gereja yang berselera instan.

Sebenarnya ada banyak kitab-kitab rohani yang juga ikut beredar setelah sepeninggalan para rasul Kristus. Banyak diantaranya tersisih dalam proses kanonisasi melalui mekanisme yang disepakati bersama. Sebenarnya proses penyisihan itu terjadi bukan karena kitab-kitab tersebut tergolong sebagai kitab yang mengajarkan ajaran sesat (kitab-kitab yang akhirnya digolongkan sebagai kitab apokrifa), melainkan karena wibawanya dinilai tidak sejajar dengan kitab-kitab yang tergabung dalam Alkitab saat ini. Jadi maksud injil lain pada ucapan Paulus di atas tidaklah mengacu pada kitab-kitab tersebut, melainkan yang dimaksud adalah pengajaran-pengajaran yang bernafaskan kekristenan dan yang juga mengajarkan tentang Yesus Kristus, namun pada hakikatnya telah lari dari tujuan esensi yang sesungguhnya. Inilah yang dimaksud dengan injil yang lain. Hal ini memang tidak mudah terlihat dari permukaan, makanya Paulus juga melaporkan bahwa jemaat mula-mula itu bisa sampai pada bersikap “sabar saja” terhadap para nabi palsu tersebut, dan banyak yang akhirnya “lekas berbalik dari pada Dia (Yesus sejati) … untuk … mengikuti injil lain”. Ini adalah fakta sejarah yang kita temukan dari Alkitab perihal suksesnya penyesatan dalam tubuh gereja mula-mula.

Strategi penyesatan seperti ini akan terus berlangsung sepanjang zaman dan akan semakin meningkat menjelang hari kedatangan Tuhan. Dan jangan heran apabila gerbong yang menjadi sarana utama Iblis untuk menggerakan kepalsuan itu adalah wadah gereja-gereja dinamis dan bersemangat menacari Tuhan seperti sinode-sinode kharismatis dewasa ini. Faktor kemudahan memakai sarana ini sangat banyak. Dua di antaranaya adalah faktor kemudahan menjadi pendeta di sinode-sinode seperti ini dan pengadaan gereja menjadi satu alternatif unit usaha sumber keuangan yang sangat mudah dengan resiko kecil jika dibandingkan dengan usaha-usaha sekuler lainnya. Hal ini sangat mudah dilirik para kaum profesional dewasa ini.

Tentu saja tidak bermaksud menyimpulkan bahwa semua pendeta berlatarbelakang usahawan pasti memiliki motivasi yang demikian. Karena juga tidak bisa dipastikan bahwa para pendeta berlatarbelakang jenjang pendidikan formal telogia dapat dijamin kemurnian motivasinya. Hal ini sangat tidak mudah terdeteksi di permukaan, karena motivasi-motivasi ini tersimpan sangat jauh di lubuk hati setiap orang. Lalu mengapa Tuhan membiarkan semua ini terjadi?

Sarana Menguji Kemurnian Dan Pemilihan

Pertanyaan yang penting kita jawab terkait sukses Iblis dalam melakukan program penyesatan melalui para nabi palsu adalah, mengapa Allah seakan mengijizinkan para nabi palsu itu menggunakan kuasa ajaib dan mujizat-mujizat sehingga akan memberi resiko lebih banyak yang disesatkan dari pada yang diselamatkan? Bukankah mujizat sesungguhnya adalah merupakan hak Tuhan? Bukankah dengan diluaskannya pemakaian kuasa itu maka pengikut Tuhan sejati dan setia akan kalah dalam hal jumlah pengikut?

Di sinilah letak keagungan Allah yang sulit dipahami oleh manusia pada umumnya. Allah bukan tidak sanggup membinasakan Iblis sejak pertama ia memberontak. Allah juga bukan tidak sanggup memagari Hawa dan Adam dari bujuk rayu Iblis. Allah juga bukan tidak bisa membuang manusia yang sudah ternoda dengan dosa lalu menggantikannya dengan makhluk baru yang lebih baik dari manusia. Kita percaya bahwa tidak ada kuasa yang bisa membatasi Allah untuk melakukan apa saja yang Dia mau, karena memang Ia maha kuasa dan memiliki hak mutlak untuk melakukan apa saja. Akan tetapi dengan keagungan-Nya, Allah telah menetapkan bahwa semua anak-anak-Nya, baik para malaikat, termasuk Iblis, maupun manusia, telah diciptakan dengan kehendak bebas seperti diri-Nya, sehingga dengan demikian diberi hak sepenuhnya untuk memilih, apakah dengan rela tunduk kepada-Nya atau kepada keinginan diri sendiri.

Dengan ketetapan yang demikian berarti Allah memiliki selera paling tinggi dan yang menjadi integritas diri-Nya. Artinya Ia hanya menginginkan anak-anak-Nya yang dengan keputusan sendiri, bahkan dengan pengorbanan, rela dengan setia mengikuti jejak-Nya. Tidak perduli resikonya bahwa akan lebih sedikit yang mengikuti-Nya dengan setia ketimbang yang pergi meninggalkan-Nya untuk mengikuti selera Iblis. Bagi Dia jumlah sedikit yang taat dengan pengorbanan penuh itulah kebanggaan yang menggetarkan hati-Nya. Bukan mereka yang datang pada-Nya hanya karena alasan berkat-berkat materialistis untuk memenuhi keinginan nafsu duniawi, yakni mereka yang pada prakteknya telah memandang dunia ini seakan menajdi tempat abadi.

Oleh karena kehendak bebas, maka Iblis telah memutuskan untuk berdiri sendiri menjadi penguasa alam semesta di luar otoristas Allah, dan Allah membiarkannya (Matius 4:8,9). Ibils juga bekerja mempengaruhi para malaikat dan manusia untuk memberontak kepada Allah, juga dibiarkan-Nya (Wahyu 12:3,4). Apa yang membedakan manusia dengan Iblis sehingga manusia itu memperoleh anugerah diberi kesempatan kedua untuk beroleh selamat adalah, bahwa manusia akhirnya jatuh ke dalam dosa karena pengaruh di luar dirinya, yakni Iblis. Sedangkan Iblis menginginkan terpisah dari Allah sepenuhnya oleh keinginan dirinya.

Kita bersyukur karena nenek moyang kita, Adam dan Hawa itu masih memebri rasa hormatnya kepada Tuhan pencipta semesta dengan cara memberi diri tunduk pada hukuman, sehingga dengan demikian membuka peluang penebusan oleh pencurahan darah Kristus (Kejadian 3). Oleh pengorbanan-Nya maka kepada setiap kita diberi kebebasan untuk memilih, apakah mau menerima resiko beratnya menjalani hidup karena menolak kenikmatan dunia yang ditawarkan oleh Iblis, atau malah ikut tergerus pada gerakan memanipulasi Injil demi peluang memperoleh keuntungan-keuntungan materialistis.

Alkitab dengan sangat jelas membeberkan alasan kuat mengapa banyak orang, bahkan yang sudah percaya akan banyak yang akan ikut tersesat. Pernyataan ini bukan sesuatu yang berlebihan, juga tidak boleh dianggap sebagai pernyataan pesimis yang mengecilkan hati. Karena memang demikianlah faktanya, dan karena hal itu telah secara tegas dinyatakan oleh Yesus Kristus. Lukas mengungkap bagaimana Yesus menjawab pertanyaan tentang jumlah orang yang akan diselamatkan:

Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat (Lukas 13:23, 24).

Matius memberi paparan yang lebih luas:

Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Matius 7:13-14).

Sudah barang tentu Allah maupun kita orang percaya menginginkan agar sebanyak mungkin orang diselamatkan. Tetapi kita harus menerima kenyataan bahwa jumlah orang yang diselamatkan itu memang hanya sedikit dari begitu banyaknya orang yang akan binasa. Kenyataan ini tidak hanya didasarkan pada karena adanya pernyataan di dalam Alkitab seperti yang sudah dikemukakan di atas, melainkan karena kriteria atau standar kualitas untuk mencapai keselamatan itu memang tidak mudah. Hal ini juga dinyatakan di dalam Alkitab.

Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih (Matius 22:14).

Adalah mudah untuk percaya kepada Injil dan menjadi Kristen, apalagi untuk saat ini ketika keselamatan ditawarkan dengan begitu murah oleh para penginjil dengan konsep ‘hypergrace’. Tetapi menjadi Kristen yang hidup menjalani prinsip-prinsip yang diajarkan dan diteladankan oleh Tuhan Yesus, bukanlah sesuatu yang mudah. Dengan kata lain, Alkitab dengan sangat tegas mengatakan bahwa memang orang yang akan diselamatkan dan masuk Kerajaan Allah itu sangat sedikit! Artinya, banyak yang menolak dan dari yang tidak menolak masih akan banyak yang disesatkan!

Demikianlah Iblis dalam upaya penyesatannya akan selalu menawarkan hal-hal yang menguntungkan secara duniawi, sementara bagi pengikut Kristus sejati selalu yang ditawarkan oleh Yesus dan para rasul adalah hal sebaliknya, yakni penderitaan. Hal-hal ini sangat jelas dibentangkan dalam naskah Alkitab berikut ini:

Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga (Matius 5:10).

Dan kamu akan dibenci semua orang oleh karena nama-Ku; tetapi orang yang bertahan sampai pada kesudahannya akan selamat (Matius 10:22).

Tetapi sebelum semuanya itu kamu akan ditangkap dan dianiaya; kamu akan diserahkan ke rumah-rumah ibadat dan penjara-penjara, dan kamu akan dihadapkan kepada raja-raja dan penguasa-penguasa oleh karena nama-Ku (Lukas 21:12).

Semuanya ini Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia (Yohanes 16:33).

Sebab kepda kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia (Filipi 1:29).

Memang setiap orang yang mau hdiup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya, sedang orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan (2 Timotius 3:12,13).

Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristus pun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya (1 Petrus 2:21).

Jadi karena Kristus telah menderita penderitaan badani, kamupun harus juga mempersenjatai dirimu dengan pikiran yang demikian, – karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa (1 Petrus 4:1).

Barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup (1 Yohanes 2:6).

Dengan ayat-ayat dan penjelasan di atas, maka untuk menemukan alasan mengapa sedikit saja orang yang akan setia pada kebenaran dan mengapa banyak orang yang akan bekerja sebagai tenaga penyesat, dan yang dengan demikian juga mengapa banyak orang yang akan tersesat, sebenarnya tidak sulit. Alasannya adalah karena penderitaan yang akan menimpa orang yang setia kepada kebenaran, dan sebaliknya tawaran kesenangan duniawi yang dikemas dengan janji Firman Allah (naskah Alkitab) yang dimanipulasi bagi mereka yang disesatkan. Dengan tawaran menjadi Kristen dalam konsep tanpa penderitaan, maka orang berpikir bisa mendapatkan surga dunia dan juga surga akhirat sekaligus. Padahal hal ini hanya merupakan ilusi yang dibangun para pengajar palsu.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *