Pentakosta

Tinjauan Jujur Atas Sejarah Dan Fenomena

Istilah ‘pentakosta’ sudah sejak abad pertama menjadi sesuatu yang akrab dalam dunia kekristenan, terlebih bagi sinode-sinode bernafas pentakostal dan kharismatis saat ini. Bahkan banyak orang Kristen tanpa sadar telah terkondisi menganggap arti dari istilah tersebut sebagai “pencurahan Roh Kudus” atas orang-orang percaya, baik saat pertama kali hal itu terjadi di Yerusalem (Kisah 2), maupun pada saat-saat peristiwa dengan fenomena yang dianggap sama sedang terjadi di manapun. Padahal arti mendasar istilah yang merupakan fakta sejarah itu tidaklah demikian. Memahami arti istilah ini secara proporsional sangat penting demi tegaknya disiplin pengetahuan dan untuk menghindari penyalahgunaannya bagi kepentingan-kepentingan sepihak.

Hari Pentakosta pada pengertian yang asali adalah hari perayaan terbesar kedua dalam tradisi Yahudi. Hari ini dirayakan sebagai “Hari Raya Tujuh Minggu” (49 hari) setelah Paskah, yang dengan demikian esok harinya adalah hari ke-50 menjadi perayaan penuh. Karena hari perayaan ini ditetapkan pada saat Musa menerima dua loh batu dari Tuhan, maka hari ini juga menjadi hari peringatan untuk peristiwa tersebut (Keluaran 34:22). Kemudian setelah bangsa Israel menetap di tanah Kanaan, hari ini dirayakan dengan membawa “korban sajian yang baru kepada Tuhan” yakni petikan gandum pertama (Imamat 23:15-21). Ketika bahasa Yunani membudaya di kemudian hari, maka hari raya ini disebut sebagai ‘pentekoste’ yang artinya “hari ke-50”. Demikianlah istilah ini menjadi populer hingga saat ini, meskipun sudah dalam pengertian yang berbeda bagi orang Kristen. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Untuk memahami perubahan pengertian ini secara proporsional, maka sebaiknya kita terlebih dahulu menyimak secara saksama kisah peristiwa bersejarah yang secara alamiah menjadi pemicu perubahan arti tersebut. Kisah ini dilaporkan oleh Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul 2:1-12 berikut ini:

(1) Ketika tiba hari Pentakosta, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. (2) Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; (3) dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. (4) Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (5) Waktu itu di Yerusalem diam orang-orang Yahudi yang saleh dari segala bangsa di bawah kolong langit. (6) Ketika turun bunyi itu, berkerumunlah orang banyak. Mereka bingung karena mereka masing-masing mendengar rasul-rasul itu berkata-kata dalam bahasa mereka sendiri. (7) Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea? (8) Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita: (9) kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, (10) Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, (11) baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah.” (12) Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?”.

Demi kemudahan melakukan pendekatan terhadap laporan di atas terkait kebutuhan penelitian kita, maka naskah tersebut dapat kita bagi menjadi tiga bagian:

Bagian pertama akan kita lihat sebagai momentum peristiwa pencurahan Roh Kudus itu (ayat 1). Hal mendasar yang harus terlebih dahulu kita sadari adalah bahwa peristiwa ini bukanlah sesuatu yang terjadi diluar dugaan. Berkumpulnya murid-murid Yesus di suatu tempat adalah merupakan dorongan pengharapan atas janji Tuhan Yesus sebelum kenaikan-Nya ke sorga. Yesus sebelumnya telah berkata:

tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam nama-Ku, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah Kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26).

Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu” (Yohanes 16:7).

Pada suatu hari ketika Ia makan bersama-sama dengan mereka, Ia melarang mereka meninggalkan Yerusalem, dan menyuruh mereka tinggal di situ menantikan janji Bapa, yang  —  demikian kata-Nya  —  “telah kamu dengar dari pada-Ku. Sebab Yohanes membaptis dengan air, tetapi tidak lama lagi kamu akan dibaptis dengan Roh Kudus. Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” Sesudah Ia mengatakan demikian, terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kisah 1:8,9).

Demikianlah janji itu kemudian digenapi bertepatan pada “hari Pentakosta” sebagaimana dilaporkan oleh Lukas. Lukas tidak berkata bahwa pada waktu murid-murid berkumpul, maka terjadilah peristiwa Pentakosta. Tidak demikian! Tuhan Yesus juga tidak berkata pada waktu Ia berjanji, bahwa apabila nanti terjadi pencurahan Roh Kudus, hendaklah kamu menyebutnya sebagai “Pentakosta’. Tidak demikian! Bahkan Dia tidak mengatakan bahwa peristiwa pencurahan Roh Kudus itu akan terjadi pada hari Pentakosta. Itu sebabnya pada kesempatan lainnya, Lukas juga secara konsisten menyebutnya dengan pola penyebutan “hari raya Pentakosta” yang merujuk pada hari besar Yahudi itu, bukan dalam kaitannya dengan aksi Roh Kudus (Kisah 20:16). Dalam hal ini, “hari Pentakosta” sebagai hari raya besar yang sudah rutin dirayakan orang Yahudi, harus bisa dilihat perbedaan maksudnya dengan peristiwa “tercurahnya Roh Kudus” yang terjadi bertepatan dengan hari raya tersebut. Artinya hari itu harus dilihat hanya sebagai momentum saja.

Adalah lumrah apabila kita berasumsi logis bahwa Tuhan sengaja memilih pencurahan Roh Kudus pada hari monumental tersebut sebagai momentum yang baik, mengingat pada hari raya Pentakosta akan banyak orang-orang Yahudi di perantauan dari berbagai bangsa akan datang ke Yerusalem untuk mengiktuti perayaan (Kisah 2:5-11). Dengan demikian mereka akan menyaksikan peristiwa Pencurahan Roh Kudus itu dan juga ikut mengalaminya. Pengalaman ini akan menjadi kesaksian bagi bangsa-bangsa ketika mereka kembali ke daerah perantauannya lagi. Jadi hari Pentakosta bisa dipahami sebagai saat yang dikondisikan oleh Tuhan sebagai momentum yang tepat untuk mencurahkan Roh Kudus ke dunia ini.

Sebenarnya kata “pentakosta” kita temukan hanya sebanyak tiga kali dalam Alkitab. Dua di antaranya terdapat pada tulisan Lukas dalam kitab Kisah Para Rasul seperti yang telah diungkap di atas, dan yang ketiga diucapkan oleh Paulus dengan pola penyebutan yang sama (1 Korintus 16:8). Konsistensi pola penyebutan “hari Pentakosta” atau “hari raya Pentakosta” seharusnya kita pertahankan untuk menjaga terjadinya disorientasi maksud seperti yang terjadi dewasa ini, ketika sebagaian orang telah menganggap bahwa kata ‘pentakosta’ itu memiliki arti “pencurahan Roh Kudus”.

Tidak adanya pengulangan pengucapan kata ‘pentakosta’ selain yang telah diutarakan di atas, baik dalam naskah Perjanjian Baru (PB) maupun sumber eksternal tradisi gereja mula-mula terkait Roh Kudus, dapat menjadi petunjuk yang jelas bahwa pencurahan Roh Kudus seperti yang terjadi di Yerusalem tidak pernah terjadi pada abad-abad awal gereja atau kekristenan. Juga tidak terdapat satu naskahpun dalam Alkitab, baik secara eksplisit maupun implisit yang memberi petunjuk bahwa pencurahan Roh Kudus akan terjadi secara berulang maupun secara bertahap. Justru jika diteliti secara saksama, maka yang ada adalah naskah yang memberi kesan bahwa ketika Roh Kudus dicurahkan, Dia tidak akan pergi lagi sehingga perlu pencurahan kemabli. Hal ini sangat jelas pada penuturan Tuhan Yesus kala Ia bersama murid-murid-Nya:

Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu” (Yohanes 14:16,17).

Kata ‘menyertai’ dan ‘diam’ pada kedua ayat tersebut memberi petunjuk bahwa memang Roh Kudus telah diutus untuk bekerja di dunia ini dan untuk tinggal diam dalam diri orang-orang percaya. Adapun kelanjutan mengalami lawatan Roh Kudus bagi orang lain selain mereka yang menerimanya pada hari Pentakosta, tidak lagi terbatas pada ruang, waktu, dan bangsa, melainkan sangat tergantung pada sikap hati yang terbuka dan respon siapa saja yang menjadi percaya. Bukti yang menunjukkan hal ini misalnya dapat terlihat pada persitiwa diturunkannya Roh Kudus atas orang-orang bukan Yahudi (Kisah 10:45,46) dan atas orang-orang yang sudah mengalami baptisan Yohanes namun belum mendengar berita Injil di Efesus (Kisah 19:1-6).

Dengan penjelasan di atas seharusnya kita juga dapat memahami bahwa tidak ada lagi keistimewaan loteng di Yerusalem yang kini diperkirakan sebagai tempat pertama kali peristiwa pencurahan Roh kudus. Pengkultusan termpat tersebut sebagai tempat yang sakral, selain merupakan suatu kebodohan, juga sebagai tindakan tidak mendidik yang mewariskan sikap mengecilkan kuasa kemahahadiran Roh Kudus di segala tempat dan juga melanggar prinsip dan konsep penyelamatan Tuhan yang bermuara pada penjangkauan bangsa-bangsa ke seluruh dunia.

Memang sampai kapanpun kita tidak bisa memungkiri bahwa bangsa Israel memang merupakan umat pilihan Tuhan secara khusus. Sayangnya banyak orang tidak memahami secara tepat maksud kekhususan pemilihan Israel yang sebenarnya pada batas pemakaian sebagai sarana diturunkannya juru selamat dunia, yakni Yesus Kristus. Tentu saja setelah penggenapan janji itu dan setelah penolakan Israel terhadap Yesus Kristus, Allah tetap mengasihi bangsa Israel sebagaimana Ia mengasihi semua bangsa di dunia. Tetapi jika kita memahami konsep kerja Tuhan yang dapat kita temukan dari penggalian Alkitab secara benar, maka kita akan sadar bahwa tidak ada konsep bahwa Tuhan akan kembali ke Yerusalem untuk menjadikannya sebagi pusat pekerjaan-Nya lagi. Dengan demikian ide bahwa pencurahan Roh Kudus akan kembali terjadi di loteng Yerusalem, selain merupakan kebodohan akibat dari cara penafsiran Alkitab yang dipaksakan, juga tanpa disadari telah merupakan pembangkangan pada Amanat Agung Yesus Kristus yang menginginkan keselamatan dan pemakaian seluruh bangsa-bangsa di dunia. Bahwa akhir dari zaman ini akan ditentukkan dari keadaan setelah bangsa-bangsa berperan menjadi alat kesaksian Injil, sangat jelas dalam Alkitab (Matius 24:14). Jadi pergerakan Roh Kudus itu sifatnya meluas.

Petunjuk tidak akan adanya pencurahan Roh Kudus secara bertahap atau bergelombang akan semakin terlihat pada uraian bagian kedua berikut.

Bagian kedua adalah rekaman fenomena yang terjadi pada peristiwa monumental tersebut (Ayat 2-4). Lukas mengatakan fenomena yang menjadi tanda momentum pencurahan Roh Kudus waktu itu adalah: 1) terdengarnya suara seperti tiupan angin keras, 2) telihatnya seperti lidah-lidah api yang hinggap di atas tiap mereka, lalu setelah mereka penuh Roh kudus, maka 3) mereka berkata-kata dalam berbagai bahasa (glossa = lidah, dialek – bahasa) yang dapat dipahami oleh orang-orang yang menyaksikan dari berbagai bangsa yang hadir saat itu.

Fenomena di atas adalah suatu realita fisik. Artinya suara itu dapat didengar oleh telinga semua yang hadir di sana, lidah-lidah api itu juga dapat dilihat dengan mata telanjang oleh orang-orang lain yang hadir di sana, dan bahasa lain yang mereka ucapkan juga adalah merupakan bahasa-bahasa yang sedang dipakai di dunia saat itu. Sisi ajaibnya adalah bahwa yang terdengar itu hanyalah merupakan suara angin kencang yang tidak berwujud tiupan, sehingga tidak berdampak mengacaukan tempat mereka. Lidah api yang telihat itu juga tidak membakar atau menyakiti mereka yang disambar. Dan yang mengucapkan bahasa asing itu bukanlah orang yang mengenal dan bisa menggunakan bahasa itu sebelum dan sesudahnya. Dengan demikian kita dapat menyimpulkan bahwa fenomena peristiwa pencurahan Roh Kudus ini bukanlah suatu peristiwa alamiah, melainan suatu keajaiban atau mujizat.

Dari penjelasan di atas maka kita bisa menangkap maksud tujuan mujizat diadakan oleh Tuhan di sini adalah merupakan suatu pertanda bahwa janji pencurahan Roh Kudus oleh Yesus telah digenapi. Tanda ini merupakan isyarat bagi Petrus dan kawan-kawan bahwa Pribadi ketiga dari Allah Tritunggal itu telah bekerja untuk meneruskan karya penyelamatan Kristus di dunia. Dengan demikian kita juga dapat memahami jika mujizat yang sama tidak perlu terulang lagi karena bagi murid-murid sudah menangkap arti mujizat tersebut sebagai syarat untuk mulai bergerak memberitakan Injil ke seluruh dunia. Masa penantian sudah berakhir (Kisah 1:4,5: 2:4-8).

Di sepanjang sejarah terjadinya berbagai mujizat yang menyertai pelayanan murid-murid Yesus, mujizat suara angin dan lidah api tidak pernah lagi terulang. Karena memang tujuan mujizat tersebut hanya sebagai isyarat bagi murid-murid yang sedang menanti dan bagi orang-orang luar yang akan menjadi saksi. Demikianlah memang semua mujizat yang dilakukan oleh Allah selalu memiliki tujuan yang jelas hingga hari ini. Sehingga tidak ada satupun mujizat yang seharusnya terjadi dengan cara paksaan tanpa kehendak Allah. Karena memang pada umumnya kita bisa melihat bahwa maksud utama dari berbagai mujizat (Ibrani: semeion = tanda) yang dilakukan oleh Allah adalah sebagai pertanda yang memberi petunjuk pada kehendak Allah untuk ditindaklanjuti.

Jadi sebaiknya kita harus selalu menyadari satu prinsip bahwa hukum kehidupan ini telah direncanakan dan ditetapkan oleh Tuhan dalam keadaan tidak untuk selalu mengalami mujizat, tetapi terutama untuk berlangsung secara alamiah sesuai tatanan yang sudah ditetapkan. Adapaun penyelenggaraan mujizat oleh Allah harus selalu dilihat terutama sebagai suatu peristiwa insidental dan yang pada umumnya bermakna sebagai suatu tanda petunjuk seperti halnya dengan mujizat pada hari Pentakosta ini. Tentu saja mujizat masih ada dan tidak ada batasan waktu bagi terjadinya mujizat, tetapi hal itu bukan untuk menjadi suatu program, apalagi dengan cara dipaksakan. Kita boleh berharap dan meminta agar mujizat terjadi, tetapi Allahlah pemegang kendali waktu dan tujuan terjadinya mujizat.

Mujizat ketiga, yakni “berkata-kata dalam bahasa lain” (glossa) yang juga banyak diterjemahkan sebagai “bahasa roh” dalam Alkitab terjemahan Indonesia,dilaporkan telah berlangsung beberapa kali dalam PB: Pernah terjadi saat Petrus dituntun Roh Kudus untuk menginjili dan membaptis Kornelius di Kaisarea (Kisah 10). Pada ayat 34-nya dikatakan bahwa Petrus akhirnya sampai pada pemahaman “bahwa Allah tidak membedakan orang”. Keyakinan itu semakin diteguhkan ketika Kornelius dan seisi rumahnya yang bukan Yahudi diberi karunia Roh Kudus dengan tanda “bahasa roh” (ayat 44-47). Pada peristiwa inipun mujizat jenis ketiga seperti yang terjadi di Yerusalem pertama kali sangat jelas terlihat tujuannya sebagai tanda bagi Petrus dan bagi orang-orang dari golongan bersunat bahwa Roh Kudus dicurahkan bukan hanya untuk orang Yahudi.

Kemudian mujizat ketiga ini terjadi lagi pada saat pelayanan Paulus di kota Efesus (Kisah 19:1-7). Dalam ayat-ayat ini terlihat bahwa sepertinya Apolos adalah pribadi yang sangat giat meneruskan pelayanan Yohanes pembaptis perihal pentingnya pertobatan. Tapi karena mereka belum mendengar Injil Yesus Kristus, maka Paulus membimbing mereka dan mengajarkan pentingnya baptisan Roh Kudus. Setelah pembaptisan dengan air dan penumpangan tangan atas mereka, maka orang-orang yang menjadi percaya di tempat itu, juga “berkata-kata dalam bahasa roh”. Perhatikanlah bahwa meskipun pada naskah ini tidak terlihat secara jelas tujuan bahasa roh sebagai tanda untuk memberi petunjuk, namun dari percakapan awal yang menujukkan bahwa mereka belum pernah mendengar tentang Roh Kudus, dapat kita artikan bahwa berbahasa roh saat itu juga merupakan bukti adanya Roh Kudus dan pentingnya baptisan Roh Kudus.

Selanjutnya kita tidak mendengar lagi laporan pelayanan dalam PB terkait pengalaman berbahasa roh kecuali dalam surat Paulus yang pertama ke sidang jemaat di Korintus. Kita akan temukan pada tiga pasal penuh surat Paulus ini (12-14) hampir didominasi penjelasan terkait “bahasa roh”. Dan yang mengejutkan adalah bahwa nafas penjelasan Paulus pada tulisannya ini lebih bersifat mengoreksi kesalahpahaman atau kesalahan dalam praktek bahasa roh itu ketimbang menyarankan penggunaannya. Bukankah suatu yang aneh bahwa bahasa roh yang telah kita jajaki sebelumnya tidak pernah menjadi masalah pada proses berlangsungnya, namun menjadi masalah yang harus diluruskan Paulus pada praktek yang berlangsung dalam jemaat di Korintus? Mungkinkah sudah terdapat ketidakmurnian atau kepalsuan bahasa roh di sana meskipun Paulus tidak menyatakannya secara langsung?

Kita akan semakin terkejut jika menyimak konteks pasal-pasal yang mendahului surat Korintus ini, bahwa tulisan Paulus ini sangat jelas bernada teguran atas dosa-dosa jemaat yang bahkan sifatnya lebih parah dari orang-orang yang tidak mengenal Allah, berupa perpecahan (1:11; 3:3), kesombongan (4:6), percabulan yang tidak wajar (5:1), menyerahkan perkara interen kepada orang yang tidak percaya (6:6), dan lain-lain. Tidakkah menjadi aneh bahwa di tempat karunia Roh Kudus melimpah tetapi dosa juga dipraktekkan secara memalukan? Memang benar-benar aneh karena ketika kekristenan mula-mula sangat terkenal karena praktek hidup umat yang meneladani cara hidup Yesus, ternyata ada satu komunitas jemaat yang perangai hidupnya lebih buruk dari manusia pada umumnya. Itulah jemaat di Korintus.

Ucapan Paulus yang mengawali 1 Korintus 12 ketika ia hendak menjelaskan terkait karunia-karunia Roh Kudus dalam tiga pasal penuh, sebenarnya merupakan sindiran keras. Pada ayat 3 ia berkata:

Karena itu aku mau meyakinkan kamu, bahwa tidak ada seorangpun yang berkata-kata oleh Roh Allah, dapat berkata: “Terkutuklah Yesus!” dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku: “Yesus adalah Tuhan,” selain oleh Roh Kudus”.

Dengan kata lain Paulus hendak mengatakan, apabila memeng Roh Kudus yang bekerja memberi karunia-Nya, mungkinkah hal itu bisa berakibat pada kekacauan? Masakan karunia-karunia Roha Kudus tidak berdampak pada perubahan perilaku? Kondisi yang tidak lazim dan tidak ditemukan pada tulisan-tulisan kepada jemaat lainnya dalam PB ini membuat kita berpikir, tidakkah lebih baik apabila kita meninjau ulang maksud tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus ini untuk dapat menangkap arti yang tersirat di dalamnya? Jangan-jangan Paulus sesungguhnya hendak mengatakan bahwa mereka sebenarnya telah melakukan praktek karunia-karunia yang salah, namun Paulus segan mengungkapkannya secara terus terang? Entahlah, tapi kita akan mengetahui misteri ini secara jelas nanti pada pengadilan terakhir!

Yang penting bagi kita saat ini adalah belajar dari masa lalu untuk tidak lagi terjebak dalam kesalahan yang sama, apalagi kesalahan yang lebih fatal. Jika Paulus mengatakan, “jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang” (14:27), lalu mengapa kita memaksakan agar semua jemaat supaya bisa berbahasa roh? Jika Paulus berkata, “jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya (yang sama dengan tidak mengandung arti), hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan jemaat”, lalu mengapa kita lebih senang memamerkannya pada pertemuan ibadah ketimbang menggunakannya dalam doa pribadi? Karena Paulus sendiri ternyata telah berbahasa roh lebih banyak dalam kesendirian ketimbang pada pertemuan jemaat (14:18,19).

Ada masih banyak lagi penjelasan perihal seluk-beluk bahasa roh, akan tetapi tujuan penulisan ini dibatasai hanya membahas seputar pengertian pencurahan Roh Kudus. Bahwa semua yang dipaparkan terkait pengalaman dilawat atau dipenuhi Roh Kudus pada sejarah gereja mula-mula, tidak pernah disebut atau terlihat sebagai gelombang atau tahapan pencurahan Roh Kudus. Juga tidak ada satu naskah pun yang memberi isyarat bahwa akan adanya tahapan-tahapan pencurahan Roh Kudus. Lalu bagaimana seharusnya kita memahami fakta sejarah adanya gerakan yang merindukan pengalaman dilawat oleh Roh Kudus seperti yang pernah terjadi pada hari Pentakosta? Karena sudah nyata bahwa gerakan tersebut telah mendorong lahirnya sinode-sinode pentakostal ke seluruh dunia hingga saat ini. Bahkan kesinambungan gerakan ini sekarang telah melahirkan ide adanya gelombang pencurahan Roh Kudus yang ke-2 dan yang ke-3.

Memang tidak bisa dibantah adanya kegerakan pada abad 18 yang merindukan pengalaman gereja mula-mula seperti yang pernah terjadi pada hari Pentakosta di Yerusalem (Kisah 2). Kegerakan tersebut sebenarnya merupakan efek lanjut dari gerakan kesucian dalam protestanisme dan gerakan Wesleyan yang menghasilkan gereja Metodis. Ketika gereja lebih sibuk pada perdebatan-perdebatan doktrin teologis, maka Tuhan selalu bergerak membangkitan orang-orang yang tidak puas dengan retorika yang tidak menyentuh kepuasan batin dalam menjalani hidup kekristenan.

Akhirnya seorang bernama Ch.F.Parham yang meyakini bahwa “bahasa roh adalah bukti alkitabiah dari baptisan Roh Kudus” memisahkan diri dari gereja Metodis untuk memperjuangkan kerinduan tersebut. Berkat semangat juang muridnya, William Joseph Seymour, maka gerakan pentakostal dengan ciri bahsa roh akhirnya lahir di Azusa Street. Beberapa laporan menyebut ciri ibadah berlangsung spontan dan emosional dengan teriakan-teriakan yang nyaring terdengar. Ketika gerakan ini semakin meluas, maka mereka menjulukinya sebagai “Pentakosta baru”. Dari sinilah istilah ‘pentakosta’ meluas hingga bukan saja menjadi julukan atas suatu kegerakan, melainkan menjadi nama organisasi gereja-gereja yang merindukan hal yang sama di kemudian hari.

Kita tidak tahu secara pasti seperti apa praktek bahasa roh itu berlangsung di Azusa Street. Apakah ekspresinya sama dengan sebagian sinode pentakostal dan kharismatis yang ada saat ini atau tidak? Yang pasti usaha pertobatan yang terlihat pada kesederhanaan hidup dan kerinduan hidup intim dengan Tuhan setiap hari adalah buah yang menjadi kesaksian warisan meraka sehingga gerakan itu segera meluas. Pertanyaannya, apakah buah yang sama dapat kita temukan pada sebagaian gereja pentakostal dan kharismatis yang mengumbar bahasa roh saat ini? Yang jelas bahwa penggunaan bahasa roh pada jemaat di Korintus yang juga terkesan diumbar telah mendapat koreksi dari Paulus karena tidak berdampak pada buah kehidupan. Terjadinya fenomena penggunaan bahasa roh dan kemungkinan karunia-karunia Roh lainnya di sana, ternyata tidak disebut oleh Paulus sebagai Pentakosta gelombang ke-2.

Satu lagi yang penting disadari bahwa meskipun istilah “Pentakosta baru” sebenarnya juga kurang tepat untuk menjuluki kegerakan di Azusa Street, namun mereka maupun orang lain yang menyaksikan mereka, tidak pernah mengklaim bahwa kegerakan itu sebagai “Pentakosta kedua”. Justru aneh ketika saat ini muncul ide yang mengharapkan akan terjadinya gerakan “Pentakosta ketiga”, barulah kegerakan Azusa Street dinobatkan menjadi “Pentakosta kedua”. Meskipun klaim akan terjadinya gerakan Pentakosta ketiga ini telah didasarkan pada nubuat dari orang yang diakui sebagai nabi saat ini, tetapi tidak ada salahnya apabila kita bersikap kritis dengan cara mencari dasar pertimbangan dari Alkitab.

Laporan pada Kisah 2 tetap merupakan andalan yang memadai untuk mengukur kualitas usaha-usaha penggerakan ide Pentakosta ketiga yang ada saat ini. Membandingkan reaksi orang lain yang menyaksikan fenomena pada hari Pentakosta di Yerusalem dengan gerakan yang diusahakan saat ini, dapat menjadi tolok ukur kebenarannya sebagaimana diuraikan pada bagian ketiga ini.

Bagian yang ketiga adalah reaksi orang lain atas fenomena monumental tersebut (ayat 5-12). Lukas memaparkan bahwa orang lain yang bertepatan datang dari berbagai bangsa dan bahasa pada hari Pentakosta itu, dapat mengerti “bahasa roh” yang mereka ucapkan. Memang demikianlah seharusnya fungsi dari suatu bahasa, yakni memiliki arti untuk dipahami. Bahasa roh itu adalah suatu bahasa, bukan mantra! Apakah terlalu sulit memahami kebenaran ini?

Dalam semua naskah yang berbicara tentang “bahasa roh” dalam PB, termasuk ungkapan “bahasa-bahasa lain” dalam Kisah pasal 2, maka dalam naskah asli atau bahasa Yunaninya tertulis ‘glossa’. Arti-arti dari kata ini adalah ‘lidah’ yang dijelaskan sebagai organ tubuh untuk berbicara. Arti lainnya adalah “suatu bahasa” yang dijelaskan sebagai bahasa atau dialek yang digunakan oleh suatu kelompok manusia yang bisa membedakannya dengan kelompok manusia lainnya. Kalimat penjabaran arti kata ini telah diterjemahkan langsung dari penjelasan arti dalam kamus bahasa Yunani. Maksudnya adalah, bahwa bahasa roh itu adalah suatu bahasa yang dapat dimengerti, kalaupun bukan oleh orang lain yang mendengarnya, maka setidaknya dapat dipahami oleh penggunanya ketika berhubungan dalam doa pribadinya dengan Tuhan. Bahasa roh bukanlah lafal yang diucapkan secara latah atau refleks. Dalam hal inilah kita bisa memahami mengapa Paulus berkata:

Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah” (1 Korintus 14:27-29).

Bukankah aneh ketika Paulus berkata “ada banyak macam bahasa di dunia; … tidak ada satu pun diantaranya yang mempunyai bunyi yang tidak berarti” (14:10), namun kaum pentakostal dan kharismatis dewasa ini berbahasa roh hingga puluhan tahun tanpa pernah bisa dimengerti maksudnya, bahkan oleh orang yang menggunakannya sekalipun? Kesalahan yang lebih fatal lagi adalah bahwa bahasa roh sudah diajarkan sebagai syarat pengangkatan gereja Tuhan ke Padang Gurun sebagai hasil tafsir yang tidak bertanggung jawab. Bahkan celakanya ada yang telah memaklumkan bahasa roh sebagai suatu cara menaikkan imunitas tubuh untuk menghadapi serangan epidemi penyakit. Sampai kapan pengertian liar ini akan semakin meraja lela? Bukankah hal ini menjadi indikasi adanya pemahaman yang salah telah diwariskan secara paksa? Mengapa kita tidak memperkarakan hal ini secara jujur sebagai suatu upaya penertiban seperti yang dilakukan Paulus pada jemaat di Korintus?

Arti ‘pentakosta’ secara etimologis tetaplah “hari kelimapuluh”. Hal itu tidak bisa diubah. Memang bagi kekristenan hari raya Yahudi ini tidak lagi memiliki manfaat dalam kaitannya dengan tradisi ritual Yahudi. Yang penting bagi kekristenan adalah pengetahuan akan nilai momentum sejarah dicurahkannya Roh Kudus ke dunia ini, yang terjadi tepat pada hari Pentakosta kala itu. Bagi kita nilai itu sangat penting karena memberi rasa percaya bahwa Roh Kudus ada di antara manusia untuk selalu siap memasuki setiap pribadi yang membuka dirinya bagi Tuhan. Oleh karena itu, hari ini tetap penting diperingati dalam konteks yang sudah berbeda; bukan dalam usaha mengulang fenomena yang terjadi, melainkan dalam penyadaran eksistensi Roh Kudus yang selalu hadir di tengah-tengah umat-Nya yang percaya.

Dari laporan Lukas dapat kita ketahui bahwa ada dua jenis reaksi pengunjung pada saat pencurahan Roh Kudus di Yerusalem itu terjadi: Yang pertama adalah pengunjung yang mempertanyakan arti peristiwa tersebut (Kisah 2:12) sebagai reaksi yang bersifat positif, dan yang kedua adalah kelompok pengunjung yang bersifat negatif karena melecehkan mereka sebagai orang yang mabuk anggur manis (ayat 13). Reaksi ini mendorong Petrus untuk menjelaskan arti sesungguhnya dari pencurahan Roh Kudus itu pada ayat-ayat selanjutnya, dan bukti nyata yang spontan dari maksud pencurahan Roh Kudus itu pada pasal-pasal selanjutnya.

Peristiwa pencurahan Roh Kudus pada hari Pentakosta di Yerusalem itu sangat jelas terjadi sebagai penggenapan yang telah dinubuatkan dalam kitab Yoel pasal 2. Peristiwa tersebut bukan sekedar suatu harapan tanpa data otentik yang diumbar hanya untuk pencapaian popularitas kelompok tertentu. Maka oleh karena itu dampaknya juga sangat terasa secara langsung ketika kumpulan orang-orang sederhana yang tidak terpandang itu langsung menggarap dunia dengan Injil Kristus, meskipun dalam tekanan aniaya yang maha dahsyat. Gaya hidup sederhana dan pertobatan yang terlihat dari meningkatnya kecintaan kepada Tuhan dan sesama secara radikal, sangat terlihat dalam komunitas gereja mula-mula yang akhirnya mendapat julukan ‘Kristen’ (seperti Kristus) itu (Kisah 11:26). Hal ini terjadi karena praktek cara hidup mereka yang sangat identik dengan praktek hidup Tuhan Yesus. Bukan seperti gaya hidup glamor kebanyakan orang Kristen dewasa ini yang tidak berbeda dengan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan.

Andaikata pun istilah yang kurang tepat, yakni Pentakosta kedua, ketiga, dan seterusnya dipaksakan untuk diterima sebagai gerakan yang Tuhan rencanakan, tidakkah seharusnya kita dapat melihat dan merasakan gejala pertobatan dan pengaruh positif dari pihak atau kelompok yang menyatakannya sebagaimana pernah terjadi pada hari Pentakosta di Yerusalem? Dua aspek yang harus menjadi tolok ukur harus senantiasa menjadi alat pertimbangan dalam melihat suatu klaim bisa dianggap benar dalam kekristenan, yakni Alkitab sebagai dasar berteologia dan fakta di lapangan yang dapat dirasakan dampaknya. Lalu apa dasar alkitabiah dan dampak nyata dari “Pentakosta ke-3” sejak hal itu digaungkan dalam satu momentum di Indonesia? Silahkan dievaluasi!

Adalah sah dan patut didukung apabila ada niat yang luhur untuk terjadinya suatu kegerakan kehausan umat pada lawatan Roh Kudus. Tetapi seharusnya kita tidak perlu memaksakan suatu cap atau slogan yang memberi pendidikan yang salah, seakan Roh Kudus telah turun dan naik ke sorga secara bertahap. Yang sebaiknya kita lakukan adalah kegerakan untuk menggairahkan kerinduan pada kepenuhan Roh Kudus melalui pemberitaan Firman Allah secara benar dan teladan hidup yang menyetuh setiap pendengar. Bukan gerakan proklamsai slogan dengan kegiatan-kegiatan raksasa yang memboroskan dana besar.

Dalam satu pasal penuh yang mengantarai pasal 12 dan 14 surat 1 Korintus terkait karunia-karunia Roh (pasal 13), Paulus berbicara tentang ‘kasih’ untuk menjadi tolok ukur manfaat karunia-karunia tersebut. Kemudian ketika ia hendak memulai lagi berbicara tentang karunia-karunia pada pasal 14, dengan tegas ia berkata “Kejarlah kasih itu”. Ini menunjukan bahwa buah kehidupan jauh lebih penting dari karunia-karunia. Dalam hal ini Paulus hendak menegaskan bahwa karunia-karunia bukanlah tujuan pekerjaan Roh Kudus, melainkan buah Roh yang harus nyata dalam ekspresi kehidupan orang percaya. Karunia-karunia Roh Kudus hanyalah sebagian dari begitu banyak cara untuk mencapai tujuan rohani. Artinya hal itu bisa tidak ada apabila tujuan utama (kasih), dapat dicapai dengan cara lain. Akan tetapi ‘kasih’ yang merupakan tujuan hidup kekristenan tidak boleh tidak ada.

Adalah baik apabila kita bisa berbahasa roh dan memperoleh karunia-karunia Roh lainnya sejauh hal itu merupakan hasil pekerjaan Roh Kudus, atau bukan merupakan hal yang dipaksakan atau rekayasa. Juga kita bersyukur apabila dapat mengalami mujizat sejauh hal itu merupakan kehendak Allah, atau bukan merupakan manipulasi aksi demi kepentingan sesaat. Tetapi kita harus selalu sadar bahwa hal-hal tersebut hanya merupakan tanda, bukan tujuan. Kebenaran ini dapat digambarkan ibarat seseorang yang sedang bepergian menuju suatu tempat yang belum pernah dikunjungi. Ada banyak alternatif jalan menuju tujuan tersebut. Di tengah jalan ia bertemu banyak tanda-tanda berupa rambu-rambu lalu lintas yang sangat bermanfaat menuntunya menuju tujuan. Bukankah suatu kebodohan apabila ketika orang tersebut menemukan suatu tanda, lalu berhenti dan tinggal diam pada tanda tersebut? Yang benar adalah, dia akan terus beranjak meninggalkan tanda demi tanda, bahkan melupakan tanda-tanda tersebut hingga sampai pada tujuan.

Hal yang sama juga berlaku pada karunia-karunia Roh yang juga merupakan tanda eksistensi bekerjanya Roh Kudus. Adalah suatu kebodohan apabila kita bercokol dan puas hanya berperkara pada karunia-karunia Roh dan mujizat seperti yang terjadi dalam jemaat di Korintus. Karena yang paling diharapkan oleh Allah adalah agar kita sampai pada tujuan Roh Kudus itu diutus ke dunia ini, yakni menolong kita agar dapat menghasilkan buah Roh semaksimal mungkin (Galatia 5:22-25).

Oleh karena itu seharusnya gereja tidak boleh mengajarkan atau menjadikan karunia-karunia, dalam hal ini termasuk bahasa roh sebagai patokan seseorang dipenuhi Roh Kudus. Juga sebaiknya tidak boleh sasaran utama dari suatu kegerakan apapun dalam kekristenan hanya mengacu pada bekerjanya karunia-karunia Roh, melainkan harus mengacu pada bekerjanya buah Roh. Karena pertobatan dan gaya hidup yang semakin serupa dengan Kristus adalah ciri utama yang harus diperhatikan dalam mengukur klaim-klaim kegerakan apapun dalam kekristenan (Matius 5:48; Filipi 2:29). Jika tidak, maka sesungguhnya Iblis telah mengembangkan sayap-sayap para nabi palsu-nya yang menyesatkan dalam gereja Tuhan.

Mr. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *