Perpuluhan

Suatu Tinjauan Proporsional Alkitabiah

Istilah dan praktek memberi ‘persepuluhan’ atau yang lebih akrab disebut dengan ‘perpuluhan’ bukanlah sesuatu yang asing bagi umat manusia, setidaknya hal itu sudah terdeteksi telah menjadi budaya sejak era peradaban awal di Timur Tengah dan juga Mesopotamia yang trlihat secara jelas dalam naskah kitab Kejadian. Hal itu berlanjut sebagai ketentuan yang kokoh bagi umat Israel yang kemudian dihidupkan kembali di dunia kekristenan saat ini. Tetapi yang menjadi masalah adalah bahwa hal itu menjadi polemik yang diperdebatkan, justru bukan saat sistem persembahan itu menjadi budaya keagamaan purba dan menjadi praktek wajib dalam ritual ibadah bangsa Israel pada masa Perjanjiian Lalam (PL), melainkan ketika kini hal itu menjadi salah satu sumber penghasilan gereja-gereja, khususnya denominasi-denominasi beraliran pentakostal dan kharismatis.

Bagi umat Israel dan Kristen yang menyandang Alkitab PL sebagai kitab penuntun keyakinannya, tidak bisa dipungkiri bahwa praktek memberi perpuluhan sebagai salah satu bentuk persembahan yang diwajibkan Tuhan, adalah fakta yang tidak terbantahkan. Bahkan pada suatu naskah yang tertulis dalam Malekhi 3:7-11, terlihat sangat jelas bahwa memberi perpuluhan menjadi suatu ketentuan yang mengandung janji berkat bagi yang setia melakukannya dan ancaman kutuk bagi yang lalai. Lalu mengapa hal tersebut menjadi polemik perdebatan dalam dunia kekristenan dewasa ini?

Sebelum kita lebih jauh menelusuri jejak alkitabiah terkait perpuluhan ini, maka penulis akan mengemukakan dua sisi fenomena realita yang terjadi dalam gereja Tuhan dewasa ini terkait perpuluhan. Fenomena realita ini penting disadari untuk mendorong rasa ingin tahu yang sehat dan yang selanjutnya juga akan mendorong daya berpikir kritis pembaca atas masalah ini, sehingga akan lebih mudah menyimak penjabaran alkitabiah tentang topik yang disajikan secara proporsional dalam tulisan ini.

Fenomena yang pertama adalah, bahwa sejak sistem persembahan ini kembali diadopsi gereja modern oleh khususnya kaum pentakostal dan kharismatis, sangat terasa gairah umat dalam meresponinya. Tetapi jika diamati secara saksama, kita harus jujur mengakui bahwa hal ini dilakukan oleh tiga faktor pendorong utama yakni:

  • Yang pertama adalah oleh faktor dorongan ketulusan memberi karena memang hal itu dipahami sebagai ketetapan Tuhan yang tertulis di dalam Alkitab. Faktor ini nanti akan terlihat kaitannya dengan tingkat pemahaman Alkitab seseorang pada uraian selanjutnya.
  • Faktor yang kedua adalah oleh rasa terpaksa akibat intimidasi menakutkan dari para pengkhotbah yang menekankan akibat kutuk apabila tidak setia memberi perpuluhan.
  • Sedangkan faktor yang ketiga adalah dorongan motivasi menjadi kaya-raya yang juga merupakan pesona janji-janji menggiurkan dari para penganjur perpuluhan.

Dari sisi pengajar atau pengkhotbah ada dua faktor pendorong dalam upaya mengajarkan prnsip persembahan perpuluhan ini:

  • Yang pertama adalah faktor ketulusan karena pemahaman yang sama dengan faktor ketulusan para pelaku di atas.
  • Tetapi yang kedua sudah merupakan faktor alat pemenuhan kebutuhan, bahkan yang sudah bermuara pada motivasi tidak tulus sebagai upaya menggalang dana untuk mencapai ambisi-ambisi yang tidak sehat.

Yang menarik adalah bahwa kini telah muncul fenomena realita kedua dalam bentuk yang bertentangan dengan fenomena pertama. Selain dari semakin maraknya seruan berupa kritik yang semakin keras dari pihak aliran gereja arus utama, juga oleh tampilnya teolog kritis dan tegas dari aliran pentakostal yang mengajarkan bahwa memberi perpuluhan bukan lagi sesuatu yang seharusnya masih dipertahankan dalam kekristenan. Teolog ini tidak hanya sekedar mampu memaparkan secara cerdas teori ketidaktepatan dalam melakukan praktek perluluhan dalam kekristenan, tetapi secara transparan telah memberi bukti tidak memungut perpuluhan dalam gereja yang dia pimpin, namun ternyata juga tidak mengalami kutuk seperti yang diperingatkan pada Maleakhi 3:7-11, melainkan justru menjadi gereja yang dikenal sangat aktif dan efektif dalam menyalurkan berkat bantuan sosial ke berbagai pihak. Artinya bahwa paham ajaran yang mengatakan bahwa “tidak memberi perpuluhan akan berakibat kutuk” dalam konteks kekrsitenan, dapat dia buktikan sebagai mitos belaka.

Kedua fenomena realita di atas hanya sebagai alat pemicu agar para pembaca terdorong untuk membuka pikiran menelusuri kembali paham-paham yang pernah ada serta bersedia mengevaluasinya secara jujur dalam terang Firman Allah yang tertera dalam Alkitab. Namun sebelum kita masuk pada penelusuran yang akan ditata menurut progresifitas mekanisme praktek memberi perpuluhan itu pada lintasan era atau zaman, maka sebaiknya kita mendasari pemikiran terlebih dahulu dengan satu prinsip yang menjelaskan kepada kita konsep atau cara kerja Allah terkait hal ini yang disari dari Alkitab.

Kita harus berpijak pada satu prinsip bahwa “apapun topik yang diangkat dari Alkitab, harus terkait dengan rencana utama Allah, yakni program ‘keselamatan’ di dalam diri Putera tunggal-Nya Yesus Kristus. Karena program keselamatan ini jugalah alasan utama Allah sehingga Ia mengilhamkan semua kitab-kitab yang tergabung dalam Alkitab. Oleh karenanya kita sudah harus memutuskan bahwa ‘keselamatan’ adalah tulang punggung atau garis besar dari semua perkara yang dituliskan dalam Alkitab. Tidak memahami dan tidak menyetujui prinsip ini akan secara pasti membuat topik apapun yang diangkat dari Alkitab bermuara pada kesalahpahaman. Degradasi kualitas kekristenan yang bermuara pada lahirnya berbagai aliran teologia akibat perbedaan doktrin, juga dapat ditelusuri sebagai akibat melemahnya pemahaman arti keselamatan sejati sejak paska gereja mula-mula.

Kekeliuran banyak pengajar Kristen modern adalah penyederhanaan arti keselamatan di dalam Kristus hanya sebatas usaha Allah untuk meluputkan orang dari neraka dan membawanya masuk ke sorga. Tidak banyak yang menangkap maksud dari keselamatan yang sesungguhnya adalah “suatu proses dan progres pemulihan kodarat manusia (gambar dan rupa Allah) yang telah dirusak oleh dosa”, yang berakibat pada ketidakmampuan melakukan sesuatu sesuai kehendak Allah. Dosa telah merusak pikiran dan perasaan manusia sehingga perlu dipulihkan agar dapat berfungsi kembali sebagaimana mestinya.

Bukti terjadinya pemulihan kodrat adalah kemampuan meresponi kehendak Allah yang terlihat dari kemampuan bertindak sesuai kehendak-Nya, termasuk dalam hal memberi persembahan. Kegagalan dalam hal prkatek memberi yang berujung pada kengerian segera terlihat pada Kejadian 4:1-16. Kain membunuh adiknya Habel karena Allah tidak berkenan atas pemberiannya. Jadi kita harus tahu bahwa pemberian kita bukanlah segalanya bagi Tuhan. Tuhan sama sekali tidak membutuhkan pemberian kita, melainkan cara kita memberi. Itu sebabnya proses pemulihan kodrat yang olehnya kita bisa menangkap pikiran dan perasaan Tuhanlah yang menjadi tujuan utama keselamatan di dalam Kristus diadakan!

Tetapi kita juga harus tahu bahwa proses pemulihan itu tidak dilakukan oleh Allah secara spontan, melainkan melalui proses yang progresif. Hal itu dikerjakan dalam dua tahapan besar yang tertata dalam alunan peralihan dari PL ke PB. Ketidakmampuan melihat alunan peralihan inilah yang menjadi penyebab ketidakmampuan memilah kebijakan-kebijakan Allah dalam Alkitab; yang mana kebijakan yang masih harus dipertahankan untuk dilakukan dan yang mana yang sudah digenapi dan yang seharusnya sudah tidak perlu dilakuan lagi, termasuk dalam sistem memberi persembahan kepada Tuhan.

Adalah jelas bahwa rencana peralihan yang bersifat meningkat itu sudah dinubuatkan oleh nabi Yeremia. Bahwa Allah akan mengadakan perjanjian baru sebagai ganti perjanjian yang pernah diadakan Allah dengan Israel di Padang Gurun, yakni pergantian perjanjian yang diatur dalam Taurat yang tertulis pada loh-loh batu, ke perjanjian Taurat yang tertulis dalam batin umat-Nya (Yeremia 31:31-33). Rencana peralihan ini kemudian ditegaskan oleh Yesus ketika Ia berbicara kepada perempuan Samaria. Bahwa saatnya akan tiba, cara beribadah umat Tuhan tidak lagi terikat dengan aturan ritual yang berpusat di Bait Allah, melainkan dengan cara yang disimpulkan dalam rumusan, yaitu “dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:7-26). Di sini sangat terlihat peralihan kebijakan yang menuntut kedewasaan umat, dari ketaatan oleh dorongan ketatnya aturan Taurat yang dituntut dari umat PL, ke ketaatan yang lahir dari kesadaran batiniah yang dituntut dari umat PB.

Bagi orang yang memahami jalan pikiran Tuhan, tidak berlakunya lagi Taurat seharusnya tidak dianggap sebagai suatu kelonggaran, melainkan suatu peningkatan tanggung jawab. Karena dari umat PB yang sudah diharapkan dewasa, harus bisa hidup kudus dan mengabdikan diri lebih sepenuhnya tanpa adanya aturan Taurat. Artinya di sini adalah, bahwa semua aturan yang dirangkum dalam Taurat sebenarnya hanya merupakan kebijakan awal untuk mendidik dengan cara mendisiplin umat PL, yang memang belum mampu hidup secara dewasa dalam kerohanian. Tetapi pada tahap tertentu, Allah akan bertindak secara progresif membentuk suatu umat yang dapat berperilaku secara dewasa, yakni umat yang telah mengalami pemulihan gambar diri atau kodrat, sehingga dapat melakukan bakti atau ibadahnya tanpa dorongan suatu aturan, melainkan oleh kesadaran batiniah. Hal inilah yang diharapkan dari umat PB atau Kristen yang sudah mengalami keselamatan.

Sikap dewasa ini juga tentu saja dituntut dari hal memberi persembahan kepada Tuhan, yang seharusnya mengalami progres peningkatan. Tidak adanya aturan Taurat tidak berarti mengendorkan semangat umat dalam beribadah, termasuk dalam memberi persembahan. Justru umat PB diharapkan dapat memberi bukan oleh tuntutan aturan dan patokan angka lagi, melainkan dengan takaran yang didorong oleh kemampuannya secara jujur dan tulus. Orang dewasa tentu saja tahu menakar kemampuannya untuk melakukan sesuatu. Orang dewasa tikak akan membatasi diri dengan angka tertentu jika pada kenyataannya ia dapat memberi lebih.

Untuk menjembatani peralihan ini, Yesus telah mempersiapkan murid-murid-Nya dengan prinsip ajaran, “Jika hidup keagamaanmu tidak lebih benar dari pada hidup keagamaan ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, sesungguhnya kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga” (Matius 5:20). Pembaca harus bisa melihat dengan jeli bahwa Matius pasal 5 secara keseluruhan adalah memuat ajaran peralihan praktek pelaksanaan Taurat dari sekedar ritual agama ke nilai-nilai rohani yang sifatnya lebih berat untuk dipraktekkan. Hampir semua sejarawan mengakui prestasi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi dalam melakukan pernak-pernik hukum Taurat. Yesuspun mengakuinya (Lukas 11:42; Matius 23:15).

Secara moral umum orang-orang Farisi dan ahli Taurat tidak ditemukan bersalah. Kemampuan melakukan tuntutan Taurat justru adalah merupakan cap mereka yang dapat dipantau oleh masyarakat umum, yang oleh karenanya mereka menjadi golongan masyarakat yang sangat disegani. Itu sebabnya titik berat kritikan Tuhan Yesus kepada mereka bukan dalam hal cacat perbuatan, melainkan dalam hal kemunafikan. Karena mereka sudah tampil dalam kemasan kesalehan agamawi, namun hatinya sudah dipenuhi intrik-intrik kotor.

Penjelasan di atas tentu saja masih berbentuk samar yang menimbulkan pergolakan batin. Hal ini dimaklumi karena setiap kita tentu saja telah mewarisi suatu konsep yang sedikit banyak dapat mempengaruhi kita terhadap keinginan untuk berubah. Akan tetapi kerelaan untuk melanjutkan penelusuran sejarah progresif praktek pemberian perpuluhan berikut ini, akan membuat kita lega, sekaligus membuat kita menajdi orang yang bergairah dalam memberi oleh sukacita karena mengasihi Tuhan. Dengan demikian kita akan melanjutkan penelusuran kita pada tahap demi tahap progres perkembangan mekanisme praktek memberi perpuluhan itu dari waktu ke waktu.

Perpuluhan Pra-Taurat

Kebiasaan memberi perpuluhan ternyata tidak dimulai pada tradisi Israel. Dari sumber eksternal bisa ditemukan bahwa budaya memberi perpuluhan telah dilakukan juga oleh bangsa-bangsa lain, selain sebagai persembahan kepada dewa-dewa atau illah, juga merupakan sistem pajak penghasilan bagi penguasa yang sudah diterapkan pada masyarakat Mesopotamia kuno tempat Abraham berasal. Itu sebabnya tidak heran apabila Abraham melakukan praktek ini kepada Melkisedek ketika ia kembali dari mengalahkan raja-raja timur (Kejadian 14:18-20).

Kita tidak tahu secara pasti apakah Abraham melakukan tindakan ini secara rutin atau tidak, mengingat tidak adanya catatan yang menjelaskan bahwa hal itu sudah merupakan penentuan dari Tuhan dan karena status dirinya sebagai pengembara yang tidak menetap di suatu tempat. Yang jelas bahwa tindakan Abraham ini sebenarnya telah dilakukan secara spontan kepada jelmaan sosok ilahi yang disebut Melkisedek, imam Allah Yang mahatinggi yang tidak selalu muncul setiap saat (Ibrani 7:1-3). Penting diperhatikan juga bahwa perpuluhan yang diberikan Abraham kepada Melkisedek adalah hasil rampasan perang, bukan dari harta miliknya. Sedangkan yang 90 % hasil rampasan perang itu diserahkan kepada raja Sodom, atau tidak menjadi miliknya (Kejadian 14:21-23; Ibrani 7:4). Jadi konsep praktek perpuluhan Abraham ini sangat berbeda dengan mekanisme yang akan ditetapkan dalam Taurat di kemudian hari.

Keraguan akan konsistensi tindakan Abraham dalam memberi perpuluhan juga ditambah dengan tidak adanya catatan bawa Ishak mengikuti teladan itu dari ayahnya. Yakub akhirnya memberi perpuluhan secara konsisten kepada Allah bukan karena dorongan yang dia terima dari luar dirinya; bukan merupakan ketentuan dari Allah maupun dari teladan kakek dan ayahnya, melainkan sebagai inisiatif oleh dorongan nazarnya jika ia selamat sampai ke rumah ayahnya (Kejadian 28:20-22).

Bukti Abraham memberi perpuluhan ini sering dijadikan oleh pengajar Kristen pendukung praktek perpuluhan sebagai dasar untuk menguatkan argumen bahwa dasar memberi perpuluhan oleh orang Kristen bukanlah karena tuntutan Taurat, melainkan atas teladan Abraham. Tetapi para pengajar inipun tidak konsisten ketika hendak melegitimasi pentingnya perpuluhan sebagai ketentuan Allah dalam kekristenan dengan naskah janji dan ancaman dari Maleakhi 3:8-12 yang sebenarnya didasarkan pada rangkaian tuntutan Taurat.

Kita harus bersedia jujur melihat konteks ayat-ayat terkait perpuluhan pada masa pra-Taurat ini sebagai bukan aturan yang diwajibkan dan tidak boleh dijadikan landasan untuk menekankan keharusan memberikan perpuluhan pada masa kapanpun. Memaksakan ayat-ayat tersebut sebagai landasan untuk mendukung praktek pemberian perpuluhan pada konteks Taurat maupun kekristenan akan berbenturan dengan bentuk dan alamat tujuan kepada siapa perpuluhan harus diberikan. Hal ini akan semakin diperjelas pada uraian perpuluhan pada era kekristenan. Karena penampakan sosok Melkisedek tidak ditetapkan pada aturan Taurat dan kekristenan. Hasil rampasan perang tidak dituntut dalam aturan Taurat seperti yang akan dijelaskan berikutnya, dan juga tidak ada pada prinsip ajaran Kristen.

Perpuluhan Pada Era Taurat

Sejak bangsa Israel memasuki tanah Kanaan sebagai suatu bangsa yang berdaulat, perpuluhan sudah menjadi kewajiban yang diatur dalam Taurat yang diterima Musa di Padang Gurun. Sumber perpuluhan dalam aturan Taurat sangat jelas, yakni dari hasil pertanian dan peternakan. Hasil rampasan perang seperti yang diberikan Abraham justru tidak termasuk. Jika diteliti secara saksama maka peruntukan perpuluhan pada era Taurat bisa dibagi menjadi tiga kelompok atau jenis:

  1. Perpuluhan Untuk Pesta Nasional Pondok Daun

Pesta Pondok Daun dirayakan selama 7 hari pada tanggal 15-21 bulan ketujuh setiap tahun di Yerusalem. Pesta ini dilakukan untuk memperingati masa pengembaraan bangsa Israel selama di Padang Gurun, ketika mereka tinggal pada pondok-pondok yang dibangun dari daun-daunan. Perpuluhan diberikan dalam bentuk hasil bumi dan ternak bagi yang dekat ke Yerusalem, namun bisa diganti dalam bentuk uang bagi yang jauh untuk dinikmati bersema selama pesta. Jadi perpuluhan di sini bertujuan untuk dimakan oleh pemiliknya bersama orang-orang yang ikut merayakan pesta di Yerusalem yang menjadi tempat Bait Allah sebagai pusat peribadatan mereka.

2. Perpuluhan Untuk Tunjangan Bagi Orang-Orang Khusus

Perpuluhan telah ditetapkan untuk kepentingan orang-orang khusus yang diambil dari hasil pertanian dan peternakan setiap tiga tahun (Ulangan 26:12-15). Mereka yang berhak menerima perpuluhan ini adalah:

  • Suku Lewi, karena mereka tidak memiliki warisan pembagian tanah agar bisa fokus bekerja sebagai imam di Bait Allah (Bilangan 18:21-24).
  • Para yatim piatu, janda-janda, orang miskin, dan orang asing/pendatang (Ulangan 14:28,29).

3. Perpuluhan Untuk Kepentingan Lainnya

Perpuluhan juga telah ditetapkan untuk kepentingan-kepentingan lainya berupa:

  • Pajak pada Negara untuk membiayai kebutuhan penyelenggaraan pemerintahan dan gaji pemerintah dan pegawainya (1 Samuel 8:14-15).
  • Untuk pemeliharaan dan biaya operasional di Bati Allah (Malekhi 3:10-11).

Jadi kita bisa melihat di sini adanya progres perkembangan peruntukan perpuluhan dari yang memang telah ditetapkan dalam Taurat yang diterima Musa ke pemenuhan kebutuhan dalam perkembangan situasi selanjutnya seperti yang tercatat pada laporan Samuel dan Malekhi di atas. Fakta ini perlu disadari untuk melepaskan pembaca dari belenggu kekakuan dalam mengklaim hanya ayat-ayat tertentu untuk melegitimasi praktek memberi perpuluhan.

Kita tidak mendapatkan informasi baik dari PL maupun data eksternal terkait perpuluhan dari mereka yang bergerak pada sektor perdagangan dan buruh atau jasa. Jadi kita bisa memastikan bahwa Tuhan tidak menetapkan perpuluhan dari sektor-sektor tersebut. Karena kalau ada, tidak mungkin hal itu tidak dituliskan. Tentang alasanya, sebaiknya kita tidak berspekulasi agar tidak menimbulkan kerancuan tafsir.  Namun pemahaman ini penting bagi kita untuk mengetahui sifat orisinil perpuluhan yang ditetapkan oleh Tuhan bagi umat Israel yang terikat dengan Taurat tersebut sebagai yang harus dibedakan dengan umat Kristen yang tidak lagi terikat dengan Taurat.

Hal penting lainnya yang harus dipahami adalah bahwa praktek memberi perpuluhan dengan dasar naskah ayat-ayat yang tertera dalam aturan Taurat sangat erat hubungannya dengan eksistensi Bait Allah di Yerusalem sebagai tempat yang dipilih oleh Allah sebagai pusat penyembahan Israel. Perpuluhan untuk pesta Pondok Daun dibawa ke Bait Allah di Yerusalem untuk dinikmati bersama di sana. Perpuluhan bagi orang-orang khusus diserahkan kepada suku Lewi yang berkerja sepenuhnya di Bait Allah, sedangan untuk keperluan orang miskin, yatim piatu, janda-janda, dan orang asing mungkin dapat diserahkan langsung oleh pemberi perpuluhan atau dikelola oleh pejabat Bait Allah ataupun pemerintah. Semua ketentuan ini memiliki konsekuensi tidak tepat jika diterapkan dengan kehidupan rohani kekristenan. Karena gereja dalam segala hal sangat berbeda dengan Bait Allah. Jadi berusaha mencocokkan ayat-ayat terkait perpuluhan dengan konsep Bait Allah dan Taurat untuk diterapkan pada dunia kekristenan adalah usaha pemalsuan kemurnian naskah Alkitab yang memalukan.

Perpuluhan Pada Era Perjanjian Baru

Harus dipahami bahwa yang dimaksud era PB adalah kurun waktu pada masa peristiwa-peristiwa yang tertulis dalam Alkitab PB berlangsung, yakni pada masa hidup Yesus dan para rasul. Jadi harus dibedakan secara jelas antara era PB yang masih sangat erat kaitanya dengan budaya keagamaan PL dengan era kekristenan yang berangsur berubah sejalan dengan pemahaman para rasul terhadap ajaran Tuhan Yesus di bahwah tuntunan Roh Kudus.

Dalam laporan kitab-kitab Injil sangat jelas bahwa Yesus mengajarkan pentinganya memberi persembahan (Matius 6:2,3; 10:42; 14:16; 25:31-46 dan kitab-kitab injil lainnya). Akan tetapi kita harus dengan cermat mengamati bahwa meskipun sudah pasti bahwa Yesus memberi perpuluhan, namun kita juga harus jujur mengakui bahwa hal itu tidak lagi merupakan tekanan pada pengajaran-Nya. Beberapa ayat pada kitab Injil yang sering dipaksakan sebagai landasan untuk melegitimasi praktek perpuluhan pada kekrsitenan diantaranya:

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Matius 23:23 juga Lukas 11:42).

Selain bahwa tujuan Yesus mengucapkan perkataan di atas adalah untuk menegur kemunafikan orang-orang Farisi dan ahli Taurat yang taat pada Taurat namun mengabaikan kepedulian sosial, maka dalam kasus ini Yesus harus dipandang sebagai pribadi yang hidup pada budaya atau tradisi ritual Yahudi yang masih eksis. Yesus adalah sosok pribadi yang hidup sebagai penganut agama Yahudi, bukan Kristen. Oleh karenanya Dia juga adalah pribadi yang tunduk pada aturan Taurat dan dengan demikian juga taat membayar perpuluhan. Akan tetapi tujuan perkataan di atas maupun ajaran-ajaran-Nya yang lain, tidak satupun yang bernafaskan atau bermuara pada misi mempertahankan ritual yang dituntut oleh Taurat di masa depan.

Oleh karena itu sebaiknya kita tidak meletakkan dasar pengajaran apapun di atas praktek ritual keagamaan Yesus yang mengikuti budaya Taurat, termasuk sebagai dasar melegitimasi perpuluhan bagi orang Kristen. Yang kita teladani adalah praktek belas kasih dan kesalehan hidup-Nya. Karena kalau kita memeriksa percakapan Yesus dengan perempuan Samaria dalam Yohanes 4:7-26, maka kita akan menyadari bahwa pada hakikatnya kedatangan Yesus adalah justru dalam rangka menjembatani peralihan dari keterikatan pada hukum Taurat ke hukum kasih. Itu sebabnya pada akhirnya secara lambat laun murid-murid Yesus dapat memahami arti nubuat Yesus tentang Bait Allah ketika berkata “tidak satu batu pun di sini akan dibiarkan terletak di atas batu yang lain; semuanya akan diruntuhkan” (Matius 24:1,2; Markus 13:1,2; Lukas 21:5,6).

Akhirnya secara alami Tuhan telah menggiring para rasul memahami arti penindasan Yudaisme yang menolak kekristenan hingga berujung sepenuhnya terpisah dari Bait Allah dan kemudian beribadah dengan cara yang tidak terikat lagi dengan ritual dan tempat yang ditetapkan dalam Taurat. Kesadaran ini semakin kokoh setelah runtuhnya Bait Allah pada tahun 70 dan yang tidak pernah bisa dibangun kembali hingga saat ini. Bahwa orang Yahudi sekalipun hingga saat ini tidak bisa melakukan ritual keagamaan mereka, termasuk dalam memberi perpuluhan. Adalah aneh jika orang Kristen modern memaksakan praktek pemberin perpuluhan, sementara orang Yahudi tidak melakukannya karena kealpaan Bait Allah. Lebih aneh lagi jika orang Kristen memaksakan perpuluhan yang dianjurkan dalam Taurat, tetapi mengabaikan tuntutan Taurat lainnya dengan dasar ayat-ayat yang sebenaranya tidak boleh terlepas dari eksistensi Bait Allah.

Kita bersyukur karena Tuhan mempersiapkan dan memperkenankan Paulus yang merupakan teolog Yudaisme terkemuka mengambil peran dalam mengurai semua maksud peralihan kebijakan-kebijakan Allah dari PL ke PB ini dalam semua tulisannya. Melalui tuntunan Roh Kudus maka orang-orang yang rendah hati dan bersedia belajar dengan sepenuh hati, meskipun memang diakui tidak mudah (2 Petrus 3:16), namun pada akhirnya akan sampai pada pemahaman yang murni.

Perpuluhan Pada Era Kekristenan

Era kekristenan harus dihitung mulai sejak terpisahnya komunitas orang-orang yang percaya kepada Kristus itu dari kehidupan keagamaan Yudaisme yang berpusat di Bait Allah. Tentu saja hal itu tidak berlangsung secara spontan. Karena pada awalnya murid-murid yang meneruskan teladan dan ajaran Yesus Kristus itu masih mengikuti kegiatan ritual di Bait Allah maupun sinagoe-sinagoge Yahudi sambil terus memberitakan Injil. Progres pemisahan itu terjadi oleh dorongan, pertama-tama oleh perbedaan nilai teologia yang semakin disadari, baik oleh para murid-murid maupun oleh para pemimpin pemegang garis utama paham Yudaisme. Perbedan nilai inilah yang kemudian mendorong timbulnya tekanan hingga aniaya, yang secara alamiah bermuara pada pemisahan yang ditandai dengan pemberian julukan pada sekte baru Yudaisme itu sebagai ‘kristen’, yang berarti para pengikut ajaran dan gaya hidup Kristus (Kisah 11:26).

Pemisahan itu tentu saja berdampak pada tidak dilakukannya lagi ritual keagamaan di Bait Allah seperti yang dituntut dalam Taurat, termasuk praktek memberi perpuluhan yang merupakan salah satu sistem persembahan yang ditetapkan dalam tradisi keyakinan Yahudi. Makanya tidak heran apabila kita tidak menemukan satu pun kata ‘perpuluhan’ dalam kitab-kitab PB yang terhubung dengan pola hidup kekristenan mula-mula. Ketika Paulus menyebut kata ‘perpuluhan’ dalam Ibrani pasal 7, hal itu tidak dalam rangka mengajarkan praktek memberi perpuluhan, melainkan mengutip kisah Abraham sebagai jembatan untuk menjelaskan konsep keimaman Tuhan Yesus yang mengikuti pola Melkisedek (ayat 11), bukan menurut pola imamat Lewi.

Cerita perpuluhan dalam Ibrani pasal 7 diangkat untuk membandingkan konsep imamat Melkisedek dengan imamat Lewi. Kedua konsep imamat ini sama-sama sebagai pihak yang paling berhak menerima perpuluhan. Karena imam adalah lemabaga dan perantara tertinggi dengan Allah yang menjadi alamat diberikannya perpuluhan. Sedangakan jika kita secara jujur memeriksa kitab Ibrani itu dari pasal 6 sampai 8, maka akan sangat terlihat jelas maksud Paulus dalam hal membedakan pola atau konsep keimaman tersebut. Pola keimaman Yesus Kiristus adalah menurut peraturan Melkisedek (Ibrani 5:6,10; 6:20; 7:11,17), dalam hal ini yang berinisiatif datang menyongsong Abraham untuk memberkati (7:1,7), yang keberadannya bersifat kekal (7:3), dan yang keimamannya tidak menurut peraturan manusia (7:16). Sedangkan keimaman suku Lewi hanyalah gambaran yang bersifat sementara dari yang bersifat kekal nanti (7:26-8:1-13). Dalam pasal-pasal ini sangat jelas terilhat paparan Paulus yang mengacu pada peralihan konsep keimaman PL (imamat Lewi) ke konsep keimaman PB yang bersifat sempurna dan kekal (imamat Yesus yang mengikuti cara Melkisedek). Jelaslah bahwa perpuluhan bukan pokok yang ingin dibahas atau dianjurkan Paulus di sini.

Jadi mengambil ayat-ayat dalam kitab Ibrani untuk menjadi dasar melegitimasi keabsahan perpuluhan sebagi praktek yang harus dipertahankan dalam hidup kekristenan adalah suatu pemaksaan yang bersifat manipulatif. Hal ini akan semakin jelas terlihat apabila kita bersedia melihat secara jeli praktek sistem persembahan yang mengagumkan pada komunitas gereja mula-mula yang bertahan hingga beberapa abad kemudian. Gambaran dari praktek budaya ini sangat jelas terekam dalam kitab Kisah Para Rasul:

“Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing” (Kisah 2:44,45).

“Sebab tidak ada seorangpun yang berkekurangan di antara mereka; karena semua orang yang mempunyai tanah atau rumah, menjual kepunyaannya itu, dan hasil penjualan itu mereka bawa dan mereka letakkan di depan kaki rasul-rasul; lalu dibagi-bagikan kepada setiap orang sesuai dengan keperluannya. Demikian pula dengan Yusuf, yang oleh rasul-rasul disebut Barnabas, artinya anak penghiburan, seorang Lewi dari Siprus. Ia menjual ladang, miliknya, lalu membawa uangnya itu dan meletakkannya di depan kaki rasul-rasul” (Kisah 4:34-37).

Tentu saja maksud penjualan harta milik di sini tidak harus berarti melepas semua harta yang dimiliki. Kita bisa memahami yang dimaksud adalah kerelaan orang-orang kaya untuk melepas sebagian harta kekayaannya demi orang yang berkekurangan. Gambaran kegerakan rohani seperti ini dapat terlihat seperti yang pernah terjadi dalam pelayanan Yesus, yakni petobatan Zakheus sang pemungut cukai (Lukas 19:1-10). Betapa besarnya dampak pertobatan yang sejati itu bagi kehidupan nyata. Kini cara hidup seperti itu menjadi sesuatu yang langka dalam kekristenan. Apakah mungkin degradasi kualitas hidup kekrsitenan seperti ini yang mendorong timbulnya gairah pemaksaan Malekai 3:10 sebagai senjata pamungkas yang mudah untuk menekan umat Kristen agar mau memberi kepada gereja dewasa ini?

Dari tulisan Paulus kepada jemaat di Korintus terekam suatu mekanisme pengumpulan dana untuk kepentingan orang-orang kudus:

“Tentang pengumpulan uang bagi orang-orang kudus, hendaklah kamu berbuat sesuai dengan petunjuk-petunjuk yang kuberikan kepada Jemaat-jemaat di Galatia. Pada hari pertama dari tiap-tiap minggu hendaklah kamu masing-masing  —  sesuai dengan apa yang kamu peroleh  —  menyisihkan sesuatu dan menyimpannya di rumah, supaya jangan pengumpulan itu baru diadakan, kalau aku datang” (1 Korintus 16:1-2).

Lebih jauh Paulus menambahkan tentang sikap hati yang benar dalam memberi pesembahan untuk Tuhan:

“Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita” (2 Korintus 9:6,7).

Adanya catatan yang memberi indikasi mekanisme pemungutan persembahan di atas pada gereja mula-mula, seharusnya membuat kita bertanya, masakan dari sekian banyak tulisan Paulus maupun rasul-rasul lainya dalam kitab PB tidak ada satu pun yang menyinggung tentang praktek pemberian atau pemungutan perpuluhan? Maka tidak berlebihan kalau kita mengambil kesimpulan bahwa memang praktek persembahan perpuluhan tidak pernah diterapkan pada gereja mula-mula.

Barulah pada akhir abad kelima mulai muncul gejala usaha penerapan perpuluhan pada gereja Tuhan. Hal ini terdeteksi dari ucapan seorang bapa gereja, Tertullianus, untuk mengendalikan penekanan praktek perpuluhan. Ia mengatakan bahwa perpuluhan harus dilaksanakan secara sukarela. Gejolak ini mengalami peningkatan ke arah yang menjadi keharusan dalam sinode Von Marcon di Perancis pada tahun 585, namun akhirnya lenyap lagi dalam sejarah gereja. Tetapi geliat ide tersebut terkadang muncul dan tenggelam tanpa mengalami kontroversi yang tajam hingga masa reformasi. Marthin Luther sendiri, sang reformator gereja pada abad 16 tidak menganggap praktek memberi perpuluhan sebagai masalah, meskipun tidak menganjurkannya. Sementara gereja Katolik tetatap berada pada tradisi gereja mula-mula untuk tidak melakukan praktek memungut perpuluhan hingga saat ini.

Semangat reformasi yang memicu munculnya aliran-aliran teologia dan juga kemandirian sinode-sinode gereja, tentu saja menjadi lahan subur bagi penetapan perpuluhan sebagai salah satu sumber penghasilan gereja. Geliat ini semakin terasa pada abad 20. Sejarawan gereja Dr.H.Berkhof dan Dr.I.H.Enkalar menulis bahwa perpuluhan muncul di Korea Selatan pada sekitar tahun 1930. Praktek memberi perpuluhan akhirnya ditekankan saat ini menjadi semacam taurat baru, tumbuh dalam gereja-gereja aliran pentakostal dan kharismatis.

Mengetahui kenyataan ini, maka kita harus jujur bahwa meskipun sisi positif dari lahirnya gerakan pentakostal, yakni menerobos kelesuan kerohanian pada geraja arus utama yang berkutat pada masalah-masalah doktrinal, namun juga membawa serta dengannya kelemahan dalam mengabaikan banyak prinsip-prinsip teologis yang berdampak pada penegakan kembali kebijakan-kebijakan Allah dalam Alkitab yang seharusnya sudah harus ditinggalkan. Degradasi disiplin berteologia sebagai dampak negatif dari semangat bebas menafsir oleh mudahnya mendirikan aliran baru dalam gereja, telah menjadi tanah subur bagi penegakan kembali praktek memberi perpuluhan sebagai suatu keharusan.

Menguak Dan Meretas Mitos

Jika kita bersedia jujur mengamati dan menerima fakta di lapangan saat ini, sebenarnya telah terbukti bahwa banyak keluhan dari orang yang setia membayar perpuluhan namun tetap mengalami masalah kekurangan dalam hal keuangan, bahkan banyak yang mengaku semakin susah. Memang ada juga yang bersaksi bahwa kondisi keuangannya semakin diberkati ketika setia memberi perpuluhan. Lalu bagaimana dengan fakta bahwa tanpa memberi perpuluhan, ternyata banyak orang Kristen yang sukses dalam prestasi dan kehidupan keuangannya? Kenyataan ini telah membingungkan banyak umat yang tidak memahami Firman Allah secara memadai akibat pengajaran yang tidak proporsional terkait perpuluhan.

Ketika keluhan seperti ini diajukan, selalu ada dalih yang menjadi alasan para penganjur perpuluhan. Misalnya dengan mengatakan bahwa memberi perpuluhan tidak satu-satunya faktor penyebab diberkati atau tidaknya seseorang dalam bidang keuangan. Biasanya para pengkhotbah tersebut memberi kemungkinan-kemungkina ada dosa yang dilakukan atau usaha yang tidak maksimal dan sebagainya. Alasan ini sering menjadi senjata pamungkas para pendeta yang tidak bertanggung jawab ketika menghadapi umat yang mengeluh. Lalu bagaimana dengan fakta bahwa banyak juga orang Kristen yang secara terang-benderang hidup tidak berkenan kepada Tuhan, juga tidak memberi perpuluhan, tetapi keuangannya tidak bermasalah?

Semua fakta di atas seharusnya dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa ancaman kutuk dan janji kelimpahan yang dilandaskan pada naskah Maleakhi 10 untuk memaksakan praktek perpuluhan bagi kekrsitenan adalah mitos belaka. Ideologi yang tidak sehat ini telah berkembang karena dua alsan yang pasti: Yang pertama karena ketidakmampuan sebagian teolog modern dalam menggali maksud Allah dari Alkitab secara progresif, dan yang kedua adalah tindak kejahatan terselubung yang disengaja oleh pribadi-pribadi tertentu untuk memperdaya umat dalam rangka memenuhi nafsu keserakahannya.

Memang sangat jelas bahwa perpuluhan adalah sistem persembahan yang pernah ditetapkan oleh Allah pada era PL. Oleh karena itu tidak bisa dibantah bahwa amanat memberi perpuluhan adalah Firman Allah. Jadi alasan mengapa praktek ini tidak lagi dilakukan dalam dunia kekristenan mula-mula dan yang kembali dikoreksi oleh beberapa teolog dewasa ini sebagai sesuatu yang tidak lagi menjadi keharusan, bukan karena hal itu tidak alkitabiah atau bukan karena hal itu tidak merupakan Firman Allah, melainkan karena kita harus tunduk pada progres kerja Allah dalam membentuk suatu umat yang beribadah dan berbakti kepada Dia dengan pola pikir dan sikap hati yang tulus dan jujur, bukan karena aturan atau paksaan.

Sebagai Kristen sejati, prinsip dasar kita dalam memberi seharusnya tidak lagi dibatasi atas persentase-persentase yang kaku, melainkan oleh dorongan pikiran dan perasaan yang sudah dibentuk dan dibaharui menjadi semakin serupa dengan Kristus (Filipi 2:5; Efesus 4:21-24; Roma 8:29), sehingga kita akan memberi dalam bentuk apapun dan untuk siapapun sebagai bentuk persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan (Kolose 3:23). Hal ini sangat dimungkinkan oleh beberapa alasan berikut ini:

  • Pertama-tama karena Roh Kudus telah diberikan kepada setiap kita yang akan memberi kesadaran dan menuntun kita sehingga dapat melakukan segala sesuatu dengan cara yang benar (Yohanes 14:26; 16:7). Adapun peran Roh Kudus dalam membimbing kita memang sangat tergantung pada kadar intensitas hubungan kita dengan-Nya dan kadar kesediaan kita mendengar dan menuruti kehendak-Nya. Itu sebabnya kita bisa mengukur salah satu ciri orang yang dipenuhi Roh Kudus seharusnya tidak membatasi diri dalam melakukan yang dapat dilakukan, termasuk dalam hal memberi. Adalah aneh kalau seorang yang dipenuhi Roh Kudus masih pelit dan membatasi diri dalam melakukan hal-hal yang seharusnya dapat dilakukan untuk mengasihi Tuhan dan sesama.
  • Yang kedua karena orang Kristen yang menghayatai Firman Allah dengan benar pasti menyadari bahwa dirinya telah ditebus sehingga sudah sepenuhnya menjadi milik Allah (1 Korintus 6:19,20), yang oleh karenanya kita seharusnya selalu sadar bahwa segala yang kita miliki bukan milik kita lagi, bukan hanya 10 persen, melainkan 100 persen. Di dalam Tuhan kita hanya sebagai orang kepercayaan yang harus mengelola segala yang Dia percayakan untuk kepentingan kemuliaan-Nya.
  • Yang ketiga karena kalau kita sadar bahwa kita adalah hamba Tuhan pelaksana tugas ilahi, maka kita seharusnya tahu sebesar apa kapasitas tanggung jawab yang dipercayakan kepada kita, sehingga kita dapat mengetahui sejauh mana kita bisa melakukan sesuatu, termasuk dalam hal memberi. Karena kepada yang banyak diberi, dari padanya akan banyak dituntut (Lukas 12:47,48). Itu sebabnya seorang Kristen sejati sangat tidak pantas hanya memberi 10 persen apabila ia dapat memberi 50 persen atau 70 persen. Juga sudah merupakan suatu kejahatan apabila seorang penganjur perpuluhan memaksa seseorang harus memberi 10 persen padahal untuk memenuhi kebutuhan hariannya saja dia masih perlu dibantu. Tentu saja ukuran kapasitas kemampuan ini hanya dapat diketahui oleh Tuhan dan pribadi kita masing-masing. Roh Kudus akan berperkara dengan kita tentang bobot kapasitas ini dalam hubungan masing-masing kita dengan Tuhan.

Dari uraian di atas akhirnya kita dapat memahami bahwa terdapat peralihan progresif cara Allah mendidik umat dalam hal memberi; dari cara memberi dengan dorongan aturan ketat (Taurat), ibarat melatih anak yang belum dewasa, dalam hal ini adalah umat Isarael yang terdapat dalam PL, yang kemudian beralih ke cara memberi dengan kesadaran bahwa hidup ini sepenuhnya adalah milik Tuhan, dan oleh karenanya tidak lagi merasa ada bagian dari hidup ini yang menjadi milik pribadi. Dengan dasar pemikiran bahwa seorang yang telah dewasa dapat menakar bobot persembahan yang sepatutnya dia berikan.  Pola pikir dan cara memberi seperti inilah yang dituntut oleh Tuhan dari umat Kristen.

Perpuluhan Dan Kesucian

Sadar atau tidak sadar banyak pengajar dan penganjur perpuluhan terkesan atau mengesankan diri seakan berada di posisi yang benar ketika mengajarkan perpuluhan beralaskan ayat-ayat Alkitab. Padahal ukuran kesucian hidup itu tidak bisa dinilai hanya dari kefasihan menggunakan ayat-ayat Alkitab dan hal-hal yang terlihat di permukaan. Justru kejahatan yang paling menjijikkan di mata Allah adalah ketika seseorang mampu melapisi diri dengan ayat-ayat suci, padahal sesungguhnya telah didorong oleh niat-niat kotor yang terselubung. Dalam hal ini setiap pewarta Alkitab harus selalu mengevaluasi diri dengan rendah hati dalam doa untuk memohon Roh Kudus menerangi hati dan pikiran, agar mengetahui secara jelas apa sesungguhnya motif terdalam saat mengajarkan atau menganjurkan perpuluhan; apakah demi mempertahankan wibawa doktrin yang sudah diwarisi, atau demi kenyamanan stabilitas sumber penghasilan dari jemaat yang dipimpin. Atau yang mungkin lebih parah adalah demi mendapatkan dana segar dalam rangka mencapai ambisi-ambisi tertentu. Apabila karena kebodohan, maka tulisan ini adalah petunjuk untuk berbenah.

Ingatlah bahwa pada pengadilan terakhir nanti semua hal ini akan terang-benderang di Mata Tuhan yang suci ketika semua kitab kehidupan kita dibuka. Adalah lebih baik ketika pembaca sadar oleh tulisan ini, meminta Roh Kudus membimbing ke arah pertobatan, sehingga rela berkorban untuk rugi sementara, sampai Tuhan membuka sumber-sumber yang berkenan kepada-Nya. Memilih untuk lebih giat mengajarkan dan menganjurkan umat agar memberi persembahan dengan konsep yang benar adalah lebih membanggakan Tuhan, ketimbang memilih mempertahankan doktrin yang sudah disadari salah, hanya karena ketakutan kehilangan kenyamanan dari memperoleh persembahan yang diberikan karena terpaksa. Percayalah bahwa Allah berkuasa menolong setiap kita yang berikhtiar hidup berkenan kepada-Nya.

Sikap Terhadap Doktrin Yang Ada

Harus diakui bahwa mengubah sesuatu yang sudah menjadi kebiasaan itu adalah sesuatu yang sulit. Rintangan yang paling sulit mungkin bagi para pendeta yang menggembalakan dalam satu sinode yang telah menetapkan doktrin tentang perpuluhan menjadi anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/RT) yang harus dipatuhi. Saran penulis adalah, tetaplah patuh pada aturan tersebut karena alasan patuh kepada pemimpin seperti yang dianjurkan oleh Tuhan. Setorlah perpuluhan karena alasan kasih sambil terus berdoa agar pada waktunya Tuhan membuka pikiran para fungsionaris organisasi untuk membenahi AD/RT yang ada. Justru adalah suatu kesalahan apabila karena tahu kebenaran lalu melanggar suatu kebenaran. Mengerti bahwa praktek memberi perpuluhan tidak lagi merupakan keharusan dalam kekristenan adalah suatu kebenaran, tetapi tunduk pada atruan yang ditetapkan oleh sinode tempat Anda begabung juga adalah kebenaran. Kecuali Anda telah memutuskan untuk beralih dan bergabung pada suatu sinode yang sesuai dengan pemahaman Anda.

Mungkin ada pertanyaan, “bagaimana kalau sinode tempat kita berada memungut perpuluhan dengan dasar ayat-ayat Alkitab seperti yang dikemukakan di atas, sementara kita telah memahami bahwa hal itu salah”? Jawabnya adalah, selama Anda berada di bawah naungan sinode tersebut, maka Anda wajib memberi perpuluhan sesuai yang diaturkan! Tetapi sebagai seorang yang telah memahami kebenaran, sebaiknya Anda tidak membatasi pemberian Anda jika ternyata mampu memberi lebih dari perpuluhan. Dan jangan pernah lagi memberi dalam bentuk apapun oleh dorongan karena takut dikutuk atau karena ingin menjadi kaya raya. Karena Anda ditebus Kristus bukan untuk memiliki pikiran dan perasaan seperti itu.

Tidak perlu gusar dan merasa risih ketika memberi, karena tidak ada yang salah dalam memberi asalkan dialasi dengan niat tulus dan sukarela. Tetapi sebaiknya jangan lagi mengajarkan dan menganjurkan perpuluhan kepada umat dengan dasar ayat-ayat Alkitab secara keliru. Didiklah agar semua orang percaya bergairah memberi dengan tulus dan jujur: Tulus artinya memberi karena kasih dan cinta kepada Tuhan, dan jujur artinya memberi sesuai takaran kemampuannya dalam memberi. Yang bisa memberi banyak tidak boleh pelit, yang bisa memberi sedikit tidak boleh berkecil hati, dan yang belum bisa memberi karena ada masalah, harus bersabar dan berusaha agar pada waktunya dapat dengan lega memberi kepada Tuhan. Dengan sikap memberi seperti ini umat Tuhan akan diberkati secara melimpah.

Apabila umat dididik mengasihi Tuhan secara benar maka mereka akan memberi persembahan dengan cara yang benar. Mereka akan digerakkan oleh kasih untuk memberi dengan takaran yang didorong oleh kejujuran dan ketulusan hati. Umat yang mengalami perjumpaan dengan Allahnya tentu akan paham bahwa yang diberi banyak dituntut banyak (Lukas 12:48), sehingga tidak ada umat yang pelit. Sayangnya banyak para pengajar Alkitab dewasa ini yang sudah terjebak dalam zona nyaman, sehingga terpaku hanya kepada beberapa ayat yang mudah digunakan untuk mengancam dan memikat umat. Ketidaksediaan untuk belajar dan keengganan untuk berubah adalah satu dosa yang kelak akan dituntut pada masa penghakiman, terlebih setelah ada tulisan yang mengingatkan seperti ini.

Maka jika ingin menerapkan praktek memberi atau memungut perpuluhan, sebaiknya hal itu tidak didasarkan pada semua ayat-ayat Alkitab terkait perpuluhan yang sudah terbukti tidak cocok diterapkan dalam kehidupan kekristenan. Praktek memberi dan memungut perpuluhan bisa saja dilakukan atas kesepakatan satu oragnisasi, yang harus ditaati dengan sukarela. Tetapi bagi siapapun yang memahami pemaparan tulisan ini dengan baik, seharunya tidak perlu fanatik lagi dengan persentase dalam hal memberi kepada Tuhan. Sebaiknya dorongan memberi tidak lagi didasarkan pada tekanan intimidasi kutuk maupun janji sukses material, melainkan karena sadar bahwa semua yang ada dalam hidup ini adalah titipan Allah yang harus dipersembahkan sepenuhnya bagi kemuliaan Allah. Dengan demikian dorongan memberi telah didasarkan oleh perasan kasih yang tulus kepada Allah.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *