Abnormal

Melihat Tragedi Sebagai Alat Tuhan Mewujudkan Progres Rencana-Nya

Sangat lazim jika suatu bencana, mulai dari pengalaman buruk berskala kecil hingga malapetaka yang menelan banyak korban dan kerugian, ditolak dan berusaha diantisipasi agar tidak terjadi. Apabila hal itu terjadi, bagi kaum agamis mistis secara spontan akan menganggap hal itu sebagi ulah Iblis yang harus diperangi dengan memohon kuasa Tuhan untuk menghadapinya. Tetapi sebagaian kaum religius mungkin akan melihat hal tersebut sebagai pukulan dari Tuhan atas dosa-dosa yang dilakukan, sehingga reaksi spontanya adalah pengakuan dosa dan upaya pertobatan. Rasanya sangat aneh jika suatu petaka diresponi dengan ucapan syukur sebagai wujud niat baik dari Tuhan. Tetapi apakah hal itu mungkin?

Tidak bisa dipungkiri bahwa suatu petaka besar biasanya akan berdampak pada perubahan di berbagai bidang kehidupan, mulai dari perubahan ketahanan ekonomi, berbagai struktur, hingga perubahan gaya hidup atau budaya. Seperti misalnya bencana alam yang bisa mengubah tata kota, atau bencana epidemi penyakit yang mengubah tata hubungan sosial. Kita menyebut semua ini sebagai suatu situasi ‘abnormal’ untuk menyatakan situasi yang tidak lagi normal atau sebagaimana biasanya. Dampak dari suatu bencana yang tidak tetap dan mudah diantisipasi akan dengan sendirinya kembali pada situasi normal seperti sedia kala. Pada kasus seperti ini tidak terjadi perubahan budaya. Namun keadaan abnormal yang berdampak pada perubahan tetap, hal itu akan menjadi sesuatu yang ‘normal’ di kemudian hari, atau lazim disebut sebagai “new normal”. Pada kasus seperti ini telah terjadi suatu perubahan budaya.

Secara naluriah dan secara alami, pada hakikatnya manusia selalu menginginkan terjadinya perubahan. Hal itu sudah merupakan kodrat yang diturunkan dari Sang Pencipta. Adanya pikiran dan perasaan akan mendorong adanya kemauan untuk melalukan perubahan (Filipi 2:5,13). Lihatlah gedung-gedung pencakar langit di perkotaan dan logam berat yang bisa terbang sebagai alat transportasi di udara. Ini adalah sebagian kecil yang menjadi bukti perubahan signifikan yang dilakukan manusia. Perubahan seperti ini telah dilakukan secara sengaja melalui proses alamiah. Perubahan memang selalu bisa terjadi melalui berbagai faktor, baik yang bersifat disengaja maupun tidak disengaja. Perubahan yang ditimbulkan oleh bencana bisa kita kategorikan sebagai perubahan yang bersifat tidak disengaja.

Lepas dari perspektif manusiawi, Alkitab telah memuat catatan sejarah perubahan yang merupakan interfensi Allah melalui malapetaka. Jika disimak secara seksama, maka hampir tidak mungkin cara perubahan seperti itu dapat dinalar oleh manusia. Memahami bahwa perubahan seperti ini telah dilakukan olah Allah secara terencana, hingga saat ini belum menjadi kesadaran yang umum, bahkan bagi pemegang Alkitab itu sendiri sebagai kitab kepercayaannya. Hal ini terutama disebabkan oleh miskinnya pengetahuan umat tentang rencana utama atau rencana besar Allah yang terkandung di dalam Alkitab secara tersirat. Pada umumnya Allah yang diperkenalkan di dalam Alkitab itu hanya dipandang sempit sebagai pencipta dan pelindung ciptaan-Nya saja. Padahal ada rencana agung yang tersirat dan yang seharusnya dapat digali oleh setiap orang percaya agar dapat menilai dan bersikap secara proporsional terhadap berbagai peristiwa di dunia ini.

Sangat sedikit orang yang berupaya memahami apa sesungguhnya yang merupakan kehendak dan rencana kekal Allah di dalam Alkitab itu. Sehingga peristiwa-peristiwa besar termasuk bencana tidak pernah kunjung bisa dipahami sebagai tindakan Allah untuk melanjutkan perwujudan rencana utama-Nya. Padahal secara gamblang telah terekam di dalam Alkitab berbagai peristiwa petaka; mulai dari bencana air bah yang pernah menelan bumi (Kejadian 6-8), kekacauan bahasa di Babel (Kejadian 11:1-9), kelaparan yang melanda dunia (Kejadian 43-46), penindasan kejam Firaun terhadap bani Israel (Keluaran 1-14), pembuangan bangsa Israel ke Babel (2 Raja-raja 25:1-21), serbuan jenderal Titus ke Yerusalem pada tahun 70, hingga petaka-petaka yang akan melanda bumi yang diwahyukan kepada Yohanes (Wahyu 6-9), yang kalau diteliti secara saksama juga telah terbukti membawa perubahan yang direncanakan oleh Allah secara bertahap. Timbul pertanyaan, apa sesungguhnya yang paling diinginkan oleh Allah dari semua tindakan yang bermuara pada perubahan demi perubahan itu?

Jawabnya adalah, terciptanya hubungan yang ideal antara Dia (Allah) dengan manusia sebagai maha karya-Nya! Bentuk hubungan ideal ini telah ditegaskan melalui perkataan Putera tunggal-Nya yang telah menjadi manusia ketika Ia berbicara dengan perempuan Samaria:

Kata Yesus kepadanya: “Percayalah kepada-Ku, hai perempuan, saatnya akan tiba, bahwa kamu akan menyembah Bapa bukan di gunung ini dan bukan juga di Yerusalem. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, kami menyembah apa yang kami kenal, sebab keselamatan datang dari bangsa Yahudi. Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian. Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran” (Yohanes 4:21-24).

Hubungan yang ideal antara Allah dengan manusia itu adalah hubungan dengan konsep dan prinsip “penyembah dalam roh dan Kebenaran”. Konteks dekat dari ucapan Yesus ini adalah berbicara tentang posisi Bait Allah sebagai pusat peribadatan bagi orang Israel di Yerusalem, dan Rumah Tuhan di gunung Gerizim bagi orang Samaria. Memang ketika dinyatakan bahwa pada waktunya orang tidak lagi menyembah di tempat-tempat tersebut, belum jelas bagaimana keadaan tempat-tempat itu di kemudian hari. Kini telah menjadi jelas ketika jenderal Titus pada tahun 70 meluluhlantahkan tempat itu dan yang tidak pernah terbangun lagi hingga saat ini.

Namun esensi dari nubuat itu ternyata tidak sekedar kehancuran tempat yang tidak bisa digunakan lagi, melainkan pada tata cara beribadah dan sifat hubungan Allah dengan umat yang berubah, yakni dalam roh dan Kebenaran, yang berarti tidak lagi lagi terikat dengan ruang dan waktu dengan segala ritual agamis seperti yang biasa mereka lakukan di Bait Allah. Bentuk hubungan itu tidak lagi diukur dari praktek lahiriah berupa pengorbanan hewan dan tata cara aturan yang ketat, melainkan pada kondisi hati yang tulus di segala situasi dan tempat. Namun bagaimana proses perubahan ini bisa dipahami dan berlangsung?

Degradasi Hubungan

Pada awalnya hubungan antara Allah dengan manusia itu berlangsung secara harmonis. Kondisi ini dimungkinkan karena memang manusia itu diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, yang di dalam gambar itu terdapat pikiran, perasaan, dan kehendak menurut model yang juga ada pada Allah. Kesamaan ini diadakan untuk tujuan agar dapat berkomunikasi selaras dengan Allah. Namun sangat disayangkan hubungan itu rusak ketika manusia membuka hubungan dengan Iblis sebagai penyebab masuknya dosa yang merusak kualitas hubungan itu. Dalam Alkitab dikatakan bahwa “semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah” (Roma 3:23). Dalam naskah aslinya kata ‘kehilangan’ adalah hustereo, yang lebih tepat diartikan sebagai ‘kekurangan’ atau menjadi merosot.

Fakta merosotnya kemuliaan yang juga menyebabkan merosotnya hubungan ini secara jelas diungkap pada Kejadian 6:5-7; “bahwa kejahatan manusia besar di bumi dan bahwa segala kecendrungan hatinya selalu membuahkan kejahatan semata-mata”. Akan tetapi karena besar kasih-Nya kepada manusia, Allah telah merencanakan sebelumnya untuk memberi peluang agar hubungan itu bisa dipulihkan lagi bagi yang meresponinya. Program pemulihan ini dimulai dari pemanggilan Abraham sebagai cikal-bakal suatu bangsa yang akan menjadi sarana turunnya Kristus sebagai penyelamat dunia (Kejadian 12:1-3). Tetapi supaya menjadi lebih jelas, kita harus tahu bagaimana alunan proses terjadinya pemulihan hubungan itu dalam fakta sejarah yang terekam dalam Alkitab.

Upaya Pemulihan Hubungan

Meskipun pada dasarnya Allah menginginkan kehidupan manusia itu berlangsung secara normal dan tenang, tetapi oleh karena dosa maka tatanan normal dan tenang itu telah berakibat pada kondisi abnormal. Bumi terkutuk dan berdampak menyusahkan manusia (Kejadian 3:16-19). Jadi kondisi yang kita jalani saat ini sampai hari kedatangan Tuhan Yesus kembali nanti sebenarnya adalah kondisi abnormal dari kondisi normal sebelum manusia jatuh ke dalam dosa atau dari perspektif Tuhan. Keadaan normal itu akan kembali kelak di kekekalan nanti setelah pemulihan segala sesuatu dan penciptaan kembali (Kisah 3:21; Matius 19:28). Bagi kita yang sudah lahir dan hidup dalam dunia yang berdosa (setelah Adam dan Hawa), kehidupan yang kita jalani ini akhirnya kita anggap sebagai sesuatu yang normal, padahal sesungguhnya tidak bagi Tuhan. Keadaan abnormal dalam perspektif kita adalah ketika ada perubahan karena adanya peristiwa insidental dalam lingkup abnormalnya Tuhan itu. Itulah tragedi-tragedi kehidupan yang kita alami di sepanjang kehidupan di dunia ini.

Jadi pada hakikatnya, baik Tuhan maupun manusia, menginginkan kondisi yang normal dan tenang untuk dijalani. Tetapi perubahan karena dosa itulah maka kondisi abnormal akan senantiasa menjadi pengalaman kita dan yang akhirnya Tuhan gunakan untuk mencapai pemulihan hubungan normal-Nya dengan manusia seperti yang direncanakan dan dikehendaki-Nya sejak semula. Kebenaran penggunaan situasi abnormal inilah yang akan kita coba buktikan melalui petaka-petaka yang tercatat dalam Alkitab.

Misalnya petaka pembuangan umat Tuhan melalui penaklukan Nebukadnezar atas Yerusalem. Petaka ini menjadi salah satu contoh yang membuktikan bahwa dengan cara ini akhirnya Allah telah mengakhiri praktek penyembahan berhala yang tidak kunjung selesai pada zaman raja-raja sebelumnya. Di tempat pembuangan (Babel) lah bangsa itu mulai mendirikan tempat-tempat untuk mendalami Taurat dan yang berlanjut hingga kembalinya bangsa itu ke Kanaan dalam bentuk Sinagoge-Sinagoge. Pada paska pembuangan justru bangsa itu sudah sedemikian taatnya terhadap Taurat yang akhirnya melahirkan kelompok-kelompok fanatik seperti ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi.

Akan tetapi langkah puncak Allah sesungguhnya bukan sekedar melepaskan umat dari penyembahan berhala dan kefanatikan pada tata ibadah, melainkan pada pemulihan hubungan secara batiniah seperti yang direncanakan oleh Allah sebelum kejatuhan manusia ke dalam dosa. Bentuk hubungan inilah yang dinyatakan oleh Yesus sebagai “penyembahan dalam roh dan Kebenaran”. Untuk melanjutkan pembenahan hubungan ini maka Allah menghadirkan lagi petaka tahun 70 oleh jenderal Titus untuk mengakhiri zaman fanatisme ritual keagamaan Taurat yang berpusat di Bait Allah tersebut. Akhirnya bentuk hubungan ideal itu terwujud dalam komunitas kekristenan.

Sesungguhnya kekristenanlah yang merupakan wujud hubungan yang ideal antara Allah dengan manusia itu. Secara alami akhirnya para rasul dan orang-orang percaya mula-mula menyadari bahwa Bait Allah dengan segala praktik ritualnya tidak dibutuhkan lagi. Proses pemisahan Yudaisme dengan kekristenan secara sepenuhnya terjadi ketika simbol keagamaan Yuadisme itu tidak lagi terbangun hingga saat ini. Praktek penyembahan dalam roh dan Kebenaran sebagai wujud hubungan batiniah yang sejati adalah pengalaman nyata pada gereja mula-mula abad pertama hingga kira-kira abad kedua. Mereka beribadah dari rumah ke rumah dengan bentuk yang spontan tanpa ikatan liturgi yang kaku. Kadang-kadang harus di tempat yang tersembunyi karena hebatnya aniaya. Banyak yang harus menyerahkan nyawanya, namun jumlah mereka semakin bertambah. Roh mereka benar-benar mengalami pembaruan sehingga tercipta hubungan batin yang sangat kuat dengan Tuhan. Tekanan dan perubahan situasi tidak akan mempengaruhi niat dan semangat mereka untuk tetap beribadah kepada Tuhan. Mereka benar-benar beribadah bukan karena aturan dan kondisi, meainkan karena dorongan cinta kepada Tuhan.

Akan tetapi sangat disayangkan karena kualitas hubungan menyembah dalam roh dan Kebenaran itu akhirnya mengalami degradasi juga setelah peninggalan para rasul dan bapa-bapa gereja. Hadirnya aturan-aturan yang bersifat doktrinal dan terlebih setelah kekristenan diterima sebagai agama yang sah bagi Negara oleh kaisar Konstantinus Agung, maka degradasi nilai hubungan itu semakin terpuruk. Tanpa sadar status gereja sudah sepenuhnya berbentuk agama dengan segala ritual-ritual ketatnya. Hubungan dalam roh dan Kebenaran akhirnya diganti dengan liturgi yang selaras dengan nafas ritual di Bait Allah. Puncak dari penyelewengan nilai-nilai luhur kekristenan terjadi ketika keselamatan dari belenggu kematian diajarkan melalui persembahan untuk pembangunan gedung gereja yang memicu reformasi dan perpecahan gereja pada abad 16.

Kini bahkan arti “menyembah dalam roh dan Kebenaran” itu sendiri sudah dikerdilkan sedemikian jauh hanya pada ikatan ritual bahasa roh yang sudah salah kaprah. Karena bahasa roh telah diklaim sebagai bentuk penyembahan dalam roh, bahkan menjadi bagian dari liturgi ritual di gereja. Bagi penganut paham ini, bahasa roh sudah menjadi semacam penenang perasaan religius tanpa perlu berperkara lagi dengan perubahan karakter. Lebih jauh bentuk-bentuk persembahan dalam Perjanjian Lama (PL) dan ritual jiarah ke Tanah Perjanjian telah dihidupkan kembali hampir menjadi semacam kewajiban secara rutin bagi kelompok tertentu dalam gereja dewasa ini.

Tetapi kita tidak perlu cemas atas keadaan ini, karena untuk hal ini Allah akan berperkara lagi dengan petaka-petaka yang sudah disiapkan. Berbagai bencana termasuk wabah penyakit akan menjadi alat Tuhan untuk mengembalikan umat pada hubungan ideal yang Dia rencanakan. Kelak oleh berbagai peristiwa, bangunan-bangunan gereja megah akan semakin tidak berfungsi lagi seperti yang sudah terjadi di dunia Barat saat ini. Berbagai petaka akan Tuhan hadirkan untuk mengikis eksistensi bergereja dengan pengagungan ritual liturgis dan pendewaan sosok figur manusia. Dunia yang kita diami ini memang sudah ditakdirkan akan semakin rusak dan pada akhirnya menjadi lautan api (2 Petrus 3:7) untuk digantikan dengan langit baru dan bumi yang baru (Yesaya 65:17; 66:22; 2 Petrus 3:13; Wahyu 21:1).

Penyesatan oleh penyelewengan arti sejati nilai-nilai kebenaran alkitabiah memang akan sukses gemilang seperti yang sudah diperingatkan Tuhan Yesus (Lukas 17:1), namun hal itu justru akan menjadi bagian dari pemurnian pribadi-pribadi yang akan semakin dekat dengan Allah dalam praktek penyembahan dalam Roh dan Kebenaran yang sejati.

Dari pemahaman di atas maka kita akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa masalah adalah alat yang paling baik di tangan Tuhan untuk mewujudkan rencana-Nya. Jadi sudah bisa dipastikan bahwa tanpa masalah tidak mungkin Allah melakukan pemulihan dan penciptaan kembali. Pemahaman ini harusnya membawa kita pada tingkat kedewasaan berpikir dalam dimensi supra alami. Bahwa tidak selamanya atau tidak seharusnya lagi kita berpikir suatu petaka atau tragedi yang terjadi dalam hidup ini selalu merupakan ulah Iblis. Karena petakalah yang terbukti dan yang akan selalu Tuhan pakai menjadi sarana perubahan demi perubahan menuju pemulihan pada kondisi normal seturut rencana-Nya yang semula. Tentu saja pemahaman seperti ini hanya bisa dipahami oleh orang-orang yang sudah masuk pada dimensi perspektif rencana Allah dari kekal hingga kekal. Bukan dimensi perspektif manusia yang hanya melihat kepentingan sesaatnya selama hidup ini.

Yudha Bright

Satu Komentar pada “Abnormal”

  1. Mantap yudha bright🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *