Corpus Delicti

Meninjau Kemungkinan Tujuan Lain Penciptaan Manusia

Jika kita bersedia secara cermat menelusuri kandungan Alkitab, baik melalui pengamatan secara eksplisit maupun implisit, maka kita akan dapat melihat lebih dari satu tujuan Allah menciptakan manusia. Kita akan melihat betapa agung dan kayanya hikmat dan rencana Allah tertata secara sempurna. Dari pengulangan perintah agar umat Tuhan mengasihi-Nya sebagai hukum yang utama (Ulangan 6:5; Imamat 19:18; Matius 22:36-40) telah memperlihatkan secara gamblang bahwa manusia telah diciptakan sebagai objek kasih bagi Tuhan, dan untuk sebaliknya manusia dapat mengasihi-Nya. Hal ini sudah jelas merupakan salah satu tujuan Allah menciptakan manusia.

Tetapi jika kita hendak menggali tujuan penciptaan manusia itu secara lebih mendalam, maka menurut penulis kita harus kembali pada perintah pertama kala manusia itu diciptakan. Dalam hal ini kita akan berurusan dengan Kejadian 1:26-28. Dengan mengamati naskah terkait penciptaan dan penugasan atas manusia ini, akhirnya kita bisa menyimpulkan bahwa tujuan utama penciptaan manusia adalah “sebagai representasi Allah dalam menjalankan kuasa-Nya di atas bumi dan atas segala makhluk yang ada di dalamnya”. Tidak mudahnya mengemban tugas ini menjadi alasan sehingga Allah menciptakan manusia itu dengan memberi potensi diri-Nya, yakni kepemilikan ‘gambar’ dan ‘rupa’-Nya kepada manusia. Menggali maksud dari kata ‘gambar’ dan ‘rupa’ ini adalah kunci untuk dapat memahami maksud penciptaan manusia secara lebih mendalam.

Dalam bahasa Ibrani kata ‘gambar’ adalah ‘tselem’, sedangkan kata ‘rupa’ adalah ‘demuth’. Penjelasan arti kedua kata ini dalam kamus Ibrani, sepintas lalu hampir sama. Arti kedua kata itu semua mengacu pada arti, “memiliki kesamaan”. Namun jika diteliti secara cermat, sesungguhnya kedua kata itu memiliki perbedaan yang signifikan. Kata tselem itu sebenarnya ingin mengungkap kesamaan Allah dengan manusia dalam bentuknya (model). Artinya bahwa hal-hal yang ada pada Allah, diberikan atau terdapat juga pada manusia. Kesamaan ini tentu saja bukan dalam bentuk fisik atau lahiriah, melainkan dalam bagian internalnya atau batiniahnya. Karena Allah itu Roh adanya, jadi manusia tidak bisa disamakan dengan Allah dalam hal fisik. Sedangkan kata demuth itu mengacu pada tingkat kualitas keserupaannya yang berlangsung secara progresif waktu demi waktu hingga mencapai tingkat tertentu sesuai tujuannya. Itu sebabnya kata demuth tidak disebut lagi pada ayat 27-nya, karena memang belum ada (belum bertumbuh) saat eksekusi penciptaan manusia itu. Tetapi sebelum kita lebih jauh mendalami pengertian kata demuth ini, maka kita harus terlebih dahulu mencari tahu apa dan seperti apa sesungguhnya yang dimaksud dengan kata tselem itu?

Sebagai ayat pendukung pada teori di atas, kepada kita juga telah diberitahu bahwa manusia itu telah dibekali oleh Allah dengan ‘roh’ (ruach) yang berasal dari nafas Allah, yang dalam bahasa Ibrani disebut ‘neshamah’ (Kejadian 2:7; Ayub 32:8). Tidak adanya petunjuk secara langsung tentang apa sesungguhnya yang dihasilkan oleh terjadinya pertemuan ‘tubuh’ (aphar) dengan ‘roh’ (ruach dari neshamah) itu dalam Alkitab, mendorong kita untuk bisa melakukan pendekatan yang paling mungkin. Dalam hal ini kita menemukan antropologi Paulus tentang adanya ‘jiwa’ di antara roh dan tubuh tersebut (1 Tesalonika 5:23). Meskipun ada beberapa teori yang telah diajukan tentang hal ini, tetapi penulis lebih setuju bahwa jiwa adalah merupakan hasil perpaduan dari tubuh dan roh. Karena penggalian tentang isi dari jiwa itu, yang akan kita lakukan selanjutnya, harus bisa dikaitkan dan saling mendukung dengan komponen-komponen lainnya dari manusia yang telah disebutkan sebelumnya.

Penjelasan tentang isi atau apa sesungguhnya yang ada dalam jiwa manusia pun tidak tertera secara langsung dalam Alkitab, yang karenanya juga kita harus mengadakan pendekatan yang paling mungkin. Dari tulisan Paulus pada Filipi 2:5 kita mendapat petunjuk bahwa manusia bisa memiliki atau “menaruh ‘pikiran’ dan ‘perasaan’ seperti yang terdapat dalam Kristus”. Adanya pikiran dan perasaan tentu saja akan menghasilkan potensi ‘berkehendak’ atau kemauan seperti yang disebut pada ayat 13 nya. Dengan temuan ini akhirnya kita bisa memahami adanya “kehendak bebas” atau “freewill” yang memberi hak memilih kepada manusia untuk taat atau tidak kepada Allah. Jika kita merenungkan secara seksama, maka kita dapat menyimpulkan bahwa ketiga komponen inilah (pikiran, perasaan, dan kehendak) yang terdapat dalam jiwa manusia itu, dan ketiga komponen itu jugalah yang merupakan kesamaan tselem manusia dengan Allah.

Jadi arti keserupaan dalam kata ‘tselem’ adalah, terdapatnya kesamaan komponen-komponen potensial, yakni: pikiran, perasaan, dan kehendak, yang ada pada Allah, juga diberikan kepada manusia. Dalam hal inilah terdapat perbedaan esensial manusia dari makhluk ciptaan lainnya yang ada di bumi. Dengan kesamaan potensi ini jugalah maka manusia dimungkinkan “menjadi representasi Allah dalam menjalankan kuasa-Nya di atas bumi dan atas segala makhluk yang ada di dalamnya”. Dengan uraian ini maka kita telah menemukan tujuan yang kedua manusia diciptakan selain sebagai objek kasih Allah. Selanjutnya kita akan menggali tujuan yang terkait dengan judul tulisan ini.

Kata kedua dalam Kejadian 1:26 adalah ‘demuth’. Kata ini lebih menunjuk pada tingkat kesamaan kualitas dari komponen-komponen (pikiran, perasaan, dan kehendak) tersebut, yang pada saat diberikan belum mencapai kesamaan dengan Allah, karenanya tidak disebut pada ayat 27 saat eksekusi penciptaan itu. Sesungguhnya inilah yang menjadi target Allah agar mencapai kesempurnaan melalui proses dan progres waktu demi waktu, namun yang kemudian mendapat gangguan dari Iblis. Kejatuhan manusia ke dalam dosa membuat proses dan progres pertumbuhan demuth ini mengalami hambatan bahkan degradasi. Kerusakan demuth ini, selain diperlihatkan pada kualitas moral Kain yang membunuh Habel dan semakin parah dalam keturunan selanjutnya pada Kejadian 4, juga terlukis pada sebutan kualitas keturunan Adam (Set) yang “menurut ‘rupa’ (demuth) dan ‘gambar’ (tselem)-nya” pada pasal 5:3, yang tidak lagi menurut gambar dan rupa Allah. Penyebutan terbalik yang mendahulukan demuth sebelum tselem, menujukkan peran model Allah sudah merupakan hal yang sekunder, dan karena pengaruh orangtua pada pertumbuhan mental seseorang sudah mulai terbentuk mulai dalam kandungan. Hal ini juga dapat dijelaskan secara psikologis.

Melalui penyingkapan ini kita akhirnya bisa memahami mengapa Yesus berkata “Karena itu hendaklah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna” (Matius 5:48). Bahwa target penyempurnaan yang dimaksud oleh Yesus adalah dalam hal bobot demuth atau kualitas pemilikan pikiran, perasaan, dan kehendak seperti yang terdapat juga di dalam Bapa, yang telah diteladankan dalam praktek hidup Putera Tunggal-Nya Yesus Kristus selama menjadi manusia.

Kita bersyukur bahwa Allah memang telah menetapkan bertambahnya pengetahuan akan berlangsung secara alamiah dan progresif (Daniel 12:4) selaras dengan progres peningkatan kualitas demuth manusia itu. Dalam hal ini perkembangan ilmu teologia dengan metode penafsiran hermeneutis telah turut memberi sumbangsih dalam berkembangnya kemampuan menalar muatan Alkitab secara implisit. Dengan demikian kita semakin dimampukan untuk dapat melihat dimensi lainnya dari tujuan manusia diciptkan. Salah satunya adalah menjadi “corpus delicti”. Jika teori ini dapat dipahami maka kita akan menemukan suatu rencana Allah yang lebih mengagumkan atas manusia dari pada sekedar menjadi objek kasih dan representasi Allah.

Istilah “corpus delicti” memang tidak ada dalam Alkitab. Istilah ini adalah bahasa Latin yang berarti “badan kejahatan”. Istilah ini merujuk hukum peradilan pidana Barat untuk menyatakan suatu prinsip, bahwa suatu tuduhan kejahatan bisa ditindak dalam peradilan hukum adalah dengan adanya bukti-bukti fisik kejahatan. Misalnya, seseorang tidak dapat dihukum karena tuduhan melakukan pembunuhan tanpa ada bukti mayat yang mati karena dibunuh. Dengan bukti utama ini maka penyelidikan dapat dikembangkan pada proses selanjutnya. Lalu apa kaitan istilah ini dengan tujuan penciptaan manusia? Hubungannya adalah dengan tindak kejahatan yang telah dilakukan Iblis terhadap Allah.

Secara alegoris para teolog umumnya sepakat bahwa ‘Lucifer’ adalah pribadi Iblis yang diacu dalam Yesaya 14:12-19 dan Yehezkiel 28:12-19, dengan mengambil raja Babel dan Raja Tirus sebagai tipologinya. Anda dapat mendalami hal ini dari berbagai buku-buku tafsir atau tulisan dari penulis perihal Lucifer. Pada Yesaya 14:13,14 kita temukan apa yang menjadi tindak kejahatan Iblis ini, yakni “hendak naik menyamai Yang Maha Tinggi”. Inilah kejahatan Iblis. Motif pemberontakannya bukanlah untuk menaklukkan Allah, melainkan ingin menjadi sama seperti Allah dalam hal memiliki kerajaan independen. Karena untuk menaklukkan Allah adalah sesuatu yang mustahil. Iblis pasti sadar akan hal itu. Jadi yang dia inginkan hanyalah status independen atau tidak lagi tunduk pada otoritas Allah.

Pertanyaanya, apa kira-kira pertimbangan yang membuat Iblis memiliki harapan akan terwujudnya independensi tersebut? Tidakkah Allah melarang atau tidak mengizinkan Iblis dengan para pengikutnya untuk mendirikan pemerintahan tersendiri? Jawaban untuk ini adalah ‘tatanan’. Allah telah menetapkan suatu tatanan yang menjadi hukum, bahwa semua ciptaan yang diberi kebebasan berkehendak (freewill), dalam hal ini adalah para malaikat termasuk Iblis dan manusia, agar bersedia tunduk kepada-Nya atas pilihan dan kerelaan mereka masing-masing. Oleh karenanya Allah akan menjaga ketetapan ini sebagai integritas diri-Nya, sehingga tidak akan bertindak di luar ketetapan tersebut.

Hukum kehendak bebas ini sangat jelas terlihat pada Iblis dari kalimat “hendak menyamai Yang Maha Tinggi” (Yesaya 14:13), juga penempatan pohon pengetahuan yang baik dan jahat di Taman Eden sebagai kontrol bukti kesetiaan bagi Adam dan Hawa (Kejadian 2:16,17). Artinya semua ciptaan yang diberi kehendak bebas, telah ditetapkan sebagai makhluk yang memiliki pikiran, perasaan, dan dengan demikian juga kehendak bebas untuk menentukan kesediaan untuk tunduk kepada Allah atau tidak. Dalam hal ini Iblis telah memilih untuk tidak tunduk kepada Allah.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apa yang membuat Iblis berpikir bahwa Allah tidak akan membinasakan atau menghukumnya seketika ia melakukan pemberontakan? Jawabnya juga adalah karena integritas Allah dalam menegakkan tatanan lain yang telah Dia tetapkan, yakni keadilan. Salah satu sifat agung Allah adalah adil. Bahwa Allah tidak akan melakukan penghukuman tanpa bukti kesalahan atau corpus delicti. Akan tetapi kita tahu bahwa dalam kemahatahuan Allah, tidak ada perkara yang luput dari rencana-Nya, sehingga di luar pengetahuan Iblis (karena Iblis tidak maha tahu), Allah sesungguhnya telah merencanakan manusia yang akan menjadi bukti corpus delicti bagi tindak kejahatan (keinginan independen) Iblis kelak. Ketidaktahuan Iblis akan rencana penciptaan manusia dan kesadaran akan sikap Allah dalam menegakkan integritas keadilan-Nya, telah memberi harapan dan rasa nyaman akan keberhasilan rencana pemberontakannya.

Dari paparan teori di atas akhirnya kita dapat melirik alasan ketiga mengapa Allah menciptakan manusia yang memiliki kehendak bebas seperti Iblis, yakni bahwa dengan ketaatan penuh kepada Allah, maka manusia dapat menjadi corpus delicti atau menjadi bukti kesalahan untuk menjadi dasar menjatuhkan hukuman bagi Iblis. Artinya, dengan ketaatan dalam kehendak bebasnya, manusia dapat menjadi bukti bagi Iblis, bahwa ada ciptaan yang meskipun dengan kehendak bebas, namun tetap setia berada sepenuhnya di bawah otoritas Allah. Eksistensi manusia yang taat sepenuhnya pada kehendak Allah akan menjadi bukti bahwa Iblis bersalah dan dapat dihukum.

Tetapi sangat disayangkan bahwa sebelum mencapai target kesempurnaan rupa (status demuth manusia) untuk layak menjadi corpus delicti bagi kepentingan pembuktian kesalahan Iblis, akhirnya Adam dan Hawa telah takluk pada bujuk rayu Iblis dan jatuh ke dalam dosa. Tentu saja kegagalan ini adalah merupakan kepentingan Ibilis untuk membatalkan penghukumannya. Dengan demikian manusia pertama telah gagal menjadi corpus delicti. Artinya Iblis telah berhasil membatalkan statusnya sebagai terhukum. Justru dalam kasus ini, manusialah yang telah diposisikan oleh Iblis sebagai oknum terhukum yang harus dibinasakan (Roma 6:23). Namun di luar dugaan Iblis, manusia itu tidak dibinasakan oleh Allah melainkan diampuni dan diberi hukuman yang setimpal berupa kutuk kesusahan hidup (Kejadian 3:17-19). Meskipun demikian tidak ada kesan bahwa Iblis keberatan pada kebijakan diskriminatif tersebut, mengapa?

Di sini kita harus melihat perbedaan latar belakang kesalahan manusia dengan Iblis (Lucifer). Manusia jatuh ke dalam dosa tidak semata-mata karena kehendak dirinya, melainkan oleh rangsangan pengaruh Iblis. Sedangkan pemberontakan Lucifer murni merupakan kehendak dirinya. Ini jugalah alasan mengapa manusia diampuni, sedangkan Lucifer tidak. Dalam hal ini Allah tidak pilih kasih. Karena Lucifer memilih untuk tidak tunduk kepada Allah bukan karena pengaruh apapun selain karena keinginannya untuk terpisah dari Allah, sedangkan manusia melanggar kehendak Allah adalah karena pengaruh bujukan dari Lucifer. Dalam kasus tersebut sebenarnya manusia tidak menginginkan terpisah dari Allah. Kondisi ini memberi ruang pengampunan bagi manusia dan Iblis pun tidak keberatan akan hal ini.

Perbedaan kebijakan Allah lainnya adalah bahwa manusia langsung diberi imbalan hukuman akibat kesalahan mereka, sedangkan Iblis tidak. Hal ini dapat dipahami karena kesalahan manusia telah memiliki bukti (corpus delicti), yakni buah pengetahuan yang baik dan jahat yang telah diperingatkan tidak boleh disentuh dan dimakan. Berbeda dengan Iblis yang telah berhasil menyingkirkan bukti (corpus delicti) kesalahan atas keinginan independennya, yakni manusia yang gagal menunjukkan kehendak bebasnya untuk tetap tunduk pada perintah Allah. Terbukti bahwa Iblis memang masih bebas tanpa terhukum hingga saat ini. Lalu sampai kapan hal ini akan berlangsung terus?

Strategi sempurna Allah dalam kemahatahuan-Nya telah merencanakan bagaimana manusia itu tetap akan menjadi bukti corpus delicti bagi kesalahan Iblis. Melalui rencana penebusan, pemulihan, dan penyempurnaan, maka manusia masih tetap memiliki peluang untuk rencana agung ini. Lalu bagaimana hal itu bisa dimungkinkan? Jawabnya adalah Yesus Kristus! Pribadi Allah Kedua yang datang sebagai manusia, yang oleh karenanya kemudian disebut sebagai Adam yang akhir (1 Korintus 15:45-47), telah berhasil menjadi Corpus Delicti pertama. Oleh karenanya vonis pertama atas kesalahan Iblis dari sukses Yesus ini adalah, dibersihkannya sorga dari aktivitas Iblis. Kitab Wahyu menyatakan bahwa kemenangan Yesus Kristus di Golgota telah menjadi alasan melemparkan Iblis dari sorga ke bumi (Wahyu 12:7-12).

Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah yang mengosongkan diri-Nya dan sepenuhnya menjadi manusia yang berhasil taat kepada Allah hingga mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Ketaatan manusiawi yang diperankan oleh Yesus inilah yang menjadi bukti kebersalahan Iblis yang tidak taat itu. Yesus Kristus adalah manusia Corpus Delicti utama, sebagai Adam yang akhir, pengganti kegagalan manusia pertama untuk menjadi Corpus Delicti (1 Korintus 15:45). Pertanyaannya, tidakkah cukup Yesus sendiri yang menjadi corpus delicti pembuktian kesalahan Iblis sehingga belum dijatuhkan hukuman secara mutlak atasnya?

Karena tulisan ini memang ditulis untuk membuka cakrawala berpikir para pembaca yang ingin memperluas wawasan tentang kedalaman dan keagungan rencana Allah, maka untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis akan mengemukakan dua kemungkinan dari hasil pendekatan beberapa naskah Alkitab: Kemungkinan pertama adalah bahwa karena pada hakikatnya manusialah yang ditargetkan menjadi corpus delicti bagi kesalahan Iblis, maka penjelmaan Putera Allah sesungguhnya hanya untuk memulihkan kondisi manusia itu agar layak dan mampu kembali berfungsi menjadi corpus delicti. Hal ini dikerjakan melalui prosedur penebusan, pengajaran, dan pemberian model atau teladan selama Ia hidup sebagai manusia. Dengan demikian Yesus menjadi pondasi bagi dibangunnya kembali corpus delicti manusia seutuhnya. Hal ini diperlukan mengingat betapa dalamnya kerusakan yang diakibatkan oleh dosa sehingga sulit membagunnya kembali tanpa Kristus.

Pada 1 Korintus 15: 45-47 yang telah disinggung di atas, Paulus berkata bahwa “Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan”. Apa gerangan yang dihidupkan? Tentu saja manusia yang telah mati dalam belenggu dosa, sehingga dengan penebusan-Nya, juga akan memulihkan dan menyempurnakan pribadi-pribadi orang percaya menjadi corpus delicti di akhir zaman. Melalui teladan Yesus dan dengan pertolongan Roh Kudus, Allah ingin mengembalikan manusia itu pada tujuan penciptaan semula melalui hidup orang-orang percaya (Kristen), yakni menjadi corpus delicti – corpus celicti untuk memberi bukti kepada Iblis bahwa dia telah bersalah karena tidak taat kepada Allah.

Kemungkinan yang kedua adalah adanya naskah Alkitab yang memberi indikasi diperlukannya sejumlah kuota tertentu sebagai corpus delicti untuk memenuhi syarat bagi penghukuman Iblis. Yohanes mendengar suatu percakapan dalam wahyu yang diterimanya:

Dan ketika Anak Domba itu membuka meterai yang kelima, aku melihat di bawah mezbah jiwa-jiwa mereka yang telah dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian yang mereka miliki. Dan mereka berseru dengan suara nyaring, katanya: “Berapa lamakah lagi, ya Penguasa yang kudus dan benar, Engkau tidak menghakimi dan tidak membalaskan darah kami kepada mereka yang diam di bumi?” Dan kepada mereka masing-masing diberikan sehelai jubah putih, dan kepada mereka dikatakan, bahwa mereka harus beristirahat sedikit waktu lagi hingga genap jumlah kawan-kawan pelayan dan saudara-saudara mereka, yang akan dibunuh sama seperti mereka (Wahyu 6:9-11).

Benang merah corpus delicti dengan naskah ini adalah standar kualitas hidup para corpus delicti yang bersedia memberi hidup hingga ke tingkat yang disebut dalam ayat ini, yakni rela “dibunuh oleh karena firman Allah dan oleh karena kesaksian”. Kesiapan menjadi martir bisa dijadikan menjadi standar kualitas loyalitas tertinggi kepada Tuhan, karena mental yang demikian telah menujukkan kerelaan kehilangan segala sesuatu termasuk keinginan dagingnya. Orang yang demikian telah bersedia untuk sepenuhnya loyal hanya melakukan yang Tuhan kehendaki atas dirinya. Dengan ini kita harus memahami bahwa memang tidak banyak dan tidak semua orang percaya atau Kristen yang bisa mencapai corpus delicti. Dengan demikian juga kita harus memahami bahwa menjadi corpus delicti bukan menjadi syarat untuk masuk sorga, melainkan menjadi orang-orang khususnya Tuhan bagi pengadilan sang pengkhianat pertama, yakni Lucifer.

Dengan terkumpulnya pribadi-pribadi orang percaya yang menjadi corpus delicti, maka penghakiman atas kesalahan Iblis akan secara pasti terlaksana pada masa penghakiman yang menjadi kesudahan zaman.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *