Geliat Kepalsuan

Upaya Menyingkap Topeng Para Pebisnis Gereja

Kini tidak ada pendeta yang tidak mendasarkan khotbah maupun sepak-terjangnya tanpa dasar naskah Alkitab. Bahkan orang yang mengaku mendengar suara Tuhan dan bernubuat dengan berkata “Tuhan katakan” sekalipun, sudah mengutip naskah Alkitab untuk mendukung nubuatnya. Semua teolog juga mengaku paling teologis dan alkitabiah. Pertanyaannya, dari sekian banyak doktrin atau pendangan teologia, apakah semua benar? Tentu saja tidak! Karena kebenaran itu satu atau utuh. Tetapi dengan pernyataan ini kita tidak boleh terburu-buru menyimpulkan bahwa adanya perbedaan pandangan sudah pasti salah satunya dapat digolongkan sebagai penyesatan atau kepalsuan. Dalam hal ini kita harus cerdas membedakan pandangan-pandangan yang bersifat primer, yang memang mutlak harus benar karena berkaitan langsung dengan prinsip keselamatan di dalam Kristus, dengan pandangan-pandangan yang bersifat sekunder atau tidak menyalahi prinsip keselamatan, yang oleh keterbatasan daya pikir manusiawi lumrah terjadi.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa sulitnya memahami Alkitab yang sudah tergolong kitab kuno dan menjadi dasar satu-satunya untuk berteologia itu, telah menjadi penyebab utama maraknya perbedaan ideologi kekristenan sejak sepeninggalan para rasul dan bapa-bapa gereja mula-mula. Kondisi ini semakin diperparah dengan munculnya kegerakan-kegerakan yang melegalkan jabatan kependetaan tanpa dasar pendidikan proporsional. Dengan hanya bermodalkan penghafalan ayat-ayat Alkitab dan memiliki standar moral umum, seseorang telah bisa menjadi pendeta. Meskipun tentu saja ada sisi positif dari kemudahan ini dan juga bahwa tidak ada jaminan pasti benar dan berkenan kepada Tuhan jika seorang pendeta telah melalui pendidikan dan prosedur yang semestinya, namun harus diakui bahwa kelonggaran prosedur ini telah menjadi ruang gerak dan penyebab mewabahnya kepalsuan dalam gereja dewasa ini.

Sesungguhnya dampak negatif lainnya yang lebih berbahaya dari tersedianya ruang kemudahan menjadi pendeta ini sebenarnya adalah, motivasi terdalam yang tidak seorangpun dapat melihat dari permukaan. Misalnya seorang profesionalis di bidang bisnis yang kelelahan menghadapi resiko persaingan global, bisa saja tergiur berubah profesi menjadi pendeta dengan perhitungan angka masukan dari umat yang stabil, padahal hanya dengan menyediakan fasilitas ibadah dan siraman janji-janji berkat yang memang tersedia banyak di dalam Alkitab. Dan ini menjadi salah satu bisnis dengan resiko kecil atau langka. Karena hanya dengan musibah wabah atau petaka yang menghalangi orang berkumpullah yang menjadi resiko atas bisnis ini. Jadi tidak berlebihan kalau kita mengatakan bahwa ternyata gereja sudah menjadi salah satu objek bisnis menggiurkan dewasa ini.

Tentu saja gereja yang dibangun untuk tujuan bisnis ini akan menghindari ajaran-ajaran keras yang bersifat membina karakter dan penyerahan sepenuh hidup agar kudus bagi kepentingan Tuhan. Walaupun terlihat secara nyata mengajarkan kebaikan, tetapi sasaran utamanya sebenarnya adalah uang atau berbagai bentuk persembahan yang dirangsang oleh ajaran-ajaran yang memotivasi gairah akan diberkati berlipat kali ganda. Jadi bukan didasarkan pada kerinduan mengabdikan diri kepada Tuhan dan persiapan diri untuk beralih kepada dunia yang akan datang (kekekalan). Membenahi konsep melayani dan bergereja seperti ini tentu saja akan sangat sulit karena motivasi menjadi pendeta memang bukan untuk memberi hidup untuk Tuhan, melainkan untuk mencari hidup dengan cara berkedok pelayanan atau gereja.

Sebenarnya tidak ada sama sekali yang salah dengan segala bentuk persembahan dalam gereja. Bahwa memberi adalah budaya yang harus dikembangkan dalam komunitas orang percaya. Bukankah Tuhan telah berkata bahwa “lebih berbahagia memberi dari pada menerima” (Kisah 20:35)? Akan tetapi bagaimana kita bisa mengetahui kalau motif di balik penarikan semua persembahan itu adalah upaya mendulang kekayaan bagi pribadi yang menjadikan gereja sebagai lahan bisnisnya? Banyak jemaat awam telah berhasil dipersuasi dan berkata, “ah, biarlah itu urusannya dengan Tuhan, yang penting kita tulus memberi. Kalau motifnya salah, biarlah dia yang berurusan dengan Tuhan”. Betul bahwa untuk tahap tertentu sikap yang demikian sangat baik dan dapat dimaklumi. Akan tetapi harus disadari bahwa sesungguhnya Tuhan pun tidak menginginkan jika kita selalu menjadi objek penipuan hanya karena tidak memahami kebenaran. Bukankah lebih baik apabila kita bisa keluar dari kungkungan manipulasi penipu sehingga dapat mempersembahkan seluruh yang kita miliki di jalur yang benar?

Kesimpulan dari uraian di atas adalah bahwa kepalsuan yang berkedok “berkat Tuhan” kini telah merebak tanpa terdeteksi secara jelas dalam gereja. Kiprah para nabi palsu dalam era Perjanjian Lama (PL), kini telah digantikan oleh para pengajar atau guru-guru palsu yang disebut sebagai ‘pendeta’ di dalam gereja modern. Hal ini persis terjadi seperti yang sudah diperingatkan oleh Petrus jauh sebelumnya kepada jemaat Kristen mula-mula. Dalam tulisannya ia berkata:

Sebagaimana nabi-nabi palsu dahulu tampil di tengah-tengah umat Allah, demikian pula di antara kamu akan ada guru-guru palsu. Mereka akan memasukkan pengajaran-pengajaran sesat yang membinasakan, bahkan mereka akan menyangkal Penguasa yang telah menebus mereka dan dengan jalan demikian segera mendatangkan kebinasaan atas diri mereka. Banyak orang akan mengikuti cara hidup mereka yang dikuasai hawa nafsu, dan karena mereka Jalan Kebenaran akan dihujat. Dan karena serakahnya guru-guru palsu itu akan berusaha mencari untung dari kamu dengan ceritera-ceritera isapan jempol mereka. Tetapi untuk perbuatan mereka itu hukuman telah lama tersedia dan kebinasaan tidak akan tertunda (2 Petrus 2:1-3).

Dari pengertian asali atau menurut pemahaman umumnya agama samawi, nabi adalah pribadi khusus yang dipakai oleh Tuhan sebagai sarana penerima wahyu atau amanat untuk disampaikan kepada umat. Meskipun demikian beberapa nabi dikenal juga telah berfungsi sekaligus menjadi pemimpin dan menjadi hakim atas suatu umat. Hal ini dapat terlihat dalam Alkitab, khususnya pada awal pembentukan bangsa Israel.

Pada kekristenan perdana jelas masih terlihat fungsi nabi sebagai pengungkap suatu misteri atau memprediksi hal-hal yang akan terjadi di kemudian hari. Seorang bernama Agabus dilaporkan dalam Kisah Para Rasul 11:28 yang berbicara tentang akan adanya bahaya kelaparan, dan pada Kisah 21:10 tentang hal yang akan dialami rasul Paulus. Surat Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus pun memeberi indikasi bahwa fungsi nabi masih bekerja, dan dinyatakan juga ada salah satu karunia Roh Kudus untuk bernubuat. Namun pada akhirnya, bahkan pada masa sebelum Perjanjian Baru (PB) seluruhnya selesai ditulisipun, nampaknya peran nabi dalam kekristenan secara berangsur telah berkurang. Ini adalah fakta yang tidak bisa dipungkiri, namun memerlukan penjabaran agar tidak salah dipahami.

Beberapa aliran gereja, umumnya aliran arus utama telah menganggap karunia-karunia Roh Kudus, khususnya dalam hal kenabian telah berakhir seiring terkanonnya Alkitab PB secara lengkap. Keyakinan ini didukung oleh salah satu teori kanonisasi yang menyatakan bahwa “Alkitab itu cukup”. Kecukupan Alkitab telah dianggap sebagai tanda berakhirnya kebutuhan fungsi nabi dalam gereja. Kelengkapan Alkitab telah dianggap cukup sebagai sumber untuk membangun iman dan hubungan kepada Tuhan. Jadi peringatan Yesus dan para rasul terkait akan munculnya nabi-nabi palsu di akhir zaman tidak lagi diartikan sebagai petunjuk legalitas fungsi kenabian yang harus tetap ada, melainkan sudah dipahami sebagai akan munculnya gerakan kepalsuan atau kesalahan pengajaran seperti yang ditulis oleh Petrus pada ayat-ayat di atas.

Istilah dan topik mengenai “nabi-nabi palsu” bukanlah sesuatu yang asing dalam Alkitab. Tokoh-tokoh atau pribadi-pribadi yang secara sengaja maupun tidak sengaja mengalihkan fokus umat dari kehendak Tuhan, baik melalui perkataan atau ajaran, maupun yang disertai dengan tanda-tanda ajaib, dapat terlihat secara jelas disepanjang Alkitab. Tetapi kenyataan ini ternyata tidak membuat umat di sepanjang zaman dapat dengan mudah terantisipasi dari usaha penyesatan. Kenyataan ini membuat kita akhirnya dapat memahami mengapa perihal penyesatan menjadi salah satu peringatan penting dari Yesus untuk diwaspadai di akhir zaman. Hal ini sangat jelas diungkap oleh Matius dan Lukas dalam kitab Injilnya:

Banyak nabi palsu akan muncul dan menyesatkan banyak orang (Matius 24:11).

Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Tidak mungkin tidak akan ada penyesatan, tetapi celakalah yang mengadakannya” (Lukas 17:1).

Dalam naskah Matius 18:7 justru ditegaskan bahwa memang “penyesatan harus ada”. Lebih jauh dikatakan bahwa penyesatan ini akan menjadi petaka bagi dunia. Namun sangat disayangkan bahwa banyak kegiatan gereja dewasa ini, khususnya yang berbasis kharismatis, justru lebih fokus pada pengharapan sekunder, seperti mujizat dan pemenuhan kebutuhan lahiriah ketimbang usaha mengantisipasi gerakan penipuan para nabi palsu dalam gereja. Bukankah dengan beralihnya fokus perhatian ini, maka bisa dikatakan bahwa Iblis sebenarnya sudah merupakan suatu langkah sukses dalam melakukan penyesatan gereja? Karena dengan tegas Yesus berkata:

Sebab mesias-mesias palsu dan nabi-nabi palsu akan muncul dan mereka akan mengadakan tanda-tanda yang dahsyat dan mujizat-mujizat, sehingga sekiranya mungkin, mereka menyesatkan orang-orang pilihan juga (Matius 24:24).

Ayat ini memberi petunjuk yang jelas bahwa aksi yang menggiurkan dari nabi-nabi palsu itu sehingga memungkinkan menjangkau orang-orang pilihan juga untuk disesatkan adalah tanda-tanda dahsyat dan mujizat-mujizat. Pernyataan ini tentu saja tidak berarti bahwa mujizat tidak perlu dan tidak berlaku lagi. Kita percaya bahwa mujizat masih ada karena Allah yang dinyatakan dalam Alkitab adalah Allah yang melakukan mujizat. Akan tetapi selain bahwa kita harus memahami peruntukan dan alasan pengadaan mujizat secara tepat, juga karena mujizat bukanlah merupakan tujuan dalam rencana Allah, melainkan hanya merupakan salah satu sarana saja.

Dengan semua pemahaman yang kita temukan dari uraian di atas, maka arti peringatan akan tampilnya nabi-nabi palsu di akhir zaman tidak lagi kita pahami dalam bentuk tampilan nabi-nabi seperti yang ada dalam PL, melainkan sudah dalam bentuk para pengajar atau guru-guru yang menggunakan Alkitab (Kanon) sebagai dasar ajaran yang diselewengkan. Artinya, kita harus mampu mendeteksi adanya pergeseran strategi penyesatan Iblis, dari penggunaan jawatan nabi dalam PL ke penggunaan para pengajar Alkitab, selaras dengan progres kerja Allah yang telah melengkapi kanon (Alkitab) dengan hadirnya Perjanjian Baru (PB). Dalam hal ini Iblis selalu meningkatkan derap langkahnya mengikuti derap langkah progresif kerja Allah. Itu sebabnya sangat penting agar kita secara serius bersedia mengkritisi kembali fenomena kenabian yang kembali marak di gereja modern sejak munculnya gerakan kharismatis.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa gerakan kharismatis adalah merupakan kelanjutan dari gerakan pentakosta awal yang lahir dari reaksi terhadap semakin melemahnya kehausan pada hubungan konkrit dengan Tuhan pada gereja-gereja arus utama. Namun bagaikan bandul yang mengayun terlalu jauh, secara tidak disadari kegerakan tersebut telah memunculkan berbagai nilai yang sebenarnya tidak selalu sama dengan semangat pentakosta yang awal. Kita harus bisa melihat secara jujur, apakah fenomena kenabian yang ada saat ini membawa manfaat positif bagi gereja, atau malah sebaliknya. Itu sebabnya penting bagi kita untuk sedapat mungkin menganalisa geliat dari gerakan-gerakan ini.

Kata ‘geliat’ dikenakan pada judul tulisan ini dalam arti gerak-gerik yang dinamis dari para penyesat yang sebenarnya merupakan dorongan dari pemicu terselubung. Ibarat orang yang baru bangun tidur, gerak menggeliat adalah sebagi dorongan dari kondisi tubuh bagian dalam yang masih kaku selama tidur. Kecuali paramedis, maka kaum awam tentu saja tidak memahami bagaimana fenomena geliat itu terjadi secara logis dan terperinci. Demikian juga harus diakui bahwa memang tidak mudah untuk melihat geliat para penyesat di dalam gereja. Tulisan ini justru dibuat dalam rangka membantu para pembaca agar dapat melihat motif terdalam dari para penyesat yang menjadikan gereja menjadi bisnis melalui geliat-geliat yang terlihat dipermukaan sebagai berikut:

Geliat 1: Penampilan Buah Palsu

Ketika Yesus memperingatkan murid-murid akan ancaman intrik penyesatan nabi-nabi palsu yang akan menyamar seperti domba pada Matius pasal 7, dua kali Yesus mengatakan bahwa “dari buahnyalah kamu akan mengenal mereka” (ayat 16 dan 20). Bahwa “pohon yang baik akan menghasilkan buah yang baik”. Namun pada kenyataannya Yesus sendiri pernah mengutuk pohon ara yang berpenampilan baik karena tidak menghasilkan buah (Markus 11:12-14). Ini membuktikan bahwa pohon yang berpenampilan baik tidak selalu menghasilkan buah yang baik. Dan pada kenyataannya juga memang tidak selalu mudah melihat buah yang baik dari permukaan. Karena kita memang sering tertipu bahwa banyak buah yang terlihat mulus dipermukaan, padahal telah dirusak oleh ulat pada bagian dalamnya. Perumpamaan ini hendak menyatakan bahwa memang penampilan orang di luar tidak selalu dapat dijamin merupakan pancaran dari motivasi terdalam seseorang yang tidak kelihatan. Demikianlah para nabi palsu akan tampil dengan geliat ornamen-ornamen rohani yang baik, meskipun pada hakikatnya dengan motif atau tujuan terselubung yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Salah satu kelemahan umat Kristen modern adalah ketika membayangkan bahwa nabi-nabi palsu atau para pengajar sesat itu akan berpenampilan buruk dan datang dari luar gereja. Nabi palsu bukanlah antikristus yang secara nyata melakukan konfrontasi melawan kekristenan, melainkan senantiasa berada dengan posisi dan perilaku yang baik di dalam gereja. Banyak yang tidak menyadari bahwa mereka justru adalah pribadi-prbadi yang berpenampilan menawan hingga ke tingkat mengagumkan karena memiliki kemampuan praktek-praktek spektakuler yang dianggap sebagai mujizat. Itu sebabnya gejala yang akan merusak jiwa kekristenan sejati ini telah diperingatkan oleh Yesus dengan berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23).

Mengurai secara saksama ayat-ayat ini akan menghasilkan pemikiran yang menyedihkan. Karena orang yang berseru kepada Tuhan, bernubuat, mengusir setan, dan mengadakan mujizat demi nama Tuhan, telah memberi kesan menunjukkan satu kegiatan positif dan prestasi yang berpihak kepada Tuhan. Kegiatan tersebut telah memberi petunjuk bahwa mereka adalah aktivis berprestasi dalam kegiatan gereja. Pertanyaannya, kenapa Tuhan menolak mereka dan menyebutnya sebagai pembuat kejahatan? Ada dua implikasi yang disampaikan melalui pernyataan tersebut: Yang pertama adalah bahwa mereka memang benar-benar penyesat yang memanipulasi ayat-ayat Alkitab maupun organisasi gereja untuk tujuan ambisi mereka yang terselubung dan kotor. Sedangkan yang kedua adalah berupa kemungkinan bahwa mereka ini adalah korban pembodohan ajaran yang salah tentang Alkitab, sehingga merasa telah berbuat benar, padahal salah.

Peringatan Yesus di atas seharusnya menjadi tolok ukur bagi siapapun agar memahami dan memiliki sikap yang proporsional pada dua hal penting dalam dinamika kekristenan modern:

  • Mujizat

Kita harus jujur mengakui bahwa terjadinya mujizat sama sekali tidak bisa dijadikan tolok ukur berkenannya Tuhan atas satu pelayanan atau pada diri seseorang. Karena sangat jelas bahwa ahli sihir Firaun juga dapat melakukan mujizat seperti yang dilakukan oleh Musa (Keluaran 7). Apalagi hanya mujizat dalam bentuk janji-janji yang tidak jelas pembuktiannya tahun demi tahun dan mujizat-mujizat dengan efek plasebo (sugesti) yang marak dipraktekan dalam kebaktian-kebaktian kebangunan rohani dewasa ini. Memang karena kedangkalan pemahaman Alkitab, banyak orang Kristen yang sudah terjebak dalam ketidaktahuan bahwa pada hakikatnya mujizat diadakan oleh Allah hanya dalam kondisi insidental dan sebagai alat atau tanda semata untuk tujuan tertentu, bukan menjadi tujuan kekristenan atau gaya hidup.

Kesalahan dalam pemahaman serta manipulasi mujizat ini bertambah parah ketika mujizat digunakan sebagi alat mendongkrak wibawa kharismatis seseorang untuk menjadi public figure sebagaimana dijelaskan berikut ini.

  • Figur

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa prinsip kepemimpinan akan dengan sendirinya menampilkan pribadi-pribadi yang menonjol dan berpengaruh. Tetapi dalam kerohanian yang sehat seorang pemimpin harus selalu sadar fungsi dirinya hanya sebagai alat pembawa umat kepada Tuhan, itupun hanya dalam batas tertentu. Artinya ada kalanya seorang pemimpin harus rela melepaskan yang dipimpin apabila Tuhan menginginkannya. Semua pemimpin atau pengajar Kristen harus membawa setiap pribadi umat agar memiliki hubungan yang semakin mandiri dengan Tuhan. Ketergantungan seseorang kepada figur rohani secara terus menerus, apalagi kalau sampai pada ketundukan total tanpa daya kristis kebenaran, sudah bisa dipastikan merupakan penyesatan, baik secara sadar maupun tidak sadar. Seorang pendeta semestinya merasa gagal dan bersalah apabila ada pribadi yang secara terus-menerus memiliki ketergantungan sumber kekuatan rohani kepadanya.

Akan tetapi harus diakui bahwa untuk melihat penipuan berkedokkan buah ini sangat tidak mudah. Kelemahan dalam mengidentifikasi jebakan identitas nabi palsu ini hanya mungkin dapat diantisipasi dengan kekuatan pengajaran seperti yang dijelaskan pada uraian geliat berikutnya.

Geliat 2: Disorientasi Tujuan Pengajaran

Arti yang paling hakiki dari istilah ‘penyesatan’ adalah meleset dari sasaran atau disorientasi tujuan. Kita sadar betul bahwa semua pendeta atau pengajar Kristen modern tidak ada yang mengajar tanpa mendasarkan ajarannya dari naskah Alkitab. Olehnya semua pengajar mengaku paling alkitabiah. Logisnya, dari sekian banyak doktrin dan tafsiran yang ada, pasti hanya satu yang benar. Tetapi jangankan jemaat awam, para sarjana teologia pun umumnya turut bingung pada banyaknya ragam pandangan teologia. Makanya kita tidak bisa berharap bahwa semua orang dapat luput dari jebakan penyesatan ini. Karena kita tidak bisa berharap bahwa semua orang bisa menjadi ahli dalam berteologia. Lalu apa gerangan yang menjadi solusi terakhir untuk hal ini?

Kita harus berpegang pada satu prinsip bahwa hal yang paling ampuh menangkal ajaran yang sesat adalah ajaran yang benar. Pengajaran harus ditangkal dengan pengajaran. Penyesatan tidak bisa ditengking seperti menghardik setan dari orang yang dirasukinya. Oleh karena itu tidak bisa dihindari bahwa kompetisi antara pengajaran yang benar dengan yang palsu memang sudah merupakan realita yang tidak bisa dihindari, dan kemenangan dalam hal jumlah pengikut ternyata ada di pihak yang sesat. Oleh karena itu gereja seharusnya sadar bahwa kegiatan ibadah atau program gereja harus lebih menekankan pentingnya pemahaman Alkitab ketimbang kegiatan-kegiatan yang memberi dorongan motivasi hidup lahiriah semata.

Dengan pemahaman di atas setidaknya kita bisa mengintip indikator ciri-ciri pengajar yang benar dengan pengajar sesat atau nabi palsu. Perbedaan itu sangat tipis sehingga tidak bisa dipungkiri bahwa hanya sedikit orang yang bisa mencermatinya. Indikator tersebut hanya terletak pada orientasi pengajaran, yakni pengajaran yang berorientasi kepada kepentingan Allah (God-oriented) dengan pengajaran yang berpusat pada kebutuhan duniawi (World-oriented) atau pada keinginan daging. Jadi prinsip hakiki dari penyesatan atau kepalsuan dalam gereja modern tidak terletak pada bentuk kegiatan seremonial dan penggunaan atribut, melainkan pada tujuan yang terselubung. Para pendeta atau guru-guru palsu akan menyembah Allah dan memuja-Nya dengan senandung yang merdu serta menggunakan Alkitab sebagai dasar ajarannya. Mereka hanya akan menyerongkan secara halus tujuan beribadah dengan ayat-ayat Alkitab untuk tujuan yang lebih cendrung pada keuntungan lahiriah dan kesenangan dunia ini ketimbang untuk pembaruan manusia batiniah. Yang terjadi bukanlah pembangkangan, melainkan disorientasi.

Prinsip ajaran yang benar adalah ketika umat dilatih agar bisa memiliki gaya hidup kekristenan yang rela menyerahkan hidup sepenuhnya bagi kepentingan Tuhan, bukannya menjadikan Tuhan sebagai alat kepentingan atau pemenuhan selera diri. Olehnya Yesus mengajarkan doa dengan nilai ajaran; “jadilah kehendak-Mu” (Matius 6:10), dan membuktikannya dengan berkata; “tetapi bukanlah kehendak-Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42). Ketika pengajaran bermuara kepada kepentingan lahiriah semata, maka seharusnya sudah dapat dijadikan sebagai indikator gejala-gejala penyesatan. Jemaat yang hanya diajarkan menjadi Kristen untuk berpengharapan pada pertolongan ajaib Tuhan dalam hal pemenuhan keinginan dan kebutuhan jasmani semata, sudah pasti rentan menjadi korban penyesatan.

Geliat 3: Kesalahan Kiblat Penafsiran Alkitab

Ketidakpahaman progresivitas arah kerja Allah yang bergerak dari PL ke PB (bukan sebaliknya), telah membuat para penafsir Alkitab tanpa metode penelitian hermeneutika terjerumus dalam kebiasaan penggunaan ayat-ayat secara acak. Banyak orang tidak menyadari bahwa meskipun naskah-naskah Alkitab yang telah dibagi dalam susunan pasal dan ayat-ayat adalah merupakan hukum bagi kehidupan rohani, tetapi sebenarnya tidak boleh disamakan dan disimak seperti hukum dan berbagai undang-undang yang mengatur jalannya suatu Negara. Nafas dan nilai terbentuknya Alkitab sangat jauh berbeda dengan pembuatan hukum Negara. Itu sebabnya ayat-ayat dalam Alkitab tidak boleh dikutip secara acak dan dikaitkan satu dengan yang lain untuk diterapkan dalam hidup tanpa terlebih dahulu memahami garis besar secara menyeluruh yang merupakan rencana utama Allah.

Allah itu bekerja secara progresif dan oleh karenanya memiliki kiblat arah yang jelas, yakni dari PL ke PB (Yeremia 31:31; 2 Korintus 3:6; Ibrani 8:6-10), bukan sebaliknya. Kelemahan memahami disiplin ilmu rohani ini telah membuat banyak pendeta, sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja, telah berusaha menghidupkan kembali kebijakan-kebijakan Allah dalam Alkitab, khususnya PL, yang seharusnya sudah tidak berlaku lagi dengan hadirnya kebijakan-kebijakan Allah dalam PB. Sangat disayangkan bahwa semua ayat-ayat dalam Alkitab hanya dilihat sebagai butir-butir hukum yang harus diterapkan secara sama, sehingga menimbulkan benturan-benturan dan dampak buruk dalam pertumbuhan kerohanian umat.

Pembaruan dalam nilai dan sikap berdoa yang dilakukan Tuhan Yesus untuk umat PB dalam Matius 6:5-15 telah tersingkirkan dengan menjadikan doa Yabes dalam 1 Tawarikh 4:9,10 dalam PL sebagai acuan hidup, hanya karena ketidakpahaman prinsip progresivitas kerja Allah, atau karena kesengajaan untuk memikat pengikut dengan janji-janji berkat lahiriah. Penekanan pada pengharapan akan janji-janji berkat Allah secara lahiriah dalam Ulangan 28 yang sebenarnya masih merupakan konsumsi umat PL yang masih bersifat daging, akhirnya ditebar sebagai konsumsi umat PB yang sudah seharusnya diorientasikan pada kelanjutan hidup dalam dunia yang akan datang, yakni “langit yang baru dan bumi yang baru” (Yesaya 65:17; 66:22; 2 Petrus 3:13; Wahyu 21:1), hanya demi memanjakan selera pengikut dengan “cerita isapan jempol” (menyenangkan telinga) yang bermuara pada jumlah persembahan seperti yang telah disinggung oleh Petrus sebelumnya (2 Petrus 2:1-3).

Benar bahwa semua ayat-ayat dalam Alkitab adalah Firman Allah, mulai dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu. Akan tetapi demi mengantisipasi manipulasi para pengajar sesat seperti yang sudah dipaparkan di atas, maka mau tidak mau kita harus berusaha dengan jeli melihat dan mampu memilah; mana yang sudah tergenapi dan hanya dijadikan sebagai pijakan untuk memahami hal-hal yang masih harus dikerjakan selanjutnya. Dalam hal ini tentu saja PL tidak disingkirkan dengan hadirnya PB, melainkan harus ditempatkan sebagai pijakan untuk dapat memahami PB secara utuh untuk dikerjakan. Bukan sebaliknya, PB dilupakan demi mengharapkan janji-janji berkat lahiriah yang ada dalam PL seperti yang dilakukan oleh para pengajar palsu. Di sinilah diperlukan kejujuran dan kemampuan berteologia dengan metodi penelitian Alkitab secara hermeneutis, sehingga mampu melihat setiap ayat dalam Alkitab menurut konteksnya. Dengan kemampuan hermeneutis maka pengajar Alkitab dapat menyajikan pengajaran yang ‘alkitabiah’, bukan yang ‘ayatiah’.

Terus terang, pernyataan Yesus dalam Alkitab tentang sukses penyesatan nabi-nabi atau atau guru-guru palsu di akhir zaman, seperti menempatkan kita pada posisi dilematis: Di satu sisi, baik Tuhan maupun kita sebagai orang percaya tentu saja tidak rela jika penyesatan bergerak merajalela, sehingga sedapat mungkin kita akan menghambatnya. Tetapi di sisi lain memang Yesus sendiri yang mengatakan bahwa penyesatan pasti terjadi dan akan sukses. Akhirnya kita harus menerima kenyataan bahwa upaya mengantisipasi penyesatan ini adalah merupakan suatu pergulatan berat bagi gereja di akhir zaman. Yang jelas kompetisi ini akan dimenangkan oleh pihak penyesat atau nabi-nabi palsu. Kenyataan ini selaras dengan pesan-pesan Tuhan Yesus pada kesempatan lainnya:

Dan ada seorang yang berkata kepada-Nya: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:23,24).

Dalam sebuah perumpamaan tentang ketidaksudian dan ketidaksiapan orang-orang untuk menghadiri undangan pesta perjamuan seorang raja, Tuhan Yesus mengakhiri perumpamaannya dengan berkata: “Sebab banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih” (Matius 22:14).

Jadi jangan pernah berharap bahwa semua orang Kristen akan masuk sorga. Dan bersyukurlah di atas segala yang seharusnya Anda syukurkan jika Anda terhisap pada golongan yang tidak tersesatkan atau menjadi penyesat. Dan tetaplah sadar, bahwa para penyesat itu tidak akan berpenampilan buruk dan tidak datang dari luar gereja, melainkan tampil sebagai pendeta-pendeta resmi dalam suatu sinode yang fasih membicarakan Alitab. Oleh karena itu Tuhan Yesus telah memperingatkan:

“Waspadalah terhadap nabi-nabi palsu yang datang kepadamu dengan menyamar seperti domba, tetapi sesungguhnya mereka adalah serigala yang buas” (Matius 7:15).

Sadar akan semakin lihainya Iblis menebar jala penyesatannya melalui pemakaian Alkitab dan para petualang yang menggunakan gereja sebagai lahan bisnis, seharusnya mendorong dan menuntut setiap kita untuk semakin giat belajar dan bertanggung jawab dalam turut menyebar pendidikan berteologia bagi jemaat awam.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *