Lucifer

Menyingkap Misteri Sosok Istimewa Yang Menjadi Iblis

Membahas tentang Lucifer yang oleh sebagian penafsir Alkitab dianggap sebagai ciptaan Tuhan yang memberontak dan yang dikenal dengan sebutan Iblis ini, memang lebih sering berujung pada hanya sebatas kebuntuan berpikir dan berakhir tanpa kesimpulan yang memadai. Oleh karena itu sebagian orang mengambil sikap pasif jika berurusan dengan topik ini. Akan tetapi adanya oknum ini disebut dalam Alkitab, pasti memiliki maksud untuk diketahui, meskipun harus melalui proses panjang yang rumit dan sulit. Faktor kesulitan ini disebabkan oleh tidak adanya satu perikop pun dalam Alkitab yang menjelaskan kisah tentang Iblis secara terang-benderang. Untuk menggali eksistensinya, maka para penafsir sejauh ini hanya bisa memakai metode penelitian alegoris terhadap ayat-ayat yang bisa merupakan petunjuk jati diri pribadi yang dijuluki sebagai ‘penghulu setan’ ini. Namun karena hal ini berkaitan erat dengan rencana keselamatan diadakan, maka mau tidak mau kita harus berupaya menemukan jejaknya semaksimal mungkin dari dalam Alkitab.

Kata ‘iblis’, dan ‘setan’ memang tidak sedikit kita temukan dalam Alkitab. Untuk memahami bahwa oknum ini adalah jahat dan merupakan pribadi yang menjadi oposisi Allah, tidaklah sulit. Akan tetapi untuk melacak nama, asal-muasalnya dan mengapa ia menjadi oknum yang memberontak terhadap Allah, bukanlah sesuatu yang mudah. Sebagian penafsir Alkitab (penafsiran tipologis dan alegoris) telah sepakat dan melacak asal mula dan jati diri oknum ini dari kitab Yesaya 14 dan Yehezkiel 28. Disebut alegoris karena kita hanya bisa mengambil beberapa ayat lepas dari konteksnya untuk mengambil figur pribadi yang ada di dalamnya sebagai personifikasi untuk menggambarkan oknum yang disebut Iblis atau Setan itu. Dari kitab Yesaya 14, yang diambil hanya sebatas ayat 12-19, dan dari kitab Yehezkiel 28 hanya sebatas ayat 12-19 saja. Dalam hal ini raja negeri Babel dan raja negeri Tirus yang ada dalam pasal-pasal tersebut, diangkat sebagai gambaran atau tipologi bagi oknum yang disebut Iblis atau Setan itu.

Dalam penafsiran alegoris ini, baik Yesaya maupun Yehezkiel dianggap sebagai penulis kitab yang ingin menyisipkan jati diri Iblis dalam sebagian dari karakteristik yang ada dalam diri raja negeri Babel dan raja negeri Tirus itu. Dengan kata lain, Yesaya dan Yehezkiel dianggap sedang mengambil kesempatan mengungkap jati diri Iblis dengan mengambil sedikit kemiripan kedua raja tersebut sebagai ilustrasi dalam hal pemberian tahta atau mandat kekuasan yang sebenarnya diberikan oleh Allah kepada Lucifer, namun akhirnya menyombongkan diri dan memberontak. Jadi penafsir alegoris hanya bisa mengambil sebagian kecil ayat saja dari seluruh perikop yang mengisahkan tentang raja negeri Babel dan raja negeri Tirus itu untuk melacak identitas historis dan karakteristik Iblis.

Lalu mengapa hanya ayat-ayat yang terkait dengan kedua raja tersebut yang bisa dianggap mengacu kepada oknum Iblis, sedangkan nubuat kepada raja-raja lainnya yang terdapat dalam kitab-kitab tersebut tidak dijadikan sebagai personifikasi Iblis? Jawabannya adalah bahwa ketika ayat-ayat tersebut dihubungkan secara sepenuhnya hanya kepada raja negeri Babel dan Tirus, maka ternyata hal itu tidak sepenuhnya cocok diterapkan kepada mereka. Bertolak dari kejanggalan ini maka terbukalah pemikiran tentang adanya sosok lain yang sedang disisipkan di sana, yakni Iblis yang dijuluki sebagai Lucifer. Sedangkan pada raja-raja lain dalam kitab-kitab itu tidak ditemukan kejanggalan yang sama. Untuk memahami yang dimaksud, berikut ini adalah beberapa penjelasan mengenai kejanggalan-kejanggalan dalam kitab-kitab tersebut:

Dalam kitab Yesaya 14:12-19

Oknum itu disebut dalam bahasa Ibrani ‘helel ben sakhar’ yang artinya ‘Bintang Timur Putera Fajar’. Dalam terjemahan Alkitab bahasa Latin (Vulgata) diterjemahkan ‘lousifur’ yang artinya ‘pembawa cahaya’. Dari kata inilah Alkitab KJV (bahasa Inggris) mengambil bentuk ‘Lucifer’ yang menjadi bentuk yang terkenal secara umum. Sedangkan dalam bahasa Yunani ditulis ‘ho heosphoros’ yang artinya ‘pembawa Fajar’. Bagi para ilmuan sebutan ini mengacu pada planet Venus, yakni bintang yang muncul di pagi hari saat matahari terbit. Jadi bisa dikatakan bahwa Lucifer sebenarnya bukan nama, melainkan gelar yang menggambarkan status atau kualitas dari oknum tersebut. Tingginya kualitas diri dari oknum yang dimaksud, menjadi kurang cocok atau berlebihan apabila gambaran ini melulu diarahkan hanya kepada raja negeri Babel (Nebukadnezar II, tahun 605-562 SM), apalagi kepada raja negeri Tirus (sulit menentukan raja yang mana yang dimaksud), yang sebenarnya lebih kecil kemegahannya dari kerajaan Babel. Maka dapat disimpulkan nabi Yesaya dan Yehezkiel hanya mengambil kedua kerajaan ini dan rajanya sebagai tipologi atau personifikasi yang tidak sempurna saja.

Pada ayat 12 yang dapat disejajarkan dengan perkataan Yesus (Lukas 10:18), oknum itu dikatakan jatuh dari langit ke bumi. Hal itu menjelaskan bahwa ia tidak berasal dari bumi, melainkan suatu makhluk sorgawi. Ilustrasi seperti ini tidak pernah dilakukan terhadap raja-raja lain. Jadi yang jelas ayat-ayat ini tidak mengacu kepada raja Babel dan raja Tirus lagi, melainkan kepada oknum Iblis atau Lucifer tersebut.

Pada ayat 13,14 dikatakan bahwa makhluk ini hendak naik menyamai ‘Yang Maha Tinggi’. Dari sejarah tidak ditemukan bahwa ada raja-raja Babel dan raja-raja Tirus yang identik dengan karakter seperti ini. Raja-raja ini memiliki dewa yang mereka sembah sebagai Tuhan. Karakter yang paling mungkin adalah mereka bisa menganggap diri mereka sebagai jelmaan dari Dewa, namun bukanlah dewa itu sendiri. Ungkapan ‘ingin menyamai’ pada ayat-ayat tersebut memberi petunjuk yang jelas bahwa oknum ini mengakui adanya oknum ‘Yang Maha Tinggi’ dan ingin bersaing dengan-Nya. Hanya Iblis yang mungkin melakukan ambisi sebesar dan sejauh ini. Karena baik raja-raja Babel maupun raja-raja Tirus, selain tidak adanya bukti sejarah yang memberi indikasi kiprah seperti ini, mereka juga adalah raja kafir yang tidak mengenal istilah ‘Yang Maha Tinggi’ dalam budaya dan filosofinya. Inilah yang menjadi dasar pemikiran untuk merujuk ayat-ayat ini sebagai penyingkap jati diri oknum Iblis.

Dalam kitab Yehezkiel 28:12-19

Dalam ayat 12 sang nabi disuruh untuk mengucapkan ratapan. Ratapan dalam tradisi Yahudi biasanya berbentuk syair-syair yang disenandungkan dalam suatu upacara kemalangan. Diperkirakan waktu itu kerajaan Tirus sedang menuju kehancuran. Dalam hal ini raja negri Tirus merupakan tipologi dari oknum yang  dijuluki sebagai Lucifer itu. Jadi yang dimaksud bukanlah raja negeri Tirus itu. Karena secara historis tidak ada kepentingan Allah secara langsung kepada raja negeri Tirus tersebut. Tetapi kepada Lucifer Allah memiliki kepentingan terkait rencana Allah yang agung atas dirinya sebelumnya. Hal ini terlihat dari ungkapan ‘gambar kesempurnaan, penuh hikmat dan maha indah’. Dia juga tidak bisa disamakan dengan para malaikat lainya, karena malaikat pada hakikatnya diciptakan hanya sebagai pesuruh Allah.

Dalam ayat 13-14 dituliskan bahwa oknum tersebut ada di taman Eden dengan segala ornamennya. Mengingat Eden itu merupakan suatu tempat yang berbentuk fisik, maka sangat besar kemungkinan Lucifer itu juga adalah ciptaan yang berbentuk fisik pula. Kalimat ini jelas menunjukkan oknum yang diciptakan secara khusus. Namun sangat disayangkan ia memberontak atau berkeadaan tidak seperti yang diharapkan. Hal ini disiratkan pada kemasan ayat-ayat ini yang disajikan dalam bentuk ratapan. Bahwa oknum ini memang istimewa, oleh karenanya pantas diratapi.

Pernyataan paling istimewa yang menunjukkan posisi kediaman mahluk ini berada di antara “kerub yang berjaga” di gunung kudus Allah, memberi indikasi bahwa tempat ini tidak berada di bumi, namun juga tidak boleh dianggap hanya merupakan kiasan semata. Karena tidak ada tempat di bumi yang layak disebut sebagai Eden dan menjadi gunung kudus Allah. Kita tidak tahu Eden itu di mana dan kita juga tidak tahu sejauh mana maksud Tuhan tentang arti kata Eden di sini. Yang jelas bahwa di waktu yang kemudian, Tuhan juga telah membuat tempat yang disebut Eden untuk Adam dan Hawa, dan kemudian itu disembunyikan Tuhan ketika manusia jatuh ke dalam dosa. Jadi Eden dalam ayat-ayat ini tidak bisa disamakan dengan Eden dalam kitab Kejadian yang disediakan untuk manusia pertama. Kata ‘kerub’ yang merupakan salah satu nama makhluk sorgawi juga, memberi indikasi bahwa posisi Eden tempat Lucifer ini adalah di sorga.

Ayat 14 dalam bahasa aslinya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris adalah “diurapi seperti kerubium”. Hal ini semakin menunjukkan bahwa oknum yang digambarkan dalam pasal ini tidaklah raja negeri Tirus yang menjadi konteksnya. Karena istilah diurapi oleh Allah tidak lazim dikenakan kepada raja-raja kafir. Kejanggalan ini juga turut memberi sumbangsih untuk mendukung penafsiran bahwa pribadi raja dalam ayat-ayat ini hanya sebagai personifikasi Iblis saja.

Dalam ayat 15 dikatakan bahwa oknum ini “tidak bercacat dalam tingkah laku”. Hal ini lebih menunjukkan lagi bahwa oknum ini bukan makhluk ciptaan biasa dan bukan juga manusia yang telah berdosa. Dia adalah Lucifer yang tidak bercacat sebelum kejatuhannya ke dalam dosa. Dia adalah abdi Allah sebelumnya.

Dalam ayat 17 dikatakan bahwa oknum ini dilemparkan ke bumi. Momentum yang paling tepat untuk peristiwa ini dijelaskan dalam kitab Wahyu 12,  dan yang telah diungkap oleh Yesus secara propetis sebelumnya dalam Lukas 10:18, yang digenapi saat penyaliban-Nya di Golgota. Dalam hal ini tidak mungkin yang dimaksud pada kitab Yehezkiel ini adalah raja Tirus, karena raja Tirus berasal dari bumi dan selalu berada di bumi. Jadi oknum ini memang adalah makhluk sorgawi yang akhirnya dibuang, yakni Lucifer atau Iblis. Lalu kapan Iblis diciptakan dan apa dasar sukses pemberontakannya?

Asal Mula Iblis Dan Dasar Pemberontakannya

Meskipun tidak ada ayat yang menjelaskan secara eksplisit perihal asal muasal Iblis beserta para makhluk sorgawi lainnya dalam Alkitab, namun kita bisa memprediksi bahwa hal itu terjadi sebelum penciptaan alam semesta. Karena bila hal itu terjadi setelah penciptaan, maka sewajarnya kisah tentang dia akan terpapar secara jelas di antara kisah-kisah yang ada dalam Alkitab.

Sebutan tentang ‘Iblis’ dan ‘Setan’ sarat dalam Alkitab. Sayangnya istilah-istilah itu tidak secara konsisten diterjemahkan dari naskah asli Alkitab ke bahasa Indonesia. Naskah asli PL maupun PB sangat jelas membedakan sosok Iblis atau Setan (Wahyu 12:9) sebagai yang berbeda dengan para pengikutnya yang disebut “roh-roh jahat”, yang sebenarnya merupakan para malaikat yang ikut mendukung Iblis ketika memberontak kepada Allah. Dalam naskah Alkitab bahasa Ibrani (PL) oknum yang memberontak kepada Allah ini disebut ‘satan’, yang artinya adversery (musuh) atau one who withstands (oknum yang melawan). Alkitab bahasa Inggris menterjemahkannya dengan kata ‘satan’ juga, sementara Alkitab bahasa Indonesia menterjemahkannya dengan kata ‘Iblis’ (Ayub 1:6 dan lain-lainnya). Tidak ada kata ‘setan’ dalam PL.

Oknum pemberontak ini dalam bahasa Yunani (PB) disebut ‘diabolos’ yang artinya slanderous (pendakwa) dan accusing falsely (pendakwa yang salah). Alkitab bahasa Indonesia selalu menterjemahkan kata ini dengan kata ‘Iblis’ (Matius 4:1 dan lain-lain). Sementara ucapan Yesus untuk oknum ini selalu disebut ‘satanas’ yang artinya sama dengan arti dalam bahasa Ibrani, dan diterjemahkan menjadi ‘Iblis’ juga (Matius 16:23 dan lain-lain) mengikuti pola PL (sewajarnya diterjemahkan menjadi ‘setan’). Masalahnya kata ‘setan’ dalam PB juga menjadi terjemahan dari kata ‘daimonia’ yang artinya divine power (kekuatan ilahi), a being inferior to god but superior to men (suatu wujud yang lebih rendah dari Allah tetapi lebih tinggi dari manusia), evil spirit or messengers and ministers of the devil (roh jahat atau atau pesuruh dan pelayan bagi Iblis), yang sebenarnya lebih tepat disebut sebagai roh-roh jahat yang tingkatanya berada di bawah Iblis seperti dalam Matius 7:22; 8:16,28,31; Yakobus 2:19 dan lain-lain. Makhluk-makhluk ini digambarkan seperti bintang-bintang yang diseret oleh naga (Iblis) dari langit (Wahyu 12:4a). Jadi sewajarnya kata diabolos diterjemahkan menjadi ‘Iblis’ yang adalah satanas yang seharusnya diterjemahkan menjadi ‘setan’, dan kata daimonia diterjemahkan menjadi roh-roh jahat.

Iblis (diabolos) atau setan (satanas) itu hanya satu pribadi. Dialah sosok pemberontak yang langsung datang mencobai Yesus dalam Matius 4:1-11. Dia juga yang dilihat oleh Yesus secara propetis jatuh dari langit dalam Lukas 10:18 dan yang digenapi dalam Wahyu 12:9. Dia juga yang datang mengusik Yesus melalui Petrus dalam Matius 16:23 dan yang dihadapi oleh Mikhael dalam Yudas 9. Sementara roh-roh jahat itu sangat banyak jumlahnya, Merekalah para daimonia yang juga sering disebut dalam bahasa Yunani sebagai pnemumaton akhatarton yang artinya unclean spirit (roh-roh yang tidak kudus), tetapi sering diterjemahkan secara tidak konsisten sebagai setan dalam Alkitab bahasa Indonesia.

Dari uraian tulisan Yesaya dan Yehezkiel sebelumnya telah kita pahami sebagian seluk-beluk perihal Lucifer yang menjadi Iblis itu. Motivasi pemberontakan yang adalah keinginan independen untuk memerintah sendiri dan bagaimana ia melakukannya dengan menghasut para malaikat untuk menjadi pengikutnya. Tentu saja telah banyak dan sangat terbuka berbagai kemungkian tafsiran lain tentang hal ini. Akan tetapi yang jarang kita temukan adalah pertanyaan atau upaya membahas alasan logis dari Lucifer akan kemungkinan berhasil memberontak kepada Allah. Karena sangat tidak mungkin bahwa Lucifer tidak menyadari tentang ketidakmungkinannya mengalahkan Allah. Jadi pada hakikatnya dia tidak berniat bertarung mengalahkan Allah, melainkan hanya menginginkan “meyamai yang Mahatinggi” (Yesaya 14:14) atau menjadi terpisah dari Allah, dan untuk hal ini tentu saja ada dasar kemungkinan tercapai. Apa itu?

Kita harus selalu menyadari satu hal mendasar tentang Allah, bahwa Ia telah menetapkan beberapa tatanan dalam hidup ini yang tidak akan dilanggar atau yang akan dipegang-Nya sebagai integritas Diri-Nya. Salah satu tatanan itu adalah kehendak bebas (free will) yang diberikan kepada ciptaan yang segambar dan serupa dengan-Nya, yakni para makhluk surgawi dan manusia. Dengan tatanan ini maka Allah akan membiarkan siapapun termasuk Lucifer untuk memilih taat kepada-Nya dengan sukarela atau tidak. Karena Allah akan lebih senang apabila ciptaan-Nya dengan pilihan bebas tunduk dan mencintai-Nya ketimbang dengan paksaan. Atas dasar prinsip ini maka Lucifer tanpa hambatan dapat memberontak kepada Allah dan memang hal itu terwujud. Pembuktian prinsip ini juga dapat terlihat dari tidak dihalanginya manusia untuk menyentuh dan memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, meskipun dengan itu manusia akhirnya akan jatuh ke dalam dosa dan mengalami kematian atau binasa.

Adalah mudah bagi Allah untuk melenyapkan Iblis seketika melakukan pemberontakan. Tapi Allah tidak melakukannya, selain karena hukum tatanan yang sudah dijelaskan di atas, juga karena prinsip keadilan Allah. Prinsip keadilan ini mempertimbangkan bahwa Iblis bukanlah tandingan kekuatan bagi Allah. Seyogianya ciptaan jugalah yang menjadi tandingan bagi Iblis. Inilah yang menjadi salah satu alasan atau tujuan manusia diciptakan. Akan tetapi dalam progres pertandingan di taman Eden, manusia pertama telah kalah terhadap kelicikan Iblis. Oleh karena itu skenario Allah selanjutnya dijalankan, yakni melepas Putera tunggal Allah untuk menjadi manusia. Kalau Adam pertama ternyata kalah terhadap Iblis, maka Adam kedua tidak (1 Korintus 15:45). Yohanes menggambarkan kemenangan tersebut dalam Wahyu 12:3-12:

(3,4) “Maka tampaklah suatu tanda yang lain di langit; dan lihatlah, seekor naga merah padam yang besar, berkepala tujuh dan bertanduk sepuluh, dan di atas kepalanya ada tujuh mahkota. Dan ekornya menyeret sepertiga dari bintang-bintang di langit dan melemparkannya ke atas bumi. Dan naga itu berdiri di hadapan perempuan yang hendak melahirkan itu, untuk menelan Anaknya, segera sesudah perempuan itu melahirkan-Nya.”

Pada ayat 9 sangat jelas yang dimaksud dengan ‘naga’ di sini adalah Iblis. Aksinya yang menyeret sepertiga bintang di langit (sangat besar kemungkinan artinya adalah para malaikat yang berada di bawah otoritasnya dan yang berpihak padanya), didorong oleh kemarahannya pada keputusan Allah Bapa untuk menjelmakan Allah Anak menjadi manusia. Lalu ia turun ke bumi untuk berdiri mengincar saat penjelmaan Allah Anak sebagai manusia yang sangat tidak diinginkannya.

Jadi kita sebaiknya tidak melihat masa berdiri Iblis di hadapan perempuan dalam kitab Wahyu itu hanya dalam kurun waktu seketika. Saat melahirkan pada ayat ini bukanlah saat Maria melahirkan bayi Yesus, melainkan saat matinya Yesus di Golgota sebagai puncak tugas dan kemenangan-Nya. Masa waktu perempuan itu mengandung harus dilihat sebagai masa selama kurun waktu penjelmaan Allah Anak sebagai manusia. Dengan demikian harus dihitung mulai dari saat Yesus dalam kandungan hingga kenaikan-Nya ke sorga. Masa berdiri Iblis itu adalah masa mengincar kesempatan menggagalkan pembuktian Yesus sebagai penyelamat manusia yang puncaknya adalah pengorbanan-Nya di Golgota.

Jadi sukses Yesus di Golgota adalah petaka bagi Iblis. Itu sebabnya ia memburu Yesus yang telah menang hingga kenaikan-Nya ke sorga, yang digambarkan pada ayat berikut.

(7) “Maka timbullah peperangan di sorga. Mikhael dan malaikat-malaikatnya berperang melawan naga itu, dan naga itu dibantu oleh malaikat-malaikatnya,” …

Ayat ini melaporkan bahwa Iblis yang dijuluki naga itu (ayat 9) berhadapan dan dikalahkan oleh Mikhael (salah satu pemimpin malaikat Tuhan). Ayat ini sangat jelas menunjukkan bahwa bukan Allah yang berperang, melainkan para malaikat yang tetap loyal kepada Allah. Sebelumnya Daniel juga sudah mendapat pewahyuan tentang peran Mikhael ini dalam menghadapi usaha-usaha Iblis yang dilambangkan sebagai pemimpin orang Persia (Daniel 10:13,21; 12:1). Kemudian Yudas juga menyinggung tentang Mikhael yang bertengkar perihal mayat Musa (Yudas 1:9). Dari ucapan Mikhael yang berkata, “Kiranya Tuhan menghardik engkau” dalam tulisan Yudas tersebut, menunjukkan adanya otoritas yang hebat pada diri Iblis (Lucifer) yang berada di luar wewenang Mikhael. Sungguh, Tuhan telah memberi suatu kualitas yang tidak kecil dan tidak bisa dianggap remah kepada Iblis.

(8) … “tetapi mereka tidak dapat bertahan; mereka tidak mendapat tempat lagi di sorga.”

Ayat ini melaporkan kekalahan Iblis dan para pengikutnya. Sebagai akibatnya adalah mereka tidak lagi memperoleh tempat di sorga. Ayat ini memberi gambaran sengitnya peperangan dan sulitnya melumpuhkan kekuatan Iblis, sehingga mereka tidak takluk, melainkan hanya terhalau dari sorga. Tentu saja proses peperangan ini tidak biasa dianggap ringan. Mengingat kemampuan istimewa yang telah Tuhan berikan kepada Iblis, maka sangat mungkin peperangan ini berlangsung sengit sehingga Mikhael dan para malaikatnyapun tidak sanggup. Kekalahan Iblis akhirnya bisa dimungkinkan oleh penjelasan berikut.

(9) “Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Setan, yang menyesatkan seluruh dunia, dilemparkan ke bawah; ia dilemparkan ke bumi, bersama-sama dengan malaikat-malaikatnya.”

Pada ayat ini dikatakan bahwa Iblis dan para pengikutnya itu dilemparkan ke ‘bumi’. Banyak penafsir menganggap peristiwa ini terjadi setelah penciptaan langit dan bumi (Kejadian 1:2). Tafsiran ini agak logis karena keadaan bumi yang dinyatakan pada ayat ini sebagai ‘tidak berbentuk’ (tohu), kosong (bohu), dan keadaannya ‘gelap’ atau ‘tak terkenali’ (chosek), diawali dengan preposisi ‘hayah’ yang artinya ‘to be’ atau ‘become’. Dalam hal ini artinya lebih tepat ‘menjadi’ dari pada ‘belum’ dalam terjemahan Indonesianya. Jadi keadaan bumi waktu itu “menjadi tak bebentuk dan kosong”. Artinya tidak dikenali lagi sebagaimana mestinya”. Kira-kira demikian, namun ini hanya salah satu dari bentuk tafsir saja. Sedangkan tafsiran lainnya yang dianut juga oleh penulis akan dijelaskan pada uraian ayat berikut ini.

(10,11) “Dan aku mendengar suara yang nyaring di sorga berkata: “Sekarang telah tiba keselamatan dan kuasa dan pemerintahan Allah kita, dan kekuasaan Dia yang diurapinya, karena telah dilemparkan ke bawah pendakwa saudara-saudara kita, yang mendakwa mereka siang dan malam di hadapan Allah kita. Dan mereka mengalahkan dia oleh darah Anak Domba, dan oleh perkataan kesaksian mereka. Karena mereka tidak mengasihi nyawa mereka sampai ke dalam maut.””

Kemudian pada kedua ayat ini dinyatakan kemenangan mutlak atas Iblis. Mikhael dan para malaikatnya serta semua orang yang taat kepada Tuhan, akhirnya mengalahkan Iblis dengan kuasa “darah Anak Domba” (ayat 11) yang adalah pengorbanan Yesus Kristus di Golgota. Dalam ayat 10 nya telah dijelaskan bahwa itulah ‘keselamatan’ dari kuasa yang diurapi-Nya. Ayat-ayat ini menjelaskan akhir dari usaha-usaha kejahatan Iblis yang mendakwa orang-orang saleh siang dan malam. Artinya fonis secara sah menyatakan bahwa Iblis bersalah, baru dapat dinyatakan setelah pengorbanan Yesus.

Kita tahu bahwa Yesus adalah Putera Allah yang mengosongkan diri-Nya dan sepenuhnya menjadi manusia yang berhasil taat kepada Allah hingga mati di kayu salib (Filipi 2:5-8). Ketaatan manusiawi yang diperankan oleh Yesus ini menjadi sebanding atau menjadi tandingan bagi Iblis, karena penghukuman kepada Iblis harus dilakukan dengan cara yang wajar dan adil. Iblis harus dikalahkan dengan kekuatan yang sebanding dengannya, bukan dengan kekuatan tangan Allah Bapa. Demikianlah kisah sang makhluk istimewa yang dijuluki sebagai Lucifer menjadi Iblis karena memilih tidak taat kepada Allah dan menjadi penghasut ciptaan lainya untuk keluar dari rangkulan kasih Allah.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *