Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-01)

CARA KERJA ALLAH

Prinsip mendasar yang pertama harus dipahami dan diterima untuk bisa memahami cara kerja Allah adalah, bahwa Allah itu ‘mahatahu’ (1 Samuel 2:3). Dengan prinsip tersebut maka kita juga sudah harus menyadari bahwa bagi Allah sesungguhnya segala hal telah selesai dalam pikiran-Nya sejak semula (sebelum penciptaan). Jadi bagi Allah tidak ada rahasia dan tidak ada misteri yang belum terpecahkan. Segala kemungkinan telah diketahui sebelumnya. Dan untuk setiap kemungkinan telah tersedia solusinya. Timbul pertanyaan, “apakah dengan demikian berarti Allah sebenarnya sudah menetapkan segalanya berjalan secara otomatis ibarat sandiwara yang sudah diatur skenarionya?” Tentu saja tidak! Hal ini akan dijelaskan pada prinsip yang kedua.

Prinsip kedua yang harus dipahami adalah bahwa “Allah itu baik” (Mazmur 73:1) dan oleh karena itu rencana dan kehendak-Nya juga adalah baik. Tetapi karena Ia mengingini para makhluk sorgawi dan manusia taat kepada-Nya atas kerelaan masing-masing, maka Allah menetapkan satu TATANAN “kehendak bebas” (fee will) dalam diri mereka, yang berpotensi pada pelanggaran atas rencana atau kehendak baik-Nya. Oleh karena itu Allah juga sudah tahu sebelumnya kalau salah satu oknum ciptaan terbaik-Nya akan memberontak dan menjadi Iblis. Ia juga sudah tahu sebelumnya kalau manusia pertama akan terhasut oleh Iblis untuk melanggar kehendak-Nya. Jadi kemahatahuan akan risiko buruk atas kehendak-Nya tidak mempengaruhi keputusan dan sikap-Nya sehingga mencegah hal yang di luar keinginan-Nya itu terjadi. Tetapi Allah telah merencanakan fasilitas penyelamatan untuk mengantisipasi risiko buruk tersebut melalui Putera Tunggal-Nya Yesus Kristus (Kisah 4:27b,28) yang bermuara pada dua kemungkinan: “kehidupan kekal” bagi yang menerimanya, atau “kengerian kekal” bagi yang tidak menghiraukannya (Daniel 12:2). Memahami prinsip ini adalah kunci untuk mengerti Cara Kerja Allah, dan yang dengan demikian juga adalah kunci untuk bisa hidup bergerak selaras dengan rencana-Nya.

Tentu saja Allah sanggup mengerjakan apapun dalam sekejap mata, karena Ia Mahakuasa (Wahyu 1:8). Ia sanggup menghentikan segala yang menentang kehendak-Nya dan juga sanggup mewujudkan rencana-Nya dalam sekejap. Alkitab juga banyak mencatat perbuatan Allah yang ajaib melalui cara yang kita kenal sebagai mujizat. Tetapi fenomena mujizat tidak seharusnya menutup mata kita dari kenyataan bahwa Allah justru mengerjakan jauh lebih banyak rencana-Nya melalui proses alamiah dan dengan cara progresif atau bertahap. Kesadaran ini seharusnya dapat menjadi pendorong niat kita untuk menggali batasan antara tindakan Allah melalui penggunaan mujizat, dengan bekerjanya tatanan alamiah yang sudah Dia tetapkan sebagai hukum yang berlangsung secara konstan. Kebutaan akan proporsi inilah yang menjadi biang kerok menjamurnya iman yang buta dan menjadi ruang leluasa bagi program penyesatan Iblis dalam tubuh gereja sepanjang masa.

Dengan tegas kita harus mengakui bahwa mujizat itu ada. Hal itu terekam secara gamblang di dalam Alkitab, yang oleh karenanya kita tidak boleh anti terhadap mujizat, dan sangat wajar kalau orang-orang percaya berharap pada mujizat berlaku atas hidupnya. Tetapi untuk menghindari pengharapan yang buta dan menjadi korban penyalahgunaan oknum-oknum jahat, maka mengetahi tujuan dan batasan ruang lingkup mujizat adalah keharusan. Periksalah semua kisah tentang terjadinya mujizat di sepanjang Alkitab secara seksama dan jujur, maka Anda akan berakhir pada kesimpulan bahwa mujizat terselenggara hanya sebagai kebijakan Allah pada saat-saat tertentu yang bermuara pada dua hal: Yang pertama adalah sebagai sarana pertolongan darurat ketika proses alamiah tidak dimungkinkan untuk mencapai tujuan tertentu, dan yang kedua adalah sebagai pemberian bukti nyata eksistensi Allah yang tidak selalu harus terjadi. Namun karena tulisan ini tidak terutama untuk membahas tentang mujizat, maka Anda dapat mendalaminya dalam tulisan yang khusus membahas hal ini pada situs hodos.id kolom Teologia yang berjudul ‘Mujizat’.

Memang tidak ada satupun ayat atau kalimat dalam Alkitab yang secara eksplisit mengatakan bahwa sesungguhnya “Allah lebih senang dan lebih banyak bekerja dengan PROSES ALAMIAH SECARA BERTAHAP”. Tetapi kita harus jujur mengakui bahwa semua kisah dalam Alkitab, mulai dari kitab Kejadian hingga kitab Wahyu, juga pada kenyataan hidup yang kita jalani sebagai orang percaya, menjadi fakta tak terbantahkan bahwa Allah memang lebih senang bekerja terutama dengan cara yang demikian. Itulah cara kerja Allah! Bagi pembaca Alkitab yang kritis dan jujur serta yang dapat menerima fakta perjalanan hidupnya dengan jiwa besar, sebenarnya tidak sulit melihat bukti-bukti ini. Untuk membantu Anda merenungkan kebenaran ini, maka berikut ini disajikan kilasan benang merah rencana kekal Allah itu dalam Alkitab.

Sangat jelas bahwa Allah menciptakan langit dan bumi secara bertahap dalam tujuh hari. Ia juga memenuhi bumi dengan populasi makhluk hidup melalui proses beranakcucu. Selanjutnya ada kisah Allah memerintahkan Nuh agar mendirikan bahtera dengan proses alami yang memakan waktu panjang. Untuk mewujudkan sarana penyelamatan dunia melalui Putera Tunggal-Nya, maka Allah telah mewujudkan janji itu kepada Abraham sebagai nenek moyang satu bangsa selama ribuan tahun. Lalu proses penyelamatan melalui Anak-Nya itu berlangsung dengan cara menjadi manusia sepenuhnya, dan mati disalibkan. Semua ini adalah proses bertahap yang dominan berlangsung secara alamiah.

Sangat jelas bahwa rencana penyelamatan itu terencana dan terwujud dalam dua tahap perjanjian yakni: Perjanjian Lama (PL) dan Perjanjian Baru (PB). Lalu proses pengilhaman, penulisan dan pengkanonan Alkitab sebagai manual dari rencana penyelamatan itu telah terjadi secara alami dan memakan waktu hampir 2000 tahun. Selanjutnya menunggu proses penyempurnaan gereja melalui berbagai penderitaan hingga genap jumlah orang-orang yang ditetapkan untuk tujuan khusus (Wahyu 6:11), masih berlangsung hingga saat ini. Pertanyaannya, melalui uraian di atas, masihkah kita menutup pikiran untuk mengakui bahwa sesungguhnya Allah lebih suka bekerja dan lebih dominan melalui PROSES ALAMIAH SECARA BERTAHAP, hanya karena ego kita yang ingin memaksa Allah memenuhi ambisi dan selera dunawi kita dengan cara yang instan?

Pengetahuan ini seharusnya sudah menyadarkan dan menuntun kita pada sikap hidup yang arif, sehingga kita tidak lagi menganggap atau menilai bahwa pengalaman akan mujizat merupakan bukti kualitas perkenanan Tuhan atas satu keadaan atau seseorang. Justru sebaliknya, loyalitas atau kesetiaan pada keyakinan yang dijalani dengan perjuangan hidup secara alamiah, bahkan kesediaan melepas kenikmatan hidup hingga ke titik darah penghabisan demi mempertahankan iman, sudah harus dihayati sebagai kualitas hidup yang dibanggakan oleh Tuhan, dari pada kehidupan yang selalu bergantung pada mujizat.

Jika ternyata Allah itu bekerja terutama dengan proses alamiah secara bertahap, maka Ia pasti memiliki target-target dalam rencana-Nya. Hal ini akan disingkap pada seri-02 selanjutnya.

Theo Light

Satu Komentar pada “Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-01)”

  1. Sangat inspiratif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *