Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-02)

TARGET KERJA ALLAH

Untuk dapat menemukan kebenaran Alkitab paling esensial, maka kita harus mampu menggali maksud-maksud yang terkandung secara implisit (tersirat) di dalamnya, namun dapat dipertanggungjawabkan secara logis. Jika ternyata Allah itu bekerja terutama dengan proses alamiah secara bertahap seperti yang sudah diungkap pada Seri-01 sebelumnya, maka Ia juga pasti memiliki target-target dalam rencana-Nya. Target-target inilah yang umumnya terkandung secara implisit dalam Alkitab, yang oleh karenanya kita harus mampu menggali atau menyingkapkannya ke permukaan. Target-target tersebut tentu saja berkaitan dengan kepentingan hasil akhir yang dikehendaki Allah di kekekalan nanti.

Dengan berpegang pada prinsip bahwa Allah mahatahu, maka tentulah Ia bukan sosok pekerja yang meraba-raba segala kemungkinan, lalu berusaha secepat mungkin mengantisipasi berbagai kemungkinan untuk mengurangi bobot risiko. Tidak demikian! Segala bentuk antisipasi atas segala kemungkinan telah ditetapkan sebelumnya sebagai solusi yang akan bekerja dalam sistem atau tatanan. Tatanan itu adalah hukum-hukum-Nya yang mencakup segala hal, baik yang sudah dapat kita amati, maupun yang belum, baik yang bersifat alami maupun yang rohani. Secara bertahap Allah akan menyingkap hukum-hukum itu menjadi pengetahuan bagi manusia (Daniel 12:4).

Tentu saja tidak ada satu naskah dalam Alkitab yang mengemukakan target kerja Allah itu secara khusus dan terperinci. Orang-orang percayalah yang bertanggung jawab untuk menyingkap target tersebut dari Firman Allah yang terekam dalam Alkitab secara bertahap. Sejauh yang dapat diamati penulis, penyataan progresivitas rencana Allah dan puncak target-Nya yang paling jelas dapat disimak adalah, perintah Yesus dalam catatan Matius 5 yang terkenal sebagai “Khotbah Di Bukit”. Progresivitas rencana yang bermuara pada target “kesempurnaan” itu dapat diurai sebagai berikut:

Ayat 3-12: Nilai Kebahagiaan Sejati

Keadaan miskin, berdukacita, lemah lembut, lapar dan haus, murah hati, suci hati, membawa damai, dianiaya, dan dicela, yang dikemukakan Yesus di sepanjang ayat-ayat ini bukanlah nilai-nilai hidup yang dituntut dari kehidupan bangsa Israel sebelumnya. Karena bangsa yang tegar tengkuk itu memang hanya mampu berada pada tingkat kehidupan yang bisa ditundukkan oleh ketatnya dan kerasnya peraturan Taurat yang diberikan melalui Musa di gunung Sinai. Bangsa pilihan Tuhan itu belum sanggup hidup pada dimensi taat dan setia tanpa adanya peraturan keras yang dibumbui dengan motivasi janji-janji berkat lahiriah seperti yang terdapat pada Ulangan 28 dan lain sebagainya. Jadi khotbah Yesus di bukit ini adalah persiapan peralihan standar nilai hidup, dari yang dibangun di atas perkara lahiriah atau program kerja Allah pada periode Perjanjian Lama (PL), ke standar nilai hidup yang dibangun di atas kekuatan rohani yang sedang digarap melalui program kerja periode perjanjian Baru (PB). Hal ini telah dinubuatkan jauh sebelumnya dalam kitab Yeremia 31:31-33.

Ayat 13-16: Gaya Hidup Menjadi Berkat

Pada ke empat ayat ini tuntutan peningkatan standar kualitas hidup itu semakin tegas dinyatakan, yakni kehidupan yang rela berkorban bagaikan garam yang bersedia luruh dan pelita yang kehabisan minyak demi kepentingan orang lain. Nilai ajaran seperti ini hampir tidak kita temukan dalam Taurat atau PL yang sarat dengan perang dan mengejar sukses duniawi.

Ayat 17-19: Taurat Yang Akan Digenapi

Sebelum melanjutkan pada paparan standar kualitas kehidupan yang baru, Yesus menjembataninya dengan pernyataan bahwa Taurat itu tidak ditiadakan melainkan digenapi. Artinya bahwa Taurat memang diadakan bukan sebagai puncak standar nilai kehidupan umat-Nya, melainkan sebagai perantara yang bermakna janji atau nubuatan yang akan digenapi pada masa tertentu. Teologia Paulus kemudian banyak menjelaskan prinsip ini, misalnya dalam Roma 3:19-31; dan lain-lain. Jadi Taurat hanyalah merupakan anak tangga pada suatu masa untuk menapaki tangga berikutnya pada masa selanjutnya. Secara tegas pada ayat-ayat ini dikatakan bahwa Yesus adalah penggenap Taurat itu. Dengan hadirnya Yesus dan pengajaran-Nya, maka Taurat dan PL seharusnya tidak lagi menjadi landasan hidup kerohanian orang percaya, melainkan ajaran Tuhan Yesus yang terekam dalam PB lah yang menjadi landasan.

Ayat 20: Tingkat Standar Hidup Keagamaan

Gambaran peningkatan standar nilai-nilai kehidupan itu akhirnya menjadi tegas dijabarkan dengan menyebutkan standar hidup keagamaan yang sudah harus berada di atas ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Kedua golongan eksklusif Yudaisme yang terbentuk sejak pembuangan di Babel ini sangat terkenal dengan ketaatan pada tuntutan Taurat. Yesus mencela mereka bukan karena perbuatan jahat. Mereka adalah orang-orang yang terlatih dalam hal moral umum sesuai tuntutan Taurat. Tetapi Yesus mencela mereka karena nurani yang kotor, karena melakukan tuntutan kaidah agama hanya demi kejayaan diri, bukan karena kasih sejati (1 Korintus 13:3).

Ayat 21-47: Penjabaran Penggenapan Taurat Dan Peralihan Tingkat

Selanjutnya Yesus mengutip beberapa ketetapan dalam Taurat untuk menjelaskan bagaimana hukum Taurat itu digenapi dengan cara menaikkan standarnya, yakni: Membunuh tidak lagi sekadar menghilangkan nyawa, melainkan membenci juga sudah dianggap sebagai pembunuhan (21-24); Hanya mengingini orang yang bukan pasangan hidup sudah dikategorikan melakukan perzinahan (27-32); Sekedar bersumpah sudah tidak menjadi ukuran kejujuran (33-37); Dendam terhadap musuh adalah hal yang lumrah dalam Taurat, tetapi Injil mengajarkan rela berkorban (38-42); Kasih tidak lagi hanya untuk sesama, tetapi juga untuk musuh (43-47). Semua ini adalah peralihan tingkat standar nilai kerohanian.

Ayat 48: Target Puncak Kerja Allah

Akhirnya khotbah pemaparan progres peningkatan standar kualitas kehidupan rohani yang dituntut Tuhan itu diakhiri dengan menegaskan target rencana Allah, yakni kehidupan orang percaya yang harus mencapai kesempurnaan seperti Bapa. Tuntutan nilai hidup SEMPURNA adalah hal yang tidak akan kita temukan dalam Taurat atau PL, mengapa?

Misteri kesempurnaan manusia yang menjadi puncak target kerja Allah akan dikemukakan pada bagian akhir dari serial Membangun Budaya Berpikir Teologis ini. Tetapi melalui paparan Seri-02 ini telah terbukti bahwa tahapan progres kerja Allah itu bersifat meningkat menuju target kesempurnaan. Fungsi PL dan Taurat dengan segala peraturan dan tata cara ritual yang ada di dalamnya ternyata hanya bersifat sementara atau sebagai bagian dari anak tangga menuju tingkatan yang lebih tinggi, yakni kesempurnaan. Sejarah telah menorehkan bahwa orang-orang yang diharapkan menjadi sempurna seperti Bapa itu akhirnya disebut KRISTEN, bukan bangsa Israel secara lahiriah, mengapa? Hal ini akan menjadi topik bahasan pada Seri-03 berikutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *