Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-03)

MENJADI KRISTEN

Karena pesona indah dan nikmat duniawi, maka sangat wajar kalau janji-janji berkat Allah terhadap Israel seperti yang tertera pada Ulangan 28 dan naskah-naskah lainnya, membuat penganut agama Yahudi hingga kini sulit melihat arti sesungguhnya janji berkat Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:1-3. Mereka sulit melihat bahwa janji berkat itu sesungguhnya bermuara kepada pribadi yang bernama Yesus Kristus. Masalah yang kini lebih serius adalah, karena gerakan gereja yang paling efektif dewasa ini, juga telah terseret arus gerak mundur meninggalkan rencana perwujudan program Perjanjian Baru (PB) di dalam Kristus, ke pengejaran berkat-berkat lahiriah yang dijanjikan bagi orang Israel pada masa Perjanjian Lama (PL) yang seharusnya sudah digenapi. Banyak orang Kristen yang tidak mampu melihat bahwa program Tuhan memakai satu bangsa dengan tuntunan Taurat beserta beberapa janji yang menyertainya sudah selesai di dalam Yesus Kristus. Matius 5 sebagaimana telah diurai pada Seri-02 sebelumnya adalah, garis batas antara program kerja Allah pada zaman PL dengan program kerja Allah pada zaman PB.

Bagi orang yang hidup pada zaman para rasul tahu betul bahwa mengikuti jalan Yesus bukanlah tindakan yang wajar dan juga tidak populer. Dunia waktu itu sedang ditata dengan kejayaan Romawi. Kalau ingin aman, orang seharusnya bersahabat dengan mereka, dan kalau ingin jaya, siapapun harus berpartisipasi dalam cita-cita mereka. Ada kemewahan dan jaminan masa depan duniawi di sana. Jadi adalah suatu kebodohan jika seseorang memilih untuk mengikuti jejak Yesus Kristus (1 Korintus 1:18; 2:14), yang meskipun sempat sangat populer oleh ajaran dan berbagai mujizat-Nya yang memukau, namun pada akhirnya mati secara tragis sebagai orang terkutuk (Galatia 3:13). Ajaran-Nya membalik logika umum; “mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang menganiaya”. Bagi orang yang bercita-cita dan ambisius mengikuti kemajuan, penampilan dan kegiatan komunitas itu tentu saja dianggap sesuatu yang merugikan. Mereka sering menjadi kambing hitam yang tidak dibela hak-haknya.

Kalau kita bersedia mengamati secara cermat, maka kita akan melihat bahwa Paulus sebenarnya telah menyajikan ajaran “bukti iman” yang kontras berbeda dalam satu pasal kitab Ibrani 11. Perbedaan ini sebenarnya bisa dilihat sebagai bukti penghayatan iman umat PL yang masih berciri kedahsyatan dalam wujud lahiriah sebagai bukti adanya iman, yang dipaparkan mulai ayat 1-35a, dengan jejak iman dalam nafas umat PB yang sudah berwujud kerelaan menderita demi mempertahankan iman yang dipaparkan dari ayat 35b-40. Dengan prinsip dan potret iman seperti yang dicatat pada Ibrani 11:35b-40 (nafas PB) inilah akhirnya orang-orang di Antiokhia pada waktu itu menjuluki orang-orang percaya sebagai “pengikut Kristus” yang akhirnya terkenal dengan sebutan “Kristen”. Lukas melaporkan:

Mereka (Barnabas dan Paulus) tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen (Kisah 11:26).

Antiokhia sebenarnya adalah sebutan untuk kota-kota yang dibangun oleh Seleukus I Nikator penerus Alexander Agung sebagai upaya untuk menggandakan model kota Alexandria dalam memperluas helenisasi (budaya Yunani). Dua dari kota Antiokhia ini disebut dalam PB yakni: Antiokhia di Siria/Suriah (Kisah 11), sekarang telah dinamai ‘Antakya’ dan menjadi bagian dari Turki (perbatasan dengan Suriah), dan Antiokhia di Pisidia (Kisah 13). Antiokia di Siria adalah yang paling terkenal dari 16 kota Antiokhia yang dibangun. Menurut catatan sejarah, Seleukus menyarankan orang-orang Yahudi diaspora untuk tinggal di kota-kota ini. Pada masa kekuasaan Romawi, kota-kota seperti ini tetap dijadikan sebagai basis peralihan dari budaya Yunani (helenisasi) ke budaya Romawi (latinisasi).

Kita tahu bahwa komunitas pengikut Kristus mula-mula adalah orang-orang Yahudi. Di Antiokhialah komunitas pengikut Kristus non-Yahudi pertama terbentuk secara signifikan. Penduduk Antiokhia sudah menerapkan bahasa Latin (bahasa orang Romawi) sebagai alat komunikasi resmi waktu itu. Demikianlah penduduk di sana menjuluki komunitas baru yang khas itu dalam bahasa latin, yakni christiani(o). Imbuhan ‘iani’ atau ‘iano’ di belakang nama seseorang menunjuk pada sekelompok orang yang menjadi loyalis kepada orang dengan nama tersebut. Hal ini biasanya diterapkan dalam dunia militer. Jadi “christ-iani” berarti pendukung atau pembela Christ (Kristus). Ada dugaan bahwa orang-orang menjuluki komunitas orang percaya demikian, pada awalnya adalah merupakan sindiran atau ejekan bagi para pengikut Kristus yang rela mati (militan) demi nama Kristus.

Dari fakta sejarah di atas akhirnya kita bisa melihat ulang nafas sejati dari kekristenan mula-mula itu. Komunitas pengikut Kristus saat itu bukannya tersinggung dengan julukan itu, malahan menangkap istilah itu menjadi kebanggaan bagi mereka, mengapa? Karena julukan itu dilontarkan bukan karena perbuatan mereka yang negatif, melainkan karena perbedaan kontras gaya hidup dengan manusia pada umumnya, yang menganggap bahwa menikmati dosa adalah cara hidup bijak. Ketika manusia pada umumnya menganggap hidup menikmati dosa tanpa melanggar undang-undang secara umum sudah cukup dan baik, maka para pengikut Yesus ini malahan mau menderita untuk menjaga hidup kudus seperti Yesus.

Mereka tetap bekerja dan bergaul dengan baik sebagaimana layaknya masyarakat umum pada waktu itu. Jadi letak keunikan mereka tidak bersifat eksklusif, melainkan pada kehidupan tanpa dosa. Karena dengan ekslusivitas tidak mungkin banyak orang bergabung dengan mereka, bahkan orang-orang di luar Yahudi seperti yang terjadi di Antiokhia. Masyarakat luas dapat melihat fenomena itu dengan jelas pada waktu itu sehingga orang lain bisa menjuluki mereka dengan sebutan KRISTEN. Jadi kehidupan satu komunitas yang kudus seperti Kristus di dunia ini ternyata bisa terlaksana dan pernah terjadi di tengah-tengah masyarakat Romawi yang bergelimang dosa. Itulah Kristen orisinal yang bertahan hampir tiga abad Masehi awal. Mereka semua satu tanpa ordo atau aliran yang terpisah dan tanpa liturgi yang kaku.

Pada awalnya komunitas baru yang akhirnya disebut Kristen ini masih beribadah di Bait Allah dan Sinagoge-Sniagoge tempat beribadah orang Yahudi di luar Yerusalem. Tetapi oleh karena tekanan dari pihak Yudaisme dan karena semakin sadar akan rencana Allah dalam mengerjakan pembaruan perjanjian (Yeremia 31:31-33) serta keselamatan bagi seluruh bangsa-bangsa (Matius 28:19,20), maka secara berangsur mereka beralih ke rumah-rumah dan fasilitas-fasilitas umum yang bisa digunakan untuk berkumpul. Hal ini akan semakin diperjelas pada seri selanjutnya.

Pernyataan di atas tidak hendak mengatakan bahwa Kristen mula-mula itu hidup tanpa adanya masalah di antara mereka. Dari tulisan Paulus dalam PB, kita bisa temukan bukan saja perbedaan-perbedaan pendapat, tetapi juga perdebatan karena niat melakukan efektivitas pelayanan pernah terjadi (Galatia 2:11-14). Selain itu juga sudah mulai terlihat usaha-usaha penyesatan (Galatia 1:6-9). Tetapi hal-hal tersebut dapat dengan mudah terantisipasi karena kuatnya kerinduan untuk berusaha memperagakan tabiat Kristus dalam kehidupan yang menjadi pengendali utama dalam seluruh aktivitas mereka (1 Korintus 1:12; 3).

Kekristenan dalam dinamika saleh seperti itu, sangat jelas bisa diandalkan sebagai alat di tangan Allah untuk menyelesaikan proyek Perjanjian Baru-Nya. Apabila kekristenan yang sekarang terasa tidak mencerminkan hal yang sama lagi, hal itu tidak berarti bahwa kekristenan tidak lagi menjadi alat yang tepat di tangan Allah. Tuhan akan selalu membangkitkan orang-orang yang membuka hati dan rela berkorban demi bergerak pada jalur kemurnian rencana Allah pada setiap zaman. Pertanyaannya, mengapa degradasi kualitas kerohanian kristiani ini begitu jauh terpuruk saat ini?

Pertanyaan ini akan terjawab pada seri-seri selanjutnya. Yang jelas melalui uraian di atas kita tahu bahwa model Kristen ideal sesuai kehendak Allah, pernah ada di dunia ini. Kita menyebutnya dengan kalimat, “Kristen atau gereja mula-mula”. Pada Seri-04 berikutnya kita akan melihat bagaimana kekristenan itu disebut sebagai ‘gereja’.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *