Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-04)

GEREJA MULA-MULA

Dewasa ini semakin banyak kelompok maupun pribadi yang mengaku sedang mengajar atau melakukan kegiatan seperti yang dilakukan oleh “gereja mula-mula”. Padahal yang sedang mereka lakukan sebenarnya adalah mengajarkan atau melakukan apa yang mereka kutip dari sekelumit naskah Perjanjian Baru (PB) tanpa mengeksegesanya secara hermeneutis, lalu menyimpulkan bahwa begitulah potret keseluruhan kiprah gereja mula-mula. Tidak banyak yang menyadari atau bisa melihat bahwa gereja yang mula-mula itu adalah Kristen sebagaimana telah diuraikan pada Seri-03 sebelumnya. Jika kata ‘kristen’ adalah merupakan sebutan yang berasal dari masyarakat umum oleh dorongan hasil pengamatan mereka atas gaya hidup pengikut Yesus itu, maka istilah ‘gereja’ adalah merupakan cita-cita Kristus yang pernah diutarakan kepada rasul Petrus.

Istilah ‘gereja’ adalah hasil pengejaan orang Indonesia terhadap kata ‘igreja’ yang dibawa oleh penginjil Portugis ke Indonesia. Sedangkan kata ‘igerja’ adalah ejaan orang Portugis untuk kata Latin ‘ecclesia’ yang berasal dari bahasa Yunani ‘ekklesia’. Jadi kata itu bermutasi dari bahasa Yunani, ke bahasa Latin, ke bahasa Portugis, dan kemudian ke bahasa Indonesia. Sedangkan orang Inggris menterjemahkan kata ‘ecclesia’ itu menjadi ‘church’. Kata Yunani ‘ekklesia’ inilah yang pertama kali diucapkan oleh Yesus kepada Petrus: “di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku” (Matius 16:18), untuk menubuatkan akan terbentuknya suatu komunitas pengikut-Nya yang tidak lain adalah Kristen. Tidak jelas mengapa para penterjamah Alkitab ke dalam bahasa Indonesia tidak memakai kata ‘gereja’ untuk menterjemahkan kata ‘ekklesia’ dalam PB, melainkan memakai kata ‘jemaat’ yang sebenarnya berasal dari bahasa Arab.

Kata Yunani ‘ekklesia’ itu sendiri sebenarnya memiliki arti “memanggil keluar”. Ini adalah istilah yang dipakai ketika “penduduk yang merdeka (bukan budak) dalam satu kota dipanggil keluar rumah untuk mengadakan rapat umum di balai kota”. Tentu saja dalam rapat itu yang dibicarakan adalah masalah-masalah dan rencana-rencana penting untuk dilakukan bersama. Dengan demikian maksud Tuhan Yesus dengan penggunaan istilah ini adalah, akan terbentuknya satu persekutuan orang-orang yang dipanggil keluar dari dunia ini, atau mereka yang dimerdekakan dari dosa, untuk bertindak melakukan kehendak Allah di bumi ini. Inilah arti mendasar dari ‘gereja’ yang harus dipertahankan dan diperjuangkan sampai Tuhan Yesus datang kembali.

Tetapi untuk selanjutnya kata ‘gereja’ akhirnya memiliki pengertian yang berkembang secara progresif selaras dengan pertumbuhan kekristenan yang bisa dijelaskan sebagai berikut:

  • Pada mulanya yang dimaksud dengan gereja adalah ‘umat’ atau lebih tepatnya ‘persekutuan’ orang Kristen. Pengertian ini masih sangat dekat dengan arti kata sebagaimana dijelaskan di atas.
  • Selanjutnya yang dimaksud dengan gereja berkembang untuk menyatakan suatu kegiatan pertemuan ibadah orang-orang Kristen yang dilakukan di tempat tertentu. Pada mulanya hal itu dilakukan di rumah-rumah jemaat atau fasilitas umum lainnya.
  • Selanjutnya kata ‘gereja’ ditempatkan di depan kata yang menjadi nama sebuah aliran dalam kekristenan untuk membedakan dengan aliran Kristen lainnya. Hal ini terjadi setelah era reformasi.
  • Selanjutnya kata ‘gereja’ juga dipakai untuk menunjukkan kelembagaan dari kekristenan itu untuk membedakannya dengan lembaga lainnya saat menunjukkan satu sikap atau kebijakan.
  • Yang terakhir adalah kata ‘gereja’ juga sudah dipakai untuk menunjukkan sebuah bangunan yang digunakan sebagai rumah ibadah orang Kristen, yang sedikit memiliki perberbedaan dengan ‘katedral’.

Diakui bahwa gereja sebagaimana dicita-citakan oleh Yesus Kristus, untuk pertama kali terbentuk pada saat 50 hari setelah kebangkitan-Nya dari kematian, yakni pada hari Pentakosta, ketika Roh Kudus dicurahkan kepada orang percaya yang menanti-natikan-Nya (Kisah 2). Jadi hari Pentakosta yang seyogianya menjadi hari besar agama Yahudi untuk memperingati festival panen raya di Yerusalem (Imamat 23), juga menjadi hari lahirnya Gereja bagi umat Kristen. Jadi makna hari raya agama Yahudi itu dan arti kata ‘pentakosta’ tidak ada kaitannya dengan pencurahan Roh Kudus yang menjadi awal berdirinya Gereja Tuhan di dunia ini. Jika kita ingin mencoba menduga alasan mengapa Allah mencurahkan Roh-Nya tepat pada hari itu, maka yang paling masuk akal adalah karena pada hari itu orang-orang Yahudi dan penganut agama Yahudi secara tradisi datang dari berbagai penjuru dunia. Dengan demikian dapat menyaksikan peristiwa bersejarah itu agar menjadi kesaksian yang akan dibawa kembali ke seluruh dunia.

Jadi sangat jelas bahwa Yesus sudah merencanakan akan adanya komunitas baru di luar Yudaisme (agama Yahudi) sebagai puncak kegenapan janji Allah atas Abraham dan janji-janji lainnya dalam Perjanjian Lama (Kejadian 12:1-3; Yesaya 7:14; Mika 5:1, dan lain-lain). Hal ini penting untuk menjawab tuduhan bahwa kekristenan atau gereja adalah hanya merupakan bentukan orang-orang percaya yang keluar dari kehendak Yesus yang tidak pernah merencanakan adanya sistem kepercayaan baru.

Dari uraian di atas akhirnya kita dapat menyimpulkan bahwa makna terminologi gereja sangat identik dengan kekristenan. Artinya Gereja adalah Kristen, dan Kristen adalah Gereja. Secara kronologis, kata ‘gereja’ lah yang terlebih dahulu tampil dari kata ‘kristen’. Tetapi kata ‘kristen’ terlebih dahulu populer yang kemudian disusul oleh kata ‘gereja’. Populernya pemakaian kata ‘gereja’ semakin nyata setelah terbentuknya komunitas Kristen itu diberbagai tempat yang kemudian mereka sebut sebagai gereja (jemaat). Kata ini akhirnya dapat kita temukan di dalam PB sebanyak 109 kali, dan yang terbanyak adalah dalam surat-surat Paulus yang menyebutkan alamat tujuan suratnya sebagai ‘ekklesia’ (jemaat), yakni gereja-gereja perdana yang didirikannya.

Demikianlah Gereja yang dicita-citakan Yesus Kristus itu menjadi Kristen dan berdiri kokoh di atas batu karang (Matius 16:18), yang tahan menghadapi badai aniaya dan berbagai kesulitan duniawi. Benar-benar menjadi komunitas yang mengikuti jejak dan teladan Yesus Kristus dalam praktek hidup setiap hari. Suatu realita yang sulit ditemukan pada gereja dewasa ini, termasuk dalam diri pribadi maupun kelompok yang mengakui telah kembali pada konsep gereja yang mula-mula. Jadi siapapun yang merindukan kembali pada prinsip gereja yang mela-mula, maka yang ditiru seharusnya adalah nilai kerohanian atau teladan Yesus Kristus yang dipraktekkan setiap saat, bukan cara-cara penatalayanan yang dituangkan dalam anggaran dasar organisasi yang bisa diubah sesuai kebutuhan dan perkembangan zaman, dan bukan juga fenomena pekerjaan Roh yang bersifat dinamis, seperti karunia-karunia, yang tidak boleh dijadikan sebagi indikator kelayakan dan perkenanan Tuhan atas seseorang atau sinode geraja tertentu.

Penyebab degradasi nilai-nilai kerohanian kekristenan pada gereja dewasa ini akan sangat jelas terlihat pada uraian seri-seri selanjutnya. Tetapi sebelum melangkah ke sana, pada Seri-05 berikutnya kita akan melihat bagaimana dinamika pergerakan gereja mula-mula ini melakukan penginjilan.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *