Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-05)

PENGINJILAN GEREJA PERDANA

Sangat jelas bahwa kepada orang Israel, penganut agama Yahudi yang kiprahnya terekam dalam Perjanjian Lama (PL) itu, tidak terlihat adanya perintah dari Allah agar mereka menyebarluaskan ajaran agamanya. Amanat Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:1-3 bukanlah perintah misi penyebaran agama, melainkan bersifat nubuat berkat atas bangsa-bangsa yang kelak akan terwujud dalam Yesus Kristus. Jika di kemudian hari banyak orang bukan Israel yang menganut agama Yahudi, hal itu karena proses ‘proselit’ yang awalnya terkondisi secara alamiah, tetapi di kemudian hari akhirnya dilakukan untuk kepentingan kejayaan agama semata-mata di luar kehendak Allah (Matius 23:15).

Proselit adalah istilah Yunani yang berarti ‘pendatang’. Pengertian istilah ini kemudian berkembang bagi orang Yahudi, dipakai untuk menunjukkan orang bukan bangsa Israel yang kemudian memeluk agama Yahudi. Pada awalnya pemeluk agama Yahudi dari bangsa lain adalah penduduk Kanaan yang tidak dimusnahkan ketika bangsa Israel merebut kembali negeri itu. Mereka diwajibkan mengikuti budaya dan keyakinan Israel agar boleh tetap hidup bersama bangsa Israel. Kemudian setelah Bait Allah Salomo dihancurkan pada masa pembuangan ke Babel, di pembuangan bangsa Israel mendirikan tempat-tempat pertemuan yang juga berfungsi sebagai sekolah Taurat dan rumah ibadah, yang disebut Sinagoge. Karena di Sinagoge tentu saja tidak boleh melakukan ritual pengorbanan yang sakral seperti di Bait Allah, maka orang-orang di luar bangsa Israel yang tertarik mempelajari agama itu, diizinkan ikut masuk, dan akhirnya banyak yang tertarik memeluk agama Yahudi.

Sekembalinya bangsa Israel dari pembuangan, meskipun Bait Allah sudah didirikan kembali di Yerusalem, Sinagoge tetap dipertahankan menjadi budaya Yudaisme untuk kepentingan ibadah orang-orang Yahudi yang tinggal di perantauan, maupun bagi mereka yang pergi merantau ke bangsa-bangsa lain. Sudah sejak abad ke-3 SM ada banyak orang-orang non-Yahudi yang memeluk agama Yahudi melalui fasilitas Sinagoge. Mereka itu disebut “penganut agama Yahudi yang takut akan Allah” (Kisah 13:43). Alasan yang paling logis sebagai faktor pendorong bangsa lain tertarik pada Yudaisme adalah pendidikan moral dan kesederhanaan ajaran yang lebih rasional dan bersifat stabil. Hal ini menjadi alternatif yang lebih baik bagi kaum intelektual yang sudah jenuh dengan rumitnya filosofi berhala yang sangat beragam dan berubah-ubah. Faktor dan fasilitas yang sama itu, ditambah dengan faktor ketidakekslusifan kekristenan maupun nilai INJIL, yang membedakannya dengan Yudaisme yang eksklusif, membuat kekristenan lebih mudah dan lebih cepat lagi diterima oleh bangsa-bangsa lain ketimbang ajaran Yudaisme. Faktor ini juga yang salah satu menjadi penyebab kecemburuan orang-orang Yahudi terhadap kekristenan.

Istilah bahasa Indonesia ‘injil’ sebenarnya berasal dari bahasa Arab ‘ingil’ yang diturunkan dari bahasa Yunani ‘ewangelion’ yang artinya “kabar baik”. Arti istilah ini akhirnya  mengalami perkembangan yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

  • Secara harafiah pada mulanya tentu saja arti ungkapan itu menunjukkan semua kabar yang bersifat menggembirakan (kabar baik).
  • Setelah Yesus memakainya untuk menunjuk semua ajaran-Nya (Markus 16:15), maka pengertian ‘injil’ telah diterima sebagai suatu pemberitaan tentang aktivitas penyelamatan Allah di dalam Yesus Kristus (Roma 1:1; Markus 1:1), yang kemudian memunculkan ungkapan “Injil keselamatan” (Efeseus 1:13). Berhubung surat-surat Paulus yang terbit atau beredar terlebih dahulu sebelum kitab-kitab yang menuliskan kisah dan ajaran Yesus Kristus, maka bisa dikatakan bahwa Paulus lah yang dominan, kalau bukan yang pertama, membudayakan kata ‘Injil’ untuk menujukkan ajaran keselamatan di dalam Kristus itu.
  • Kemudian setelah kitab-kitab tentang riwayat dan ajaran Tuhan Yesus ditulis, maka orang Kristen menyebutnya sebagai kitab Injil, khsusunya ke-empat Injil yang ditulis oleh: Markus, Matius, Lukas, dan Yohanes. Ketika seluruh kitab-kitab yang terhimpun dalam Perjanjian Baru (PB) dikoleksi secara bersama, maka orang juga menyebutnya sebagai Injil. Selanjutnya setelah PB digabung dengan PL menjadi satu kitab, juga akhirnya disebut sebagai Injil.

Jadi sangat jelas bahwa peran Sinagoge dan kehausan para penyembah berhala terhadap satu ajaran yang memberi harapan lebih pasti, ketimbang filosofi-filosofi kosong berhala, serta keadaan politik tidak menentu yang menimbulkan rasa cemas, menjadi ladang subur pemberitaan Injil yang dilakukan secara spontan oleh murid-murid Yesus. Pengetahuan ini penting bagi kita agar dapat semakin memahami cara kerja Allah yang juga berlangsung secara alamiah sebagaimana telah dijelaskan pada Seri-01 dan 02 sebelumnya. Juga penting sebagai bahan evalusai pola penginjilan saat ini yang tidak harus selalu sama dengan situasi pada zaman Alkitab. Injil tentu saja tidak berubah dan harus diberitakan hingga Yesus Kristus datang untuk yang kedua kalinya, tetapi pola penginjilan sudah harus disesuaikan dengan perkembangan zaman. Para penginjil zaman sekarang harus bisa memilah berita yang terekam dalam Alkitab, mana yang merupakan nilai yang harus dipertahankan dan diberitakan, dengan cara pemberitaan yang tidak lagi bisa diterapkan pada zaman dan situasi yang sudah berubah. Pola penginjilan gereja mula-mula tidak memberi indikasi adanya cara pemaksaan. Meskipun kadang-kadang disertai dengan tanda-tanda ajaib, namun selalu disertai sarana yang alamiah dan logis.

Sekarang menjadi jelas perbedaan tugas misi maupun cara kerja umat PL dengan umat PB. Jika umat PL adalah sarana untuk mempersiapkan lahirnya Sang Juruselamat dunia (Yesus Kristus), maka umat PB bertugas untuk menjalankan misi penyelamatan itu ke seluruh dunia. Jadi kepada umat PB inilah dipercayakan tugas pemberitaan Injil dengan berbagai cara yang tepat, bukan kepada umat PL. Ini adalah progres penugasan, sekaligus menjadi salah satu bukti perbedaan kebijakan Allah pada era PL dengan era PB yang harus selalu bisa kita pilah.

Pembaca Alkitab harus selalu sadar bahwa dunia dan kisah penginjilan yang kita baca di dalamnya bukanlah segalanya yang ada saat itu. PB hanya mengisahkan pergerakan yang mencakup daerah-daerah kekaisaran Romawi yang berpusat di Roma, seakan hanya itulah dunia seluruhnya saat itu. Pembaca awam bisa tidak sadar bahwa ada beberapa peradaban sebelumnya yang pernah berjaya seperti: Mesir, Babel, dan kemudian kekaisaran Persia yang masih tetap eksis pada waktu itu di belahan dunia yang berbeda, yang dikenal sebagai dunia Timur. Pembaca Alkitab yang tidak teliti tidak akan bertanya, bagaimana dan kemanakah murid-murid Yesus yang lain seperti Matius, Thomas, Filipus, dan yang lainnya, yang kiprahnya tidak disebut dalam Alkitab? Kemudian beberapa misteri penginjilan dalam PB yang belum terpecahkan hingga saat ini, misalnya, siapa yang membawa injil dan mendirikan jemaat di Roma untuk pertama kali? Lalu dari mana sesungguhnya asal-usul Apolos yang tiba-tiba muncul sebagai penginjil yang efektif, padahal tidak tergolong kelompok murid yang ada pada hari Pentakosta di Yerusalem?

Inilah pentingnya menggali sejarah yang merupakan sumber informasi di luar Alkitab, yang lazim disebut oleh para teolog masa kini dengan istilah “sumber eksternal”. Sudah sejak awal Filipus disebut sebagai penginjil yang bergerak ke arah belahan dunia Timur, ke Gaza, dan kisah penginjilannya kepada seorang pembesar ratu negeri Etiopia (Kisah 8). Tetapi kisahnya berhenti sampai di situ dalam Alkitab. Dari sumber luar diketahui bahwa sejarah kekristenan di Etiopia sangat menghormati Filipus sebagai penginjilnya. Matius diakui sebagai pembawa Injil ke Suria dan Persia (saat ini Iran). Sedangkan Thomas diakui sebagai rasul bagi kekristenan di India.

Yang menarik adalah bahwa Gereja Ortodok Siria yang dianut oleh Kristen Suriah, Irak, dan Iran saat ini, juga Gereja Ortodok Yunani yang dianut oleh Kristen Turki, Pakistan, dan Yordania, serta Gereja Koptik Mesir, dan Gereja Armenian di Armenia, memiliki catatan sejarah mereka yang mengakui peran jemaat Kristen mula-mula di Antiokhia sebagai pembawa Injil ke sana. Sesungguhnya sejarah perkembangan kekristenan di belahan dunia Timur itu lebih pesat berkembang secara alamiah hingga 7 abad pertama kekristenan ada (tanpa pemaksaan seperti yang akan dilakukan di wilayah Barat selanjutnya). Lalu mengapa kisah-kisah pengnjilan mereka tidak tercantum dalam Alkitab yang ada di tangan kita saat ini. Hal ini akan dijelaskan pada Seri-Seri selanjutnya.

Theo Light

Satu Komentar pada “Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-05)”

  1. Mantap. Ditinggunseri berikutnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *