Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-06)

BUKU PERJANJIAN

Tentu saja orang Israel atau penganut agama Yahudi (yudaisme) tidak menyebut Alkitab mereka sebagai Perjanjian Lama (PL).Entahlah seperti apa mereka menanggapi atau menafsir nubuat Yeremia terkait akan adanya Perjanjian Baru (PB). Yang pasti mereka tidak menganggap hal itu sebagai nubuat akan adanya sebuah kitab yang terdiri dari PL dan PB. Dan memang tujuan orisinal dari nubuat itu bukanlah untuk mengatakan akan adanya judul dua bagian dari Alkitab orang Kristen saat ini. Melainkan untuk menyatakan bahwa Allah akan melakukan pembaruan Taurat sebagai perjanjian yang sebelumnya dinyatakan di padang gurun dalam bentuk tulisan loh-loh batu dan gulungan kertas, menjadi Taurat yang tertulis dalam batin umat-Nya (Yeremia 31:31-33).

Kita harus berjiwa besar mengakui bahwa orang-orang Israel penganut kekristenan perdana telah berangsur surut sejak abad ke-2 atau sejak sepeninggalan para rasul. Banyak spekulasi yang bisa dikemukakan terkait hal ini. Akan tetapi kita bisa menemukan indikasi yang paling logis dari laporan Lukas tentang pelayanan pertama Paulus di Antiokhia-Pisidia dalam Kisah 13 yang bisa dipaparkan sebagai berikut:

Dari Seri-03 yang lalu telah kita ketahui bahwa Antiokhia adalah kota-kota besar bentukan Yunani dengan penduduk multi etnis yang juga akhirnya digunakan Romawi menjadi sarana latinisasi. Tentu saja masyarakat Yahudi telah mendirikan Sinagoge (Rumah Ibadah) yang cukup besar di sana. Ritual di Sinagoge cukup sederhana: Membacakan Taurat, memanjatkan doa, dan mempersilahkan siapa saja yang ingin menyampaikan hal-hal yang terkait dengan ajaran agama Yahudi untuk membangun umat. Ibadah dilakukan setiap hari Sabat mengikuti tradisi Bait Allah di Yerusalem. Jemaatnya tentu saja merupakan campuran dari orang-orang Yahudi dengan kaum proselit sebagaimana telah dijelaskan pada Seri-05 sebelumnya. Kepada pendengar majemuk seperti itulah Paulus mengajar di Antiokhia untuk pertama kalinya yang dilaporkan dalam Lukas 13:4-52, yang dapat diurai sebagai berikut:

  • Dari ayat 16-23 Paulus memulai ceramahnya terkait pembentukan Israel di Mesir hingga terpilihnya Daud sebagai raja Israel yang merupakan leluhur sarana lahirnya Yesus Juruselamat bagi Israel.
  • Kemudian pada ayat 24-25 Paulus mengangkat kisah pelayanan dan pengakuan Yohanes pembaptis sebagai nabi yang disegani bangsa Israel untuk menegaskan legitimasi keabsahan Yesus sebagai Juruselamat yang diutus oleh Allah.
  • Dari sanalah Paulus melanjutkan ayat 26-41 untuk menceritakan bagaimana Yesus mati dibunuh oleh saudara sebangsa-Nya sendiri, tetapi akhirnya bangkit dari kematian. Terang saja jika berita semacam ini bagaikan halilintar menggelegar di telinga orang Yahudi, namun menyukakan bagi mereka yang cinta kebenaran, sehinga meminta agar topik yang sama diajarkan pada sabat berikutnya (42-43).
  • Ayat 44-52 mengisahkan bagaimana akhirnya banyak orang datang mendengar Paulus, tetapi sudah dihambat oleh orang-orang Yahudi karena iri hati (44-45). Tetapi pengajaran itu membuat orang-orang non-Yahudi, yakni kaum proselit, bergembira karena mendapat legitimasi sebagai anak Allah yang setara dengan orang-orang Yahudi (45-48).

Sejak saat itu pelayanan Paulus lebih diarahkan kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Surat-surat kirimannya yang memuat ajaran pengertian baru tentang ‘Israel’ atau ‘Yahudi’ dan tentang Taurat juga diedarkan kepada jemaat-jemaat non-Yahudi (Roma 3; 9; Efesus 2; dan lain-lain). Dan penulis surat kepada orang-orang Ibrani (Israel) yang kemungkinan besar adalah Paulus, juga secara tegas mengutip nubuat Yeremia 33 dan ucapan Tuhan Yesus (Lukas 22:20; 1 Korintus 11:25; 2 Korintus 3:6) untuk menyatakan bahwa Perjanjian Lama (Taurat) adalah sesuatu yang sudah tua, usang, dan dekat pada kemusnahannya (Ibrani 8). Mungkinkah dinamika pemberitaan ini yang kemudian pendorong semakin geramnya hati para penegak legitimasi Bait Allah sebagai pilar utama yudaisme, dan penyebab semakin merenggangnya hubungan yudaisme dengan kekristenan? Tetapi ini hanya sekedar prediksi logis saja.

Melalui fakta-fakta di atas maka semakin jelas terlihat bahwa penamaan Alkitab sebagai PL dan PB adalah merupakan kebijakan orang Kristen di kemudian hari, yang dapat ditelusuri melalui proses alamiah berikut ini:

  • Selama kurun waktu awal abad pertama Masehi, orang Kristen selalu memakai Alkitab PL sebagai “Kitab Suci” yang menjadi dasar untuk mengajar. Secara harafiah ucapan “Kitab Suci” disebut sebanyak 43 kali dalam PB, dan yang paling populer adalah penekanan nasihat Paulus terhadap muridnya Timotius (2 Timotius 3:15). Dalam hal ini para rasul memakainya sebagai petunjuk penggenapan keselamatan yang digenapi dalam Yesus Kristus. Jadi tidak lagi sebagai petunjuk tata cara beribadah dan acuan orientasi Hidup. Karena orientasi hidup mereka sudah ditanamkan oleh Yesus selama tiga setengah tahun masa pelayanan-Nya di bumi. Juga harus dipahami bahwa kesadaran murid-murid akan maksud semua ajaran Tuhan Yesus tidak terjadi secara langsung. Murid-murid-Nya belum memahami arti Kerajaan Allah sampai saat kebangkitan Yesus, karena masih menuntut bangkitnya kerjaan Israel ala Yudaisme yang masih bercokol dalam benak mereka. Dan Yesus pun tidak memaksakan pengertian itu segera dipahami (Kisah 1:6,7). Setelah sekian lama Petrus akhirnya menyadari dengan pasti bahwa Tuhan tidak membedakan orang dan menyelamatan bangsa-bangsa lain juga (Kisah 10), dan banyak lagi kisah-kisah dalam PB yang memberi indikasi bahwa proses pemahaman murid-murid atas pengajaran Yesus itu terjadi secara progresif. Paulus lah yang kemudian memberi terobosan signifikan perihal wujud perjanjian yang baru itu.
  • Kemudian karena desakan kebutuhan jemaat, para rasul mulai menulis surat-surat edaran untuk menyelesaikan masalah-masalah yang dialami jemaat, yang di dalamnya termuat pemikiran para rasul tentang pandangan dan sikap mereka terhadap PL. Selain itu juga mulai dirasa perlu untuk membukukan kisah hidup dan ajaran Tuhan Yesus Kristus yang kemudian disebut sebagai kitab-kitab Injil.
  • Sepeninggalan para rasul, dengan sendirinya surat-surat dan kitab-kitab warisan para rasul itu dijadikan sebagai pengajaran dan petunjuk hidup beriman oleh orang-orang Kristen selanjutnya. Penyebutan tertua untuk menunjuk Alkitab sebagai suatu kitab yang merupakan kumpulan dari banyak kitab, dalam bahasa Yunani: ta biblia = buku-buku, ditemukan pada tulisan Clement (2 Clement 14:2) yang ditulis pada kira-kira pertengahan hingga akhir abad ke-2. Clement atau Klemens adalah seorang bapa gereja Timur kelahiran Aleksandria yang juga meninggalkan warisan suatu buku rohani. Dari bukunya kita bisa menemukan informasi tentang kehidupan kekristenan paska rasul-rasul. Dialah yang diperkirakan memulai pemakaian istilah PB untuk menunjuk tulisan-tulisan para rasul yang dia koleksi secara pribadi, dan menamai Alkitab orang Israel sebagai PL, yang mungkin merupakan hasil pemahamannya dari nubuat Yeremia 31:31-33.

Demikianlah kisah singkat bagiamana kitab-kitab kepercayaan orang Israel dinamai sebagai Perjanjian Lama dan kitab-kitab Injil serta surat-surat Kristen itu dinamai sebagai Perjanjian Baru. Selanjutnya kita akan melihat bagaimana sesungguhnya proses pengilhaman Alkitab itu sehingga diterima sebagai Kitab Suci? Hal ini akan diungkap pada Seri-07 berikutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *