Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-07)

PENGILHAMAN ALKITAB

Kristen mula-mula hanya menggunakan Alkitab Perjanjian Lama (PL) sebagai Kitab Sucinya. Tetapi oleh desakan kebutuhan, para rasul akhirnya menulis surat-surat untuk menyelesaikan berbagai masalah dan mengajar komunitas-komunitas yang mereka bentuk. Kemudian secara alamiah dan lambat-laun surat-surat tersebut menjadi pedoman utama kehidupan beriman dan petunjuk dalam mengatur kehidupan bersama orang-orang percaya, yang kemudian diperlakukan secara utuh sebagai Kitab Suci setara dengan PL, dan akhirnya disebut sebagai Perjanjian Baru (PB). Terkait dengan bentuk proses pengilhaman/pewahyuan Kitab Suci, ada dua pandangan yang paling umum dianut atau dipahami oleh kaum agamis:

Yang pertama adalah keyakinan bahwa Allah mengilhamkan secara langsung. Pada proses ini akal atau nalar penerima ilham tidak berfungsi. Dalam hal ini si penerima ilham dianggap telah dikendalikan oleh Tuhan seperti robot saat menerima wahyu. Bahkan ada yang berasumsi lebih ekstrim sehingga mengakui bahwa Allah telah menurunkan gulungan kitab langsung dari langit. Ternyata Alkitab atau Kitab Suci orang Kristen tidak terjadi dengan proses pengilhaman seperti itu.

Yang kedua adalah pandangan bahwa Allah mengilhamkan melalui pemakaian hati, pikiran, dan kemampuan lahiriah penulis. Dalam hal ini penerima wahyu dalam keadaan sadar dan menggunakan kemampuan alaminya untuk menuangkan ilham yang diterima dari dorongan Roh Kudus, lalu dituangkan dalam bentuk tulisan. Kita bersyukur bahwa dengan cara inilah Alkitab diilhamkan.

Tentu saja Allah bisa menjatuhkan Kitab Suci secara ajaib langsung dari sorga kepada umat-Nya. Dia juga bisa mengendalikan seseorang seperti robot untuk menuliskan wahyu-Nya. Tetapi Allah tidak melakukan cara yang demikian. Mengapa? Karena pada prinsipnya, tujuan Allah mengilhamkan Kitab Suci adalah untuk mengadakan satu buku pengajaran yang bisa mengajar manusia (2 Timotius 3:16), oleh karenanya juga diperlukan media atau sarana yang manusiawi, yakni manusia itu sendiri. Karena suatu pengajaran harus dapat diterima oleh akal, dan oleh karenanya juga harus disampaikan dengan cara yang masuk akal. Pernyataan ini tidak bermaksud meniadakan sisi adikodrati dari pewahyuan Kitab Suci. Disinilah pentingnya kemampuan memilah sisi adikodrati pewahyuan Alkitab dari sisi alamiahnya seperti yang telah disinggung pada pandangan kedua di atas.

Ada orang yang berpikir bahwa jika satu Kitab Suci dinyatakan sebagai yang langsung diterima dari Allah secara ajaib, maka akan lebih memudahkan orang memepercayai isinya dan menghargai serta lebih mudah menggerakkan manusia untuk merespon lalu bertobat. Kekeliruan berpikir ini dapat dijawab dengan ilustrasi Tuhan Yesus tentang orang kaya dan Lazarus yang miskin (Lukas 16:19-31). Ketika si kaya yang sedang menderita di alam maut meminta kepada Abraham untuk menyuruh Lazarus kembali menasihati saudara-saudaranya yang masih hidup agar tidak mengalami nasib yang sama dengan dirinya, maka Abraham menjawab: “Jika mereka tidak mendengar kesaksian Musa dan para nabi, mereka juga tidak akan mau diyakinkan, sekalipun oleh seorang yang bangkit dari antara orang mati”.

Banyak orang berpikir, khsusunya para kaum mistis, bahwa dengan mujizat maka orang akan percaya dan mudah bertobat. Dalam Alkitab, tidak ada mujizat yang paling spektakuler dari mujizat-mujizat yang dilakukan Allah bagi bangsa Israel di Mesir dan di Padang Gurun: Sepuluh jenis tulah, terbelahnya laut Kolsom, tiang awan dan limpahan air dari batu yang benar-benar tidak masuk akal dan sangat spektakuler. Akan tetapi bangsa itu tetap tegar tengkuk dan akhirnya mendirikan patung lembu dari emas sebagai allahnya, lalu disembah meskipun tidak bisa berbuat apa-apa. Kisah Lazarus dan bangsa Israel ini dapat mencerahi pikiran kita tentang prinsip pengilhaman Kitab Suci. Bahwa kesan kemistikan atau keajaiban terjadinya Alkitab tidak akan memberi efek penerimaan yang lebih baik seperti yang kita harapkan. Dalam hal ini harus kita terima bahwa Allah memang telah merancang Alkitab itu diilhamkan dengan cara yang alamiah dan terbentuk secara bertahap. Karena memang demikianlah cara kerja Allah telah kita pahami dari uraian Seri-01 sebelumnya.

Jadi proses dituangkannya ilham Allah dalam bentuk tulisan (kecuali dekalog yang diterima Musa di gunung Sinai), semuanya melibatkan kesadaran, kemampuan nalar atau intelektual, gaya penulisan, dan budaya sang penerima wahyu. Itu sebabnya dengan berlalunya waktu dan terjadinya perubahan budaya dan banyak faktor lainnya, maka sangat wajar kalau kita yang hidup di zaman ini menjadi sulit memahami buku kuno tersebut. Oleh karena itu juga, adanya perbedaan dalam data-data minor dalam Alkitab tidak perlu membuat kita gusar dan merasa bahwa Alkitab kurang berwibawa sebagai tulisan yang diilhamkan oleh Allah. Justru hal tersebut akan memberi bukti bahwa Alkitab itu tidak ditulis oleh hasil rekayasa dan persepakatan antar penulis agar terlihat saling mendukung. Dengan demikian sangat jelas bahwa cara kerja sama Allah dengan manusia dalam hal penulisan kitab-kitab dalam Alkitab, tidak mengesampingkan keterbatasan manusiawi para penulis tersebut. Tetapi tentu saja dalam proses alamiah ini, Allah pasti menjaga sehingga hal-hal yang bersifat prinsip atau data-data mayor, tidak akan salah dan bertentangan antara satu penulis dengan penulis lainnya.

Juga harus dimengerti bahwa kadar sisi adikodrati dengan sisi alamiah pengilhaman setiap kitab dalam Alkitab memiliki persentasi yang berbeda-beda. Misalnya kitab Musa, khususnya terkait Taurat, kitab-kitab para nabi, dan kitab Wahyu, tentu memiliki kadar adikodarati yang lebih kental dari kitab-kitab sejarah, Amsal, dan tulisan-tulisan para Rasul. Tetapi perbedaan persentasi ini tidak mempengaruhi kesamaan wibawa semua kitab itu sebagai Firman Allah. Karena Allah yang mengerti sejauh mana Ia perlu interfensi dalam penulisan satu kitab. Lagi sekali, Allah lebih memilih untuk bekerja secara alamiah apabila menurut pertimbangan-Nya bahwa hal itu tidak perlu diinterfensi secara adikodrati. Allah mengetahui kapan Ia perlu melakuan mujizat dengan tidak. Allah mengetahui karakteristik setiap orang yang menjadi perantara-Nya untuk menuliskan wahyu-Nya. Jadi bobot kesakralan semua kitab dalam Alkitab adalah sama meskipun kadar adikodrati pengilhamannya berbeda-beda.

Jika Alkitab ternyata ditulis dengan melibatkan faktor-faktor alamiah yang begitu kental, lalu di manakah sisi adikodrati dari Alkitab itu sehingga kita dapat mempercayainya sebagai benar-benar Firman Allah? Hal ini akan diungkap pada Seri-12. Tetapi sekarang, dengan melihat secara jernih dan menerima secara terbuka bagaimana Alkitab telah diwahyukan, akan mebantu kita dalam upaya menggali arti kalimat-kalimat yang tertuang di dalamnya secara proporsional, dan dapat menemukan maksud-maksud Allah dari dalamnya sesuai kebutuhan zaman.

Pada Seri-08 berikutnya kita akan melihat bagaimana kelanjutan kekristenan sejak peninggalan para rasul di bawah kepemimpinan mereka yang disebut sebagai “Bapa-Bapa Gereja”.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *