Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-08)

BAPA GEREJA DAN KATOLIK

Bibit perpecahan dan ancaman dari penyesatan dalam gereja mula-mula tentu saja sudah mulai terasa sejak zaman para rasul (Kisah 20:29,30; 1 Korintus 1:10-12; Galatia 1:8,9). Akan tetapi wibawa dan kesatuan pandangan para rasul masih mampu mempertahankan kesatuan kekristenan abad pertama itu. Namun pesatnya perkembangan jumlah kekristenan di tengah semakin meningkatnya aniaya dan usaha menggerogoti keyakinan yang baru itu, tentu saja menjadi tugas berat bagi para penyambung mata rantai kepemimpinan para rasul yang kemudian hari disebut sebagai “Bapa-Bapa Gereja”.

Penentuan batas-batas kriteria penunjukan pribadi tokoh Kristen paska rasul sebagai bapa-bapa gereja sangat beragam. Sebenarnya istilah “Bapa-Bapa Gereja” adalah pengembangan dari istilah “Bapa-Bapa Apostolik (Rasuli)” yang dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan kristiani mulai abad-17. Disebut bapa-bapa apostolic (rasuli) adalah untuk menunjuk tokoh-tokoh Kristen abad-1 dan 2, karena masih memiliki hubungan langsung dengan para rasul Kristus. Pengguna awal istilah tersebut yang dapat dilacak adalah William Wake pada tahun 1693, ketika ia menjabat sebagai caplain untuk raja William dan ratu Merry di Inggris. Selanjutnya muncul wacana penetapan tokoh-tokoh Kristen yang melintasi batas kriteria tersebut, hingga melewati abad-8. Batas ini tentu saja telah mempengaruhi kualitas objektivitasnya, karena telah merupakan usulan-usulan dari tokoh-tokoh Kristen yang sudah mulai terpisah dalam berbagai pendangan. Tetapi pada umumnya batas waktu yang diterima umum bagi mereka yang diakui sebagai bapa-bapa gereja adalah, yang hidup pada 5 abad pertama (di luar para rasul Kristus dan yang menulis Perjanjian Baru (PB)).

Jumlah dari para bapa-bapa gereja yang diakui mencapai ratusan orang. Tetapi ada beberapa bapa-bapa apostolic yang dikenal karena meninggalkan tulisan yang sempat dianggap setara dengan kitab-kitab para rasul, di antaranya:

  • Klemens dari Roma (… – 100 M)

Klemens dari Roma (bukan Klemens dari Alexandria) adalah seorang putera senator Romawi yang bertobat dan dibaptis oleh Petrus. Juga yang pernah menjadi kawan sekerja Paulus (Filipi 4:3). Dianggap sebagai Paus yang keempat atau yang kedua setelah Petrus menurut tradisi. Menurut Tertullianus, Klemens ditahbiskan menjadi Uskup di Roma oleh Petrus. Tulisannya yang terkenal adalah suratnya kepada jemaat di Korintus untuk menghentikan gejolak umat yang tidak menerima seorang uskup yang ditahbiskan di sana. Ia meninggal sebagai martir pada tahun ketiga kekaisaran Trayanus (100 M).

  • Ignatius dari Antiokhia (Kr 35-107 M)

Seorang penulis Kristen awal dan uskup di Antiokhia. Di antara tulisan-tulisannya adalah: Eklesiologi, Sakramen-Sakramen, dan Peranan para Uskup. Dialah pengguna istilah ‘katolik’ secara tertulis untuk menunjuk kekristenan yang masih menyatu. Dikenal sebagai salah satu murid Rasul Yohanes bersama Polikarpus.

  • Polikarpus dari Smirna

Diyakini sebagai murid langsung dari Rasul Yohanes selain Ignatius. Tetapi banyak ahli yang meragukannya, karena Polikarpus tidak sedikitpun meyinggung tulisan-tulisan Yohanes dalam karya-karya tulisnya yang agak banyak. Dia menulis surat yang bersifat teologis ke jemaat di Filipi, namun tidak mengulas PL sebagaimana umumnya dilakukan para teolog mula-mula. Kiprah pelayanannya adalah sebagai uskup di Smirna (sekarang Turki). Data tentang dirinya dapat dilihat dari karya-karya tulis muridnya, Ireneus. Ignatius juga pernah menulis surat kepadanya. Ia mati sebagai martir ditikam setelah gagal dibakar dalam tiang gantungan.

  • Penulis Kitab Didache

Kata ‘didakhe’ (Yunani: didache) berarti pengajaran (Kisah 2:42). Kata ini digunakan untuk menunjuk satu kitab risalah Kristen awal yang diduga ditulis pada tiga abad pertama masehi dan ditemukan kembali pada abad-19 (1873) di perpustakaan Dyor Al-Qabr Al-Muuqaddas oleh Philotheos Bryennios seorang direktur STT Yunani di Konstantinople. Isinya yang memuat tentang pengajaran Kristen, ritual-ritual, dan aturan organisasi, membuat kitab ini sempat dianggap bagian dari PB. Di dalamnya ada termuat tulisan tentang pengajaran 12 rasul. Seorang bapa gereja bernama Ireneus (-180) telah memakainya seperti kitab suci untuk melawan pengajaran sesat.

  • Penulis Kitab Gembala Hermas

Gembala Hermas adalah nama kitab karya sastra Kristen yang diperkirakan ditulis pada akhir abad-1 atau awal abad-2 masehi. Ada yang meyakini bahwa kitab ini ditulis seorang bernama Hermas, saudara laki-laki Paus Pius I. Ditulis di Roma dalam bahasa Yunani. Ditulis bernafas alegoris untuk mendorong pertobatan orang Kristen, yang isinya terdiri dari 5 Visi yang diterima oleh Hermas, 12 Madat, dan 10 Perumpamaan.

Penemuan tulisan mereka sangat penting karena banyak memberi segi yang samar tentang sejarah awal kehidupan gereja. Kitab-kitab seperti itu sering disebut oleh para sejarawan gereja dan para teolog masa kini sebagai “sumber eksternal” (artinya di luar kitab-kitab yang tercantum dalam Alkitab). Sumber-sumber eksternal seperti inilah yang sangat berguna membantu memperluas wawasan para penafsir Alitab untuk melihat konteks, sehingga tidak terjebak melakukan penafsiran sempit, hingga bermuara pada tindakan menyesatkan, seperti yang berkembang dewasa ini dikalangan aktifis gereja yang miskin pengetahuan teologia.

Kita bisa membayangkan betapa pentingnya peran para bapa-bapa apostolic ini dalam upaya mempertahankan nilai sejati kekristenan dan kesatuan sejak ditinggalkan para rasul. Upaya menjaga keutuhan gereja sebagai satu kesatuan yang tak terpisah di seluruh dunia waktu itu akhirnya dapat dilihat dari tulisan Ignatius seperti telah di singgung di atas. Tulisan itu adalah surat yang ditulis kepada jemaat di Smirna sekitar tahun 107 dalam upaya menasihati jemaat agar tetap bersatu dalam kepemimpinan para uskup. Tulisan itu berbunyi demikian:

“Alangkah baiknya jika di mana saja uskup hadir, sidang jemaat pun turut hadir, sehingga sama seperti di mana saja Yesus Kristus hadir, hadir pula Gereja Katolik”.

Inilah data penggunaan kata ‘katolik’ tertulis paling awal yang ditemukan. Kata itu disadur dari bahasa Latin ‘chatolichus’, yang berasal dari ungkapan Yunani ‘katolou’, yang berarti “sarwa sekalian”, “secara keseluruhan”, atau ‘am’. Dalam hal ini artinya adalah gereja yang masih menyatu di seluruh dunia. Tetapi di kemudian hari arti kata ini berkembang: Pertamauntuk memisahkan gereja yang utama di bawah kepemimpinan uskup tertinggi (kemudian disebut Paus) yang berkedudukan di Roma, kemudian menjadi sebutan bagi gereja yang ditinggalkan oleh gereja-gereja Timur dan kaum Protestan setelah reformasi.

Ternyata perpecahan gereja itu hanya merupakan bom waktu yang tidak bisa terhindarkan. Daya tahan kesatuan gereja itu akhirnya semakin melemah seiring kepergian para rasul dan bapa-bapa gereja satu per satu. Lalu bagaimana cara Allah mempertahankan nilai kekristenan sejati tetap eksis di tengah semakin rusaknya moral gereja yang terpengaruh oleh perubahan dunia. Hal ini akan dibahas pada seri-seri selanjutnya. Tetapi pada Seri-09 berikutnya kita akan melihat terlebih dahulu bagaimana gereja bergulat dengan aura perpecahan karena perbedaan pandangan teologia dan degradasi kemurnian iman.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *