Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-09)

KEJAYAAN KRISTEN

Gereja yang merambah ke seluruh wilayah kekaisaraan Romawi walau dalam penderitaan dan yang masih katolik di bawah asuhan para bapa gereja itu, dapat mempertahankan kualitas sejatinya hingga tiga abad pertama. Para bapa gereja yang memimpin suatu jemaat di wilayah tertentu, disebut Uskup. Sistem keuskupan ini diduga pertama kali telah diterapkan pada tahun 104 di sebuah kerajaan merdeka kecil bernama Edessa, di perbatasan wilayah kerajaan Persia dan kekaisaran Romawi. Tetapi perubahan atau kemerosotan nilai-nilai sejati serta bentuk penampilan kekristenan terjadi secara berangsur dan pasti, dimulai sejak kaisar Konstantinus Agung mengeluarkan dekrit “Edik Milan” tahun 313 tentang kebebasan beragama, dan menyatakan dirinya sebagai Kristen serta memberi diri dibaptis. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Kaisar Romawi Barat, Konstantinus Kholorus yang kemudian digelari sebagai Konstantinus Agung, mengaku bahwa dalam perjalanan saat memimpin pasukan perang menuju Milvian Bridge untuk menaklukkan Romawi Timur tahun 312, mendapatkan mimpi melihat tanda Kristus yang terangnya melebihi cahaya matahari. Juga mendengar suara agar memakai tanda simbol Kristen itu (Chi-Rho: huruf ke 22 dan 17 alfabet Yunani) saat maju berperang. Tanda itu kemudian dikenakan pada setiap perisai prajuritnya dan akhirnya mereka menang mutlak.

Meskipun pada akhirnya banyak pengamat yang meragukan mimpi dan pertobatan Konstantiunus menjadi Kristen itu hanya merupakan alasan strategi politik semata, karena diduga ia telah mengamati kekuatan kekristenan yang tangguh dan meluas, akan bisa menjadi alat pemersatu kekaisaran yang efektif. Terbukti bahwa kebijakan besar awal yang dia lakukan sejak kemerdekaan Kristen itu adalah menetapkan sistem keuskupan gereja di seluruh wilayah administratif kekaisaran. Dengan demikian Uskup di Roma menjadi lebih istimewa, karena selain sebagai kota besar dan pusat kekaisaran waktu itu, juga dianggap secara mitos bahwa Uskup di Roma itu sebagai pengganti Rasul Petrus. Dengan demikian pusat kekristenan secara bertahap telah bergeser dari Yerusalem, ke Antiokhia, lalu ke kota Roma. Pada waktu kemudian, tercatat ada lima tahta utama yurisdiksi (lingkup kuasa pemerintahan) keuskupan yang besar dan cukup berpengaruh: Roma, Konstantinopel, Antiokhia, Yerusalem dan Alexsandria.

Kemudian Konstantinus mereformasi struktur kekaisaran dengan memberi status baru kepada para uskup gereja sebagai pegawai negeri yang setara dengan para senator. Ia juga membangun Basilika St. Petrus di Roma. Kemudian menggunakan simbol Kristen pada uang logam dan bendera Romawi dan membiayai penyalinan Kitab Suci. Kebijakan lainnya adalah, menetapkan hari Minggu sebagai hari libur, menetapkan perlindungan anak-anak, budak, petani dan narapidana sebagai hukum yang merupakan cita-cita Kristen.

Kristen menjadi agama kegemaran masyarakat. Untuk mempercepat pengesahan sebagai warga gereja, anak-anak juga dibaptis. Upacara kekristenan tidak lagi dimotivasi oleh keteguhan iman, melainkan hanya sebagai perayaan serimonial belaka. Kemudian Konstantinus membangun Konstantinopel (sekarang Istanbul) sebagai salah satu ibukota terbesar di dunia untuk memperkokoh penyatuan wilayah kekaisaran Barat dan Timur. Lama-kelamaan kekaisaran itu dikenal sebagai kekaisaran Byzantium sesuai nama asli wilayah tersebut. Ia kemudian pindah ke sana. Kealpaan kaisar di Roma akhirnya memberi ruang bagi Uskup di Roma menjadi tokoh yang memiliki otoritas lebih. Kondisi ini kemudian menjadi benih dan peluang bagi bangkitnya peran kekuasaan gereja dalam pemerintahan kekaisaran.

Kesejahteraan baru gereja itu ternyata telah membawa beberapa masalah yang tak terduga. Setelah memberikan hak-hak istimewa bagi para imam, tujuh tahun sejak kemerdekaan Kristen, Konstantinus telah mengundangkan untuk menghentikan kewajiban untuk membayar pajak bagi orang-orang kaya yang menjadi klerus sekuler (para imam yang membantu pelayanan gereja dari masyarakat umum). Para uskup memakai warna ungu yang dicelup khusus sebagai warna resmi mereka. Warna itu sebelumnya hanya dipakai oleh para kaisar. Mereka dapat bertindak sebagai senator dan menggunakan dengan bebas fasilitas kerajaan dalam perjalanan. Penghormatan ini tanpa disadari telah menjadi jalan mulus bagi terbentuknya kepausan sebagai lembaga gereja dengan kuasa melampaui kekaisaran di kemudian hari.

Hilangnya penderitaan kekristenan karena perlindungan Negara dan mewahnya fasilitas jabatan gereja, telah menjadi pemicu semangat persaingan dan keleluasaan mengajukan pandangan-pandangan sebagai tafsir terhadap tulisan-tulisan warisan para rasul, hingga adanya doktrin yang meragukan keilahian Yesus Kristus. Masalah-masalah esensial yang mengancam perpecahan gereja seperti ini akhirnya diantisipasi dengan mengadakan konsili-konsili yang difasilitasi Negara. Salah satu hasil konsili (konsili pertama tahun 325 di Nicea) yang bersejarah dan terkenal hingga saat ini adalah terciptanya rumusan ‘tritunggal’ untuk menegakkan keilahian Kristus dan Roh Kudus yang digoncang oleh teori ke-esa-an Allah gagasan seorang presbiter gereja Mesir bernama Arius. Dengan wibawa kebapaan, Konstantinus Agung mengucapkan perkataan yang mendasari tindakannya memfasilitasi Konsili ini: “Perpecahan dalam Gereja adalah lebih buruk dari pada perang.” Sidang akhirnya mengutuk teologia Arius dan meyingkirkan Arius dari gereja.

Sejak kemerdekaan Kristen, tindakan penguasa gereja untuk menyingkirkan seseorang, baik dengan cara membuang hingga membunuh siapapun yang berpandangan berbeda dengan pandangan gereja yang resmi, menjadi sesuatu yang lazim. Para pangeran selanjutnya yang telah menjadi Kristen, sesungguhnya tidak pernah menghayati arti iman kristiani seperti yang pernah dihidupi oleh orang Kristen sebelumnya. Mereka berlomba dan bersaing untuk memperebutkan wilayah kekuasaan, tetapi dengan semangat agama baru, yakni agama Kristen! Perang penaklukan bangsa-bangsa dilakukan oleh para raja-raja Kristen dengan simbol-simbol gereja dan atas nama Kristus. Gedung-gedung gereja yang megah dibangun dengan ritual liturgis yang memukau umat. Mulai saat itu kekristenan bergerak ke dua arah penampilan: Arah yang satu bergerak dengan wajah jaya raya, sedangkan yang satunya lagi bergerak dengan wajah penyangkalan atas kemewahan duniawi sebagai protes terhadap kerusakan nilai-nilai moral pejabat gereja Negara dengan cara membiara.

Sebenarnya sudah mulai pertengahan abad-3 budaya mengasingkan diri di gurun dan tanah kosong menjadi tempat menarik bagi orang-orang suci. Mungkin hal ini terinspirasi dari ketika Musa mengasingkan diri di gurun dekat gunung Sinai, atau ketika Yesus mengasingkan diri di padang belantara sebelum memulai pelayanan-Nya. Salah satu petapa terkenal dan menjadi inspirasi bagi maraknya petapaan dan lahirnya komunitas-komunitas hidup sederhana untuk berdoa dan menjadi biarawan-biarawati adalah Antonius dari Mesir (251-356). Ia memulai kiprahnya sebagai petapa setelah mendengar khotbah tentang Yesus yang meminta seorang pemuda kaya untuk menjual hartanya bagi kepentingan orang miskin dan kemudian sepenuhnya mengikut Yesus. Ia pun melakukannya!

Puncak kejayaan Kristen yang benar-benar telah berperan merusak nilai-nilai Kristen sejati, terjadi ketika kaisar Flavius Theodosius I (379-395) menetapkan Kristen sebagai agama resmi negara dan menutup semua kuil penyembahan berhala. Kodeks Theodosius tertanggal 27 Februari 380 menegaskan bahwa Kristianitas Katolik adalah agama resmi negara kekaisaran Romawi. Sejak saat itu sebutan ‘katolik’ yang pernah dipakai Ignatius sebagaimana dijelaskan pada Seri-08 sebelumnya, berkembang menjadi sebutan untuk memisahkan gereja resmi yang berpusat di Roma dari ajaran-ajaran yang dianggap menyimpang yang disebut sebagai bidah (sesat). Orang Kristen menjadi kelompok mayoritas di kota-kota waktu itu. Kristen telah menjadi agama yang jaya dengan meninggalkan nilai-nilai yang telah diteladankan Yesus Kristus dan yang telah dilakoni gereja mula-mula dengan mempertaruhkan nyawa.

Kekristenan yang semula mempengaruhi peradaban dunia, akhirnya telah terbawa arus dunia yang selalu berubah. Hal ini akan dijelaskan pada Seri-10 berikutnya.

Theo LIght

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *