Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-10)

DUNIA YANG TERUS BERUBAH

Mata dunia tidak dapat melihat bahwa Allah yang tidak berubah itu terus bergerak melakukan perubahan secara progresif menuju rencana semula-Nya (Ayub 23:13; Maleakhi 3:6; Matius 24:35; Kisah 15:14-18 – yakni “memilih satu umat dari antara mereka” (bangsa-bangsa lain). Tetapi meskipun arah dan tujuan perubahan itu tersembunyi bagi mata dunia, seharusnya tidak demikian bagi anak-anak-Nya. Alasan mengapa hal itu menjadi tersembunyi juga bagi banyak orang Kristen, adalah karena kebutaan rohani dan kehidupan yang tidak lagi selaras dengan kehendak Allah (1 Korintus 2:6-16).

Titik balik perubahan posisi otoritas gereja akhirnya berada di atas kekaisaran, dapat ditandai sejak peristiwa tunduknya kaisar Teodosius Agung (347-395) pada perintah Uskup Milan yang terkenal dan berpengaruh, Aurelius Ambrosius (340-397), ketika uskup ini memerintahkan sang kaisar agar mengaku dosa di depan publik karena peristiwa pembantaian ribuan rakyat di Tesalonika tahun 390. Cita-cita Konstantinus untuk menyatukan kekaisaran Barat dengan Timur tidak berlangsung lama, karena justru kekaisaran itu kembali terkoyak oleh anak-anaknya sendiri, hingga akhirnya menyatu kembali pada masa kejayaan kaisar Teodosius Agung untuk terakhir kalinya. Pecahnya kekaisaran itu menjadi celah bagi bangkitnya kekuatan bangsa-bangsa Jermanik dari dalam untuk menguasai imperium Romawi, khususnya Romawi Barat yang semakin melemah.

Jermanik adalah sebutan bagi ras Indo-Eropa pengguna dialek bahasa-bahasa Jermanik. Mereka hijrah dari Eropa Utara yang kemudian menyebar ke seluruh Eropa, lalu membaur dengan penduduk setempat. Orang Romawi memandang dan menyebut mereka ini sebagai kaum ‘barbar’ (tidak beradab atau kejam). Bangsa Goth adalah Jermanik pertama yang bangkit memiliki kerajaan di Italia hingga mampu menaklukkan kekaisaran Romawi Barat dan menyingkirkan kaisar terakhirnya, Romulus Agustus, pada Tahun 476. Dinamika perluasan kekuasaan dan persaingan di antara bangsa-bangsa Jermanik akhirnya membawa Eropa Barat dalam masa kegelapan, karena banyak bangsa-bangsa di Eropa waktu itu yang sebenarnya belum siap mandiri tanpa perlindungan yang tersedia dalam sistem kekaisaran Romawi sebelumnya.

Sementara itu Kekaisaran Romawi Timur yang berpusat di Bizantium, semakin jaya. Bizantium sebelumnya adalah nama salah satu kota yang didirikan oleh bangsa Yunani kuno sekitar abad-13 SM di kawasan Anatolia (sekarang adalah Turki). Konstantinus Agung sempat mengganti nama kota Bizantium menjadi ‘Konstantinopel’ menurut namanya setelah Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Roma ke sana. Kemudian anaknya yang menjadi penerusnya di sana menamai kekaisaran itu sebagai kekaisaran Bizantium.

Kejayaan Bizantium bisa ditandai dengan berdirinya satu bangunan megah, yang juga merupakan lambang kejayaan Kristen saat itu, yakni gereja Hagia Sophia. Bangunan gereja raksasa ini mulai dibangun oleh kaisar Yustinianus I pada tahun 532 dengan mempekerjakan lebih dari 10.000 orang. Meskipun bangunan ini telah diresmikan pada tahun 537 (lima tahun masa pembangunan), namun proses penyelesaiannya berlangsung hingga masa pemerintahan Yustinus II (565-578). Kejayaan Bizantium dan keindahan Hagia Sophia telah menggugah penguasa kekaisaran Rus Kiev dari daratan Rusia, Valdamir, yang masih penyembah berhala, dalam satu hari pada tahun 988 telah memutuskan menjadi Kristen dan dibaptis bersama rakyatnya. Jejak keindahan tata kota dan bangunan yang indah meniru Bizantium, saat ini masih tersisa berupa bangunan-bangunan Katedral yang meniru arsitektur Hagia Sophia, di Ukrania sekarang.

Nun jauh di Jajirah Arab, di Mekkah, satu kekuatan baru dengan misi penyebaran agama baru yang disebut Islam oleh penemunya, Muhammad, mulai menggeliat secara dinamis sejak abad-7. Agama yang akhirnya membentuk kekuatan perang itu mewariskan sistem pemerintahan tunggal Islam, dan dengan cepat meluas ke seluruh Jajirah Arab hingga dunia Timur Tengah. Tetapi di kemudian hari, ketika penyebaran agama ini meluas hingga melampaui Jajirah Arab oleh para penerus Muhammad, kekuatan ini akhirnya terbagi-bagi menjadi beberapa kesulatanan (kekaisaran), yang salah satunya adalah kesultanan Turtki Seljuk, yang secara progresif telah mengislamkan hampir seluruh Timur Tengah dengan cara penaklukan hingga ke wilayah Anatolia, dan cukup lama menjadi ancaman bagi kekaisaran Bizantium. Kesultanan Turki Seljuk ini kemudian digantikan oleh Kesultanan Islam Ustmaniyah yang terkenal dengan wilaya kekuasaan yang lebih kuat dan luas.

Sementara itu masa kegelapan Eropa Barat oleh kaum barbar, akhirnya dapat diredakan oleh tampilnya Karel Agung yang mampu mempersatukan Eropa kembali dalam satu bentuk kekaisaran. Dia digelari sebagai raja kaum Frank yang sebenarnya juga termasuk kaum barbar, tapi dari suku bangsa Jermanik lain (yang menjadi cikal bakal Negara Prancis dan Jerman di kemudian hari). Kemampuannya menyeimbangkan kekuasaan Paus dan kekaisaran, akhirnya mendorong Paus Leo III menobatkannya menjadi Kaisar Romawi Suci di wilayah Barat pada tahun 800, berdampingan dengan kekaisaran Bizantium di wilayah Timur. Karakteristik Kekaisaran Romawi Suci berbeda dengan kekaisaran pada umumnya. Kaisar tidak memiliki wewenang absolut pada kerajaan-kerajaan yang dipersatukan. Ada batas-batas kekuasaannya, kecuali kerajaan yang memang wilayah kerajaan kaisar sendiri. Tetapi Eropa Barat cukup tenteram dengan sistem politik yang demikian sehingga bisa lebih fokus pada pengembangan pendidikan, kebudayaan, maupun ekonomi. Sementara dengan konsep kekaisaran baru ini, gereja (kepausaan) bisa lebih mudah menjalankan kuasa dan pengaruhnya melalui dunia politik, meskipun akhirnya lebih sering terjadi konflik praktek perebutan kekuasaan dengan para kaisar.

Untuk menghadapi ancaman invansi pasukan Islam dari Timur (Turki Seljuk), Paus Urbanus II pada tahun 1095 mendorong dibentuknya Tentara Salib. Para raja-raja dan masyarakat Kekaisaran Romawi Suci menyambutnya secara antusias dengan berbagai motivasi. Perang Salib pertama sukses melumpuhkan kekaisaran Turki Seljuk di sebagian wilayah kekuasaan Bizantium dan menegakkan kembali kekristenan dalam bentuk Negara, yakni: Negara Kabupaten Edessa, Negara Kepangeranan Antiokhia, Negara Kerajaan Yerusalem, dan Negara Kabupaten Tripoli. Tetapi Tentara Salib hanya gagah dalam pertempuran penaklukan, namun lemah dalam mempertahankan kekuasaan. Karena akhlak para tentara salib dan para tokoh gereja pendorong perang, jauh lebih buruk dari pasukan Islam. Hal ini dibuktikan oleh catatan bersejarah tentang pengakuan seorang adipati bernama Lukas Notaras dalam sikapnya menolak usaha penyatuan kembali gereja Barat dan Timur, yang berkata, “Saya lebih suka melihat sorban muslim di tengah kota dari pada topi uskup gereja latin”.

Secara pelan tapi pasti, pasukan Turki Seljuk dapat mendesak Tentara Salib dari daerah-daerah kekuasaannya pada Perang Salib kedua dan ketiga. Pada prakteknya Tentara Salib selanjutnya lebih efektif digunakan untuk mengkristenkan kaum barbar yang masih menyembah berhala di beberapa bagian wilayah Eropa. Kristenisasi pada masa ini tidak ubahnya seperti yang dilakukan pasukan Islam dalam mengislamkan daerah taklukan. Perang Salib keempat hanya berhasil merebut kembali Bizantium dari penaklukan pasukan Turki Seljuk, namun yang akhirnya dikuasai kembali oleh pasukan Kesultanan Ustmaniah yang sudah bangkit menggantikan kesultanan Turki Seljuk pada masa pemerintahan Sultan Mehemed II pada tahun 1453, dan yang menjadi akhir dari Kekaisaran Romawi Timur. Hagia Sophia diubah menjadi Masjid hingga saat ini. Pada zaman Negara Turki Modern, nama kota Konstantinopel dan Bizantium diganti menjadi Istanbul hingga saat ini.

Pertanyaannya, apakah Allah tidak berdaya membela umat pilihan-Nya dari kekuatan yang hampir menenggelamkan kekristenan? Mengapa Yerusalem, Antiokhia, dan akhirnya Bizantium yang merupakan pusat kejayaan Kristen itu hingga kini telah dikuasai agama lain yang membenci kekristenan? Bait Allah yang merupakan ketentuan Allah untuk dibangun dan menjadi lambang keagamaan dan pusat penyembahan orang Yahudi dalam PL akhirnya runtuh oleh Pasukan Jenderal Titus tahun 70 dan tak pernah bisa dibangun lagi hingga saat ini. Di atas reruntuhannya kini telah dibangun Mesjid megah. Bangunan Gereja Hagia Sophia yang merupakan simbol kebanggaan kejayaan Kristen abad pertengahan akhirnya terhinakan karena diubah menjadi Mesjid dan tidak pernah bisa kembali menjadi gereja lagi saat ini. Apakah Allah itu sudah berpihak pada agama baru? Jika tidak, mengapa Ia membiarkan semua itu terjadi? Pasti ada jawab untuk semua ini.

Tahun 1400-an adalah merupakan ahir Abad Pertengahan (Abad-5-15 M) yang ditandai dengan tiga peristiwa bersejarah: Yang pertama adalah berakhirnya Kekaisaran Romawi secara sepenuhnya seperti telah dijelaskan di atas. Yang kedua adalah, adanya Kekaisaran Romawi Suci (800-1806) besutan kepausan Roma yang kekuasaannya tidak absolut, telah memberi ruang bangkitnya semangat nasionalisme bangsa-bangsa di seluruh Eropa, sekaligus semakin melemahnya simpati umat terhadap otoritas kepausan oleh semakin menonjolnya praktik-praktik kotor dalam gereja. Yang ketiga adalah, seiring bangkitnya nasionalisme bangsa-banga, maka dari Italia mulai bangkit ‘renaisans’ yang kemudian menyebar ke seluruh Eropa.

Istilah ‘renaisans’ sebenarnya berasal dari bahasa Perancis yang memiliki arti “kelahiran kembali”. Disebut demikian untuk menandai kelahiran kembali peradaban Eropa yang sempat tertekan oleh budaya kekaisaran Romawi dengan agama Negara Kristen-nya sepanjang abad pertengahan. Peradaban Eropa yang dimaksud adalah budaya Yunani kuno sebagai hasil kemajuan filsafat yang memberi penghargaan terhadap etika, estetika, dan rasionalitas atau intelektual. Dalam hal ini manusia ditempatkan sebagai subjek yang memiliki kemampuan intelektual dan oleh karenanya diberi kebebasan berpendapat dan mengekspresikan potensi dirinya.

Dampak dari bangkitnya renaisans ini adalah kemajuan dalam berbagai bidang, yaitu: Munculnya berbagai inovasi dalam ilmu pengetahuan dan pendidikan yang ditandai dengan berdirinya Universitas-Universitas; teknologi yang ditandai dengan ditemukannya mesin percetakan oleh Johannes Guitenberg; ilmu arsitek dan seni yang ditandai dengan karya agung “Mona Lisa” oleh Leonardo da Vinci; dan lain-lain hingga petualangan mengarungi samudera untuk menemukan benua-benua baru setelah ditemukannya teknologi kompas. Kebanyakan Paus pada masa itu turut mendorong gerakan renaisans dengan mendirikan bangunan-bagunan gereja yang megah dan indah untuk menghiasi kota Roma, namun bukan untuk tujuan mulia. Semua itu adalah dorongan kecintaan pada nikmat duniawi.

Secara tidak langsung fakta-fakta di atas telah menuduh gereja sebagai penyebab terhambatnya kemajuan peradaban manusia. Itu sebabnya bagi masyarakat modern, abad pertengahan disebut sebagai abad kegelapan, yang sebenarnya juga termasuk masa kegelapan bagi kekristenan dalam hal kualitas iman. Tetapi dengan demikian renaisans juga berdampak pada kemajuan ilmu teologia. Karena salah seorang yang ditetapkan menjadi salah satu tokoh besar renaisans adalah teolog bernama Desiderius Erasmus yang juga dijuluki sebagai “Pangeran Para Humanis” karena karya-karya terobosannya di bidang etika. Erasmus adalah pelopor pertama penggalian arti-arti redaksi Alkitab dari bahasa asli (Ibrani dan Yunani). Dialah kritikus handal gereja pertama yang meletakkan dasar prinsip-prinsip reformasi gereja, yang akan dijelaskan secara lebih jelas pada Seri-13 selanjutnya.

Para sejarawan akhirnya menyebut abad pertengahan itu sebagai masa antara zaman kuno dengan zaman modern. Pada situasi pergolakan dunia yang demikian itulah kekristenan juga turut menggeliat. Sementara para pejuang iman sejati sedang sekarat di tempat terpencil membiara karena usaha pemurnian diri dengan cara menjauh dari keramaian duniawi, para teolog sibuk dengan adu argumen doktrinnya, dan para pejabat gereja mulai dari tingkat atas (Paus) ikut terjerumus pada dinamiki politik sebagai upaya mempertahankan posisi dan memperkuat kekuasaan gereja dalam kenegaraan. Eropa akhirnya sepenuhnya menjadi Kristen bukan karena usaha penginjilan, melainkan karena terpaksa maupun karena ketertarikan pada popularitas Agama Negara tersebut. Mereka berperang dengan nama Kristus dan dengan ornamen salib. Injil dikabarkan atau terkabarkan dengan cara menghalalkan segala cara. Cara-cara yang sama sekali jauh dari nilai-nilai ajaran Yesus dan para rasul-Nya.

Perubahan dunia ini akan terus terjadi, justru bukan dalam kecepatan yang konstan, melainkan dalam derap percepataan. Hal ini akan semakin terihat pada uraian Seri-Seri selanjutnya. Di tengah kehancuran moral kekristenan oleh dinamisnya perubahan dunia, apa dan bagaimana sesungguhnya cara Tuhan untuk mempertahankan eksistensi gereja-Nya agar tetap bertahan sebagai pembawa nilai-nilai kebenaran sejati di tengah dunia ini? Hal ini akan dijelaskan pada Seri-11 berikutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *