Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-11)

KANONISASI ALKITAB

Abad pertengahan adalah masa kejayaan gereja tetapi sekaligus menjadi masa kegelapan bagi KEBENARAN, yang bisa dibilang masih berlangsung hingga saat ini. Dari Seri-09 sebelumnya juga kita telah mengetahui semakin tingginya penyimpangan dan gejolak perdebatan para tokoh-tokoh gereja terhadap tulisan warisan para rasul yang menghasilkan berbagai doktrin yang bertentangan satu dengan yang lainnya. Kenyataan ini mendorong secara alamiah kebutuhan akan pembatasan tulisan-tulisan rohani yang dianggap sah sebagai patokan berteologia dan penuntun kehidupan beriman para umat di tengah-tengah dunia ini, yang disebut sebagai ‘kanon’.

Kata ‘kanon’ adalah bahasa Yunani yang menunjuk pada suatu benda (semacam ilalang) yang dipakai menjadi alat untuk mengukur seperti mistar atau meteran yang umum dipakai pada zaman kuno. Kata ini kemudian digunakan oleh para ahli Alkitab terdahulu untuk menunjuk Alkitab, dalam pengertian bahwa Alkitab adalah kitab yang akan menjadi alat pengukur atau patokan/pedoman kehidupan umat Tuhan. Jadi istilah ‘kanonisasi’ dapat diartikan sebagai proses penyortiran kitab-kitab yang sedang beredar, yang dianggap layak sebagai ‘kanon’ (tolak ukur) supaya menjadi suatu patokan/pedoman kehidupan beriman umat Tuhan, dan disatukan menjadi satu buku, yang disebut Alkitab.

Sesungguhnya agak sulit menjawab pertanyaan, “bagaimana terjadinya proses penyortiran untuk memisahkan kitab-kitab yang layak dipakai sebagai ‘kanon’ kehidupan dalam berinteraksi dengan Tuhan maupun sesama manusia dalam konteks Agama Yahudi dan Kristen itu?” Karena sesungguhnya tidak ada suatu panitia resmi dan mekanisme baku yang ditetapkan untuk melakukan penyortiran tersebut secara sah dan langsung. Hal itu berlangsung saja secara alamiah. Dengan pengetahuan yang memadai akhirnya kita akan sadar bahwa Allah sendirilah yang sesungguhnya telah melakukan penyortiran lewat proses alam. Karena pada awalnya kitab-kitab yang tergabung dalam Alkitab saat ini telah beredar secara terpisah.

Dari penelitian para ahli, diperkirakan semua kitab yang tergabung dalam Alkitab itu telah ditulis dalam kurun waktu sekitar 1500 hingga 2000 tahun; yang dimulai kira-kira pertengahan milenium kedua Sebelum Masehi (SM) hingga abad pertama Masehi (M). Kitab-kitab dalam Alkitab itu telah ditulis oleh sekitar 40 orang dari latar belakang masa dan budaya yang berbeda-beda. Kemudian tanpa diperintahkan oleh pihak tertentu, beberapa orang telah tergerak dalam upaya pengumpulan dan penyortiran kitab-kitab yang beredar itu menjadi satu koleksi pribadi, yang secara tidak resmi semakin diakui secara lebih luas. Selanjutnya koleksi pribadi ini dimusyawarahkan oleh para bapa-bapa gereja untuk disepakati secara bersama. Demikianlah proses awal kanonisasi itu berlangsung secara alamiah sebelum ditetapkan secara bersama.

Kanonisasi Perjanjian Lama (PL)

Waktu dan proses berlangsungnya kanonisasi PL telah terjadi secara bertahap dan alamiah. Secara alami orang-orang Yahudi bisa melihat kitab-kitab yang lebih sering dipakai sebagai acuan mengajar dan sebagai pedoman dalam menangani masalah-masalah kehidupan. Kemudian pada tahun 90 para guru Yahudi di bawah pimpinan Johannan ben Zakkai mengadakan sidang Zamnia, dan pada waktu itu ditetapkan 39 kitab yang ada sekarang sebagai kanon Alkitab orang Yahudi. Faktor pendorong kebijakan ini bisa saja salah satunya oleh semakin pesatnya kekristenan dan beredarnya tulisan-tulisan para rasul yang tentu saja dianggap sesat oleh kaum Yudaisme. Adapun kriteria yang digunakan untuk kanonisasi PL adalah sebagai berikut:

  • Jika kitab tersebut ditulis oleh seorang nabi yang ditandai dengan memiliki karunia khusus.
  • Jika kitab itu juga sering dibaca pada upacara-upacara keagamaan Yahudi.
  • Khusus bagi kaum Kristen, ukuran kelayakan kitab-kitab PL itu tentu saja jika kitab tersebut terbukti telah disebut dan dikutip oleh Tuhan Yesus dalam pengajaran-Nya.

Kanonisasi Perjanjian Baru (PB)

Sedangkan proses kanonisasi PB dapat ditelusuri sebagai berikut:

  • Selama kurun waktu awal abad pertama Masehi, orang Kristen selalu memakai Alkitab PL sebagai dasar untuk mengajar. Dalam hal ini para rasul memakainya sebagai petunjuk penggenapan keselamatan yang digenapi dalam Yesus Kristus. Jadi tidak lagi sebagi petunjuk tata cara beribadah.
  • Kemudian karena desakan kebutuhan, para rasul kemudian mulai menulis surat-surat edaran untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sedang terjadi, yang di dalamnya termuat pemikiran para rasul tentang pandangan dan sikap mereka terhadap PL. Selain itu juga mulai dirasa perlu untuk membukukan kisah hidup dan ajaran Tuhan Yesus Kristus yang disebut sebagai Injil. Dengan sendirinya surat-surat dan kitab-kitab itu dijadikan sebagai dasar mengajar dan petunjuk hidup beriman orang Kristen selanjutnya.
  • Diakui sebagai penyebutan tertua, pada kira-kira tahun 150, untuk menunjuk Alkitab (PL & PB) sebagai suatu kitab yang merupakan kumpulan dari banyak kitab, dalam bahasa Yunani: ta biblia = buku-buku, ditemukan pada tulisan seorang bapa gereja Timur bernama Clement atau Klemens dari Alexandria (2 Clement 14:2).
  • Namun karena banyaknya surat-surat dan kitab-kitab lain yang bersifat rohani yang juga beredar waktu itu, mendorong munculnya pertanyaan, “kitab-kitab dan tulisan mana saja yang bisa dianggap sebagai panduan dan pegangan hidup dan kerohanian yang sah. Akhirnya Uskup Athanasius dari Alexandria untuk pertama kalinya mengeluarkan daftar-daftar kitab yang dipakainya sebagai kanon, dan hal itu menjadi acuan pada konsili Kartago tahun 397.
  • Ketika reformasi gereja terjadi, kaum Protestan menetapkan 66 kitab (39 PL dan 27 PB) menjadi kanon Protestan. Sedangkan Katolik memasukkan 15 kitab yang disebut sebagai Apokripha (deuterokanonika) sebagai kanon dan ditetapkan pada konsili Trente tahun 1546. Adapun kriteria kanonisasi PB adalah sebagai berikut:
  • Jika kitab tersebut ditulis oleh para Rasul yang menjadi saksi mata kehidupan Tuhan Yesus.
  • Juga tidak bertentangan dengan PL.
  • Dan yang paling penting, kitab itu berpusat kepada Kristus.

Kita dapat membayangkan bagaimana kekristenan sejati akan tinggal hanya menjadi sejarah atau sebagai agama semata, jika para tokoh Kristen mula-mula tidak meninggalkan warisan dokumen-dokumen tertulis yang kini kita kenal sebagai Alkitab Perjanjian Baru. Benar, sejarah telah membuktikan bahwa atas dasar yang tertulis dalam Alkitab (kanon) ini, juga telah terjadi penyesatan bahkan tindak kriminal hingga ke tingkat pembunuhan dan perpecahan yang bermuara pada terbentuknya lairan-aliran gereja hingga kelompok-kelompok yang kita kenal dengan istilah sinode saat ini. Tetapi melalui Alkitab ini jugalah Allah membangkitkan para pahlawan iman sejati di akhir zaman. Sesungguhnya melalui perdebatan doktrinal, Allah sedang mengungkap kembali nilai esensi gereja mula-mula, sekaligus sedang menguji kemurnian atau motivasi hati setiap orang dalam menggunakan Alkitab. Penyesatan memang tidak mungkin terhindarakan (Lukas 17:1), namun melalui geliat itu Allah sedang melakukan penampian debu jerami dari gandum sejati (Matius 3:12). Hal ini akan semakin jelas pada seri-seri selanjutnya. Dan untuk kepentingan tersebut, Allah telah menyediakan satu alat ukur yang disebut ALKITAB.

Kentalnya peran manusiawi atau proses alamiah penulisan maupun kanonisasi Alkitab itu menimbulkan pertanyaan, bagaimana kita bisa menerima Alkitab itu sebagai benar-benar Firman yang diilhamkan atau diwahyukan oleh Allah? Hal ini akan dijelaskan pada Seri-12 berikutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *