Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-12)

WIBAWA ALKITAB

Fakta proses pengilhaman maupun kanonisasi Alkitab yang melibatkan kentalnya faktor-faktor alamiah dan sangat manusiawi, adalah sesuatu yang tak terbantahkan dan harus diterima jika Anda ingin menjadi Kristen yang sesungguhnya, bukan Kristen yang tertipu oleh ajaran mistis yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Pengetahuan yang benar ini akan mendorong Anda untuk memilih dan memutuskan, apakah Anda ingin menjadi Kristen palsu atau Kristen sejati yang menerima fakta, atau malah ingin meninggalkan dunia kekristenan karena selera yang selalu ingin dininabobokkan oleh dongeng-dongeng yang memanipulasi pikiran?

Kita harus sadar bahwa letak keajaiban terbentuknya Alkitab tidak berada pada peristiwa-peristiwa spontan dan misterius, melainkan justru pada proses alamiahnya, yang meskipun alamiah, namun tak seorang manusia pun yang dapat mengerjakannya. Teori ini dapat dibuktikan sebagai berikut:

  • Ada lebih dari dua ribu nubuat dalam PL yang sudah digenapi. Penulisnya semua telah mati. Salah satunya tafsiran Daniel atas mimpi Nebukadnezar. Daniel telah mengabadikan mimpi Nebukadnezar tentang sebuah patung besar dalam tulisannya (Daniel 2) yang melambangkan perjalanan sejarah dunia yang akan datang: Kepala terbuat dari emas melambangkan kerajaan Babel tahun 606 SM; Dada dan lengan dari perak menggambarkan kerajaan Persia tahun 539 SM; Perut dan pinggang dari tembaga menggambarkan kerajaan Yunani tahun 331 SM; Paha dari besi menggambarkan Romawi Barat dan Timur tahun 64 SM; Kaki dan jari-jari dari campuran besi dan tanah liat menggambarkan negara-negara di dunia selanjutnya hingga saat ini dengan keadaan; ada yang kuat dan ada yang lemah. Adakah kitab yang menuliskan nubuat seakurat ini dalam penggenapannya?
  • Dalam PL terdapat 333 nubuat tentang kedatangan Sang Mesias. Semua nubuat itu memberi petunjuk tentang kapan Ia datang, di mana tempatnya, dari siapa Ia akan lahir, bagaimana pelayanan dan kepribadian-Nya, penderitaan-Nya, kematian, kebangkitan dan kenaikan-Nya. Seseorang pernah berkata bahwa Alkitab PL itu bagaikan sidik jari dari Yesus Kristus. Bagaimana kita tidak mengatakan bahwa sesungguhnya Alkitab, bukan saja telah diwahyukan oleh Allah, melainkan Dia sendiri yang sesungguhnya telah menjadi penulisnya, namun melalui kerja sama-Nya dengan orang-orang yang Dia percayai.
  • Selama kurun waktu 2600 tahun, selalu ada upaya untuk memusnahkan Alkitab, namun hal itu tidak pernah terjadi. Yosia yang menemukan kembali kitab Taurat yang sempat hilang karena keteledoran kakeknya Manasye (2 Raja-raja); Antiokus Epifanes, tiran dari Suriah yang kejam, menyerbu Israel dan berusaha melenyapkan Alkitab dengan membunuh semua yang memiliki salinannya. Tapi justru setelah kematiannya, terjadi kebangkitan untuk memperbanyak salinan Kitab Suci; Tahun 303 Masehi, Deocletianus, kaisar Romawi yang terakhir menjadi anti Kristen, menganiaya orang-orang Kristen dan berusaha membakar salinan-salinan Kitab Suci, namun sepeninggalannya, Kitab Suci akhirnya menjadi kegemaran di bawah pemerintahan kaisar Konstantinus; Setelah era Kristen ada saja tokoh-tokoh yang berupaya menyingkirkan Alkitab. Misalnya Mary, ratu Inggris atau yang dijuluki sebagai Bloody Mary, mengancam bahwa siapa saja yang memiliki Alkitab akan dibakar. Justru setelah ia meninggal, Ratu Elizabeth I penggantinya justru memerintahkan penerbitan sekitar 130 edisi Alkitab.
  • Sebelum abad XX para musuh kekristenan dengan lantang menyuarakan bahwa Alkitab yang dimiliki oleh orang Kristen sebenarnya sudah merupakan salinan yang dipalsukan atau setidaknya sudah banyak yang diubah. Akan tetapi setelah sekitar tahun 1900-an, tuduhan-tuduhan itu sudah terbungkamkan. Hal itu terjadi setelah para gembala Badawi yang sedang berteduh atau mencari domba-domba mereka yang hilang di gua-gua Qumran dekat Laut Mati, secara tidak sengaja telah menemukan guci-guci berisikan gulungan-gulungan naskah tua sebanyak 981 buah, yang diantaranya adalah salinan-salinan PL yang sudah berusia sekitar 2000 tahun dan yang sama dengan salinan-salinan yang ada.
  • Selain itu ditemukan lagi naskah yang berbeda di 11 gua lainnya. Diperkirakan naskah-naskah itu adalah milik kaum Eseni Yudaisme yang hidup memisahkan diri dari masyarakat umum, yang kemudian dibunuh atau melarikan diri oleh serbuan tentara Romawi. Perkiraan itu diperkuat karena di antara naskah-naskah tersebut terdapat juga naskah yang memuat aturan-aturan komunitas Eseni. Tetapi ada juga yang menduga bahwa benda-benda tersebut adalah milik masyarakat Israel yang melarikan diri ke tempat tersebut ketika Yerusalem dimusnahkan pada tahun 70 oleh tentara Romawi. Temuan ini sangat penting karena telah membuktikan bahwa isi dari salinan PL yang dimiliki oleh orang Kristen, sama dengan salinan-salinan naskah Qumran tersebut.

Dengan demikian kita tidak perlu merasa kalah dengan pengakuan kaum agamis lainnya, jika mereka mengakui bahwa kitab sucinya telah diturunkan dari sorga atau penulisnya dikendalikan seperti robot. Karena tanpa disadari pengakuan seperti itu telah membuka ruang kecurigaan bagi para peneliti yang kritis, bahwa hal itu bisa saja merupakan kebohongan belaka.

Kita juga tidak perlu kalap dengan tuduhan para ilmuan skeptis bahwa penulisan Alkitab terbukti sangat manusiawi atau tidak supra natural. Karena memang Allah telah mewahyukan Alkitab dengan cara yang sangat manusiawi. Campur tangan Allah itu terletak pada pengawasan terhadap manusia yang dipakai sebagai alat-Nya, sehingga tidak akan terjadi kesalahan pada prinsip-prinsip kehendak Allah di dalamnya. Dengan pandangan ini maka kita tidak akan pernah berbenturan dengan para ilmuan maupun para kaum agamais yang picik. Namun wibawa Alkitab tidak boleh hanya diletakkan atas prinsip pengilhamannya, melainkan juga atas bobot kecukupannya sebagai kitab pedoman beriman. Ada dua hal yang perlu dijelaskan mengenai kecukupan Alkitab:

Yang pertama adalah maksud dari Alkitab disebut ‘cukup’. Sebutan ini teristimewa berlaku bagi kaum protestan yang sepakat bahwa konon Alkitab yang terdiri dari 66 kitab itu dianggap sudah cukup atau tidak boleh ditambah dan tidak boleh juga dikurangi lagi. Keputusan ini dipicu oleh Katolik dan kelompok lainnya yang menganggap kitab-kitab lain seperti apokrifa juga dimasukkan sebagai kanon. Selain itu juga prinsip kecukupan dapat menjadi pagar antisipasi sikap menganggap remeh kualitas sebagian dari kitab-kitab terkanon tersebut, karena tendensius pada satu gagasan akibat keterbatasan nalar manusia. Seperti misalnya telah terbukti pada perdebatan teologis dalam masa puncak pergolakan reformasi. Kemauan untuk menekankan kemutlakan anugerah telah mendorong para pejuang reformi menganggap rendah kitab Yakobus yang dianggap bagaikan “jerami kering”, berhubung kitab Yakobus secara gamblang meyebut bahwa iman harus bekerja sama dengan perbuatan (Yakobus 2). Itu sebabnya pernyataan bahwa 66 kitab yang sudah diakui sebagai kanon itu ‘cukup’, akan mengawal wibawa semua kitab dalam Alkitab itu setara, termasuk kitab Yakobus.

Yang kedua adalah standar penentuan cukupnya Alkitab. Sesungguhnya sangatlah sulit untuk menjelaskan hal ini secara logis. Karena tidak ada ukuran, baik secara ilmiah maupun secara alkitabiah yang bisa dijadikan acuan untuk menetapkan bahwa ke 66 kitab tersebut sudah cukup lengkap menjadi pembentuk Alkitab sebagai kanon. Melalui hal ini jugalah kita bisa melihat salah satu sisi keajaiban Alkitab. Sebab tanpa halangan yang terlalu berat pada akhirnya orang percaya secara alamiah telah menerima ke 66 kitab itu sebagai satu kesatuan yang disebut sebagai Alkitab. Meskipun demikian para teolog protestan akhirnya bisa memberi alasan yang bisa diterima akal. Bahwa dengan ke 66 kitab tersebut, maka seluruh maksud Allah yang harus diketahui manusia untuk keperluan pertumbuhan imannya menuju keselamatan, dianggap sudah cukup!

Akhirnya kita harus mengakui bahwa wibawa Alkitab sebagai kanon juga tersirat dari fakta semakin berkurangnya Allah berbicara kepada manusia melalui metode secara langsung sejak adanya Alkitab. Andai kata Allah masih melakukannya pun, maka hal tersebut bisa dipastikan merupakan sesuatu yang bersifat insidental dan jarang, serta tidak lagi mengatakan sesuatu yang sudah ditetapkan dalam Alkitab dan juga tidak akan bertentangan dengan nilai-nilai dan keputusan-keputusan-Nya yang telah digariskan dalam Alkitab. Prinsip ini harus diterima jika kita menerima prinsip kecukupan Alkitab sebagai kesaksian utama (simak ilustrasi Lukas 16:19-31). Dan dengan prinsip ini kita seharusnya sudah mencurigai klaim-klaim para pendeta saat ini yang sering mengakui bahwa Allah terlah berbicara kepada mereka secara langsung. Dengan prinsip ini juga kita bisa mengawal atau setidaknya mengantisipasi penyesatan Iblis terhadap umat melalui para nabi palsu di akhir zaman (Matius 24:24).

Bukti wibawa kanon Alkitab adalah merupakan cara Allah mempertahankan nilai-nilai rohani gereja mula-mula sehingga kekristenan tetap menjadi alat di Tangan Tuhan untuk membawa kebenaran adalah, munculnya dorongan pada upaya melakukan reformasi gereja berdasarkan ketundukan pada naskah-naska Alkitab. Hal ini akan diurai pada Seri-13 berikutnya.

Theo Light

Satu Komentar pada “Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-12)”

  1. Hodos Mentoring adalah suatu sarana yang sangat bagus bagi setiap orang yang ingin mendalami teologia alkitabiah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *