Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-13)

REFORMASI GEREJA

Dari paparan Seri-Seri sebelumnya kita akhirnya dapat menyimak, bagaimana kualitas kerohanian kekristenan atau gereja telah mengalami degradasi oleh efek kenyamanan kemerdekaan dari aniaya, dan karena kejayaan oleh berbagai fasilitas yang disediakan para kaisar Romawi yang telah menjadi Kristen, khususnya oleh Konstantinus Agung dan Theodosius Agung. Seiring dengan kejayaan itu juga bangkitnya dinamika perdebatan teologis yang ditimbulkan oleh berbagai pertentangan doktrin dalam tubuh gereja yang masih katolik (am), termasuk praktek-praktek kekerasan dalam persaingan untuk memperoleh jabatan strategis dalam gereja. Menurut pengamat kafir Ammianus Marcellinus, ketika Damasus bersaing dengan Ursinus, demi gelar kepausan tahun 366, “dalam sehari di Basilika Kristen Scinius ditemukan 137 jenazah”. Ia menambahkan bahwa Uskup Roma, “bebas dari kemiskinan, berpakaian mewah, berpesta pora – bahkan makanan mereka lebih mewah dari makanan keluarga kaisar.


Umumnya pikiran warga gereja saat ini langsung terhubung dengan tokoh bernama Martin Luther (1483-1546) begitu mendengar istilah ‘reformasi’. Padahal tokoh terpenting pendorong semangat terjadinya reformasi adalah terutama berkat kiprah seorang teolog brilian berkebangsaan Belanda bernama Desiderius Erasmus (1466-1536). Sebagai tokoh gereja yang mampu menanggapi geliat perkembangan humanisme pada zaman renaisans, maka karya-karya tulisnya yang mengkritisi kebobrokan gereja telah menjadi dasar berpikir dan pemicu langkah para reformator lainnya untuk melakukan aksi reformasi. Ketika reformasi akhirnya meletus oleh Martin Luther, maka orang-orang pada waktu itu dapat menyatakan sebuah pepatah terkenal yang berbunyi, “Erasmus meyiapkan telur, dan Martin Luther menetaskannya”. Meskipun pada kenyataannya kedua tokoh ini tetap saling menjaga jarak karena perbedaan pandangan teologis terkait keselamatan dan sikap terhadap kepausan saat itu.


Baik Erasmus maupun Luther memiliki niat dan sikap yang arif dalam mengkritisi gereja. Mereka sama dalam cita-cita keinginan mereformasi gereja tanpa ingin berpisah dari otoritas kepausan di Roma. Mereka sama-sama tidak mengharapkan terjadinya perpecahan gereja. Tetapi perbedaan situasi dan medan yang mereka miliki telah mengantar mereka pada hasil yang berbeda. Erasmus dapat tetap menunjukkan loyalitasnya dan kesetiaannya terhadap kepausan di Roma walaupun dengan kritik dan usaha reformasi yang tegas hingga akhir hidupnya, sedangkan Luther dengan terpaksa justru berakhir menjadi tokoh pertama pemecah gereja yang masih katolik itu.


Protes terhadap praktek manipulasi naskah-naskah Alkitab dan sikap otoriter untuk memenuhi kepentingan penguasa gereja akhirnya mencuat ke permukaan ketika Luther yang adalah seorang biarawan Jerman menempelkan 95 Dalil-nya di pintu gerbang gereja Wittenberg pada tahun 1517. Tindakan ini sama sekali bukan untuk memberontak terhadap gereja, melainkan untuk memberi koreksi teologis terhadap kebijakan Paus Leo X yang sedang berkuasa, terkait praktek penjualan Indulgensi (surat pengampunan dosa). Praktek pemberian Indulgensi dengan cara memungut imbalan uang untuk menjadi salah satu sumber dana dalam upaya merenovasi Basilica Santo Petrus, semakin meningkatkan suhu keinginan banyak orang yang sudah lama terpendam untuk mereformasi gereja pada waktu itu.


Tugas penjualan Indulgensi semakin gencar di tangan seorang pengkhotbah handal bernama Johann Tedzel yang bertugas sebagai komisaris Indulgensi di Jerman. Praktek penjualan Indulgensi yang telah memberi dampak pemikiran bahwa pengampunan dosa dapat dibeli atau diperoleh dengan uang, telah mendorong dan menginspirasi Luther untuk menangkal kekeliruan itu dan menghasilkan konsep teologia yang dikenal dalam dua istlah, yakni: Sola Scriptura untuk menegaskan bahwa Alkitab merupakan otoritas final bagi segenap umat kristiani, dan Sola Fides untuk menegaskan bahwa keselamatan itu terjadi dan diperoleh hanya oleh iman semata, bukan karena karya kebaikan (Efesus 2:8-10; Roma 1:17; 3:24), karena sesunguhnya Yesus Kristus telah memikul dosa dunia (Yohanes 1:29), dan lain-lain. Tesis Luthher yang kemudian menjadi tulang punggung kekuatan reformasi ini akhirnya menimbulkan perpecahan besar dalam gereja yang sebenarnya tidak direncanakan dan diinginkannya. Ia akhirnya dihukum oleh gereja namun reformasi semakin meluas. Gerakan reformasi akhirnya memisahkan diri dari Gereja yang disebut ‘katolik’ (am) itu, dan selanjutnya tidak lagi mengaku sebagai “Katolik”, melainkan “protestan” sebagai sebutan yang menandakan perbedaan dengan Gereja Katolik yang berpusat di Roma itu.


Tetapi perlu disayangkan bahwa semangat mengkritisi praktek gereja yang melenceng saat itu, tanpa disadari sebenarnya telah mengarah pada perumusan teologia tendensius. Dalam hal ini adalah pemahaman tentang Sola Fides dengan konsep yang mengabaikan peran manusia dalam meresponi anugerah keselamatan, yang sebenarnya Allah tawarkan secara proporsinal. Dalam pemikiran inilah Luther berbeda paham dengan Erasmus. Erasmus tetap mempertahankan konsep keselamatan gereja secara tradisional, bahwa keselamatan akan tercipta dengan peran kerja sama antara Allah dengan manusia. Dan oleh karennya Erasmus berpendapat bahwa gereja katolik tidak salah dalam konsep teologia. Gereja hanya bersalah dalam beberapa praktek kebijakan dengan cara manipulasi atau penyimpangan secara berlebihan terhadap konsep teologia yang ada demi kepentingan kotor para pejabat gereja. Erasmus dapat secara kritis tetap mendukung konsep teologia gereja semula, tetapi dengan tegas menentang praktek penjualan indulgensi sebagai peran manusia dalam meresponi keselamatan.


Sementara gerakan ekstrim Luther berkembang ibarat ayunan bandul yang ketika ditarik jauh ke satu sisi, maka setelah dilepas akan mengayun jauh pula ke sisi yang lainnya. Paus Leo dan Tedzel telah menarik bandul kekeliruan gereja terlalu jauh ke satu sisi, yang memberi kesan seakan keselamatan itu dapat atau harus diperoleh dengan imbalan uang atau jasa manusia, dan sebagai imbasnya Luther dan para reformator lainya telah mengayun jauh ke sisi lain dalam usaha mengkritisi, dengan memberi pemahaman ketat pada pernyataan Alkitab tentang “keselamatan hanya oleh anugerah” (Sola Gratia), sehingga memberi kesan bahwa keselamatan akan diterima tanpa membutuhkan peran perbuatan manusia. Tokoh terkemuka lain yang semakin mengayunkan pemahaman ekstrim ini adalah teolog berbakat bernama Yohanes Calvin (1509-1564) dari Prancis.


Gerakan Calvin yang kemudian dijuluki sebagai kalvinisme, telah merumuskan suatu teologia yang kemudian populer dengan istilah ‘predestinasi’. Dikemas dalam lima point yang disingkat dengan sebutan ‘TULIP’: Total depravity (kerusakan totoal), Unconditional election (pemilihan tanpa syarat), Limited atonement (penebusan terbatas), Irresistible grace (anugerah yang tidak dapat ditolak), dan Perseverance of the saints (ketekuan orang-orang kusdus). Ciri atau tekanan utama dari teologia ini adalah pemilihan dan penetapan orang yang diselamatkan oleh Allah sejak sedia kala. Maksudnya bahwa sesungguhnya Allah telah memilih dan menetapkan orang-orang yang nanti akan selamat dan masuk sorga, dengan demikian juga telah tertetapkan orang-orang yang akan binasa dan masuk neraka. Dengan demikian teori ini meniadakan prinsip “kehendak bebas” manusia. Pemahaman ini didasarkan pada naskah Efesus 1:4,5; Roma 8:29 dan banyak lagi ayat-ayat yang mendukung keyakinan tersebut. Teori ini tentu saja bukan tanpa argumen yang kuat. Tetapi karena tulisan ini tidak bertujuan untuk membahas doktrin ini secara mendalam, maka bagi yang ingin mendalaminya silahkan mengakses situs hodos.id pada kolom Teologia dengan judul ‘Keselamatan’.


Teori keselamatan ala kalvinis yang bagaikan bandul yang melambung jauh ini akhirnya mendapat reaksi dari teolog Belanda bernama Yacobus Arminius (1560-1609). Para pendukung doktrin dan gerakannya akhirnya dijuluki sebagai ‘arminian’. Bagi Arminius, meskipun kejatuhan manusia membuat manusia tidak layak lagi bagi Allah dan oleh karenanya seharusnya binasa, namun masih ada kemampuan untuk merespon, sehingga dapat menanggapi anugerah Allah. Anugerah Allah itu cukup sebagai pendahuluan untuk meresponi keselamatan yang Allah tawarkan. Kenyataannya memang Adam dapat menjawab ketika Allah mencarinya. Dalam hal ini Arminius selaras dengan Erasmus dalam mempertahankan prinsip “kehendak bebas” manusia.


Teori-teori Arminius yang didukung oleh naskah surat Yakobus bahwa “Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakikatnya adalah mati” (Yakobus 2:17), cukup membuat kaum reformator gerah. Karena kesulitan menghadapi naskah Yakobus ini, Luther sendiri akhirnya tersandung melecehkan kitab yang sudah ditetapkan sebagai kanon ini dengan memberi komentar bahwa kitab Yakobus ini ibarat “jerami kering”. Memang demikianlah selalu ada potensi efek negatif dari reaksi tendensius dalam upaya memenangkan sebuah argumen yang juga berpotensi mendorong timbulnya kesalahan baru. Gerakan reformasi Luther ini bahkan dengan segera telah ditunggangi gerakan revolusioner seperti yang dilakukan oleh Thomas Munzer yang menggerakkan kaum tani untuk memberontak dengan kekerasan kepada para tuan tanah (1491-1525), dan gerakan-gerakan radikal lainnya.


Meskipun Arminius adalah murid dari seorang penerus Kalvin, namun karena ia menolak dengan tegas tiga dari lima konsep keselamatan ala kalvinis, maka ia dikutuk dalam Sinode kalvinis. Sejak gereja mengalami kemerdekaan dan menjadi jaya hingga era reformasi, maka kegiatan para tokoh-tokohnya lebih didominasi dengan keasyikan dalam debat rumusan-rumusan dokmatika-intelektual dan birokrasi yang mendorong praktek hukum-menghukum dari pihak pejabat yang lebih berkuasa kepada mereka yang dianggap bertentangan dengan doktrin yang dimiliki. Ketika bangsa-bangsa di bawah naungan kekaisaran Romawi itu mulai bergolak untuk merebut kemerdekaannya masing-masing, maka para raja pun menggelar perang dalam semangat agama Kristen itu. Sedangkan semangat ibadah umat yang sebelumnya adalah merupakan bentuk kerinduan bersekutu dengan Tuhan dan sesama orang percaya, telah bergeser menjadi acara pertunjukan yang dibungkus oleh seremonial liturgi agung semata dalam gedung-gedung megah penuh karya seni.


Semangat renaisans yang turut mendorong dan membuka pintu terjadinya reformasi gereja bergerak semakin meluas. Tidak bisa dihindari bahwa ekses lain dari meledaknya reformasi ini adalah keinginan menggali dan menghidupi kembali apa yang pernah dihidupi oleh gereja yang mula-mula dalam naskah-naskah Perjanjian Baru (PB). Sayangnya keterbatasan menalar secara kontekstual buku (Alkitab) yang terbentuk di zaman kuno itu telah menciptakan pemahaman sempit, karena hanya mampu menyoroti isu parsial yang dijadikan landasan hidup praktis setiap hari. Gerakan reformasi ekstrim seperti ini menghasilkan aliran-aliran pemahaman yang akhirnya bermuara pada perpecahan yang lebih besar lagi. Hal ini akan dijelaskan pada Seri-14 berikutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *