Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-14)

ALIRAN-ALIRAN DALAM GEREJA

Reformasi yang direncanakan membenahi kesalahan gereja itu ternyata meluas dalam bentuk perpecahan oleh munculnya pandangan-pandangan teologia ekstrim hingga radikal. Pandangan ekstrim lain yang bertindak radikal dikenal dengan istilah Anabaptis. Kata ‘anabaptis’ adalah bahasa Yunani yang berarti “dibaptis kembali”. Golongan ini muncul sebagai dorongan dari pemikiran bahwa baptisan air yang benar menurut Alkitab adalah baptisan selam yang berlaku atas orang-orang dewasa yang sudah menyadari pentingnya kelahiran baru. Oleh karena itu semua orang yang pernah dibaptis semasa kanak-kanak perlu dibaptis ulang.

Sisi radikal para reformator yang bergabung dalam wadah Anabaptis ini bervariasi: Selain hampir semua menolak keterlibatan pada tugas-tugas Negara seperti menjadi tentara dan lain-lain, tokoh utama seperti Menno Simons (1496-1561) secara tegas juga menolak konsep trinitas, karena menganggap bahwa istilah ini tidak tercantum secara eksplisit dalam Alkitab. Gereja yang meneruskan idiologianya diberi nama ‘Mennonit’ sesuai namanya. Jakob Ammann (1644-1711) lebih ekstrim lagi mengajarkan hidup berpisah dari dunia pada umumnya. Thomas Muntzer (1489-1525) terpengaruh dengan ajaran para nabi Apokaliptik lalu mendirikan pemerintahan gereja teokrasi dan menyerukan perang fisik melawan pemerintahan gereja Negara dan kelompok Kristen lainnya. Melchior Hoffman (1500-1543) memprediksikan kedatangan Kristus kembali pada tahun 1533. Jan Mathys pengikut Hoffman membentuk pasukan Anabaptis untuk merebut kota Munster untuk dijadikan menjadi Yerusalem Baru pada tahun 1533. Untuk membendung gerakan Anabaptis ini, akhirnya Negara maupun para kaum reformis lainnya berusaha menghentikan gerakan Anabaptis ini dengan cara aniaya hingga membunuh mereka.

Gerakan Anabaptis radikal akhirnya semakin meredup, tetapi praktek baptisan air kemudian diteruskan oleh kelompok separatis dalam tubuh kalvinis yang dipimpin oleh John Smyth (1554-1612) dengan nama Gereja Baptis. Gerakan ini dimulai dari Inggris, kemudian ke Belanda, hingga ke seluruh Eropa. Ketika mengalami aniaya berkepanjangan dari gereja utama di Inggris pada abad-17, maka bersama kelompok Puritan lainnya, sebagian besar mereka berimigrasi ke Amerika. Di sana Roger Williams membentuk Gereja Baptis yang ramah, sehingga menjadi pusat perkembangan yang efektif ke seluruh dunia dan diakui sebagai denominasi gereja terbesar di dunia. Karena pengalaman diintimidasi dan dianiaya di Inggris, Gereja Baptis menjadi sinode yang sangat toleransi dalam hal doktrin. Para pelopor gereja baru yang bergabung dengan sinode Gereja Baptis diberi kebebasan menganut doktrin yang diaykini masing-masing, kecuali perihal baptisan dan keterpisahan dari campur tangan pemerintah yang menjadi ciri mereka. Maka tidak heran jika dalam Gereja Baptis dapat bergabung penganut paham kalvisnisme maupun arminianisme secara bersama-sama.

Harus diakui bahwa pada periode awal reformasi, paham kalvinis lebih cepat bertumbuh dan menyebar ke seluruh Eropa. Hal ini dikarenakan kecerdasan Calvin dalam mengorganisir dan menularkan pahamnya dengan mendirikan Sekolah Teologia di Genewa, Swis, pada tahun 1559. Murid-muridnya yang menyebar ke seluruh Eropa tentu saja berperan memperjuangkan paham kalvinis. Semangat renaisans yang salah satunya mengedepankan humanisme dan kegiatan intelektual, tentu saja turut berperan dalam memicu deras geliat berteologia. Seiring dengan itu, semangat kemandirian bangsa-bangsa Eropa juga menjadi ancaman bagi kekuasaan gereja Negara (yang adalah katolik) saat itu. Kemelut di bidang politik yang bercampur dengan kemelut agama telah menempatkan Eropa membara dalam potensi perang saudara.

Sangat wajar apabila keyakinan seorang raja turut mempengaruhi jenis keyakian yang dipeluk rakyatnya. Dan ketika jumlah penganut protestanisme telah melampaui katolik di satu tempat, maka hal ini berpotensi memicu peperangan. Perang saudara (perang agama Katolik dengan Protestan) pertama meletus di Prancis dari Tahun 1562 hingga 1572 karena pertumbuhan pesat protestan kalvinis di sana, yang disebut juga sebagai kaum Huguenot. Di Skotlanidia, John Knox (1513-1572) berhasil mengembangkan kalvinisme yang akhirnya memicu perang agama karena bertentangan dengan Mery, ratu Skotlandia yang Katolik. Di Inggris, melalui proses panjang yang diawali polemik politik dan urusan pernikahan keluarga penguasa (Henry VIII) akhirnya terbentuk gereja Inggris yang terpisah dari otoritas Roma. Di kemudian hari gereja Inggris ini banyak terpengaruh oleh paham kalvinis yang kemudian disebut sebagai Anglikanisme.

Tetapi polemik agama tidak pernah berhenti di Inggris pada era reformasi hingga abad-17. Kejenuhan terhadap perang agama yang dipengaruhi dinamika politik para penguasa dan gereja, akhirnya mendorong timbulnya kelompok separatis yang menentang penguasa karena merindukan kebebasan dan kenyamanan memeluk agama yang diyakini. Kelompok ini disebut dengan sebuatan “Kaum Puritan”. Reaksi kelompok ini menimbulkan tekanan hebat dari pihak penguasa, yang akhirnya mendorong mereka berimigrasi ke dunia lain yang bisa menerima mereka dapat menjalankan keyakinannya. Gelombang imigrasi berikutnya semakin meningkat hingga bersedia mengarungi samudera lepas ke benua Amerika, dan yang paling terkenal adalah kelompok Pilgrims (Peziarah) berangkat meninggalkan Inggris pada tahun 1620 dengan kapal Mayflower ke Amerika. Meskipun di kemudian hari sentimen yang sama terulang lagi setelah kaum Puritan yang berimigrasi itu telah menjadi penganut protestan yang kuat di dunia baru, maka berikutnya merekapun menjadi penguasa yang menganiaya agama atau aliran kepercayaan yang baru datang.

Tak terbendungnya gerakan protestanisme di seluruh Eropa mendorong terjadinya usaha-usaha reformasi di tubuh gereja Katolik juga. Hal ini dimulai dari gerakan pribadi-pribadi yang menjalani hidup saleh penuh penyangkalan diri dan hidup sederhana, akhirnya mendirikan ordo-ordo baru yang bersumpah tetap setia pada gereja Katolik Roma. Ordo reformis yang dianggap pertama muncul adalah Ordo Cinta Kasih Ilahi pada tahun 1515. Dua diantara klerus Katolik yang bergabung ke dalam ordo ini, dan yang kemudian mendirikan ordo yang terkenal dan berpengaruh adalah: Ignatius Loyola yang mendirikan Ordo Yeusuit tahun 1534, dan Carolus Borromeus dari Milan yang mendirikan Ordo Theatine. Semua ordo-ordo baru yang muncul berusaha mencari dukungan otoritas dari kepausan untuk melakukan reformasi internal gereja. Dengan sumpah taat pada kepausan, ordo-ordo ini meluas ke seluruh Eropa dan kemudian menjadi efektif melakukan misi ke seluruh dunia. Kemudian muncul juga Ordo Barnabite yang didirikan untuk meningkatkan pendidikan para klerus (rohaniwan gereja) dalam upaya menghadapi serangan-serangan kritik terkait pemahaman Gereja Katolik, termasuk Ekaristi dan sakramen-sakramennya. Gairah ordo-ordo baru ini mendorong Ordo lama seperti Ordo Fransiskan (Ordo Capusin) yang diberi mandat oleh Paus untuk mendirikan rumah-rumah mandiri sebagai sarana pelatihan hidup suci, penginjilan, dan penerimaan pengakuan dosa, bangkit kembali.

Carles V kaisar Romawi Suci akhirnya mendorong untuk diadakannya sebuah konsili dalam upaya mencari jalan perdamaian gereja dengan kaum protestanisme. Namun pelaksanaan konsili ini mengalami penundaan karena keengganan para Paus yang tidak ingin diungkap kesalahannya dalam persidangan. Tetapi akhirnya tampil juga seorang Paus yang menginginkan terjadinya reformasi di tubuh Katolik. Paus Paulus III yang memasukkan para tokoh reformasi Katolik dalam Dewan Kardinal dan membentuk komisi reformasi kepausan, akhirnya memerintahkan untuk mengadakan Konsili Umum pada tahun 1537. Tetapi karena banyaknya rintangan akhirnya baru terealisasi pada tahun 1545 di Trente, Italia. Konsili tahap pertama (1545-1547) yang hanya dihadiri oleh 25 orang Uskup, dan tidak seorang pun dari kalangan Protestan yang hadir. Tahap kedua (1551-1552) yang hampir sama dengan konsili pertama, namun telah mengambil keputusan menolak campur tangan Karel V agar tidak menghambat kedatangan peserta dari kaum Protestan. Tahap ketiga (1562-1563) yang berakhir dengan ketegangan karena ancaman perang dari pihak Protestan dan menangkap Karel V. Konsili dibubarkan dengan beberapa point hasil keputusan dari pihak Katolik: Menegaskan kembali sahadat Nicea, menetapkan teologi tentang tujuh sakramen, menolak doktrin-doktrin Zwingli, Calvinis, dan Lutheran, menegakkan kehidupan selibat para Klerus, peneguhan kembali keberadaan api penyucian, dan mempertahankan prinsip kehendak bebas. Kemudian para uskup yang hadir meminta paus agar menekankan pentingnya kedudukan Roma sebagi pusat Gereja dan umat Katolik.

Tidak adanya hasil konsili yang mengacu pada perdamaian dengan Protestan, membawa Katolik pada proses reformasi internal yang berlangsung lama (lebih dari 400 tahun). Bahkan tentara salib dibangkitkan kembali, yang pada akhrinya bermuara pada Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) antara Katolik dan Protestan. Inilah perang saudara sesama Kristen paling berdarah dan membingungkan, karena pada akhirnya perang ini tidak lagi semata-mata karena masalah agama, melainkan sudah merupakan kepentingan nasional bangsa-bangsa Eropa yang semakin bergolak. Perang itu akhirnya diakhiri dengan penandatanganan Perdamaian Westphalia (1648) dengan keputusan bahwa setiap pangeran di Eropa diberi kesempatan untuk menetapkan agama di wilayah kekuasaannya. Katolisisime, Lutheran, dan Kalvinisme sama-sama diberi perlindungan hukum. Dengan demikian maka masa reformasi telah berakhir!

Jadi masa reformasi adalah masa paling berdarah dan masa kepicikan berpikir karena rendahnya moralitas para tokoh gereja, dalam sejarah gereja. Karena pada akhirnya gereja mula-mula yang teraniaya oleh kekaisaran Romawi itu kemudian telah menjadi gereja pembantai manusia yang seagama dengannya (kaum Protestan) setelah Kristen (katolik) menjadi agama Negara Romawi. Lalu kaum Protestan yang semula tertindas karena belum berdaya, segera menjadi pembantai semua lawan pandangan doktrinnya setelah mempunyai kekuatan fisik yang memadai. Pertanyaannya, kemanakah Tuhan pemilik Gereja ketika semua ini terjadi? Sebelum menjawab pertanyaan ini di Seri terakhir, sebaiknya kita melirik sejenak apa sebenarnya yang sedang terjadi tanpa disadari atau direncanakan oleh orang-orang Kristen ini pada masa reformasi, yaitu:

  • Dibutuhkan ratusan tahun masa reformasi dengan korban yang begitu banyak untuk membuka pikiran agar terjadi niat melakukan pembersihan di Gereja Katolik.
  • Masa reformasi adalah masa perjuangan hak-hak kebangsaan untuk menggenapi penglihatan Nebukadnezar yang diartikan oleh Daniel (Daniel 2:33,34).
  • Masa reformasi adalah penyadaran akan kebutuhan pemenuhan hak-hak azasi manusia, termasuk hak-hak keyakinan beragama, yang akhirnya bermuara pada tak terbendungnya berbagai aliran keyakinan (doktrin) dalam kekristenan, yang juga diikuti pemisahan-pemisahan organisasi meskipun masih dalam satu pemahaman.

Karena terbukti ketika semua itu dipenuhi dalam Perdamaian Westphalia, maka polemik reformasi segera berakhir. Artinya harus jujur diakui bahwa Gereja memang sudah mengalami kerusakan spiritual sejak mejadi agama Negara, dan bahwa hakikat manusia sebagai makhluk yang diciptakan dengan kebebasan berkeyakinan dan berekspresi sesuai keyakian itu tidak boleh diberangus sedemikian saja. Bukti dari kebenaran prinsip ini terlihat dengan pesatnya kemajuan peradaban oleh derasnya kemajuan berpikir manusia yang dikenal sebagai Zaman Pencerahan, tepat setelah pergolakan reformasi mereda. Hal ini akan diurai pada Seri-15 berukutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *