Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-15)

PROGRES INTELEKTUALISASI

Geliat baru yang disebut sebagai Zaman Pencerahan (1648-1776), yang sebenarnya merupakan kelanjutan dari masa Renaisans yang juga tertekan selama perang agama masa reformasi, segera mewarnai kehidupan di Eropa. Orang-orang Kristen itu akhirnya mengalami pencerahan pikiran. Ada dua arah langkah kemajuan yang terjadi ketika kebebasan berpendapat yang mendorong keluasan berpikir manusia sejak Zaman Pencerahan dimulai: Yang pertama adalah kemajuan di bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi yang berpotensi meragukan agama karena dianggap sebagai pengetahuan mistis semata, terlebih karena fakta bahwa gereja sekian lama telah menyebabkan kehancuran dalam berbagai hal dan menjadi penghambat kemajuan Renaisans sebelumnya. Dampaknya terasa hingga kini ketika Eropa menjadi Negara-negara yang semakin sekuler saat ini. Yang kedua adalah kemajuan di bidang Ilmu Teologia karena harus merekonstruksi ulang doktrin Gereja agar berguna bagi praktek iman yang lebih humanis dan mampu menjawab tantangan kemajuan Ilmu Pengetahuan sekular.

Pada Seri-13 telah disinggung bahwa salah satu bentuk semangat Renaisans adalah perhatian kepada ‘humanisme’ yang mengangkat harkat manusia sebagai subjek. Kita tahu bahwa salah satu tokoh terkemuka yang memaknai munculnya pemikiran sekular waktu itu dari sudat pandang teologia adalah Desiderius Erasmus. Akan tetapi cacat gereja yang tak terbantahkan pada masa reformasi telah mensugesti para kaum pemikir masa pencerahan sehingga lebih cendrung antipati pada teologia kekristenan, meskipun mereka umumnya penganut agama Kristen. Jadi meskipun sebenarnya sejak abad pertengahan doktrin kristiani selalu menjadi dasar pemikiran dan pijakan filsafat masyarakat Eropa, tetapi sejak abad pencerahan tidak lagi demikian. Maka tidak heran jika sikap skeptis seperti ini tetap berlanjut dan semakin menguat pada masyarakat intelektual Eropa hingga saat ini.

Pada masa pencerahan semangat pemikiran sekuler di Eropa mengemuka dalam dua aliran Filsafat yang paling dominan: Dari Britania Raya berkembang filsafat ‘Empirisme’, sedangkan dari Prancis dan Jerman berkembang filsafat ‘Rasinoalisme’. Pemikir empirisme mengembangkan filosofinya atas pemikiran filsuf sebelumnya, Francis Bacon (1561-1626), yang sebenarnya adalah penganut Katolik yang saleh. Meskipun dia berkata, “Kedangkalan memahami Filsafat mendorong manusia terjebak dalam ateisme, sebaliknya pemahaman mendalam membawa budi manusia kepada – Agama”, yang menandakan ketegasan jati dirinya sebagai filsuf berasaskan nilai Kristen, tetapi dasar filosofinya yang mengatakan, “Berpikir induktif – atau mengembangkan teori berdasarkan fakta nyata yang dapat diteliti merupakan satu-satunya landasan pokok dalam memahami hukum Ilmu Pengetahuan”, menjadi dasar bagi para filsuf pemikir sekular empirisme di Inggris, seperti: John Locke (1632-1704), George Berkcley (1685-1752), dan Davis Hume (1711-1776). Filosofi Empirisme hanya mengakui pengetahuan yang dapat diteliti berdasarkan pengalaman atau pengamatan terhadap data yang dapat ditangkap oleh pancaindra. Konsekuensi dari prinsip ini adalah meragukan prinsip-prinsip agamis, karena Tuhan bukanlah data empiris yang dapat ditangkap oleh indra jasmaniah.

Sedangkan pemikir rasionalisme memiliki pandangan bahwa ada kebenaran yang secara langsung dapat dipahami dengan akal tanpa harus pembuktian indrawi, seperti matematika, etika, dan metafisika. Jadi menurut kaum rasionalisme kebenaran dapat ditemukan melalui pembuktian logika maupun analisis berdasarkan fakta. Prinsip rasionalis ini tentu saja memberi ruang pada pengetahuan agamis. Aliran ini sebenarnya sudah dimulai sejak Rene Descartes (1596-1650), yang kemudian dikembangan oleh Baruch Spinoza (1632-1677) dan Gottfriend Leibniz (1646-1716), tetapi mencapai puncak dalam karya Immanuel Kant (1724-1804) yang merekonsiliasi aliran ini dengan empirisme dengan membuat sistem yang memuat bahwa “eksistensi Allah tidak pernah bisa dibuktikan kebenarannya”. Demikianlah empirisme mengikis aspek-aspek adikodrati kekristenan, dan rasionalisme memilah permasalahan moralitas, iman, dan dotrin dari akar-akarnya yang terdapat dalam sejarah pewahyuan Alkitab.

Jadi pada masa ini yang terjadi adalah bahwa para filsuf barat yang sebenarnya adalah penganut kekristenan ini berada pada posisi serba salah. Satu sisi sebagai penganut Kristen (umumnya Katoik) yang taat mereka sangat hormat pada institusi gereja, karena memang hanya ini agama yang mereka miliki dan yang dipandang lebih baik dari keyakian lain atau berhala waktu itu, tapi disisi lain daya pikir mereka sudah dibebani oleh keraguan pada ajaran adikodrati kekristenan yang sulit dijelaskan secara logis. Akhirnya yang timbul adalah usaha membuat definisi filosofis yang bersifat kompromis tentang inti ajaran kekristenan yang disebut sebagai ‘deisme’.

Pandangan deisme mengakui keberadaan Allah sebagai penyebab segala sesuatu. Tetapi setelah Allah itu menetapkan suatu tatanan (sistem) yang akan berlangsung secara Allami, maka Allah menjauh dan tidak campur tangan lagi dalam proses alam setiap hari. Dengan demikian deisme tidak mengakui adanya pewahyuan dan mujizat sebagai bentuk campur tangan Allah di dunia ini. Semua kisah ajaib yang ada dalam Alkitab dianggap sebagai karangan fiktif belaka. Menurut deisme, akal dan pengamatan terhadap dunia cukup untuk membuktikan adanya satu entitas tertinggi, tunggal, dan absolut, yang bisa disebut sebagai Allah. Jadi pencarian dan penemuan jati diri Allah menurut paham deisme, tidak harus melalui sistem keagamaan.

Para sejarawan umumnya menilai bahwa John Locke adalah bapak Pencerahan Inggris penganut deitis yang kuat. Kemudian seorang ilmuwan terkenal, Issac Newton (1642-1727), adalah anggota Gereja Inggris yang diakui sebagai promotor deisme. Dia menyatakan percayanya kepada Yesus Kristus sebagai penyelamat manusia yang ditutus oleh Bapa, namun tidak percaya bahwa Yesus dilahirkan. Penyimpangan kepercayaan para filsuf ini pada akhirnya melahirkan para filsuf penentang kekristenan. Pelopor terkenalnya yang dipengaruhi oleh filsafat deisme John Locke dan Issac Newton adalah Voltaire (1694-1778) yang menolak segala hakikat mistis Allah yang diyakini oleh gereja.

Seiring dengan semangat kemandirian negara bangsa-bangsa di Eropa, otoritas kepausan menurun sangat tajam. Para raja-raja mengambil otoritas pengaturan terhadap gereja di wilayahnya. Ini adalah masa paling suram bagi otoritas kepausan di Gereja Katolik. Bahkan dosa-dosa kebijakan para paus sebelumnya dilakukan lebih parah oleh para raja terhadap gereja karena bisa mengangkat seorang Uskup yang ateis demi keuntungan materi dan politik, seperti yang dilakukan Yoseph II penerus tahta Habsburg, Austria, ketika ia menjadi kaisar Romawi Suci.

Tetapi akhir dari masa reformasi berdarah yang dilanjutkan dengan Pencerahan, tidak hanya menjadi pembawa tantangan negatif dari para filsuf sebagaimana dijelaskan di atas. Pembela keyakinan kekristenan tampil juga dari kalangan filsuf dan ilmuwan seperti Blaise Pascal (1623-1662) yang mengemukakan pemikiran jitu bahwa pikiran atau akal memiliki batas kemampuan untuk memahami segala sesuatu dengan sempurna. Bahwa manusia memiliki hati atau jiwa yang mampu mengenal keberadaan Allah. Oleh karena itu menurut dia, lebih baik mempercayai Allah dari pada tidak. Dampak positif Pencerahan lainnya bagi gereja Katolik adalah pelipatgandaan terjemahan Alkitab dan kebebasan membaca Alkitab dengan berbagai buku penjelasan bagi kaum awam yang sebelumnya dilarang. Demikianlah geliat reformasi internal Katolik masih berlangsung terus.

Bagi kaum protestan masa Pencerahan membuka kembali pintu pandangan kritis terhadap doktirin Lutheran dan Kalvinis yang kaku, yang pada masa reformasi masih dapat dibungkam, yakni arminianisme (lihat Seri-13). Arminianisme sempat berhenti oleh tekanan kaum kalvinisme melalui keputusan pemerintah Belanda dalam satu persidangan sinode di Dordrecht pada 13 November 1618 yang mendorong lahirnya lima pokok ajaran kalvinisme (TULIP – lihat Seri-13). Gerakan spiritual arminianisme yang juga dikenal sebagai kaum remonstran ini, kembali mengemuka sebagai reaksi terhadap semangat ibadah protestanisme yang sudah mapan dan berlangsung hanya sebagai formalitas semata. Gerakan ini semakin mengembangkan sayapnya ke seluruh dunia, pertama dimulia dari Inggris hingga ke Amerika melalui kiprah dua orang tokoh, Wesley bersaudara (John Wesley dan Charles Wesley) yang kemudian menjadi pendiri Sinode Metodis yang diakui sebagi sinode terbesar kedua setelah Gereja Baptis saat ini. Melalui fakta ini kita bisa melihat bagaimana usaha Arminius mengkritisi paham predestinasi kalvinisme yang berhasil dibungkam sebelumnya (lihat Seri-13), namun akhirnya berkembang oleh Wesley.

Kita tahu bahwa reformasi yang dilakukan oleh Marthin Luther sebenarnya lebih bersifat doktrinal, bukan pada semangat spiritual kekristenan. Jadi karakteristik liturgi dan dinamika kegiatan ibadah dalam Gereja Lutheran sebenarnya tidak terlalu jauh berbeda dengan Gereja Katolik Roma. Oleh karenanya, kelesuan rohani akibat kemapanan atau formalitas ibadah seperti halnya juga terjadi dalam gereja-gereja Kalvinis, akhirnya mendorong praktek-praktek mistis untuk mempertahankan eksistensi gereja di tengah masyarakat. Misalnya praktek baptisan air yang dimaknai sebagai penyucian dari dosa. Praktek ini berkembang pada Gereja Lutheran di Jerman. Umumnya diberlakukan bagi mereka yang dianggap tergolong sebagai aliran sesat seperti Kaum Lambadist (komunitas bentukan seorang bernama Jean de Labadie (1610-1674) dari Perancis yang menekankan pentingnya kelahiran baru, kesucian dan pengalaman rohani dalam ajarannya). Kelesuan dan praktek mistik dalam Gereja Lutheran ternyata telah menggelisahkan hati seorang pendeta Lutheran bernama Philip Jacob Spener (1635-1705) untuk melakukan gerakan kebangkitan rohani di Gereja Lutheran Jerman, terlebih setelah pertemuannya dengan komunitas Lambadist itu di Jerman.

Spener menekankan pentingnya hubungan secara pribadi dengan Tuhan dengan disiplin tinggi melalui perenungan Firman Allah dan doa harian. Kala gereja sudah terjebak dalam rutinitas seremonial formalitas yang kaku atau mapan, maka Spener dan rekan-rekannya mulai bergerak membangun komunitas-komunitas untuk membangun iman umat secara mandiri. Komunitas-komunitas ini akhirnya dijuluki dan dikenal sebagai College Pietis, yang kemudian disebut ‘Pietiseme’. Ketika Gereja resmi merasa gerah dan menekan gerakan ini, maka Spener bergerak melalui dunia kampus yang membuat dia semakin terkenal. Gerakan pietisme maupun arminnianisme sebagaimana telah di jelaskan di atas, segera menjadi gerakan misi yang mendorong munculnya aliran-aliran baru dalam protestanisme.

Simpul yang hendak kita tarik dari efek geliat pencerahan ini adalah: Yang pertama kebangkitan sekularisasi oleh pengaruh filsafat, khususnya deisme, yang menyerang gereja dengan filososfi-filosofi skeptis terhadap ajaran kekristenan. Masa pencerahan boleh dikatakan adalah masa peralihan bentuk aniaya terhadap gereja, dari aniaya secara fisik ke aniaya terhadap ajaran atau teologia. Meningkatnya serangan idiologis terhadap gereja ini terutama setelah kelas-kelas sosial kaya lebih menaruh minat terhadap filsafat, terlebih karena penguasa Prussia (yang menjadi cikal bakal kekaisaran Jerman kelak), yang paling berpengaruh saat itu, yaitu Frederik Agung (1712-1786), meskipun memiliki toleransi terhadap agama, namun sangat berminat terhadap filsafat. Bagi Frederik, agama adalah sesuatu yang absurd atau tidak masuk akal.

Yang kedua adalah kebangkitan rohani umat diluar komando organisasi gereja yang sudah mapan dalam kekakuan rutinitas seremonial formalitas. Di sini kita mencatat salah satu yang menandai masa pencerahan adalah, masa hilangnya kekudusan dalam gereja resmi. Kekudusan dan rasa haus akan Tuhan telah terpinggirkan di hati masyarakat luas oleh hadirnya kelompok-kelompok seperti kaum Lambadist yang telah dijelaskan di atas, yang juga akhirnya memiliki ekses tak terbendungnya berbagai aliran-aliran doktrinal dan denominasi organisasi-organisasi mandiri gereja di kemudian hari. Dinamika perkembangan berlangsung seiring dengan bangkitnya revolusi politik dan budaya yang akan dijelaskan pada Seri berikutnya.

Usaha pembenahan doktrinal terbukti tidak membuat gereja lebih baik, melainkan usaha mendekatkan diri secara pribadi kepada Tuhan, seperti yang berkerja di hati orang Moravia yang mempengaruhi hidup Wesley, dan yang bekerja di hati kelompok Lambadist yang mempengaruhi hidup Spener. Sejauh ini sejarah telah membuktikan bahwa kebenaran dan kekristenan sejati selalu hidup jauh di luar kemapanan dan kejayaan.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *