Membangun Budaya Berpikir Teologis (Seri-16)

GEREJA DI TENGAH REVOLUSI

Berbicara tentang ‘revolusi’ maka hal itu berarti suatu perubahan mendasar atau signifikan, yang bisa terjadi sebagai usaha yang direncanakan atau disengaja, tetapi bisa juga tidak. Ada tiga area kehidupan yang mengalami revolusi di Eropa sepanjang Abad XVII-XX yang mempengaruhi kehidupan sosial manusia:

Yang pertama adalah Revolusi Politis. Revolusi ini sebenarnya adalah merupakan kegenapan wahyu yang diterima oleh Daniel tentang arti mimpi Nebukadnezar yang diabadikan di dalam kitab Daniel pasal 2 (lihat Seri-12). Kaki dan jari-jari dari campuran besi dan tanah liat menggambarkan negara-negara di dunia paska kejayaan Romawi hingga saat ini dengan keadaan; ada yang kuat dan ada yang lemah. Semangat kemandirian bangsa-bangsa ini akhirnya bermuara pada semangat perluasan kolonial ke benua-benua lain. Kita tahu Amerika telah menjadi dunia imigrasi masyarakat Eropa yang akhirnya membentuk koloni-koloni bangsa-bangsa Eropa di sana. Jumlah koloni terbesar adalah koloni milik Inggris (13 koloni).

Kita tahu bahwa salah satu pendorong semangat imigrasi ke Amerika adalah hasrat kebebasan dalam menjalankan keyakinan atau agama. Demikianlah Amerika akhirnya menjadi pusat atau tempat suburnya kebangkitan rohani yang berawal dari Inggris oleh gerakan Metodis yang dibawa Wesley bersaudara, dan gerakan Pietisme yang dibawa oleh imigran Belanda bernama Theodorus Jacobus Frelinghuysen (1691-1747), tetapi ahirnya dilanjutkan oleh Jonathan Edward (1703-1758) dengan nafas teologia kalvinisme untuk menghadang laju arminianisme di Amerika. Edward memiliki kemampuan orasi yang baik dan gerak dinamis untuk berperan memanfaatkan momentum yang tepat dalam semangat kegerakan rohani yang telah dimulai oleh Wesley, orang Moravian, dan Frelinghuysen.

Kebangkitan rohani yang dikenal sebagai “Kebangkitan Besar Pertama” ini akhirnya meredup di semua koloni Inggris oleh derasnya arus filsafat deisme. Kondisi ini memberi ruang gerak pada semangat kemerdekaan Amerika dari pemerintahan kolonial Inggris, ketika para tokoh deist, seperti Thomas Jefferson penyusun naskah deklarasi 13 Koloni untuk kemerdekaan Amerika (yang menjadi Amerika Serikat), dapat berkompromi mendukung gairah kaum protestanisme yang ingin mewujudkan kebebasan berkeyakinan agar lepas dari penguasaan Negara. Dengan demikian naskah deklarasi tetap disusun dengan nafas kekristenan, yakni dengan ucapan-ucapan: “Tuhan”, “Allah Alam Semesta”, “Sang Pencipta”, dan “Hakim Tertinggi Dunia”.

Singkat cerita deklarasi ditanda tangani oleh 13 Koloni pada tanggal 4 Juli 1776 (diperingati menjadi Hari Kemerdekaan Amerika Serikat) yang memicu revolusi besar Amerika. Sukses perjuangan kemerdekaan Amerika Serikat berlanjut pada perluasan wilayah dengan cara penaklukan dan pembelian wilayah-wilayah Amerika Utara dari koloni-koloni Eropa lainnya. Kejayaan Amerika Serikat dengan cita-cita demokrasi telah berhasil memberi pengaruh politik sistem pemerintahan kedaulatan di tangan rakyat yang menggantikan sistem otoriter kerajaan ke seluruh dunia. Wujud cita-cita humanisme Renaisans yang menampilkan bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa, termasuk penghapusan perbudakan hampir setelah satu abad sejak kemerdekaannya, dapat terlihat sukses di Amerika dan membawa pengaruh ke seluruh dunia, meskipun harus dibayar dengan mahal dengan pecahnya perang bersaudara dan kematian tokoh pejuangnya, Abraham Lincoln (1809-1865), presiden Amerika Serikat ke-16.

Sejak kemerdekaannya, Amerika dapat membuktikan kemajuan di bidang teknologi dan ekonomi lebih dari Negara manapun. Hal itu dibuktikan pada Perang Dunia Pertama dan Kedua yang menjadikanya diakui sebagai Negara adidaya hingga saat ini. Semua kemajuan ini dicapai dengan dan di tengah derasnya semangat revolusi politis yang melanda dunia, tetapi juga oleh revolusi di bidang sosial dan budaya yang didorong oleh kemajuan teknologi.

Meskipun Perang Dunia Pertama dan Kedua bukan perang agama, namun semangat berperang yang dikemas dengan slogan-slogan kekristenan oleh tokoh-tokoh dan para prajurit yang umumnya beragama Kristen dan yang berada di setiap kubu koalisi negara-negara yang terlibat perang tersebut, adalah fakta tak terbantahkan bahwa kekristenan yang memiliki nilai ajaran utama pembawa perdamaian itu tidak sanggup atau tidak berada untuk menghentikan peperangan. Sejarah telah mencatat bagaimana para prajurit yang haus dengan darah itu dapat merayakan natal dengan hidmat ditengah-tengah perang. Ini menjadi catatan penting bagi kita untuk mendefinisikan ulang tujuan Kristen diadakan oleh Tuhan.

Kegetiran pengalaman pahit akibat perang dunia ini telah mendorong dibentuknya liga bangsa-bangsa yang kemudian menjadi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Hingga kini badan internasional ini cukup efektif dalam menahan rentannya perang antar bangsa. Tetapi sampai kapan? Karena faktanya setiap bangsa dari dahulu hingga saat ini semakin memperkuat diri di bidang kemiliteran. Prinsip pertamanya tentu saja sebagai langkah menjaga pertahanan diri, tetapi ketika menjadi kekuatan yang mengatasi kekuatan lain, juga akan tergoda untuk menguasai atau untuk dijual sebagai tenaga pembela bangsa-bangsa yang lemah demi mendapatkan imbalan ekonomis. Kondisi dunia politik pada masa revolusi dengan sendirinya mempengaruhi perubahan dalam bidang Agama.

Yang kedua adalah Revolusi Agamis. Revolusi di bidang agama tentunya terutama ditandai oleh kesediaan Gereja Katolik yang akhirnya terpaksa menerima eksistensi protestanisme. Demi kenyamanan politis, maka wajar juga kalau akhirnya setiap raja-raja yang mulai merintis kemerdekaan wilayahnya masing-masing, berusaha membatasi pengaruh Roma hingga ke tahap melepas pengaruhnya atas gereja-gereja di negerinya masing-masing. Beberapa Gereja seperti di Inggris memang pada akhirnya memisahkan diri dari kepausan di Roma, bukan karena masalah doktrin, melainkan karena pergolakan politik yang turut mempengaruhi posisi Gereja. Keadaan ini turut memaksa Gereja Katolik untuk membenahi diri dan melakukan reformasi internal untuk kembali pada konsep pelayanan gereja secara murni.

Kesibukan dalam perang revolusi kemerdekaan Amerika dan perkembangannya telah berdampak semakin memburuknya kerohanian gereja-gereja yang sudah mandiri dan mapan. Minat umat untuk menghadiri ibadah merosot tajam. Keadaan ini dijawab oleh gerakan penginjilan di tenda yang dikenal sebagai “Kebangkitan Besar Kedua” oleh tokoh-tokoh kharismatis seperti, James McGready dan Barton W. Stone pada tahun 1795 di perbatasan Kentucky dan Tennessee. Penolakan gereja atas pergerakan ini telah melahirkan gereja-gereja baru yang terpisah dari gereja yang sudah mapan. Puncak dari kebangkitan besar kedua ini dilakoni oleh Charles G. Finney pada tahun 1825 yang bernafas dukungan terhadap hak wanita dan penghapusan perbudakan.

Dalam perkembangan dan kemajuan Amerika yang merdeka, Negara ini juga telah melahirkan cara baru dalam bergereja dan dalam melakukan misi rohani ke seluruh dunia yang tidak dimuati dengan kepentingan politik. Karena salah satu alasan pendorong yang digunakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Amerika adalah kebebasan berkeyakinan atau beragama. Kondisi ini telah menjadikan Amerika Serikat sebagai lahan subur bagi munculnya agama-agama atau sekte-sekte baru dalam keristenan sejak abad-19 hingga abad-20, seperti: Mormon, Adventis, Saksi Yehova, Christian Science, Gerakan Pentakosta yang kemudian dikendarai oleh Gerakan Kharismatis yang juga dapat menembusi Gereja Katolik, dan lain-lain, yang di kemudian hari juga menyebar ke seluruh dunia. Faktor pendorong utama terbentuknya agama-agama baru ini umumnya adalah sebagai reaksi terhadap kelesuan rohani pada gereja-gereja yang sudah mampan. Munculnya tokoh kharismatis dengan efek pengakuan mendapat pewahyuan serta usaha kembali pada tradisi Alkitab yang dianggap telah diabaikan sesuai tafsiran unik masing-masing, sangat cepat menarik simpati dan memenuhi dahaga para pengikut.

Yang ketiga adalah Revolusi Industri. Perkembangan teknologi tenaga uap untuk menggerakan mesin dalam berbagai keperluan seperti, lokomotif kereta api, kapal laut, dan mesin-mesin industri, selain telah perperan mengganti banyak tenaga manusia dan pelipatgandaan produksi, juga telah menjadi pendorong minat Eropa melakukan perluasan kolonial, perdagangan, dan karya misionaris ke benua-benua yang jauh oleh berkembangnya fasilitas pelayaran bertenaga mesin. Meskipun pada hakikatnya usaha perluasan koloni dan penginjilan adalah sesuatu yang terpisah, tetapi kesan yang ditangkap oleh bangsa asing yang dijajah, hal itu adalah merupakan satu kesatuan yang memberi pengaruh sikap penolakan terhadap Injil.

Kemajuan industri membawa dampak langsung pada dua sisi kehidupan sosial: Yang pertama adalah bangkitnya harapan masa depan yang semakin sempurna oleh kemampuan pengetahuan manusia dalam menangani masalah-masalah hidup di masa lalu. Optimisme ini mendukung penerimaan pada Teologia Liberal yang selalu berusaha menyesuaikan diri dengan perkembangan pengetahuan. Sisi yang kedua adalah, terjadinya kesenjangan gaya hidup antara kelompok kecil masyarakat kaya yang eksklusif yang hidup dalam kemewahan, dengan kelompok mayoritas jutaan buruh miskin yang bekerja keras untuk menghasilkan produksi di pabrik-pabrik yang terancam dengan masalah kesehatan.

Kondisi yang menimbulkan sisi gelap di atas mendorong orang mencari jawab dari sudut pandang kekristenan. Dalam hal ini umat Kristen terpecah menjadi tiga kelompok: Kelompok yang pertama bersifat pasif karena menganggap bahwa manusia sedang dalam proses menuju kesempurnaan. Kelompo kedua secara agresif lewat jaringan yang dibangun, seperti kaum reformis hingga kepausan, untuk melakukan reformasi hukum dan institusi. Sedangkan kelompok ketiga secara radikal menginginkan sebuah gerakan revolusioner untuk melahirkan keadilan. Kelompok terakhir ini sempat dipengaruhi oleh penganut sosialis komunis.

Nampaknya memang kita harus jujur mengakui bahwa melakukan nilai-nilai kebenaran yang diajarkan di dalam Alkitab tidak semudah memperdebatkannya dengan segala argumentasi doktrin. Sebab sejauh ini, hampir dua millennium usia gereja dengan perkembangan doktrin yang dihasilkan oleh para sarjananya, namun baru pada abad-19 sistem perbudakan dan kesenjangan sosial di Eropa baru benar-benar diperjuangkan sebagai upaya mewujudkan cita-cita Kristen. Itupun harus melalui sebuah perang saudara yang paling berdarah, yang juga menyebabkan perpecahan gereja-gereja karena pro dan kontra, yang turut mempercepat laju lahirnya gereja-gereja baru seperti telah dijelaskan di atas.

Revolusi memang selalu identik dengan ketegangan, masalah, dan korban yang ditimbulkan. Tetapi sulit untuk tidak mengakui bahwa sudah sejak awal dapat dipantau secara jelas dari Alkitab maupun dari sejarah yang kita sedang simak dalam serial ini, bahwa untuk mewujudkan setiap fase demi fase rencana-Nya, maka Allah memang bekerja melalui berbagai permasalahan. Paulus sadar betul dengan hal ini sehingga ia bisa menghadirkan satu prisip dengan uangkapan, “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu …” (Roma 8:28). Beberapa contoh nyata dari alunan progres masalah ini dapat diurai sebagai berikut:

  • Allah mendatangkan petaka besar yang membinasakan semua yang hidup yang sudah dikuasai dosa, kecuali keluarga Nuh dan setiap jenis spesies makhluk hidup yang dibawa bersamanya untuk membarui dunia purba.
  • Untuk membentuk satu umat pilihan yang menjadi alat-Nya, maka Allah memanggil Abraham dan mendatangkan celaka bagi salah satu cucunya (Yusuf) untuk mendahului saudara-saudaranya ke Mesir agar menjadi satu bangsa yang beradab dan tangguh di sana.
  • Selanjutnya Allah mengizinkan pembantaian semua anak sulung Israel sebagai jalan meloloskan Musa ke Istana sebagai salah satu pangeran.
  • Untuk membentuk iman Musa, maka Allah menyingkap rahasia hidupnya. Sehingga ia terhalau dari kenyamanan Istana dan menjadi pengelana untuk beberapa waktu.
  • Agar umat Israel bersedia mengikuti pimpinan Musa meninggalkan Mesir, maka Allah mendorong hati Firaun untuk menekan bangsa itu hingga ke titik Kritis.
  • Selanjutnya untuk membentuk iman bangsa itu maka Allah mengalihkan langkah mereka ke Padang Gurun selama 40 tahun.
  • Di tanah Kanaan yang merupakan Tanah Perjanjian, bangsa itu selalu dihajar Tuhan dengan berbagi ancaman musuh ketika mereka mulai menjauh dari Tuhan. Puncaknya adalah pembuangan bangsa itu ke negeri Babel.
  • Akhirnya Yesus Sang Juru Selamat Dunia yang direncanakan Bapa lahir pada masa kejayaan kekaisaran romawi yang dinamis, dan yang akhirnya menyalibkan Yesus sebagai terpidana mati.
  • Tetapi dari kematian itu justru Gereja yang adalah kekristenan lahir dan tiada hentinya menglalami masalah sebagaimana kita telah simak dari serial ini.

Kita mungkin bisa mengemas suatu teori alkitabiah sebagai prinsip hidup benar dengan berkata bahwa, “sukses prestasi yang menghasilkan kejayaan dan kelimpahan material diperlukan untuk dipersembahkan bagi kemuliaan Tuhan”. Benar, tidak ada yang salah dengan prinsip ini! Akan tetapi fakta alkitabiah dan sejarah dunia telah membuktikan bahwa kejayaan dan kelimpahan lahiriah lebih cendrung, efektif, dan cepat membawa orang menjauh dari hidup benar. Oleh karenanyalah Paulus tidak ragu mengatakan:

“Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka” (1 Timotius 6:10).

“Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. …” (2 Timotius 3:2)

Masalahnya memang bukan terletak pada ‘uang’, melainkan pada objek yang dicintai dan fokus yang diburu atau dikejar. Mulut bisa berkata cinta Tuhan padahal sebenarnya berkat-Nya-lah yang dicintai. Atau mungkin saja rasa cinta memang berkobar untuk Tuhan tetapi mental belum siap atau belum terbentuk menghadapi nikmatnya kekayaan. Maka tidak heran jika Allah lebih sering secara sengaja menjerumuskan orang-orang yang hendak dipakai-Nya dalam jurang penderitaan sebelumnya seperti yang telah diurai di atas. Dalam sejarah gereja kita dapat temukan bukti-bukti kebenaran teori ini, tetapi akan diurai pada seri terakhir (Seri-18).

Sejauh ini fakta yang tidak bisa dipungkiri karena telah terekam secara baik dalam sejarah adalah, bahwa tidak ada suatu pergerakan yang menjadi satu agama, yakni gereja atau kekristenan, yang memiliki kisah terburuk dan memalukan dalam kiprahnya, namun yang terbukti juga paling eksis memberi pengaruh atau dampak terbaik dalam sejarah peradaban manusia. Apa yang bisa kita katakan tentang hal ini, kecuali kesimpulan bahwa memang Allah yang memutuskan untuk memakainya sebagai alat untuk tugas mulia, namun yang selalu ingin dirongrong Iblis agar hancur.

Pertanyaannya, akan seperti apa ujung dari proses kehidupan ini, dan sampai kapan sarana (kekristenan) ini akan bertahan sebagai alat di tangan-Nya? Kita akan menyimak prediksi alkitabiah Theo Light pada Seri berikutnya.

Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *