Risiko Keyakinan

Menimbang Pilihan Yang Tepat Atas Konsep Keselamatan Kristiani

Kekristenan kini dibingungkan oleh dua konsep keselamatan di dalam Kristus yang berseberangan satu dengan yang lainnya. Konsep yang pertama meyakini bahwa keselamatan itu diperoleh cukup hanya dengan pengakuan percaya dan iman tanpa peran perbuatan. Sedangkan konsep yang lainnya meyakini bahwa keselamatan terwujud jika pengakuan percaya dan iman ditindaklanjuti dengan perbuatan nyata dan usaha untuk hidup seperti Kristus. Padahal dalam Alkitab sudah sangat gamblang tertera berbagai redaksi perihal prinsip keselamatan itu.

TENTANG PERBUATAN :

  • Dengan jelas Tuhan Yesus berkata: “Sebab Anak Manusia akan datang dalam kemuliaan Bapa-Nya diiringi malaikat-malaikat-Nya; pada waktu itu Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya (Matius 16:27).
  • Paulus juga menegaskannya: “Tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan. Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, yang tidak taat kepada kebenaran, melainkan taat kepada kelaliman” (Roma 2:5-11).
  • Petrus juga mengatakanya:  “Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini” (1 Petrus 1:17).
  • Yohanes juga menyaksikan: “Lalu aku melihat suatu takhta putih yang besar dan Dia, yang duduk di atasnya. Dari hadapan-Nya lenyaplah bumi dan langit dan tidak ditemukan lagi tempatnya. Dan aku melihat orang-orang mati, besar dan kecil, berdiri di depan takhta itu. Lalu dibuka semua kitab. Dan dibuka juga sebuah kitab lain, yaitu kitab kehidupan. Dan orang-orang mati dihakimi menurut perbuatan mereka, berdasarkan apa yang ada tertulis di dalam kitab-kitab itu. Maka laut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan maut dan kerajaan maut menyerahkan orang-orang mati yang ada di dalamnya, dan mereka dihakimi masing-masing menurut perbuatannya (Wahyu 20:12-13).
  • Yohanes juga mendengar: “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya (Wahyu 22:12).

Masihkah berpikir bahwa ‘perbuatan’ tidak berperan dalam menentukan keselamatan seseorang?

TENTANG PROSES :

  • Paulus berkata: “Di dalam Dia kamu juga  —  karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu  —  di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu. Dan Roh Kudus itu adalah jaminan bagian kita sampai kita memperoleh seluruhnya, yaitu penebusan yang menjadikan kita milik Allah, untuk memuji kemuliaan-Nya” (Efesus 1:13,14).

Masihkah berpikir bahwa ‘keselamatan’ itu hanya sebagai satu momentum yang terwujud tanpa proses dan progres?

TENTANG PENENTUAN :

  • Yohanes pembaptis berseru: “Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: “Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia”” (Yohanes 1:29; 3:16).
  • Paulus menegaskan: “yang menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran. Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus, yang telah menyerahkan diri-Nya sebagai tebusan bagi semua manusia: itu kesaksian pada waktu yang ditentukan” (1 Timotius 2:4-6).
  • Yohanes mendengar: “Dan mereka menyanyikan suatu nyanyian baru katanya: “Engkau layak menerima gulungan kitab itu dan membuka meterai-meterainya; karena Engkau telah disembelih dan dengan darah-Mu Engkau telah membeli mereka bagi Allah dari tiap-tiap suku dan bahasa dan kaum dan bangsa”” (Wahyu 5:9).

Masihkah berpikir bahwa ‘keselamatan’ itu tersedia hanya untuk orang tertentu saja?

TENTANG USAHA :

  • Paulus berkata: “Hai saudara-saudaraku yang kekasih, kamu senantiasa taat; karena itu tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar, bukan saja seperti waktu aku masih hadir, tetapi terlebih pula sekarang waktu aku tidak hadir” (Filipi 2:12).
  • Paulus kembali menegaskan: “Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juruselamat semua manusia, terutama mereka yang percaya” (1 Timotius 4:10).

Masihkah berpikir bahwa ‘keselamatan’ itu akan terwujud dengan sendirinya tanpa usaha dan perjuangan?

TENTANG JAMINAN :

  • Dan ada seorang yang bertanya kepada Yesus: “Tuhan, sedikit sajakah orang yang diselamatkan?” Jawab Yesus kepada orang-orang di situ: “Berjuanglah untuk masuk melalui pintu yang sesak itu! Sebab Aku berkata kepadamu: Banyak orang akan berusaha untuk masuk, tetapi tidak akan dapat” (Lukas 13:23,24).
  • Tuhan Yesus menegaskan: “Masuklah melalui pintu yang sesak itu, karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya (Matius 7:13,14).
  • Petrus berkata: “Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa?” (1 Petrus 4:18).
  • Paulus sendiri berpikir kemungkinan ditolak: “Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak” (1 Korintus 9:27).

Masihkah menganggap ringan perihal ‘keselamatan’ sebagai sesuatu yang mudah dan dapat dijamin hanya dengan iman dan pengakuan percaya?

TENTANG PERCAYA :

  • Yakobus berkata “Engkau percaya, bahwa hanya ada satu Allah saja? Itu baik! Tetapi setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar” (Yakobus 2:19).
  • Yakobus menegaskan: “Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati (Yakobus 2:26).

Masihkah berpikir bahwa keselamatan dapat diperoleh hanya karena iman dan pengakuan “percaya saja”?

Menganggap enteng perihal keselamatan di dalam Kristus hanya karena salah memahami maksud dan lalai melihat konteks ayat-ayat Alkitab tertentu seperti pernyataan-pernyataan yang mengatakan:

  • “Oleh kasih karunia Tuhan Yesus Kristus kita akan beroleh keselamatan” (Kisah 15:11), bukan oleh hasil usaha dan pekerjaan (Efesus 2:8,9), dan bukan oleh perbuatan baik  (Titus 3:5-7)? Padahal jika melihat konteks yang sebenarnya dimaksudkan adalah perbuatan-perbuatan dan usaha menegakkan syariat Taurat yang sudah tidak perlu lagi setelah penebusan Kristus.
  • Juga keselamatan yang langsung dikaitkan dengan pengakuan percaya (Markus 16:16; Kisah 16:31 dan Roma 10:9,10)? Padahal yang sebenarnya tidak hendak mengatakan bahwa hal itu langsung terjadi seketika, tetapi akan terjadi sepenuhnya dengan kesetiaan dan ketaatan melalui perbuatan. Sebab siapakah yang pernah ketika mengaku percaya dan beriman langsung masuk sorga? Dan tidakkah cukup bukti bahwa Yudas Iskariod yang tidak sekedar mengaku percaya dan beriman, namun telah menjadi orang kepercayaan Yesus untuk memegang keuangan, tetapi berakhir binasa?

Memang benar bahwa alasan atau dasar Tuhan menyediakan keselamatan, sama sekali bukan karena perbuatan baik manusia, melainkan karena ksaih-Nya. Karena pada dasarnya, selain karena keselamatan itu sudah ditetapkan oleh Allah jauh sebelum manusia ada, juga karena tidak ada perbuatan yang sebanding atau dapat membayar keselamatan yang Tuhan berikan. Akan tetapi untuk mewujudkan keselamatan itu dalam diri seseorang, maka diperlukan respon dalam bentuk perbuatan-perbuatan nyata dari manusia. Karena kalau keselamatan bisa dijamin hanya dengan pengakuan percaya dan dengan iman semata, maka Yesus tidak berkata:

“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!” (Matius 7:21-23).

Jadi sangat jelas bahwa tidak ada naskah Alkitab yang mengatakan pengadilan Kristus di akhir zaman nanti dilakukan berdasarkan iman, melainkan berdasarkan perbuatan. Adalah lebih baik berpikir dan mengambil sikap bahwa Anda belum pasti selamat meskipun sudah mengaku percaya dan beriman kepada Kristus, lalu berusaha berjuang dengan segenap jiwa dan raga agar hidup kudus melakukan kehendak Allah untuk mewujudkan keselamatan Anda, dari pada berpikir sudah pasti selamat masuk sorga, lalu menganggap enteng pada kualitas kerohanian dan karakter Anda, padahal ternyata kelak masuk neraka.

Karena dengan prinsip meragukan keselamatan lalu berjuang hidup benar, maka Anda akan diselamatkan meskipun nanti kenyataannya prinsip keselamatan itu hanya oleh pengakuan percaya dan iman. Tetapi dengan menganut prinsip selamat hanya oleh pengakuan percaya dan iman, lalu Anda dan orang yang terpengaruh kepada Anda menganggap enteng keselamatan dan berperilaku seadanya dalam hidup ini, maka Anda akan ditolak dan binasa jika kenyataannya nanti ketentuan keselamatan itu ternyata dihakimi menurut perbuatan.

Adakah masalah dengan prinsip meragukan keselamatan demi menjaga kualitas kerohanian tetap baik? Jika prinsip meragukan keselamatan yang menjadi masalah Anda, maka sebaiknya Anda menyimak ucapan dari dua orang rasul terbesar dalam sejarah ini:

Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak (1 Korintus 9:27).

Dan jika orang benar hampir-hampir tidak diselamatkan, apakah yang akan terjadi dengan orang fasik dan orang berdosa? (1 Petrus 4:18)

Masihkah menganggap sikap meragukan keselamatan itu sesuatu yang salah, atau karena memang Anda ingin menghibur diri dengan jaminan keselamatan karena sulitnya mananggalkan tabiat daging, sehingga berharap masuk sorga walau tetap menikmati dosa?

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *