Tritunggal

Kerumitan Dalam Mendefinisikan Allah Yang Diperkenalkan Dalam Alkitab

Istilah ‘tritunggal’ maupun ‘trinitas’ memang tidak tertulis dalam Alkitab. Persoalan ini menimbulkan sikap sebagian orang Kristen merasa tidak peduli, bahkan ada yang antipati karena menganggap istilah tersebut hanyalah merupakan ciptaan para teolog terdahulu yang bersifat tidak alkitabiah. Sebagian lagi justru sebaliknya, menganggap persoalan ini adalah sesuatu yang primer bagi kekristenan, oleh karena itu menganggap harus dipahami secara serius. Masalahnya, justru doktrin ini adalah topik yang paling sulit, yang sepertinya tidak mungkin bisa disimpulkan secara tuntas, sehingga akan selalu menimbulkan perbedaan pendapat dan perdebatan sepanjang masa.

Yang lebih celaka lagi adalah, banyak para pengkhotbah yang suka berbicara dan mengajarkan hal ini, tanpa terlebih dahulu menguasai seluk-beluk sejarahnya secara memadai, sehingga memiliki sikap yang cendrung menghakimi pandangan-pandangan lainnya sebagai sesuatu yang salah, padahal baru sebatas memiliki pengetahuan petunjuk beberapa ayat dari Alkitab tentang topik ini. Inilah yang menjadi alasan pendorong tulisan ini disiapkan dalam bentuk padat, kronologis dan cukup komprehensif, sehingga memudahkan pembaca memahami esensinya, dan dengan demikian diharapkan akhirnya memiliki sikap yang lebih baik terhadap doktrin ini.

Lahirnya rumusan tritunggal adalah merupakan proses panjang akibat timbulnya pemikiran-pemikiran para teolog abad-abad awal tahun Masehi tentang status hubungan Yesus Kristus sebagai Anak dengan Allah sebagai Bapa, atau tentang status keilahian dan kemanusiaan Yesus Kristus. Hal ini terjadi tentu saja tidak semata-mata karena kegilaan berpikir, melainkan karena dorongan membela keyakinan gereja terhadap serangan-serangan musuh-musuh kekristenan maupun pengajaran-pengajaran sesat atau bidah-bidah yang mulai marak bermunculan.

Konsep-konsep yang mereka kemukakan juga tentu saja tidak seragam, bahkan beberapa justru telah lari dari keyakinan ortodoks (keyakinan awal) gereja yang akhirnya juga dinyatakan sebagai bidah dan dikutuk. Secara mendasar pemikiran-pemikiran atau konsep-konsep mereka dapat dibagi menjadi dua aliran besar: Yang pertama adalah aliran monarkhianisme yang mempertahankan keesaan Allah dalam arti matematis (mono), sedangkan aliran yang kedua adalah prularisme yang berupaya menjelaskan arti-arti kejamakan Allah dalam keesaan-Nya. Dengan cara menelusuri secara teratur jejak terbentuknya rumusan atau istilah tiritunggal sebagaimana akan dipaparkan dalam tulisan ini, maka kita akan sampai pada sikap yang lebih tepat terhadap doktrin ini.

Pada abad pertama gereja mula-mula, penerimaan Yesus dan Roh Kudus sebagai pribadi Allah yang juga disembah sama seperti Bapa oleh orang-orang percaya, nampaknya terjadi begitu saja tanpa persoalan. Penyebutan secara kolektif; Bapa, Anak, dan Roh Kudus (Matius 28:19), yang diwariskan oleh Yesus Kristus telah diikuti oleh para rasul tanpa melalui proses pengkajian teologis. Tentu saja hal seperti ini dapat diterima akal mengingat situasi semangat pertobatan yang begitu signifikan pada masa awal, tetapi mungkin juga oleh masih sangat terbatasnya orang-orang terpelajar dan terkemuka yang menjadi penganut Kristen waktu itu.

Demikianlah doktrin gereja ortodoks dipahami dan diterima secara alamiah atau ada sebagai sesuatu yang belum dirumuskan dan disepakati bersama. Barulah setelah abad kedua dan seterusnya, ketika kaum terpelajar dan para pemikir kritis mulai banyak yang menganut kekristenan, hakikat keilahian dan kemanusiaan Yesus Kristus mengemuka sebagai sesuatu yang dipertanyakan. Adanya upaya membela dan mempertahankan teologia Yudaisme (Agama Yahudi) yang didasarkan pada Alkitab Perjanjian Lama (PL) saja dari pihak penganut Yudaisme, mungkin juga telah memicu semangat menjelaskan hubungan-hubungan Yesus Kristus dan Roh Kudus dengan Bapa (Allah dalam PL) itu dari pihak Kristen.

Jadi supaya lebih jelas, faktor pemicu upaya menjelaskan dan merumuskan hubungan-hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu sesungguhnya terletak pada dua persoalan penting dalam Alkitab Perjanjian Baru (PB): Yang pertama adalah karena kekristenan itu merupakan kesinambungan dari agama Yahudi yang tetap mempertahankan teologia keesaan Allah (Ulangan 6:4; Markus 12:29). Dalam hal ini perlu disadari bahwa orang-orang Kristen sejak awal, meskipun menyembah Yesus Kristus dan Roh Kudus sebagai Tuhan, namun tidak pernah merasa sebagai penganut politeisme (penyembah lebih dari satu allah). Baik secara teori, orang Kristen tetap mengaku bahwa mereka menyembah Allah Yang Esa, maupun dalam praktek juga selalu memiliki perasaan yang sama saat memuja ketiga pribadi sembahan itu. Jadi sangat jelas kekristenan sama sekali tidak memiliki keterkaitan dengan politeisme manapun yang pernah ada dalam sejarah manusia.

Tetapi persoalan yang kedua adalah, bahwa di sepanjang Alkitab PB sangat sarat ditemukan pernyataan yang memperkenalkan Yesus Kristus sebagai Tuhan, dan Roh Kudus yang selalu disebut secara kolektif dan sejajar dengan Bapa dan Anak (Matius 28:19). Dalam hal inilah teologia Kristen mengalami dilema: Di satu sisi mengakui bahwa Allah itu esa sebagai kelanjutan dari teologia Yudaisme, tetapi di sisi lain juga telah menerima dan percaya bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah Tuhan yang secara nyata telah memiliki eksistensi atau perwujudan yang berbeda dari Bapa di dalam Alkitab PB.

Sebelum kita masuk pada penelusuran progres sejarah upaya perumusan tritunggal itu, maka kita akan melihat terlebih dahulu bagaimana Allah itu dinyatakan dalam PL, dan bagaimana Yesus dan Roh Kudus akhirnya disembah sebagai Tuhan dalam PB oleh gereja mula-mula. Dari sanalah kita akan lebih mudah memahami upaya para pemikir Kristen mula-mula yang variatif itu menjawab penyimpangan-penyimpangan paham bidah-bidah yang muncul.

Allah Dalam Perjanjian Lama

Karena persoalan terkait konsep tritunggal ini adalah juga berarti menyangkut tentang Allah, maka ada baiknya penelusuran jejak pengenalan dan penggunaan kata-kata atau peristilahan yang menunjuk pada pribadi Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab, perlu diketengahkan secara sekilas.

Kata atau istilah pertama dan paling lazim kita temukan dalam PL yang merujuk kepada ‘Allah’ adalah elohim (Kejadian 1:1). Kata dasar dan bentuk tunggalnya adalah el, yang memiliki arti ‘kekuatan’ atau ‘tenaga’. Kata el sebenarnya telah digunakan secara umum kepada manusia maupun benda untuk menyatakan kekuatan atau tenaganya yang super. Ketika orang menggunakan kata ini kepada sembahannya, termasuk orang Israel, biasanya ditambah dengan imbuhan untuk menujukkan sifat yang melekat pada-Nya, seperti el-shadday artinya Yang Maha Kuasa, el-olam artinya Yang Kekal, el-elyon artinya Yang Maha Tinggi, dan el-ohim dalam bentuk jamak yang artinya, Yang Tak Terbatas.

Perlu disadari bahwa umat PL yang menjadi Yudaisme di kemudian hari, tidak pernah mengartikan kata elohim sebagai Allah yang wujudnya lebih dari satu. Kejamakan kata itu selalu dianggap hanya sebagai yang menunjukkan kuasa Allah yang tidak terbatas. Itu sebabnya para peneliti juga dapat menemukan bahwa penggunaan kata ini telah dipakai oleh penganut keyakinan politeisme. Jadi elohim bukanlah nama diri sembahan Israel, melainkan sebutan umum yang merujuk pada sembahan atau Allah yang dipakai oleh banyak agama termasuk agama Yahudi.

Orang Israel selalu meyakini bahwa Allah itu esa atau satu. Jadi arti dari kata elohim yang paling bisa dipertanggungjawabkan adalah, penggunaan kata itu untuk tujuan memperluas arti kata el yang sifatnya terbatas, menjadi el-ohim yang sifatnya tak terbatas. Dengan demikian arti kata jamak elohim adalah, Allah Yang tak terbatas kuasa-Nya atau Maha Segalanya. Namun karena bentuknya yang jamak, telah mendorong beberapa teolog Kristen memakainya sebagai pijakan untuk memperkokoh dukungan konsep tritunggal dalam PL, padahal jika diakui secara jujur, sesungguhnya kata ini tidak bertujuan menyatakan Tuhan yang jamak yang mengacu pada tritunggal.

Pemakaian kata elohim ini kepada pribadi Musa “sebagai allah bagi Firaun” dalam Keluaran 7:1, dapat menjadi bukti bahwa kata ini digunakan secara umum dengan maksud sebagai pemegang otoritas tertinggi. Dalam hal ini Musa memegang otoritas tertinggi yang harus dipatuhi oleh Firaun. Jadi elohim bukanlah nama pribadi Allah yang disembah oleh orang Israel, melainkan sebagai suatu sebutan bagi suatu kekuatan tertinggi yang diyakini sebagai Allah.

Allah yang diyakini oleh orang Israel itu akhirnya telah memperkenalkan Nama diri-Nya, yakni YHWH, yang biasanya dibaca Yehowah, lalu berkembang menjadi Yahweh. Laporan pertama yang mengatakan umat PL pertama kali memanggil Nama itu adalah Kejadian 4:26. Tidak adanya kepastian asal-muasal dari kata ini, telah membentuk keyakinan bahwa memang Nama ini benar-benar diperkenalkan hanya kepada uamat PL yang menjadi Yudaisme (agama Yahudi) di kemudian hari. Keluaran 6:1-4 seakan menyatakan bahwa Nama itu pertama kali diperkenalkan kepada Musa. Namun menurut beberapa penafsir, respon Musa yang langsung terhadap sapaan suara yang berbicara kepadanya dari semak yang menyala, menunjukkan bahwa Musa telah mengenal Allah itu sebelumnya.

Teori di atas beranggapan bahwa pertanyaan Musa mengenai Nama Allah itu pada Keluaran 6:13, lebih pada pertanyaan untuk mengetahui arti mendalam dari Nama itu. Jawaban “Aku adalah Aku” (eyeh asyer eyeh) sebelum peyebutan YHWH pada ayat 15, adalah merupakan bukti atas teori tersebut, karena jawaban itu menjelaskan arti eksistensi Allah yang mandiri, tidak bermuasal dan tidak pernah berubah. Jadi Keluaran 6:3 harus dilihat dalam pengertian bahwa kepada Musa diberikan arti mendalam dari Nama itu, yang belum pernah dijelaskan sebelumnya, bahkan kepada Abraham sekalipun. Tujuan dari penjelasan arti terdalam dari nama ini adalah untuk menyatakan bahwa Allah yang menugaskan Musa itu bukanlah allah-allah yang dikenal manusia pada umumnya, melainkan Allah yang memanggil dan yang telah menyatakan diri kepada Abraham, nenek moyang Israel dan yang selalu ada untuk menolong umata-Nya.

Tetapi karena rasa hormat yang tinggi terhadap kekudusan Nama itu, orang Israel akhirnya tidak mau menyebutnya secara sembarangan (Keluaran 20:7). Oleh karena itu mereka menggantinya dengan sebutan kata Ibrani ‘adonay’ yang artinya “Tuhan dari segala tuan”, dan “Tuhan semesta” (Kejadian 18:27). Kata adonay dipahami sebagai status orang yang memerintah atau berkuasa di atas penguasa-penguasa lainya (seperti kaisar). Kata Adonay dikenakan kepada Allah sebagai pengganti nama Yahwe, adalah untuk memberi pengertian bahwa tidak ada lagi kuasa di atas kuasa Allah itu.

Demikianlah kata dasar el dan kata Yahwe yang dikembangkan untuk menujukkan karakteristik Allah, dapat ditemukan di berbagai tempat dalam Alkitab, seperti: el-sadday dan lain-lain, Yehova-Yireh dan lain-lain. Jadi penggunaan kata elohim dalam PL tidak bertujuan menunjukkan adanya tiga pribadi dalam sebutan itu. Meskipun tetap sah apabila mengartikan kejamakannya untuk menunjukan adanya lebih dari satu pribadi seperti para politeis telah menggunakannya. Jadi sebenarnya kurang tepat apabila mengatakan Allah itu adalah tritunggal hanya karena kata elohim itu bentuknya jamak. Umat PL dan Yudaisme di kemudian hari secara ketat meyakini dan memelihara hakikat keesaan Allah dalam pengertian tunggal (mono).

Oleh karena itu dasar keyakinan atau penjelasan tentang tritunggal dalam PL, kurang akurat jika didasarkan pada penggalian arti kata elohim. Adalah lebih baik jika kita menganggap bahwa tritunggal itu memang belum dinyatakan secara transparan dalam PL, dan oleh karena itu, pribadi ‘Firman’ yang dalam Septuaginta (Alkitab PL dalam bahasa Yunani) diterjemahkan sebagai ‘Logos’, hanya menyatakan diri-Nya dalam berbagai teofani dengan variasi sebutan El dan nama Yahweh. Sesungguhnya di dalam nama YHWH itulah secara sepenuhnya terdapat Bapa, Anak, dan Roh Kudus, yang belum dinyatakan dalam PL. Dari kerangka berpikir ini kita akan bergerak pada penggalian, bagaimana proses terjadinya sehingga Yesus dipanggil sebagai Tuhan dan Allah.

Yesus Adalah Allah

Pada zaman Alkitab, ‘Yesus’ sebagai nama diri yang dikenakan kepada manusia pada umumnya adalah sesuatu yang lazim. Dalam bahasa Ibrani kata ini adalah Yoshua, yang berarti “Yahweh adalah Juruselamat”. Pemakaian nama itu kepada masyarakat umum masih berlangsung hingga pertengahan abad pertama. Adanya imbuhan ‘Nazareth’ pada panggilan Yesus (Yesus orang Nazareth) seperti pada Matius 26:71 dan lain-lain, biasanya dilakukan karena adanya orang lain yang menggunakan nama itu juga.

Menghilangnya pemakaian nama itu sebagai nama diri manusia pada umumnya, secara berangsur terjadi di akhir abad pertama. Hal ini wajar karena orang-orang Kristen yang telah sadar bahwa Yesus adalah Tuhan, menganggap bahwa nama itu terlalu suci untuk dikenakan sebagai nama diri manusia. Dan bagi penganut orang Yahudi, nama itu adalah sesuatu yang menjijikkan, karena dianggap sebagai figur penentang ajaran agama Yahudi. Pemberian Nama itu kepada pribadi Yesus Kristus tentu saja bukan sekedar tanda pengenal, melainkan mengandung arti penugasan, yakni tugas penyelamatan. Demikianlah akhirnya kata ‘juruselamat’ atau mesias menjadi salah satu gelar-Nya yang tetap. Akan tetapi nama itu tidak memberi arti bahwa Dia adalah Allah (Theos) atau Tuhan (Kurios).

Kata Yunani ‘kurios’ sesungguhnya pada awalnya juga adalah kata yang bersifat umum diterapkan kepada manusia yang dianggap istimewa, seperti para juragan dan raja-raja. Kata itu berarti ‘tuanku’ yang kemudian mengacu pada “tuan dari segala yang dipertuan”. Yang pasti pernah memakainya sebagai tuan dari segala yang dipertuan adalah kaisar Yunani, Alexander Agung. Dalam hal ini Alexsander sebagai kaisar memang adalah tuan bagi raja-raja taklukannya. Jadi kata kurios itu sejajar dengan kata Ibrani ‘adonay’ sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya. Di sinilah pertama kali ketuhanan Yesus dihubungkan dengan naskah PL oleh Petrus. Pada Kisah 2:34,35, Petrus telah menerapkan ucapan Daud dalam Mazmur 110:1 sebagai yang mengacu kepada Yesus yang adalah Kurios yang sejajar degan Adonay. Agar lebih mudah memahaminya, maka sebaiknya kita langsung melihat studi banding kedua ayat tersebut dalam penjelasan berikut:

Mazmur Daud. Demikianlah firman TUHAN (Yehovah) kepada tuanku (adon): “duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu”” (Mazmur 110:1).

Bandingkan dengan Kisah 2:34,35:

Sebab bukan Daud yang naik ke sorga, melainkan Daud sendiri berkata:TUHAN (Kurios)telah berfirman kepada Tuanku (Kurios): Duduklah di sebelah kanan-Ku, sampai Kubuat musuh-musuh-Mu menjadi tumpuan kaki-Mu”.

Jika melihat konteks Mazmur 110:1-4 secara menyeluruh, memang kita akan melihat suatu keunikan dari mazmur Daud ini. Karena kita tahu, umat PL termasuk Daud, akan menggunakan kata adonay sebagai pengganti kata Yahweh. Dalam hal ini Daud seperti masuk dalam suatu pengalaman adikodrati, menyaksikan satu pribadi Allah berbicara dengan pribadi Allah yang lainnya. Markus 12:36 mengatakan bahwa Daud dalam tuntunan Roh saat menuturkan mazmur tersebut. Terlihat bahwa Petrus merasa yakin bahwa mazmur Daud ini adalah merupakan nubuat tentang percakapan antara Allah Bapa dengan Allah Anak, yakni Yesus Kristus. Itu sebabnya iapun menggunakan kata kurios untuk keduannya, baik kata Yahwe maupun kata kurios dalam Mazmur.

Yang jelas, misteri tentang kata ‘tuanku’ dalam mazmur Daud ini akhirnya telah terungkap oleh Petrus. Karena tidak mungkin Daud berbicara tentang dirinya sendiri atau siapapun yang setara dengan manusia ketika memakai kata Adonay. Apalagi jika melihat konteks mazmur tersebut adalah berbicara tentang pengangkatan raja imam yang bersifat kekal (ayat 4). Itu sebabnya dalam khotbah pertamanya itu, Petrus akhirnya secara tegas mengenakan kata Kurios dalam pengertian sebagai Tuhan kepada Yesus (Kisah 2:36). Jadi, meskipun besar kemungkinan bahwa para pengikut Yesus (ketika Ia masih berinkarnasi sebagai manusia) memang bisa saja sudah memanggil Yesus itu ‘Tuhan’ (Kurios) karena kelaziman para hamba-hamba memanggil juragan mereka juga kurios pada masa itu, namun setelah kebangkitan Yesus dari kematianlah yang menimbulkan sikap orang-orang percaya menjadi berbeda kepada-Nya dan memandang makna kata kurios menjadi sesuatu yang khusus.

Demikianlah selanjutnya gereja perdana merasa bertanggung jawab untuk membimbing umat Tuhan agar mengakui Yesus sebagai Tuhan atau Kurios (Roma 10:9; 1 Koritus 12:3). Itu sebabnya gereja perdana mengalami aniaya yang hebat dari penguasa (para kaisar Romawi), karena telah mengenakan kata kurios hanya kepada Yesus, dan menolak untuk memanggil para kaisar dengan sebutan tersebut. Dalam hal ini kata kurios yang diterjemahkan dengan kata ‘Tuhan’ dalam bahasa Indonesia telah mengalami kenaikan makna, dari sekedar berarti ‘tuan’ yang biasanya dipakai juga kepada orang terhormat, menjadi hanya layak dipakai sebagai panggilan bagi yang disembah sebagai Allah, yakni Yesus Kristus. Hal ini sama seperti nama ‘Yesus’ yang semula juga dipakai sebagai nama orang pada umumnya, tetapi berangsur surut tidak dipakai lagi karena telah menjadi nama yang sakral bagi kekristenan.

Naskah yang paling jelas menghubungkan Yesus dengan kata ‘Allah’ (Theos) adalah Injil Yohanes. Itu sebabnya Injil ini dianggap sebagai Injil yang ditulis untuk menekankan keallahan Yesus, karena telah dimulai dengan pernyataan “Firaman (Logos) itu bersama-sama dengan Allah (Theos) dan Firman (Logos) itu adalah Allah (Theos)” (Yohanes 1:1). Lalu Injil itu diakhiri dengan kisah pengakuan Tomas yang berkata “Ya Tuhan (Kurios)-ku dan Allah (Theos)-ku” (Yohanes 20:28). Jadi memang tidak ada naskah yang menuliskan bahwa Yesus menyebut atau menyatakan diri-Nya secara langsung sebagai Allah (Theos). Yang ada adalah pengakuan murid-murid-Nya yang tidak disanggah atau ditolak oleh-Nya, dan dengan demikan dapat disimpulkan bahwa Yesus membenarkannya. Jika tidak, tentu Ia menolak dan mengoreksinya.

Dukungan yang dapat kita lihat dari naskah-naskah lainnya dari PB yang memberi petunjuk tentang legitimasi keallahan Yesus, baik dari pernyataan-Nya sendiri maupun sumber lainnya adalah:

  • Matius 11:22, yang paralel dengan Lukas 10:22. Dengan berkata bahwa “semua telah diserahkan kepada-Ku oleh Bapa-Ku”, Yesus telah menyatakan satu hubungan eksklusif antara Bapa dengan Anak dan kepercayaan mutlak Bapa atas-Nya. Status seperti ini tidak mungkin diberikan kepada makhluk ciptaan.
  • Yang senada dengan itu juga ditulis Yohanes 16:15: “Segala sesuatu yang Bapa punya adalah Aku punya”. Status sebagai Anak tunggal di sini terlihat dengan pengakuan bahwa segala milik Bapa adalah milik Yesus Kristus.
  • Kemudian surat Paulus dalam Kolose 1:6 yang mengatakan: “di dalam Dia (Yesus) telah diciptakan segala sesuatu … diciptkan oleh Dia dan untuk Dia”; Kolose 2:9, “dalam Dia berdiam secara jasmaniah seluruh kepenuhan ke-Allahan”. Ini adalah pewahyuan yang luar biasa, ketika Paulus bisa menangkap mekanisme Allah yang menjadi daging itu.

Tentu saja masih banyak data-data alkitabiah yang dapat kita gali yang menjadi bukti legitimasi keallahan Yesus Kristus. Akan tetapi uraian di atas sudah cukup sekedar membuka pikiran kita tentang bagaimana proses diyakini dan disembahnya Yesus Kristus sebagai Allah. Kini kita beralih pada penggalian bagaimana Roh Kudus dikenal sebagai Allah.

Roh Kudus Adalah Allah

Lagi sekali, sebagaimana Yesus diterima dan disembah sebagai Allah oleh umat Kristen mula-mula, dan itu berlangsung secara alami tanpa pertentangan, maka demikian juga dengan Roh Kudus. Akan tetapi orang-orang Kristen setelah abad II nampaknya sedikit kebingungan dengan posisi Roh Kudus. Karena meskipun eksistensi Roh Allah atau Roh Kudus sudah terlihat secara jelas sejak PL, terlebih dalam PB, namun Roh Kudus tidak pernah dinyatakan sebagai Allah secara eksplisit di sepanjang Alkitab. Kenyataan ini mendorong lahirnya padangan binitarianiseme atau ‘dwitunggal’ di kalangan para teolog mula-mula.

Lahirnya pandangan binitarianisme dapat dimaklumi karena begitu banyaknya naskah Alkitab yang menuliskan pola dwitunggal ini, terutama dalam tulisan-tulisan Paulus (Roma 1:7; 1 Korintus 1:3; Galatia 1:1,3; Yakobus 1:1; 2 Petrus 1:2 dan lain-lain). Dimasukkannya Roh Kudus sebagai pribadi ketiga oleh para penganut trinitanianisme atau tritunggal adalah, pertama karena dorongan secara tradisi bahwa umat Kristen telah menyembah Roh Kudus sebagai Tuhan, hingga hal itu mulai dipertanyakan dikemudian hari. Yang kedua adalah karena banyaknya bukti-bukti tertulis dalam PB yang menunjukkan tindakan-Nya yang mandiri seperti membuat Maria mengandung Yesus (Matius 1:20), dalam berurusan dengan Simeon (Lukas 2:25-27), dalam PL sebagai pribadi yang melayang-layang saat penciptaan (Kejadian 1:2) dan lain-lain. Yang ketiga adalah naskah-naskah PB yang memposisikan Roh Kudus bersamaan dengan Bapa dan Anak dalam pola tiga serangkai (Matius 28:19; Roma 8:9-11; 1 Korintus 13:13,14).

Secara khusus Tuhan Yesus sendiri telah menyatakan bahwa Roh Kudus itu sebagai “penolong yang lain”, artinya sejajar dengan diri-Nya (Yohanes 14:16) dan dengan mengatakan ‘kami’ pada ayat 23, menunjukkan bahwa Roh Kudus sebagai bagian dari Allah. Penegasan bahwa Roh Kudus adalah Allah (Theos) telah dilakukan oleh Petrus dengan mengatakan kepada Ananias bahwa dia “bukan mendustai manusia, tetapi mendustai Allah (Theos)” (Kisah 5:3,4).

Sejauh ini kita telah melihat fakta-fakta yang menunjukkan bagaimana Yesus dan Roh Kudus disembah sebagai Tuhan atau Allah. Adanya kesan kejanggalan dalam PB atau kekristenan yang mengakui bahwa Allah itu esa namun sekaligus juga mengakui dan menyembah Yesus dan Roh Kudus sebagai Tuhan, menimbulkan reaksi-reaksi dari berbagai pihak, di antaranya: Yang pertama adalah pihak musuh kekristenan yang banyak ragamnya. Dalam hal ini termasuk para penguasa, para penyembah berhala atau keyakinan lain, juga aliran-aliran filsafat seperti misalnya Yudaisme Logos yang terlihat dalam paham Philo yang akan lebih dijelaskan lagi pada bagian selanjutnya. Yang kedua adalah dari sekte-sekte atau kaum bidah yang sesat, atau yang tidak sejalan lagi dengan paham gereja ortodoks. Aliran yang paling besar pengaruhnya dalam merusak iman Kristen paska PB adalah gnostisisme. Dan yang ketiga adalah para pemikir apologetis Kristen yang berniat membela iman Kristen, namun memiliki pandangan-pandangan yang berbeda, sehingga menimbulkan perdebatan yang lebih sengit ketimbang dalam menghadapi serangan dari luar gereja. Keadaan inilah yang mendorong upaya perumusan konsep tritunggal yang berlangsung secara alot dan progresif.

Sekarang kita akan menyimak pemikiran-pemikiran para tokoh terkait tritunggal yang akhirnya bermuara pada suatu konsili gereja untuk mencari konsesus. Adapun tokoh-tokoh dan pemikiran mereka dapat dilihat dalam uraian berikut ini.

Proses dan Progres Perumusan Tritunggal

Penyingkapan eksistensi (secara tersirat atau implisit) trinitas dalam PL tidak terjadi secara spontan. Hal itu merupakan proses pemikiran kritis dari bapa-bapa gereja abad-abad awal, sebagai reaksi terhadap PB yang memperkenalkan Yesus dan Roh Kudus sebagai Allah. Sementara kitab-kitab dalam PB tidaklah ditulis secara sengaja untuk menjelaskan isi PL. Oleh karena itu juga maka trinitas yang dinyatakan dalam PB tidak secara langsung hendak menyingkap dan menjelaskan trinitas yang tersirat dalam PL. Jadi wajarlah kalau para rasul dan penulis PB tidak secara gamblang mengungkap adanya trinitas secara tersirat dalam PL. Bapa-bapa gerejalah yang kemudian menyingkap eksistensi trinitas itu dalam PL melalui terang PB. Itu sebabnya istilah trinitas maupun tritunggal tidak ditemukan dalam Alkitab (baik PL maupun PB), karena hal itu hanya merupakan istilah dari luar Alkitab yang dipakai untuk merumuskan kebenaran berharga yang termuat dalam Alkitab, sebagai suatu kesimpulan agar lebih mudah dipahami dan diingat.

Bulatnya keyakinan orang Kristen akan keallahan Yesus dan Roh Kudus telah tertuang sangat jelas dalam kitab-kitab Injil dan surat-surat edaran para rasul yang kemudian akan terkanonisasi menjadi PB. Sementera proses kanonisasi itu berlangsung, para pemikir kritis Kristen pasti sudah mulai berupaya melirik keberadaan trinitas dalam PL. Sebagai contoh, Yohanes sendiri telah memulai Injilnya dengan memakai kata ‘Logos’ untuk menunjuk Yesus sebagai pribadi Allah (Yohanes 1:1-3). Kata itu sejajar dengan kata ‘Firman’ yang juga memakai kata Logos dalam Kejadian pasal 1 Alkitab PL terjemahan Yunani (Septuaginta), yang nantinya menjadi naskah pendukung untuk menafsirkan tentang pribadi Allah Anak yang menjadi perantara penciptaan semesata.

Pengaruh Filsafat

Masa kejayaan Makedonia yang berlanjut pada kejayaan kekaisaran Yunani di bawah kaisar Alexander Agung (abad IV SM), telah membawa serta-merta dengannya kemajuan di bidang pengetahuan termasuk ilmu filsafat. Filsafat kuno diketahui telah mulai pada abad VI SM di Miletos. Meskipun Alkitab ditulis bukan berdasarkan atau sebagai dorongan pengaruh filsafat, melainkan murni merupakan pewahyuan yang diterima oleh hamba-hamba Allah dan catatan-catatan sejarah hubungan Allah dengan umat-Nya, namun pemikir Kriten mula-mula telah banyak mengambil terminologi (peristilahan) filsafat Yunani dalam upaya mereka menjelaskan hakikat Allah yang terkait dengan konsep trinitas. Itu sebabnya penting sedikit mengetengahkan pemahaman filsafat ini dalam pengaruhnya kepada para pemikiran Kristen awal. Beberapa tokoh yang paling menonjol dalam memberi pengaruh ini di antaranya adalah Heracleitus, Paramides dan Plato.

Heracleitos (540-475 SM) memperkenalkan kepada kita pengertian kata ‘logos’ yang berkembang secara filosofis. Kata logos pada dasarnya adalah kata dalam bahasa Yunani yang memiliki arti-arti, yang secara umum adalah, ‘menaksir’, ‘menghitung’, ‘rasio’, ‘menjelaskan’, ‘argumen’, ‘peraturan’, ‘naratif’, ‘penjelasan’, ‘khotbah’, ‘frasa’, ‘kata’, ‘kalimat’. Tetapi para kaum filsuf dan kaum agamis nampaknya telah mengembangkan arti kata itu sehingga bermuara pada dua pengertian mendalam: Pertama, menujuk kepada ‘ide’, ‘konsep’, ‘tujuan’, ‘program’, dan ‘pikiran’. Yang kedua, menunjuk pada ‘tindakan Allah’, ‘aktifitas Allah’, ‘wujud Allah’, dan ‘manifestasi Allah’. Menurut filosofi Yunani, logos terdiri dari dua pengertian, yakni: Logos Prophorikos, berupa kata atau tulisan yang dapat dikomunikasikan dengan baik, dan Logos Endhiathetos, berupa kata yang hanya timbul dalam pikiran atau nalar. Jadi jelas bahwa penggunaan kata logos dalam pengertian filosofis dan agamis telah ditemukan jejaknya sebagaimana telah dijelaskan di atas.

Pandangan filosofi Heracleitos adalah bahwa tidak ada sesuatu yang tetap dan statis. Semuanya bersifat mengalir dan menjadi ada dikendalikan oleh logos yang adalah nalar atau pikiran. Logos itu bekerja dalam diri manusia yang memberi nalar atau pikiran. Segala sesuatu bersifat berubah-ubah.

Jika Heraclitos hanya mau mengakui yang bergerak dan mengalir begitu saja, sebaliknya Paramides (kr540-kr475 SM/seusia Heracleitos) yang religius mengakui bahwa dia telah mendaptkan pengetahuan dari yang ilahi. Ia berpendapat bahwa sesungguhnya tidak ada perubahan. Perubahan yang kita lihat dengan indera kita ini adalah pengetahuan sesat. Pengetahuan yang benar adalah bahwa segala kenyataan yang kita lihat ini sesungguhnya ada dan tetap dalam satu kesatuan. Tidak ada hal jamak dan ruang kosong. Yang ada itu memang ada dan bersifat kekal.

Plato (427-347 SM) hadir untuk menjebatani perbedaan antara Hiracleitos dan Paramides. Plato yakin bahwa di samping hal-hal yang berubah-ubah yang dapat kita amati dengan indera kita, juga ada hal yang tetap. Menurut dia hal-hal yang berubah dapat diamati oleh indera kita, sedangkan hal yang tetap itu hanya dapat dikenal oleh akal. Yang tetap itu disebit dengan istilah ‘idea’ atau ‘ide’. Namun kata idea di sini tidak sama dengan suatu ‘gagasan’ yang dihasilkan oleh pikiran. Justru sebaliknya, menurut Plato idea lah yang menuntun atau mengilhami pikiran. Jadi idea itu bersifat abadi dan tetap, namun menjadi pola dari yang berubah-ubah yang tidak tetap.

Dengan demikian bagi Plato ada dua macam dunia: Yang pertama adalah dunia ini, yakni duania yang bersifat berubah-ubah, bersifat jamak dan tidak kekal, sedangkan dunia yang kedua adalah dunia idea yang berada di atas dunia ini, yang bersifat kekal dan satu, tapi yang bisa turun dan berada dalam benda konkrit di dinia ini. Misalanya jiwa dengan tubuh. Jiwa adalah suatu idea yang turun ke dunia ini terpenjara dalam tubuh karena hukuman. Jiwa akan kembali merdeka dan tidak hilang setelah kematian. Sedangkan tubuh akan lenyap ditelan usia.

Pengaruh filasfat Yunani terhadap perkembangan teologia terlihat sangat jelas pada diri seorang filsuf sekaligus aploget Yahudi bernama Philo (Filo) yang lahir dan bertumbuh di Alexandria. Masa hidupnya adalah dari tahun 20 SM hingga 45M. Artinya dia sangat akrab dengan fenomena penyebaran kekristenan awal karena hidup sezaman dengan para rasul. Semangat merujuk dan menafsir keberadaan trinitas dalam PL oleh Kristen mula-mula, tentu saja bisa turut memicu reaksinya dalam mempertahankan esensi teologia agama orang Israel yang asali.

Karena Philo adalah seorang filsuf helenisme (orang Yahudi yang sudah terdidik dengan budaya Yunani), maka dia telah berusaha menjelaskan prinsip-prinsip agama Yahudi dengan pemikiran filsafat Yunani. Sebagai penganut agama Yahudi Philo meyakini bahwa Allah itu roh adanya dan esa dalam pengrtian ‘mono’ (matematis), transenden, tidak bermula dan tidak dibatasi oleh ruang dan waktu. Dan sebagai filsuf yang dipengaruhi filsafat helenis, Philo berpandangan bahwa Allah itu tidak berhubungan dengan benda apapun termasuk dunia ini. Oleh karena itu manusia tidak dapat memahami hakikatnya secara memadai, kecuali hanya tahu bahwa Allah itu ada.

Menurut dia, untuk berhubungan dengan dunia, Allah memakai perantara yang disebut logos yang di dalamnya menyatu segala macam idea atau gagasan-gagasan dan utusan-utusan Allah seperti malaikat. Philo menyamakan logos itu dengan ‘kebijaksanaan’ yang dia pelajari dari buku “Kebijaksanaan Salomo”. Menurut dia logos bukanlah mahluk ciptaan, tetapi seperti Allah kedua, Anak Allah yang sulung, juru bicara Allah dan parakletos. Menurut Philo dunia terbentuk ketika logos memasuki benda.

Menurut Philo manusia juga tidak diciptakan, melainkan sudah ada sejak kekal dalam bentuk idea yang berada dalam logos. Kemudian idea manusia yang adalah ‘jiwa’ memasuki tubuh dari luar dan terpenjara dalam tubuh yang bersifat jahat. Jiwa akan merdeka setelah kematian. Philo berkata bahwa tujuan hidup manusia adalah untuk menjadi serupa dengan Allah. Hal itu dicapai dengan cara meraih pengetahuan melalui pertolongan logos yang adalah sumber segala pengetahuan. Philo juga memberi penjelasan tentang arti-arti dari Kejadian pasal pertama. Dia mengartikan kata ‘kita’ dalam Kejadian 1:26 sebagai “kuasa-kuasa subordinasi” (yang lebih rendah dari Allah) yang dilibatkan Allah dalam proses pembentukan manusia, bukan sebagai tritunggal Allah.

Boleh dikatakan bahwa Philo adalah teolog Yudaisme sekaligus filsuf helenis besar karena karya-karya tulisya yang banyak. Banyaknya tulisannya telah mendorong para penafsir untuk meneliti sebagian pandangan-pandangannya yang masih samar. Dua di antaranya adalah: Harry A. Walfson (1887-1974) dan Erwin Ramsdell Goodenough (1893-1965). Menurt Walfson ada tiga tahap eksistensi logos dalam karya Philo: Tahap yang pertama adalah hikmat Allah yang ada bersama Allah sejak kekal. Pada tahap kedua, logos itu diciptakan menurut citra Allah, sebagai sesuatu yang ada dan independen. Logos pada tahap inilah yang menjadi perantara penciptaan semesta. Pada tahap ketiga, logos diproyeksikan ke dalam dunia sebagai tatanan yang rasional atau jiwa dunia. Selain itu menurut Walfson, Philo percaya bahwa Roh Kudus Allah itu ada sebagai yang berbeda dari logos.

Tetapi Goodenaugh beranggapan bahwa Philo berpikir tentang logos yang merupakan pancaran yang keluar dari Bapa, bukan merupakan ciptaan, melainkan diperanakkan melalui suatu tindakan berpikir Allah Yang Esa. Menurut penilaian ilmiah, perbedaan penafsiran atas karya Philo bisa terjadi karena Philo sering mengajukan beberapa pandangan atas satu bagian dalam Alkitab. Meskipun Philo tidak beragama Kristen, tapi teologia dan pandangan filsafatnya telah sangat menolong cara menjelaskan teori tentang trinitas bagi para pemikir Kristen mula-mula.

Dari uraian di atas sangat jelas terlihat bahwa filasfat agama yang dimiliki Philo dipengaruhi kuat oleh filsafat Plato, dan yang menurut dia, Plato pasti telah mempelajari Musa (dipengaruhi tulisaan Musa) dalam menentukan nilai-nilai filsafatnya. Mungkin yang paling penting sebagai pengaruh filsafat Yunani bagi teologia Kristen awal adalah ide-ide tentang kekekalan atau praeksistensi dan juga tentang logos dalam pengertian filosofis. Yang menjadi pertanyaan adalah, apakah terdapat perbedaan yang mendasar, antara arti ‘Firman’ (amar) dalam bahasa Ibrani, dengan arti kata ‘Firman’ (logos) sebagai terjemahanya dalam bahasa Yunani (Septuaginta)?

Para Pemikir Kristen Awal

Dalam keterbatasan sumber pemikiran tentang hubungan Allah Bapa dengan Allah Anak dan Allah Roh Kudus, para pemikir Kristen awal (paska rasul) akhirnya terbawa untuk memakai padangan filosofi Yunani tentang logos (dalam hal ini dapat kita sebut sebagai “filsafat logos”), khususnya pandangan Philo sebagai pijakan berpikir. Di antara mereka yang dikenal telah memakai filosofi itu adalah, Justin, Tatian, Athenagoras, Ignatius, “Gembala dari Hermas”, Yustinus, dan Theofilus, yang mulai menyelidiki secara cermat hubungan Bapa dengan Kristus sebelum inkarnasi (praeksistensi) atau dalam Alkitab PL. Demikianlah kata ‘logos’ menjadi terkemuka sebagai kata yang mengacu kepada pribadi Allah Anak dan sebagai upaya penafsiran trinitas dalam PL. Oleh para peneliti modern saat ini, teologia mula-mula yang melibatkan kata logos ini dijuluki sebagai “Kristologi Logos”. Artinya suatu upaya memahami seluk-beluk tentang Kristus dengan menggunakan teori atau filsafat logos.

Pada dasarnya para pemikir Kristen mula-mula itu mengikuti garis utama pandangan yang telah disketsakan oleh Philo. Ignatius dari Antiokhia (35-107) boleh dibilang adalah teolog Kristen pertama yang menulis. Sebagai murid langsung dari rasul Yohanes yang juga telah menggunakan istilah ‘logos’ untuk kata ‘Firman’ (Yohanes 1:1-3), maka tanpa ragu dia juga menyatakan bahwa Logos itu adalah Tuhan Yesus Kristus. Dia menuliskan bahwa kita memiliki satu Allah yang benar, yang tidak diperanakkan, tak terhampiri, Tuhan dan Bapa dari semua. Allah itu memperanakkan Logos-Nya yang kreatif sebelum waktu dimulai, Putera Tunggal-Nya, Tuhan kita yang menjadi daging melalui perawan Maria dan dapat menderita. Logos ini hadir dalam Yesus yang historis (masuk dalam sejarah dunia). Dalam satu tulisan dia mendesak umat Kristen untuk taat kepada Kristus, dan kepada Bapa, dan kepada Roh Kudus.

Dengan demikian Ignatius sebenarnya telah memberi dukungan awal perihal trinitas. Mungkin inilah yang membedakan faham logos filsafat Yunani, termasuk filsafat Yudaisme Philo dengan teologia logos Ignatius. Sementara itu Roh Kudus dia katakan sebagai pengilham dan pemberi terang sesungguhnya yang telah hadir, baik sebelum Yesus Kristus di antara para nabi, maupun setelah Yesus Kristus di antara komunitas Kristen. Persoalan yang muncul pada tahap ini adalah kesamaran perbedaan identitas Allah Anak dengan Roh Kudus dan keilahian Roh Kudus.

Juga telah ditemukan satu buku yang berjudul “Gembala Dari Hermas” yang tidak dikenal penulisnya (115-140) memberi sumbangan pandangan tentang keberadaan Anak. Untuk menentang padangan kaum bidat yang menganggap Yusus sebagai ciptaan, ia berkata bahwa ciptaan itu berasal dari ketidakadaan, sedang Anak dan Roh Kudus itu berasal dari Yang Ada (bandingkan Keluaran 3:14).

Yustinus Martir (100-kr.150) adalah filsuf ateis yang telah menjelajahi semua aliran filsafat untuk menemukan jawaban yang pasti tentang arti kehidupan. Akhirnya bertobat dalam proses pencarian kebenaran oleh perjumpaan dengan seorang tua dan tergugah oleh cara hidup orang-orang Kristen awal. Bagi Gereja ortodoks dia dipandang sebagai santo karena pengabdiannya dalam membela kekritenan dan sebagai pengajar keliling bagi kepentingan Injil. Sebagai aploget dia menggunakan kemahiran berfilsafatnya untuk membela kekristenan dengan menyamakan ajaran kekristenan dengan filsafat, atau sebagai salah satu filsafat.

Bagi Yustinus orang yang menggunakan akalnya adalah Kristen, karena Logos yang adalah idea atau buah pikiran itu telah menjadi Kristus. Dia juga menganggap bahwa Roh Allah yang melayang-layang di atas permukaan air (Kejadian 1:2) itu adalah Logos, dan Roh Kudus yang memperkandungkan Yesus (Matius 1:20) juga adalah Logos tersebut yang menginkarnasikan Diri-Nya sendiri dalam diri Maria. Kegamangan dalam pembedaan identitas Anak dan Roh Kudus memang dapat dimaklumi karena dalam PB kadang-kadang di beberapa tempat hanya membicarakan pribadi Bapa dan Anak, sehingga mendorong kecendrungan menyamakan Anak dan Roh Kudus, terlebih karena dalam kitab “Kebijaksanaan Salomo” (salah satu kitab yang tidak termasuk dalam kanonisasi Alkitab Protestan) Logos itu disamakan dengan hikmat Allah yang adalah Roh Kudus.

Sementara itu, Teofilus dari Antiokhia yang meninggal sekitar tahun 180an, agak berbeda dari antara pemikir kristen awal tersebut. Dia adalah seorang filsuf yang bertobat dari penyembah berhala dengan cara dituntun mempelajari Alkitab dan kemudian menjadi uskup Antiokhia ke-7. Tulisannya yang paling terkenal yang masih tersisia adalah semacam surat kepada seorang teman kafir dalam rangka menjelaskan atau pembelaan peralihan keyakinannya yang berjudul, Apologia ad Autolycum. Nampaknya dia berusaha untuk tidak terpengaruh dengan filsafat Yunani. Ia tidak menggunakan filsafat logos untuk menjelaskan kristologinya.

Teofilus berpandangan bahwa Allah memiliki dalam diri-Nya ‘Firman’ (Logos) dan ‘Hikmat’ (Sophia) yang adalah Roh Kudus, yang dilahirkan atau terpancar keluar sebelum penciptaan semesta. Dialah yang pertama menggunakan istilah Yunani ‘trias’ yang sama dengan trinitas dalam bentuk Latin, untuk menjelaskan peran serta Allah, Firman, dan Roh Allah dalam proses penciptaan dalam kitab Kejadian 1. Dia berkata bahwa theofani-theofani (penampakan-penampakan ilahi) dalam PL adalah penampakan-penampakan Firman itu. Mungkin salah satu pemikiran Teofilus yang sangat bermanfaat bagi teologia Kristen di kemudian hari adalah eksistensi dari Sang Putera (Yesus Kristus) pada zaman PL (sebelum inkarnasi).

Pemikir selanjutnya adalah Irenaeus (130-200) uskup bagi Kristen Yunani di Lyon, Asia. Dia adalah murid Polikarpus, dan yang menurut pengakuannya, Polikarpus adalah salah satu murid langsung dari Yohanes rasul selain Ignatius dari Antiokhia. Dia seorang yang sibuk dan menjadi terkenal karena kegigihanya menghadapi pengajaran sesat filsafat gnostisisme Yunani. Dia dengan tegas mengajarkan bahwa Allah yang disebut dalam PL adalah satu-satunya Allah pencipta semesta dan bapa dari Logos. Allah memang berbeda dengan ciptaan, namun Allah itu sendirilah pencipta dengan tangan-Nya dan senantiasa berhubungan langsung dengan ciptaan-Nya. Meskipun tidak menggunakan istilah ‘trias’ yang dipopulerkan oleh Teofilus, tetapi dia membuktikan eksistensi Bapa, Anak, dan Roh Kudus dari peristiwa-peristiwa dan sejarah manusia.

Dengan tegas Irenaeus bertentangan dengan Philo tentang Kejadian 1:26. Karena menurut dia tidak mungkin Allah membutuhkan bantuan kuasa-kuasa lain atau para malaikat untuk mencipta. Allah senantiasa memiliki dalam dirinya Firman dan Hikmat yang adalah Anak dan Roh Kudus untuk mengerjakan segala sesuatu. Anak dan Roh senantiasa bersama Bapa, dan oleh karenannya Anak dan Roh juga adalah ilahi adanya. Dia menunjukkan pola-pola triade (ketigaan) Allah dalam PL seperti pada penciptaan semesta (Kejadian 1: 1-3), juga dalam peristiwa pembabtisan Yesus dalam PB (Matius 3:16,17).

Akan tetapi Iranaeus enggan menjelaskan bentuk hubungan-hubungan antara Bapa, Anak, dan Roh. Menurut dia bentuk hubungan itu tidak sanggup diselami oleh manusia bahkan dengan ilustrasi apapun. Sesungguhnya Irenaeus telah merumuskan suatu pengakuan iman (kredo) sebagai berikut:

Jadi, inilah urutan ketetapan iman kita … Allah Bapa, tidak dijadikan, tidak bersifat material, tidak kelihatan; satu Allah, pencipta segala sesuatu: ini adalah pokok-pokok pertama dari iman kita.

Pokok kedua adalah ini: Firman Allah, Anak Allah, Kristus Yesus Tuhan kita, Dia yang dimanifestasikan kepada nabi-nabi seturut bentuk nubuat mereka dan sesuai dengan cara penyataan Bapa; melalui Dia (yaitu Firman itu) segala sesuatu telah diciptakan; Dia juga yang, pada akhir zaman, menyempurnakan dan mengumpulkan segala sesuatu, dijadikan manusia di antar umat manusia, kelihatan dan dapat disentuh, supaya menghapuskan kematian dan melahirkan kehidupan dan menghasilkan pendamaian yang sempurna antara Allah dan manusia.

Pokok ketiga adalah, Roh Kudus, melalui Dia nabi-nabi bernubuat, dan para leluhur belajar tentang segala sesuatu yang berasal dari Allah, dan orang benar dituntun ke jalan kebanaran; Dia yang pada akhir zaman dicurahkan dalam satu cara yang baru ke atas umat manusia di seluruh bumi, yang membarui manusia bagi Allah.”

Satu hal yang penting untuk dicatat dalam pengakuan ini, bahwa Bapa dan Anak disebut sebaga pencipta, sedangkan Roh Kudus tidak. Baik Anak maupun Roh Kudus dikaitkan kepada para nabi; Anak sebagai yang dimanifestasikan, dan Roh Kudus sebagai pemberi ilham untuk bernubuat. Selanjutnya Roh Kudus yang bertugas sebagai penuntun kepada kebenaran dan pembaru manusia. Dalam hal ini terlihat adanya progres kesinambungan dari Bapa, Anak, hingga Roh Kudus. Dengan demikian juga pengakuan iman Iranaeus ini membuka ruang penafsiran bagi para pemikir lainnya tentang hierarkhi trinitas yang mana Anak tidak sederajat dengan Bapa, dan Roh Kudus tidak sederajat dengan Anak. Hal ini seperti mengandung paham subordinasme dalam trinitarian yang meluas pada zaman itu.

Pola perumusan kredo seperti ini akhirnya banyak diikuti oleh bapa-bapa gereja lainnya, bahkan berlanjut hingga konsili oikumenis pertama di Nicea (325).

Sabellius (kiprahnya sekitar 215) adalah seorang pengajar Kristen di Roma. Dia mengajarkan teologia ‘modalisme’ (Allah berubah wujud dalam bentuk yang berbeda-beda). Menurutnya Bapa, Anak dan Roh kudus adalah satu pribadi yang bermanifestasi dalam tiga bentuk secara bertahap. Untuk mendukung teorinya, dia memberi gambaran matahari: Penampakan matahari secara utuh adalah Bapa, sinar dan cahayanya adalah Anak, sedangkan panasnya adalah Roh kudus. Pandangan teologianya dikenal juga sebagai sabelianisme.

Orang yang sangat ketat dalam keesaan Allah secara matematis seperti Sabellius adalah Praxeas (akhir abad-2 dan awal abad-3). Catatan tentang biografinya tidak ada. Dia datang ke Kartago dan mengajarkan teologianya yang kemudian dijuluki oleh Tertullianus sebagai monarchian yang hampir sama dengan modalisme yang diajarkan oleh Sabelius. Praxeas mengajarkan bahwa Allah itu hanya satu pribadi saja. Allah itu adalah roh adanya yang akhirnya disebut Kristus ketika menjadi daging. Itu sebanya disebut Yesus Kritus. Allah yang menjadi daging itu disebut Anak, dan Allah yang dalam bentuk roh itu disebut Bapa. Dalam hal ini tidak ada pribadi yang berbeda. Yang ada adalah perubahan wujud semata. Dia memahami keesaan dalam pengertian ‘mono’ atau matematis. Pribadi Anak dan Roh Kudus menyatu dalam hakikat (substansi) Allah Bapa. Pemahamannya dikenal sebagai patripassianisme. Ia menjadi musuh para penganut trinitanianisme terutama Tertullianus. Ia juga menjadi musuh montanisme yang dibela oleh Tertullianus.

Pemikir Kristen yang jauh lebih muda dari Iranaeus adalah Tertullianus (160-220). Lahir, hidup dan meninggal di Kartago (sekarang Tunisia). Dia adalah seorang ahli hukum Romawi yang akhirnya bertobat dan tertarik dengan teologia untuk membela keyakinan Kristen secara intelektual. Jika para pemikir sebelumnya masih terkesan menekankan keesaan (kesatuan) Allah dalam pengertian billangan satu atau secara matematis, maka Tertulianus dengan berani menghadapi konsep modalisme gagasan Sabelius dan Praxeas. Dia berusaha menjabarkan makna “unitas dalam trinitas dan trinitas dalam unitas” dalam konteks hubungan Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Dia setuju dengan prinsip bahwa Allah itu satu (esa), namun memiliki seorang Anak, yakni Firman-Nya yang terpancar (dilahirkan) dari diri-Nya.

Secara teknis Tertullianus menerima pandangan para apologet yang membedakan Firman yang imanen (yang belum keluar) dengan Firman yang dipancarkan (lahir) dari Allah yang satu. Bagi dia Firman yang imanen itu adalah dalam bentuk rasio-Nya Allah sendiri yang sudah ada sejak kekal, yang dapat disamakan dengan Logos dalam filosofi Kristen helenis (Yunani). Jadi Anak itu bersifat kekal adanya. Sedagkan Firman yang dipancarkan itu adalah Firman yang diutus keluar saat penciptaan semesta, yang melalui-Nya segala sesuatu diciptakan, dan selanjutnya Firman itu jugalah yang diutus lahir dari seorang anak dara (Maria) dan menjadi manusia. Jadi Firman itu adalah benar-benar seorang manusia, tetapi juga Allah. Bapa adalah pribadi yang tidak pernah keliahatan, tetapi Firman (Anak) adalah pribadi Allah yang kelihatan, bukan saja saat inkarnasi menjadi manusia, tetapi juga pada masa PL, yang oleh Teofilus disebut sebagai theofani-theofani. Sedangkan Roh Kudus adalah Pribadi yang keluar dari Bapa melalui Anak.

Tertullianus mengajarkan bahwa Bapa, Anak dan Roh Kudus adalah pribadai-pribadi yang berbeda dalam satu keberadaan illahi. Ia menjelaskan bahwa Allah yang esa itu bereksistensi dalam tiga pribadi yang berbeda dan bersifat kekal. Nama: Bapa, Anak, dan Roh Kudus bukanlah kata sandi rahasia yang menujuk pada tampilan-tampilan yang berbeda-beda, melainkan benar-benar berwujud peribadi yang berbeda. Perbedaan lembaga trinitas itu dia katakan dalam hal derajat, bentuk, dan rupa, namun menyatu dalam substansi (hakikat), kondisi, dan kuasa. Anak dan Roh Kudus berbeda dari Bapa sebagai persona tersendiri tetapi tidak berbeda dalam substansi ilahi.

Sebagai ahli hukum romawi, Tertulianus tidak mengambil terminologi-terminologi filosofi Yunani sebagaimana dilakukan oleh para pemikir Kristen pendahulunya untuk menjelaskan kejamakan Allah yang tertuang dalam Alkitab itu. Dia mengambil istilah-istilah hukum dalam bahasa Latin yang digunakan oleh masyarakat Roma. Menurut dia tidak ada hubungan filsafat Yunani dengan kekristenan. Dalam hal ini dia sama dengan Teofilus dari Antiokhia yang menolak penggunaan filsafat Yunani sebagai dasar berpikir. Perbedaannya dengan Teofilus adalah, dalam penggunaan bahasa dan istilah; Tertullianus samasekali tidak menggunakan istilah Yunani, sedangkan Teofilus menggunakannya.

Kata ‘personae’ yang umumnya diartikan sebagai ‘pribadi’, dalam bahasa Latin juga berarti “satu pihak dalam satu perkara” dalam sidang di pengadilan. Sedangkan ‘substantia’ yang sejajar dengan kata ‘hakikat’ tidak diartikan sebagai bahan, melainkan sebagai “hak milik”. Dengan demikian ia menjelaskan bahwa Allah trinitas itu terdiri dari tiga persona yang dapat berbagi satu substansi, atau “Tiga Pribadi, Satu Hakikat”. Dalam bahasa Latin dirumuskan: “Tres Personae Una Substantia. Demikianlah Tertullianus menjelaskan arti kata ‘satu’ atau ‘unum’ dalam bahasa Latin, dalam Yohanes 10:30, bukan dalam arti jumlah matematis, namun dalam arti kesatuan esensi.

Yang merupakan kesamaan Tertullianus dengan Iranaeus adalah tentang hirarkhi trinitas yang tidak diterima ajaran ortodoks gereja, dan yang ditegaskan pada konsili Nicea I di kemudian hari, bahwa trinitas itu setara. Sedangkan yang membedakannya adalah dalam hal penjelasan bentuk hubungan Bapa, Anak, dan Roh Kudus itu, bahwa Iranaeus merasa manusia tidak pantas dan tidak akan sanggup mengungkap bentuk hubungan itu, sedangkan Tertulianus mencoba menjelaskannya dalam tiga ilustrasi:

Yang pertama adalah akar yang menghasilkan tangkai (batang) dan buah. Yang kedua adalah Sumber mata air yang mengalir di sungai dan di kanal. Dan yang ketiga adalah Mathari yang menghasilkan panas dan cahaya. Sebagaimana tangkai (batang) dan buah adalah merupakan fakta yang berbeda dari akar namun tak terpisahkan, dan sebagaimana sungai dan kanal adalah fakta yang berbeda dengan sumber mata air namun tak terpisah, dan sebagaimana panas dan sinar adalah fakta yang berbeda dari matahari namun tak terpisahkan, demikian juga dengan Anak dan Roh Kudus adalah merupakan fakta yang berbeda namun tak terpisahkan secara hakikat dari Bapa.

Tertulianus menjadi pelopor penulisan buku-buku teologia dengan bahasa Latin yang akhirnya banyak diikuti teolog Kristen lainnya pada masa kekaisaran Romawi. Sebagai penentang para bidat yang mempertahankan ketunggalan Allah secara matematis seperti Sabellius dan Praxeas, ia memberi julukan kelompok itu sebagai monarkian atau penganut monarkianisme, yang berarti mempertahankan kesatuan. Tertullianus membagi ajaran monarkianisme dalam dua bentuk, yakni: “Monarkianisme Dinamis” yang meyakini bahwa Yesus Kristus adalah wujud kuasa ilahi, dan “Monarkianisme Modalis” yang meyakini bahwa Yesus Kristus dan Roh Kudus hanyalah sebagai perwujudan lain dari yang sesungguhnya adalah Bapa itu sendiri.

Pemahaman modalis berhasil diredam di wlayah Barat, khususnya Kartago. Tertullianus berhasil menekan ajaran Praxeas sehingga pergi meninggalkan Kartago.

Origenes (184-253) adalah seorang Kristen yang saleh dan bertekad mengabdikan diri bagi kepentingan gereja. Memilih hidup sederhana dan berdoa untuk menjaga kekudusan. Sebagian besar waktunya dipersembahkan untuk menulis buku-buku. Dia adalah orang yang banyak dikagumi karena karaya-karya tulisnya. Tetapi dia mengikuti gaya Philo dalam menafsir Alkitab. Sebagai penafsir alegoris yang hebat, dia banyak dipengaruhi filsafat Yunani, khususnya filosofi Plato. Baginya Alkitab selalu diartikan dalam tiga tingkat atau cara; dimulai dari arti harafiah, arti moral, dan kemudian arti alegoris atau arti rohani. Sayangnya karya tulisnya telah banyak yang musnah, sehingga para peneliti lebih banyak menggali dan menafsir pandangan-pandangan teologiannya dari tulisan dan terjemahan muridnya Rufinus.

Hal yang paling khas dari ajarannya mengenai trinitas adalah apa yang disebut sebagai “generatio kekal Anak”. Bertolak dari pemikiran bahwa Allah senantiasa berstatus sebagai Bapa. Artinya tidak pernah Allah berstatus belum sebagai Bapa. Maka oleh karena itu status Anak juga dipandang sebagai kekal atau tidak berawal. Hal ini sejajar dengan pandangannya bahwa Anak itu sesungguhnya adalah hikmat Allah yang tidak pernah lepas dari Allah. Sebagai hikmat, Anak itu secara terus menerus dilahirkan atau tercipta dalam diri Bapa. Meskipun ia sama dengan Tertullianus dalam menolak paham modalisme tentang trinitas yang adalah Allah yang satu berubah-ubah wujud, namun ia menentang teori Tertullianus tenantang pembedaan Bapa, Anak, dan Roh Kudus sebagai pribadi-pribadi yang terpisah dalam eksistensi.

Bagi Origenes, Bapa tidak pernah eksis tanpa Anak dan Roh, demikian juga sebaliknya, Anak dan Roh tidak pernah eksis tanpa Bapa. Jadi pemilahan anatara Bapa, Anak dan Roh kudus senantiasa ada dalam diri Bapa sejak kekekalan dan sampai selamanya. Lebih jauh para peneliti menafsir bahwa secara tersirat Origenes menganggap Anak itu pada hakikatnya bukanlah Allah dengan sendirinya (autotheo). Hanya Bapa yang autotheo sebagai Allah dan penyebab keberadaan segala sesuatu. Adapun keilahian Anak itu adalah berdasarkan derivasi atau turunan dari Bapa. Oleh karena itu ia seperti mempertegas apa yang tersirat dalam pengakuan iman Iranaeus tentang hierakhi trinitas dengan berkata, bahwa Anak menjadi satu bagian dari Allah yang setingkat di bawah Bapa. Tugasnya adalah sebagai pelaksana perintah Bapa. Sedangkan Roh Kudus juga adalah zat yang terlahir dari Bapa, namun setingkat lebih rendah dari Anak. Tugasnya adalah menguduskan pekerjaan Bapa melalui Anak. Dengan demikian ia juga tidak setuju dengan pandangan yang meragukan keilahian Anak dan Roh Kudus, dengan berkata: “Yang lahir dari Allah adalah Allah”.

Sebagai orang yang banyak dipengaruhi filsafat Yunani, Origenes memandang bahwa karena Bapa itu Roh adanya, maka Ia tidak berhubungan dengan dunia materi. Oleh karena itu Ia mengutus Anak yang adalah Logos yang telah berdiri sendiri sebagai suatu zat sejak kekekalan dalam diri Bapa untuk berhubungan dengan dunia materi. Menurut dia semua materi temasuk bumi ini bersifat jahat. Dan jiwa manusia itu sebenarnya juga telah memiliki praeksisensi yang kekal, namun terpenjara dalam tubuh (materi) karena dosa. Perilaku manusia selama di dunia adalah menunjukkan karakternya sebelumnya di kekekalan. Itu sebapnya tidak ada yang namanya kebangkitan, melainkan jiwa kembali kepada kekekalan seperti para malaikat. Karena penyimpangan-penyimpangan ajarannya dari pemahaman ortodoks, maka sebagaian gereja mengekskomunikasikannya. Banyak para peneliti juga menganggap bahwa pemahaman kristologinya tidak konsisten selama hidupnya.

Seorang tokoh yang kembali menyemarakkan monarkhianisme adalah Paulus dari Samosota (200-275). Dia adalah Uskup Antiokhia pada tahun 260-268 yang mengajarkan bahwa Allah itu hanya satu pribadi saja yang di dalam diri-Nya ada ‘Firman’ (logos) yang dapat disebut sebagai Anak, dan ‘Hikmat’ yang dapat disebut sebagai ‘Roh’. Menurut dia Logos dan Roh itu bukan dalam bentuk pribadi-pribadi, namun suatu kekuatan Allah yang dapat bekerja di dalam diri manusia. Kekuatan inilah yang bekerja dalam diri orang-orang yang dipakai Tuhan seperti Musa dan Yesus.

Akan tetapi yang membedakan Yesus dengan manusia lainnya adalah bahwa logos dan Roh Kudus itu bekerja secara sempurna dalam diri Yesus sejak dibabtis, sehingga Allah mengangkat Dia sebagai Tuhan. Jadi Yesus dipandang bukan sebagai Allah yang menjadi manusia, melainkan manusia yang menjadi Allah. Paham yang diajarkan oleh Paulus ini dikenal sebagai adopsianisme. Ia menggunakan istilah homoosious untuk menyatakan bahwa keilahian Anak (Kristus) adalah dari hakikat yang sama dari Bapa. Pandangangan ini mungkin terinspirasi dari ucapan Petrus dalam Kisah 2:36; “Allah telah membuat Yesus, … menjadi Tuhan dan Kristus”. Oleh karena ajarannya itu akhirnya pada sinode Antiokhia tahun 269 dia dikutuk.

Ketegangan antara pandangan-pandangan ini mengalami puncaknya oleh hadirnya pandangan seorang presbiter di Alexandria bernama Arius (250-336). Meskipun terlihat ada kesamaan di sana-sini tentang pandangannya dengan pandangan-pandangan teolog sebelumnya, namun secara mendasar terlihat bahwa Arius memiliki pandangan yang mandiri tentang pandangan kristologi. Kemandirian ini terlihat dari alasan utamanya. Minat Arius sebenarnya tidak secara khusus untuk mengemukakan konsep atau temuan barunya tentang hakikat Allah, melainkan karena gairahnya untuk mengajarkan tentang keselamatan yang Allah kerjakan melalui Yesus Kristus, yang tentu saja dengan sendirinya terkait dengan hakikat Allah.

Menurut Arius Allah itu sendirian dan unik. Dia adalah satu-satunya Allah yang bisa disebut sebagai Allah. Allah itu adalah Roh adanya dan tak bermula (kekal). Oleh karena itu Ia tidak dapat berhubungan langsung dengan dunia materi. Itu sebabnya Ia menciptakan Anak (Logos) dalam kekekalan (praeksistensi) untuk menjadi perantara penciptaan alam semesta. Pada saat itulah Allah disebut sebagai Bapa. Jadi ada waktu ketika Allah belum jadi Bapa, dan ada waktu ketika Anak belum ada sebelumnya, namun semua itu terjadi pada masa kekekalan, sebagai permulaan dari ciptaan Allah dan merupakan ciptaan yang paling sempurna (Kolose 1:15).

Karena Arius menganggap bahwa Anak itu adalah ciptaan yang sama dengan ciptaan lainya sebagai yang berasal dari ketidakadaan (ex nihilo), maka pada hakikatnya ia bukanlah Allah, dan tidak sepatutnya disembah. Namun Anak itu memiliki natur yang dapat berubah-ubah. Itu sebabnya ia dapat berinkarnasi menjadi manusia saat melakukan tindakan penyelamatan. Sebagaimana ia telah menjadi perantara untuk penciptaan, maka ia juga menjadi perantara untuk penyelamatan.

Menurut Arius, Yesus Kristus tidak bisa menjadi teladan dan menjadi juruselamat bagi ciptaan kalau dia bukan ciptaan. Bagi dia, arti satu dalam Yohanes 10:30 adalah satu dalam kehendak, bukan satu dalam hakikat atau wujud. Perbedaannya dengan paham Origenes adalah, kalau Origenes memandang penciptaan Anak ada di dalam diri Bapa sejak kekekalan, sedangakan menurut Arius Anak itu diciptakan di luar Bapa saat kekekalan dari ketidakadaan sebelumnya. Bagi Origenes terjadinya Anak ada dalam diri Bapa, sedangkan bagi Arius Anak adalah produkuksi di luar Bapa.

Maraknya peminat teologia Arius ini memicu amarah Alexander Uskup ke-19 yang bertahta di patriakh St. Petrus, Alexandria, bagian timur kekaisaran Romawi. Perdebatan yang alot telah membawa perpecahan gereja antara pengikut Alexander dengan pengikut Arius di Alexandria. Situasi ini telah mendorong Alexander mengadakan sidang sinode yang berujung pada pengutukan Arius. Tetapi luasnya pengaruh Arius membuat ajarannya semakin eksis dan sulit ditenangkan. Situasi ini akhirnya mengusik perhatian kaisar Konstantinus di Roma.

Konstantinus Agung (272-337) adalah kaisar Romawi pertama yang bertobat dan menjadikan kekristenan menjadi agama yang sah bahkan agama Negara. Meskipun dia mengakui pertobatanya oleh suatu pengalaman supra alami yang menyarankan dia mengenakan tanda salib dalam memenangkan sebuah perang, tetapi banyak pengamat telah menganggap bahwa pertobatan dan pelegalan agama Krsten adalah sebagai salah satu strategi briliannya untuk menjadi alat pemersatu kekaisaran karena telah meluasnya dan kokohnya keyakinan pemeluk kekristenan waktu itu di seluruh dunia.

Maka pada saat pertentangan Paus Alexander dengan Arius semakin memanas, mungkin ide mempersatukan Negara dengan kekuatan agama mulai dilihat terancam. Oleh karena itu Alexander mengundang seluruh uskup di seluruh kekaisaran mengadakan sidang untuk mencari konsensus di Nicea. Alasan dari diselenggarakannya konsili ini dia ucapkan saat memasuki pembukaan sidang dengan mahkota dan jubah kebesarannya. Dia berkata: “Perpecahan gereja lebih buruk dari akibat perang, karena hal itu menyangkut jiwa-jiwa”.

Mencari Konsensus

Seperti telah disinggung sebelumnya, orang-orang Kristen mula-mula telah menerima dan menyembah Bapa, Anak dan Roh Kudus sebagai Tuhan secara alami tanpa dipersoalkan. Hal ini berlangsung hampir selama abad I dan terlihat dengan jelas dari pernyataan-pernyataan yang banyak ditemukan dalam PB. Jadi bisa dikatakan bahwa doktrin trinitas telah diyakini dan dihidupi secara praktis, namun belum dirumuskan secara teoritis. Dan kalau kita ingin menyimpulkan suatu konsep ajaran ortodok gereja tentang topik ini, maka hal itu hanya merupakan keyakinan dan praktek. Belum berwujud dalam satu rumusan baku yang disepakati.

Tetapi sepeninggalan para rasul dan seiring perkembangan dunia pengetahuan serta semakin bertambahnya orang terpelajar yang menjadi Kristen, telah mendorong bangkitnya para pemikir apologetis Kristen yang berupaya menjelaskan hal-hal yang sulit dipahami dalam Alkitab, termasuk kodrat Yesus Kristus dan Roh Kudus yang disembah sebagai Tuhan, dan dalam kerangka tetap mempertahankan monoteisme (keesaan Allah) yang diwarisi dari keyakinan Yahudi (PL). Pergumulan dalam upaya memberi penjelasan yang lebih rasional sebagaimana terlihat dalam progres pandangan-pandangan para pemikir Kristen di atas ternyata telah menimbulkan perdebatan sengit antar golongan yang mengkristal dalam isme-isme.

Secara garis besar kita dapat menggolongkan dalam tiga pengaruh besar, yakni: Yang pertama adalah paham monarkhianisme (onenes) yang mempertahankan kesatuan Allah, terutama ‘modalisme’ Sabellius dan Praxeas yang kemudian disebut sabelianisme, yang menegaskan kesatuan Allah namun dalam tiga penampakan, yang ditentang oleh Tertullianus dengan rumusan trinitasnya. Yang kedua adalah pluralisme yang membuktikan kejamakan Allah namun dalam kesatuan hakikat seperti yang diajarkan Tertullianus, yang oleh karenanya muncul juga gagasan subordianisme yang membedakan secara hirarkhis tiga pribadi dalam trinitas, yang terlihat pada pandangan Iranaeus dan juga secara unik oleh Origenes, dan yang ketiga adalah arianisme yang sebenarnya tergolong monarkhian, namun absolut, karena mengajarkan bahwa Yesus dan Roh Kudus adalah ciptaan dan oleh karena itu tidak dapat disamakan dengan Allah Bapa, yang dilontarkan oleh Arius.

Penting untuk diingat bahwa menurut para ahli, kaum yang dijuluki sebagai arian atau penganut arianisme ternyata tidak selalu identik dengan Arius atau merupakan simpatisan Arius. Justru Arius bukanlah tokoh sentral atau yang dominan pada pergumulan doktrin ini, karena lebih banyak dari orang-orang yang dijuluki sebagai kaum arian telah menolak disebut sebagai pengikut Arisus, terlebih para Uskup yang kedudukannya jauh di atas Arius yang hanya seorang presbiter. Jadi setiap kali ketika kita bertemu dengan istilah arian atau arianisme, kita harus lebih berpikir tentang suatu golongan penganut suatu pemahaman, dari pada pribadi Arius. Itu seababnya dalam perdebatan di Nicea nanti, para arian tidak merasa penting untuk membela nasib Arius, sehingga hanya dua orang yang tidak menandatangani kesepakatan konsili itu.

Keadaan yang mengancam perpecahan gereja yang am ini (gereja yang masih menyatu secara organisasi, namun belum memiliki rumusan doktrin secara resmi), telah mendorong kaisar Konstantinus Agung untuk menggelar suatu konsili di Nicea pada tahun 325. Konsili berlangsung satu bulan penuh (Dari 20 Mei – 19 Juni 325M), yang dipimpin oleh Uskup Housius dari Korduba. Sesungguhnya Konstantiunus mengundang seluruh keuskupan yang saat itu berjumlah 1800 (terdiri dari 1000 keuskupan Timur dan 800 keuskupan Barat). Tetapi yang menghadiri konsili saat itu hanya 300 Uskup. Namun karena setiap Uskup membawa juga serta orang-orang pentingnya, maka jumlah peserta konsili mencapai hingga 1800 orang.

Perdebatan mengenai pokok “kodrat Kristus dan hubungannya dengan Bapa” adalah yang paling menguras tenaga dan emosi pada konsili ini. Dalam kasus ini peserta konsili terbagi menjadi dua bagian: Yang pertama adalah para arian yang memiliki konsep bahwa Anak itu diciptakan dari ketiadaan (ex nihilo) dan oleh karenanya memiliki permulaan atau tidak bersifat kekal seperti Bapa. Sedangkan golongan kedua adalah golongan penentang arian yang memiliki konsep bahwa Anak (Kristus) itu diperanakkan oleh Bapa dari wujud-Nya sendiri, dan oleh karenanya tidak memiliki awal atau keberadaan-Nya bersifat kekal.

Demikianlah penggunaan istilah dan pemaknaan kata ‘dilahirkan’ atau ‘diperanakkan’ dan ‘diciptakan’ atau ‘dijadikan’ menjadi masalah. Sebagian penentang arian tentu saja ada yang meskipun subordian namun juga mengakui keilahian Anak, sama bersikukuh mempertahankan keilahian Kristus, dengan menegaskan bahwa Anak itu diperanakkan oleh Bapa, bukan diciptakan. Oleh karena itu juga berkodrat ilahi dan kekal adanya. Sedangkan kelompok arian menganggap arti kata-kata itu sama saja. Baik dilahirkan maupun diciptakan sama-sama berarti memiliki permulaan, yang artinya Anak itu tidak bersifat kekal seperti Bapa dan oleh karena itu kodrat keilahianyapun tidak sama, dan tidak sepatutnnya disembah sebagai Allah.

Konsili berlangsung sangat alot. Untuk menjelaskan asal mula Anak, maka kata Yunani ‘agenetos’ yang memiliki arti “tidak pernah memiliki sebuah permulaan” telah dipakai untuk memberi arti ‘diperanakkan’ (tidak diciptakan), sebagai lawan kata dari ‘genetos’ yang berarti “menjadi eksis”, dengan demikian berarti diciptakan atau memiliki permulaan.

Tetapi kita tidak boleh lupa bahwa konsili ini digelar dengan nuansa politis untuk menjaga stabilitas kekaisaran, yang pasti mempengaruhi sikap peserta dalam mengambil keputusan. Pada akhirnya mayoritas peserta menyepakati dan menandatangani penolakan pandangan Arius. Hanya dua orang yang menolak keputusan tersebut, dan yang akhirnya berujung pada pengutukan serta pembuangan orang yang menolak keputusan tersebut, termasuk Arius.

Namun supaya ada pegangan untuk mengantisipasi dampak dari ketegangan yang ditimbulkan pandangan-pandangan trinitas ini, yang harus dibawa pulang oleh para uskup, maka peserta harus membuat satu rumusan dalam bentuk kredo menyangkut trinitas ini. Perdebatan kembali menjadi alot karena harus mencari istilah yang tepat untuk menunjukkan seperti apa Allah itu sebagai tiga pribadi dan seperti apa Allah itu sebagai yang esa, sehingga bisa mendapatkan persetujuan yang luas atau menyenangkan semua pihak.

Kita mungkin bertanya, bukankah Tertullianus jauh sebelumnya telah merumuskan suatu pola trinitas dalam bahasa Latin, yakni Tres Personae Una Substantia yang artinya “Tiga Pribadi Satu Hakikat”? Apakah rumusan tersebut tidak cukup membantu memberi jalan keluar pada kemelut pada konsili Nicea itu? Benar bahwa rumusan Tertullianus telah menjadi pola yang akhirnya diikuti oleh gereja garis utama hingga saat ini. Namun ketika masalah trinitas ini memanas dan akhirnya dibahas di Nicea, hal itu dipicu oleh kemelut di gereja bagian timur yang masih kental dengan bahasa Yunani dan dengan aroma filsafatnya. Sedangkan konsep Tertulianus dikemas dalam bahasa Latin yang umumnya mendapat penerimaan di gereja bagian Barat.

Jadi karena secara internasional bahasa Yunani masih lebih diminati dari bahasa Latin waktu itu, dan menurut beberapa sumber, para uskup gereja Barat yang menganut konsep Tertullianus tidak banyak yang hadir pada konsili I di Nicea, maka bahasa Yunani digunakan untuk perumusan tersebut. Juga karena Tertullianus termasuk yang memiliki pemahaman subordian yang berbeda dengan pemahaman ortodoksi gereja tentang kesetaraan Anak dengan Bapa. Selain itu akhir dari hidup Tertullianus yang dianggap akhirnya sesat karena mengikuti aliran montanisme, mungkin juga ikut mempengaruhi sikap kurang simpati terhadap ajarannya. Jadi peserta sidang harus mencari kata yang tepat untuk menunjukkan seperti apa Allah itu dalam tiga priadi dan seperti apa Dia sebagai yang Esa.

Di sinilah letak permasalahannya, karena tidak semua kata memiliki padanan arti yang benar-benar tepat dengan bahasa lain, dan karena satu kata bisa saja memiliki pengertian ganda serta bersifat mengembang dalam proses suatu sejarah dan evolusi budaya. Artinya, memang sulit untuk mendapatkan kata atau istilah yang benar-benar tepat untuk menunjukkan arti perbedaan tiga pribadi dalam trinitas Allah sehingga tidak memberi kesan bahwa ada tiga Allah.

Lalu sidang mencoba menerapkan secara bergantian dua kata Yunani yang memiliki arti sinonim, yakni ‘hypostasis’ dan ‘ousia’ untuk mendefinisikan seperti apa hubungan Anak itu dengan Bapa. Padahal menurut para ahli, pengertian kata-kata itu yang dipakai secara umum hingga pada abad IV; untuk kata hypostatsis adalah ‘realisasi’ atau ‘penampilan’. Sedangkan kata ousia memiliki pengertian umum yakni, ‘eksistensi’, ‘kategori’, ‘status’, ‘substansi’, ‘bahan’ atau ‘materi’. Paulus pernah memakai kata ini untuk merujuk Yesus Kritus sebagai yang memiliki natur/wujud Allah (Ibrani 1:3).

Singkat cerita, sidang akhirnya memutuskan bahwa arti kedua kata itu sama dan bisa digunakan. Kedua kata itu dapat diartikan bahwa Anak sehakikat dan setara dengan Bapa. Namun secara tertulis yang dipakai adalah kata ousia, karena kata hypostasis diaggap mengandung makna keserupan yang ‘identik’, yang justru akan menguntungkan kaum monarkhian yang menganut paham kesatuan, dan juga menguntungkan subordian yang menganut paham hirarkhis ketiga pribadi trinitas, karena kata itu mengandung makna penampilan pribadi yang khas. Sedangkan niat dari sebagian besar peserta atau yang berpegang pada paham ortodoks gereja adalah menunjukkan ciri tritanianisme atau kejamakan yang setara.

Dilaporkan bahwa dalam sidang timbul perbedaan pendapat tentang arti kata hypostasis, antara yang melihat maknanya sebagai ‘pribadi’ dengan yang ingin memaknainya sebagai ‘esensi’. Sementara kata ousia lebih pasti memiliki makna esensi, yang memang merupakan prioritas tujuan dari persidangan saat itu. Karena kata ousia memiliki makna ‘seperti’ yang lebih bisa dikompromikan oleh golongan arian untuk mempartahankan teologia mereka, bahwa Anak itu tidak identik atau sama dengan Bapa (hanya ‘seperti’ Bapa saja).

Karena tujuan dari konsili ini bersifat politis yang harus memberi solusi yang dapat diterima banyak pihak, maka ahirnya sidang memutuskan memakai kata ousia dan menyimpulkan bahwa Anak adalah dari ousia Bapa. Kata ‘homo’ ditambahkan untuk menyatakan kesetaraan Anak dengan Bapa, menjadi ‘homoosious’; ‘homo’ artinya ‘sama’ dan ‘osious’ artinya ‘hakikat’. Padahal pada abad III istilah homoosious hampir tidak pernah mengindikasikan arti kesetaraan atau keidentikan, dan sangat akrab atau menjadi istilah utama bagi gnostisisme yang justru merupakan musuh gereja. Dan yang lebih aneh lagi, katanya Paulus dari Samosota telah dikutuk pada konsili di Anthiokia pada tahun 268 karena tersangkut dengan filsafat yang menggunakan istilah ini. Dari uraian ini dapat kita pahami sebenarnya gereja pada waktu itu belum siap memakai istilah hypostasis dalam arti yang sesungguhnya.

Jadi kenyataannya, situasilah yang memaksa sehingga para Uskup memakai dan memberi arti yang lebih khusus pada istilah-istilah itu di Nicea. Dalam hal ini, kata ousia jadi memiliki arti yang mengacu pada ‘keberadaan’ Anak yang setara dengan Bapa. Lagi sekali, pengertian kata bisa berkembang oleh situasi dan perkembangan zaman. Itu sebabnya para pengamat menilai bahwa pemakaian kata itu adalah suatu anakronisme (penggunaan pada zaman yang tidak cocok) atau ketidaktepatan istilah yang justru menimbulkan masalah yang lebih besar di kemudian hari.

Bahkan ada yang berpendapat bahwa istilah itu digunakan di Nicea, adalah hanya karena Arius tidak menyukainya, atau demi menyatukan kesepakatan para penentang Arius. Menurut Eusebius, Konstantinuslah yang mengusulkan istilah homoosious pada konsili itu. Tetapi kebanyakan akademisi meragukan hal itu karena Konstantinus tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang hal itu. Akhirnya mereka menganggap bahwa kemungkinan Housius lah yang mengajukan istilah itu untuk diusulkan kaisar agar memudahkan penerimaan. Jika direnungkan kembali, maka konsili ini menjadi sangat lucu karena sesungguhnya hanya memperdebatkan arti kata yang artinya bisa diutak-atik, dipaksakan dan disesuaikan.

Di atas terminologi-terminologi yang disepakati itu para peserta konsili membangun suatu pengakuan iman atau kredo dengan redaksi sebagai berikut:

Kami percaya akan satu Allah, Bapa yang mahakuasa, Pencipta segala-galanya, baik yang kelihatan dan yang tidak kelihatan.

Dan akan satu Tuhan, Yesus Kristus, Anak Allah satu-satunya yang dilahirkan, dilahirkan dari Bapa, dari substansi Bapa, Allah dari Allah, Terang dari Terang, Allah benar dari Allah benar, dilahirkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa, yang oleh-Nya segala sesuatu dijadikan, baik yang ada di surga dan yang di bumi. Yang demi kita manusia dan demi keselamatan kita, turun dan menjadi daging, menderita sengsara dan bangkit pada hari yang ketiga, naik ke surga dan akan datang untuk menghakimi orang yang hidup dan mati.

Dan Kepada Roh Kudus.

Keadaan Setelah Nicea I

Meskipun konsili mencapai konsensus dengan hasil rumusan kredo yang menjadi pola perbaikan kredo-kredo berikutnya, namun konsili tidak menetapkan penjelasan bentuk hubungan-hubungan dari pribadi-pribadi trinitas tersebut. Juga tidak membahas sama sekali tentang status Roh Kudus. Keadaan ini tentu saja memberi peluang dan potensi perdebatan dan perbedaan pandangan mengenai doktrin ini hingga tiga konsili selanjutnya, bahkan masih terasa hingga saat ini. Baik kaum monarkhian yang berwajah sabelianisme atau modalisme, dan kelompok trinitarian dengan aneka konsepnya, maupun para arian, sama-sama dapat mendasarkan dan menyebarkan paham mereka dengan dasar kredo Nicea I.

Menurut suatu sumber, menjadi satu kebiasaan bahwa orang yang meskipun memegang pandangan-pandangan yang berbeda, namun menggunakan kata yang digunakan oleh lawan untuk menentang orang-orang yang berbeda pemahaman dengan mereka. Hal ini terbawa dari cara para teolog menggunakan kata-kata dalam kredo untuk pengertian yang berbeda-beda. Itulah akibat ketidaktepatan terminologi atau peristilahan yang dipaksakan.

Pada kenyataannya, kredo Nicia tidak membuat gereja menjadi tenang sebagaimana diharapkan oleh Konstantinus, tetapi justru telah menanam padang ranjau kata-kata, yang satu per satu meledak pada dekade-dekade berikutnya. Para arian sendiri berkembang menjadi bervariasi dalam penjelasan ajarannya. Semi-arianisme muncul dan menambahkan satu huruf pada istilah homoosious menjadi ‘homoiosious’. Mereka menolak teori homoosious Nicea, tetapi juga menolak paham Arius. Karena menurut mereka Anak itu memang berkodrat ilahi, tetapi hanya dari kodrat yang ‘seperti/serupa’ yakni ‘homoi’ dengan Bapa (tidak ‘sama’ dengan Bapa).

Semangat berpikir kritis yang semakin tak dapat dibendung, mempertanyakan kembali bentuk hakikat Kristus dan bentuk-bentuk hubungan-Nya dengan Bapa yang belum dijelaskan pada konsili Nicea. Kesadaran bahwa pada kenyataannya Anak itu, selain ilahi, tetapi juga berwujud manusia, semakin meningkat. Para arian mengkritisi ulang arti ousia yang dipaksakan sama dengan arti hypostasis pada konsili Nicea. Di sini dipertanyakan hypostasis dengan makna ‘pribadi’ secara lebih mendalam. Apakah Anak itu sebenarnya terdiri dari dua pribadi (ilahi dan manusia), atau bagaimana? Lalu bagaimana dengan status Roh Kudus yang tidak mendapat perhatian dan penjelasan banyak pada konsili Nicea I.

Demikianlah akhirnya diperlukan waktu yang begitu lama untuk membereskan kekacuan-kekacauan yang ditimbulkan rumusan kredo tersebut, sehingga untuk konsili-konsili selanjutnya, dibutuhkan pembenahan dan penegasan ulang. Beberapa ajaran atau pandangan yang muncul dan turut memperkeruh suasana, yang paling besar pengaruhnya misalnya:

Apollinaris dari Laodekia (310-390) adalah Uskup Laodikia yang turut membela kredo Nicea dalam mengantisipasi bahaya ajaran dualisme Kristus yang memisahkan ketuhanan dan kemanusiaan-Nya, dan juga ajaran yang menganggap ada dua pribadi dalam diri Yesus. Dia menegaskan bahwa Yesus Kristus adalah Allah sejati (Logos) dan manusia sejati. Dia menjelaskan bahwa Logos yang adalah ilahi itu berinkarnasi ke dalam tubuh Yesus. Lalu Logos tersebut telah menggantikan atau menyangkali jiwa insani-Nya. Hal ini dikatakan dengan menafsirkan Injil Yohanes, yakni Allah yang menjadi (mengenakan) daging (Yohanes 1:14). Menurut dia tubuh Yesus telah tergantung sepenuhnya pada Logos sebagai prinsip utama yang menuntunnya, sehingga Yesus tidak lagi memiliki daya intelektual manusia dan jiwa rasionalnya, atau menjadi pasif. Jadi, ketika Yesus mati, maka yang mati adalah tubuhnya, karena Logos yang bersifat ilahi itu tidak mungkin mati.

Macedonius dari Konstantinopel (?-360) adalah uskup di Konstantinopel penganut arianisme. Ia lebih tertarik membahas status Roh Kudus. Dia berpendapat bahwa Roh Kudus adalah ciptaan yang lebih rendah dari Anak, atau subordinasi terhadap Anak. Menurut dia Roh Kudus diciptakan sebagai zat tengah yang berkedudukan antara Allah dengan ciptaan. Aliran ini disebut sebagai aliran pneumatomachi.

Marcellus dari Ancyra (285-374) menjadi uskup Ancyra tahun 374. Dengan menafsirkan 1 Korintus 15:28 ia mengatakan Allah adalah satu hypostasis dalam satu ousia (satu pribadi dalam satu hakikat). Anak hanyalah Logos atau pikiran Allah yang menyatu dengan Allah secara kekal, lalu keluar dari Bapa, bukan diperanakkan, saat inkarnasi. Kemanusiaan Kristus tidak terkait secara permanen dengan Logos. Logos disebut anak setelah inkarnasi dan kemudian akan terlepas dari daging setelah selesai inkarnasi. Jadi Bapa, Anak dan Roh Kudus hanya merupakan nama-nama saja. Marcellus dianggap sebagai sabelian paska Nicea. Oleh karenanya dia mengklaim bahwa Nicea sebenarnya sabelian karena telah menyamakan hypostatsis dengan ousia.

Berlawanan denggan Marcellus adalah Eunomius dari Cyzicus (335-393) mengatakan bahwa Anak berbeda dari Bapa, baik secara hypostasis maupun ousia nya. Karena Bapa itu transenden secara mutlak dan Anak jelas subordinant terhadapa Bapa. Para penganut pahamnya disebut sebagai eunomian.

Beberapa yang disebut di atas adalah sebagian kecil dari banyaknya pandangan-pandangan atau ajaran-ajaran yang muncul setelah Nicea I. Ajaran-ajaran yang muncul bisa bersifat menentang atau mendukung ajaran lainnya, namun juga bisa bersifat melengkapi mengkritisi sebagaian dari yang sudah ada. Dari beberapa sumber diketahui bahwa situasi pengajaran gereja setelah Nicea justru semakin kompleks dan membingungkan. Persoalan itu justru telah membuka pintu bagi niat-niat yang tidak baik dengan memakai polemik itu sebagai alat siasat dan manuver yang kotor.

Menjamurnya pengajaran atau konsep-konsep yang muncul terkait doktrin ini setelah Nicea I, telah menyulitkan para ahli untuk mengidentivikasi secara jelas bentuk-bentuknya, sehingga juga akan melelahkan jika berusaha dijelaskan pada tulisan ini. Oleh karena itu hal yang dirasa masih penting untuk dikemukakan adalah peran beberapa tokoh penting dalam menghadapi kemelut itu, yakni Athanasius dan Bapa-Bapa Kapadokia.

Athanasius dari Aleksandria (298-373) adalah uskup Aleksandria tahun 328-373. Kerja kerasnya adalah terutama dalam menghadapi ajaran-ajaran arian dan membela konsep trinitas Nicea I. Dia terlihat seperti monarkhian dalam membela keesaan Allah, tetapi sebenarnya bukan. Kelihaiannya adalah dalam menjabarkan arti trinitas dalam “kesatuan tanpa pencampuran dan pembedaan tanpa pemisahan”. Para sarjana di kemudian hari menganggap bahwa konsep ini adalah awal dari doktrin keberdiaman mutual, yang kemudian disebut dengan istilah perikhoresis.

Athanasius dengan tegas mematahkan paham arianisme dengan menyatakan bahwa baik Bapa, Anak, maupun Roh Kudus tidak diciptakan, dan ketiganya adalah kekal (abadi) tanpa awal mula. Bapa, Putera dan Roh Kudus bukan nama-nama bagian yang berbeda dari Allah, tetapi satu nama Allah karena terdapat tiga pribadi di dalam Allah sebagai satu entitas. Ketiganya tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Masing-masing pribadi dipahami memiliki kodrat atau esensi yang identik, bukan sekedar kodrat-kodrat yang memiliki kemiripan seperti yang dipahami arianisme. Ketiga pribadi saling mendiami; Mereka ada dalam satu sama lain.

Meskipun ia memakai ilustrasi seperti yang dipakai oleh Tertullianus tentang aliran sungai dan matahari, tetapi ia sama sekali tidak kompromi dengan subordianisme dalam bentuk apapun seperti yang dipahami oleh Iranaeus, Tertullianus, maupun Origenes. Untuk menghadapi paham subordianisme, Athanasius mempopulerkan satu istilah, yakni ”holos theou”, yang artinya Keseluruhan Allah. Anak adalah keseluruhan Allah.

Athanasius benar-benar berjuang untuk konsep Nicea I tentang kesamaan dan kesetaraan hakikat trinitas. Dia akhirnya dapat memulihkan arti hypostasis untuk mendukung konsep Nicea. Oleh dukungan pemikiran bapa-bapa Kapadokia ia dapat menempatkan istilah hypostasis dan ousia pada tempatnya masing-masing. Dia merumuskan bahwa Allah adalah satu keberadaan atau hakikat (ousia) dan tiga pribadi (hypostasis) tak terpisahkan. Dengan demikian ia dapat menolong pemahaman ortodoks agar tetap bisa menggunakan istilah hypostasis yang memiliki pengertian identik. Dan rumusan itu ditetapkan pada konsili Aleksandria tahun 362 (bukan konsili oikumenis).

Jika ditinjau ulang, maka pola ini sebenarnya sudah merupakan pola yang ditemukan Tertullianus jauh sebelumnya dalam istilah Latin: “tres personae, una substantia” (tiga pribadi, satu hakikat). Namun di atas semua kemelut penggunaan istilah itu, Athanasius berkata, “kepentingan utama bukanlah bentuk kata-kata yang tepat, tetapi arti dan maksud di balik kata-kata itu”. Lebih jauh dia katakan, “karena istilah-istilah tidak mendahului esensi, esensilah yang pertama dan istilah menyusul. Jadi istilah-istilah tidak seharusnya merendahkan natur Allah, karena natur Allah-lah yang menarik istilah kepada-Nya”. Di sinilah kita perlu tetap sadar bahwa istilah-istilah, hingga tahap tertentu, sesungguhnya tidak sanggup menjelaskan natur Allah secara sempurna.

Untuk menjawab kaum arian mengenai pengertian status kebapaan dari Allah, di mana ada saat Allah itu belum menjadi Bapa sebelum menciptakan Anak, Athanasius berkata bahwa pengertian kebapaan Allah tidak bisa disamakan dengan kebapaan manusia. Karena manusia pernah menjadi anak dari seorang bapa (ayah) untuk kemudian menjadi bapa (ayah) kemudian, sedangkan Allah Bapa tidak demikian. Bapa tidak pernah berasal dari Bapa sebelumnya tetapi Ia senantisa menjadi Bapa dari kekal, karena Anak juga ada sejak kekal. Anak (Kriatus) berasal dari Bapa namun tidak pernah tidak ada sebelumnya, karena Ia selalu berada dengan Bapa dalam kekekalan. Bapa memperanakkan Anak bukan untuk menjadi bapa dari seorang bapa kemudian. Demikianlah keberadaan Bapa dan Anak dalam keallahan tidak dalam pengertian biologis seperti manusia. Oleh karena itu bagi Athanasius tidak ada kata terpisah dalam trinitas. Tidak ada saat di mana Bapa ada tanpa Anak dan Anak ada tanpa Bapa, demikian juga dengan Roh Kudus.

Sebenarnya pemahaman mengenai kodrat Kristus bagi Arius maupun Athanasius sama-sama terkait dalam kerangka keselamatan. Tetapi Athanasius lebih spesifik menghubungkan dan mengartikannya dalam rangka pembaruan ciptaan yang telah dirusak oleh dosa. Bertolak dari pemikiran bahwa Anak adalah kepenuhan gambar Bapa, sedangkan manusiapun telah diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, namun telah rusak oleh dosa. Itu sebabnya Anak dijadikan menjadi manusia sehingga manusia dijadikan allah atau dilahikan kembali dalam Kristus (deifikasi). Dalam hal ini dijelaskan bahwa proses pengilahian ini tidak membuat manisia tidak lagi manusia, melainkan justru lebih manusiawi.

Untuk menjelaskan Amsal 8:22 yang dipakai kaum arian untuk mempertahankan bahwa Anak adalah ciptaan, Athanasius mejawab bahwa ayat itu dan ayat-ayat yang serupa dengan itu adalah dalam rujukannya saat inkarnasi sebagai manusia.

Para bapa Kapadokia yang terdiri dari tiga serangkai bersahabat: Basil yang Agung atau yang dikenal juga dengan Basilius Agung (330-379), Gregorius dari Nazianzus (329-389), dan adik dari Basilius, Gregorius dari Nyssa (335-395), mempunyai cita-cita bersama untuk mengintegrasikan segala yang baik dari kebudayaan klasik ke dalam agama Kristen. Meskipun memiliki pemikiran-pemikiran brilian yang unik tiap masing-masing mereka, yang tidak diutarakan dalam tulisan ini, tetapi mereka memiliki nilai yang sama dalam memberi sumbangsih yang sangat berarti dalam menegakkan keputusan Nicea I yang sejajar dengan perjuangan Athanasius.

Sumbangsih utama meraka, selain membantu penjelasan arti-arti hypostasis dalam perbedaannya dengan ousia, mereka terutama sangat cakap dalam menjelaskan distingsi atau perbedaan-perbedaan hypostasis atau pribadi-pribadi dalam trinitas tanpa mengurangi arti kesatuan atau keesaan yang tak terpisahkan. Mereka menjelaskan bahwa perbedaan dalam hypostasis Allah adalah: Bapa asas/dasar atau sumber, Anak adalah pelaksana, dan Roh Kudus adalah penyempurna, yang menyatu dalam karya.

Penjabaran tersebut sejalan dengan ilustrasi Tertullianus dan Athanasius tentang aliran sungai yang adalah sumber mata air, mengalir menjadi sungai dan kemudian menjadi kanal, atau matahari yang adalah matahari, yang memancarkan sinar dan panasnya. Basil mengatakan, “Kita memandang operasi dari Bapa, Putera, dan Roh Kudus adalah satu dan sama, tidak dalam aspek yang menunjukkan perbedaan atau variasi; dari identitas operasi ini kita tahu menyimpulkan kesatuan kodrat.”

Konsili Konstantinopel I

Meskipun konsili ini tidak memenuhi target untuk dapat disebut sebagai oikumenis, tetapi akhirnya diakui sebagai oikumenis mengingat bobot keputusan yang dihasilkan. Diselenggarakan pada tahun 381 atas undangan kaisar Theodosius I untuk meredam polemik perihal trinitas paska Nicea. Konsili dihadiri sekitar 150 keuskupan dari gereja Timur saja. Pada konsili ini semua yang bertentangan dengan paham Nicea dikutuk secara tegas. Teologia Kristologi Athanasius dianggap sebagi paling lengkap, dan pemikiran para bapa Kapadokia menjadi acuan dalam merumuskan Kredo. Sebagai penegasan atas Kredo Konsili Nicea dan melengkapi penjelasan tentang Roh Kudus, maka ditetapkan rumusan Kredo Konstantinopel, yang selanjutnya dikenal sebagai Kredo Nicea-Konstantinopel. Rumusan itu adalah sebagai berikut:

Kami percaya kepada satu Allah, Bapa Yang Mahakuasa, Pencipta langit dan bumi, dan segala sesuatu yang kelihatan dan tak kelihatan.

Dan kepada satu Tuhan Yesus Kristus Anak Allah, Anak tunggal, diperanakkan oleh Bapa-Nya sebelum segala zaman, Terang dari Terang, Allah sejati dari Allah sejati, diperanakkan bukan dijadikan, sehakikat dengan Bapa, melalui Dia segala sesuatu menjadi ada, yang demi kita manusia dan demi keselamatan kita turun dari surga dan berinkarnasi oleh Roh Kudus dan anak dara Maria dan menjadi manusia, dan disalibkan demi kita di bawah Pontius Pilatus, menderita dan dikuburkan dan bangkit kembali pada hari yang ketiga sesuai dengan kitab-kitab Suci, naik ke surga, didudukkan di sebelah kanan Allah Bapa dan akan datang kembali dengan kemuliaan untuk menghakimi yang hidup dan mati, dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir.

Dan kepada Roh Kudus, Tuhan dan pemberi hidup, yang keluar dari Bapa, yang disembah dan dimuliakan bersama-sama dengan Bapa dan Anak, yang berfirman melalui nabi-nabi.

Dan kepada satu gereja yang kudus, am dan apostolic. Kami mengakui satu babtisan untuk pengampunan dosa-dosa. Kami menantikan kebangkitan orang mati dan hidup di zaman yang akan datang. Amin.

Trinitas Dalam PL

Setelah menyimak bedah etimologis terminologi Allah dalam PL secara saksama, maka menggali eksistensi trinitas dalam PL tidak seharusnya berpijak pada kata elohim sekalipun kata itu berbentuk jamak (Kejadian 1:1). Karena kita tahu bahwa arti kata elohim itu lebih menggambarkan kuasa Allah yang tak terbatas sebagaiamana yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini penting untuk menghindarkan kita dari anggapan bahwa pemeluk Yudaisme (agama Yahudi) sebagai orang-orang yang bodoh tidak mampu memahami arti kata elohim itu. Sebenarnya ada banyak naskah PL lainnya sebagaimana telah diutarakan secara terbatas pada tulisan ini untuk dapat dijadikan bukti eksistensi trinitas secara proporsional.

Menyimak secara menyeluruh penjabaran sebelumnya, maka kita sudah bisa sampai pada satu kesimpulan bahwa memang Allah belum hendak menyatakan eksistensi trinitas tersebut secara eksplisit dalam PL. Dengan demikian bisa dikatakan bahwa Allah memang belum hendak menyatakan dirinya secara sepenuhnya pada umat PL tersebut. Kehadiran Yesus Kristus dan pencurahan Roh Kuduslah yang merupakan waktu yang direncanakan untuk menyatakannya. Melalui kitab-kitab PB yang ditulis oleh para rasullah akhirnya kita dapat menggali eksistensi trinitas itu dalam naskah-naskah PL. Tanpa PB maka trinitas tidak mungkin dapat dipahami dalam PL.

Sebelum penulis mengemukakan satu konsep baru tentang trinitas yang mungkin akan menjadi revolusi bagi konsep yang pernah ada, maka ada satu prinsip yang harus diterima sebelumnya. Bahwa pada hakikatnya Allah telah meluaskan proses pergumulan usaha perumusan tentang identitas Diri-Nya di sepanjang lintasan zaman yang tidak akan pernah berakhir hingga pernyataan sesungguhnya di akhirat nanti. Terbukti bahwa perbedaan pendapat terkait trinitas belum juga final hingga saat ini.

Allah itu terlalu tidak terbatas untuk dapat dipahami oleh kita yang sangat terbatas ini. Sadar akan prinsip ini maka seharusnya kita bersyukur bahwa Allah telah membangkitkan orang-orang dengan segala perbedaan telah berbicara tentang hal ini sebelumnya. Maka tidak seharusnya lagi kita saling membenci oleh karena perbedaan tentang topik ini seperti yang pernah dilakukan oleh pendahulu kita. Namun rasa maklum terhadap perbedaan tidak boleh menghentikan hasrat kita untuk menggali dan mengemukakan penjelasan baru seperti yang akan penulis kemukakan selanjutnya. Sebagai yang memiliki keyakinan akan bertambahnya pengetahuan seusai Firman Tuhan (Daniel 12:4), kita juga tidak perlu fanatik secara kaku pada doktrin yang pernah ditetapkan oleh para pendahulu kita. Dengan demikian selalu ada kemungkinan temuan-temuan baru yang lebih efektif dari yang sudah dikemukakan dalam buku ini, termasuk temuan penulis ini.

Dari petualangan penulis terkait topik tentang trinitas ini, maka sesungguhnya yang menjadi masalah mendasar kesulitan memahami hakikat Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab adalah kata atau istilah ‘esa’ itu sendiri. Munculnya kegamangan untuk secara jujur mengakui eksistensi trinitas dalam Alkitab adalah karena ketidakpahaman arti sesungguhnya kata esa yang harus dilihat perbedaannya dari pengertian umum. Selama hal ini tidak dipahami dan diterima sebagai fakta, maka sampai kapanpun trinitas tidak akan pernah dipahami dan diterima secara utuh. Kebingungan dan kesimpangsiuran akan arti kata inilah yang menjadi penyebab maraknya rumusan trinitas yang beraneka ragam.

Arti Keesaan Allah Alkiabiah

Sebelumnya telah dijelaskan bahwa secara praktis dan alamiah orang Kristen mula-mula yang adalah orang-orang Yahudi itu, akhirnya menyadari bahwa Allah yang mereka sembah sejak mereka masih merupakan penganut Yudaisme itu adalah Kristus yang datang sebagai manusia. Dan secara alamiah juga mereka akhirnya sadar bahwa ada Roh Kudus yang juga merupakan Allah. Hal ini penting diketahui untuk menegaskan bahwa orang-orang Kristen bukanlah penyembah sosok Allah yang baru, melainkan wujudnyalah yang baru dikenal. Hal ini juga menegaskan bahwa pada kenyataannya kekristenan tidak berakar pada salah satu paham politeisme manapun. Orang Kristen tetap merasa menyembah Allah yang mereka kenal dalam PL (Ulangan 6:4; Markus 12:29), bahkan hingga saat ini.

Serangan yang menjadi intimidasi pemikirian dari musuh gereja dan munculnya bidat-bidatlah yang mendorong para pemikir Kristen berusaha menjawab berbagai isu termasuk perihal hakikat Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab, khususnya PB. Tidak bisa dihindari bahwa kesulitan merumuskan hakikat Allah yang alkitabiah ini justru membawa ketegangan yang lebih tajam di antara sesama pendukung gereja. Masalahnya adalah bahwa upaya perumusan ini sesungguhnya adalah pekerjaan yang mustahil dapat dilakukan oleh siapapun. Karena sesungguhnya mengatakan bahwa tiga adalah satu atau satu adalah tiga, sudah merupakan pelanggaran logika sapai kapanpun. Dan pada kenyataannya telah terbukti bahwa perdebatan tentang kasus ini tiada hentinya hingga saat ini. Di sinilah letak masalahnya, ketika berusaha memaksakan sesuatu yang tidak pernah logis supaya menjadi logis.

Ketika PB memperkenalkan adanya pribadi Yesus Kristus dan Roh Kudus yang disembah sebagaimana layaknya menyembah Bapa, namun masing-masing eksis bertindak secara mandiri meskipun dalam kesatuan maksud, hal inilah yang mendorong para teolog mula-mula untuk berupaya memberi rumusan dan definisi agar mudah dipahami manusia yang semakin kristis. Berusaha membuat rumusan untuk mempertahankan keesaan Allah yang bereksistensi dalam tiga pribadi telah menguras pemikiran dan daya pemikir Kristen hingga saat ini. Jadi sesungguhnya jika dicermati secara saksama, maka kita bisa melihat bahwa masalah utamanya terletak pada pemahaman istilah ‘esa’.

Hal ini dikarenakan gereja ingin mempertahankan pemahaman ortodoks tentang keesaan Allah dari PL, namun dalam prakteknya telah meyakini dan menyembah Allah yang jamak dalam PB. Kenyataan inilah yang akhirnya diresponi dengan teori-teori Kristologi Logos yang mendorong munculnya kaum modalis yang mempertahankan arti kata esa dalam pengertian satu secara matematis (mono), dan yang dengan demikian menghilangkan fakta kejamakan Allah. Di sisi lainya, sebagai upaya untuk menolong keyakinan ortodoks gereja, Tertullianus tampil dengan rumusan trinitas dengan pengertian kata esa yang lebih luas, namun yang juga mendorong munculnya kaum subordianisme yang menempatkan hakikat trinitas itu secara hirarkhis. Berbagai teori akhirnya bermunculan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Beranjak dari kenyataan di atas, jika kita ingin keluar dari kemelut masalah yang akan selalu berputar ke awal seperti gerakan melingkar secara berulang, maka penulis berpikir bahwa tidak seharusnya kita menyelesaikan masalah yang sama dengan cara yang sama. Dalam hal ini kita tidak seharusnya kembali berpikir untuk mencari rumusan yang lebih tepat untuk sesuatu yang secara logika memang tidak mungkin dirumuskan, yakini “satu adalah tiga dan tiga adalah satu”. Seharusnya sudah waktunya kita meninggalkan upaya perumusan yang tidak rasional dengan segala ilustrasinya yang tidak membawa pengertian utuh, dan beralih pada cara penyelesaian yang baru, yakni jujur terhadap fakta.

Dengan prinsip kejujuran terhadap fakta maka akhirnya kita sampai pada dua temuan mendasar: Yang pertama, bahwa kita harus mengevaluasi makna kata esa yang terdapat dalam Alkitab sebagai yang tidak boleh disamakan dengan pengertian umum dan yang belum tersingkap artinya secara utuh dalam PL itu. Hal ini terkait dengan yang kedua, bahwa kita harus mampu melihat progresivitas kerja Allah yang terencana, yang memang akan memperkenalkan dan menyatakan hakikat Diri-Nya sebagai tiga pribadi (jamak) setelah waktu yang Dia tetapkan menurut rencana-Nya, yakni pada era PB. Dengan kesadaran ini maka seharusnya kita tidak perlu bersikukuh mempertahankan pengertian terminologi esa yang dipahami umat PL untuk memahami terminologi esa yang dinyatakan dalam PB.

Jadi sangat wajar kalau umat PL memahami kata esa dalam arti jumlah secara matematis. Dalam hal ini umat PL memang belum diharapkan memahami Allah itu dalam bentuk trinitas. Hal ini dapat dilihat karena kehadiran Yesus Kritus sebgai Firman (Logos) dan Roh Kudus belum begitu nyata pada masa PL. Namun karena fanatisme monoteisme matematis yang berakar kuat, penganut yudaisme tidak lagi berusaha mencermati dan menggali progresivitas pengenalan jati diri dari Yahwe itu di kemudian hari. Hadirnya Yesus Kristus dan Roh Kudus sebagai pribadi yang melawat umat, dan kerelaan sekelompok masyarakat yang rela mengesampingkan legalitas agamawilah yang membuka mata rohani sebagian orang, sehingga dapat percaya dan menerima bahwa Yahwe itu adalah trinitas (tiga adanya).

Jadi pengertian keesaan Allah dalam konsep Kristen seharusnya tidak lagi dipahami dalam arti matematis (mono), melainkan dalam pengertian ‘kesatuan’ atau berasal dari yang satu, yakni Bapa. Artinya kita sudah harus berpikir bahwa umat Kristenlah yang akhirnya telah mengenal Allah Yahwe yang diperkenalkan dalam PL itu sebagai Allah yang sebenarnya berada dalam tiga pribadi, yakni: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Jadi keesaan Allah dalam pemahaman Kristen adalah keesaan dalam hakikat atau esensi, bukan dalam arti jumlah matiematis. Jika dalam pemahaman Yudaisme Allah itu adalah angka ‘satu’, tetapi dalam kekristenan adalah “satu-satunya”. Maksudnya adalah tidak ada Allah lain selain Elohim Yahwe yang terdiri dari tiga pribadi itu. Tiga pribadi itulah satu-satunya Allah.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa arti kata esa, baik dalam bahasa Ibrani (echad) maupun dalam bahasa Yunani (heis) adalah dalam pengertian matematis, yakni ‘satu’ (1). Itu sebabnya dalam tulisan ini tidak perlu diurai lagi bedah etimologis terhadap kata-kata tersebut, karena bagaimanapun artinya memang sudah demikian. Oleh karena itu maka sampai kapanpun jika kita mengartikan maksud kata esa dalam Alkitab sebagai yang sama dengan pengertian umum atau secara harafiah menurut simpul-simpul kamus, maka bisa dipastikan kemelut perbedaan paham terkait trinitas ini tidak akan pernah berakhir. Dari pada mempertahankan pengertian tersebut secara membabi-buta, maka lebih baik bersikap jujur mengakui bahwa pengertian kata esa terkait hakikat Allah dalam Alkitab memang berbeda dari arti harafiahnya. Kata-kata itu harus dipandang dalam arti esensial atau hakikat.

Pemakaian arti esensial atau hakikat di atas dapat kita simak contohnya dari gaya pengucapan kata esa dalam penuturan Paulus kepada Timotius:

Karena Allah itu esa (heis) dan esa (heis) pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia Kristus Yesus” (1 Timotius 2:5).

Apabila kita mengartikan kata heis pada kalimat Paulus tersebut dalam pengertian matematis, maka kita akan terjebak dalam penghitungan jumlah dan pemisahan, yakni: “Allah itu satu, dan satu pula yang menjadi perantara”. Kesimpulannya menjadi, “ada dua figur yang terpisah”. Meskipun pengertian tersebut tidak salah, tapi dalam kasus naksah tersebut menjadi tidak bertalian maksudnya dengan konteksnya. Karena sangat jelas bahwa Paulus sebenarnya tidak sedang berusaha menjelaskan wujud Allah (ilmu tentang allah) dalam ucapan tersebut. Tetapi kalau kata esa (heis) di situ diartikan sebagai “tidak ada yang lain” atau “satu-satunya”, maka sangat jelas kaitannya dengan konteks ayat-ayat sebelum dan sesudahnya sebagai kesatuan kehendak dalam rencana penyelamatan yang digagas oleh Bapa dan yang dilaksanakan oleh Anak (Yeus Kristus). Artinya, jika Allah (Bapa) menghendaki semua orang diselamatkan maka demikian juga dengan Yesus Kristus sebagai pengantara. Jadi jelas bahwa dalam ayat ini terbukti bahwa kata esa menjadi sebutan yang dipakai sebagai yang tidak fokus pada pengertian jumlah angka lagi, melainkan ungkapan untuk menyatakan keutuhan maksud.

Jadi kita tidak boleh memaksakan diri membuat satu rumusan tentang apapun terkait dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Alkitab untuk disesuaikan dengan tuntutan pemahaman yang ada diluar Alkitab. Dengan kata lain pemahaman di luar Alkitab tidak boleh mengintimadasi kita sehingga melemahkan arti yang sesungguhnya yang dinyatakan Alkitab, hanya karena pemahaman yang di luar Alkitab itu sudah merupakan pemahaman unggul yang diterima oleh masyarakat umum. Kita harus berani melepas pemahaman umum, sekuat apapun pengaruhanya bagi manusia, apabila Alkitab memang menyatakan yang berbeda.

Hal yang sama juga berlaku pada perumusan tritunggal yang pernah dibuat. Kita tidak boleh memaksakan pengertian esa menurut pengertian umum atau kamus bahasa apabila hal itu tidak dimaksudkan dalam Alkitab. Itu sebabnya istilah ‘tritunggal’ sebenarnya kurang tepat digunakan untuk merumuskan Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab itu. Jika harus menggunakan suatu istilah untuk merumuskan keesaan Allah itu, maka yang lebih tepat adalah ‘trinitas’. Karena tritunggal berarti “tiga tapi satu”, sedangkan trinitas artinya ‘ketigaan’. Tritunggal adalah pemaksaan penggabungan dua kata yang bertentangan arti, oleh karena itu tidak logis, sedangkan trinitas itu logis.

Dengan pemahaman di atas, maka seharusnya kita tidak boleh lagi tabu mengakui bahwa Allah orang Kristen yang dinyatakan dalam Alkitab itu memang tiga adanya. Karena hal itu memang adalah fakta! Tidak ada yang salah dengan menyembah tiga Allah kalau memang Allah itu sendiri yang menghendakinya demikian. Tetapi harus selalu disadari bahwa ketigaan Allah yang dinyatakan dalam Alkitab itu tidak sama dengan konsep politeisme. Karena Allah Anak dan Allah Roh Kudus itu berasal dari yang SATU, yakni Allah Bapa. Makanya sampai kapanpun tidak bisa dipungkiri bahwa trinitas itu adalah ESA.

Itu sebabnya ketika gereja mula-mula menyembah Yesus Kristus dan Roh Kudus sebagai Allah, maka mereka tidak merasa sedang berpoliteisme. Karena ketika mereka meyembah Yesus dan Roh Kudus, maka pikiran dan perasaan mereka tidak terganggu. Mereka tetap berpikir dan merasa bahwa mereka sedang menyembah Allah Bapa yang mereka kenal dari PL itu. Ketiga pirbadi itu adalah Yahwe yang esa! Jadi pemahaman ini sama sekali tidak melanggar prinsip keesaan Allah dalam PL, juga tidak bertentangan dengan prinsip “Ketuhanan Yang Maha Esa” bagi kita warga Negara Indonesia. Karena konsep ketigaan Allah yang alkitabiah itu adalah berada dalam keesaan Yahwe atau bersumber dari yang esa, yakni Yahwe tersebut.

Memang harus diakui bahwa tidak mudah mengubah suatu paradigma. Meskipun demikian penulis akan tetap memberi simpul yang lebih tegas sebagai terobosan baru yang menjadi salah satu alternatif cara pandang yang berbeda atas trinitas yang alkitabiah itu. Bahwa Allah yang diperkenalkan dalam Alkitab itu, khususnya PB, adalah TIGA adanya! Tetapi berasal dari yang SATU, oleh karena itu mereka ESA. Penjabarannya adalah sebagai berikut:

Sejak semula (dari kekal) ALLAH itu adalah TRINITAS yakni: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Namanya adalah YHWH (Yahweh). Wujud mereka adalah Roh. Kemudian pada masa kekekalan, untuk tujuan penciptaan alam semesta, maka Anak dan Roh Kudus keluar atau diperanakkan dari Bapa yang tidak pernah kelihatan dan tidak pernah berhubungan dengan ciptaan itu. Selanjutnya Anak menjelma menjadi manusia untuk tujuan penebusan dan penyelamatan manusia, dan Roh Kudus diutus melanjutkan tugas Anak untuk menyempurnakan penyelamatan itu. Dengan penjabaran ini maka kita tidak perlu memaksa diri untuk berspekulasi dengan berbagai rumusan dan ilustrasi hanya untuk mempertahankan konsep tritunggal yang masuk akal.

Meramu Sikap Atas Perbedaan Paham

Gereja abad-abad awal telah terjebak pada perdebatan arti-arti kata yang menguras waktu, pikiran dan perasaan para pemimpinnya. Dari pengalaman tersebut kita sadar bahwa bahasa atau peristilahan (terminologi) adalah ciptaan manusia yang dapat memiliki banyak makna dan bersifat mengembang (evolusif), oleh karena itu sangat terbatas untuk bisa mendefinisikan keberadaan Allah secara sempurna. Oleh karena itu, memahami Allah tidak boleh hanya terpaku pada batasan-batasan arti kata, karena hakikat Allah yang tanpa batas itu tidak mungkin didefinisikan secara tepat dalam kata. Oleh karena itu manusia perlu bersekutu dan mengalami hubungan pribadi dengan Allah agar dapat menangkap esensi-esensi yang tidak dapat diceritakan dengan kata. Dalam hal ini kita perlu setuju dengan pendapat Athanasius bahwa, “Kepentingan utama bukanlah bentuk kata-kata yang tepat, tetapi arti dan maksud di balik kata-kata itu. Karena istilah-istilah tidak mendahului esensi, esensilah yang pertama dan istilah menyusul. Jadi istilah-istilah tidak seharusnya merendahkan natur Allah, karena natur Allah-lah yang menarik istilah kepada-Nya”.

Memang harus tetap disadari bahwa rumusan tritunggal adalah suatu upaya yang didorong oleh niat baik dari para pemikir gereja terdahulu untuk membela ajaran yang tertulis dan tersirat di dalam Alkitab dari serangan-serangan filosofi lain. Meskipun pandangan-pandangan atau konsep-konsep mereka berbeda, bahkan sempat saling menyerang, namun pada dasarnya mereka melakukan hal itu karena kecintaannya kepada Tuhan. Banyak dari mereka justru memiliki cara hidup dan pengabdian yang mengagumkan. Belajar dari persitiwa-peristiwa itu, maka tak seharusnya lagi gereja saling mencela saat ini, apalagi menghukum oleh karena perbedaan konsep suatu doktrin, sejauh itu tidak menyerang esensi kemuliaan Allah. Karena sampai kapanpun, berbicara tentang hakikat Allah, dalam hal ini termasuk trinitas, tidak akan pernah dapat didefinisikan secara final. Kita harus sadar bahwa Allah menyatakan diri-Nya hanya sejauh yang mungkin kita pahami. Dan bagi setiap orang, tingkat kemampuan dalam memahami sesuatu bisa berbeda-beda.

MR. Theo Light

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *